KERJA
(Kahlil Gibran)
Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi
serta perjalanan roh jagad ini
berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim
serta keluar dari barisan kehidupan sendiri
yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya
menuju keabadian masa
Bila bekerja, engkau ibarat sepucuk seruling
lewat jantungnya bisikan sang waktu menjelma lagu
siapa mau menjadi ilalang dungu dan bisu
pabila semesta raya melagukan gita bersama?
Selama ini kau dengar orang berkata, bahwa kerja adalah kutukan
dan susah payah merupakan nasib, takdir suratan
tetapi aku berkata kepadamu bahwa bila kau bekerja
engkau memenuhi sebagian cita-cita bumi yang tertinggi
yang tersurat untukmu, ketika cita-cita itu terjelma
Dengan menyibukkan diri dalam kerja
hakekatnya engkau mencintai kehidupan
Mencintai kehidupan dengan bekerja
adalah menyelami rahasia hidup yang paling dalam
Jikalau kau bekerja dengan rasa cinta
engkau menyatukan dirimu dengan dirimu
kau satukan dirimu dengan orang lain, dan begitu sebaliknya
serta kau dekatkan dirimu pada Tuhan
Dan apakah yang dinamakan bekerja dengan rasa cinta?
laksana menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu
seolah-olah kekasihmulah yang akan mengenakan kain itu
bagai membangun rumah dengan penuh kesayangan
seolah-olah kekasihmulah yang akan mendiaminya di masa depan
seperti menebar benih dengan kemesraan, dan memungut panen dengan kegirangan
seolah-olah kekasihmulah yang akan makan buahnya kemudian.
Paterikan corakmu pada semua benda
dengan nafas dan semangatmu pribadi
ketahuilah bahwa semua malaikat sedang berdiri mengelilingimu
memperhatikan dan mengawasi, serta memberi restu
Kerja adalah cinta yang mengejawantah
dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan
maka lebih baiklah jika engkau meninggalkannya
lalu mengambil tempat di depan gapura masjid
meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan sukacita









Ass,
ternyata bu Tuti yang dosen FTSP ini bu Tuti Nonka tho:), baru tau lho saya, padahal sudah sering saya ketemu Ibu. Dulu saya suka baca2 cerpen Ibu lho:)
Ok selamat berkarya ya bu.
wass, retno
Assalamualaikum
Salam kenal Bu
Dengan adanya blog ini salah satu manfaatnya ialah rasa penasaran saya untuk melihat wajah bu Tuti sudah hilang.
Tulisan tsb, sangat mengesankan! Cukup memberikan motivasi untuk terus berkarya dengan keikhlasan tanpa kesan
menggurui (mungkin, inilah kelebihan pesan melalui puisi)
Berbagai problem yang muncul dalam hidup kita sehari2 sering membuat manusia merasa jenuh untuk menghadapinya, lari dari kenyataan, dan pada akhirnya membuat kita malas.
Trims.
Wassalam
Ataina
Terimakasih Mbak Retno, sayangnya saya sekarang tidak punya cukup waktu untuk nulis cerpen lagi. Tapi untuk sekedar ber’nostalgia’, akan saya upload beberapa tulisan saya 25-an tahun lalu. Cuma, untuk yang terlalu remaja, saya malu meng-uploadnya. Maklum, sekarang sudah remaja ketiga … he he …
Bu Ina, terimakasih responnya. Alhamdulillah rasa penasaran Bu Ina sudah hilang. Beginilah wajah pemberian Tuhan pada saya. Tapi gantian saya yang penasaran lho, karena Bu Ina tidak memasang foto. Ayo dong, saya juga pengin kenal.
Tentang puisi Kahlil Gibran, memang bagus. Besok akan saya upload lagi yang lain, mudah-mudahan Bu Ina berkenan.
Bu Lik Tuti yang baik, assalamualaikuna, Sajak berikut (Srikandi) saya tulis untuk seorang Dosen Fakultas Biologi UGM, 1992. Ia adalah Dra Niken (sekarang tentu sudah Doktor). Sajak Srikandi ini, untuk persahabatan, antara ia dan saya, khususnya ia adalah asli Sondakan, Solo. Bu Lik, saya menulis Sajak sejak SMA, tetapi hanya untuk diri sendiri. Kumpulan Sajak saya, pernah saya kirim ke Gramedia, 1990-an, untuk diterbitkan, tetapi ditolak. Saya dapat memahami. Mungkin maksud Gramedia, saya tidak boleh komersial. Artinya, setiap posisi mengandung konsekuensi, risiko, dan tanggung-jawab yang khusus. Maka, kita hendaknya menyadari dan mentaati hal itu. Salam hangat untuk semua keluarga. Nuwun, 14.50, 18/04/09, Sabtu
* * * *
Srikandi
Kabut debu Kurusetra membubung
menyaput wajah-wajah dendam
Dan darah menggenangi mayat-mayat
yang terluka parah. Dan beku
Dan bisu
‘Bisma, akan kuantar kau
ke neraka. Akan kubuka
matamu, apa arti kebencian
Akan kubuka kupingmu
apa arti pembalasan
‘Aku adalah Srikandi. Adalah masa lalumu
yang datang ke sini, untuk memberi
kesaksian. Engkau harus mati’
Bisma berdiri tegak. Di atas keretanya yang congkak
Yang bertatah emas dan intan dan manikam
‘Majulah wanita. Kesaksianmu akan kandas oleh
keperkasaan
‘Undang-undang tertinggi
di sini, bukanlah cinta
Bukanlah karma
Aku tak terluka
oleh peristiwa
Aku berada di luar
lingkaran Cakra Krishna
‘Majulah, wanita. Kesaksianmu akan kandas
oleh kekuatan’
Wanita itu membidik
Kebencian adalah kutukan
Dendam adalah kekuatan
Yang membuat engkau bertahan
Ratusan wajah
Berdatangan
Membuat pagar
Di seputar
Kereta Bisma
‘O para pengecut
Lelaki-lelaki Kurawa
Menyingkirlah
Atau mati’
Kabut debu Kurusetra membubung
Dan mata Srikandi menjadi buta
‘O Srikandi, jangan membunuh
Atas nama kebencian
Ini adalah perang suci
Ini adalah perang
Kebaikan lawan kebaikan
Adalah pilihan dewa-dewa
Yang takterelakkan’
Dan Srikandi ragu
Kabut debu Kurusetra membubung
menyaput wajah-wajah dendam
Dan darah menggenangi mayat-mayat
yang terluka parah. Dan beku
Dan bisu
Panah beracun itu melesat
Dan menancap di dada Bisma
Apa pun atas namanya
Inilah hasilnya’
Yogyakarta, 3-12-1992, Ahad malam
REVOLUTION
V
Tuti :
Wah, terimakasih …. saya mendapat kehormatan menerima sajak Mas Ruwi. Apakah sajak ini tidak dikirimkan kepada Bu Niken? Kalaupun belum, semoga saja Bu Niken membaca komen Mas Ruwi ini ya, sehingga tahu kalau ada puisi indah ditulis Mas Ruwi untuk dirinya.
Secara komersial, puisi/sajak mungkin memang kurang menggiurkan, karena pembelinya tidak banyak. Belum pernah saya mendengar ada antologi puisi yang bisa menjadi best seller, atau sampai dicetak ulang. Dicetak 3000 eksemplar saja mungkin 5 tahun baru habis. Tidak seperti novel Laskar Pelangi misalnya, yang dalam waktu singkat telah dicetak ulang belasan kali. Bisa dimaklumi kalau Gramedia tidak bersedia menerbitkannya. Tak apa, tidak semua karya indah bisa dinilai secara materi, bukan?
Bu Lik yang baik, assalamualaikuna, Sajak Srikandi itu sudah saya kirim ke Mbak Niken, bersama hadiah Buku Kumpulan Puisi karya Goenawan Mohamad, Asmarandana. Apakah Bu Lik sudah membaca Asmarandana itu? Sajak Srikandi saya itu (bersama satu sajak lagi yang berjudul Bulan Pucat Muncul di Timur. Yaitu, Sajak untuk Ratna Kartika), juga saya kirim ke RRI Surabaya. Dua Sajak itu, dibacakan di depan corong. Dan, saya malam itu mendengarkannya (1996). Rubrik Sastra RRI Surabaya itu, diasuh oleh Ratna Kartika, yang saat itu, adalah mahasiswa Fakultas Pertanian. Mungkin hanya kebetulan, pada pekan saya mengirim dua Sajak itu, Ibu Tien Soeharto meninggal dunia, karena sebab trauma pada basis tengkorak (menurut seorang dokter yang mengasuh Rubrik
Kesehatan, RRI Surakarta). Memang, Buku Sajak takkan laku di pasar. Tetapi, suatu Buku Sajak ada kemungkinan untuk mendapat Hadiah dari organisasi yang menghargai mutu tinggi Sastra. Misalnya, Darmanto Yatman mendapat Hadiah dari suatu Negara Asean, berkat Buku Sajaknya. Meskipun, buku itu tidak laku di pasar. Maka, pada akhirnya, yang tidak komersial pun menjadi komersial, jika ada organisasi modal-tinggi yang bersedia menghargai mutu tinggi itu. Hanya untuk pembanding, jika Bu Lik punya ide tentang Agama dan Keberagamaan, dan berminat pada komersialisasi diri, silahkan kirim ke Utan Kayu, untuk merebut Hadiah Ahmad Wahib, yaitu sebesar 30 juta rupiah. Nuwun, 15.50, 19/04/09, Minggu
Assalamualaikuna,
Ruwihadi
Majasanga, Indonesia
REVOLUTION
V