BOSTER ….. NDOBOS BANTER
Siapa mau punya dua istri, tapi yang satu monyet, dan yang satu lagi kambing? Bagi yang mau, jangan percaya ada tarif telepon murah. Lho, jadi harus tidak percaya? Kata iklan operator telepon itu, harus!! Soalnya kalau nggak percaya, bakalan punya istri monyet dan kambing. Mau?
Lho, lho! Ini logika apa? Logika boster … ndobos banter.
Dari sisi kreativitas, iklan operator telepon itu cukup menggelitik. Dari sisi keberhasilan penyampaian pesan, tergantung pada persepsi orang yang menonton iklan tersebut. Orang yang syaraf humornya peka akan menangkap kelucuan ide penggagas iklan. Orang yang lugu dan selalu ‘berada di jalan yang benar’ akan bingung, mengapa orang kawin dengan monyet (seperti surat pembaca di Kompas yang ditulis oleh seorang ibu). Orang yang moralis akan tersinggung dan menilai iklan itu melecehkan martabat manusia sebagai makhluk yang paling mulia di dunia (mosok kawin sama binatang). Alim ulama mungkin akan langsung istighfar sambil bergumam astaghfirullah, dosa … dosa ….
Apa pun persepsi orang, yang jelas iklan ‘orang beristri monyet dan kambing’ itu adalah salah satu iklan boster, iklan yang menjual ‘ndobos’ (kebohongan) secara ‘banter’ (kuat). Dan iklan-iklan sejenis itu bertubi-tubi menyergap kita di berbagai media, dari koran sampai teve.
Salah kita juga, di’ndobosi’ diam saja …..
Sekarang ini operator telepon berlomba-lomba menggaet pelanggan dengan perang tarif gila-gilaan. Iklan pun dibuat dari yang sangat rasional sampai yang mokal, dari yang elegan sampai yang edan, untuk membuat konsumen dan calon konsumen percaya bahwa tarif pulsa mereka betul-betul murah. Tarif ditawarkan sampai Rp. 0,00 …1 per detik. Otak saya yang bebal dan buthek ini bingung mencerna informasi adanya tarif sekecil itu. Bagaimana mungkin di jaman sekarang ini ada sesuatu yang harganya kurang dari satu rupiah? Lha wong uang lima puluh rupiah saja sudah tidak ada wujud fisiknya, jee ….
Pasti ada yang nggak bener. Mungkinkah sebuah komoditas canggih yang berbasis teknologi tinggi dan padat modal bisa dijual dengan harga semurah itu? It must be something behind there. Saya nggak paham lika-liku perhitungan tarif pulsa berbagai operator telepon yang menawarkan harga murah tersebut, tetapi dari analisis Moch S Hendrowijono di Kompas 17 April 2008, memang ada beberapa ‘tapi’ yang menjadi syarat tarif murah tersebut. Jumlah yang sesungguhnya harus dibayar konsumen tidaklah semurah yang ditawarkan, jika beberapa ‘tapi’ tadi tidak dipenuhi. Intinya, iklan -iklan yang ditampilkan itu mengandung kebohongan, minimal jebakan atau informasi yang tidak lengkap.
Saya tidak mau pusing-pusing mengikuti ‘irama gendang’ yang ditabuh pemasang iklan, jadi sejak zaman kuda gigit besi hingga zaman kuda gigit roti (kuda zaman sekarang kan udah pinter, mana mau disuruh gigit besi melulu …) saya tidak pernah ganti operator ponsel. Nomor saya tetap 0816-68-xxxx (kalau nggak ditulis xxxx, takut jadi sasaran agen asuransi … he he he … maaf ya mas/mbak agen, just kidding).
Iklan boster menjangkiti produk ecek-ecek sampai produk canggih keluaran pabrik multinasional. Dari obat kuat pria sampai kosmetik dan odol. Ada iklan sampo yang menyebutkan bahwa “sembilan puluh lima koma tujuh persen rambut rontok berkurang setelah 6 kali memakai sampo X”, atau “kulit bertambah putih tiga tingkat setelah memakai krim wajah Y”. Yang lain mengklaim bahwa “tujuh dari sepuluh wanita di dunia memakai pembalut Z”. Hwalaah … mosok sih kita percaya?
Siapa yang pernah menghitung jumlah rambut rontok, sehingga tahu berapa persen berkurangnya setelah memakai sampo X ? Siapa yang membuktikan berapa tingkat perubahan warna kulit setelah diolesi krim Y? Kapan ada survai yang menanyakan merk pembalut yang dipakai para wanita di dunia ?
Odol yang sudah puluhan tahun saya pakai mengatakan produknya membuat gigi anti lobang, kuat, dan putih. Nyatanya, gigi saya tetap saja bolong dan tidak putih-putih amat. Tapi kok saya tidak komplen, dan tidak ganti pasta gigi yang lain? Itulah. Saya juga tidak tahu. Mungkin memakai odol dengan merk tertentu itu sekedar kebiasaan saja bagi saya, dan malas untuk mencoba merk lain. Ilmu Psikologi Konsumen (emang ada ilmu itu?) agaknya yang bisa menjelaskan mengapa kita seperti kerbau bodoh dicekoki iklan-iklan yang patut dicurigai gede bohongnya …









– Salah kita juga, di’ndobosi’ diam saja …..–
celingak-celinguk nyari tipex buat nutup tuh iklan..
Btw. KPI sudah ngelarang iklan ini kalau nggak salah.
–tujuh dari sepuluh wanita di dunia memakai pembalut Z”. Hwalaah … mosok sih kita percaya?–
saya percaya, soale sepuluh wanita itu keluarga yg punya pabrik itu.
lha ternyata yg punya pabrik aja gk pake produknya