NARSIS DI MACBOOK, KATARSIS DI CENTRO
Sunny Sunday!
Hari Minggu yang hangat dan cantik. Matahari bersinar dengan ramah, langit biru kemilau, dan udara bersih segar. A perfect day to spend time with the family! Sudah sejak tiga hari yang lalu saya wanti-wanti kepada suami agar hari Minggu ini jangan punya agenda selain untuk saya. Maklum, do’i ‘olang kelja’ (saking sibuknya dengan pekerjaan, sampai kayak Babah A Kiong yang tak pernah berhenti bekerja dari subuh sampai tahajud … ).
Apa acara untuk melewatkan hari libur yang sangat berharga ini? Bersih-bersih rumah, masak di dapur? No way! Tiap hari saya sudah bercengkerama dengan sapu dan vacuum cleaner, sudah pula bersilat dengan pisau dan wajan. Ke pantai? Ah, enggaklah. Jauh dan panas. Ke gunung? Wadoow, sebentar sore pasti hujan. Jadi kemana dong? Ya sudah, ke Amplas saja ….
Niatnya ingin melewatkan hari libur yang sehat dan alami, jatuh-jatuhnya ke mall juga … Apa boleh buat, rupanya pada abad milenium ini manusia benar-benar sudah berada dalam cengkeraman budaya konsumerisme. Dari bayi sampai kakek-nenek, hari libur tumplek-blegnya ya ke mall. Di Yogya, saat ini mall yang paling representatif adalah Amplas atau Ambarukmo Plasa. Meskipun pada waktu dibangun mall ini memicu pro kontra dan debat panjang di kalangan pecinta dan pelestari budaya (karena menggusur bangunan bersejarah peninggalan Kasultanan Yogyakarta), sekarang setiap hari libur Amplas penuh padat oleh pengunjung.
So, kesanalah saya dan suami meluncur ….
Begitu masuk dari halaman parkir di lantai paling atas, suami langsung terpikat pada sebuah gerai komputer Apple. Dia baru saja membeli MacBook di Jakarta, dan begitu melihat ada gerai Apple dibuka di Yogya, langsung saja seluruh mata-hatinya tersita kesana. Alamat buruk nih! Kalau do’i sudah terjerat di toko elektronik dan komputer, bakalan berjam-jam dia asyik masyuk disana. Artinya, bakalan berjam-jam juga saya cengok, bengong dan bosan. Rupanya sudah takdir Tuhan, laki-laki suka elektronik dan perempuan sebel dengan segala urusan kabel (meskipun sekarang sudah jamannya nir-kabel alias wireless … ).
Saya tak pernah peduli dengan merk, spesifikasi dan fitur ponsel, tv, vcd player, kompiu, cam-dig, dan segala macam perangkat elektronik lain. Yang penting peralatan itu bisa berfungsi dengan baik. Titik. Bahkan benda-benda modern yang saya pakai, semuanya adalah lungsuran suami, bekas milik suami jika do’i sudah bosan dan ganti model baru. Ponsel, kompiu, laptop, cam-dig, sampai mobil saya, semuanya merk “Lungsur” alias bekas-pantas pakai. Nggak apalah. Namanya juga dikasih. Sudah syukur ada yang ngasih, iya toh? Kalau bukan suami, mana ada yang mau ngasih lungsuran Nokia, Samsung, Toshiba, Canon, dan BMW, bener kan? Dan sebenarnya do’i juga nawarin yang baru kok, saya aja yang nggak mau. Lha, uueman-uueman je kalau barang bekasnya dijual murah, wong semua masih jreng, cling, dan kinclong …
Iseng-iseng, saya mengotak-atik salah satu MacBook yang berada dalam kondisi on (sekitar sepuluh kompiu yang dipajang, semuanya on). Eh, ternyata ada kameranya. Dasar narsis, saya pun pasang wajah semanis mungkin di depan kamera, yang menampilkan image langsung di monitor. Klik! Wajah sayapun terpampang dengan seramnya di layar (biar sudah dimanis-manisin, tetep aja kamera nggak mau bohong …). Saya pencet-pencet lagi si Mac, aa … haa … ternyata bisa online. Langsung saja saya browsing, kemana lagi kalau bukan ke blog pribadi. Kebetulan sejak semalam saya belum sempat tengok blog. Girang rasanya melihat Tutinonka’s Veranda muncul di tempat umum, di tengah kerumunan pengunjung yang memenuhi toko. Tiba-tiba naluri jahiliah, kampungan, dan ‘ndeso’ saya muncul. Kompiu yang sudah menampilkan Tutinonka’s Veranda saya tinggalkan (agar dibaca orang, gitu …), lalu diam-diam saya pencet beberapa kompiu lain, saya browsing dan saya buka pada halaman blog saya. So, Tutinonka’s Veranda is everywhere. Dasar sinting! Narsis pol! Hue he he …
Setelah suami membeli beberapa perangkat tambahan untuk MacBooknya (waa … kayaknya saya patut mendapat komisi nih dari Apple, karena sudah mempromosikan secara gratis) kami pun masuk ke Centro. Pada hari-hari tertentu, departement store ini menampilkan live music untuk menghibur pengunjung. Hari Minggu ini, mereka menampilkan piano live dan seorang penyanyi wanita kulit putih. Nyah Londo ini (saya tidak tahu apakah ia londo Belanda, londo Inggris, atau londo Amerika …) bernyanyi dengan santai sambil duduk di samping piano besar yang dimainkan oleh seorang pianis pria. Suaranya lumayan bagus, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan Celine Dion atau Melly Goeslow. Saya sudah dua kali melihat Nyah Londo ini bernyanyi di Centro.
Kami pun berdiri tidak jauh di depannya, dan bertepuk tangan ketika lagu “I Left My Heart In San Fransisco” selesai dibawakannya. Ia berterimakasih memperoleh applaus (zza izzalah …). Saya lalu mendekati Nyah Londo itu dan bertanya, “Would you please sing ‘Fly Me To The Moon’ for me, Mam?” . Dengan mata berbinar Nyah Londo yang penampilannya mirip Mama Lorenz itu tersenyum. “Sure. I love to.”
Maka mengalunlah dari bibirnya “Fly Me To The Moon”, lagu zaman baheula yang pasti dikenal baik oleh Oom, Tante, Mak dan Mbah kita, tapi insya Allah hanya akan membuat anak-anak muda zaman Bill Gates bengong bin bingung. Saya selalu berlagak umur 27, ironisnya selera lagu-lagu saya adalah selera orang umur 72 ….. he he he ….
Tapi lirik “Fly Me To The Moon” ini asyik kok. Coba saja dengarkan ….
Fly me to the moon, and let me play among the stars. Let me see what spring is like on Jupiter and Mars. In other words, hold my hand. In other words, darling kiss me. Fill my heart with song, and let me sing forever more. You are all I long for, all I worship and adore. In other words, please be true. In other words, I love you ….
Saya ikut menyanyi perlahan dari tempat saya berdiri. Kalau saja Nyah Londo itu mengundang saya untuk bernyanyi bersamanya, pasti saya melonjak kegirangan. Sayang dia nggak ‘ngeh’ … Selesai lagu dilantunkan, penuh terimakasih saya menyalami nyonya cantik yang baik hati itu. “Dengan senang hati” Nyah Londo itu menjawab dengan manis. Wooo … iso ngomong Indonesia to …
Ketika saya sedang cuci mata di konter sepatu, tidak jauh dari tempat piano dan Nyah Londo berposisi, saya dengar lagu “Looking Through The Eyes of Love” mengalun. Wadoow …. saya langsung terbang kembali ke dekat sang nyonyah. Lagu ini selalu membuat saya melankolik, kadang sampai membuat mata basah dan gerimis turun di pipi ….
Gimana enggak, lha wong liriknya sesyahdu ini :
Please, don’t let this feeling end. It’s everything I am, everything I want to be. I can see what’s mine now. Finding out what’s true. Since I found you. Looking through the eyes of love. Now, I can take the time. I can see my life. As it comes up shining now. Reaching out to touch you. I can feel so much. Since I found you. Looking through the eyes of love.
And now, I do believe, that even in a storm we’ll find some light. Knowing you’re beside me, I’m all right. Please, don’t let this feeling end. It might not come again, and I want to remember. How it feel to touch you. How it feel so much. Since I found you. Looking through the eyes of love.
Uhuk … uhuk … saya terisak (yeee … dalam hati tapi, mosok di tengah mall).
Ajaib. Mall yang hiruk pikuk itu ternyata bisa membuat saya katarsis dalam haru biru. Keterlaluan aja melankolis saya ‘kali ya ….
MacBook-nya dijual per kilo ya bu nonka?
Dl sblm dbngun amplaz, itu bngunan apa y? Lp sy. Kl malming, tmbh semrawut aja lwt sono.
Shrsnya, d jln.malioboro jgn dbngun mall. Lebih “gimana” gitu [menurut saya].
Yodama,
Kalau bukunya si Mac memang dijual kiloan. Yang masih agak bagusan bisa dijual sebagai buku bekas di kaki lima …
Sebelum dibangun Amplaz, dulu lokasi itu bagian dari hotel Ambarukmo, ada pendopo yang sering dipakai untuk pertemuan/jamuan makan. Amplaz sekarang mall paling besar dan paling ramai di Yogya, jadi maklum aja kalau malam Minggu semrawut. Di jalan Malioboro sudah terlanjut berdiri mall, apa boleh buat …