KORAN Rp. 1.000,- vs DETIK.COM
Akhir-akhir ini di berbagai perempatan jalan sering kita lihat harian Kompas dan koran Tempo dijajakan dengan harga Rp. 1.000,-. Koran itu terbitan sore, tapi seringkali sudah muncul pada siang hari. Jadi bukan koran basi, benar-benar ‘berita hari ini’. Kompas edisi sore bahkan diluncurkan dengan halaman depan baru, berbeda dengan Kompas edisi pagi.
Dibandingkan koran lokal yang dijual dengan harga sekitar Rp. 3.000,- koran-koran ibukota ini sangat murah. Katakanlah untuk pengecernya diberikan rabat Rp. 500,-, berarti koran itu dilepas oleh penerbit hanya dengan Rp. 500,- saja. Suatu angka yang jelas tidak cukup untuk mengganti biaya produksi dan distribusi. Semula saya menduga ini semacam ‘politik etis’ seperti di jaman Belanda dulu, program balas budi kepada rakyat karena merasa telah mengeruk keuntungan yang sangat besar. Kita tahu, Kompas dengan tirasnya yang sedemikian besar, serta iklannya yang berduyun-duyun, sudah memperoleh untung besar bahkan jika korannya dibagikan gratis.
Benarkah koran Rp. 1.000,- ini program ‘politik etis’? Barangkali saya terlalu ‘romantik’, terlalu naif. Di dunia kapitalisme, konon katanya tidak ada sesuatu yang gratis. Jadi koran Rp. 1.000,- ini ya promosi saja, tak kurang dan tak lebih. Tapi, Kompas yang sudah sebesar itu, mosok masih perlu promosi? Memangnya siapa yang mau disaingi atau dikalahkan?
Menurut sumber yang dekat dengan manajemen Kompas, koran ini ‘gerah’ setelah mengetahui bahwa Detik.com menangguk laba bersih diatas 50 milyar sebulan, sementara Kompas ‘hanya’ sekitar 27 milyar saja. Padahal kerja yang harus dihandel manajemen Kompas jauh lebih rumit, ribet, dan kompleks daripada kerja pengelola Detik.com.
Mengapa Detik.com sukses menjadi portal berita? Karena beritanya sangat up to date. Dalam hitungan jam, bahkan menit, sebuah peristiwa yang terjadi di suatu pelosok nusantara sudah bisa dibaca di Detik.com. Mengapa para kontributor berita begitu rajin menyetorkan berita ke Detik.com? Karena Detik.com memberikan honorarium langsung kepada mereka, begitu beritanya masuk. Besar honor bervariasi, dihitung dari berapa jam berita tersebut masuk dari saat peristiwa terjadi. Semakin cepat berita tersebut masuk, semakin besar honornya, yang langsung ditransfer ke rekening wartawan/reporter pengirim berita. Dan siapakah gerangan para kontributor berita Detik.com tersebut? Tak lain dan tak bukan adalah wartawan dan reporter koran, termasuk wartawan dan reporter Kompas.
Bisnis informasi digital ternyata melibatkan jumlah uang yang luar biasa besarnya. Kita tentu belum lupa bagaimana Yahoo akan dibeli oleh Microsoft sebesar 40 milyar dolar lebih. Apakah ini merupakan bukti dari ramalan Naisbitt?
Bagi saya, apa pun motif penjualan koran Rp. 1.000,- itu, apakah politik etis atau promosi, tetap saja merupakan langkah yang memberikan manfaat bagi orang banyak. Menjual informasi dengan harga murah, mengajak orang agar mau membaca, mendidik orang untuk memperluas wawasan, bukankah itu program yang baik?









untuk masalah seperti itu, memang bisa terjadi, sebenarnya bukan kompas, koran tempo yang bersaing tetapi sistem dibelakang itu, yang kita sebut dengan supply chain management (kebetulan itu yang sedang saya teliti).
ok?!
Trims Pak Abri. Boleh dong saya dikasih kuliah sedikit tentang supply chain management itu. Kalau nunggu disertasi Pak Abri selesai, kelamaan (eh nggak ding, sudah mau ujian terbuka kok ya …)
kebetulan kemaren sy jadi pembicara di ITS, dan mengemukakan bahwa definisi SCM adalah ‘all activity with integration of supplier management network from material flow until end user in manufacture, include product, process, service, distribution and information’ (abriyani, 2008).
yang sekarang terjadi bukanlah bersaing dengan ato antar perusahaan tetapi sudah mulai antar jaringan, untuk itu semua harus terintegrasi dalam arti arus barang/ informasi mulai dari pemasok, pabrik, distributor, outlet sampai kekonsumen. integrasi jaringan yg seperti itu dinamakan SCM.
dalam kasus koran 1000 an, bisa saja terjadi karena yang tadinya harus dicetak di jakarta (misal), sekarang sudah bisa dicetak di smg ato di jogja, sehingga cost nya bisa berkurang secara drastis.
kalo kita lihat antara super market yg berhadap-hadapan ato bersebelahan, untuk barang yg sama harganya bisa lain, padahal dari merk yang sama, iya kan?. itulah sebagai contoh ‘perang antar jaringan’
itu hanya point-point kecil saja bu, …
SCM msh sedikit ahlinya di Indonesia, ahlinya mau tambah satu lagi, he .. he (yg lagi nulis ini). masak sdh kayak gini belum disahkan sebagai ….
tks n sukses selalu
sekarang ini sy sedang meneliti (bkn desertasi), tanggapan kontraktor pada scm.
bulan ini, insya allah selesai.
contoh lagi scm : dulu pabrik cat sdh kasih macem2 warna, kita gak bisa pilih, nah sekarang kita bw sample lalu discan, kemudian komputer sdh punya rincian warnanya, langsung saja kirim ke pengolahan jadi itu warna cat yg kita rencanakan. itu artinya bahwa scm harus adaptive terhadap pasar, kalo industri konstruksi bs gitu mestinya bagus, masak lelang pemerintah pake batu bata terus, sementara (mungkin) gak ada perguruan tinggi yg neliti buat pembuat batu bata agar lebih ringan, tapi kuat (misalnya) .., sehingga pemasok batu bata lebih berkembang, bgitu to mbak …
Wah …. elok tenan kandidat doktor iki.
Kayaknya tinggal formalitas ujian terbuka saja nih. Ayo Pak Abri, saya tunggu undangan promosi doktornya.
Bu Tuti. Abriyani yang saya kenal itu perempuan lho. Dari FE UII (mungkin sekarang FEB UII). Atau ada nama Abriyani yang laki-laki? Saya kok nggak tahu.
Pengamatan bu Tuti memang tajam. Saya malah missed padahal perkara itu bagian dari materi yang saya pelajari, Industrial Organization. Baik, nanti saya selidiki lagi apa yang ada di balik koran 1000an.
Pak Eko, kalau Abriyani yang ini betul-betul asli ‘bapak’ lho (kecuali kalau beliau sangat pandai menyamar … he he …). Hallo Pak Abri, saya kenalin kepada Pak Eko ya. Pak Abri ini adalah kandidat doktor dari Universitas Diponegoro, bidang ilmunya Manajemen Konstruksi. Beliau adalah dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an, Wonosobo. Lhaaa, kalau Pak Eko adalah kandidat doktor dari Universitas Indonesia, bidang ilmunya Industrial Organization (kata beliau). Pak Eko adalah dosen Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Monggo …. panjenengan berdua sama-sama kandidat doktor, (biarpun bidang ilmunya beda, kayaknya masih agak nyrempet-nyrempet) silahkan berdiskusi. Saya ikut mendengarkan saja, biar kecipratan pinter ….
Pengamatan saya tentang koran Rp. 1.000,- cuma pengamatan orang awam saja kok Pak Eko. Tajam? Silet ‘kali ….
Wah bu Tuti, aku jadi malu. Sok kenal banget tapi salah. Istilahnya wis bengoke banter eh salah. Maaf ya pak Abri.
Saya berkomentar berdasarkan infonya bu Tuti aja ya. Saya setuju kalau latar belakang strategi itu murni profit oriented. Dlm ekonomi tindakan perusahaan selalu murni profit. Ada memang yang consumer’s satisfaction dll. Bagi insan ekonomi itu hanya lipstik saja tapi utamanya tetap laba. Bahwa dengan modal yang cepete dibanding perusahaan-perusahaan media lainnya namun mendapat return yang sangaaat besar tentu membuat iri grup-grup media lainnya. Tidak hanya iri tapi geram. Kenapa? Karena wartawannya dapat tambahan income dari luar (dibayar detik karena berita yang tergress) tapi secara hukum tidak merugikan korannya, lha beritanya baru besok terbit. Strategi koran pagi sore sebenarnya dimulai dari koran Sindo (Seputar Indonesia) yang memulainya kalau nggak salah satu tahun yang lalu. Bagi Kompas sebagai pemimpin pasar koran harian tindakan Sindo mengundang bahaya akan singgasananya. Jadi dilakukanlah retaliation dengan juga mulai melakukan gerilya koran pagi sore. Tapi kelihatannya masih coba-coba. Mengapa? karena belum melakukan publikasi strateginya. Jadi dalam benak saya sebelumnya, Kompas sore adalah kompas pagi yang sudah basi sehingga berharga 1000 rups.
Yang bagi saya agak impossible adalah bagaimana koran Kompas mau bersaing kehangatan berita dengan Detik.com kalau medianya berbeda. Saya pikir koran 1000 rups bukan ingin bersaing dengan Detik karena soal berita yang update medannya juga harusnya sama yaitu internet. Dan Kompas sudah punya pasukannya sendiri yaitu Kompas.com. Namun nampaknya Kompas.com masih kalah dengan Detik.com karena hanya menggunakan resource sendiri. Nggak kayak Detik.com dengan resource yang lebih beragam, baik sendiri ataupun outsource, meski tampilan tidak dinamis.
Bu Tuti, menurut saya koran Kompas sore yang murah diterbitkan bukan untuk menyaingi Detik.com tapi lebih untuk percobaan menyebar pasar yang tidak hanya pagi namun juga sore. Jika nanti dianggap berhasil percobaannya akan ada koran Kompas Sore di daerah. Mengapa di daerah? Di Jakarta pesaingnya cukup kuat sehingga memilih medan perangnya di daerah yang musuhnya kurang kuat.
Buat Pak Abriyani, teori panjenengan juga sah-sah saja. Kita memang memandangnya dari sudut yang berbeda. Panjenengan dari sisi Marketing, saya dari sisi IO.
Saya setuju, Pak Eko. Kompas sore bukan ingin menyaingi Detik.com dalam hal kehangatan berita, sebab dari aspek waktu produksi, jelas tidak mungkin menyangingi berita yang di-upload dalam hitungan detik dengan berita yang dicetak dan didistribusikan secara langsung. Meskipun sudah ada teknologi cetak jarak jauh (kalau nggak salah untuk Jateng dan DIY Kompas dicetak di Ambarawa … sori kalau salah), tetap saja butuh waktu untuk mendistribusikan koran sampai ke tangan pelanggan. Lagipula, tidak mungkin koran dicetak setiap jam, sementara berita di website bisa diupload tiap detik.
Mungkin tujuannya lebih pada menguatkan posisi pasar saja, supaya orang yang semula tidak membaca Kompas kemudian jadi pembaca Kompas. Kalau pelanggan baru ini sudah mulai terbiasa dan ‘cinta’ pada Kompas, barulah harganya di’normal’kan. Mungkin strateginya adalah membanjiri pasar dengan produk mereka, sama seperti Indofood yang memproduksi berbagai merek mie instan, atau Unilever yang memproduksi macam-macam merk deterjen, sabun mandi dan sampo. Ibaratnya, konsumen mau ‘lari’ kemana pun, mau ganti pilihan apa pun, ya tetap saja ketemu produk mereka lagi.
Kalau tentang pemasaran koran sore lebih prospektif di daerah, menurut saya nggak juga. Di Jakarta meskipun persaingannya ketat, tapi dengan jaringan dan nama Kompas yang sudah begitu besar, mereka tidak akan takut bersaing. Lagipula di Jakarta peredaran uang lebih banyak, kehidupan masyarakat lebih dinamis, aktivitas manusia berlangsung hampir 24 jam, sehingga ‘usia’ koran sore akan lebih panjang (sebelum di’basi’kan oleh koran pagi). Apalagi pada sore hari, ketika orang bermacet-ria di jalan kala pulang kerja, itu pasar yang sangat terbuka untuk koran sore.
Sori, saya nggak pernah belajar ekonomi, apalagi teori pemasaran. Sok teu aja nih … he he …
Ohya Pak Eko, comment-nya dikasih foto dong. Siapa tahu ada yang tertarik menawari Pak Eko jadi presenter dialog ekonomi di teve …
yang jelas kita dukung semakin murahnya harga koran…
tapi sekarang harga kertas koran kan naik?
asal jangan ikut dinaikin aja deh harga korannya…
semoga masyarakat semakin melek informasi…
Iya nih, harga kertas koran mau naik. Untuk koran-koran daerah yang oplagnya kecil dan iklannya minim, rasanya tidak bisa tidak menaikkan harga. Tapi untuk koran-koran besar seperti Kompas, yang oplagnya sudah puluhan bahkan ratusan ribu eksemplar dan iklannya sampai ngantri berbulan-bulan untuk menunggu dimuat, rasanya tidak perlu menaikkan harga jual.
Pilihan lain adalah membaca koran on-line. Tapi belum seluruh masyarakat kita melek internet …