PRITA
Prita hampir selalu kulihat sendirian. Dari teman-teman kuliah seangkatan kami, memang dia satu-satunya cewek. Dan fakultas Kehutanan bukan tempat yang cocok untuk seorang gadis. Apalagi semanis dan semungil Prita. Toh sebenarnya itu bukan alasan final. Arsinta, kakak kelas kami dua tahun, juga tidak punya teman cewek. Tapi dia selalu berteman, selalu ada orang lain bersamanya.
Prita gadis yang manis dan mungil. Kurasa setiap pemuda senang melihatnya, kecuali seleranya selera Afrika. Tapi Prita begitu kalem dan pendiam, hampir-hampir menutup diri. Dia lebih banyak tersenyum dari pada buka mulut. Dan pembawaannya begitu rupa sehingga Johny, berandalan yang seringkali sukar membedakan cewek dengan bola basket pun jadi pemuda santun di depannya.
Berani taruhan (asal jangan mahal-mahal), tak kurang dari dua belas ‘anak hutan’ yang kepengin memagari Prita dengan lingkaran lengannya. Semua bukan dari kelas kunyuk. Dan semua luput. Prita sudah punya pacar. Konon, pacarnya anak Sospol, tiga tahun lebih tua. Tapi hanya segelintir orang yang pernah melihat Prita bersama pacarnya. Prita selalu sendiri, kemana-mana.
Gedung Balairung UGM, tempat aku dan Prita pertama bertemu pada saat plonco mahasiswa baru
Tadi, kutemukan dia berjalan sendirian di sepanjang boulevard kampus Bulaksumur. Hampir tak pernah kulihat ada gadis berjalan sendirian di tempat itu. Dari belakang kuikuti dia dengan diam-diam, sampai di sebelah timur gedung Purna Budaya. Prita selalu mencari tempat di tepi, yang teduh oleh jajaran pohon cemara di sepanjang boulevard. Kalau kebetulan tak ada tempat teduh, disembunyikannya lengannya di belakang tubuh. Biar nggak hitam ‘kali. Beberapa pemuda yang berpapasan memandangnya. Yang menyalib dari belakang menyempatkan diri menoleh. Memang menarik, sih. Di jalur yang hijau, lengang dan beraroma daun cemara, seorang gadis manis berbaju putih melenggang sendirian. Dan Prita seolah tak mempedulikan lirikan orang-orang. Langkahnya terayun pelan dan santai, seolah menikmati kesendirian dan kesunyian dunia di sekelilingnya.
Aku berhenti di sampingnya. Motor tetap hidup.
“Mau kemana?” tanyaku.
Dia tidak kaget. Kelihatan senang melihatku.
“Ke BNI” senyumnya mengembang dengan manis.
“Ngapain jalan sendirian? Orang-orang pada melihatimu. Apa memang kepengin dilihatin orang-orang?”
Prita tidak marah mendengar omonganku. Kalau boleh ge-er, aku memang sahabatnya yang terdekat. Dan Prita tak pernah marah kepadaku, sebab dia tahu aku sayang dan selalu memikirkan kepentingannya. Bukan cinta, sebab sampai saat ini aku masih patah hati oleh Evi yang meninggalkan aku demi badut konyol yang celakanya punya mobil mewah.
“Aku senang jalan disini. Orang-orang kayak kamu itu yang tidak sehat. Pergi seratus meter aja pake motor. Kamu mau motormu yang sehat apa jantungmu yang sehat?” Prita menjawab.
Kuajukan dudukku sedikit, melonggarkan tempat buat Prita.
“Kebetulan aku tidak ada tujuan. Aku mau antar kamu.” kataku. Kepadaku, Prita tak pernah mempersoalkan apakah dia kuperintah atau kupersilahkan.
Gedung bank tinggal dua ratus meter lagi di depan. Tanggal muda, Prita pasti akan mengambil beasiswa Supersemarnya. Pasti dia dari Gedung Balairung tadi, mengambil formulir pencairan beasiswa.
“Pacarmu gimana sih, nggak pernah ngantar kamu?” tanyaku, melawan angin yang bertiup dari depan.
“Dia sibuk Don. Kesibukannya tiga kali lipat kesibukanku” suara Prita terdengar di belakang telingaku.
“Sampai tak ada waktu sedikit pun untuk kekasih tercinta?” tanyaku kejam.
Tak kudengar jawaban. Mungkin Prita menggeleng atau mengangguk, aku tak tahu. Kepalanya ada di belakang tengkukku, dan mataku tidak berada di tengkuk.
“Dua minggu sekali belum tentu aku ketemu dia.” ini suara Prita.
“Ya ampun. Orang penting apa buronan sih dia itu?” aku benar-benar sebal.
“Nggak dua-duanya. Yang jelas dia aktivis. Dan universitasnya nggak kayak universitas kita yang adem dan bisu. Di kampusnya setiap kegiatan jalan. Iklimnya dinamis dan enerjik. Jangan lupa, dia ketua dewan mahasiswa. Kita, mana ada dewan mahasiswa.”
Prita selalu selangit kalau menceritakan pacarnya. Biasa, aku pun dulu begitu kalau cerita tentang Evi.
“Nggak kepengin punya pacar yang cakep, yang penuh perhatian dan selalu siap melindungi kamu? Banyak loh, yang mau ndaftar.”
“Kepengin. Tapi aku sukar jatuh cinta pada orang yang bukan aktivis, yang cuma tahu diktat kuliahnya thok. Dia tahu segala hal, Don. Dan dia selalu memikirkan aku kok, biar pun jarang datang.” Prita seperti induk macan yang melindungi anaknya dari ancaman beruang.
Ya sudah. Kalau Prita sendiri tak apa-apa punya pacar super cuek, ngapain juga aku ribut-ribut?
Seperti sudah kuduga, habis ambil duit Prita mengajakku makan bakso telur puyuh di Kotabaru.
* * *
Tiga bulan lalu, Prita bilang mau ke Bali. Sendirian. Aku geleng-geleng kepala, kesal melihat kesembronoannya.
“Ada temanku disana. Aku sendirian cuma selama perjalanan saja. Naik bis dari terminal, turun di Denpasar, putar nomor telepon temanku. Dia jemput. Apa susahnya?” Prita mencoba meyakinkan aku.
“Kalau kamu ini seniman yang pergi-pergi cuma dengan jean lusuh, kaos oblong, sandal jepit dan buntelan kain, mungkin orang akan maklum dan tidak peduli. Tapi dengan penampilanmu yang seperti ini, sukar untuk tidak merasa iba atau justru ingin menjahati, Prit.”
Prita selalu rapi dan feminin. Semua bajunya bermodel manis kayak boneka barbie. Sepatunya pun kecil runcing, bertumit dan mengkilat, tidak seperti sepatu Arsinta yang selalu kukira sepatu ayahnya. Begitu pula wajahnya, selalu rapi dengan bedak dan lipstik tipis.
Tapi Prita tetap berkeras mau berangkat.
Dan aku mengantarnya ke terminal. Prita mengenakan celana jean lusuh yang tak pernah kulihat sebelumnya (entah dipinjamnya dari siapa, sebab rasanya bukan salah satu dari penghuni lemari pakaiannya), kaos oblong putih lengan panjang dan sepatu Panther. Baju-bajunya dimasukkan ke dalam carrier berwarna merah. Rambutnya yang panjang disembunyikan dibalik topi. Anting, cincin dan gelang lepas semua dari tubuhnya. Cuma jam tangan yang tertinggal. Masih berbedak, tapi tidak memoles bibirnya dengan lipstik.
Aku nggak tahu mesti ketawa atau terharu melihatnya. Dengan jean yang sudah nggak karuan birunya, menggendong carrier di punggung, Prita mau mengembara sendirian ke Bali. Dandanannya bisa disulap kayak turis, tapi wajahnya tidak. Di mataku dia tetap Prita yang kecil, mungil, dan mengibakan.
“Kalau kamu butuh teman, telepon aku. Katakan dimana kamu berada. Dalam tempo dua puluh empat jam kamu sudah bisa melihat hidungku.” kataku ketika membawakan carriernya ke atas bis.
Pacarnya tidak mengantar. Kata Prita, sedang ada rapat dewan mahasiswa di Kaliurang. Aku temani Prita sampai sopir duduk di belakang kemudi dan bis menggerung-gerung pergi.
Lima hari, seminggu, tak ada telepon dari Prita. Tahu-tahu dia muncul di beranda rumahku dengan sebesek salak Bali. Wajahnya kemerah-merahan terbakar matahari. Matanya yang hitam berkilat-kilat. Kayak anak kecil dibanggakannya foto-foto monyet yang diambilnya di Sangeh. Tiga hari berusaha memotret sunset di Kuta gagal karena selalu mendung. Ceritanya banyak sekali, sampai aku capek pasang kuping.
Aku senang Prita kelihatan lebih sehat dan bahagia.
Esoknya dia datang lagi. Kali ini pinjam uang. Duitnya habis di Bali. Maka kubawa dia ke bank untuk mengambil tabunganku yang tak seberapa. Kuambil semua, hanya kusisakan sejumlah saldo minimal yang disyaratkan.
Prita seperti anggrek ungu dan putih ini : kecil, cantik, abadi.
* * *
Kami sering berbincang-bincang jika ada waktu kosong. Kadang di perpustakaan, di depan ruang kuliah, di kantin, atau sambil nunggu bis kota di halte kampus. Kadang diskusi serius sampai mau bertengkar, kadang ngobrol santai, kadang saling bertukar kesulitan (kalau yang gampang-gampang mah nggak perlu ditukar ..).
Suatu sore Prita datang ke rumah. Dari sekian banyak teman kuliah yang semuanya laki-laki, hanya ke rumahku yang dia berani. Itu karena ibunya adalah teman lama ibuku, dan ibuku memperlakukan Prita seperti anaknya sendiri.
Prita kepengin nonton konser musik, ada resital piano di Karta Pustaka. Pacarnya tak punya waktu.
“Aku bukan nggak mau, Prit. Aku justru mikirin kalian. Apa pacarmu nggak marah kalau kita pergi malam-malam berdua?” aku merasa keberatan.
“Kalau kita pergi tanpa maksud apa-apa, cuma kepengin nonton saja, apa itu bisa dianggap penyelewengan?” dia bertanya.
“Tergantung siapa yang menganggap. Kalau kalian terbuka, fair, dan saling percaya, mungkin tidak. Tapi kalau aku, sudah pasti aku nggak senang pacarku nonton konser berdua dengan laki-laki lain.”
Prita tak menjawab. Diambilnya majalah Tempo dari atas meja, dibukanya dengan lambat setiap halaman. Pasti dia bukan membaca. Aku jatuh kasihan melihatnya. Dia kepengin pergi. Pacarnya sibuk. Pergi dengan orang lain tidak bisa. Seperti ini terjadi tidak hanya sekali.
Tapi kalau dia sudah memutuskan pacaran dengan aktivis, dia harus mau terima konsekwensi seperti ini. Begitu pun, aku kasihan melihatnya. Gadis mana sih yang tidak kepengin pergi-pergi bersama pacarnya?
Akhirnya aku antar juga Prita nonton konser. Tekadku sudah bulat, kalau pacarnya marah, dia akan berhadapan dengan tinjuku yang sudah terlatih menghantam sansak. Pacarnya harus sadar diri juga dong. Apa haknya mengurung Prita di rumah, sementara dia sendiri nggak mampu jadi pacar yang bener?
* * *
Aku lulus, Prita pun lulus. Lalu aku kerja di Departemen Kehutanan, jalur lempang sesuai dengan kuliahku. Prita masuk kampus, menjadi dosen. Sejak dulu dia memang ingin jadi dosen, karena kepengin kuliah lagi. Kalau kerja di luar kan nggak mungkin nyambi kuliah, katanya.
Dua tahun kemudian aku kembali ke kampus. Aku kepengin lihat bagaimana Prita sekarang.
Prita masih seperti dulu. Rambutnya tetap panjang. Tetap kecil, mungil, dan manis.
“Kamu kelihatan tua sekarang. Hitam. Kusut.” katanya memarahiku.
Aku tertawa. Terlalu banyak menerima sengatan matahari membuat kulitku seperti Afrikano. Dan di hutan cukur kumis seringkali tak terpikir. Buat apa? Toh yang melihatku cuma kancil dan kadal.
“Bagaimana kamu? Masih selalu sendirian?” tanyaku.
“Seperti yang kau lihat.”
Prita mustinya cari pacar yang bukan aktivis, yang selalu bisa menemaninya.
“Pacarmu?” aku bertanya.
“Dia sudah kawin tahun lalu.”
Aku terhenyak.
“Jadi apa artinya kalian pacaran selama tujuh tahun itu?” aku berteriak sambil memukul meja.
“Jangan teriak-teriak, aku belum tuli. Artinya, aku lantas tahu makna cinta.” Prita menjawab dengan tenang.
“Makna cinta! Menunggu tujuh tahun, setia walau tak pernah diperhatikan, lalu ditinggal kawin. Itu makna cinta, Prit? Dan sekarang kamu sudah tua, sudah dua tujuh. Orang-orang yang dulu menunggu cintamu sekarang sudah kawin semua.” aku uring-uringan.
Prita tersenyum. Sama sekali tidak marah kukatakan sudah tua.
“Kalau kami tak jadi menikah, itu bukan karena dia tak cukup cinta kepadaku, Don. Banyak hal yang tak kamu mengerti. Soal umur, kenapa ribut? Kakakku menikah umur tiga puluh. Yang satu malah tidak menikah. Memangnya orang hidup harus menikah?” sableng sekali jawaban Prita.
Mulutku terkunci.
“Akhir tahun aku berangkat ke Ohio. Aku mau ambil S3. Mungkin empat atau lima tahun disana.” Prita berkata lagi.
Tiba-tiba aku merasa sangat sedih. Prita putus dengan pacarnya. Lalu mau pergi jauh. Lama. Aku khawatir kepergian itu hanya untuk melupakan kepedihan hatinya. Prita pergi ke Amerika, aku kembali ke hutan. Siapa lagi yang bisa kutemui? Kami memang tetap tidak akan sering bertemu sekali pun Prita tidak ke Amerika, tetapi aku lebih senang, lebih tenang, dan lebih bahagia kalau tahu dia ada disini dan setiap saat bisa kutemui.
Aku menatapnya lekat-lekat.
“Kamu masih sedih memikirkan dia?” aku bertanya dengan hati-hati.
Sejenak Prita sulit menjawab.
“Saat ini, detik ini, karena di depanmu, tidak. Tentu saja aku masih ingat dia, tapi kayaknya nggak lagi kepengin mati.” akhirnya Prita berkata.
Syukurlah.
Tekadku bulat sudah. Perasaan yang selama sekian tahun tak kusadari, tiba-tiba muncul dengan kuat dan pasti.
“Bagaimana kalau kamu tak usah ke Ohio?” aku meminta.
Prita memandangku dengan keheranan.
“Kenapa?”
Kutatap matanya lurus-lurus.
“Aku ingin pulang kepadamu sehabis dari hutan.” aku diam sejenak. “Supaya ada yang memarahiku karena aku hitam dan kusut.”
Prita tertegun menatapku. Bibirnya bergetar seperti akan mengucapkan sesuatu. Sebentar wajahnya tertunduk. Dan ketika wajah itu terangkat lagi, matanya menatapku berkilauan. Ada butir bening menggantung di sudut matanya yang bulat.
Ingin sekali aku memeluknya. Membawanya tertawa. Atau ikut menangis bersamanya.
Yogya, April 1982










Bu Tuti, saya ingat lagi cerpen ini. Waktu itu saya heran dengan gambaran marahnya si Don yang nggebrak meja sambil teriak ketika tahu pacarnya Pritta kawin dengan orang lain. Kok marah kayak gitu. Apa nggak terlalu dibuat-buat. Kalau saya marah mendengar hal itu nggak akan teriak dan gebrak meja. Salah satu saja. Setelah lama bertahun-tahun saya baru tahu kalau kadang-kadang penggambaran dalam cerita bisa saja dilebih-lebihkan untuk menggambarkan ekspresi yang marah.
Bacanya nggak sembunyi-sembunyi lho, karena sudah dibaca adik saya.
Tentang cerita pacar aktivis kampus yang diputus pacarnya seperti cerita dari teman saya pak Muslich Zaenal Asikin, aktivis mhs UGM pendiri KOPMA UGM. Namun ceritanya terbalik. Waktu itu pacarnya mas Muslich yang minta putus karena nggak diperhatikan selayaknya seorang pacar. Namun sekarang keluarga mereka tampaknya hapily ever after.
Oh ya, dapat salam dari sobat saya yang seniman dari Bali tapi sudah dpt PhD. Dia juga pengamat sastra dan muridnya Umbu Landu Peranggi. Ia seorang aktor drama dan pembaca puisi ala Sutardji CB. Sekarang sudah non aktif dari kesusastraan. Idolanya dulu adalah Leila S Chudori.
Cara orang marah kok diatur. Ya biar aja to Pak, mau teriak sambil mukul meja, mau njoget sambil ntraktir orang sekampung, biar aja to … he he …
Ceritanya si Don ini orang Sumatra je Pak, jadi kalo marah ya nggak kayak panjenengan yang priyayi Jawa … Dan si Don ini kan sebenarnya cinta mati sama Prita, jadi jelas ngamuk to waktu dengar gadis yang dicintainya disia-siakan oleh pacarnya. Lagipula, yang pengarang kan saya, jadi ya semau-mau saya to Pak …. he he …. (makanya, jadi pengarang aja Pak, biar bisa bikin cerita semau sendiri).
Saya tahu Pak Muslich, kalau nggak salah istrinya bernama Mbak Ida. Syukurlah kalau mereka sekarang hapily ever after (seperti akhir kisah HC Andersen).
Ohya, sobat Pak Eko itu siapa namanya? Terimakasih dan salam kembali (weleh, kok kayak pilihan pendengar di radio jaman duluuu). Leila S. Chudori adalah penulis jempolan, dan konsisten di dunia jurnalistik juga. Saya mah bukan apa-apanya.
Memang benar bu, penggambaran itu terserah pengarangnya. Jadi saya baru maklum setelah bertahun-tahun kemudian. Tapi bu Tuti bilang kalau dia dari Sumatera, mungkin saya melewatkan info itu. Ada di bagian mana bu kalau Don itu dari Sumatera. Lha bilangnya ibunya Prita teman ibunya Don. Jadi saya pikir ya priyayi Jawa. Anyway, cerpennya menyegarkan bu. Khas remaja jaman dulu tapi bukan chicklit (seperti saya ngerti chicklit aja).
Mantan pacar pak Muslich yang saya ceritakan bukan bu Ida, tapi yang lain. Tapi pak Muslich dan mantan pacarnya sudah bahagia dengan keluarganya masing-masing.
Sobat saya pasti nggak dikenal di Jogja, lha kiprahnya di Bali sampai dengan 1983. Setelah itu dia sekolah baek-baek. Jadi nerd dan jauh dari gambaran seniman. Ibunyalah yang sering cerita kondisinya masa sebelum jadi mahasiswa. Namanya Bagus Santoso, dosen FEUGM.
Di cerpen memang nggak saya tulis kalau si Don ini orang Sumatra, tapi aslinya memang begitu (lho, memangnya ini cerita beneran …. ?). Lagipula, ibunya Prita yang orang Jawa kan bisa saja berteman dengan ibunya Don yang orang Sumatra, atau yang Sumatra itu bapaknya Don, iya toh? He he …. kok serius banget to Pak Eko, nanti pusing lho …
Banyak cerpen saya memang terinspirasi oleh kejadian riil, meskipun kemudian saya kembangkan dengan hal-hal yang fiktif.
Wah, mudah-mudahan blog ini tidak dibaca Bu Ida ya, nanti jadi nggak enak … he he …
“nerd” itu apa to Pak?
Iya, ya. Dulu saya kalau membaca karya sastra selalu serius sampai detil. Sekarang sudah nggak. Bablas aja. Terkadang ya tidak menikmati keindahan bahasanya tapi lebih mementingkan mengikuti plot cerita. Makanya ketika baca Laskar Pelangi yang plotnya tidak linier saya jadi mulai menikmati gaya bahasa Andrea.
Nerd itu kata bahasa Inggris yang artinya kurang lebih orang yang culun, kutu buku, nggak menarik untuk dipandang, berkacamata (wah nyindir bu Tuti, tapi panjenengan bukan nerd kok), tapi pintar sains apalagi matematika. Kalau pintar ilmu sosial biasanya aktivis dan bukan nerd (kayak pacarnya Prita). Pernahkah bu Tuti melihat wajah Bill Gates ketika masih muda banget. Ya itu tipikal wajah nerd seperti itu. Coba tengok di http://www.columbia.edu/~xs23/invest.htm
superb bu tuti,…a very romantic story…selesai baca ada setitik air mata di pelupuk mata dan sebuah senyuman…mirip kalo kita habis nonton film India favorit saya, hehe…
ditunggu lho percikan paginya, oh ya, buka blog saya juga ya bu…meski sudah vakum lebih dari setengah tahun…www.mytinycarousel.blogspot.com
Pak Eko, kalau dari segi tampang, saya digolongkan ‘nerd’ kayaknya masuk deh, tapi soal pintar sains dan matematika … lha ini saya mentok … he he. Saya sudah tengok wajah Bill Gates yang panjenengan maksud. Menurut saya oke tuh, dari pada yang berewokan dan berkacamata, itu sereem ….
Bu Arif, kalau ada cerpen/novel yang bisa membuat pembacanya menitikkan air mata, biasanya yang nangis duluan adalah … pengarangnya, he he ….
Yang ditunggu Bu Arif adalah Percikan Pagi di milis dosen UII ya, (soalnya di blog ini juga ada category Percikan Pagi, hanya isinya beda).
Ok, saya pasti akan segera buka blog Bu Arif. Pasti asyiiik abis ….
wah wah baru dua minggu aja gak nengok blog ini, rasanya udah ketinggalan jauh banget. maklum libur dah usai, sekolah tlah tiba, jadi murid kembali.
bu tuti, saya penasaran sekali kenapa ibu nulis tentang ayah bunda, tell me why, pls. jujur saja tulisan itu ‘mengusik’ rasa hati saya, tapi perasaan tersebut tidak jelas bentuknya, nah loh…
bu arif koq bisa meneteskan airmata setelah baca prita yak?
kalo saya pas baca, imagiku malah melambung membayangkan setting tempatnya (daripada alur ceritanya)di sekitaran kampus bulaksumur. kira2 gak beda jauh saat aku kuliah tahun 95-99, bayangku. piye iki bu
Pak RPS, dua minggu itu ya luamaa to, lha wong 14 x 24 jam je … Oh ya, jadi murid dimana to Pak? Kayaknya kita ini banyak yang memang lagi jadi murid lho. Cuma Pak RPS murid yang sregep, kalau saya murid yang rada suka keluyuran … he he …
Mengapa saya menulis tentang ayah bunda? Ya tiru-tiru orang saja, Pak. Kan para bloger banyak yang nulis tentang keluarganya, masa kecilnya, pokoknya memori hidupnya. Saya menulis kenangan tentang ayah bunda tentunya sebagai bentuk penghargaan saya kepada beliau-beliau. Besok saya mungkin akan menulis tentang kakek saya, pembantu saya, kucing saya ….
Bu Arif meneteskan air mata setelah membaca Prita, karena dia perempuan, Pak. Sama dengan saya, juga meneteskan air mata ketika menulis bagian akhir dari cerpen ini. Kenapa? Karena merasakan keharuan hati Prita, ketika tiba-tiba tahu bahwa selama bertahun-tahun ternyata Don mencintai dirinya secara diam-diam.
Pak Eko dan Pak RPS, karena laki-laki, tidak melihat dari sisi itu. Pak Eko melihatnya dari sisi logika, bahwa kalau orang marah ya nggak ‘gitu-gitu’ amat, sampai teriak-teriak dan mukul meja. Yang jalan adalah logikanya, bahwa Don itu orang Jawa (karena ibunya Don adalah teman ibunya Prita yang orang Jawa). Lha Pak RPS karena alumni UGM, maka yang lebih melekat adalah memorinya sendiri ketika kuliah di kampus itu (dan mungkin suka bawa do’i jalan-jalan di boulevard …)
That’s the difference between man and woman (sok teu deh … he he).
Bagi saya sendiri, yang menyenangkan ketika menulis cerpen ini adalah pilihan saya memerankan diri sebagai tokoh laki-laki, padahal saya perempuan asli. Tapi sejujurnya, pantes nggak sih saya memerankan karakter laki-laki? He he …. (soalnya belum ada yang komentar)
Pak RPS kuliah tahun 95 – 99, padahal setting cerita ini tahun 80 an lho. Berarti ketika cerita ini dibuat, panjenengan masih minum susu pakai botol …. he he ….
wah waktu cerpen ini ditulis mbak Tuti, saya baru kelas 2 SD. Ingusan dan kalau waktu itu baca mungkin butuh waktu lama karena belum lancar. he he he
thanks
Tuti :
Untung bacanya sekarang, jadi sudah nggak ingusan dan sudah lancar baca …
Membaca posting ini
Tahun 1982 aku juga di hutan Kalimantan Selatan ya….. tapi aku bukan Sarjana Kehutanan, walaupun aku dari Sumatera (nggak ada yang kepingin tahu kok ya).
Prita mu dapat beasiswa, tahu nggak…. kalau aku udah duluan dapet. Kalau pacarnya Prita orang Dema, kita bukan cuma Dema-dema-an, kita juga galinya Prapatan Gondomanan jeeee.(Kok meradang? Cemburu ya ?????)
Dan yang bener….(tertunduk lesu mengharu biru) ………… yang tidak jadi menikah itu tidak selalu karena tidak cinta atau pengkhianat…. ada baaaaaanyaaaak sebab sehingga cinta yang sudah terjalin rapat-rapat-rapat pat…pat…pat itu, dapat terurai kembali (memang hiya…kok).
Dan membicarakan itu, ibarat pisau yang menikam luka di atas luka. Dan jikalaulah dikau menyadari begitu banyak nisan-nisan cinta terpancang di padang gersang, ada yang tegak, ada yang miring, ada yang terhempas bahkan ada yang remuk…muk…muk…muk.
Tutiiiiiii…………(menggelegar nih suara orang Batak), tolong singkirkan cermin ini, aku tak sanggup menatapnya. (Salah sendiri ya….kenapa baca ? Atau ada yang merasa bersalah?).
Tuti :
Hwaduh … Bang, kok jadi emosional dan sentimentil banget sih? Emang cerita ini mirip dengan kisah hidup Bang Sis ya? Bang Sis di posisi mana? Pacarnya Prita, atau si ‘aku’?
Aku baru tahu, Bang Sis dulu galinya prapatan Gondomanan. Untung nggak terus ke selatan, sampai ke Pojok Beteng, terus sampai ke rumahku di Timuran … hehehe …
Cinta yang sudah rapat-rapat-rapat … pat … pat …. itu kok bisa terurai kembali, bagaimana ceritanya Bang? Wah, tapi kalau membuka luka lama ya nggak usah diceritain lagi deh. Lagi pula, sekarang kan sudah ada pendamping tercinta, apalagi sudah berbuntut tiga (sapi aja buntutnya cuma satu … wakakaka … )
Iya deh Bang, cerminnya aku singkirkan …. ke rumah Bang Sis …..
Halo…halo….halooo
Untuk menjaga jangan sampai infotainment turut campur, lebih baik kukatakan, Aku tidak berada pada posisi Pacar Prita dan juga tidak pada posisi si “aku”. Kalau harus ambil posisi, aku berada pada posisi Pegawai BNI yang ngasi duit.
Dan…
Khabarnya markas GMNI di Gondomanan dan Kantor Redaksi Berita Nasional sudah dijual kata seorang sahabat baru-baru ini, apa betul ya ????
Tuti :
Kalau Bang Sis ambil posisi sebagai pegawai BNI yang ngasih duit, aku ambil posisi nasabah BNI yang nyimpen duit …. wahahaha ….
Iya bener, Bang. Markas GMNI dan Kantor Redaksi Bernas sudah nggak ada. Ooo … tempat mangkal Bang Sis sebagai preman (hihihi
) dulu di ‘kandang banteng’ itu ya? Itulah menangnya pemilik modal besar Bang, bisa ambil tempat-tempat strategis untuk mengembangkan bisnis.
Kapan-kapan ke Yogya lah Bang, lihat kayak apa Yogya sekarang. Ohya, kampus UGM kemarin barusan dilanda angin puting beliung. Banyak pohon tumbang dan atap bangunan rusak. Kerugiannya sekitar 21 milyar. Untung nggak ada korban jiwa.
Bunda Tuti.. Ceritanya mengalir pelan. Sy masuk ke dalamnya, melihat langkah kaki prita, terkaget dgn gebrakan meja Don, ikut berlinang di akhir kisah.. Ajari sy menulis bagus gini Bunda…
Tuti :
Boleh, boleh … sudah coba nulis belum? Nulis itu praktek, praktek, dan praktek. Nanti kalau sudah ada tulisannya, saya baca ya?
sudah Bunda, tapi tulisan sy pendek..pendek..dan pendek…
Tuti :
Wah, baguslah. Pendek nggak apa-apa, yang penting menarik, kan? Ada di blog ya? Saya baca deh …