AYAHKU
Apa yang bisa kuceritakan tentang ayahku?
Ayahku dilahirkan di desa, 30 kilometer di sebelah selatan Yogya. Sebagai anak petani, namanya sangat sederhana : Paidi. Beliau lahir tahun 1914, pada saat di Eropa meletus Perang Dunia I. Meskipun hanya seorang petani, kakekku sangat mengutamakan pendidikan, sehingga ayahku dan saudara-saudara ayahku dimasukkan ke Kweek School, Sekolah Pendidikan Guru pada jaman Belanda. Demikianlah, ayahku menjadi guru, menikah dengan ibuku yang juga seorang guru.
Sebagaimana kebiasaan orang jaman dahulu, sesudah menikah ayahku tidak lagi memakai nama Paidi, dan mengganti namanya dengan ‘nama tua’ yaitu Wignyo Sumarto. Kakak sulungku mencantumkan inisial WS di belakang namanya, singkatan dari nama ayahku. Tapi kami, ke enam adiknya, tidak ada yang mengikuti contohnya. Aku, anak yang terkecil, malah terseret ‘aliran sesat’ remaja yang mencari jati diri, mereka-reka namaku menjadi Tuti Nonka. Nonka adalah Tuti tanpa k, jadi bukan Tutik . Biar gaya, biar ‘lain’, begitu. Setelah meninggalkan bunga-bunga masa remaja, aku ingin menanggalkan nama Nonka itu, karena rasanya memalukan. Tapi rupanya orang tak mau melupakan nama konyol itu. Ibarat tato, nama itu rupanya sudah tergores di keningku, tak bisa dihapus. Apa boleh buat, akhirnya aku menerima nama Nonka sebagai bagian dari diriku, seperti halnya aku menerima wajahku yang bulat dan tinggi tubuhku yang tak pernah bisa melebihi tinggi tali jemuran.
Ayahku bertubuh tinggi besar, parasnya tampan, rambutnya sedikit mengombak. Aku masih menyimpan foto beliau mengenakan jas, dasi, dan blangkon. Aneh juga paduan busananya ya? Agaknya itu trend mode paling top saat itu, sebagaimana kita lihat pada foto Douwes Dekker dan teman-temannya Tiga Serangkai, para pendiri Boedi Oetomo. Barangkali, jas dan dasi itu mencerminkan modernisasi, sedangkan blangkon adalah identitas nasionalisme. Foto itu dibuat tahun 1936, beberapa saat sebelum beliau menikah dengan ibuku. Betul-betul keren, tampak seperti pemuda Jawa tempo doeloe yang ganteng.
Ayahku pendiam, teliti, rapi, pekerja keras, dan sangat suka membaca. Sebagai guru, setiap pagi beliau berangkat ke sekolah tempat beliau mengajar dengan naik sepeda. Baju dan celana drill-nya selalu dikanji dan disetrika dengan lipatan yang rapi. Supaya bajunya awet, dan bagian leher tidak cepat kotor oleh keringat, beliau selalu mengenakan saputangan yang dilipat dua menjadi bentuk segitiga untuk melapisi tengkuknya. Ujung-ujung saputangan itu kemudian diikat di leher bagian depan. Gaya deh, kayak koboi. Properti kerja beliau adalah topi laken warna putih, dan tas kulit besar yang digantungkan di ‘planthang’ sepeda. Ohya, supaya irit, beliau juga selalu membawa makan siang dari rumah, biasanya hanya dengan lauk tempe saja. Selain karena tidak punya cukup uang, dan di jaman itu rakyat Indonesia belum semakmur sekarang (meskipun utang negara kita sekarang setinggi leher) orang Jawa memang tidak menganggap penting makan enak. Tempe dan tahu adalah lauk paling populer.
Ruang tidur ayah ibuku cukup besar, ukuran empat kali enam meter. Di dalam kamar itu ada dua buah tempat tidur besi (ibuku menyebutnya ‘kero’). Di tempat tidur yang satu, ibuku tidur dengan aku dan kakak perempuanku, sedang tempat tidur yang satu lagi untuk ayahku (aneh juga ya, bagaimana dengan ‘urusan pribadi’ mereka, aku juga tidak tahu). Yang kuingat, tempat tidur itu sangat nyaman, karena ada semacam per untuk menyangga kasur, sehingga ‘mentul-mentul’. Dua tempat tidur itu dipisahkan oleh tiga buah lemari besar (nah, itulah mungkin rahasia ayah ibuku ..). Dua lemari untuk menyimpan pakaian, satu lemari penuh berisi buku. Lemari buku itu menyekat tempat tidurku dengan ruang kerja ayahku. Di meja kerjanya itulah, ayahku setiap malam membaca sampai larut malam. Ketika aku pergi tidur, ayahku sedang membaca. Tengah malam ketika aku bangun untuk pipis, ayahku masih duduk di meja, menekuri buku di bawah cahaya lampu meja, sering juga sambil menulis. Hanya sekali-sekali saja aku bangun tengah malam, dan mendapati ayahku sudah tidur. Dan kalau tidur, ternyata ayahku suka mendengkur … he he.
Ayahku sangat suka mendengarkan radio. Yang didengarkan tentu saja RRI Nusantara II Yogyakarta, juga BBC London. Selain itu, beliau juga gemar lagu-lagu keroncong dan klenengan. Kadang-kadang beliau rengeng-rengeng, menyanyi pelan-pelan. Lagu kesukaan beliau adalah “Keroncong Sapu Tangan”. Kalau ada siaran wayang, sering beliau mendengarkan semalam suntuk.
Semangat belajar ayahku sangat tinggi. Pada jaman Belanda dan Jepang, ketika pendidikan bukan hal yang mudah, beliau selalu berusaha keras untuk terus memperoleh pendidikan. Ketika beliau wafat pada tahun 1967, beliau sedang menyiapkan skripsi di IKIP. Pada waktu itu beliau sudah berumur 53 tahun, namun masih bersemangat untuk memperoleh gelar kesarjanaan. Ketika beliau meninggal, yang diwariskan kepada kami hanya buku. Satu lemari besar penuh berisi buku, rak penuh buku, dan laci-laci berisi berbagai naskah. Lemari buku itu sampai sekarang masih dipergunakan oleh kakak sulungku, yang kebetulan juga seorang dosen di fakultas Kedokteran UGM. Buku-bukunya sendiri sebagian besar disumbangkan ke PGA (Pendidikan Guru Agama) Bantul, sekolah setingkat SMA, tempat terakhir ayahku menjadi kepala sekolah.
Ayah dan ibu (nomer 2 dari kiri) bersama saudara-saudara kandung ibu. Foto dibuat tahun 1951 di Magelang
Ayahku meninggal dalam usia yang masih cukup muda, belum lagi pensiun. Beliau menderita sakit tumor darah, semacam leukemia. Pada waktu itu fasilitas pengobatan masih sangat kurang, sehingga penyakitnya tidak bisa diobati. Tetapi yang membuat ayahku sangat sedih dan tertekan batinnya adalah penyakit katarak yang menyerang mata beliau. Bisa dibayangkan. Ayahku yang sangat suka membaca, dan sedang berusaha menyelesaikan skripsinya, perlahan-lahan kehilangan penglihatannya. Pada waktu itu operasi katarak masih sangat sulit dilakukan. Demi kesembuhan penglihatannya, ayahku rela menjalani berbagai pengobatan yang menyakitkan, bahkan seringkali tidak masuk akal. Beliau mau makan garengpung (serangga yang suka berdengung di pohon pada musim kemarau) yang dibakar, disundut dengan rokok oleh sinshe Cina hingga tubuhnya gosong terbakar, dan berbagai jamu yang mencium baunya pun aku sudah muntah karena pahitnya.
Namun penyakit katarak itu tak berhasil beliau kalahkan. Ketika beliau benar-benar tidak bisa lagi membaca, kami anak-anaknya bergantian membacakan buku dan koran untuk beliau. Setiap pagi, kakakku membacakan judul-judul berita di koran Kedaulatan Rakyat, lalu kalau ayahku menemukan judul yang menarik perhatian beliau, beliau minta kami untuk membacakannya. Waktu itu umurku baru 5 tahun, belum lancar membaca, jadi aku tidak ikut membacakan untuk ayah. Kami masih kecil-kecil (umur kami masing-masing hanya berselang 2 tahun), dan masih suka bermain, sehingga tugas membacakan koran untuk ayah sering kali dilakukan kakak-kakakku dengan segan. Kadang-kadang kakakku tidak membacakan semua judul yang ada di koran, atau pada waktu membacakan sebuah artikel, dilompat-lompatinya supaya cepat selesai. Tapi ayahku selalu tahu, karena beliau hafal betul rubrik-rubrik yang ada di KR. Beliau juga tahu kalau kakakku melompati satu alinea (tentu saja, karena jadi nggak nyambung kan?). Kadang-kadang beliau diam saja, tapi kalau beliau merasa yang dilompati kakakku itu penting, beliau akan menyuruh kakakku untuk membaca ulang.
Jauh hari kemudian, ketika kakak-kakakku sudah dewasa dan mengenang kembali kelakuan mereka, tidak jarang mereka meneteskan air mata penyesalan. Karena masih anak-anak, mereka tidak paham betapa besar arti berita dan artikel-artikel itu bagi ayahku, dan betapa sedih beliau tidak bisa membacanya sendiri.
Sebelum penglihatannya betul-betul gelap, ayahku masih pergi ke sekolah, melaksanakan tugas beliau dengan sebisa-bisanya. Suatu sore, menjelang maghrib, beliau baru pulang dari sekolah setelah menyelesaikan berbagai pekerjaan. Karena penglihatan yang jauh berkurang, beliau tidak bisa bekerja dengan cepat, sehingga seringkali pulang terlambat. Dalam perjalanan pulang, karena sudah remang senja dan penglihatan beliau sangat terbatas, beliau tidak melihat ada batang pohon roboh melintang di tengah jalan. Beliau menabrak batang pohon itu, jatuh dari sepeda, dan terluka di bagian kepala. Ibuku sangat gugup ketika beliau tiba di rumah dengan kepala bercucuran darah.
Mental yang down karena kehilangan penglihatan membuat kondisi fisik ayah menurun, dan penyakit tumor darah semakin ganas menggerogoti tubuh beliau. Setelah diopname sekitar satu bulan di rumah sakit Pugeran, akhirnya ayahku wafat. Kakak sulungku, yang waktu itu sedang menjalani co-ass Kedokteran di rumah sakit itu juga, menunggui ayahku hingga menutup mata. Hingga kini, kakak sulungku itu selalu merasa menjadi pengganti ayah bagi kami adik-adiknya, bahkan setelah adik-adiknya berumahtangga dan juga sudah jadi orang tua.
Ibuku menjadi janda pada umur 51 tahun, dengan tujuh anak yang semuanya masih sekolah. Sejak keadaan menjadi kacau pada jaman penjajahan Jepang, beliau sudah tidak lagi menjadi guru, dan tinggal di rumah mengurusi anak-anak. Dengan tujuh anak dan pensiun guru yang sangat kecil, hidup kami sangat susah. Tetapi seperti prinsip hidup kakek, ibuku berprinsip semua anaknya harus sekolah, biarpun tiap hari cuma makan bubur dengan garam. Banyak saudara ibu dan ayahku yang ingin mengambil kami, anak-anak, untuk diasuh mereka, tetapi ibuku tidak merelakan satu pun anaknya dibawa pergi. Kalau kalian ingin membantu, bantulah membiayai mereka, kirim uangnya kepadaku, tapi jangan membawa mereka, begitu ibuku berkata (wah, matre juga ya … he he ..)
Sekarang, jika mengenang ayahku, yang kuingat adalah ketekunan beliau bekerja, serta semangat belajar beliau yang tak pernah padam hingga ke akhir hayatnya. Kegemaran beliau akan buku menurun padaku sepenuhnya. Beliau tidak pernah mengajariku menulis, tapi dari hobi membaca itulah muncul kegemaranku untuk menulis apa yang ada di hati dan kepalaku.
Ayahku, semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang sebaik-baiknya di sisi-Nya. Amin
(dengan penuh kenangan manis …)











“titip rindu untuk ayah”, ini aku bgt. Dad ‘pulang’ 20 maret 2005 lalu.sktr 25 hari sbelum Yuki lahir. Disaat Dad meninggal aku ga ada didekat Dad…,bhkan tau-pun enggak.Tdk ada yg brni ngabarin aku.aku anak yg paling dekat sm Dad…btuh wktu lama bagiku sblm akhirnya aku bisa menerima kepergian Dad.kdg aku berdoa dgn naif…aku minta pada Tuhan untuk menyampaikan rinduku pada Dad,dan mnta tolong padaNya untuk menceritakan pada Dad tentang cucunya,Yuki…Dulu sekali Dad seorang penulis,aku dan mbak Anas mewarisi hobi membaca dan menulis jg dr Dad…
Tuti :
Sally beruntung, sempat hidup bersama dad sampai dewasa, sampai menikah. Meskipun nggak mendampingi pada saat-saat terakhir, tapi aku yakin kenangan akan Dad sangat lekat di memory Sally, dan tak akan bisa terhapuskan.
Wah, kalau Dad seorang penulis, aku yakin Sally (dan juga mbak Anas) akan jadi penulis hebat suatu saat nanti. I believe it.
makasih mbak…. smpe skarang saya nulis paling pol cm nyuratin sodara n temen2 dgn puanjang…ampe puluhan halaman :-0
pdhal jaman udh maju, ada hp n email… tp whatever… nulis surat, cerita ampe ke hal yg sepele adlh hobi yg menyenangkan buat saya…. mbak tuti ini malah kaya jd sahabat di dunia maya, tiap hari sy smangat buka blognya mbak tuti. ampun bosen kaliyan kulo nggih mbak…matur nuwun, matur tengkyu…
Tuti :
maksudnya tulisan tangan) atau diketik? Terus ngirimnya pakai perangko? Weleh weleh … 
Walaah … nulis surat sampai puluhan halaman? Itu sama seperti nulis novel lho mas. Nulisnya pakai tangan (ya iyalah … mosok nganggo sikil
Waktu masih remaja, saya juga suka surat-suratan. Ada beberapa sahabat pena yang bisa saling berkirim surat sampai panjaang. Sekarang surat-suratannya via elektronik (e-mail dan mailing list), langsung sampai dalam hitungan detik. Keberadaan blog ini juga sangat menyenangkan, karena bisa menyalurkan hobi menulis saya. Kalau dulu, ngirim naskah agar dimuat di majalah atau koran kan nunggunya luaamaaa sekali, itupun kalau lolos seleksi redaksi. Sekarang mah nggak ada seleksi-seleksian, lewat blog bisa nulis apa saja.
Wah, mboten mas, mboten bakal bosen kok. Maturnuwun sudah bersedia membaca tulisan-tulisan saya yang sederhana.
saya membaca tulisannya mbak jd terharu, meski masih kecil wkt ditinggal sang ayah tetapi ingatannya akan sosok beliau msh kuat. saya jd teringat kenangan bersama bapak saya, alhamdulillah di umur beliau yg telah menginjak 57thn bapak masih sehat bugar meski banyak tmn2 seusianya yg sakit2an. dulu ibu saya ga ngijinin saya ikut tes kerja sampe ke jkt tp bapaklah yg mendukung dan bahkan mengantar saya hingga saya lulus dan diterima disini. saya sayang sekali dgn bapak meski skrg kami cm bs telp2an
Tuti :
Berbahagialah Pimbem masih bisa melewatkan hari-hari bersama Bapak. Usia 57 sebenarnya memang belum terlalu tua kalau pandai menjaga kesehatan. Ibu saya berusia panjang, wafat pada usia 92 tahun tanggal 18 Agustus 2008 kemarin. Mumpung Bapak dan Ibu masih ada, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membahagiakan beliau berdua ya.
Salam,