Kotak angpao, siap menerima tanda kasih
TANDA KASIH YANG HARUS BERSIH
“Tanpa mengurangi rasa hormat, mohon tanda kasih tidak diwujudkan dalam bentuk barang ataupun karangan bunga”
Demikian kalimat ditulis dengan sedikit malu-malu (dulu) di undangan pernikahan. Atau, pada salah satu sudut undangan ditampilkan gambar celengan. Maksudnya sama, dan jelas : agar para tamu undangan memberikan tanda kasihnya dalam bentuk fresh money. Jangan lagi berupa gelas, album, termos, atau barang-barang lain yang mungkin tidak cocok dengan kebutuhan pengantin, dan hanya akan merepotkan jika ternyata banyak barang yang sama. Bayangkan kalau sang pengantin menerima lima termos nasi, empat blender, dan delapan panggangan roti! Memangnya mau buka dapur umum?
Angpao, atau amplop uang, sudah menjadi tanda kasih pernikahan yang sangat umum sejak satu dekade ini (meskipun pada awalnya terasa ‘kurang sopan’ dan ‘matre’). Uang memang luwes, dan uang selalu manis dilihat maupun dipegang. Sulit mencari orang yang tidak suka uang. Dengan uang di tangan, dunia serasa ada dalam genggaman … (laah, kita nginjak apa dong, kalau dunia ada di genggaman?)
Tapi hati-hati, angpao pernikahan sekarang menjadi sasaran penyelidikan KPK. Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR yang baru saja menikah untuk yang kedua kali (tapi bukan poligami lho, isteri yang pertama telah berpulang), mempersilahkan angpao pernikahan yang diterimanya diperiksa KPK. Minggu ini KPK juga akan memeriksa sumbangan pernikahan puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Bujubuneng, asamalakata …. !!
Hidayat Nur Wahid adalah Ketua MPR, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah Gubernur DIY. Mereka adalah pejabat-pejabat pemerintahan yang karena kedudukannya, rawan menerima tanda kasih yang ‘terlalu besar’ dari pihak-pihak tertentu (sudah pasti dengan maksud-maksud tertentu juga). Istilah populernya adalah ‘gratifikasi’. Bentuk lain dari ‘tanda kasih tak wajar’ ini adalah parsel lebaran (yang sudah dilarang, meskipun memicu protes keras dari pengusaha parsel).
Operasi selip-menyelip amplop kepada pejabat ini sebenarnya terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja (melebihi iklan minuman soft drink tempo doeloe). Sepak terjang KPK membongkar korupsi dimana-mana juga sudah sering kita dengar. Tapi pemeriksaan angpao pernikahan pejabat oleh KPK terasa sebagai gebrakan baru yang mengejutkan. Kita tentu tidak heran kalau Hidayat Nur Wahid, yang sampai saat ini (mudah-mudahan hingga seterusnya) kita kenal sebagai pejabat yang bersih, happy-happy saja amplop sumbangannya diabul-abul KPK. Tapi beranikah KPK melakukan hal yang sama terhadap kotak angpao Sri Sultan? Masalahnya, urusan ini menyangkut privacy dan kehormatan seorang raja Jawa. Mosok orang boleh tahu Bapak X menyumbang Ngarso Dalem berapa, Ibu Y mengisi amplop berapa, Mr. Z menulis cek berapa, dan seterusnya?
Lalu berapa sih nilai yang dianggap ‘wajar’ dan yang ‘terlalu banyak’? Seorang pengusaha yang sukses mungkin menulis cek senilai 5 juta dengan mudah. Atau, seorang sahabat yang merasa pernah diselamatkan nyawanya pasti akan rela membongkar semua tabungannya untuk disumbangkan.
Besarnya sumbangan yang diberikan oleh seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor (selain faktor ‘cari muka’ yang sudah jelas tidak tulus). Kedekatan hubungan dan tingkat sosial pemilik hajat adalah faktor penting yang menentukan besarnya sumbangan. Jika kita dekat dengan pemilik hajat, kita akan memberikan lebih besar. Demikian juga, kalau orang yang mengundang kita adalah orang kaya dan terpandang, kita cenderung malu untuk mengisi amplop sedikit. Memang aneh. Orang yang sudah kaya kita sumbang banyak, sementara orang yang tidak kaya malah kita sumbang lebih sedikit. Sama anehnya dengan sumbangan kematian. Kita cenderung menmberikan sumbangan kematian lebih sedikit dari pada sumbangan pernikahan.
Bukan rahasia lagi (ya iyalah, wong sudah ditulis di blog …) pejabat yang mantu akan mendapat banyak ‘dukungan moral dan finansial’ dari segala pihak. Kalau bukan dalam bentuk penyediaan gedung, catering, undangan, dan segala pernik kebutuhan resepsi, ya dalam wujud amplop tebal (kalau isinya uang cash) atau amplop tipis (kalau isinya selembar cek). Siapa penyumbangnya? Banyaaak. Pengusaha yang ingin mendapatkan kemudahan, pejabat di bawahnya yang ingin naik pangkat, penilep uang negara yang ingin kasusnya disimpan di balik pintu …
Kembali kepada angpao Sri Sultan. Ketika menerima undangan pernikahan dari Sri Sultan, saya langsung berpikir, waduh …. ngisi amplop berapa nih? Meskipun dengan menguras seluruh tabungan yang ada, bahkan menggadaikan segala harta, uang kami tidak akan cukup bernilai bagi Sultan. Menurut majalah Warta Ekonomi, kekayaan Sri Sultan HB X pada tahun 2001 lebih dari 20 milyar (entah sudah menjadi berapa pada tahun 2008 ini). Apa perlu sih rakyat yang miskin ini menyumbang raja yang kaya? Kalau pun ada uang, bukankah lebih baik kami menyumbang saudara-saudara yang sekarang semakin tercekik oleh kenaikan harga bahan pokok, BBM dan listrik?
Agar tidak salah langkah, kami pun kasak-kusuk, mencari info kepada beberapa teman yang dekat dengan kalangan keraton, menanyakan perlu membawa amplop atau tidak. Jawabannya, “Halah! Nguyahi segoro … !” Wah, tapi siapa tahu di meja penerimaan tamu disediakan kotak angpao, kan malu kalau tidak mengisi. Benar saja, ada kotak angpao disediakan di samping buku tamu. Jadi? Biarlah itu menjadi rahasia kami ….










Mau nimbrung ah, dulu di Amrik (sekarang sudah jarang) setiap undangan pernikahan akan mencantumkan alamat sebuah toko. Maksudnya jika ingin ngasih angpao cukup dengan barang saja. Sang calon mempelai sudah memberikan daftar barang yang ingin dimiliki oleh mereka, dimana daftarnya disimpan di toko tersebut. Para penyumbang akan melihat daftar barang, lalu mereka kasih uangnya untuk ‘urun’ pembelian (misalnya) kulkas. Misalnya Eko Atmadji mau nyumbang 200 ribu untuk kulkas yang seharga 3 juta. Maka akan ditulis ada deposit 200 ribu dari Eko untuk kulkas. Jika Hidayat mau nyumbang 300 ribu untuk kulkas maka deposit bertambah. Kalau jumlah sudah terpenuhi maka toko akan memberitahu kalau kulkas sudah terpenuhi, bagi penyumbang baru dipersilahkan urunan untuk barang-barang lainnya.
Tentunya bu Tuti geli dengan cara yang kayaknya “ora sopan blas” tersebut. Gimana ya kalau over penyumbang atau kekurangan penyumbang. Kalau kekurangan ya harus ditomboki pengantinlah. Namun saya pesimis cara ini akan populer. Paling tidak, kurang disukai orang tua. Nggak balik modal. He he he.
Saya pernah membaca di majalah (kalau nggak salah Femina) untuk mencoba cara tersebut. Tapi memang saya belum pernah menerima undangan pernikahan dengan model pemberian kado seperti itu. Yang repot adalah kalau domisili pengantin di desa atau di ujung dunia, ‘thousands miles away from nowhere’, dimana tidak ada toko besar. Misalnya pengantin tinggal di pantai Samas (Bantul), terus menyebut toko “Paling Laris” di kota Yogya, laaah …. yang mau nyumbang kan repot, harus naik andong ke kota … he he …
Selain pejabat, yang namanya punya hajat mantu nggak mungkin balik modal, Pak. Balik separo aja sudah bagus. Tapi wong namanya orang punya hajat, punya ‘gawe’, ya sudah semestinya to kalau keluar biaya. Dia yang seneng-seneng mosok orang lain yang harus nanggung biayanya …. he he …
Yang repot itu justru hajatan manten di desa, Pak. Dilaksanakan di rumah, bisa berlangsung berhari-hari, orang datang nggak ada henti, harus memberi ‘ulih-ulih’ (hantaran bagi orang yang datang), bancakan, kenduri malam, dan sebagainya. Kalau di kota kan serba ringkas (kecuali yang memang dibikin ribet dan ruwet … ).
Ngomong-ngomong, Pak Eko dulu dapat angpao nikah berapa ton? (nggak tanya rupiah lho, hehehe … )
Kira2 bulan lalu adik saya diundang bos yang punya perusahaannya mantu di hotel berbintang di kawasan jakarta kota. Bos ini memang baik, semua pegawainya dari direktur sampe security dan OB dikasih undangan satu2.
Karena bingung mau nyumbang berapa, dan tradisi di chinese setiap amplop ditandai sesuai dg yg di buku tamu, jadi meskipun gak dinamai tetap ketahuan si A nyumbang berapa. Konon hal ini untuk memudahkan ketika akan menyumbang kembali jika tamu tsb mempunyai hajat. Alhasil adik saya beserta teman2 yg selevel staf berinisiatif tetap membawa amplop dan ketika nulis di buku tamu menuliskan nama perusahaannya.
Ide adik Nel dan teman-temannya bagus juga. Yang saya heran, apakah amplop itu tidak dimasukkan sendiri oleh tamu ke kotaknya, sehingga bisa ditandai oleh penerima tamu?
Untuk orang yang sudah kaya-raya, sebenarnya mereka tidak terlalu memerlukan uang lagi. Seperti pepatah Jawa “nguyahi segoro”, maksudnya seperti kita memasukkan garam ke laut, tidak akan menambah asin sedikitpun karena air laut sudah asin. Jika uang terbatas, maka akan lebih mengesankan bagi si penerima (yang sudah kaya raya) kalau kita berikan sesuatu yang memiliki sentuhan personal, seperti puisi yang diprint dan ditandatangani beramai-ramai kemudian diberi pigura indah, foto mereka di piring atau gelas, selimut dengan bordiran nama mereka, benda-benda yang kita tahu mereka sukai (untuk orang yang suka mengoleksi sesuatu), dan sebagainya. Kado juga bisa diberikan beramai-ramai, agar dana yang terkumpul cukup memadai.
Ada ide lain?
gini mbak, jadi amplop tamu diterima oleh si penerima tamu, kemudian tamunya kan ngisi buku tamu, nah di nomor urut berapa tamu tsb nulis namanya kemudian si penerima tamu nyatet no yg sama di amplop tsb.
memang sih lebih berarti kl ngasih sesuatu yg memiliki sentuhan personal, kl teman gampang kita tau apa kesukaannya, secara kantor udah ngasih karangan bunga segede gambreng, nha ini anak bos je… meneketehe kesukaannya
ato lebih baik gak ngasih amplop?
I see ….
Kebiasaan di Yogya, tamu menulis nama dulu, baru amplop dimasukkan sendiri ke kotak, yang disediakan di dekat buku tamu. Jadi tidak ada kesempatan bagi mbak-mbak cantik yang jadi pager ayu itu untuk memberi tanda pada amplop.
Kalau nggak tahu kesukaan pengantin (karena yang dikenal orangtuanya) gampang aja. Pilih opsi berikutnya : (1) kalau di undangan ada foto prewedding, scan saja foto itu, kemudian di print di piring, gelas, T-shirt, atau apa saja. Di Yogya sudah banyak jasa yang melayani penge-print-an untuk jumlah satu buah saja. (2) Nama pengantin pasti ada dong di undangan. Nah, bawa aja handuk, kimono, scarf, (asal jangan keset kaki) ke tukang bordir untuk dibuatkan bordir nama yang cantik.
Kalau saya diundang pengantinan keluarga Prayogo Pangestu, atau Mbak Tutut, jelas saya nggak akan ngasih amplop. Lebih baik bawa keranjang untuk membawa pulang bunga-bunga yang pasti sebanyak taman dan segede gambreng (gambreng apaan sih?)
Mau tanya,kalau adik laki tiri saya akan menikah harus kasih angpau berapa yah? Adik Akan nikah di Palembang?
Tuti :
Waah …. ini pertanyaan yang sulit dijawab. Besarnya angpao sangat tergantung pada kemampuan ekonomi kita serta kedekatan hubungan kita dengan orang yang akan kita beri angpao. Jadi, maaf Shanti, yang bisa mengira-ngira berapa pantasnya, ya Shanti sendiri …