HUTANG BUDI DIBAWA LARI …
Hutang uang dibayar pedang, hutang budi dibawa lari. Mungkin ini pepatah yang ‘asbun’ banget, tapi sangat sering terjadi dalam kehidupan nyata (maupun cerita sinetron).
Dua terpidana mati rutan Medaeng Surabaya yang baru saja dieksekusi, Almarhum dan Almarhumah (tidak perlu kita sebutkan namanya) menghabisi lima nyawa karena masalah hutang-piutang. Pada kasus ini, pelaku menghabisi hayat para korban karena pelaku tidak bisa membayar hutangnya kepada korban. Logikanya, orang yang tidak membayar hutanglah yang dibunuh. Tapi di dalam kehidupan nyata, logika kadang-kadang memang absurd …
Hutang-piutang adalah masalah yang pelik. Sebagai sesama manusia, apalagi yang memiliki hubungan baik, sudah pasti kita harus saling tolong-menolong. Tidak mustahil, pada suatu saat seseorang berada dalam situasi darurat dan membutuhkan pinjaman uang. Yang menjadi dilema adalah bila kebutuhan uang tersebut cukup besar, dan kita tidak punya keyakinan bahwa uang tersebut akan kembali, sementara orang yang membutuhkan pinjaman tersebut adalah saudara atau sahabat baik kita, dan ia tahu kita memilikinya.
Jika dihadapkan pada situasi seperti ini, yang terjadi adalah tarik-menarik antara keinginan untuk membantu, menjaga persaudaraan atau persahabatan, tetapi juga kekhawatiran jika uang yang jumlahnya sangat berarti bagi kita itu (bisa jadi berupa tabungan yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun) tidak kembali, dan berakibat pada retaknya persaudaraan atau persahabatan.
Biasanya, saya mengambil sikap berdasarkan dua pertimbangan, yaitu karakter orang yang membutuhkan pinjaman, serta rasional-tidaknya jumlah yang dipinjam. Jika orang tersebut saya kenal dengan baik, saya tahu dia memiliki ‘track-record’ yang terpuji dalam hal pinjam-meminjam uang (artinya selalu mengembalikan tepat waktu dan tepat jumlah), saya dengan senang hati meminjamkan. Membantu orang lain selalu mendatangkan kebahagiaan bagi diri kita sendiri juga, bukan?
Kalau saya tidak yakin pada karakter orang tersebut, tetapi dia memang benar-benar membutuhkan bantuan (untuk berobat, misalnya), saya lebih memilih memberikan bantuan lepas dalam jumlah yang sepantasnya. Dengan bantuan lepas, saya tidak terbebani dengan mengharapkan uang itu dikembalikan, sementara orang yang dibantu juga tidak terbebani dengan hutang.
Pada saat meminjam, orang biasa berjanji akan mengembalikan pada suatu tenggat waktu tertentu, dengan sumber-sumber yang akan diperolehnya pada saat itu. Sangat mungkin mereka sungguh-sungguh memberikan janji itu, tetapi sangat mungkin juga bahwa pada saatnya nanti janji itu meleset. Banyak sebab mengapa orang tidak memenuhi janji membayar hutang. Boleh jadi sumber yang mereka harapkan ternyata meleset. Bisa jadi juga, uang itu sudah mereka dapatkan, tetapi lalu ada kebutuhan lain lagi, dan mereka tergoda memakai uang itu untuk memenuhi kebutuhan yang lain itu. Yang buruk adalah jika uang sudah di tangan, tapi mereka lalu berpikir ‘toh si pemberi pinjaman tidak membutuhkan uang itu, jadi besok-besok sajalah mengembalikannya.’
Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat lama bermaksud meminjam sejumlah uang kepada saya. Ia ingin memasukkan anaknya ke sebuah perguruan tinggi ternama, dan harus membayar 85 juta. Ia ingin meminjam 35 juta. Saya sungguh bingung menghadapi permintaannya. Bagi saya, jumlah 35 juta bukanlah jumlah kecil. Dan meskipun kami dekat, saya tidak tahu bagaimana karakternya dalam hal keuangan. Kami tinggal berjauhan kota, hanya bertemu 1-2 kali setelah sekian lama selesai kuliah, komunikasi hanya dijalin lewat milis, e-mail, dan sms. Menurut saya, memasukkan anak ke perguruan tinggi dengan 85 juta adalah sesuatu yang terlalu dipaksakan jika kita memang bukan orang yang sangat kaya. Mengapa tidak memilih universitas yang bagus tapi tidak semahal itu uang masuknya?
Dengan segala berat hati, saya terpaksa tidak dapat memenuhi keinginan sahabat lama saya. Mungkin saya telah mengecewakannya. Mungkin dia berpikir saya bukan sahabat sejatinya, karena saya ‘tidak bersedia’ menolong pada saat dia membutuhkan bantuan. Mungkin dia menganggap saya pelit. Entahlah, saya tidak tahu. Yang jelas, e-mail dan sms terakhir saya tidak dibalasnya …
Mungkin saya sudah kehilangan seorang sahabat. Apa boleh buat. Itu resiko yang saya ambil. Jika saya memberikan pinjaman itu kepadanya (dia tidak memberikan jaminan apa pun selain janji) saya menghadapi resiko yang lebih besar, yaitu kemungkinan uang saya tidak kembali, hilangnya rasa hormat saya kepadanya, dan retaknya persahabatan kami. Saya tidak ingin kehilangan ketiga-tiganya. Apalagi hal seperti itu sudah beberapa kali saya alami.
Tentu saja sangat banyak orang yang memegang teguh janji, yang mengembalikan pinjaman dengan tepat waktu dan tepat jumlah, masih ditambah dengan ucapan terimakasih. Semoga kita selalu bertemu dengan karakter-karakter demikian.










Saya setuju dengan pendapat mbak Tuti, kadang pinjam-meminjam uang bisa membuat persahabatan atau persaudaraan retak. Saya dan suami, terutama saya, di masa lalu punya pengalaman yang kurang berkenan, jadi sekarang kita tidak pernah meminjamkan uang pada siapapun, walaupun saudara. Jika Saudara ato temen dekat meminjam uang, kita akan berikan sejumlah uang yang kita iklas dan tidak berharap kembali. Biasanya jumlahnya tidak sebesar yang mereka butuhkan tapi cukup membantu.
Memang begitulah. Saya sungguh-sungguh kecewa ketika seorang teman baik meminjam uang dan tidak mengembalikannya, meskipun saya tahu dia sebenarnya mampu mengembalikan. Saya menyesal (getun, bahasa Jawa), karena lebih baik uang itu saya berikan kepada orang lain yang jauh lebih membutuhkan.
Jadi kalau kita tidak meminjamkan uang kepada seseorang, lalu dia menganggap kita begini-begitu, ya tidak apa-apa, wong cuma ‘dianggap’ saja, iya toh?
perihal uang memang persoalan yang tidak gampang. lebih baik tidak diberikan di awal kalau memang kita tidak yakin, sementara itu uang dengan jumlah tersebut bagi kita juga tidak gampang mencarinya. kalimat yang saya pernah dengar: “kalau pandai mengelola uang, maka akan pandai mengelola hidup”. masalahnya saya ga pandai mengelola uang, hahaha
Bu Tuti, maaf ini menyangkut dua terpidana yang sudah dihukum mati. Ada kisah sedikit mengerikan tentang kejadian pembunuhan tersebut. Cerita ini dari sumber pertama, yaitu salah satu jaksa yang menyidiknya, yaitu ayah saya almarhum.
Memang pelaku suami istri memiliki hutang kepada korban. Tetapi tahukah bahwa utang piutang tersebut digunakan untuk (yang menurut saya) bisnis haram, yaitu bisnis prostitusi. Korban menyediakan tempat dan segala fasilitasnya, pelaku yang menjalankan usahanya. Untuk itu pelaku harus menyetor sejumlah tertentu dari bisnis tersebut, namun setoran semakin seret. Tentu saja korban marah-marah dan sering menghajar suami istri tersebut. Setoran semakin seret mungkin saja karena dipakai untuk kegiatan lain, karena bisnis ini di Surabaya (di gang Dolly) selalu ramai dan tak pernah surut.
Nah pada menjelang kejadian, kemarahan sang marinir sudah mencapai puncaknya dan mengancam akan membunuh mereka berdua. Daripada dibunuh mendingan membunuh terlebih dahulu. Bagi orang-orang yang dekat dengan mereka mafhum kalau kedua pihak sama-sama kejam. Bisa jadi inilah kutukan jika terlibat dengan bisnis haram. Jika persoalan yang diumumkan adalah utang piutang, tampaknya itu terlalu menggampangkan masalah. Ada hal-hal yang rumit yang terlibat didalamnya. Jadi kejadian tersebut bukanlah perbuatan psikopat yang membunuh karena persoalan sepele, melainkan akibat dari berbagai faktor yang berujung pada pembunuhan.
Kalau ingin tahu kejadian psikopat yang membunuh karena ditagih utang, ya juga di Surabaya dan kejadiannya nggak jauh dari kejadian pembunuhan keluarga marinir tersebut (maklum saya besar di Surabaya jadi tahu areanya). Seorang ibu rumah tangga telah membunuh empat orang dan memutilasi semuanya. Sebagian dari mereka dimasak dagingnya untuk dimakan. Ia membunuh karena ditagih utangnya dan dia merasa kesal karena didesak untuk segera membayar. Padahal nilai utangnya tidak sampai (kalau nggak salah) Rp 50.000,-.
Saya nggak tahu apakah seseorang menjadi psikopat karena tekanan kemiskinan ataukah memang sudah bakat dari sononya. Tentu bu Tuti berfikir, dasar arek Suroboyo, nek gak psikopat, pembunuh berencana, atau malah bonek. Eh saya nggak ketiganya lho. Tapi saya tetap bangga jadi keluarga arek Suroboyo. He he he. Paling tidak salah satu presiden RI pernah sekolah di SMA saya.
Ijinkan saya ikut nimbrung …
Tidak meminjamkan uang, dan menggantinya dengan pemberian lepas memang sangat terpuji, tetapi tidak semua orang membutuhkan sumbangan seperti itu. Ada kalanya seseorang membutuhkan uang hanya dalam waktu sementara karena kebutuhan mendadak, tapi sebenarnya dia memiliki uang yang pada saat itu belum bisa dicairkan (misalnya disimpan dalam deposito). Apakah kepada seseorang dalam kondisi seperti ini Mbak Tuti juga tidak akan memberikan pinjaman?
Trims, mbak …
Bang Saut,
“Kalau pandai mengelola uang, maka akan pandai mengelola hidup”. Wah, berarti para bankir, trader valas, dan rentenir bisa diduga akan rapi jali hidupnya ya …
Gak pandai mengelola uang gak papa Bang, lebih penting pandai ‘mengelola’ pengelola uang … hehehe …
Pak Eko,
Ngeri ya dengar cerita dibalik pembunuhan-pembunuhan massal itu. Ibu rumah tangga yang memasak daging korbannya itu, rupanya masih saudara dengan Sumanto ya … (maksudnya sama-sama pemakan manusia). Selain yang di Surabaya, sekarang lagi heboh pembunuh psikopat dari Jombang (lho, kok Jawa Timur lagi?).
Iya, saya percaya Pak Eko bukan psikopat, pembunuh berencana, atau bonek. Cuma “killer” aja, iya to Pak? Pembunuh mahasiswa di ruang ujian …. hehehe …… Untung nggak ada undang-undang yang bisa menjerat dosen killer ya Pak?
Anita,
Jika seseorang hanya membutuhkan uang dalam waktu sementara, dan dia sunguh-sungguh berniat mengembalikan begitu uangnya cair, alangkah baiknya jika dia meninggalkan sertifikat deposito itu kepada orang yang meminjamkan uang. Dengan demikian berlaku azas keseimbangan, keadilan, dan saling percaya. Pemberi pinjaman percaya melepaskan uangnya, orang yang meminjam percaya menitipkan sertifikat depositonya.
Setuju?
wah bagaimana kalau yg minta utang saat lagi punya uang sekalipun udah ditagih tetep aja nggak mau bayar padahal di belakang kita, dia itu foya foya
Ass.
masalah hutang piutang ini memang slalu menyusahkan seseorang. Makanya jauh2 hari Rasulullah mewanti2 kita, bahwa kalo bisa janganlah berhutang.
uwiuw,
makanya kenali dulu karakter orang yang mau pinjam uang, kalau perlu dimintain jaminan supaya aman, gitu ‘kali ya ….
Alex,
Absolutely right. Kalaupun memutuskan berhutang (kredit ke bank untuk modal usaha, atau pun kredit konsumtif), harus dipertimbangkan masak-masak kemampuan kita membayar angsuran plus bunganya. Dan yang terpenting, jangan sekali-kali berhubungan dengan rentenir, karena kalau sudah terjerat hutang rentenir, alamat hidup bakal gelap.
Saya setuju, memberi bantuan lepas. Memang, sangat berat menyatakannya, meski sebenarnya kita tidak punya uang, atau punya tabungan yang dikumpulkan dengan penuh “penderitaan”, tiba-tiba di pinjam dan mungkin susah kembalinya.
Bang Singal,
Itulah sifat bangsa kita pada umumnya, sungkan menolak permintaan orang (padahal yang minta nggak pakai sungkan-sungkan …). Memang tidak mudah untuk mengatakan “tidak” dengan cara yang baik dan tidak menyakitkan hati orang yang mau pinjam uang. Konsekwensinya semua kembali kepada diri kita sendiri, mau memberikan atau tidak.
Kadang yang membuat sedih pada saat seseorang terus menerus meminjam uang dan tak kunjung mengembalikan bukan karena uang yang tak kunjung kembali, tetapi justru perasaan tidak membantu apapun selain membiarkannya terus tergantung pada kita. Secara tak langsung membiasakan seseorang meminjam tanpa mengembalikan. Jadinya serba salah, karena berada diluar kapasitas seseorang yang mampu memberi kail, alhasil ikan teri terus yang mampu diberi. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari tulisan Mba Tuti ini, Terimakasih banyak, Mba.
Memang betul, ada orang yang hidupnya selalu kekurangan, dan selalu berhutang kesana-kemari. Tetapi menurut saya, harus dilihat juga orang tersebut berhutang untuk apa. Kalau untuk keperluan mendesak seperti sakit atau membayar uang sekolah, kita memang wajib membantu. Tapi kalau hutang itu untuk hidup dia sehari-hari, menurut saya (sekali lagi menurut saya lho … ) berarti dia tidak bisa atau tidak bersedia menyesuaikan tingkat konsumsinya dengan pendapatannya. Kalau gajinya 500 ribu, ya sesuaikanlah cara hidupnya, agar gaji itu cukup. Lha kalau penghasilannya 500 juta? Wah, itu mah keterlaluan bangeeet, kalau masih utang juga (utang bank pastinya) dan ngemplang. Memang ada orang kayak gitu? Lho, ada. Itu, para pengemplang BLBI.
memang uang adalah akar dari setan (root of evil) karena uang orang bisa saling membunuh, teman bisa saling menjatuhkan, hubungan keluarga bisa terputus tapi di sisi lain tanpa uang kita tidak bisa hidup semudah sekarang. jadi ya saran saya iklaskan saja untuk satu dua kali, toh kalau yakin tuhan pasti akan mengembalikan 7x lipat meskipun bukan di dunia di akhirat pasti di kembalikan, nikmati hidup seperti iklan rokok LA gitu.. enjoy aja…
Sekali dua kali memang nggak papa Mas Istanto, tapi kalau ber’kola-kali’ ….?
Saya setuju, nikmati hidup seperti iklan rokok LA. Tapi ikuti iklannya saja, jangan rokoknya, karena rokok mengakibatkan kelumpuhan, gangguan syaraf, serta impotensi (itu tertulis di bungkusnya lho ….)
sudah kemaren
Maksudnya ….. ??