LIBUR PANJANG, JANGAN KE YOGYA MENDADAK …
Ah ….. long weekend akhirnya usai sudah. Yogya, dan kehidupan kita, kembali normal. Emang kemarin nggak normal? Yaa, pasti beda lah. Setiap kali libur panjang, Yogya selalu tumplek bleg dengan wisatawan. Hotel-hotel, dari yang bintang lima sampai kelas ‘melati’, semua full booked. Tempat-tempat parkir penuh dengan bis-bis wisata dari luar kota. Malioboro, Pasar Beringharjo, Alun-alun, Keraton, Candi Prambanan, Gembira Loka, pantai Parangtritis, Kaliurang, semua padat dengan pengunjung. Jalanan Yogya yang memang sempit jadi semakin crowded. Pedagang makanan dan cindera mata menangguk rezeki. Syukurlah, asal jangan main ‘nuthuk’, menggetok kepala orang dengan memasang harga audzubillah …
Libur panjang, jangan ke Yogya mendadak. Remember it, dear friends. Terutama kalau nggak punya famili atau kenalan yang siap menjadi tempat penampungan, dan kalau menggantungkan perjalanan pada kereta api atau pesawat. Bisa-bisa yang didapat bukan refreshing, tapi pusing cari hotel dan tiket. Hotel-hotel berbintang sudah di-book sejak sebulan sebelumnya, demikian juga tiket kereta dan pesawat.
Harga tiket (khususnya tiket pesawat) di musim liburan memang menakjubkan. Naik sampai berlipat-lipat. Maskapai Adam Air yang gulung tikar (emang sejak kapan pesawat pakai tikar ?) membuat harga tiket yang dipasang air lines lain semakin uncontrolled. Sungguh mengherankan sekaligus membuat kita geram dan putus asa. Ketika beberapa tahun yang lalu maskapai penerbangan bersaing ketat dengan menjual tiket murah, ada peraturan tentang margin harga terendah dan harga tertinggi untuk melindungi kepentingan penumpang. Tiket tidak boleh dijual terlalu murah, karena maskapai pasti akan menekan berbagai pos biaya operasional yang akan merugikan penumpang, seperti mengurangi perawatan rutin pesawat, menghapus minuman serta makanan bagi penumpang, serta menambah jumlah kursi yang membuat jarak tempat duduk menjadi terlalu sempit. Tiket juga tidak boleh dijual terlalu tinggi, sebab penumpang harus dilindungi dari ke’dzalim’an perusahaan penerbangan mengeruk keuntungan. Tapi aturan-aturan itu entah dimana sekarang diletakkan, dan para pejabat yang berwenang menjalankan aturan itu entah dimana sekarang berada.
Siapa pun yang mempermainkan harga tiket pesawat, apakah travelling agent, atau maskapai air lines, seharusnya ada tindakan penertiban dari pemegang regulasi. Mosok harga tiket tidak ada patokan? Mosok perusahaan penerbangan dan agen tiket berperilaku seperti tukang becak, yang kalau lagi dibutuhkan penumpang, lalu jual mahal dan menentukan tarif seenak udelnya? Bagaimana Visit Indonesia Year akan sukses, kalau wisatawan tidak bisa mendapatkan kepastian, berapa biaya yang harus mereka keluarkan untuk tiket pesawat?
Okay, dear friends, semoga libur panjang kemarin menyenangkan, dan hari ini kita memulai aktivitas di awal minggu dengan penuh semangat baru. Nggak masalah kita menghabiskan liburan ke luar negeri, ke luar kota, ke luar rumah, atau di rumah saja sambil melanglang ke alam maya, yang penting kita memperoleh apa yang membuat kita bahagia.
Ketika libur empat hari, saya menduga ‘beranda’ saya akan sepi tamu. Ternyata tidak. Tetap saja banyak teman dan sahabat yang singgah. Terimakasih telah berlibur di beranda saya. It’s very nice to greet and talk with you …









Kulanuwun,
tok, tok, tok,
salamlekom,
tok,tok,tok,
wee lha kosong, tindak kasongan po yoo
tok, tok, tok, salamlekom,…..
wah, jan- kok sepi yaa,
arep pesen tiket jee,
(kan ada agen tiket baru launching nih—
jadi mesti ada harga diskon,,,,,)
wis, pesen nulis surat, masuken amplop trus sesuk mrene maneh —–
mpun njih bu, mbenjang sowan malih bade nyuwun tiket adam-air, ingkang mboten ngagem tikar lho…
salamlekom, sampun…………………………………//
He he he …. Pak Bach ternyata jago bikin puisi ya ….
tok tok tok nya pake tulisan sih Pak, jadi saya nggak dengar. Lain kali pukul tiang listrik yang kenceng ya, biar kedengaran seluruh kampung …
Tiket Adam Air sampun telas Pak, wontenipun Adam & Hawa …