RUMAH TEMPAT KUCING BERCENGKERAMA
Rumah ini terletak di suatu tempat di Yogya bagian utara. Mulai dibangun pada tahun 2004, selesai pada akhir 2005. Membutuhkan waktu satu tahun untuk menata isinya, karena pemiliknya menginginkan semua furniture dan pernak-pernik memiliki style yang serasi, yaitu ringan, modern, dan cantik. Karena ukuran rumah terbatas (luas tanah 170 m2, luas bangunan 140m2), maka banyak furniture yang harus dipesan dengan ukuran khusus agar bisa fit dengan ukuran ruangan.
Bunga untuk mempercantik rumah
Penataan interior rumah dan taman selesai pada Februari 2006. Pada tanggal 27 Mei 2006, gempa besar mengguncang Yogya. Sebagian rumah rusak. Plafon lantai dua jebol dan tembok retak parah. Renovasi harus dilakukan secara total. Sebagian tembok dibongkar dan diperkuat dengan balok dan kolom beton baru, kusen-kusen pintu dan jendela dicopot. Dengan hati pilu, kerja keras menata rumah selama setahun pun harus dikemasi. Semua gordin dilepas, furniture disisihkan dan ditutup plastik, ratusan pernak-pernik pajangan dibungkus dan dimasukkan ke kotak-kotak. Seisi rumah yang selama tiga bulan sudah tertata rapi menjadi berantakan, penuh bongkaran tembok, kayu dan debu. Lebih kacau dari pada waktu rumah ini dibangun, karena rumah sudah penuh dengan furniture yang tidak bisa dipindahkan ke tempat lain. Taman yang baru saja tumbuh subur pun porak poranda tertimbun bongkaran, material baru, dan terinjak-injak para tukang yang bekerja. Sungguh menyedihkan ….
Renovasi paska gempa selesai Oktober 2006, dan penataan ulang interior rumah serta taman rampung akhir 2006. Alhamdulillah, stress selama berbulan-bulan akhirnya terlampaui sudah. Tirai-tirai dipasang kembali, lukisan digantungkan di tempatnya, kursi ditata dan karpet digelar, kucing-kucing dikeluarkan dari kotak, seluruh pajangan diatur di tempatnya masing-masing. Rumah telah tertata kembali, sudah bersih dan berseri seperti sedia kala.
Ruang tamu serba hijau dengan empat buah kursi rangka besi dan pelapis dari kulit. Kecil, simpel, tapi manis, itu maunya si pemilik rumah. Untuk menemukan kursi ini pemilik berkeliling ke seluruh toko furniture di Yogya, dan baru menemukannya setelah enam bulan mencari. Sebelumnya sempat memesan kursi lain, tapi karena sesudah pesanan selesai ternyata tidak cocok dengan harapan, pesanan dibatalkan meskipun uang muka tidak bisa diambil.
Interior rumah dilihat dari pintu depan. Tak ada sekat antara ruang tamu dan ruang makan. Artinya, kalau ada makanan ya tamu diajak makan, kalau tidak ada makanan maka tamu diminta membelikan makanan untuk seisi rumah ….
Kamar tidur anak di lantai bawah. Semula di tempat tidur ini diletakkan 15 boneka kucing besar kecil, tapi karena lalu tidak ada tempat lagi untuk tidur, maka kawanan kucing pun digusur masuk ke lemari dan hanya dikeluarkan jika ingin bermain-main. Yang masih diijinkan tinggal di tempat tidur adalah dua boneka centil Si Cempluk dan Si Cemplon.
Semula tempat tidur, meja rias dan dinding penuh boneka yang dikumpulkan dari Belanda, Belgia, Singapura, sampai Singaparna …. Ini ruangan yang membuat kerasan setiap anak yang datang ke rumah ini.
Lukisan gadis kecil memangku kucing karya Renoir (tentu saja hanya repro-nya), bantal bergambar kucing, sebagian boneka kucing, boneka Si Ucrit dan Si Unyil. Terdapat di salah satu sisi ruang tidur anak.
Ruang santai di lantai bawah. Sofa kuning itu bisa dibuka menjadi tempat tidur ekstra jika ada tamu menginap. Lukisan di belakang sofa adalah repro “Sun Flower” karya Van Gogh. Ruang ini juga difungsikan untuk sholat dengan arah kiblat menghadap sulaman kaligrafi “Allah” dan “Muhammad”.
Meja makan dengan empat buah kursi rangka besi. Untuk menyiasati ruangan yang sempit di bawah tangga, dipilih meja dengan kaca bening agar ruangan tidak terlihat penuh. Sebagaimana kursi tamu, kursi dan meja dipilih berdesain simpel. Bahan besi sangat cocok karena langsing namun kokoh.
Dapur terdapat di belakang garasi, berhubungan langsung dengan ruang makan. Dapur juga dihubungkan ke halaman belakang dengan sebuah pintu. Di atas kulkas digantungkan repro lukisan “Sun Flower” karya Van Gogh. Di meja dapur tidak ada kucing, melainkan enam ekor bebek porselen (soalnya kalau bebek-bebek itu bertelur, kan tinggal diceplok ….. )
Jendela di sisi tangga. Di luar jendela terdapat taman kecil di halaman belakang dengan sebuah kursi ayunan. Ruang makan, dapur, dan ruang tangga didominasi dengan bunga matahari berwarna kuning cerah.
Tangga menuju ke lantai dua. Tinggi lantai dua empat meter, sehingga anak tangga agak curam meskipun sudah diupayakan semaksimal mungkin memanfaatkan ruangan. Untuk nenek-nenek yang osteoporosis, tangga ini mungkin kurang bersahabat. Tapi untuk kucing yang suka melompat-lompat, asyik ….
Ruang santai di lantai dua. Jika bantal-bantalnya diturunkan, sofa yang panjangnya 180 cm ini cukup lebar dan nyaman untuk tiduran sambil nonton televisi. Ruangan ini terbuka di sisi timur, dan dari sini bisa melongok ke ruang makan, ruang tamu, dan dapur. Jadi kalau haus, tinggal teriak ke dapur ….
Ruang santai di lantai dua dilihat dari sisi lain. Dari jendela di sudut ruangan, pandangan lepas ke halaman depan. Ruangan ini juga berfungsi sebagai ruang kerja, sehingga ditempatkan meja tulis di dekat jendela.
Ruang tidur utama di lantai dua, didominasi warna hitam, kuning muda & broken white. Di ruangan ini semua bunga adalah mawar putih. Untuk mendapatkan bed cover yang sesuai, pemilik harus mengaduk-aduk semua toko perlengkapan rumah yang ada di Yogya. Alhamdulillah, ketemu juga …
Ruang tidur utama dilihat dari sisi lain. Furniture di ruangan ini pesanan khusus, semua diperkecil agar bisa masuk ke dalam kamar yang hanya berukuran 3×4 meter. Lukisan bunga bergaya impresionisme di atas tempat tidur itu dibeli sangat murah, cuma Rp. 175.000,-
Ayunan di halaman belakang. Duduk membaca buku sambil berayun pelan … hm, nikmat sekalee …
Dinding belakang rumah ini berbatasan dengan sawah. Pada awal-awal selesai dibangun, ketika belum ada pagar tembok komplek, tiga kali pemilik rumah bertemu dengan ‘tetangga’ yang merupakan penduduk asli disitu, binatang melata pemilik badan panjang : ular. Memang hanya ular kecil, panjang sekitar 60 cm dengan diameter badan 2 cm-an, tapi cukup mengagetkan juga. Lucunya, ketika ‘amprok’ di halaman dan sama-sama terkejut, yang buru-buru melarikan diri bukan si pemilik rumah, tetapi ularnya. Hahaha, rupanya pemilik rumah itu mirip ratu ular, sehingga ular kecil itu ngibrit ketakutan …
Alhamdulillah setelah komplek ditutup pagar tembok, tidak ada lagi ular yang beranjangsana ke halaman rumah. Wah, ‘rakyat’ nggak bisa lagi ketemu ‘ratu’nya ….
Tampak depan rumah dilihat dari arah barat. Banyak burung gereja tinggal di genting rumah. Suara kicaunya merdu ….


























Wahh mbak ukuran tanah 170 m2 itu luas lho, apalagi jika bisa ditingkat.
Pasti mbak Tuti akan pening kalau kerumahku, setiap anggota keluarga menyampah di setiap tempat…buku bertebaran. Kayaknya dimana-mana ada buku, biarpun udah ada ruang kerja, tetap aja nggak bisa tidur kalau nggak baca duluan…
(Malu nih sama mbak Tuti…tapi mau bagaimana lagi, karena anak-anak menyukai, katanya yang penting nikmat dan betah dirumah ….hehehe).
Mbak Enny, lantai dua Caty’s House cuma berisi satu ruang tidur, kamar mandi, dan ruang duduk saja kok, luas totalnya sekitar 40 m2. Di lantai bawah ada dua kamar tidur (satu difungsikan untuk ruang duduk dan tempat sholat), kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, garasi, dapur, ruang tidur pembantu dan kamar mandi pembantu.
Di rumah ini ada juga buku-buku (tidak terlihat di foto), tapi memang tidak begitu banyak, karena rumah ini hanya dihuni sesekali. Ada 5 ensiklopedi kucing tebal-tebal, 4 album foto kucing, semua lucu-lucu (kalau Pak Tri lihat mungkin seneng juga … hehe …). Kalau di rumah yang saya tempati, sama dengan rumah Mbak Enny, buku ada dimana-mana. Banyak buku yang saya beli sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang masih dalam segel plastik, belum sempat dibaca. Saya sungguh merindukan masa pensiun, agar bisa membaca dan menulis sepuas-puasnya.
Betul sekali Mbak Enny, yang namanya ‘home sweet home’ itu bukan ‘rumah yang indah’, tetapi ‘rumah yang menyenangkan’. Dan definisi ‘menyenangkan’ tidak selalu harus licin-kincling sampai lalat pun terpeleset, atau rapi-jali sampai kita takut duduk, tapi membuat seluruh anggota keluarga merasa nyaman. Saya percaya rumah Mbak Enny pasti hangat dan ramah, sama seperti karakter pemiliknya.
BU Tuti, bolehkah saya melihat design/tata letak rumah Ibu yang keliatan apik, dan tampak sangat luas diatas tanah ukuran 170m2 ?
Boleh saja, Mbak Hana. Mudah-mudahan masih saya simpan.
Ketika merancang denah rumah, sebaiknya kita sudah pula memiliki bayangan fungsi masing-masing ruangan serta furniture yang akan ditempatkan di dalam ruangan. Dengan demikian letak pintu, jendela, bahkan stop kontak bisa dirancang dengan baik. Tanpa perencanaan matang sejak awal, kita akan kesulitan menempatkan furniture secara efisien, apalagi jika ukuran ruangan terbatas.
bu, numpang tanya klo ayunan yang di blakang rumah itu cari nya dimana ya?
kira2 harga nya brapa bu ..
makasih banyak
Monica,
Kursi ayunan di belakang rumah itu saya beli di Yogya. Tapi saya pernah lihat juga pas ada pameran furniture di JCC Jakarta. Dulu saya beli seharga 3,5 juta (bahan kayu jati). Kalau yang di JCC malah lebih murah, cuma 2 juta-an, tapi kualitasnya memang tidak sehalus yang saya beli.
Wah mbak Tuti,
Itu rumah yang mendesign mbak Tuti sendiri ya? Indah sekali. Semua ruangan mempunyai keunikan tersendiri. Saya baru sekarang mbak belajar mendesign rumah. Habis sebelumnya nomaden pindah pindah melulu. Lukisan yang harganya 10 jt bagus banget mbak kata orang tua memang benar “rega nggawa rupa”. Thanks
Mbak Yulis,
)
Caty’s House ada di perumahan, jadi tampak depannya sama semua, hanya pembagian ruangan di dalam yang berbeda untuk setiap rumah (tergantung keinginan pemilik). Kalau interior, memang saya sepenuhnya yang menata. Caty’s House adalah ‘rumah mainan’ saya, hadiah dari suami, dan dia membebaskan saya mau menatanya seperti apa (kalau rumah yang ditempati bersama kan harus ‘musyawarah’ dan ‘mufakat’ dengan dia …
Foto di ‘image header’ blog ini adalah halaman depan Caty’s House.
Sebagian besar lukisan di Caty’s House adalah repro (Van Gogh, Monet & Renoir) dan lukisan-lukisan murah meriah yang harganya cuma berkisar antara Rp. 175.000,- sampai Rp. 1.500.000,- . Lukisan GM Sudarta yang kami beli seharga 10 juta itu ada di rumah lain (yang kami tempati). Kapan-kapan saya upload di blog. Memang benar, “rego nggowo rupo”. Saya sih selalu mencari yang ‘rego’nya murah tapi ‘rupo’nya mahal …
. Bisa kok, kalau kita pandai-pandai memilih.
Oh baru ngeh saya,
Jadi “Cathy’s house” bukan rumah yang mbak Tuti tinggalin ya. Ok, baru tau sekarang. Pasti rumah yang ditempati lebih indah, karena tempat tinggal sehari hari. Thanks
Yulis
Hehehe …. nggak tuh. Rumah yang saya tinggali RSS (rumah sederhana saja). Jadi satu sama kantor suami (suami saya punya perusahaan penerbitan buku & percetakan). Cuma menempati lantai seluas sekitar 150 meter persegi, nyempil di pojok. Tapi enak jadi satu dengan kantor, soalnya siang malam banyak orang, jadi kalau perlu apa-apa tinggal panggil salah seorang karyawan …
hmmm mbak Tuti jangan-jangan jebolan interior design ya?
Hebat tanah segitu bisa kelihatan luas…. Interiornya juga apik. Tapi pasti modalnya juga gede ya hehehhe.
Itu yang di ruang tamu sebelah kiri di bawah lampu itu heater atau lemari biasa mbak?
EM
Tuti :
Hihihi … kalau saya jebolan interior design, pasti hasilnya nggak se’kacau’ ini Mbak. Saya cuma suka aja mengatur rumah, punya beberapa buku arsitektur dan interior design.
Yang di bawah lampu, maksud Mbak Imel di bawah tangga? Itu lemari biasa, memanfaatkan ruang kosong di bawah tangga. Di Indonesia nggak perlu heater Mbak, lha wong sudah panas banget. Yang diperlukan malah pendingin ruangan.
Rumahnya cantik
Nama Chaty’s house menimbulkan kesan cute “imut”
Tuti :
Terimakasih
Yang benar, namanya adalah Caty’s House, berasal dari kata ‘cat’ atau kucing. Caty adalah sebutan untuk pemilik rumah ini, yang suka kucing. Jadi Caty’s House adalah rumah milik penyuka kucing, maksudnya gitu …
wah.. saya tertarik dapurnya mbak, kalo boleh tau kitchen setnya menggunakan multiplek atau kayu jati ya? trus menghabiskan dana berapa untuk kitchen setnya saja mbak? Trimakasih
Tuti :
Untuk kitchen set, rangkanya kayu jati, tapi panel pintu-pintu dan rak-raknya dari multiplek. Kalau kayu jati semua, selain mahal, juga terlalu berat. Untuk kitchen set saja, menghabiskan sekitar 8 juta (tahun 2005). Harga kitchen set biasanya dihitung per meter panjang.
Terimakasih, Umi.
Bu’e … kalo saya numpang nginep … boleh gak bobo ama Si Cempluk dan Si Cemplon.
plissssss
Tuti :
Pertama : numpang nginep gak boleh, kecuali mau nyapu, ngepel dan motong rumput halaman. Kedua : bobo ama si Cempluk dan si Cemplon juga nggak boleh, soalnya …. mereka nggak pernah bobo ….
mbak Tuti nih mirip bunda dorce ya … hik. lam kenal
Tuti :
Huwaaa …. mirip Bunda Dorce? Nggak salah nih? Kayaknya cakepan saya deh, kerenan saya, pinteran saya … juga … sablengan saya …
mbak, bagus banged desain rumahnya…. waoww! hasil rancangan brp lama itu mbak?? trus furniture nya nampak elegant smua
Sy tertarik liat gordyn, sprei juga dapurnya mbak… Kalau gordyn itu motif apa dan bahan apa itu ya yang hitam putih itu?? trus sprei nya bahan apa?? harga nya brp masing2 mbak.. ??? pesan dimana… ?? soalnya kan deket ama sy tinggal…. hehhehehe sy di Sala3 mbak, cuma kdg2 suka main ke Ygy
Btw, luas dapur brp itu mbak…. mungkin bisa dimasukin lagi deh foto dapur secara keseluruhan….soalnya bagus… sy kan skrg mau buat kitchen set, but krn dapur saya kecillllllllll sekali…. bentuk I gitu. Masukin ya mbak… pliisss
Trus… sy mau tanya juga… kan skrg saya mau buat pagar, teralis, juga kanopi rumah. Ukuran rumah 10×12 m. Nah, kmrn sudah tanya2, jatuhnya utk 3 item tadi itu sekitar 11jt. Kasgeeeeettt….hehehehhehe….itu blum sama pilar2 pagarnya mbak… Kira2 murah mana ya mbak….pake tembok ato pagar??? kalo utk pintu masuk ya jelas pake pagar yaa…. nah maksud sy utk samping n depan rumah (selain pintu masuk) gt mbak….. thx atas infonya…. salam
Tuti :
Waduuh … pertanyaan Ida panjang kayak gerbong kereta api
Penataan isi rumah itu memakan waktu hampir satu tahun, karena tidak terlalu mudah mencari furniture dan barang-barang pajangan, juga lukisan yang sesuai. Gordin semua jendela terbuat dari bahan tenun katun dengan bordir, saya pesan dari Yogya. Kalau sprei hitam putih itu bahannya katun murni, saya beli di Matahari Dept Store, sama bed covernya seharga 1 juta.
Luas dapur 3×3 meter. Lumayan longgar sih untuk sebuah rumah kecil. Tapi di rumah yang saya tempati, dapurnya malah lebih kecil, bentuk I juga, ukuran 1,75 x 4 meter. Karena bentuknta memanjang dan sekalian untuk jalan (ada pintu di kedua ujungnya) kitchen set saya buat memanjang di satu sisi.
Tentang biaya pembuatan pagar, teralis, dan kanopi, kalau 11 jutaan sebenarnya wajar saja Ida. Teralis dan pagar besi biasanya dihitung per meter luasan. Mana yang lebih murah, tembok atau pagar besi? Kayaknya sih lebih mahal pagar besi ya. Dan tembok pun, kalau didesain dengan apik, bukan sekedar tembok polos kayak dinding rumah, bisa tampak artistik. Tentang biaya ini sangat relatif sih, jadi sebaiknya dibicarakan langsung dengan tukang yang mau mengerjakannya.
Selamat mempercantik rumah, Ida …
Salam manis,