BERANDA BARU, BERANDA SAYA
Voila ! Hari ini saya mengganti image header dengan yang baru. Tralala ….
Lho, kok ini yang dipasang? Mungkin begitu pertanyaan yang muncul, mengingat pada ’sayembara pile-pile beranda’ kemarin, foto ini tidak masuk nominasi. Pemilihan foto di atas akhirnya saya lakukan, dengan beberapa pertimbangan matang (sudah dikukus 7 hari 7 malam). Pertama, dan paling utama, keempat foto yang saya nominasikan kemarin saya ambil dari buku “Tropical Houses, Living in Natural Paradise” karya Tim Street & Porter. Setelah saya pikir secara panjang lebar luas dan dalam, pemakaian foto milik orang lain ini melanggar hak cipta. Saya khawatir bakal dituntut ke Mahkamah Internasional (halah!). Dan kalau saya diminta membayar denda sampai milyaran, saya harus jual apa? Gunung, hutan, dan pulau, semua milik anak cucu, menggadaikan pun saya tidak berhak ….
Jadi, dengan segala kesederhanaannya, akhirnya saya memutuskan untuk memilih beranda rumah saya sendiri, yang saya foto sendiri. Home sweet home (katenyee …). Rumah ini saya beri nama “Rumah Merpati”, karena kueecil kayak rumah merpati. Tetapi di rumah ini tidak ada merpati, yang banyak malah kucing-kucingan (maksud saya segala bentuk kucing, bukan kucing beneran). Jadi sedang saya pertimbangkan untuk mengganti nama rumah ini menjadi “Caty’s House”. Belum dibuatkan bubur merah sih, dan belum dibuatkan akta kelahirannya juga, jadi masih mungkin berubah lagi …
Bagi bapak ibu dan teman-teman yang sudah memilih foto beranda lainnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Bukan berarti saya tidak menghargai pilihan anda semua, juga bukan berarti tawaran kemarin main-main, tetapi demikianlah rupanya jalan hidup beranda ini. Tengok sana, lirik sini, akhirnya yang dipilih adalah milik sendiri. Terimakasih yang sebesar-besarnya atas partisipasi yang telah diberikan. Novel “Keberangkatan” sebagai kenang-kenangan sudah saya kirimkan kepada semua pemilih, mudah-mudahan bisa diterima kanthi renaning penggalih.
Salam manis untuk semuanya ….









Wuih cuantiknya, berandalan pekarangan…eh karepku beranda lan pekarangan.
Kesannya teduh, sejuk, damai, ijo, oleh bambu air, cemara udang, cemara gimbal yang dipangkas, bunga puring (dulu banyak di kuburan lho itu…)
Seperti secuil surga yang tercecer di bumi…eh lha kok mung didadek-ke omah kucing. Tur disebut omah cilik meneh, lha njenengan kalau lihat rumah saya di Jakarta….mungkin akan menangis tiga tahun nggak berhenti, saking kasihannya melihat rumah saya cuilik muenthik…
Kemarin di Semarang saya ketemu mas Gumbolo lho bu, bul beliau itu wong uii to, mas Lolok itu sedulur katut saya bu.
Nunut salam nggih untuk teman2 yang sering mampir di blog ibu…
Waduhh mbak Tuti…sama pendapat di atas…kalau lihat rumah saya bakal klenger.
Dan berandanya memang mungil kan, lucu, bikin orang pengin duduk….berarti pilihanku yang nggak lihat kiri kanan malah cocok kan….
Mas Lengkung,
‘Berandalan pekarangan’ itu kalau laki-laki, kalau perempuan jadinya ‘berandalin pekarangan’ …. hehe …
Terimakasih sudah menyamakan rumah kucingku dengan cuilan syurga (kasihan syurganya deh …. mosok dicuil-cuil). Foto di atas sudah sedikit diolah agar sesuai dengan format image header wordpress yang kecil panjang. Kondisi aslinya, sudut pandang dari arah timur (untuk mengambil foto beranda) agak sempit, sehingga tidak bisa meng-caver seluruh halaman.
Wah, sedulur katut to sama Pak Gembala …. eh, Pak Gumbolo. Mbok aku dikatut-katutke juga jadi sedulur, biar berhak dapet bonsai, anggrek dan Jenmanii gratis (kalau nggak dapet gratisan, ya nggak usah dikatutke sedulur aja deh … hehe …)
Nggih, salame dinggo konco-konco langsung tak tekakke. Halloow konco-konco, ono salam seko Pak Plengkung … eh, Lengkung ki lhooo …
Mbak Enny, tampaknya selera kita memang sama …. suka yang kecil dan lucu. Nah, sebagai hadiah ekstra untuk Mbak Enny, saya tampilkan beberapa foto bagian dalam rumah kuecill ini. Lihat fotonya dulu, suatu saat kalau pas ke Yogya silahkan mampir …
Terima kasih banyak Mbak Tuti, Novelnya sudah ada di tangan saya (tapi belum selesai saya baca).
Mbak, ternyata memiliki apa yang kita punya jauh lebih indah dari tempat manapun di belahan dunia ini. Selamat menikmati beranda baru yang menurut saya nggak bisa dibandingkan dengan tempat lain ya kan Mbak, tapi hijaunya masih ada toh, salam. salam
Betul Mas Hadi, menyayangi, memelihara, dan menghargai milik sendiri adalah sesuatu yang harus selalu kita lakukan. Tentu saja bukan berarti lalu kita menutup mata terhadap milik orang lain. Kita perlu mempelajari milik orang lain, agar bisa memetik manfaat darinya. Yang kurang baik kita tinggalkan, yang baik kita tiru.
Orang bilang, ‘rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau’. Ah, rumput saya hijau juga kok …. hehe ….
Terimakasih atas perhatiannya, Mas Hadi.
bagus ya bu beranda “rumah merpatinya” setelah ditampilkan semuanya jadi keliatan hijau dan manisnya. Oh ya Bu novelnya terimakasih tapi belum juga dibaca udah di”gilir” sama temen-temen kantor, jadi saya sendiri malah belum membacanya. Temen sekantor yang belum kenal ibu jadi pingin tau siapa “Tuti Nonka” itu, akhirnya saya kasih alamat blog nya. Semoga bermanfaat
Mbak Hana, terimakasih ….
Foto beranda “Rumah Merpati” yang pertama memang hanya memperlihatkan kursinya saja, karena sudut pandang yang terbatas membuat pengambilan foto tidak memungkinkan untuk mencakup seluruh halaman. Foto yang saya tampilkan sebagai ‘image header’ sekarang ini sudah melalui pengolahan komputer, agar bisa menampilkan seluruh halaman dalam format ‘image header’ yang kecil panjang.
Novel saya digilir? Waduh, capek deh ….. hehe ….
Terimakasih sudah mempromosikan blog saya kepada teman-teman Mbak Hana. Jadi malu …..