TUTUT JADI REBUTAN PARTAI POLITIK
Koran TEMPO hari ini (Selasa, 5 Februari 2008) memuat gambar Mbak Tutut dalam ukuran besar di halaman depan, dengan judul sebagaimana saya tulis di atas. Selama satu minggu kemarin, wajah sang Mbak ini memang sangat sering kita lihat di seluruh jaringan televisi, berkaitan dengan meninggal dan prosesi pemakaman mantan presiden Soeharto. Hampir seluruh rakyat (tentu saja banyak juga yang tidak) terharu-biru menyaksikan penayangan peristiwa (politik) besar ini.
Ibarat angin berbalik arah, demikian pula suara para politikus dan tokoh-tokoh partai. Semua beramai-ramai menyanjung Pak Harto, bahkan tokoh-tokoh yang dulu mendongkel Pak Harto dari singgasana kekuasaannya. Golkar serta merta mengusulkan pemberian gelar pahlawan kepada almarhum. Rully Chairul Anwar, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar, mengklaim bahwa putra-putri Soeharto masih tercatat sebagai anggota Golkar, “Hanya, memang belum aktif”, katanya.
Pernyataan ini dikuatkan oleh Jusuf Kalla, Ketua Umum Golkar, sekalipun sang Mbak pernah mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pada 1998 bersama Jenderal R. Hartono. Ketua PKPB R. Hartono membantah pernyataan itu dengan mengatakan, “Itu pertanda Golkar mulai panik. Masak Tutut dan adik-adiknya mau berkumpul dengan Brutus-Brutus (pengkhianat) yang tak bermoral. Pak Harto berada di urutan pertama dalam PKPB”.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengundang Tutut secara khusus pada ultah NU yang ke 82 di Stadion Utama gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad lalu. Mbak-e memang tidak datang, dan hanya diwakili oleh Titiek, adiknya.
Dari kalangan media elektronik, Metroteve adalah stasiun televisi yang memberikan jam siaran sangat banyak untuk meliput peristiwa meninggalnya Pak Harto dari segala sisi. Meskipun liputan itu ‘dari segala sisi’, namun sangat jelas (bahkan terlalu jelas) bahwa misinya adalah penyanjungan Pak Harto sembari pengaburan kesalahan-kesalahannya. Surya Paloh, pemilik stasiun televisi ini adalah Ketua Dewan Pembina Golkar. Kita melihat disini, betapa kuatnya pengaruh orang/pihak yang menguasai media untuk menciptakan opini publik.
Yang menarik adalah tulisan pengamat politik J. Kristiadi di KOMPAS berjudul “Mikul (ke)Duwur(en) Mendem (ke)Jero(n)”. ‘Mikul Duwur Mendem Jero’ (mengangkat tinggi-tingi, mengubur dalam-dalam) adalah filosofi Jawa yang maknanya adalah mengangkat kebaikan orang dan melupakan kekurangannya. Tetapi ketika pepatah itu diplesetkan menjadi ‘Mikul Keduwuren Mendem Kejeron’, maka maknanya menjadi mengangkat terlalu tinggi dan memendam terlalu dalam. Artinya, berlebih-lebihan.
Saya sama sekali bukan ahli politik, oleh karena itu bagi saya fenomena ini membingungkan. Sepuluh tahun yang lalu Soeharto dan seluruh keluarganya dihujat, diiyik-iyik, sekarang dilambung-lambungkan, oleh orang-orang yang sama. Siapa sebenarnya yang menjadi Brutus, pengkhianat Soeharto atau pengkhianat bangsa?
Tuti Nonka
Bulik Tuti yang baik, saya ingat betul bahwa saya menulis surat yang sarinya: usul supaya Habibie dijadikan wapres (1997/98). Surat itu di selembar kertas tulis tangan dan tak saya kirimkan. Maksud saya, Habibie akan jadi presiden, 5 tahun ke depan; dan Soeharto turun secara fisiologis.
Hari berikut, setelah surat itu, suatu koran pagi Jakarta merespons bahwa Habibie sebagai wapres adalah jebakan.
Ternyata, juga menurut koran itu (beberapa hari sesudah Soeharto jatuh): ada kup dalam damai. Dalam konteks itu, lingkaran Soeharto sudah tak mampu lagi mengendalikan kondisi.
Siapa otak kup itu? Saya menduga, Soeharto menuduh Habibie terlibat, bahkan otak dari kup dalam damai itu. Yaitu, berdasar fakta bahwa Soeharto menolak kunjungan Habibie dan isteri; pada hari-hari terakhir, di RS menjelang meninggal.
Politik praktis adalah “perang” antara machiavelli-machiavelli. Maka, tak mudah menjawab pertanyaan: “siapa mengkhianati siapa?” Dan, pertanyaan Caesar menjadi sangat terkenal: “Juga kau Brutus?”
****
Saat Soeharto menjelang jatuh, saya menulis surat ke Mrs Tutut Rukmana: “Your money can be used for buying nothing, but water and rice”. Bulik Tuti, surat itu juga tak saya kirrimkan.
Pada batas tertentu, uang memang tak dapat lagi untuk membeli apa-apa, kecuali titik-titik taktis (air, nasi, dll).
Akhirnya, saya adalah termasuk orang yang tak setuju: Soeharto diseret ke pengadilan. Yang mengherankan, Try Sutrisno setuju jika Soeharto diadili. Maka, ia dapat disebut sebagai Brutus.
Saat itu, Dr Nur Aini Arief setuju dengan pengadilan Soeharto. Maka, saya ajak ia untuk berdialog di restoran Rusmaijun, Majasanga; bahwa Soeharto tak usah diseret ke pengadilan (interaksi saya dengan Mbak Nur Aini itu, hanya lewat email). Nuwun
For the sake of my responsibility
I have written the truth, so hear me
Assalamualaikuna
ruwihadi
Perumnas Majasanga, indonesia
revolution
v