BINGKISAN KASIH MAHASISWA
Ketika saya lulus dari Teknik Geodesi UGM lebih dari duapuluh tahun yang lalu, saya memberikan kenang-kenangan berupa buku novel karya saya kepada seorang dosen penguji pendadaran, yang pada waktu itu sangat membantu saya melewati saat-saat sulit. Dua tahun yang lalu saya bertemu beliau lagi (hebatnya, beliau masih saja segar dan ganteng seperti dulu … he he …), dan beliau mengatakan bahwa novel itu masih beliau simpan. Wah, bukan main bahagia hati saya!
Demikian juga, sewaktu saya lulus dari Teknik Sipil UMY tahun 1998, saya memberikan bingkisan kepada dosen pembimbing skripsi saya. Tanpa maksud apa-apa, benar-benar tulus sebagai ungkapan terimakasih.
Ternyata apa yang saya lakukan tanpa pretensi apa-apa itu, belakangan dibalas oleh para mahasiswa saya. Hukum karma ( lho ??!! ) mungkin. Memang tidak semua, tapi banyak mahasiswa yang saya bimbing penulisan tugas akhir S1 atau tesis S2, setelah lulus lalu memberikan bingkisan. Bentuk bingkisan itu sangat beragam, dari sekotak ayam goreng sampai jam tangan bermerk yang lumayan mahal harganya. Saya senang menerima bingkisan-bingkisan itu, tidak peduli apa pun wujudnya. Bagi saya, pemberian itu merupakan wujud rasa terimakasih, yang berarti saya telah melakukan sesuatu yang mereka rasakan berguna bagi mereka. Saya selalu berusaha membimbing mahasiswa dengan seluruh kemampuan yang saya milki, bisa dihubungi kapan saja dengan sms, meluangkan waktu di kampus ataupun di rumah (asal dengan janjian terlebih dahulu).
Salah satu bingkisan yang sangat berkesan bagi saya adalah sebentuk cincin bermata kecubung. Pemberinya adalah mahasiswa dari Kalimantan Selatan, daerah yang memang kaya dengan batu mulia. Tetapi yang lebih mengesankan adalah cara mahasiswa tersebut memberikan bingkisan itu. Selesai ujian pendadaran, begitu disampaikan bahwa mahasiswa tersebut lulus, maka seperti biasa mahasiswa mendatangi para dosen penguji untuk bersalaman. Pada saat itulah, mahasiswa tersebut merogoh kantong celananya, mengeluarkan kotak kecil bertutup plastik transparan, dan mengulurkannya kepada saya. Karena tutupnya transparan, maka kelihatan bahwa isinya adalah cincin bermata batu warna ungu-violet. Saya terkesima. Pertama, karena wujudnya yang berupa cincin. Kedua, cara memberikannya yang ‘langsung dan seketika’ (biasanya mahasiswa baru memberikan bingkisan beberapa hari sesudah kelulusan, diantar ke meja kerja di kampus atau ke rumah). Ketiga, bingkisan itu tidak dibungkus sebagaimana layaknya kado. Dengan perasaan geli saya pandangi mahasiswa bertampang culun tersebut.
“Apa ini?” saya bertanya
“Ya untuk ibuk” jawab mahasiswa tersebut dengan lugunya.
“Kamu melamar saya?” sifat jahil saya muncul tiba-tiba, ingin ngerjain mahasiswa tersebut.
Mahasiswa culun itu kaget, bingung, dan gelagapan. Jangan-jangan kosa kata ‘melamar’ pun dia tak paham.
“Maaf buk,” sahutnya masih kebingungan “Apa ibuk belum punya suami?”
Saya tidak bisa menahan tawa, begitu juga dua orang rekan dosen yang sama-sama menguji pendadaran mahasiswa tersebut.
Bingkisan yang diberikan sesudah mahasiswa lulus selalu menyenangkan hati. Tetapi bingkisan yang diberikan sebelum mahasiswa ujian benar-benar menjengkelkan, membuat kesal dan marah. Saya pernah diberi uang sebesar satu juta rupiah oleh sekelompok mahasiswa dari Riau, yang dititipkan melalui staf administrasi di Unilak. Mungkin maksud mereka untuk tambahan uang saku, karena waktu itu saya datang untuk keperluan bimbingan proposal tesis mereka. Tapi saya sungguh tidak senang. Untuk langsung mengembalikan uang itu, rasanya kok tidak baik juga, kurang ‘cantik’ begitu. Jadi uang itu saya belikan 6 helai batik (dengan sedikit tombok), dan saya bingkiskan kembali kepada mereka. Lunaslah sudah. Saya tidak punya beban moral. Kalau nantinya mereka tidak lulus, ya tidak lulus saja. Mosok saya dibeli hanya dengan satu juta (kalau satu trilyun barangkali yaaa dipertimbangkan, kan bisa dipakai untuk membangun perumahan dosen UII … he he …)









..hehehe sama juga bu. Saya juga sering mendapatkan berbagai macam bingkisan. Dari makanan sampai seperangkat perhiasan dari batu-batuan dan perak, warnanya ungu yang ngasih mhs saya dari Kalimantan jg.. jgn-jgn dia melamar saya ya… wakakaka
waktu itu saya ga nanya sich… dia bilang itu dari ibunya buat saya. Cuma klo ketemu saya kok si mhs tadi jadi malu-malu gitu..
Jangan-jangan mahasiswa yang ngasih Jeng Liy perhiasan kecubung warna ungu itu adalah mahasiswa yang dulu saya tolak …. hue he he …. Kecubung konon katanya batu untuk pengikat cinta kasih. Cuma nggak mempan aja ke saya, lha wong mahasiswa itu umurnya 20 tahun dibawah saya je …
Ohya, kalau ketemu mahasiswa yang ngasih perhiasan itu, coba deh ditanya : “Maksud loe … ?!”
hehehe
masak sih bu… saya sih orangnya ga suka perhiasan, anting aja ga pnh pake, sampe saya sering dimarahi ibu saya. Jadi ga mempan tu pengikat cinta, lha wong ga pnh saya pake. Dia mhs farmasi bu.. bukan ftsp. Nuwuuunn..
Wah, kebetulan dong kalau Jeng Zahliy nggak suka perhiasan, kasihkan saja ke saya … he he … saya suka segala macam kok, batu ama pasir aja suka (kebangetan nggak sih?)
Btw, Jeng Zahliy dosen Farmasi UII ya? Welhadalah … kok kita belum kenal ya, padahal gedung fakultas kita berhadapan. Kapan-kapan mampir ke FTSP dong.
Iya Bu dan saya juga belum pnh ketemu Ibu, saya ngajarnya di FTSP juga lho bu.. di lantai 3.
,
Btw bener nih, Ibu mau? masih ada kok.. hehehe
Oooo hiya …. saya pernah lihat ada ibu muda yang cantik di lantai 3 FTSP, pasti itu Jeng Zahliy ya ….
Saya sendiri sekarang jarang ke kampus, soalnya lagi disuruh sekolah (yang nggak kelar-kelar).
Mau? (wuih, kayak iklan operator ponsel). Mau dong, apalagi kalau dilengkapi dengan tas dan sepatunya … wakakaka … !
Tut, ternyata karakter dan behaviour kamu persis seperti yang pernah di uraikan oleh mendiang ayah saya.
Tuti :
Wah, mendiang ayah Bang Sis menguraikan karakter dan behaviour siapa?