TANA TORAJA, OBSESI PESTA KEMATIAN ….
Sejak belasan tahun yang lalu, Tana Toraja selalu menghadirkan imaji mistis dalam benak saya. Pesta penguburan yang demikian megah, mayat yang disimpan bertahun-tahun di dalam rumah, kerangka yang bergeletakan di gunung batu … semua membuat saya termimpi-mimpi ingin mengunjungi Toraja. Dan, my dream come true tanpa tersangka-sangka. Kesempatan datang begitu saja bagai bintang turun dari langit (bahkan hujan turun pun didahului oleh mendung, iya toh … )
Informasi awal tentang perjalanan yang harus kami tempuh dari Makassar ke Toraja agak mengecutkan hati. Lewat jalan darat, perjalanan makan waktu 8 jam, melalui jalan yang naik turun dan penuh belokan (terbayang deh pusing dan mabuknya). Via udara hanya 45 menit, tapi pesawatnya kecil dengan kapasitas hanya 8 orang, yang kesenggol nyamuk pun mungkin bakal rontok. Pilih mabuk atau pilih jatuh ke bumi? Jelas pilih sehat dan selamat dong …. gila kalee !
Ternyata bis yang kami tumpangi dari Makassar ke Toraja sangat nyaman. Dengan reclining seat yang empuk dan ruang kaki yang longgar, perjalanan dari jam 10 malam hingga jam 6 pagi kami lewati dengan tidur nyenyak. Tahu-tahu kami sudah tiba di depan Rantepao Lodge, hotel tempat kami menginap. Ohya, kami mengambil paket wisata dari Makassar, sehingga tiket bis (berangkat), hotel satu malam, mobil untuk berkeliling satu hari di Toraja, pemandu wisata, mobil dari hotel ke bandara Toraja, dan tiket pulang dengan pesawat sudah diatur oleh agen wisata. Untuk semua itu, kami kena pukul sebesar Rp. 900.000,- per orang. Biaya ini sebenarnya bisa ditekan menjadi sekitar Rp. 600.000,- kalau kita mengurus semua sendiri. Tapi mana sempaat …
Di depan hotel tempat kami menginap. Bangunan berarsitektur tradisional yang berada di lingkungan sawah hijau ini benar-benar membuat hati dan pikiran segaaar ….
Selesai sarapan, kami dijemput Arru, penduduk asli Toraja yang menjadi pemandu wisata kami. Dia mengatakan bahwa kami sangat beruntung, karena hari itu salah satu familinya sedang mengadakan pesta penguburan, dan dia akan membawa kami kesana. Lucky me! Tapi sebelum ke upacara Rambu Solo’ kami akan diajak melihat perkampungan asli Toraja di Kete’ Kesu (kosa kata Toraja banyak menggunakan apostrof ‘).
Kete’ Kesu adalah perkampungan dengan rumah-rumah asli Toraja yang disebut ‘tongkonan’. Tongkonan (berasal dari kata ‘tongkon’ yang berarti ‘duduk bersama-sama’) dengan atap berbentuk perahu ini dibangun berderet, semuanya menghadap ke arah utara yang merupakan simbol kehidupan. Rumah yang berbentuk perahu ini melambangkan asal-usul orang Toraja yang datang dari Yunan (Cina). Di depan rumah berderet lumbung padi yang disebut ‘alang’. Satu tongkonan bisa memiliki banyak alang, yang menunjukkan luasnya sawah yang dimiliki si empunya tongkonan. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (‘bangah’), karena batang palem ini licin sehingga Mister Mickey tidak bisa naik ke dalam lumbung untuk berpesta pora …
Di Kete’ Kesu juga terdapat para pengukir, yang membuat ukiran-ukiran untuk dekorasi rumah, patung (‘tau-tau’), lukisan maupun kerajinan souvenir. Rumah Toraja selalu dihias dengan simbol-simbol yang diukir pada kayu, dan masing-masing simbol tersebut memiliki arti tertentu. Tidak jauh dari deretan tongkonan, terdapat sebuah kuburan. Sebagian mayat-mayat disimpan dalam sebuah bangunan mirip rumah, sebagian dimasukkan dalam lubang-lubang yang terdapat di bukit-bukit batu.
Sebuah makam berbentuk tongkongan. ‘Tabung’ berdiamater 3 m di tengah bangunan itu dipakai untuk menyimpan mayat satu keluarga.
Dari Kete’ Kesu, kami menuju ke tempat pesta pemakaman Rante Solo’ dilaksanakan. Sepanjang perjalanan, saya dan sepupu saya (namanya juga Tuti, masih ingat kan?), berdecak kagum melihat hamparan sawah hijau yang berteras-teras, dengan rumah-rumah asli Toraja yang berdiri cantik di sela-sela pepohonan. Sungguh pemandangan alam yang elok nan rupawan, lebih indah dari foto-foto yang sering kita lihat di kartu pos.
Hari itu adalah hari kedua pesta pemakaman (yang akan dilaksanakan 7 hari), yaitu waktu yang disediakan bagi para tamu untuk datang melayat. Menjelang tiba di ‘rante’, jalan mulai dipadati mobil-mobil para pelayat. Akhirnya jalan yang hanya bisa dilewati satu mobil itu macet … cet. Dandanan para pelayat menjadi pemandangan sendiri yang menarik. Mereka mengenakan busana hitam dengan motif dan asesori tradisional, tapi banyak anak-anak mudanya menggenggam ponsel. Kuping saya malah sempat menangkap musik rap dari ponsel mereka. Sungguh perpaduan yang unik : alam asli yang indah, tradisi kental, dan musik rap …
Karena mobil tak bisa lagi maju, Arru mengajak kami berjalan kaki ke tempat upacara. Untung saya memakai sepatu Kickers, sehingga melompat-lompat di pematang sawah terasa ringan dan menyenangkan. Di depan dan di belakang kami ratusan pelayat juga berjalan kaki beriringan. Tiba-tiba saya mendengar suara “nguiik …. !!” yang keras dan panjang. Arru menunjuk ke pematang di ujung lain sawah, dan terlihatlah empat orang menggotong babi hitam gemuk (mana ada sih babi langsing?) yang diikat ke pikulan bambu. Babi itu adalah sumbangan yang dibawa pelayat, selain kerbau yang disebut ‘tedong’. Karena babi bertubuh gemuk dan malas berjalan, maka orang harus rela mengangkat babi-babi itu ke tempat upacara (habis kalau ditunggu babi itu berjalan sendiri, bisa-bisa baru tiba di ‘rante’ setelah upacara selesai … ).
Puluhan bangunan panjang mengelilingi ‘rante’, babi-babi bergeletakan dalam ikatan batang bambu.
Lokasi upacara sungguh meriah bukan kepalang. Puluhan bangunan tradisional dengan hiasan warna cerah berjajar mengelilingi tanah lapang, babi-babi bergelimpangan dalam ikatan batang-batang bambu, kerbau-kerbau digiring dan diikat di tonggak-tonggak. Rombongan tamu yang datang terlebih dahulu melakukan ‘check in’ kepada penerima tamu, mendaftarkan nama keluarga, jumlah kerbau dan babi yang disumbangkan, dan membayar pajak untuk hewan-hewan sumbangan itu. Pajak seekor babi Rp. 50.000, dan seekor kerbau pasti jauh lebih tinggi (saya lupa menanyakan). Pajak itu dipergunakan untuk kepentingan desa dan masyarakat. Rombongan tamu menunggu di luar arena upacara, sementara panitia melaporkan kedatangan mereka kepada pemimpin upacara. Mereka baru masuk beriring-iringan setelah pembawa acara mengumandangkan kehadiran mereka melalui sound sistem dan iringan musik, disambut oleh rombongan tuan rumah dengan iring-iringan pula.
Rombongan pelayat masuk ke arena, dijemput oleh keluarga yang melaksanakan upacara
Keluarga si empunya hajat bersiap-siap menyambut rombongan tamu yang datang. Pakaian mereka sungguh indah, dengan untaian manik-manik yang color-full …
Kedatangan rombongan tamu disambut dengan ritual tari, nyanyi, kata-kata sambutan, sajian minuman, makanan, dan rokok. Babi-babi sumbangan pun digotong ke tengah arena, kerbau-kerbau digiring masuk. Tamu-tamu dipersilahkan duduk di puluhan bangunan-bangunan yang ada disekeliling arena upacara. Pada saat itu, sekelompok ibu-ibu memukul musik lesung mengiringi tarian “ma’badong” atau “ma’randing”.
Mayat orang yang akan dikuburkan ditempatkan di sebuah ‘erong’ (peti mayat) yang indah. Bentuk erong ini menunjukkan kelas sosial dan jenis kelamin orang yang meninggal. Untuk kalangan bangsawan, erong berbentuk rumah adat, sedang untuk rakyat biasa berbentuk babi (untuk perempuan) dan kerbau (untuk laki-laki). Di bawah erong ditempatkan ‘tau-tau’, patung kayu dari orang yang meninggal tersebut. Untuk membuat tau-tau ada syarat tertentu, yaitu keluarga harus menyembelih paling tidak 24 ekor kerbau. Jadi kalau kita orang Toraja miskin, jangan mimpi kelak sesudah mati akan diabadikan dalam sebuah patung ….
‘Erong’ yang berisi jenazah diletakkan di bagian atas. Laki-laki tua yang duduk di bawahnya dalam pakaian merah dan ikat kepala hitam itu adalah ‘tau-tau’ dari orang yang meninggal.
Kerbau adalah binatang paling beruntung di Toraja. Ia dirawat lebih dari merawat bayi. Kerbau-kerbau itu gemuk, makmur sentosa, sehat sejahtera, dan jangan berharap melihat mereka disuruh bekerja menarik pedati seperti di Jawa. Oh, no! Mereka diperlakukan seperti putri dan pangeran. Gaji seorang perawat kerbau bisa mencapai 1 juta per bulan, lebih besar dari gaji baby sitter di Jakarta. Pantas saja, karena harga seekor kerbau berkisar antara 30 – 150 jeti, tergantung jenisnya. Silahkan mengambil kalkulator untuk menghitung berapa biaya pemakaman jika harus menyembelih 24 kerbau dan 100 babi ….
Kerbau ‘tedong’ seperti ini sangat mahaall … sama dengan harga sebuah Avanza.
Babi dibunuh tidak dengan cara disembelih, tapi ditusuk jantungnya. Sementara kerbau disembelih dengan cara dipegang kepalanya dalam posisi berdiri, lalu sang jagal mengayunkan golok ke lehernya dengan sekali tebas. Sungguh mati saya tidak mau menyaksikan pembantaian-pembantaian itu, takut sesudahnya tidak doyan makan dan hidup saya berakhir dengan mati kelaparan …
Jangan salah, babi dan kerbau itu bukan sumbangan gratis, tapi ‘hutang’ yang harus dibayar jika kelak keluarga yang menyumbang ganti melakukan upacara penguburan. Bagaimana kalau keluarga yang punya ‘hutang’ kebetulan tidak punya uang untuk ganti menyumbang? Tidak ada alasan untuk itu! Pokoknya harus ada babi atau kerbau, tidak peduli dengan cara pinjam sana-sini atau menggadaikan harta benda. Tidak bisa membayar ‘hutang kerbau’ adalah aib yang tak tertanggungkan bagi orang Toraja.
Dua orang ibu ini adalah anggota rombongan yang melayat. Mereka membawa seekor kerbau dan sepuluh babi. Saya hanya minum kopi saja (kopi Toraja ueenak tenan …), tidak berani menyentuh makanannya.
Masyarakat Toraja welcome terhadap tamu maupun turis yang datang ke upacara pemakaman. Kita boleh melihat-lihat, memotret, dan mengikuti seluruh acara dengan leluasa. Untuk menunjukkan kesopanan dan rasa ikut berduka, sebaiknya kita membawa sekedar bingkisan (tidak usah babi, cukup satu slop rokok saja). Oh ya, kita juga diharapkan berpakaian sopan, dan sebisa mungkin jangan memakai baju berwarna merah.
Upacara Rambu Solo’ masih akan berlangsung berhari-hari lagi, menghabiskan dana ratusan juta bahkan milyaran lagi, tapi kami harus segera cabut untuk mengunjungi tempat-tempat lain. Kemana? Melihat kuburan, tengkorak dan tulang belulang yang berserakan ….
Kuburan orang Toraja bisa berupa bangunan seperti rumah, lubang yang dipahat di gunung batu, atau gua alam. Di Lemo, terdapat gunung batu yang berisi sekitar 70 lubang kuburan. Setiap lubang berisi mayat satu keluarga. Dari luar, lubang itu hanya terlihat pintunya saja. Kami tidak masuk, karena pintu-pintu lubang itu cukup tinggi, belasan sampai puluhan meter. Mayat dimasukkan ke dalam lubang dengan cara dikerek dengan tali. Konon, pada zaman dahulu ada sebagian masyarakat (khususnya di Mamasa) yang ‘mengirimkan’ mayat ke kuburannya dengan kekuatan gaib. Jadi dari pada susah-susah mengangkat mayat ke tempat tinggi, mayat itu ‘disuruh’ berjalan sendiri dengan ilmu tertentu.
Di dinding tebing batu ditempatkan banyak tau-tau, menunjukkan bahwa yang dikubur disitu adalah kalangan beruang (maksud saya ‘banyak uang’, bukan beruang kutub …). Untuk membuat satu lubang, dibutuhkan biaya 30 jeti. Maklum, pekerjaan memahat batu itu dilakukan secara manual, dan membutuhkan waktu 6 – 9 bulan.
Tau-tau berjajar di dinding tebing batu di Lemo.
Selain lubang di tebing batu, kuburan Toraja juga dijumpai di gua-gua alam. Di Londa, kami memasuki gua alam yang penuh berisi tengkorak dan tulang-belulang. Banyak juga peti-peti mati yang masih baru, berisi mayat-mayat yang baru datang. Gua itu gelap, sehingga untuk masuk ke dalam kita harus menyewa lampu dan ditemani seorang pemandu lokal. Lorongnya juga terjal dan licin, jadi watch your step please. Beberapa bagian lorong tingginya hanya satu meter, sehingga kita harus membungkuk melewatinya. Herannya, saya yang aslinya penakut nggak ketulungan, fine-fine saja melihat deretan tengkorak dan tumpukan tulang manusia. Gua juga tidak berbau amis atau busuk.
Tengkorak dan tulang-belulang bergeletakan di dalam gua.
Jika bayi meninggal sebelum giginya tumbuh, maka mayatnya tidak dikuburkan di lubang batu atau di gua, tetapi dimasukkan ke dalam pohon yang disebut ‘passiliran’. Ini dilakukan oleh para pengikut arwah leluhur yang disebut ‘aluk todolo’. Pohon yang dipilih adalah pohon tarra’, karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu bagi si bayi. Dengan memasukkan mayat bayi ke pohon ini dianggap bayi dikembalikan ke rahim ibunya. Pohon tarra’ cukup tinggi, dengan garis tengah bisa mencapai satu meter. Lubang tempat menyimpan mayat bayi ditutup dengan ijuk.
Pohon tarra’ di antara rumpun bambu yang lebat menjadi tempat bersemayam mayat-mayat bayi dalam suasana tenteram seperti di rahim ibu.
Ketika perut mulai melilit kelaparan, apa yang bisa dimakan? Ada makanan khas Toraja bernama pa’piong, yaitu daging babi, kerbau, ayam atau ikan yang dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar diatas bara api. Tapi jika kita memesan makanan ini, sebaiknya santaplah mie instan terlebih dahulu yang bisa disiapkan dalam 2 menit, karena untuk memasak pa’piong dibutuhkan waktu 3 – 4 jam, sehingga selama menunggu pa’piong masak kita tidak terkapar kelaparan. Jika anda muslim, pilihlah daging ayam atau ikan. Rasanya sungguh uuenaak, nggak ada duanya di dunia …
Budaya dan alam Toraja benar-benar ‘melong tongan’, indah sekali. Kami menyesal tidak sempat ke Batutumonga, sebuah desa kecil di lereng gunung Sesean yang terletak di Toraja Utara. Panorama di desa ini luar biasa indah. Waktu sangat terbatas, dan kami hanya mengunjungi obyek-obyek wisata di Toraja Selatan. Tapi obyek-obyek penting sudah kami lihat semua, mulai dari berbagai jenis kuburan hingga pesta pemakaman yang spektakuler.
Acara selanjutnya adalah mencari souvenir yang bisa dibawa pulang untuk kenang-kenangan. Kerajinan Toraja cukup indah dan beragam, mulai dari kain tenun hingga ukiran dan lukisan. Kain tenun yang masih asli menggunakan pewarna alami seperti cabai untuk warna merah, daun indigo untuk biru, dan sebagainya. Harganya bervariasi mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
Kain tradisional Toraja yang ditenun secara manual.
Lukisan alam, miniatur tongkonan dan tau-tau.
Harga lukisan yang diukir dengan tangan pada foto di atas adalah 1,2 jeti untuk turis asing, tapi untuk saya si penjual rela melepasnya dengan harga 550 rebu aja (tampang saya keliatan orang miskin ‘kali, jadi dia jato kecian …. uhuk uhuk)
Ah, time is up! Kami harus pulang, meninggalkan Tana Toraja yang indah bagai sekeping surga di bumi.
Kami pulang dengan pesawat untuk menghemat waktu. Jarak dari hotel kami di Rantepao ke bandara Pong Tiku bisa ditempuh dengan mobil selama 45 menit. Pong Tiku adalah pahlawan Toraja, yang dengan gigih melawan penjajahan Belanda. Bandara Pong Tiku kecil saja, hanya buka pada hari Selasa dan Jum’at jam 10.00 – 11.00, saat pesawat yang dioperasikan oleh Aviastar datang dari Makassar.
Pesawat Casa 212 ini ternyata tidak sekecil yang saya duga. Kapasitas penumpangnya 22 orang. Sebenarnya saya berharap naik pesawat yang lebih kecil, yang hanya muat 8 – 10 orang, agar benar-benar memperoleh pengalaman baru yang memacu adrenalin … Semula, ada 17 orang yang akan naik pesawat ini dari Makassar, tapi ternyata 13 orang membatalkan penerbangan sehingga hanya ada 4 penumpang turun di Toraja. Dari Toraja juga hanya ada 4 penumpang, kami berdua dan dua orang turis dari Perancis. Belakangan baru saya tahu, sehari sebelumnya sebuah pesawat Casa 212 milik TNI AU jatuh menabrak Gunung Salak, menewaskan 18 penumpangnya. Karena tidak membaca koran dan tidak nonton teve, kami ketinggalan berita, dan dengan riang gembira naik pesawat yang saudara sepabriknya baru saja jatuh berkeping-keping terhempas ke bumi ….
Bandara Pong Tiku dengan panorama pegunungan yang ‘melong tongan’ ….
Hwalaah … sempet-sempetnya mejeng di depan Casa 212 yang mungil dan cantik.
Selamat tinggal Toraja, it’s very nice to visit this beautiful paradise ….
























keren banget foto2nya
Assalamualaikum….
Selamat datang Bu.
Saya sudah lama menunggu tulisan ibu, oleh-oleh dari jalan-jalannya.
Waduh ceritanya asyik banget.
Fotonya juga bisa bercerita. Keren walaupun katanya dari fotografer amatir. Hehe
Kapan yaa bisa keliling-keliling ke Indonesia Timur yang eksotik.
v iriiiiiii hehehe
Bu Tuti, selamat atas perjalanannya yang luar biasa. Minum kopi Toraja? Alamak, impian itu, sungguh beruntung menikmati kopi terenak no 2 didunia (no 1 kopi luwak). Kopi Toraja di Jawa campuran semua. Dengan deskripsi yang detil dan cantik sepertinya saya tinggal menunggu terbitnya buku “Menjadi Saksi Bagi Keindahan Nusantara” by Tuti Nonka. Sebuah perjalanan panjang dari cerpenis menjadi Traveler Writer. Kalau panjenengan buka bisnis travel agent pasti laris nih.
Janjimu lho Mbak, menampilkan photos duo-Tuti.
Mana hayooo…
Matur nuwun
Halo Nel …
Terimakasih. Sebenarnya yang keren adalah obyek yang difoto. Saya sih tinggal klik saja …
Hai Irna,
Cerita lengkapnya (behind the screen …. halah!) lebih asyik lagi, tapi kalau ditulis semua nanti jadi novel. Memang saya hanya fotografer amatir, kalau profesional sudah buka studio foto dong.
Ayo mengunjungi Indonesia, Visit & Love Indonesia, sebelum berwisata ke lain negara. Pertengahan Juli ini di Lombok dan Bali akan ada event-event besar. Kesempatan yang bagus untuk berwisata kesana.
Veni, halo cantik …
Ayuk kapan kita bisa jalan-jalan bareng?
Ohya, saya coba menulis komentar di blog Veni di Blogspot kok ribet ya? Bolak-balik disuruh ngisi identitas dan kata sandi melulu …
Dear Pak Eko,
Iya, Pak …. jalan-jalan melihat Indonesia memang ruarr binasa. Saya sedang menunggu kesempatan untuk pergi ke Lombok, Manado, Aceh dan Danau Toba. Mudah-mudahan saja ada teman yang tiba-tiba nyamperin … hehe.
Kopi Toraja memang ueenak, lebih enak dari nescafe yang setiap pagi saya minum di rumah. Di Toraja banyak perkebunan kopi milik orang Jepang. Heran, kenapa orang kita sendiri nggak bikin perkebunan di sana ya?
Buku “Menjadi Saksi Keindahan Nusantara”? Wah, ide bagus tuh Pak. Kayaknya saya perlu mencari sponsor yang mau membiayai perjalanan saya berkeliling Indonesia. Badan Wakaf UII mau nggak ya … hehehe, mimpi ‘kali ye ….
Nah, kalau sekalian buka bisnis travel agent, kayaknya cocok. Saya bisa ikut keliling nusantara, numpang dibiayai tamu yang memakai jasa travel agent saya. Siip!
Sigit, hmm …
Dulu aku memang suka dipotret, tapi sekarang lebih suka memotret. Dari tigaratusan foto-foto perjalanan kemarin, sungguh mati fotoku hanya sekitar sepuluh buah. Foto berdua dengan Tutik hanya ada satu thok thil, dan karena dijepret oleh orang lain, hasilnya blur … Jadi sori kalau nggak lolos seleksi masuk blog (halah!).
Tapi di tulisan tentang Makassar aku upload foto yang ada Mbak Simi. Tutik memang tidak tampak, karena sedang asyik cibang-cibung di air terjun Bantimurung.
Ini dia Bu Tuti yang paling aduhai membuat narasi cerita perjalanan, dengan foto-foto yang membuat orang kepingin ke sana
Tuti :
Terimakasih … mestinya saya dipekerjakan Dinas Pariwisata untuk mempromosikan Indonesia ya … hehe
Numpang nyimbrung bung. Mana yang duluan, Toraja atau Batak ?
Jawabanya adalah :
a. (danau) TOBA (Toraja-Batak).Sebuah bukti konkret secara alami. Jadi Toraja yang ada lebih dulu kan ?
b. Longa Banua. Orang Batak tidak sanggup membentuknya seperti orang Toraja, walaupun sudah pake paku 25 cm untuk memperkuat bangunannya. Jadi orang Batak belajar kepada orang Toraja.
c. Nama Minangkabau. Menang karena kerbau. Konon ada pertarungan antara nenek moyang mereka memperebutkan siapakah yang duluan dan paling jago ? Digunakanlah adu kerbau. Orang Batak memilih kerbau jantan yang paling perkasa dari Tana Karo, sedang orang Toraja memilih seekor kerbau yang baru lahir dari bumi To Padatindo. Menanglah kerbaunya orang Toraja karena menyusui tetek kerbau orang Batak.
Jadi orang Toraja unggul untuk ketiga kalinya.
d. Pertarungan keempat terjadi antara jagoan Batak dan Toraja, yakni berlayar seperti di danau Toba. Terakhir ini orang Toraja menang lagi di laut. Banyak putera orang Toraja menjadi kapten kapal, sedang orang Batak kebanyakkan menjadi advokat dan penghuni LBH di Indonesia. Jadi kalah di laut, lalu naik ke darat menggertak sesamanya.
Selamat direnungkan kebenarannya.
Frans,
Berapa lama nih dikasih waktu untuk merenung?
Iya deh … jadi saya merenung juga dulu ….
Tetap aja orang2 Batak lebih unggul ces dr Toraja..hehhe.
Dari Advocad, Artis, Pejabat… kebanyakan orang Batak,,
Umbanakua sangmane (semaoga kita seumuran)??
Waduh, saya nggak ikut campur deh pada perseteruan Toraja – Batak ini ….
tulisan ibu sangat baik sekali. apakah ibu seorang wartawan? walaupun orang toraja belum tentu dapat menulis dengan sebaik yang anda tulis…..
selamat,….semoga tulisan anda bermanfaat bagi orang banyak yang membutuhkan informasi tentang toraja.
have a nice write….
Terimakasih banyak Eri,
Saya duluuu … pernah jadi reporter buletin mahasiswa. Pernah juga nulis cerpen dan novel (beberapa fiksi saya bisa dibaca di category ‘Buah Pena’). Ya, saya juga berharap tulisan-tulisan saya tentang keindahan alam dan budaya Indonesia akan menggugah pembaca untuk mengunjungi dan mencintai kekayaan negara kita ini. Apalagi sekarang sedang dicanangkan “Visit Indonesia Year 2008″.
Tanks so much for visiting, and have a nice time to Eri …
kabar toraja bagaimana sekarang…
oya, aq salut ma postingannya….
bagus bangat!!!!
pa lagi…
pake foto khas.. toraja lagiii..
waduuhhh!!!! jadi kepingin liatin toraja ni…
da lama ngak ke toraja jadi…
Yeah … moga-moga sih Toraja masih di’sono’, di Sulawesi Selatan. Tengkiu udah baca dan kagum (haiyah!) pada postingan gue. Dah lama nggak ke Toraja? Berapa abad emang?
oya,,, bisa kamu bisa kontak ja di alamat emailq ini..
yohan202000@yahoo.com
Ok, seeep. Emang sodara kamu ada 202000?
wah, tulisannya bagus dan sangat detail. I like this blog
Tuti :
)
Terimakasih. I like this blog too … (lho?? ya iyalaah … punya sendiri … wakakaka
Kurre Sumanga’ (Terima kasih) Ibu Tuti atas tulisannya, yang secara tidak langsung sudah ikut mempromosikan Tondok Toraya dengan keindahan alam dan budayanya yang tidak ada duanya di dunia, namun sedang matisuri dalam hal pariwisata.
semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi baik kepada kami orang toraja, maupun semua orang Indonesia untuk bisa melestarikan warisan leluhur kita itu, serta bisa memajukan sektor pariwisata dan ekonomi di toraja bahkan seluruh daerah wisata.
Btw berdomisili dimana yach?
Regards,
Tuti :
Terimakasih kembali, Gideon. Memang Toraja sangat indah baik alam maupun budayanya. Rasanya semua anak sekolah sudah pernah mendengar dari para guru tentang Toraja, tetapi yang bisa berkunjung kesana mungkin sangat sedikit. Mudah-mudahan tulisan saya bisa menggugah keinginan saudara-saudara setanah air untuk berkunjung ke Tana Toraja, bahkan juga pembaca yang ada di luar negeri. Tentu tulisan ini jauh dari lengkap, dan masih banyak tulisan lain yang akan menyempurnakan informasi tentang Toraja.
Oh ya, saya tinggal di Yogyakarta.
Waks… pantas aja tulisannya kek gitu… Sempat heran, jago banget nih orang ngarang, ternyata…
Dan salut banget ceritanya benar2 apa adanya, tanpa unsur SARA sedikitpun (Jiwa Seniman Kali yak). Cuma sedikit tersenyum ttg Handphone, kesannya orang Toraja katrok banget yak, padahal seingat saya, taon ‘97 – ‘98an sudah ada Nokia 8210 disana.
Ok, success buat anda.
Tuti :
Terimakasih MuenK …. ini tulisan santai aja kok. Kalau serius-seriusan kan bikin capek. Tentang handphone, eh … padahal nggak bermaksud mau ‘ngatrokin’ orang Toraja lho ….
Wah, tahun 97-98 udah ada Nokia 8210 di Toraja? Pasti miliknya MuenK ya …
Terimakasih sudah berkunjung
Oh…ya?
Saya alumni UGM tahun 1998-2003, berarti kita sama2 wong Jogja yach…kapan2 saya singgah di Jogja deh..
Mungkin Toraja ga ada apa2nya dibanding Jogja, tetapi semoga ke depan, Industri Pariwisata bisa mendekati Jogja.
Oh iya…judulnya seharusnya Mellong Tongan, bukan Melong..he5x.
Melo = Bagus/Cantik…(bahasa halus/tinggi)
Mellong = bagus/cantik (bahasa pergaulan)
Melong = Nama daerah di Jawa Barat kalo ga salah…
Bahasa toraja susah yach…he5x.
Regards,
Tuti :
Alumni UGM tahun 2003? Sekarang balik ke Toraja lagi? Kapan-kapan tengoklah Yogya, mengenang masa kuliah.
Ah, Toraja tidak kalah kok dibanding Yogya. Dari segi alam, jelas Toraja lebih indah. Dari segi budaya, Toraja sangat unik. Hanya dari segi ukuran kota, Rantepao memang lebih kecil dari Yogya.
Terimakasih koreksinya. Memang bahasa Toraja sulit sekali. Saya tanya-tanya ke driver dalam perjalanan ke Pong Tiku, waktu mau pulang. Wah, telinga saya nggak nangkep. Terpaksa minta dieja … tulisannya kayak apa … hehehe
Salam,
Saya bekerja di Jakarta Mbak or ibu yach?
tetapi tiap tahun pulang ke Toraja…
Iya mungkin benar juga kata pepatah…rumput tetangga sering kelihatan lebih hijau yach…, semoga impian kami dan kita semua ke depannya Toraja lebih baik.
Sejak lulus kuliah saya sudah 3 kali ke Jogja, tapi ga lama di sana, paling 1 smp 2 hari.
Salama’
Tuti :
Silahkan panggil saya apa aja, nggak ada bedanya kok …
Ah …. syukurlah kalau setiap tahun bisa pulang ke Toraja, juga sudah sering menengok Yogya.
Untuk Toraja, mungkin yang diperlukan adalah promosi lagi, terutama ke luar negeri, karena budaya Toraja sangat menarik bagi orang asing (terutama budaya pemakamannya)
wow…., keren abis mbak, salut buat mbak yang orang jawa tp mau nulis mengenai toraja, mana orang toraja itu mala gak?
Gideon carles harus niru mbak tuti iya kan?
salut bangat, tx
Tuti :
Terimakasih Theo. Saya yakin Gideon juga akan mempromosikan Toraja dengan caranya sendiri, betul kan Gideon?
Salam
wah thanks bangat atas kunjungannya ke toraja. moga rekan2 di toraja jg bisa sadar akan keindahan yang di tawarkan dan tetap menjaga kelestariannya. .dan indonesia bisa bangga akan pariwisatanya sendiri dari pada terlalu bangga dengan dunia luar. trimakasih sekali mbak atas kunjungannya.
Tuti :
Ya, Toraja memang indah sekali, alam maupun kebudayaannya. Sayang sekali saya tidak sempat ke Batutumonga, yang konon juga sangat indah. Semoga suatu saat bisa kembali ke Toraja lagi.
Thanks ibu Tuti, infonya bagus buanget bikin penasaran nih.
tulis lagi donk !!! pasti ada yang kelupaan
saya perna ke londa (kuburan batu) trus salah satu tengkorak yang bertuliskan “Tuti” pada bagian jidad menggunakan stabilo.
Ini Tuti yang mana ya??? tanyaku dalam hati
Iya sekedar tambahan info aja :
Rumah asli toraja tidak menggunakan paku sebagai penyambungnya tetapi “pen” (Pin- indonesia).
Tuti :
Terimakasih sarannya, tapi untuk menulis Toraja lagi … waduh, apa pembaca nggak bosan nanti?
Ha???!! Ada tengkorak di Londa bertuliskan “Tuti”? Tapi pasti itu bukan tengkorak saya, soalnya milik saya masih saya pakai nih …
Juga bukan saya yang berbuat vandalism dengan mencoret-coret situs budaya. Oh, beginilah nasib pemilik nama kodian …
Ya iyala mbak, mana bisa tengkorak jawa diparkir di londa???
maybe sala satu penggemar tulisan mbak tuti ini or emang ada tuti lain kali yee???
ora opo – opo mbak???
yang pasti dengan membaca tulisannya, mbak Tuti berjiwa nasionalis n cinta tanah air yang luar biasa
Jadi Caleg aja ya mbak (bidang pariwisata ataau apalah yang sejenisnya)
ntar kita minta dukungan orang – orang toraja
Aq jadi irih nie mbak???
Tuti :
Pastilah itu Tuti yang lain ….
Berjiwa nasionalis? Waduh, nggak berani deh ngaku begitu. Tapi kalau cinta tanah air, memang iya. Semakin banyak kita melihat kekayaan alam dan budaya kita, semakin kita cinta tanah air kita. Makanya kalau ada kesempatan, kunjungilah berbagai tempat di tanah air, agar kita kenal dan cinta …
Jadi caleg? Waduh, nggak deh …..
waduh seruh banget ceritanya. thanks banget ya. aku bisa tau apa itu adat itu toraja
Tuti :
memang seru …. makanya kalau ada kesempatan, berwisatalah ke Toraja, supaya lebih mengenal tanah air kita …
petruz datang lagi ni. . saya udah lama juga di jakarta jadi kalau kangen ama toraja tinggal buka dan baca tulisan mbak. . trimakasih buat tulisannya paling tidak membuat rasa kangen sedikit terobati. . sukses selalu.
Tuti :
Terimakasih telah berkunjung ke blog ini kembali. Memang Toraja demikian indah, jadi pantas saja kalau orang asli Toraja selalu merindukan kembali ke kampung halamannya.
Salam sukses ya.
Ok Toraja Is the Bes ..
Q gk bs ngomntr yg bnyak-2 coz Emg itulah Adat toraja ,,, dgn kata lain Puangna Tau Toraya.
============ I Miss toraja ==========
Tuti :
Absolutely … Toraja is the best!
bertuntung skali ibu sempat menyaksikan rambu solok… pertengahan bulan ini akan ada rambu solok di sana… i must be there!!!
papiong…hemmm luar biasa!!!
kalo londa & kete’ kesu saya sdh sempat mampir ibu, foto foto ada di bro neo’s gallery
Tuti :
Iya, saya memang beruntung sempat menyaksikan rambu solok. Pesta penguburan itu memang banyak dilakukan di bulan-bulan Juni, Juli, dan Agustus, yaitu pada musim liburan dimana anggota keluarga yang sudah tersebar bisa pulang kampung dan berkumpul . Kalau Bro Neo bisa menyaksikan pertengahan September nanti, baguslah.
Ok, saya akan mampir ke Bro Neo’s Gallery. Pasti foto Bro oke punya …
TORAJA IS THE BEST !!!
GW BANGGA SBG ORANG TORAJA.
HAHAHAAAA…..
Tuti :
Emang harus bangga. Aku juga bangga kok jadi orang Indonesia ..
Saluuutt..
Tuti :
Terimakasih …
[...] upacara Rambu Solok bagi neneknya. (*Dengan semangat ‘45 saya Toraja supaya tidak kalah dari Ibu Tutinonka di sini*). Salah satu acara yang diadakan adalah mappasilaga tedong. Rencana semula akan ada beberapa [...]
Oalah… beberapa hari gak “ketemu”, ternyata sudah melanglang buana ke tana toraja… asyik banget nih pengalamannya.
Tradisi seringkali menjadi hukum yang tak terelakaan di masyarakat kita. Demi marwah keluarga, maka tradisi yang sangat memberatkanpun tetap dijalankan. 24 kerbau dan 100 babi itu tentulah bukan biaya yang sedikit. Tapi, begitulah tradisi, ia akan mampu mengalahkan akal sehat siapapun…
Berikutnya mau jalan-jalan kemana lagi bu? Melu ya…?
Tuti :

Yeee … Uda, ini jalan-jalan sudah lebih setahun yang lalu … Uda belum periksa tanggal postingnya ya …
Saya menduga, Uda Vizon meng-klik posting ini dari posting Bro Neo ya?
Memang tradisi rambu solok di Toraja itu sangat memberatkan keuangan orang Toraja, tetapi mereka mau tidak mau memang harus melaksanakannya kalau tidak ingin dikucilkan dari masyarakat. Memang susah ya …
Uda masih di Sumbar nih? Aku jane yo pengin melu … hehehe …
eh iya, baru nyadar kalau ini postingan lama, hehehe…
bener, saya nyomot dari si bro…
saya sekarang sudah di curup bu tuti, cerita soal padang sudah ada tuh di blog…
Tuti :
Terimakasih kepada Bro Neo yang sudah membuat Uda mencomot posting lama saya
Oke, saya langsung meluncur ke Surau Inyiak …