VOLENDAAM, KOTA PANTAI YANG CANTIK
Volendaam terletak tidak jauh dari Amsterdam, sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil. Kota kecil yang terletak di tepi laut ini sangat cantik. Menjelang masuk ke kota, kita akan melihat rumah-rumah molek di sepanjang jalan. Kebanyakan rumah disini bertingkat dua, dengan jendela berhias tirai putih berenda-renda, dan pot-pot bunga yang berjajar rapi di depan bendul jendela. Mereka juga suka menempatkan berbagai pajangan cantik di belakang kaca jendela. So beautiful! Erg moii …
Gadis kecil di depan jendela mungil yang cantik …
Di pinggir laut terdapat banyak pertokoan yang menjual cindera mata khas Belanda, juga kedai masakan ikan yang lezat berkepul-kepul … pokoknya mak nyuss banget. Tapi yang tidak boleh dilewatkan adalah studio foto yang menyediakan pakaian tradisional nelayan Belanda. Di jendela kaca depan, juga di ruang dalam, dipajang foto-foto selebritis Indonesia mengenakan ‘busana aneh’ tersebut. Beberapa yang saya ingat antara lain Gus Dur, Bob Tutupoly, Maya Rumantir, dan lain-lain. Supaya dianggap kelas selebritis juga (kasian deh … ), maka saya pun ikut antri berfoto.
Mbak-e petugas studio sedang sibuk mendandani serombongan wisatawan yang juga mau bergaya. Rombongan ini ribut tak alang kepalang, berkicau dalam bahasa Jawa (weleh, ketemu orang Indonesia lagi …). Saya lalu bertanya kepada salah seorang ibu anggota rombongan. Ternyata mereka anggota persekutuan do’a dari Semarang, dan mampir ke Belanda setelah berziarah ke Vatikan.
Nyah Londo van Java …..
Baju nelayan tradisional itu tebuual dan bertumpuk-tumpuk (maklum cuaca disana dingin). Mengenakan tumpukan baju itu di luar sweater yang saya pakai, maka saya tampak bulat seperti bola rugby raksasa (aslinya mah full-pressed body … he he, mobil ‘kali). Celakanya, saya kebetulan memakai jilbab warna putih, dan topi tradisional yang harus saya pakai juga berwarna putih dengan bentuk runcing keatas. Jadilah saya seperti pocongan dari kuburan Jeruk Purut …. Alas kaki ‘nyonyah’ nelayan ini adalah terompah kayu tebal (dari kayu utuh yang dilobangi) sehingga bukan main repotnya dipakai untuk berjalan. Ah, biar sajalah tersiksa sebentar, yang penting ada fotonya. Cheese … jepret, jepret !!
LEIDEN, INDAHNYA KOTA PENDIDIKAN
Leiden terkenal sebagai kota pendidikan, khususnya untuk ilmu Hukum dan ilmu Budaya. Di kota ini juga terdapat banyak museum, antara lain Rijksmuseum Voor Volkenkunde, museum nasional untuk Ethnology. Di museum ini tersimpan sejarah kebudayaan berbagai bangsa dari seluruh dunia. Ketika mengetahui kami dari Indonesia, lebih tepat lagi dari Jawa, seorang petugas museum dengan antusias mengajak kami melihat koleksi berupa keris pusaka dari kerajaan Majapahit (sayang saya lupa namanya, yang jelas keris itu sangat terkenal dalam babad tanah Jawa).
Pintu gerbang Rijkmuseum
Museum lain yang juga menarik untuk dikunjungi adalah Museum Kincir Angin (Windmollen). Museum ini adalah bekas rumah tinggal dengan kincir angin di atasnya yang sudah berusia ratusan tahun. Ruangan di lantai pertama digunakan sebagai rumah tinggal untuk menjalankan kegiatan sehari-hari, demikian juga ruangan-ruangan di lantai dua. Untuk mencapai puncak kincir, kita harus naik sampai ke lantai tujuh melalui tangga kayu. Semakin tinggi lantainya, semakin curam dan sempit tangganya. Tepat di bagian bawah kincir kita bisa keluar dari ‘cerobong raksasa’ dan berdiri di balkon yang berada di sekeliling cerobong. Balkon ini difungsikan untuk menginspeksi kincir, dan melakukan perbaikan jika kincir mengalami kerusakan. Di lantai tertinggi ini (semua lantai terbuat dari kayu) terdapat banyak spare part kincir (sekrup, pasak, dll) dalam ukuran buesar, semuanya dari kayu tua yang sangat kuat. Sebuah pasak ukurannya lebih besar dari lengan orang dewasa. Dulu,tenaga yang dihasilkan dari kincir angin ini digunakan untuk memutar alat giling kopi.
Bersama kakak di Museum Windmollen
Rata-rata orang Leiden bersikap ramah kepada orang Indonesia, terutama mereka yang berusia lanjut dan dulu pernah menghabiskan sebagian hidupnya di Indonesia. Memori mereka tentang keindahan Indonesia rupanya melekat begitu kuat, apa pun yang pernah dilakukan pemerintah mereka terhadap negara dan bangsa kita selama masa penjajahan sekian ratus tahun.













Hem, kalau dengar cerita tentang negeri ini (Kincir Angin) saya jadi teringat dgn sistem tata kotanya yang sangat menghargai bangunan2 tuanya yach mbak. Istilahnya meskipun kotanya didominasi oleh bangunan tua tapi nggak kelihatan buruk, malah sebaliknya malah kotanya jadi kelihatan elegan dan unik, yang menunjukkan bahwa banguanan di kota tsb memang dirawat dan terawat dgn baik.
Kapan-kapan kalau ada kesempatan mau ikutan jalan ke negeri ini dech mbak sptnya sangat unik
Best regard,
Bintang
Tuti :
Memang benar, bangunan-bangunan tua di Eropa rata-rata terawat dengan sangat baik, selain bangunan-bangunan itu memang dibuat dengan teknologi yang canggih. Di Amsterdam dan Paris, bangunan-bangunan berusia 300 – 400 tahun masih berdiri dengan megah dan indah, benar-benar mengagumkan.
Jika ada kesempatan dan rizki berlebih, daripada untuk membeli barang-barang mewah yang kurang berguna, mending untuk berkeliling dunia, Mbak. Dengan dana 100 – 200 juta, kita sudah bisa kok berkeliling ke beberapa negara (itu cuma setara harga sebuah mobil, kan?)