BANDUNG, KOTA KEMBANG DAN PARIS VAN JAVA (DULU) …
Kalimat “Ini teh Bandung” bisa punya dua arti : ‘inilah Bandung’ atau ‘ini minuman teh ala Bandung’. Teh yang pertama adalah bahasa Sunda yang tidak punya arti tertentu, tapi sering dipakai untuk membuat sebuah kalimat nyaman diucapkan dan enak didengar. Teh yang kedua berbeda rasa dengan teh Yogya : teh Sunda bening dan tawar, teh Jawa nasgitel (panas-legi-kenthel) …
Bandung selalu punya pesona tersendiri, terutama bagi orang Jakarta yang ingin melewatkan akhir pekannya jauh dari kejenuhan hidup di ibukota. Bandung terletak pada ketinggian 768 meter di atas muka laut, membuat kota ini memiliki udara yang dingin. Di sekitar Bandung banyak terdapat perkebunan yang dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda. Dulu, Bandung dikenal dengan sebutan Paris van Java, karena pada zaman Belanda kota ini sangat indah dengan hotel-hotel mewah, restoran, kafe, dan butik. Tapi Bandung sekarang rasanya sudah keteter jauh dibanding ‘saudara kembar’nya yang menjadi ibukota Perancis itu. Setidaknya, udara Bandung sudah tidak sedingin dulu lagi, dan lalu lintasnya mulai padat, bahkan macet pada hari-hari libur.
Saya hanya punya waktu 7 jam di Bandung, dari jam 11.00 siang hingga jam 18.00. Apa yang bisa saya lihat dalam waktu sesingkat itu? Oh, ternyata lumayan juga. Saya mengunjungi Gedung Sate yang menjadi ikon kota Bandung, kampus ITB, Alun-alun dan Masjid Agung Bandung, Gedung Asia Afrika yang bersejarah, Gallery Seni Nyoman Nuarta, dan ngubek-ngubek outlet-butik di sepanjang Jalan Riau.
Gedung Sate yang masih terpelihara dengan baik. Nama ‘Sate’ diperoleh dari bentuk atap di bagian tengah yang menyerupai sate.
Gedung Sate yang dicat putih ini tampak cantik dan terawat dengan baik. Taman di depannya tumbuh subur dan dipotong dengan rapi. Gedung ini dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1920. Pada saat itu, Pemerintah Belanda berencana memindahkan ibukota Indonesia (Hindia Belanda) dari Batavia (Jakarta) ke Bandung. Tapi rencana pemindahan ini batal karena terjadi Perang Dunia II yang berbuntut pada berakhirnya kolonialisme Belanda atas Indonesia. Hingga sekarang gedung ini masih dipakai sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat. Eh, jadi aktor muda yang ganteng, Dede Yusuf, sekarang berkantor di sini sebagai Wakil Gubernur ya? Wah, pasti para pegawai kantor gubernuran jadi bersemangat masuk kantor. Siapa tahu, suatu saat di-casting main di salah satu spot iklan, film atau sinetron ….
Gedung Sate dirancang oleh arsitek Belanda, J Gerber. Bangunan ini merupakan contoh perpaduan harmonis antara gaya arsitektur Barat dan Timur, antara lain tercermin pada gaya Italian Renaissance pada sayap barat dan struktur pagoda Thailand pada bagian tengah. Nama Gedung Sate diperoleh dari bentuk atapnya yang menyerupai sate.
Pada tahun 1810, atas perintah Daendels, R.A. Wiranatakusumah yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala administratif Bandung memindahkan kantornya dari Krapyak yang terletak di Bandung Selatan ke tempat yang sekarang menjadi lokasi alun-alun Bandung. Wiranatakusumah membangun Dalem, Masjid Agung, dan Pendopo dengan arsitektur klasik. Pendopo dibangun dengan bentuk gunung Tangkuban Perahu, yang dipercaya memiliki nilai mistis. Sekarang Alun-alun Bandung sudah direnovasi menjadi taman yang didominasi bangku beton, demikian juga Masjid Agung sudah dibangun menjadi masjid baru dengan arsitektur modern.
Gedung Bank Indonesia, salah satu bangunan peninggalan Belanda yang masih terawat dengan baik
Bandung merupakan laboratorium alam untuk arsitektur gedung. Banyak gedung dengan gaya art deco dibangun pada zaman Belanda, dan masih difungsikan hingga kini. Salah seorang arsitek yang banyak membangun gedung dengan gaya art deco adalah Henri Maclaine-Pont, yang memperkenalkan pentingnya mengkombinasikan gaya arsitektur bangunan dengan budaya masyarakat lokal.
Pada tahun 1920, Pont membuat perencanaan dan membangun gedung universitas teknik pertama di Indonesia, yaitu Technische Hogeschool te Bandung yang sekarang dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB). Kekhasan gedung kampus ITB yang adalah tiang-tiang bulat dari batu alam yang berjajar kokoh, tampak mempesona dengan hijaunya daun yang tumbuh di sekitarnya.
Gerbang kampus ITB yang menawan dengan kerimbunan bunga bogenvil berwarna merah muda keunguan.
Deretan tiang bulat dari batu, tampak eksotis dengan hijaunya dedaunan, menjadi ciri khas gedung lama di ITB
Arsitektur art deco di Bandung bisa dilihat antara lain pada Hotel Savoy Homann yang dibangun pada tahun 1939 oleh Albert Aalbers. Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger dibangun berdekatan dengan Concordia Society, club house untuk kalangan atas dengan ruang ballroom yang luas dan gedung teater.
Hotel Savoy Homann di Jalan Asia Afrika
Pada tahun 1809 Louis Napoleon, penguasa Kerajaan Belanda dan jajahannya, memerintahkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, H.W. Daendels untuk membangun jalan sepanjang 1000 km melintasi ujung barat hingga ujung timur pulau Jawa. Pada tahun 1810, pembangunan jalan Daendels ini mencapai kota Bandung, dan ruas jalan ini dinamakan De Groote Postweg (Jalan Pos Utama). Sekarang ruas jalan ini dikenal dengan nama Jalan Asia Afrika.
Di Jalan Asia Afrika terdapat Gedung Merdeka (sekarang dinamakan Museum Asia Afrika), tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Konferensi Asia Afrika menghasilkan Deklarasi Bandung yang berisi 10 point, dikenal juga dengan nama Dasasila Bandung. Deklarasi ini berisi ajakan untuk menggalang perdamaian dunia dan menentang kolonialisme. Konferensi Asia Afrika merupakan konferensi internasional pertama di dunia yang dilaksanakan oleh bangsa kulit berwarna. Bahkan gerakan kemerdekaan aktivis kulit hitam di Amerika Serikat pada tahun 1960 terinspirasi oleh semangat Asia Afrika yang dicetuskan di Bandung.
Diorama yang menggambarkan Presiden Soekarno pada saat menyampaikan pidato pada Konferensi Asia Afrika 1955. Duduk berderet di belakang adalah para pimpinan negara yang menjadi pelopor Konferensi Asia Afrika.
Peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan pada tahun 2005 di Gedung Merdeka, tempat konferensi ini dulu dilaksanakan. Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono berdiri di tengah para kepala negara.
Sopir taksi yang saya sewa ternyata memiliki wawasan yang cukup luas (dia bahkan tahu mana bangunan yang berarsitektur art deco!). Ketika mengetahui saya tertarik pada sejarah, seni dan arsitektur, dia menawarkan untuk mengunjungi Gallery Seni Nyoman Nuarta. Tentu saja tawarannya saya sambut dengan antusias. Maka dari Gedung Merdeka kami menempuh perjalanan sekitar 30 menit menuju ke galeri seniman patung yang selalu menghasilkan karya spektakuler itu.
Menjelang tiba di NuArt Gallery, kita disambut dengan karya instalasi berupa telapak tangan terbuka, dengan sosok wanita tergolek di tengah telapak tangan tersebut. Patung raksasa setinggi sekitar 5 meter ini ditempatkan di tengah jalan, menjadi landmark yang sangat menonjol. Patung ini seolah menyampaikan pesan tertentu, menimbulkan perasaan menyesakkan di dada saya. Seakan-akan Nuarta ingin menggambarkan perempuan yang tergolek tak berdaya di telapak tangan laki-laki. Tapi telapak tangan yang terbuka mungkin bisa diartikan bahwa genggaman itu sudah terurai, tinggal bagaimana perempuan bangkit dan berdiri tegak. Itu persepsi saya, entah apakah memang demikian yang dimaksudkan oleh Nuarta.
Patung telapak tangan terbuka dengan perempuan tergolek di tengah
Masuk ke halaman galeri Nyoman Nuarta yang luas dan sangat artistik, kita disambut dengan patung Euis Darliah, penyanyi Bandung yang pernah populer padatahun 80-an. Juga ada sebuah patung harimau. Tepat di bagian depan bangunan, ditempatkan patung perempuan berukuran raksasa.
Patung perempuan setinggi sekitar 4 meter
Pengunjung bebas masuk dan melihat-lihat isi galeri yang terdiri atas dua lantai. Patung-patung yang ada di dalam galeri sangat mempesona, dan penataan ruangan demikian artistik. Sayangnya ada larangan memotret di dalam galeri. Tapi karena tidak tahan melihat keindahan yang saya lihat, saya nekad mengambil beberapa foto. Tiba-tiba seorang staf galeri, pemuda berpakaian rapi, menegur saya dengan sopan, “Maaf Bu, tidak diperbolehkan memotret di dalam galeri.” Saya terkejut, dan cepat-cepat memasukkan kamera saya ke dalam tas. “Oh, maaf.” kata saya, pura-pura tidak melihat tulisan larangan itu.
Teknik pembuatan patung yang dipakai Nuarta benar-benar mengagumkan. Patung-patung yang terbuat dari logam itu tidak berupa material masive, tetapi dibentuk dari semacam lembaran serabut, uliran-uliran kawat yang terbuat dari logam. Sebuah patung berjudul “Woman in Red” yang menampilkan sosok perempuan menggesek biola benar-benar memikat hati saya. Diam-diam saya mengamati sekeliling. Petugas yang tadi memperingatkan saya tidak tampak. Maka pelan-pelan saya mengeluarkan kamera saya, mematikan flash, dan membidik “Woman in Red”. Begitu kamera saya ‘klik’, suara petugas galeri tadi terdengar di belakang saya, “Ibu, maaf, tidak diperbolehkan memotret di dalam galeri”. Waduuhh !! Saya benar-benar malu, tertangkap basah ‘mencuri’. Setelah sekali lagi minta maaf, saya secepat kilat kabur ke luar. Dasar pencuri ….. hehehe …..
Sebenarnya saya sangat ingin meng-upload foto “Woman in Red” itu di blog, tapi karena adanya larangan memotret itu, menyebarluaskan foto ‘curian’ itu tentu hanya akan memperbesar dosa tindakan kriminal saya. Jadi apa boleh buat, foto itu dan foto-foto lainnya hanya bisa saya nikmati sendiri.
Tujuan terakhir adalah outlet dan butik di Jalan Riau. Saya menghabiskan waktu dua jam keluar masuk toko fashion di sepanjang Jalan Riau, mencoba beberapa jaket yang sangat fashionable, mencari size yang cocok, dan akhirnya menemukan sebuah jaket berwarna putih yang cantik. Juga membeli sebuah jaket katun yang bagus untuk suami. Tas dan sepatu juga banyak tersedia disini, dari berbagai merek dan berbagai harga.
Bandung juga terkenal untuk produk jeans, pusatnya ada di Cihampelas. Tapi tidak ada waktu bagi saya untuk mampir kesana. Jam enam sore saya memanggil taksi dan meluncur ke stasiun untuk pulang ke Yogya dengan kereta Lodaya.
Tujuh jam di Bandung, sangat mengesankan euy …










Halo…halo Bandung……
Wah… tulisan ini membangkitkan kenangan lama terhadap kota ini
Hanya 7 jam di bandung potretan-nya sebanyak itu? Hebat
Ngga terjebak kemacetan ya?
Bandung memang kota yang menyenangkan….
Udah ke Ciwalk dan Paris van Java belum, Bu?
Atau makan di The View yang terletak di Dago Pakar.
Dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Bandung.
Wah, banyak lagi deh tempat asyik di Bandung.
Saya banyak punya kenangan di Bandung. Dulu saat mahasiswa di Bogor, kalau liburan hanya sebentar, pulang kampung capek, jadi berliburnya kerumah tante di Bandung, di daerah Cihampelas. Pacar kuliah di Bandung, malah akhirnya punya rumah di Bandung karena suami kerja di Bandung. Dan si bungsu menyusul menikmati kuliah di kampus gajah duduk, bahkan keasyikan sampai sekarang ambil S2 di sana.
waow….ke Bandung hanya untuk jalan2 Bu? Ke Bandung paling enak menjajal kulinernya.. semuanya lezat2.. rindu Bakso di jalan Anggrek..
Dulu sempat hampir 3 bulan saya di Bandung belum sempet ke banyak tempat, pgn ke dago pakar ga kesampaian, ke galeri Nyoman Nuarta blm pnh, untungnya ke gedung sate hampir setiap hari karena jalur angkot saya lewat situ, ke ITB jg hampir setiap hari.
Nah waktu mau meninggalkan bandung nyempetin ke masjid agung, Museum KAA, Museum Geologi, Jalan Braga, DT, pasar Baru, akhirnya lumayan tau Bandung..
waduh kalo membaca ini saya jadi pingin ke bandung lho…..bosen disurabaya panas banget
Coretanpinggir,
Halo halo Bandung … semoga kenangan lama itu maniz, romantiz, dramatiz, and melankoliz …. (soalnya gambar wajah bulat kuning itu tertawa lebar … )
Bang Saut,
Iya, tujuh jam yang singkat, padat, dan bermanfaat. Saya pergi sendirian, jadi bisa lari sana, lompat sini, nyelusup situ. Kalau pergi dengan teman, kan harus tengok-tengok dulu, si teman masih dimana, lagi ngapa. Harus tenggang rasa dan toleransi, kalau interesnya tidak sama. Makanya kalau waktunya sempit, lebih efektif jalan sendiri.
Foto-foto yang saya buat sebenarnya lebih banyak lagi, tapi kalau diupload semua, nanti kapasitas blog cepat penuh. Ohya, ada beberapa foto yang saya ambil dari dalam taksi, seperti Hotel Savoy Homann (garis-garis melintang pada foto itu adalah garis-garis di kaca belakang mobil). Beberapa obyek sulit difoto karena tidak ada space (letaknya persis di tepi jalan yang padat, tidak ada ruang pandang bebas), seperti Gedung Merdeka.
Untung saya nggak kena macet, Bang.
Heryazwan,
Ciwalk, apaan tuh? Belum. Paris van Java … beluum. The View? Belum juga atuh. Whoaa …. kayaknya harus ke Bandung sekali lagi nih!
Mbak Enny Edratna,
Wah, pacaran di Bandung? Asyik dong. Jalan kemana aja Mbak Enny? Apakah Si Bungsu sudah pernah ‘napak tilas’ rute pacaran Mbak Enny dulu? Hehe.
Ada sarung merk Gajah Duduk, ada kampus namanya Gajah Duduk juga. Kalau gitu namanya bukan ITB, tapi IGD (Institut Gajah Duduk) ya …. hehe …
Jeng Zahliy,
Sebenarnya ke Bandung nemuin pakar berkaitan dengan disertasi saya. Karena ada waktu luang, ya langsung tancap aja keliling kota.
Iya, saya sama sekali nggak sempat berwisata kuliner, habis waktunya mepet banget. Nanti deh, kalau ke Bandung lagi, saya sempatkan menikmati makanan Bandung. Kemarin saya masuk ke Museum KAA, Museum Geologi sudah pernah dulu waktu SMA (wadow, berapa puluh tahun yang lalukah itu?), Jalan Braga lewat aja, DT apaan tuh?
Dhany,
Memang Bandung sejuk dan nyaman. Apalagi kalau sempat ke Lembang, tempat peneropongan bintang Bosscha, wah … asyik banget. Lembang adalah salah satu tujuan nomor satu kalau saya ada rezeki pergi ke Bandung lagi.
Akhir Juni kemarin saya juga di Surabaya 5 jam, nyempetin lihat lumpur Lapindo, ke Tanggulangin, dan ke Tunjungan Plaza.
DT itu Daarut Tauhid, pesantrennya Ustadz yang sekarang melakukan praktek poligami.
Bu, kapan2 ke Bandung bareng yuk..!! saya juga pengen ke Bosscha juga, tapi saya jalan-jalannya ala backpacker yang murah meriah, kecuali ada yg mbayarin…
Jeng Zahliy,
Wah, seneng sekali kalau bisa jalan-jalan ke Bandung bareng Jeng Zahliy. Tapi saya ogah ke DT ah, malas ketemu dengan AA yang poligami itu. Ke Bosscha aja, asyik. Saya pernah kesana, tapi sudah luamaa sekali, waktu SMP dulu.
Ohya, mumpung Jeng Zahliy ada di Thailand, saya mau juga dong jalan-jalan kesana. Pengin lihat pagoda-pagodanya …
Ok deh, kapan-kapan ya Bu, kita ke Bosscha (ngga tau kapan?)
Boleh-boleh Bu.. Senang sekali kalau Ibu berkunjung ke Bangkok. Bangkok memang tempat menarik, banyak sekali objek wisata yang bisa dikunjungi, jalan-jalan bisa menggunakan perahu di Sungai Chao Phraya, murah !!! naik taksi murah juga, atau BTS atau MRT juga ada.
Kapan kita ke Bosscha? Kalau Jeng Zahliy sudah pulang ke tanah air dengan menyandang gelar doktor tentunya ya …
Bener nih, mau nemenin saya jalan-jalan di Bangkok? Pastinya sekalian minjemin kasur buat tidur kan … hehe (enaknya!). Oke deh, ntar kita bikin planning dulu yang bener, biar wisatanya lancar dan seep, gitu …
Amiiiin, semoga segalanya dimudahkan urusannya…
Apa sih yg ga buat Bu Tuti hehe, di kamar saya ada lebih dari satu kasur, byk peninggalan dari penghuni lama yg sama-sama orang Indonesia…
Jeng Zahliy,
Seep lah. Ntar saya yang masak ya (tapi cuma bisa masak air dan mie instan doang … hehehe …).
Serius lho, saya pengin ke Thailand. Tapi nabungnya berapa lama yaa … (*merenung*)
Mba, kalo gitu izinkan saya sebut Mba Tuty ini sebagai traveler yang handal.
Karena hanya dalam waktu 7 jam bisa mengunjungi tempet2 yang memang patut dikunjungi karena benar2 merepresentasikan kota Bandung. Pilihan objeknya tepat dan cukup beragam untuk menikmati saripati Kota Kembang mantan Parijs van Java, sekarang dah gak kaya Parijs lagi soalnya. Saya sendiri yang dah 5 tahun tinggal di Bandung. lum pernah ke Galery Nuarte dan Museum KAA, jadi malu…
Kalo gitu masuk list yang harus dikunjungi bulan ini dan depan. Kapan-kapan kalo ke bdg lagi mungkin ke Villa Isola-nya Schoemaker (melihat ketertarikan mba sama arsitektur dan sejarah soalnya) Oh iya, Saung angklung mang ujo juga menarik katanya (klao yang ini wisata budaya tradisionalnya). Bosscha, lembang, kawah putih, tangkuban perahu, ciater, taman hutan raya, ciwalk, parijs van java, wah… kalo kapan2 butuh guide gratis… saya bersedia deh mba. hehehe… soalnya seneng jalan2 juga
…. salam mba -japs-
Japs,
Traveller handal? Hahaha … itu sebutan mentereng untuk orang yang suka kelayapan dan ‘blusukan’ ya?
Saya bisa bergerak cepat karena pergi sendirian, jadi nggak usah tengok kiri-kanan nyariin teman-teman. Kalau perginya satu bis, mana mungkinlah dalam 7 jam bisa mengunjungi sekian banyak tempat. Namanya bersama orang banyak kan pasti tunggu-menunggu. Tapi kalau pergi sama Japs yang juga suka jalan-jalan, pasti asyik (soalnya ada yang bawain tas saya ….. yeee, emangnya portir?).
Iya, saya juga dikasih tahu agar ke saung angklungnya Mang Ujo, tapi gak ada waktu. Villa Isola Schoemaker saya belum pernah dengar, tapi kayaknya asyik banget tuh. Ok, kapan-kapan saya ke bandung lagi deh. Belum makan peuyeum juga kemarin …
Wah hebat neh ulasan Bandungnya…
Klo mampir lagi cobain kulinernya Teh saya coba list ya:
Es Goyobod — Jl Kliningan
Colenak, peuyeum, ketan bakar — Lembang
Surabi Imut — NHI
dll deh…
Mangga sumping ka Bandung.. di antos pisan
(Silahkan mampir ke Bandung, ditunggu)
Salam Kenal
Rully,
)
Terimakasih list daftar wisata kulinernya. Iya, kemarin belum sempat nyobain jajanan Bandung, karena waktunya sangat mepet. Ntar deh, kalau ke Bandung lagi pasti semua saya makan (tapi nggak termasuk yang masih bernyawa lho …
Nuhun pisan …. (halah, seperti saya tahu bahasa Sunda aja)
wadoohh2.. heboh nih ngomongin bandung..
ikutan deh..
kalo ke bandung jangan lewatin k PVJ,,
asik bgt, ap lagi buat week end,,
ato ke arah dago pakar.. ada restaurant namanya
BUDAFEST kalo ga salah ngetik.. hehe..
yang pasti kalo untuk gaya hidup di bandung
pasti unik banget, mau pake baju aneh2 jg boleh..
extrim jg boleh.. tapi kalo uda ngomongin macet..
wahh cuape dehh..
Tuti :
Wuah. wuah …. kayaknya semua antusias kalo ngomongin jalan-jalan ke Bandung. Saya kemarin belum sempat ke PVJ, Dago Pakar juga belom … Maklum cuma punya waktu 6-7 jam.
Iya, Bandung memang unik dan asyik. Alhamdulillah kemarin saya nggak kejebak macet. Udah waktu mepet, kalau kejebak macet lagi, huaduh …. puyeng.
ada yang lupa..
ada yang tau g Bandung Icon mall kapan di bangun?
trus apartemen soekarno hatta estate kv 18 kapan dibangun?
kayanya makin banyak aja project gede2an..
pasti tambah macet nih..
mesti banyak bangun Fly over..
I LOVE BANDUNG.. deh
upami aya nu nagartos di antos jawabanna(bener g bahasanya?) hehehe
Tuti :
Hallo … sodara-sodara, ada yang bisa memberi informasi yang diperlukan Ndra?
di depan patung tangan itu tempat kerja aku
wis tau lewat urung tok patung tangan nek sampean lewat
aja kelalen mampir ya edek ko,,,,,,,,,,,,,
Tuti :
Kerja di depan patung tangan? Bersihin lumut di patung, maksudnya?
wahh.. bandung. Prisnya Indonesia. hahaha.
coba saja dulu saya sudah mengerti tentang sejarah2.. pasti setiap saya kebandung.. saya akan mengabadikanya dengan foto.. seperti ibu ini. hehe
saat ke savoy homan ataupun panghegar.. ga ada kenanganya.. lewat gedung sate pula saat itu.. Jadi sama skali saya tidak ada kenanganya. misal kebandung juga saat ini cuma ke rumah saudara saja paling.. sangat jarang untuk berwisata.. Tangkuban perahu sudah, observatorium bosya jug.. tapi yang belum itu kawah putih.. huh.. pada sibuk orang tua.
Tapi tak apalah seengganya saya bisa jauh lebih mengenal Bandung di dalam artikel ini
HMMM….
teh,bisa tolong kirim foto patung “woman in red” k alamat email saya,,
saya sebenarnya ingin mengambil foto tersebut,,
terima kasih sebelumnya,,
Tuti :
Waduuh … mohon maaf, karena foto itu ‘foto curian’, saya nggak berani menambah dosa dengan mengirimkannya kepada orang lain …
wow.. keren.. bisa di copas bu? mau di share di FB belum keliatan tombolnya :’(
Tuti :
Wah … ya jangan dicopas dong, kecuali menampilkan link ke blog saya …