IBUKU
Badannya kecil, tak sebanding dengan ayah yang tinggi besar. Beliau lahir tahun 1916, dua tahun lebih muda dari ayahku. Ibuku berasal dari desa Sambeng, yang berjarak sekitar lima kilometer dari desa Sanden, tempat kelahiran ayahku. Kakek, ayah ibuku, adalah lurah yang cukup kaya dan terpandang. Rumah kakek sangat luas, dikelilingi pagar tembok setinggi satu setengah meter, sesuatu yang sangat jarang dimiliki orang pada waktu itu. Sawah kakek terbentang dimana-mana. Kakek juga punya toko bahan makanan dan segala kebutuhan di desa Sanden, desa ayahku. Ibuku sering menjaga toko itu, dan ayahku sering membeli sesuatu di sana. Lama-kelamaan, transaksi bisnis itu berkembang menjadi transaksi hati … he he …
Foto pernikahan ayah dan ibu pada tahun 1937. Pakaian mereka sangat sederhana. Maklumlah, mereka orang desa. Bahwa sempat dibuat foto pun, sudah sangat istimewa …
Meskipun ayah dan ibuku dirunut tujuh turunan ke atas adalah Jawa asli, tetapi beliau berdua jauh dari cara hidup kejawen. Tuntunan hidup yang diterapkan sepenuhnya adalah syariat agama. Tidak ada adat ritual Jawa yang berlaku di rumah kami. Apalagi yang berbau takhayul, klenik, dan syirik. Semua anak dari TK sampai SMP sekolah di Muhammadiyah (tiga kakakku bahkan sampai SMA). Waktu aku kecil, bahkan kupikir Islam itu ya Muhammadiyah, sehingga aku bingung ketika mendengar ada orang Islam kok ‘agamanya’ NU, lha terus Gusti Allahnya siapa? Kan Gusti Allah cuma satu, sudah ‘dipakai’ oleh orang Muhammadiyah … he he …
Ketatnya ibu pada ajaran agama itu juga yang membuat beliau melarang aku belajar menari Jawa. Busana penari Jawa adalah kemben yang terbuka di bagian bahu, lengan dan sebagian dada. Kata ibu, di neraka jahanam kelak bagian tubuh yang terbuka itu akan dibakar dengan api yang berkobar-kobar. Ya mana beranilah aku … kan di neraka belum tentu ada Yamato. Sekian lama kemudian, barulah keinginanku belajar menari terlaksana. Tetapi karena zamannya sudah menjadi zaman global, tarian yang kupelajari pun bukan tarian lokal, melainkan tarian yang berasal nun jauh dari Latin dan Eropa. Bukan karena kurang cinta pada budaya negri sendiri, tapi karena tarian dari ‘sono’ ini lebih bisa ‘membawa hati’. Bukankah seni itu bersifat universal?
Kakek memiliki karakter yang keras, dan karakter itu menurun cukup deras dalam darah ibuku. Ibu mendidik anak-anak dengan disiplin, tidak pernah memanjakan, dan ketat dalam aturan agama. Sejak kecil kami, lima anak perempuan ibu, tidak boleh memakai baju ‘you can see’, haram memakai celana panjang (jangan kata celana pendek), dan dilarang memakai rok di atas lutut. Tidak peduli apa mode pakaian yang sedang ‘in’ pada waktu itu, kami harus selalu berpakaian sesuai dengan aturan ibu. Ibu sendiri sejak muda hingga kini selalu mengenakan kain panjang batik, kebaya dan kerudung. Ibu rajin mengaji, dan bisa membaca huruf arab gundul (apalagi yang gondrong dan keriting … ). Waktu kecil aku pernah diajari membaca huruf arab tanpa harokat ini, tapi sekarang sudah lupa.
Ibuku keras dan pendiam. Beliau tidak suka berbicara untuk hal-hal yang tidak perlu. Pendidikan keras dari kakek rupanya membuat ibu (beliau anak sulung dari sebelas bersaudara) sukar mengekspresikan rasa kasih. Cinta yang besar kepada anak-anak tidak diekspresikan dengan peluk cium dan kalimat-kalimat mesra, tetapi dengan mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang mandiri, kuat, dan bertanggung jawab. Sejak aku berumur lima tahun, ibu tidak lagi memiliki pembantu, sehingga pekerjaan rumah tangga dibagi rata kepada kami, anak-anaknya. Menyapu halaman rumah yang cukup luas adalah bagianku, pagi dan sore. Sejak kelas satu SD aku juga sudah harus mencuci dan menyetrika baju sendiri.
Foto ini dibuat di studio foto “Sambas” pada tahun 1968, setahun setelah ayah wafat. Salah seorang kakak laki-lakiku sakit, sehingga tidak bisa ikut. Aku (paling kecil) kelas dua SD. Baju yang kupakai itu kujahit sendiri. Hebat ya … hehehe …
Kekerasan hati ibu juga ditunjukkan ketika membangun rumah yang beliau tempati hingga kini. Pada waktu itu ayah sedang bertugas mengajar di Purwokerto, sehingga ibu harus mengawasi pembangunan rumah kami sendirian. Jika batu dan pasir datang diantar dengan truk, ibu akan naik ke bak truk untuk mengecek apakah jumlahnya sudah benar, artinya bak truk benar-benar penuh sebagaimana seharusnya. Bayangkan, ibu dengan kain panjangnya naik ke bak truk, padahal waktu itu ibu sedang hamil besar, dengan aku berada di dalam perutnya. Sekarang aku, bayi yang dulu dikandung ibu itu, tak keberatan pula naik ke atas bak truk, hanya saja aku pasti memilih mengenakan celana jeans ….
Setelah ayah meninggal, kehidupan ekonomi kami sangat sulit. Pensiun yang ditinggalkan ayah tidak cukup untuk memberi makan dan menyekolahkan tujuh orang anak. Ibu kemudian membuat berbagai makanan kecil untuk dijual di warung-warung dan sekolah-sekolah. Dari berbagai makanan tersebut, yang cukup laris dan selama bertahun-tahun menjadi ‘produk andalan’ ibu adalah kacang bawang. Ibu membeli kacang tanah mentah, kemudian kacang itu direndam dalam air panas agar mudah dikelupas kulit arinya. Setiap siang, kami berkerumun di sekitar baskom besar penuh berisi kacang rendaman, mengupas kulit arinya satu demi satu. Sesudah kacang bersih, kemudian dibumbui dengan garam dan bawang putih. Sore harinya ibu sendiri yang menggoreng kacang itu dengan kayu bakar. Malam hari, sesudah kacang dingin, kami membungkus kacang dalam plastik-plastik kecil. Satu mangkuk kacang ditumpahkan ke atas koran yang dibentangkan di atas meja makan, kemudian dibagi menjadi 20 gundukan kecil. Tidak perlu timbangan, dijamin setiap plastik isinya sama banyak. Setelah plastik diisi kacang, kemudian direkatkan dengan api ’senthir’ (lampu minyak tanah). Kacang ibu selalu enak dan renyah, oleh karena itu kami anak-anak sering juga diam-diam ikut memakannya di luar penglihatan ibu (meskipun sebenarnya ibu pasti tahu juga, wong jumlahnya berkurang … )
Tidak seperti ibu-ibu jaman sekarang yang selalu ‘heboh’ menyuruh anak-anaknya belajar ini-itu, les kesini-kesitu, ibu tidak pernah menyuruh kami belajar. Semua anak belajar dengan kemauan sendiri. Sehabis makan malam (yang selalu dilakukan bersama seluruh keluarga) dan sholat Isya berjamaah, kami mengkapling meja makan menjadi meja belajar bersama (maklum, meja belajar pribadi adalah kemewahan yang tak terbayangkan). Aku dan tiga kakak duduk bersama di meja makan, menghadapi buku masing-masing. Kakak yang lain belajar di ruang tamu. Salah seorang kakakku tidak bisa menghafal kalau tidak dengan mengucapkannya keras-keras. Sudah barang tentu kebiasaan itu membuat anak-anak yang lain terganggu. Kalau sudah begitu, keributan kadang-kadang tak bisa dihindarkan. Biasanya, kakak yang tidak bisa diam itu lalu menyingkir ke kamar, belajar di tempat tidur sambil menutup pintu rapat-rapat.
Jika ada di antara kami yang belajar sampai larut malam untuk menghadapi ujian, sementara anak-anak yang lain sudah tidur, ibu seringkali memberikan makanan yang diam-diam beliau sembunyikan sejak siang. Makanan ekstra memang harus beliau sembunyikan, sebab dengan tujuh perut anak-anak dan remaja yang sedang giat-giatnya memamah-biak, tak ada makanan bisa bertahan lama di meja. Dan setiap makanan selalu hanya tersedia tujuh potong, masing-masing anak kebagian satu, tak boleh lebih, karena untuk mendapatkan makanan itu uang harus dikumpulkan rupiah demi rupiah.
Selain menjual kacang bawang, ibu juga mengkreditkan pakaian ke pengajian dan arisan-arisan. Tapi karena ibu tidak pandai bicara, ibu tidak pernah menawarkan dagangannya (apalagi merayu calon pembeli) sebagaimana penjual pada umumnya. Ibu cuma menaruh saja dagangan itu, para langganan yang mengambil dan memilihnya sendiri. Harga pun selalu pas, tanpa ‘gebyar’ diskon, karena ibu tak pernah mengambil keuntungan besar. Orang-orang membayar angsuran dengan datang ke rumah (waktu itu kan belum ada model transfer rekening lewat hp …), dan hebatnya, jarang sekali ada yang macet.
Ibu juga aktif di organisasi wanita. Dalam bidang keagamaan, beliau aktif di ‘Aisyiyah. Beliau juga pernah aktif di GOW (Gabungan Organisasi Wanita). Walaupun badannya kecil, ibu sangat jarang sakit. Kemana-mana beliau berjalan kaki. Sesudah usianya melewati 60 tahun, baru ibu pergi-pergi dengan naik becak. Ibu tidak bisa naik sepeda. Pada usia limapuluhan beliau pernah mencoba belajar naik sepeda, tapi dengan kain panjangnya yang ribet, ibu tidak pernah berhasil menguasai kendaraan beroda dua itu.
Ibu selalu menganggap kami anak-anaknya tahu apa yang terbaik bagi hidup kami masing-masing, oleh karena itu beliau tidak pernah menyuruh kami menjadi ini-itu. Kami memilih sekolah kami masing-masing, pekerjaan kami, dan jodoh kami tanpa campur tangan ibu. Setelah semua anaknya menikah, ibu juga tidak pernah melakukan intervensi ke dalam urusan rumah tangga kami. Bagi ibu, apa pun yang kami inginkan, apa pun yang kami putuskan, selalu memperoleh restu beliau. Sikap beliau ini membuat anak-anak terdorong untuk bertanggungjawab atas hidup kami masing-masing.
Kesehatan ibu mulai menurun setelah beliau berumur 80 tahun. Ibu tidak menderita penyakit apa pun, tetapi usia lanjut membuat otot-otot tubuhnya menjadi lemah. Kini, pada usia 92 tahun, beliau lebih banyak berbaring di tempat tidur, hanya sesekali bisa duduk sebentar. Namun ingatan, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bicara beliau masih ‘cling’. Beliau tidak asing dengan ponsel, karena anak-anak yang jauh berbicara kepada beliau melalui alat itu (tapi tentu saja ‘kejam’ kalau mengharap beliau bisa sms-an … ). Hanya teknologi internet beliau tak paham. Suatu saat mungkin aku perlu membawa laptop dan menunjukkan blog ini kepada beliau … he he …
Dalam kerentaannya, ibu semakin tawadlu. Sifat kerasnya dulu tak ada lagi. Ibu sekarang adalah ibu yang lembut, sabar, dan selalu menyapa anak-anaknya dengan rasa rindu.
Ibu, semoga hari-hari mendatang adalah hari-hari tenang yang penuh kebahagiaan menjemput masa abadi …











mbak Tuti,
Luar biasa….dari seorang ibu yang sangat hebat…lahir generasi yang hebat juga.
kalo saja ibu2 sekarang paling tidak belajar menjadi ibu yang hebat(minimal…60 % nya saja meniru ibu2 hebat masa lalu),,insya Allah negara ini akan makmur,sejahtera..dgn generasi selanjutnya yang bertakwa,berkualitas,beretos kerja yang baik.
Saya makin termotivasi untuk membuat ibu2 makin pandai
Salam
Dyah Suminar
Aw2.
Doa dan Sungkem saya untuk Budhe (saya ikutan Ibu saya memanggilnya begitu).
W3
Mbak Dyah,
Wah … maaf, respon saya atas komentar Mbak Dyah kok bisa terlewatkan, jadi terlambat banget.
Terimakasihatas suportnya. Ibu saya wanita sederhana saja kok, yang menjadi kuat karena terbiasa prihatin. Mbak Dyah sendiri ibu yang sangat hebat. Berhasil mengantarkan putra-putri menjadi orang yang sukses, mengelola multi bisnis yang terus berkembang pesat, juga tak kenal lelah memajukan ibu-ibu PKK sebgai Ketua Penggerak PKK yang sudah jalan 2 periode ini. Saya salut sekali dengan begitu banyaknya hal yang dikerjakan Mbak Dyah, yang semuanya berjalan dengan lancar.
Selamat dan semakin sukses untuk Bu Walkot.
Sigit,
Insya Allah doa dan sungkemnya akan saya sampaikan ke ibu saya. Bapak dan Ibu di Bantul sehat-sehat saja to? Saya sudah agak lama juga tidak bertemu.
[...] Wanita Tangguh Itu Adalah Ibu [...]
Jadi terharu mbak, saya baca artikelnya. Saya juga jadi ingat ibu saya, hihihik…jadi kangen banget….melankolis yach…
Best Regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com
Tuti :
Saya lebih-lebih terharu lagi, karena Bunda saya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa 18 Agustus 2008 yang lalu. Saya tulis di “Selamat Jalan Bundaku”.
Terimakasih Mbak Elinda.