Tugu, saksi sejarah kota Yogya sepanjang zaman
YOGYA VISIT YEAR
Tahun ini Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Jero Wacik, mencanangkan “Visit Indonesia Year 2008″. Pemerintah memasang target mendatangkan wisatawan asing 7 juta orang, lebih banyak 1,5 juta orang dibandingkan tahun 2007. Kita pantas menyambut gembira, karena pariwisata Indonesia sesungguhnya sangat potensial, namun sejak beberapa tahun terakhir ini terpuruk akibat berbagai isu negatif, mulai dari terorisme, keselamatan penerbangan, sampai flu burung.
Program Visit Indonesia Year pernah dicanangkan pemerintah pada tahun 1991, ketika I Gede Ardika menjabat sebagai Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Pada waktu itu, kegiatan akbar yang dilaksanakan adalah Festival Istiqlal, yang cukup sukses memperkenalkan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar (Kompas, 2 Maret 2008). Festival Istiqlal merupakan core event program Visit Indonesia Year 1991, didukung oleh program-program major event yang diselenggarakan di tiap-tiap provinsi, dan supporting event pada tingkat kabupaten.
Setiap jengkal tanah air kita memiliki kekhasan budaya dan keindahan alam. Kebangetan kalau kita tidak bangga dengan kekayaan budaya dan kekayaan alam tersebut. Tapi lebih kebangetan lagi karena banyak kekayaan itu yang tidak kita rawat dengan baik. Obyek wisata yang kumuh dan tidak terpelihara, informasi yang tidak memadai, pelayanan yang jauh dari excellent, perilaku pedagang yang ‘nuthuk’, hanya sebagian dari ketidaksiapan kita menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa negara.
Yogya adalah kota tujuan wisata yang menduduki ranking tinggi sesudah Bali. Nah, mari kita lihat kota kita yang tercinta ini.
Gerbang masuk Kraton Yogyakarta dengan sangkakala (gambar yang merupakan simbol angka tahun)
Yogya adalah pusat budaya Jawa dengan adanya keraton Yogyakarta Hadiningrat. Sebagai pusat budaya Jawa, arsitektur kota Yogya rasanya masih kurang mencerminkan karakter Jawa. Turun dari pesawat, kita disambut bandara Adisucipto yang sama sekali tidak menampilkan ciri khas bangunan Jawa. Padahal bandara adalah pintu gerbang utama pariwisata. Dari bandara melewati jalan protokol menuju ke pusat kota, kita juga tidak merasakan atmosfir Jawa. Bangunan di sepanjang jalan adalah campur aduk antara bangunan baru yang modern dengan bangunan lama berbagai corak.
Situasi ini berbeda kalau kita bandingkan misalnya dengan kota Pekanbaru, Bukittinggi, atau Denpasar. Di ibukota provinsi Riau itu, mulai dari bandara Sultan Syarif Kasim II hingga Jl. Sudirman yang melintasi pusat kota, kita merasakan betul sedang berada di Bumi Lancang Kuning, karena semua bangunan besar dan gedung milik pemerintah memakai atap dengan “selembayung” dan teritisan “lebah bergantung”. Di Bukittinggi, atap berbentuk tanduk kerbau runcing menjadi pemandangan yang membuat kita masuk dalam suasana Ranah Minang. Demikian juga di Denpasar, gapura dan bentuk atap khas Bali membuat kota benar-benar terasa ‘Bali’.
Bagaimana dengan pakaian daerah? Dimana wisatawan bisa melihat orang mengenakan surjan, bebed dan blangkon, serta kebaya dan konde di luar lingkungan keraton? Dulu, pekerja pengangkat barang di bandara Adisucipto diberi pakaian seragam bernuansa batik (meskipun desainnya masih terkesan ‘bingung’) dan blangkon, tapi sekarang kelihatannya tidak lagi. Mestinya kita berharap di hotel, restoran, dan tempat-tempat yang banyak dikunjungi wisatawan, pakaian tradisional Jawa itu bisa ditampilkan. Modifikasi desain mungkin perlu, agar pakaian itu tetap nyaman dipakai dan tidak ribet.
Busana adat di lingkungan Kraton
Penataan kota sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Paling tidak Yogya sudah lebih indah dengan hadirnya banyak taman dan tanaman hijau. Pada malam hari, lampu-lampu hias sudah mulai tampak, meskipun terkesan masih ’seadanya’. Kawasan ‘Shoping Centre’ yang dulu semrawut sudah tertata dengan baik menjadi Taman Pintar dan Gedung Kesenian yang representatif. Hanya saja lalu lintas yang crowded dan ruas jalan yang sempit membuat kenyamanan di jalan terganggu.
Dari sisi fasilitas, Yogya cukup lengkap. Hotel, mall, restoran, kafe, fasilitas olahraga, galeri seni, produk handycraft, pusat batik, semua ada. Yogya juga cukup kaya dengan wisata kuliner. Bangunan cagar budaya sesungguhnya banyak, sayang sebagian kurang terperhatikan perawatannya. Banyak museum penting yang perlu direvitalisasi, seperti Museum Ulen Sentalu di Kaliurang, Museum Perjuangan di Brontokusuman, Museum Biologi di Bintaran, Museum Batik, Museum Sonobudoyo, Benteng Vredeburg, Gedung Agung, dan lain-lain. Kesan museum sebagai tempat kumuh berdebu dengan koleksi rongsokan harus diubah menjadi tempat wisata sejarah dan ilmu pengetahuan.
Balairung UGM, gedung yang romantis dan memiliki nilai historis
Universitas Islam Indonesia, universitas swasta tertua di Indonesia
Predikat sebagai kota pendidikan adalah potensi Yogya yang semestinya dijaga baik-baik dengan menghapus citra negatif tentang pergaulan bebas dan drugs di kalangan pelajar dan mahasiswa. Keberadaan kampus-kampus besar seperti Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negri Yogyakarta, Universitas Islam Negri (dulu IAIN), dan kampus-kampus lain merupakan tujuan wisata edukatif yang pantas untuk dikunjungi. Candi Borobudur dan candi Prambanan, meskipun secara administratif wilayahnya berada di luar Yogya, tetapi sangat mudah dijangkau dan merupakan obyek wisata budaya yang luar biasa nilainya.
Wisata alam di Yogya pun cukup lengkap. Kawasan gunung Merapi dan Kaliurang sangat menantang bagi para pendaki gunung, pemain golf, ataupun sekedar beristirahat di villa sambil menikmati makanan khas ‘jadah tempe’. Untuk yang gemar melihat ombak besar Laut Selatan, maka Parangtritis, Parangkusumo, dan Pandansimo bisa menjadi alternatif tujuan. Kalau mau lebih jauh sedikit sambil bermain air yang lebih tenang, ada pantai Baron, Krakal, dan Kukup. Pantai yang mungkin belum banyak dikenal adalah pantai Sundak, terdapat di kabupaten Gunung Kidul. Di pantai ini terdapat cottage yang sangat eksotik, dengan paket wisata off road serta surfing.
Keindahan ombak di pantai Parangtritis
I Gede Ardika memaparkan falsafah yang menarik tentang kepariwisataan, yaitu kehidupan yang berkeseimbangan dengan Tuhan, dengan antarsesama manusia, dan dengan lingkungan. Karena itu, kepariwisataan harus menjunjung nilai-nilai agama sehingga prostitusi, judi, dan narkotika tidak bisa masuk. Berkaitan dengan hubungan antarsesama manusia, kepariwisataan harus berlandaskan pada persahabatan dan perdamaian dunia. Berwisata harus dianggap sebagai hak dasar manusia. Dari sini akan muncul hak-hak dasar lainnya, yaitu kepariwisataan harus egaliter, equal, dan tidak diskriminatif terhadap suku, agama, dan warna kulit. Berkaitan dengan alam, kita harus menjaga lingkungan. Inti dari ketiga falsafah itu adalah pengendalian diri dalam mengambil manfaat dari kepariwisataan.
Yogya kaya dengan aset budaya dan peninggalan sejarah, tinggal bagaimana menampilkan kekayaan tersebut sesuai dengan falsafah kepariwisataan di atas, sehingga bisa dinikmati dengan nyaman oleh wisatawan, sekaligus menyejahterakan warganya.
Welcome to Yogyakarta !
(foto-foto : tutinonka)















Saya baru sadar ketika membaca tulisan tadi. Saya yang hampir tiap hari nglajo dari Klaten ke Jogja gak perhatiin bagaimana bandara di Jogja. Betul banget,seharusnya bangunan2 yang ada di suatu daerah mencerminkan bagaiman ke-khas-an daerah tersebut dan nampaknya Jogjakarta sebagai pusat budaya mengesampingkan hal utama ini…
Saya bukan staf sctv. salam kenal ya…:-)
Memang mengherankan. Padahal Yogya gudangnya ilmuwan, intelektual, dan akademisi. Arsitektur kota mestinya menjadi kajian di berbagai kampus yang memiliki Jurusan Teknik Arsitektur. Tapi permasalahannya mungkin lebih pada kebijakan dan goodwill pemerintah daerah.
Terimakasih sudah mengunjungi blog saya. Nah, sekarang kan sudah kenal ….
mbak Tuti,
Benar,,semua yang ditulis oleh mbak Tuti .Kita selalu berusaha kesana,setiap kesempatan dan kegiatan bertemu dgn pemilik Jogja saya selalu sampaikan,semua harus ada upaya dan rekayasa.Mulai dari perilaku membuang sampah untuk menjaga kebersihan sampai merawat semua benda2 pendukung citra dan keindahan kota.
Jogja..sebagai ibukotanya DIY memang menarik perhatian warga kabupaten untuk mencari nafkah di Jogja, sayangnya belum semua paham bahwa masing2 kita harus menjaga sehingga tidak saja membawa pulang uang kerumah tetapi membersihkan dan menjaga citra kota dengan tdk meninggalkan sampah sembarangan.
Pemerintah harus konsen dgn cita2 menjaga dan mengembangkan kota pendidikan berkualitas dan pariwisata yang berbudaya.Tetapi tanpa partisipasi masyarakat dan kesadaran penuh bahwa pendidikan dan pariwisata adalah lokomotif ekonomi Yogyakarta,semuanya
tidak akan membawa kemanfaatan bagi kita semua.
Mari…kita semua bersama2 dengan pemerintah kota Yogyakarta…mulailah melakukan *apa * dan *bagaimana * yang terbaik kita berikan kepada kota kita tercinta,karena Yogyakarta telah memberi banyak hal,kehidupan,manfaat,kenyamanan dll kepada kita semua.
Siapapun kita pedagang,wirausaha,mahasiswa,tokoh masyarakat,akademisi,PNS,dll, sangat ditunggu partisipasi yang konkrit dalam aspek apapun agar Yogyakarta berhati nyaman..tidak tinggal slogan
wass..
ibu, Dyah
Terimakasih Bu Dyah. Sebagai Bu Walikota, saya percaya panjenengan memiliki komitmen yang kuat untuk menjadikan Yogya sebagai kota pariwisata yang berbudaya. Hanya saja, sebagai ibukota propinsi Yogya memang bukan saja berada di bawah kewenangan Pemkot, tetapi juga Pemprov. Artinya banyak pihak yang harus sama-sama memiliki komitmen untuk menjadikan Yogya benar-benar nyaman, indah, dan berbudaya.
Tapi paling tidak, kita pasti akan memperoleh kenyamanan itu di pusat batik Margaria, griya busana muslim & butik An Nisa, Al Fath, dan Karita, pusat souvenir Kado Kita, the House of Beauty Lellidewi serta Martha Tilaar Spa (eh, ada nggak ya kelompok bisnis Bu Dyah yang belum saya sebut?).
Btw, sejak sepuluh tahun yang lalu saya adalah pelanggan setia butik dan house of beauty panjenengan. Kalau boleh usul, mbok dibuka fitness centre, sanggar tari dan nyanyi khusus untuk wanita, supaya kita para muslimah bisa berekspresi dengan aman dan nyaman …
maaf saya mw tanya kreasi 1000 jilbab yang kemarin sudah dibukukan pa belum n kapan beredarnya
insya Allah akan launching bukunya Mei 2008,,,,nanti kita publikasikan ke media,dan dijual di toko2 kami dan toko2 buku Gramedia.
terimakasih atas atensinya,
salam
ibu dyah suminar
(annisa,alfath dan karita )
Hai, salam kenal. Informasi blognya bagus. Btw, saya termasuk orang yogya asli. Saya berniat membantu mempromosikan yogyakarta sebagai kota pariwisata dalam rangka “visit indonesia 2008″. Utk itu saya membikin blog yg menginformasikan tentang wisata yang ada di kota yogyakarta. Bagi teman² yang berminat melihat blog saya, silakan kunjungi di http://visityogyakarta.blogspot.com
Tengkyu…
Halo Norah,
Terimakasih sudah mengunjungi blog saya. Saya juga sudah menyambangi blog Norah. Bagus lho. Foto-fotonya juga eksklusif. Kalau boleh usul, bagaimana kalau selain versi bahasa Inggris, dibuat juga versi bahasa Indonesianya? Btw, masih banyak obyek-obyek lain di Yogya yang bisa dieksplor lebih jauh.
Keep bloging …..
Sugeng sonten,
saya sebagai orang jogja bangga dengan segala hal yang berkaitan dengan jogja. meskipun sekarang saya tidak tinggal di jogja tetapi setiap saya membaca atau melihat suatu info ttg jogja saya selalu kangen dg rumah dan segala suasana disana. tidak heran jika katon bagaskara pun menciptakan lagu yang berjudul Djogjakarta.
salut dengan orang2nya yg ramah, tempat wisata dan juga makanannya….
I love Djogja…..
Tuti :
Memang wajar jika orang Yogya bangga dan selalu kangen untuk kembali ke Yogya. Sudah berapa lama mas Arya meninggalkan Yogya, dan kapan terakhir mudik ke kota tercinta ini?
Yes, everyone loves Yogya …
Assalammualaikum WW
Saya turut terharu membaca salah satu almamater saya dijadikan salah satu universitas besar sejajar dengan universitas negeri lainnya. Memang Jogja adalah pusat pendidikan. Namun bagi saya agak kurang ’sreg’ bila pertumbuhan lembaga atau institusi pendidikan di Yogyakarta ini diiringi dengan berdirinya pusat perbelanjaan yang menurut orang Jogja sudah ‘wah’ dan juga pertumbuhan beberapa tempat-tempat hiburan yang tidak lain sering menyedot para generasi muda kita. Semoga arah kebijakan pendidikan kota Jogja semakin maju dan mantap. Amien.
Wassalammualaikum WW
Dodik Setiawan Nur Heriyanto
Tuti :
Mall UGM itu kelihatannya memang agak bermasalah. Sampai sekarang belum dioperasionalkan, meskipun bangunan sudah selesai. Memang di Yogya sekarang sudah terlalu banyak mall, juga tempat hiburan seperti kafe, resto, dll. Banyaknya pelajar dan mahasiswa pendatang membuat bisnis yang melayani kebutuhan kaum muda ini berkembang pesat. Memang, pola hidup mahasiswa zaman sekarang sudah jauh berbeda dengan mahasiswa 20 tahun yang lalu …