SUSU BAYI, SUSU IBU, SUSU KITA
Minggu-minggu terakhir ini kita dihebohkan dengan hasil penelitian dari IPB yang menyatakan bahwa susu bayi dan makanan bayi tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii. Ibu-ibu yang selama ini memberikan susu formula kepada bayinya menjadi resah, bingung dan kelimpungan. Ada yang kemudian mengganti susu untuk bayinya dengan air tajin, air rebusan beras yang diberikan kepada bayi pada zaman ‘kolobendu’ dulu, ketika bangsa kita susah makan dan susah pakaian karena dijajah Jepang (sehingga karung goni pun dibuat celana).
Para akademisi, pejabat pemerintah, dan kalangan LSM bersilang pendapat. Sri Estuningsih, dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang melakukan penelitian ini tiga kali sejak tahun 2003 yakin penelitiannya sahih (Kompas, 29 Februari 2008). Dua penelitiannya dilakukan di Jerman, yaitu di Deutscher Akademischer Austausch Dienst (2003) dan di Justus-Liebig-University (2004). Penelitian ketiga dilakukan di IPB, dengan hasil 22,73 persen susu formula dan 40 persen makanan bayi tercemar bakteri E Sakazakii.
Menkes Fadilah Supari, pejabat yang paling dimintai ‘pertanggung- jawaban’ atas kehebohan ini, membantah keras bahwa susu formula dan makanan untuk bayi membahayakan. Ia bahkan menduga ada kepentingan tertentu dibalik penelitian itu, dengan menunjuk bahwa penelitian tersebut didanai oleh industri susu di Jerman (Koran Tempo, 28 Februari 2008). Sri Estuningsih balas membantah penelitiannya punya motivasi persaingan bisnis, sekalipun dananya memang berasal dari Milk Science Institut di Jerman.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Fahmi Idris juga mengkritik hasil penelitian ini, karena penelitian ini hanya dilakukan pada mencit (tikus percobaan) yang hasilnya tidak bisa digeneralisasi pada manusia (Koran Tempo, 28 Februari 2008). Sementara itu Roy Sparringa, Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran Kesehatan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (busyeet … namanya panjang bener… ) menyatakan bahwa penelitian identifikasi adanya bakteri berbahaya dalam makanan bukan berarti berisiko bagi kesehatan (Kompas, 1 Maret 2008). Harus dilakukan penelitian lanjutan untuk menyimpulkan adanya risiko.
Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA), mendesak pemerintah agar segera menarik semua jenis susu dan makanan bayi yang beredar di pasar (Kompas, 4 Maret 2008). Ia menyatakan, “Demi keamanan, tarik dulu semua” (lha untuk bayi yang selama ini minum susu formula, lalu harus minum apa dong … ). Sekjen KNPA, Arist Merdeka Sirait bahkan mengancam, jika Departemen Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tidak menarik produk susu yang tercemar bakteri itu dalam waktu sepekan, “Kami akan menempuh jalur hukum”.
Ancaman itu segera dijawab oleh Husniah Rubiana, Kepala BPOM, bahwa BPOM tidak akan menarik produk susu formula yang sekarang beredar di pasar. “Kalau saya meminta seluruh produk susu formula ditarik dari pasar, saya salah karena semua memenuhi syarat”, katanya.
Heboh …
Bagaimana sih sebenarnya duduk perkara susu ‘rasa bakteri’ ini?
Irwan Julianto (Kompas, 5 Maret 2008) menyatakan bahwa menurut WHO susu formula untuk bayi memang tak perlu sama sekali steril karena biaya produksinya akan sangat mahal, dan vitamin yang difortifikasi akan rusak. Bakteri seperti E Sakazakii tak perlu kelewat dikhawatirkan karena dapat dijinakkan dengan cara penyiapan yang higienis. Cara penyajian yang higienis itu adalah dengan memanaskan susu pada suhu 70 – 80 derajad Celcius, dan tidak boleh diberikan kepada bayi setelah lewat 4 jam.
Heboh susu bayi ini tidak pernah terjadi 30 an tahun yang lalu, karena pada waktu itu hampir semua bayi menikmati fresh milk dari ibundanya (ASI). Kenapa kemudian bayi-bayi di seluruh dunia berganti menyusu ke botol? Biang keladinya ternyata adalah produsen multinasional susu formula di negara-negara maju. Mereka memaksa dan dengan cara yang tidak etis memasarkan produk susu mereka ke dunia ketiga, hingga jutaan bayi mengalami diare, dehidrasi, dan meninggal (Kompas, 5 Maret 2008). Kelompok konsumen War on Want dari Inggris menemukan praktek penyuapan produsen susu formula kepada para bidan dan dokter anak agar ibu-ibu yang baru melahirkan didorong untuk tidak menyusui anak mereka, sehingga konsumsi susu formula dapat digenjot.
Mengapa kita memberikan susu formula kepada bayi-bayi kita? Padahal sejak zaman Siti Hawa, bayi tumbuh dan menjadi manusia-manusia hebat penakluk bumi (meskipun akhirnya kebablasan menjadi penghancur bumi … ) hanya dengan susu ibu. Jumlah ASI yang tidak cukup dan kesibukan ibu di luar rumah adalah alasan klasik mengapa seorang ibu memberikan susu formula kepada bayinya. Padahal Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih telah menciptakan semua serba cukup. Semua ibu pasti bisa mencukupi ASI untuk bayinya, meskipun mungkin ada yang harus dengan upaya ekstra. Kesibukan ibu karena bekerja di luar rumah? Nah, ini menjadi tanggungjawab kita semua, untuk menyediakan baby care centre di tempat para wanita bekerja. Bukankah bayi-bayi ini adalah bayi kita semua (bayi para bapak-bapak juga) yang kesejahteraannya harus dipikirkan bersama?
Lalu timbul pertanyaan, apakah yang tercemar bakteri ini hanya susu bayi saja? Apakah susu untuk orang dewasa, susu untuk ibu hamil agar bayinya jenius seperti Einstein, susu untuk manula agar terhindar dari osteoporosis (sehingga masih bisa berdansa pada umur 70, seperti iklan di teve … ), susu untuk pria yang membuat perutnya tampak menjadi 6 kotak (amboi, kotak apakah gerangan?), tidak tercemar bakteri juga? Apakah proses pembuatan susu bayi dan susu dewasa berbeda, sehingga susu dewasa dijamin bebas bakteri?
Mungkin susu kita (maksud saya susu untuk orang dewasa … ) tercemar bakteri juga. Tapi karena kita sudah makan segala macam, maka dianggap tubuh kita sudah kebal, sudah tidak mempan terinfeksi bakteri. Kita kan sudah terbiasa makan ayam dan ikan berformalin, bakso bumbu borax, sayuran campur pestisida, dan sebagainya. Lagi pula, jangankan cuma makan bakteri, lha wong aspal pun kita makan, termasuk juga hutan lindung, bantuan bencana alam, dan dana BLBI …..
Kita ternyata lebih omnivora dari makhluk apa pun di dunia.








