MAKAN APA, MAKAN DIMANA, MAKAN SIAPA …
Ini mungkin lelucon yang tidak lucu : orang miskin berpikir “Makan APA aku besok?”, orang kaya berpikir “Makan DIMANA aku besok?”, sedangkan Sumanto berpikir “Makan MAYAT SIAPA aku besok?” (sekedar mengingatkan bagi yang mungkin lupa, Sumanto adalah manusia pemakan mayat yang membuat bahkan vampir pun mules …)
Pertanyaan “makan apa aku besok” menghantui pikiran semakin banyak rakyat Indonesia. Harga bahan makanan sekarang ini bukan main mahalnya. Minyak goreng yang pada tahun 2007 masih Rp. 6.500 per liter, sekarang Rp. 13.000,- . Telur yang semula Rp. 6.000 per kg, sekarang Rp. 12.000,-. Terigu yang setahun lalu Rp. 3.500,- sekilo, sekarang Rp. 7.000,- . Beras dari Rp. 4.000 menjadi Rp. 6.000,-
Bagi para pria yang tidak pernah berurusan dengan belanja dapur, atau bagi para wanita yang dompetnya sedemikian tebal sehingga pengeluaran berlipat dua pun tetap tak terasa, heboh tentang kenaikan harga bahan makanan ini mungkin ibarat suara angin yang antara terdengar dan tiada. Tapi bagi sekian puluh juta rakyat yang selama ini harus berakrobat untuk mempertahankan hidup, semakin mahalnya harga-harga membuat nafas kian sesak ….
Tahun-tahun mendatang, dunia terancam kekurangan pangan. Berkurangnya stok pangan dunia akan membuat harga bahan makanan melambung tinggi. Bagi negara-negara yang masih mengimpor bahan makanan dari luar negeri, jelas kenaikan harga pangan akan mengancam stabilitas ekonomi, yang akan merembet ke stabilitas keamanan dan stabilitas politik.
Berkurangnya stok pangan dunia ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain meningkatnya populasi penduduk dunia, naiknya permintaan pangan dari negara berkembang, buruknya cuaca, juga konversi biji-bijian sebagai biofuel. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown sudah mengirim surat kepada Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda, agar isu pangan berkaitan dengan biofuel dibahas di dalam pertemuan G-8 bulan Juli mendatang di Hokkaido.
Abdullah Badawi, Perdana Menteri Malaysia, sudah mengantisipasi kelangkaan bahan pangan ini dengan berbagai upaya untuk mengamankan stok pangan nasional. Perusahaan milik negara Malaysia telah diperintahkan untuk meningkatkan produksi pangan. Semua lahan menganggur akan ditanami sayur mayur, buah-buahan, dan padi untuk meningkatkan pasokan. Presiden negara tetangga kita yang lain, Gloria Macapagal Arroyo, juga sudah memerintahkan militer untuk mengamankan distribusi pangan bersubsidi. Presiden Filipina itu juga berjanji akan memberikan dana tambahan untuk mendorong produksi pangan, serta menghukum spekulan beras.
Bagaimana dengan pemerintah kita?
Menteri Pertanian kita, Anton Apriyantono, menyampaikan data yang tidak begitu menggembirakan. Berdasarkan luas lahan pertanian yang ada, kita agak sulit untuk bisa mencapai swasembada pangan. Penambahan lahan pertanian baru tidak sebanding dengan penyusutan yang terjadi karena alih fungsi lahan pertanian subur beririgasi teknis menjadi pemukiman dan berbagai kepentingan lain. Jika tidak ada koreksi terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah, maka sawah subur yang akan terkorbankan mencapai 3,1 juta hektar, sebanyak 1,67 juta hektar terdapat di Jawa dan Bali yang memproduksi 60 persen pangan nasional.
Salah satu cara untuk meningkatkan produksi pertanian adalah dengan intensifikasi. Dalam periode 1-3 tahun ke depan, produktivitas jagung, kedelai, daging sapi, dan gula minimal harus bisa ditingkatkan sebesar 125-150 persen. Padi sawah harus bisa diupayakan agar menghasilkan 9-10 ton per hektar, dan padi lahan kering 4 ton per hektar. Tentu ini bukan hal yang mudah, tetapi memang harus diupayakan agar rakyat tidak semakin sengsara dengan harga makanan yang sangat mahal, agar tidak semakin banyak rakyat yang kelaparan.
Seakan belum cukup, kenaikan harga pangan ini masih ditambah lagi dengan kenaikan tarif listrik dan kenaikan harga bahan bakar. Tidak sekedar naik, untuk memperolehnya pun harus antri berjam-jam, bahkan berhari-hari. Kita seperti kembali ke jaman orde lama, ke tahun 65-an, ketika segala kebutuhan pokok harus diperoleh dengan antri.
Seringkali kita tak habis pikir : harga-harga terus melambung, rakyat sudah sedemikian tercekik, tetapi mengapa para pemegang kekuasaan di atas seakan-akan tak tersentuh nuraninya? Barangkali memang sulit bagi beliau-beliau yang di atas itu untuk merasakan beban penderitaan rakyat, karena bukankah mereka tak pernah merasakan bingungnya mencukupi kebutuhan sehari-hari, tak pernah tahu bagaimana rasanya lapar dan antri minyak?








