Catatan :
Novelet ini terpaksa saya upload menjadi cerita bersambung, karena cukup panjang. “Diburu Bayang-Bayang” adalah salah satu novelet yang saya sukai, terinspirasi oleh tragedi kehidupan keluarga yang tinggal di depan rumah ibu saya. Novelet ini adalah Pemenang III Sayembara Novelet Femina 1984. Ilustrasi yang ada pada cerber ini saya ambil dari ilustrasi yang ada di majalah Femina, garapan ilustrator Yan Mintaraga.
Selamat menikmati.
DIBURU BAYANG-BAYANG
Pintu Laboratorium Anatomi terkuak. Puluhan mahasiswa yang selesai praktikum pagi menghambur seperti laron keluar dari liangnya setelah hujan lebat reda. Tetapi berbeda dengan laron-laron yang keluar dari sarangnya dengan mengepakkan sayap penuh gairah hidup, laron-laron yang keluar dari Laboratorium Anatomi itu kusut dan tampak mengerikan wajahnya. Dan … astaga! Apa pula ini? Aroma mereka! Angin yang timbul oleh desir tubuh mereka terasa mencekik nafas dengan bau formalin yang menusuk hidung. Bau mayat yang diawetkan!
Bulu kudukku meremang, dan nyaliku mengkerut tinggal sebesar biji kedelai. Betapa tidak. Sebentar lagi aku harus masuk ke ruang jagal itu dan meneruskan apa yang sudah mereka kerjakan : membedah mayat. Sosok jasad yang pernah hidup tak beda dengan diriku itu akan kusayat wajahnya, kukuliti tubuhnya, kucongkel matanya, kubelah dadanya, kuiris jantungnya, kurobek perutnya, serta kupotong kaki tangannya. Aku, manusia, akan merajam manusia lain yang telah kehilangan dzat hidupnya, yang semestinya lebih dihormati justru karena ia telah tidak berdaya lagi. Makhluk itu telah diambil kembali oleh Sang Khalik, tetapi kami dengan kepongahan ilmiah telah menahannya di dunia untuk dijadikan obyek pemuas rasa ingin tahu kami. Astaghfirullah, apakah ini bukan suatu kelancangan yang sungguh luar biasa pada kehendak Dia Yang Maha Mulia?
“Cepat yuuk! Itu teman-teman sudah pada masuk.” Rita menghela tanganku, mengikuti kawan-kawan yang sudah bergerombol di pintu laboratorium.
Angan-anganku terbang dan aku terseret arus ketergesaan teman-temanku yang lain. Sambil berjalan kumasukkan tanganku ke saku jas praktikum putihku. Pinset dan scalpelku aman tersimpan disana. Kelupaan membawa kedua benda itu bisa berakibat gawat : didamprat asisten dan tidak diijinkan ikut praktikum. Ini adalah praktikum Anatomi kami yang pertama, dan pada hari pertama lebih baik tidak usah memancing permusuhan dengan siapa pun, terutama manusia-manusia setengah dewa yang berjuluk ‘asisten’.
“Kau tidak ngeri?” kugamit Rita yang berjalan di depanku. Rita melambatkan langkah dan menoleh.
“Kalau sendiri, so pasti ngeri. Tapi teman kita kan banyak. Kalau mayat itu mau berulah, kita keroyok saja rame-rame.” ia menjawab tanpa rasa perikemanusiaan. Begitu pun, keberanianku muncul melihat senyumnya yang lucu.
“Tapi nanti malam kita sendirian. Dan kalau semua orang sudah tidur, mereka bisa datang membalas dendam kepada kita.” aku berkata lagi.
“Dasar penakut. Kalau kamu takut mereka akan datang, pasti mereka datang betul. Mereka bisa saja muncul di kamarmu dengan jasad halus, kelihatan di matamu, tetapi tak akan bisa menyentuhmu. Believe me.”
Alangkah senangnya kalau bisa menjadi pemberani seperti kawanku ini. Aku selamanya gentar bila harus berpikir tentang hantu dan roh-roh halus.
Kami sekelompok terdiri atas lima orang. Aku, si penakut yang tidak ketulungan. Rita, si pemberani yang otaknya cemerlang seperti berlian. Abdel, si Arab asli Pasar Kliwon Solo. Manurung, Batak yang tawanya sekeras guntur. Dan Arif, si lemah lembut yang entah bagaimana akan mampu memaksa hatinya membelah mayat.
“Awas kamu kalau sampai pingsan, Rif” kugoda si lemah lembut itu di depan pintu lab.
“Jangan kuatir. Aku akan berdiri di sampingmu, biar kamu senang bisa memelukku kalau aku pingsan nanti.” Arif menjawab kalem.
“Kamu kira aku sudi menerima tubuhmu? Kulemparkan nanti kepada Manurung, biar ditelannya kamu mentah-mentah.” aku menjawab sengit.
Mengiyakan kata-kataku, Manurung meledakkan tawa, memperlihatkan barisan giginya yang sebesar kapak. Tapi seketika tawanya lenyap ketika asisten yang berjaga di pintu melotot kepadanya dengan kejam.
“Ketawa kau! Masuk, cepat!!” hardik si Penjaga Neraka.
Seperti anak-anak nakal dijewer telinganya, kami masuk satu-satu dengan kepala tunduk.
Di dalam ruangan praktikum yang luas itu terdapat sepuluh meja panjang yang masing-masing berjajar dua. Di atas setiap meja tergolek apa yang kubayangkan dengan penuh kengerian : mayat-mayat yang harus kami bedah. Setiap meja dikelilingi oleh lima orang. Ketika kami masuk, tinggal satu meja yang belum memiliki kelompok penjagal. Meja kami, tentu. Bergegas kami mengambil tempat, diiringi pandangan para Penjaga Neraka dan kawan-kawan yang rupanya sudah siap semenjak tadi.
Aku dijerumuskan Arif ke sisi kepala mayat. Kengerian yang dingin seketika menyergap perasaanku. Seperti terhipnotis, mataku tak kuasa kulepaskan dari wajah cokelat kaku yang ada di atas meja. Meskipun cadaver itu sudah diguyur air, bau formalin masih menyeruak sangat keras, membuat mataku pedih dan nafasku tercekik. Mayat perempuan itu telah berubah warnanya menjadi cokelat tanah, membujur kaku dan tampak berminyak. Ekspresi wajahnya sangat aneh. Hampa, tetapi seperti bertanya-tanya dan menyeringai samar. Matanya memandang lurus ke atas, kosong dan mati seperti kelereng. Seperti umumnya mayat yang diformalin, wajahnya lebam dan bibirnya kelihatan membengkak.
Tak kudengar apa yang diinstruksikan asisten kepada kami. Mataku lekat terpancang pada wajah cokelat aneh itu. Ya, makhluk yang dingin mengancam itu, mencekau aku dengan kekuatannya yang tidak terindera. Aku menggeliat sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari pengaruhnya, tetapi segenap otot dan mulutku terkunci rapat. Ia mencekau aku semakin kuat, seakan hendak dibenamkannya aku ke dalam dunianya yang gelap dan jauh. Ingin sekali aku mencari pegangan pada salah seorang kawanku, atau mengucapkan sesuatu untuk minta tolong, tetapi dia tidak membiarkan aku lepas dari pengaruh magisnya.
Nafasku tersengal-sengal. Keringat dingin mengalir di wajah dan punggungku. Ruang praktikum yang luas dan penuh orang itu serasa sunyi mati. Hanya ada gemerisik misterius yang mencekam. Otakku buntu dan tak dapat mencerna bahwa itu hanyalah suara gerak kawan-kawanku. Aku merasa sendirian di ruangan itu. Sendirian melawan makhluk yang dicerabut dari alam kodratnya. Kawan-kawanku, para asisten, mereka terpisah jauh dariku oleh kabut tipis yang tak dapat kutembus. Mereka tak dapat kugapai untuk kumintai pertolongan.
Lalu sebuah tangan menjulur dengan perlahan, dan mata scalpel yang tajam mengiris bagian bawah dagunya, lurus tepat ke tengah dada. Aku seolah melihat wajah yang aneh itu menyeringai kesakitan, dan matanya yang hampa tiba-tiba menoleh kepadaku seakan mohon dikasihani.
Nafasku tercekik. Pandanganku gelap berkunang-kunang. Tubuhku goyah, dan lantai yang kuinjak serasa terbaling-baling. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan. Aku merintih …..
(bersambung)










“Nafasku tercekik. Pandanganku gelap berkunang-kunang. Tubuhku goyah, dan lantai yang kuinjak serasa terbaling-baling. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan. Aku merintih …..”
Aduh….koq berhenti….Buuuuu…ditunggu bagian keduanya…penasaran nih!!!!
Emang dibikin penasaran kok Pak, biar baca terus … he he … Permintaan Pak Heri sudah saya penuhi lho. Maaf, nggak setiap hari saya upload sambungannya. Takut pada bosen, mosok buka blog isinya cerber melulu …
Wah.. satu lagi bukti bahwa mbak Tuti, memang penulis yang handal. Senang sekali bisa berkenalan walau sebatas lewat blog he he he
thanks
Tuti :
Ah, nggak kok. Cuma tukang melamun aja ….
Saya juga senang sekali bisa berkenalan dengan Mbak Yulis yang ramah ….
Saya temannya “saya” rupanya…..asyiiikk jdi karakter pemberani
Pasti si “saya” pingsan hehe… jd penasaran…. lanjut…..
Tuti :
(*bingung*) Saya temannya “saya”? Jadi saya siapa? Lho kok malah tanya …
bagus nih cerita
salam kenal
please visit my site
need advise
Tuti :
Terimakasih. Salam kenal juga, saya akan segera berkunjung ke site Harlock. Silahkan URL nya dicantumkan,
nice story….
membaca cerber ini
aku sprti diburu bayang-bayang
hingga blm sempat menuntaskannya
*dapat hadiah pemenang III
traktir dunk…….
Tuti :
Wahaha … duitnya udah bulukan dan kedaluwarsa Bang, nggak laku lagi. Ntar deh, saya traktir kalau saya dapet hadiah Nobel untuk karya sastra *ngimpi.com*