PLN ….. P(akai) L(ilin) N(i yee …)
Judul di atas saya ambil dari guyonan Nofee di tabloid Nova yang terbit tanggal 25 Februari 2008. Satir yang membuat kita tersenyum geli sekaligus ngenes …
Isu kekurangan pasokan daya PLN memang sedang menjadi berita hangat beberapa hari terakhir. Pelanggan listrik di Jawa – Bali terancam pemadaman secara bergilir. Di sebagian wilayah Jakarta bahkan pemadaman sudah benar-benar terjadi. Jakarta yang metropolitan, yang biasanya gemerlap dengan ribuan lampu, akan menjadi remang-remang oleh kerdip lilin di malam hari. ‘Dinner with candle light’ memang romantis (apalagi kalau dilakukan berdua dengan orang tercinta, di pent-house gedung bertingkat 50, dengan iringan musik Johann Strauss), tapi makan malam nasi dingin di tengah genangan banjir hanya dengan diterangi lilin? Atau bekerja di kantor yang tertutup rapat, sementara AC mati dan komputer tak berfungsi? Barangkali itu contoh sebagian adzab dunia ….
Pengamat ekonomi Faisal Basri menganalisis krisis listrik ini (Kompas, 25 Februari 2008) dengan bagus. Apologi pemerintah bahwa krisis listrik ini disebabkan oleh cuaca buruk, yang mengakibatkan kapal-kapal pembawa batubara sebagai sumber energi pembangkit listrik tidak bisa merapat ke pelabuhan, adalah alasan yang mengada-ada. BMG sudah jauh-jauh hari memperingatkan akan adanya cuaca buruk, mengapa pemerintah (PLN) tidak melakukan antisipasi?
Kekisruhan pasokan listrik di Indonesia sepenuhnya adalah masalah salah urus. Miss management (nggak ada hubungannya dengan Miss World, Miss Universe, ataupun Mission Impossible …) yang berlarut-larut. Pada tahun 1980an dan awal 1990 kita mengalami krisis listrik cukup parah karena PLN gagal mengantisipasi meningkatnya kebutuhan listrik. Pemerintah lalu mengundang pemodal swasta untuk membangun pembangkit listrik. Bermunculanlah perusahaan-perusahaan yang hampir seluruhnya kroni Pak Harto, yang menggandeng korporasi besar dunia. Mereka menggelembungkan nilai proyek, memaksa PLN membeli listrik mereka dengan harga lebih mahal dari listrik produkdi PLN sendiri.
Semenjak beberapa waktu yang lalu, kita sering disuguhi propagada di televisi yang mengajak masyarakat menghemat listrik, untuk menghindari pemadaman akibat PLN tidak bisa mencukupi kebutuhan daya. Menghemat tentu saja ajakan baik (sejak SD pun kita sudah diajari ini), tetapi sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah masyarakat yang terlalu boros, melainkan pemerintah yang tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar rakyat. Pemakaian listrik masyarakat Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara-negara tetangga, hanya 400 kWh, sementara Filipina 500 kWh, Thailand 1.500 kWh, dan Malaysia 2.700 kWh.
Ketersediaan listrik bagi rakyat Indonesia pun masih rendah, hanya sekitar separuh dari seluruh rumahtangga yang ada. Bandingkan dengan Vietnam yang sudah 79 persen, Filipina 80 persen, Thailand 84 persen, dan China 99 persen. Di antara 12 negara sekawasan, Indonesia menempati juara 11.
Berapa kerugian dunia industri dan bisnis akibat listrik mati? Bagaimana kerepotan yang terjadi di setiap rumahtangga jika listrik tak menyala? Sementara pelanggan harus tetap terbirit-birit membayar tagihan kalau tidak ingin aliran listrik di rumahnya diputus PLN. Aduhai!
Hampir 30 tahun yang lalu, saya menulis kegaduhan rumah kami akibat matinya listrik (baca : “Dan … Nenek Pun Tertawa”, Category : Buah Pena). Sekarang, kalau Nenek masih hidup, mungkin beliau tidak lagi tertawa, tapi istighfar ……
Dan kalau listrik mati, maka blog ini pun tamatlah.









mbak tuti,
Ha,,,ha,,,ha….saya baca tulisan ini jadi ngenes sekaligus geli.
walah…rakyat suruh hemat gimana lagi,wong mereka sdh hidup dalam keterbatasan,ya gak mungkin boros2.
lha,,,saya ini ,nek listrik sering mati..jelas gak bisa kejar target
dan anak buah bakal batal dapat bonus.
yah..semoga kedepan Perusahaan Lilin nasional…eh,,PLN akan lebih baik.kalau kita telat mbayar rekening,kena denda,tapi kalau bolak balik mati…gak ada Discount,
Ok.terus menulis,,
dyah suminar
Ha ya itu … nasib rakyat. Sebenarnya tulisan Faisal Basri di Kompas lebih lengkap menyajikan data dan analisa, hanya saja kalau saya kutip semua nanti kepanjangan.
Pak Eko, katanya panjenengan punya data banyak tentang perlistrikan di Indonesia. Ayo dong, disharing ke kita …
Akhirnya saya datang juga untuk listrik. Ternyata bukan data bu, tapi cerita. Ini ceritanya.
Bu Tuti, saya penuhi sebagian janji saya. Tentang permasalahan listrik di negara kita. Sengaja sekarang saya tulis, di saat emosi akibat kenaikan harga listrik mulai mereda. Ini bukan karena saya ahli di persoalan perlistrikan, tapi karena saya punya informasi sedikit lebih dibanding teman-teman lainnya.
Persoalan kelistrikan kita tidak seperti kisah sinetron yang ada ’si baik hati’ dan ’si jahat’ (formula yang sangat sering dipakai) tetapi kisah sinetron yang dramatis. Bukan pertentangan antara baik dan jahat tetapi antara pertentangan berbagai karakter yang kuat yang penuh dengan berbagai kepentingan. Persoalan paling besar yang dihadapi PLN adalah besarnya ongkos yang ditanggung dalam menggerakkan turbin generator listrik. Sebagian besar ongkos operasional PLN adalah biaya BBM (solar), karena 70% pembangkit listrik di Indonesia adalah diesel. Kenaikan harga solar akan selalu diikuti kenaikan biaya operasional pelistrikan. Nah, sebenarnya di kalangan PLN sejak lama sudah memandang perlunya mengganti dominasi solar dengan bahan bakar lainnya. Tetapi di era Soeharto tidak begitu direspons dengan baik karena dirasa masih bisa diatasi, meskipun Habibie pernah melempar bola dengan memikirkan PLTN (ya tenaga nuklir). Tapi reaksi masyarakat luar biasa negatif. Ditambah Australia dan Singapura (diikuti negara-negara Asean lainnya) yang menekan dengan keras agar kita tidak merealisasikannya.
Dengan terus meningkatnya harga BBM maka PLN mencanangkan sejak 2005 dalam 10 tahun akan mengganti solar dengan sumber energi lainnya seperti batubara, geothermal, gas, angin, matahari, dan kalau mungkin nuklir. Kalau dilihat yang paling mungkin adalah batubara dan geothermal. Angin dan matahari masih jauh dari pengharapan. Tenaga air? Berhubung banyak hutan ditebangi (di Jawa) maka pasokan air ke sungai yang akhirnya ke waduk jadi berkurang. Bisa ditebak kisah selanjutnya. Sedang geothermal tampaknya menjanjikan namun beberapa problem menghadang. 1) Biasanya lokasinya jauh, terpencil, dan terjal sehingga biaya mendirikan PLTG dan perkabelannya menjadi mahal banget. 2) Dengan teknologi yang ada saat ini daya listrik yang dihasilkan masih tidak begitu besar sehingga hitung-hitungannya tidak ekonomis (tidak murah). 3) Karena kebanyakan lokasi di pegunungan maka memerlukan pasokan air yang cukup, padahal dengan penggundulan hutan menyebabkan air yang mengalir ke sumber panas menjadi berkurang sehingga uap panas dari geothermal menjadi kecil. Jadi jika air habis maka ibarat kompornya nyala tapi air yang digodog sudah habis. Ada PLTG di Jabar yang sudah habis airnya sehingga oleh PLN disuntik air cukup banyak. Nah, terakhir saya dengar PT Rekindo (Rekayasa Indonesia, BUMN milik Pusri) telah berhasil membuat PLTG yang mendaur ulang air yang telah ada, namun masih belum bisa mengatasi yang permasalahan nomor dua.
Untuk listrik tenaga gas agak lebih pelik. Berdasarkan UU maka hanya PGN (Perusahaan Gas Negara) yang bertugas mensuplai gas untuk PLN. PGN bertugas mensuplai gas melalui pipa sedangkan Pertamina mensuplai gas melalui tabung. Rupanya PGN tidak berminat mengembangkan kapasitas pabrik gasnya yang hanya berada di Sumsel, Riau, Jawa, dan Bali. Mungkin karena dengan pabrik yang ada sudah sangat untung banget. Nah PLN harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain (seperti pabrik baja, pabrik keramik, dll) untuk mendapatkan gas. Di samping itu, pesaing lainnya adalah PLNnya Singapura karena Singapura impor gas dari kita untuk listriknya. (Tahu nggak harga yang kita jual murah buanget dan terlalu murah, Singaporeans memang jago negosiasi dan Indonesians gampang ketipu). Meskipun sangat menjanjikan namun gas masih menanggung beban persoalan yang tidak enteng.
Untuk angin dan matahari masih jauh. Kekuatan angin di Indonesia tidak cukup besar untuk mensuplai listrik sebuah kota besar, sedangkan teknologi untuk PLTM (tenaga matahari) belum cukup canggih untuk menghasilkan tenaga listrik yang sangat besar.
Akhirnya batubara. Saat ini batubara adalah solusi jangka pendek yang paling feasible. Berharga murah, tidak perlu import, dan jumlahnya masih banyak. PLTU-PLTU yang ada saat ini sudah beralih ke batubara sebagai BBM. Tanjung Jati (Gunung Muria) dan Paiton adalah PLTU yang luar biasa besarnya sehingga suplai listrik Jawa Bali terbesar sekarang adalah dari dua tempat itu. Berangsur-angsur dalam 10 tahun PLTD akan diubah menjadi PLTU sehingga biaya produksi menjadi murah. Apakah jika sudah diubah harga listrik akan bisa tetap atau bahkan turun? Belum tentu. Masih banyak persoalan yang akan timbul. Dari batubara, sekarang permintaan batubara makin lama makin meningkat termasuk tekanan untuk ekspor akibat permintaan Cina yang luar biasa besar. Harga batubara secara perlahan akan meningkat. Industri-industri lain juga butuh batubara. Maka nantinya harga dasar listrik juga ikut naik jika harga batubara naik. Kalau sudah demikian kepala jadi mumet lagi. Semumet membaca tulisan ini.
Oleh sebab itu, PLN berfikiran jangka panjang, namun masih belum cerdik. PLN sangat-sangat berkeinginan untuk membangun pembangkit listrik bebas masalah harga pasar. Pilihan yang masih menjadi urutan no 1 adalah PLTN (nuklir). Namun dari reaksi masyarakat yang sampai sekarang masih negatif menjadi pertimbangan tersendiri. PLN ingin seperti Perancis yang produksi listriknya bisa diekspor ke negara-negara lainnya karena menggunakan PLTN. Sekarang Thailand, Filipina, dan Malaysia sudah bersiap-siap menggunakan PLTN. Sedang Australia sudah lama menggunakan PLTN. Nah, ini ada ketidakadilan dari negara-negara tetangga. Kalau kita mau pakai PLTN mereka teriak-teriak, tapi mereka seenaknya menggunakan PLTN padahal kalau bocor kita juga kena, tapi kita nggak pernah teriak-teriak. Menurut para ahli yang dipunyai PLN, makin lama teknologi nuklir makin aman karena mereka makin belajar bagaimana mengatasi kebocoran yang pernah terjadi sehingga risiko kebocoran dapat diminimalisir. Namun kalau publik belum berkenan apa mau dikata. Mungkin rekan-rekan kita punya pemikiran lain yang menggantikan tenaga nuklir dalam memproduksi listrik bebas persoalan pasar.
Bu Tuti, itu baru sebagian persoalan dari sisi hulunya. Dari sisi hilirnya ada yang dinamakan permintaan siluman yaitu pencuri-pencuri listrik. Bagi PLN, ukuran yang keluar sering lebih besar dari ukuran yang membayar. Yang membuat seperti itu bukan saja pencuri tetapi juga institusi yang legal tidak membayar listrik seperti ABRI dan institusi pemerintah lainnya. Jika ditotal maka sekitar 20% potensi penerimaan hilang. Akibatnya 80% menanggung yang 20%. Tidak aneh jika harga listrik jadi mahal.
Bagaimana dengan efisiensi produksi sehingga produksi bisa lebih murah? Efisiensi yang didengung-dengungkan wakil rakyat masih merupakan omongan kosong yang tak punya arti. Mengapa? Karena jika ingin ditingkatkan efisiensinya maka harus ada penelitian khusus dari tim yang tidak memihak untuk mengetahui titik-titik inefisiensi sehingga pembenahan berjalan efektif. Maka dari itu, janganlah kita terpana dengan omongan-omongan dari pakar (katanya) ataupun politisi yang terkadang sok tahu namun nggak tahu apa-apa dengan apa yang diperbincangkan.
Demikian sedikit persoalan perlistrikan Indonesia yang saya tahu. Masih banyak persoalan-persoalan lainnya terutama soal internal, namun cukup demikian saja. Mudah-mudahan menghibur bu Tuti yang Nonka.
Pak Eko, terimakasih sudah memenuhi janji untuk memberikan edukasi bagi kita semua.
Dari uraian panjang lebar yang Bapak berikan, kesimpulannya : tenaga nuklir adalah yang paling reasonable dan feasible. Masalahnya adalah pada phobia masyarakat terhadap nuklir. Nuklir masih merupakan sesuatu yang menakutkan, benda aneh seperti jin, yang bisa sewaktu-waktu mencelakai kita. Kalau begitu yang diperlukan sekarang adalah sosialisasi dan edukasi pada masyarakat tentang apa dan bagaimana nuklir, kelebihannya, bahayanya, cara pengamanannya, dan sebagainya. Susahnya, nuklir ini kan konsepnya sangat ilmiah, melibatkan reaksi atom-atom, bahan radioaktif, dan sebagainya. Harus dicari formula yang mudah dan sederhana, sehingga bisa difahami oleh siapa pun yang tidak pernah belajar tentang kimia, fisika, dll.
Bahwa BUMN dijadikan sapi perah oleh pejabat dan instansi pemerintah, itu sudah berita lama. Susah sekali memberantasnya, karena ’susu’ dari ’sapi perah’ ini lezat dan menggemukkan pihak-pihak yang memegang kekuasaan. Yang terjadi adalah pengkaplingan ‘kandang sapi perah’. BUMN ini untuk partai A, BUMN itu untuk partai B, dan seterusnya.
Pada akhirnya, semua kembali kepada mental manusia, ya Pak? Sedihnya, konon pelajaran Budi Pekerti sekarang malah tidak diajarkan lagi di SD …
Mudah-mudahan saya terhibur? Waduh, terhibur bagaimana? Ya jelas jadi sedih to Pak. Hopeless. Ini reformasi bagaimana ceritanya. Sudah berjalan sepuluh tahun kok negara nggak jadi lebih baik, malah semakin kisruh ….