BERITA MALAM YANG TAK TERDUGA
Bergegas aku keluar dari kamar Warni, langsung menerobos dapur. Ketika keluar dari pintu dapur, oppss!! Aku nyaris bertubrukan dengan sesosok tubuh anak lelaki. Topo! Kami sama-sama terkejut. Topo memandangku dengan heran dan penuh pertanyaan. Aku benar-benar tak tahu harus berubah wujud menjadi apa, untuk mengingkari kehadiranku disitu. Sungguh aku berharap saat itu menjadi jin yang bisa merubah diri menjadi kucing atau ayam. Tapi aku tetap saja masih manusia, dan jantungku yang belum lekat benar ke tangkainya sekarang meloncat-loncat hampir copot.
Aku meninggalkan Topo tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bergegas ke rumah seperti dikejar hantu. Masuk melalui pintu samping, Ibu mencegatku di depan dapur.
“Mana kukusannya?” Ibu bertanya.
Whaatt?? Kukusan? Ku-ku-san …? Apaan sih?
“Mana kukusannya? Kok lama sekali to kamu ini? Aku sudah selesai membungkus nagasarinya, tinggal dikukus.” Ibu kelihatan agak kesal.
Astaghfirullah. Kukusan itu masih tergantung di dinding gedek dapur Warni. Sama sekali sudah lenyap dari ingatanku.
“Eee … Warni nggak ada, Bu. Rumahnya sepi …” aku menjawab sekenanya.
“Kalau begitu pinjam saja ke rumah Bu Prapto.”
Bu Prapto adalah tetangga sebelah rumah. Ibu rupanya benar-benar sudah terobsesi oleh kukusan. Mati hidup beliau sudah diabdikan untuk benda sepele dari anyaman bambu itu.
“Aku mau pergi, Bu.” sahutku sambil meloloskan diri pergi ke kamar.
“Hei, Ning! Hei …. ! Woalah, bocah ki piye to … “
Aku tak mendengarkan omelan Ibu, bergegas pergi ke kamar. Ada sesuatu yang harus segera kulakukan …..
Cepat-cepat aku berganti pakaian. Tak sempat lagi aku berpikir apakah blus dan rokku serasi warnanya, apakah lurus lipatannya, apakah tubuhku kelihatan menggembung atau mengempis. Sambil menyambar tas yang biasa kupakai kuliah, aku mengaduk isi kotak tempat menyimpan segala macam kunci. Tapi kunci sepeda motorku tak kujumpai di kotak itu, dan baru kusadari bahwa sepeda motor itu kemarin kumasukkan ke bengkel karena sering macet tiba-tiba. Aduh! Padahal sepeda motor Mbak Tika baru dipakai yang empunya pergi. Apa boleh buat. Toh aku masih punya kaki, dan kaki diciptakan Tuhan untuk membawa tubuh berjalan.
Ketika keluar dari rumah, kulihat Topo duduk sendirian di bawah rumpun pisang di dekat rumahnya. Ia meraut sebatang ranting dengan pisau, agaknya sedang membuat ketapel. Anak laki-laki itu menatapku dengan diam. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan darinya dan melangkah ke jalan.
Untungnya Kantor Polres itu tidak jauh dari rumah. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk berjalan kaki kesana. Komandan polisi jaga menatapku setengah percaya setengah tidak. Wajahnya lesu dan mengantuk, mungkin semalaman ia main gaple dan kalah bertaruh. Responnya yang menyebalkan membuat aku kecewa telah tergopoh-gopoh datang kesana. Dengan lesu, aku mengucapkan ’selamat siang’ dan pergi dari depan mejanya yang penuh abu rokok serta ceceran air kopi.
Keluar dari halaman kantor Polres, lagi-lagi sosok kecil yang mengejutkan itu kulihat di sana. Topo ada di seberang jalan, bersandar pagar tembok rendah sebuah rumah. Ia tak memandang ke arahku, seolah-olah tak melihat aku, tapi aku tidak percaya ia hanya kebetulan saja ada di sana. Anak itu menguntitku, aku tahu. Ya, ia melihat aku pergi dari rumah, dan diam-diam mengikutiku. Astaga, ia sekarang jadi mata-mata yang selalu mencengkeram aku dengan pandangannya !
* * *
Langkah kaki itu berderap di teras rumah, disusul ketokan keras di pintu. Di sujud terakhir sholat Maghribku, lantai terasa bergema menghantarkan derap langkah kaki itu ke telingaku. Lalu kudengar suara langkah kaki Mbak Tika — sudah pasti aku hafal langkah semua saudaraku dan ibuku — kemudian telingaku menangkap suara pintu depan dibuka.
“Selamat malam Mbak, Bapak ada di rumah?” terdengar suara laki-laki yang berat dan kaku.
“Bapak … sudah meninggal … ” suara Mbak Tika tercekat.
“Oh, maaf. Kalau begitu siapa yang bisa kami jumpai? Ibu?”
“Ibu ada. Mari Pak, silahkan masuk.”
“Terimakasih.”
Langkah Mbak Tika terdengar tergesa-gesa masuk ke ruang tengah. Kuselesaikan bacaan atahiyat akhirku dengan lebih cepat.
“Bu … polisi … ” kudengar suara Mbak Tika lirih tersendat. Pintu kamar tempat aku sholat terbuka ke arah ruang tengah, sehingga bahkan nafas tersengal Mbak Tika pun bisa kutangkap dengan jelas. Ssrrrt … darahku tersirap, jantungku berdegup kencang. Tanpa sempat melipat lagi, kugulung saja mukena dan sajadahku, lalu menghambur ke luar kamar.
Ibu duduk terpaku di kursi. Ditatapnya Mbak Tika dengan air muka tegang. Mbak Rini yang juga ada disitu menatap ke ruang tamu dengan gelisah.
“Po … lisi? A .. da apa?” suara Ibu terbata-bata.
“Tidak tahu, Bu. Kita temui saja dulu.”
Dengan ditemani Mbak Tika, Ibu pergi ke ruang tamu. Mbak Rini memandangku dengan mata bertanya. Aku menggeleng tanpa menjawab. Dari ruang tengah aku bisa melihat dua orang polisi yang duduk di ruang tamu. Aku mengambil tempat di samping Mbak Rini, mendengarkan percakapan Ibu dengan kedua polisi itu.
“Maaf Bu, kami mengganggu malam-malam. Benar disini tinggal seorang yang bernama Marsudi alias Gudel?”
“Marsudi, iya Pak … tapi saya tidak tahu nama aliasnya. Setahu saya namanya Marsudi saja. Belum lama, baru kira-kira dua bulan. Itu … rumahnya di sebelah. Mereka menumpang kepada kami. Ada apa, Pak?” ibu berbicara dengan hati-hati.
“Begini, Bu. Tadi sore terjadi perampokan di toko emas di Jalan Ketandan. Kami berhasil membekuk dua orang pelakunya, sementara yang dua orang lagi sempat melarikan diri dan sampai sekarang masih buron. Salah seorang yang kami tangkap tewas tertembak setelah melawan dengan senjata tajam. Orang itu sudah lama menjadi incaran polisi karena kejahatan-kejahatan yang dilakukannya. Namanya Marsudi, alias Gudel. Apakah keluarganya tinggal disini juga?”
Marsudi tertembak. Mati. Kalimat itu berdengung-dengung di kepalaku, membuat lantai yang kuinjak terasa miring sehingga aku limbung.
Ibu menyuruh Mbak Tika memanggil Warni. Mbak Rini menarik tanganku, menyeretku ke ruang tamu. Kami duduk di samping Ibu. Tak berapa lama, Mbak Tika muncul dengan Warni di belakangnya. Warni tampak begitu ketakutan. Wajahnya pucat pasi, dan beberapa kali ia mengusap matanya yang basah. Ibu segera meminta Warni duduk di sampingnya.
“Ibu isteri Marsudi?” salah seorang polisi itu bertanya.
Warni mengangguk tanpa sanggup menjawab. Pandangannya kosong, kesepuluh jemari tangannya tak henti saling meremas.
“Kami minta Ibu datang ke rumah sakit Sarjito untuk mengenali suami Ibu.” Polisi itu berkata lagi, lalu menoleh kepada Ibu. “Sebaiknya Ibu atau Mbak ikut menemani.”
Ibu mengusap bahu Warni.
“Tabahkan hatimu, Ni. Percayalah, Gusti Allah pasti akan menunjukkan jalan terang bagimu. Pasrahkan dirimu kepada Yang Maha kuasa.” ibu berusaha memompa kekuatan pada Warni yang tampak terpuruk seperti setumpuk kain lusuh.
“Kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Kami akan mengawal ibu berdua.” salah seorang polisi itu berkata.
Ibu menoleh kepada Mbak Tika. “Temani aku dan Warni ke rumah sakit. Rini dan Tuning biar siap-siap di rumah. Jaga Topo, jangan biarkan anak itu sendirian.”
Ibu dan Warni pergi naik becak, dikawal oleh kedua polisi yang berboncengan sepeda motor. Mbak Tika mengikuti di belakang dengan naik motor juga. Aku dan Mbak Rini melepas kepergian mereka sampai ke halaman. Ketika aku menoleh ke arah rumah Warni, kulihat Topo berdiri di dekat rumpun pisang. Mata anak itu menatap dengan nyala dendam ke arah dua polisi yang membawa ibunya. Lalu tiba-tiba mata itu beralih ke arahku. Darahku tersirap bersirobok dengan mata yang tajam, hitam berkilat-kilat dan penuh dendam itu. Segera aku berbalik masuk ke dalam rumah. Mbak Rini bergegas mengikuti aku.
Aku dan Mbak Rini duduk berdua di ruang tengah. Bingung, galau, dan tak tahu harus berbuat apa. Aku seperti dicekik mimpi buruk, ingin bangun tapi seluruh tubuhku tak mampu bergerak.
“Pergilah ke rumah Warni, beri tahu Topo.” Mbak Rini akhirnya punya inisiatif.
“Tidak, tidak! Aku tak mau. Kau saja yang kesana.” aku ketakutan. Sungguh mati, aku tidak berani bertemu dengan Topo.
Kami saling mendorong agar pergi ke rumah Warni. Tapi karena aku bergeming, tak sedikitpun bergerak, akhirnya Mbak Rini yang mengalah, pergi ke rumah Warni. Hanya sejenak, ia sudah muncul kembali di ruang tengah, dimana aku duduk kaku seperti kucing jelek yang diawetkan dengan air keras. Topo tidak ada di rumahnya. Padahal waktu kami mengantar Ibu dan Warni hingga ke teras, anak itu berdiri di depan rumahnya.
(bersambung)










walah penasaran lagi, sampe-sampe harus menghitung hari nunggu kelanjutannya…..trus bagaimana nich ceritanya
He he … kayak lagunya Kris Dayanti saja, “Menghitung Hari”. Sabar Mbak Hana, tutuge suk Rebo (wah, kalau itu kisah “Kuncung lan Bawuk” di TVRI Yogyakarta zaman doeloe …. )
Bu Tuti, kapan nih lanjutan ceritanya? saya tunggu-tunggu nih sampai lumutan.
Maap. maap, maap …. iya, ntar dilanjutin deh. Kemarin lagi banyak topik lain yang lebih ‘menggairahkan’ untuk ditulis …
aduhh ibu..
dengan segenap rasa sayangku..
kemana hilangnya lanjutan diburu bayang-bayang..
ayolah bu..saya ngidam pengen baca terusannya
ditunggu bener lho bu..
salam hangat
Aduh Dewi …. iya nih, saya merasa bersalah kok belum sempat-sempat juga melanjutkan “Diburu Bayang-Bayang”. Habis, banyak topik-topik tulisan lain yang rasanya lebih ‘kepul-kepul’ hangat di otak, sementara waktu untuk menulis di blog agak terbatas, sehingga terpaksa melakukan seleksi … (halah, emang kontes apaan …
)
Insya Allah saya usahakan segera menyambung “Diburu Bayang-Bayang”. Terimakasih banyak apresiasinya ya …
…*harap-harap cemas melihat kelanjutannya..*
wah, belum sempat ya bu.. melanjutkannya lagi *ngarep.com
saya sempat ubleg2 koleksi femina almh. ibu
tapi kok ndak ada cerpen ini ya bu? tahun berapa ya bu dimuatnya?
Tuti :
Waduh … belum sempat nih, padahal sudah ada niat mau dilanjutin lagi.
Diburu Bayang-Bayang dimuat sebagai cerber di lima nomor Femina, Juni tahun 1985. Udah lama banget, mungkin almarh ibu Dewi belum berlangganan …
Kasian si topo ya
Tuti :
Iya. Mau ngambil jadi anak angkat?