PERTENGKARAN DI SUATU MALAM
Aku tahu pasti dia ada di dalam laci itu. Foto lelaki yang selalu memenuhi hatiku. Membubungkan harapanku. Membakar semangatku. Meneduhkan jiwaku. Membuat mimpiku bertabur sejuta mawar merah.
Aku rindu melihatnya lagi. Kubuka laci meja belajarku, kuambil foto dalam pigura kecil itu. Kubelai dengan seluruh mata hatiku. Aku suka matanya yang tajam dan selalu menyalakan semangat. Aku senang melihat senyum tipisnya yang ramah namun penuh kharisma. Dan kalau ia bicara, ya …. kalau ia bicara, suaranya mantap penuh percaya diri, kalimatnya tertata rapi, intonasinya berirama. Siapa pun akan terpesona bila mendengar Zulian berbicara. Kecuali Ibu.
Sungguh memilukan hatiku. Ibu tidak suka aku berencana hidup bersama Zulian. Penyebabnya sangat klasik, dan terasa menyesakkan dada karena ternyata sulit dicari jalan tembusnya. Bagaimana bisa dipercaya, bahwa aku menghadapi persoalan yang sama dengan kisah cinta zaman Siti Nurbaya : jurang adat yang dalam dan tak terseberangi.
Zulian hadir ke dunia dari ranah yang masih memegang kukuh adat Minangkabau. Lingkungannya, keluarganya, segenap langkah dan tarikan nafasnya, semua dalam pagar adat ninik-mamak yang ketat. Delapan belas tahun ia menghirup udara dan meminum air dari perut bumi Bukittinggi, dan baru merasakan hangat matahari Yogya ketika kuliah di Teknik Sipil UGM. Ia benar-benar masih ‘orang Sumatra’, yang seringkali membuat kening ibu mengernyit.
Ibu adalah perempuan Jawa yang sangat asing dengan tradisi matrilineat Minangkabau. Ibu tidak bisa menerima adat menjemput pengantin pria dengan sejumlah uang, adat yang dijunjung tinggi ninik-mamak Zulian. Bagi beliau, ini adalah soal harga diri. Soal njogo projo.
“Wong wedok kok tuku bojo” begitu beliau berkata. Perempuan kok membeli suami …
Yang membuat jurang adat itu tak terseberangi, keluarga Zulian bersikukuh bahwa adat itu harus dijunjung tinggi. Sama dengan sikap Ibu, bagi mereka ini adalah soal harga diri. Akan menampar muka dan martabat seluruh ninik-mamak jika seorang kemenakan laki-laki masuk dalam keluarga isterinya tanpa pengganti yang sepadan. Dan karena Zulian seorang anak lelaki yang menjadi kebanggaan seluruh keluarga : gagah perkasa dan sebentar lagi akan menyandang gelar insinyur, tentu uang jemputannya pun harus sepadan. Harus besar, sangat besar ….
Kuhembuskan nafasku panjang-panjang. Sekali, dua kali, sejuta kali. Namun tetap saja dadaku terasa sesak. Kutatap sekali lagi wajah Zulian, lalu perlahan kusimpan kembali foto itu ke dalam laci.
Kulangkahkan kakiku ke luar kamar. Rumah sepi. Ibu sedang pengajian di mushola. Mbak Tika entah ada dimana. Aku melintasi ruang tamu, keluar ke teras depan. Udara sejuk menyambutku di luar. Kuhirup udara sepenuh dada. Halaman rumah kami yang luas hanya diterangi beberapa lampu di sudut teritisan rumah. Cahayanya yang lemah tak mampu mencapai seluruh sudut halaman. Rumpun pisang yang membatasi rumah Warni dengan rumah kami tampak berjajar dalam keremangan.
Kulayangkan pandanganku ke rumah kecil di sudut halaman itu. Dari jendela yang masih terbuka lebar dan pintu yang sedikit terkuak memancar cahaya terang. Tanpa tujuan pasti, aku melangkah ke rumah itu. Namun beberapa meter dari rumpun pisang, tiba-tiba aku tertegun mendengar suara-suara keras dari rumah Warni. Kedengarannya seperti pertengkaran. Apa yang sedang mereka pertengkarkan?
Dengan berindap-indap aku mendekati rumah Warni, lalu bersembunyi dibalik rumpun pisang. Aku diam mendengarkan. Kini suara pertengkaran itu dapat kudengar dengan jelas. Suara Warni terputus-putus, sesekali bercampur isak.
“Bagaimana kalau Bu Satrio sampai tahu? Ingat Pak, kita ini ikut orang. Bu satrio sudah sangat banyak menolong kita. Aku tidak mau membalas kebaikan beliau dengan membawa-bawa mereka ke dalam kesukaran karena ulahmu. Oalaah … besar sekali dosaku nanti kepada Bu Satrio …” Warni terisak-isak.
Aku tercekat. Ulah apa yang dilakukan Marsudi, yang dikhawatirkan Warni akan menyeret kami dalam kesukaran? Tiba-tiba Marsudi bergerak menutup jendela, yang hanya berjarak beberapa meter dari rumpun pisang tempat aku bersembunyi. Dengan gugup kubenamkan tubuhku makin dalam ke balik batang-batang pisang. Dari celah pintu yang sedikit terbuka aku bisa melihat Marsudi berjalan mondar-mandir, sementara Warni duduk terpuruk di salah satu kursi kayu, sesekali mengusap air mata di wajahnya. Topo mendekam di sudut, diam seribu bahasa.
“Aku bosan jadi kere!” Marsudi berbicara dengan keras. Wajahnya kelihatan beringas. “Kau kira aku senang menumpang di rumah orang seperti ini? Kita diusir dari rumah Bu Danu, dan entah kapan pasti akan diusir pula dari sini. Kemana kita akan pergi kalau kelak semua orang sudah mengusir kita? Aku kepengin punya rumah sendiri. Aku bosan membungkuk-bungkuk minta bantuan kepada orang lain.”
Warni kembali tersedu.
“Iya Pak, aku ngerti. Tapi carilah jalan yang baik, yang tidak mencelakakan kita maupun orang lain …”
Marsudi menghentak. Wajahnya menyala oleh kemarahan.
“Tidak ada jalan baik untuk orang-orang seperti kita ini. Kere selamanya akan tetap jadi kere kalau tidak berani nekad!”
“Oalah Pak! Apa kau belum kapok juga dengan pengalaman-pengalaman yang dulu?”
“Mbuh ora weruh! Sekali jelek, biar selamanya jelek. Orang hanya tahu mengecam. Aku sudah tobat, orang tak mau percaya. Orang tetap saja curiga. Mana, mana yang mau kasih pekerjaan padaku? Aku sakit hati dicurigai terus. Apa gunanya tobat kalau tetap dihina dan disingkiri seperti sampah!”
Pintu terkuak tiba-tiba dan Marsudi melangkah keluar dengan beringas. Aku begitu kaget hingga tak mampu bergerak dalam persembunyianku. Warni menyusul ke pintu dan berseru dengan cemas.
“Pak, mau kemana?”
Marsudi terus melangkah tanpa menoleh, hingga lenyap di mulut halaman. Sejenak Warni masih mematung di pintu. Topo berdiri di belakangnya tanpa berkata sepatahpun. Wajah anak itu gelap dan beku. Lalu perlahan-lahan pintu tertutup rapat, dan cahaya lampu lenyap dari pandangan.
Aku merayap keluar dari balik rumpun pisang, lalu kembali cepat-cepat ke rumah. Apa yang baru saja kulihat dan kudengar membuat jantungku berdegup kencang. Aliran darah di sekujur tubuhku menderas, dan kakiku terasa kaku untuk melangkah.
“Ning, dari mana kamu?”
Aku terlonjak dan hampir saja jatuh tersandung saking kagetnya. Begitu tegangnya pikiranku, hingga tidak melihat ibu masuk dari pintu halaman dan berjalan di belakangku.
“Oh … dari … cari angin saja, Bu.” sahutku terbata-bata.
“Kupikir dari rumah Warni.” Ibu berkata, tampaknya tidak menyadari kegugupanku.
Ibu berhenti sejenak, lalu menoleh ke rumah Warni yang sudah tertutup rapat.
“Sudah pada tidur rupanya. Yaah … mudah-mudahan saja mereka kerasan disini. Kasihan.” Ibu bergumam
Aku menghela nafas.
“Ya, mudah-mudahan mereka baik-baik saja.” kataku akhirnya. Ya, apa lagi yang bisa kuucapkan melihat begitu tulus dan besarnya harapan Ibu kepada keluarga Warni?
* * *
Aku menggeliat dibalik selimut tidurku. Kamar remang-remang, hanya diterangi lampu tidur di meja sudut. Perlahan kusibakkan selimut, lalu bangkit berjalan keluar kamar. Lampu-lampu di ruang makan dan ruang tamu sudah dimatikan. Aku melangkah ke kamar mandi yang terletak di ujung rumah. Setelah tidur empat jam, ada sesuatu yang harus kubuang di kamar mandi.
Kamar mandi terletak di sisi rumah yang berdekatan dengan rumah Warni. Aku baru saja hendak membuka pintu kamar mandi ketika terdengar langkah-langkah kaki orang, suara pintu rumah Warni diketok perlahan, suara beberapa orang bergeremang, lalu suara pintu dibuka dan ditutup kembali. Kupasang telingaku setajam mungkin, namun tak terdengar suara apa-apa lagi.
Beberapa jam yang lalu Warni dan Marsudi bertengkar. Warni menyebut-nyebut tentang ulah Marsudi yang mencelakakan. Marsudi melontarkan kebosanannya menjadi orang miskin, kesia-siaannya berusaha menjadi orang baik. Siapa gerangan orang-orang yang datang ke rumah mereka pada malam buta seperti ini?
Jam berdentang dua kali dari ruang tengah.
(bersambung)










Oh jangan Pak Marsudi, uhhh , cepetan ke bagian 7 ah. Untung udah ada sampai bagian 9. tenang deh ngak harus menunggu lama. thanks
Tuti :
)
Ya deh, ntar pesannya saya sampein ke Marsudi (saya kenal dia kok …
Apa yang terjadi di keluarga warni ya??
Tuti :
Biasalah …. namanya juga rumahtangga, pasti ada masalahnya …. stay calm …