MENYELAMATI RAJA DAN RATU SEHARI ….
Menerima undangan perkawinan adalah ‘konsekwensi logis’ hidup bermasyarakat. Frekuensi undangan perkawinan yang diterima seseorang nampaknya berbanding lurus dengan kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Semakin luas pergaulan seseorang, semakin tinggi posisinya di masyarakat, semakin banyak juga undangan yang datang.
Menghadiri resepsi perkawinan adalah kewajiban sosial yang memiliki implikasi ekonomi. Coba kita tengok. Para tamu pastilah harus membawa amplop sumbangan, yang besarnya sangat bervariasi. Jumlah ‘angpao’ tergantung pada kedekatan hubungan antara tamu dengan tuan rumah, posisi sosial tamu, dan juga posisi sosial tuan rumah.
Untuk menghadiri pesta perkawinan, orang juga harus menyiapkan diri secara pantas. Mengenakan pakaian terbaik, kalau perlu dengan riasan khusus ke salon. Biaya transport juga harus dikeluarkan. Jika resepsi diadakan di kota lain yang jauh sehingga harus naik pesawat dan menginap di hotel, biaya transport dan akomodasi bisa membengkak sangat besar. Belum lagi waktu dan tenaga yang dikeluarkan, yang bagi orang-orang sibuk bisa sangat besar nilai ekonominya.
Jadi, menghadiri perkawinan adalah suatu hal yang menyenangkan atau justru menjadi beban?
Sudah barang tentu jawabannya adalah dua-duanya : bisa menyenangkan, bisa juga beban. Jika yang menikah adalah keluarga, saudara dekat, sahabat akrab, atau kenalan baik, menghadiri pesta perkawinan adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu. Bertemu, bercengkerama, dan melepas rindu dengan orang-orang yang dekat di hati, dalam suasana yang serba indah dan penuh kebahagiaan, adalah moment yang akan meninggalkan kesan mendalam.
Sebaliknya, jika kita tidak begitu dekat dengan orang yang mengundang kita, menghadiri undangan perkawinan ada kalanya terasa seperti ‘wasting time’. Sudah keluar uang, waktu, dan tenaga, ternyata kita ‘tidak mendapatkan apa-apa’. Sekedar bersalaman, makan, lalu pulang. Tanpa kesan apa pun. Tambah parah lagi jika tempat resepsi kurang nyaman, parkir susah, dan makanan yang disediakan ‘berantakan’.
Menyelenggarakan resepsi perkawinan yang sukses tidaklah mudah. Membuat tamu merasa nyaman, puas, dan pulang dengan perasaan senang adalah hal terpenting dalam penyelenggaraan pesta. Tidak masalah apakah pesta diselenggarakan secara mewah dengan biaya ratusan juta (atau bahkan milyar) atau secara sederhana, tamu adalah fokus utama yang harus mendapatkan perhatian lebih. Mengapa? Karena tamu datang untuk memberi selamat, untuk membahagiakan tuan rumah, dan mereka sudah mengeluarkan banyak ‘effort’ untuk hadir. Bukankah yang punya kepentingan pesta itu adalah tuan rumah, bukan tamunya? Jadi alangkah tidak etis jika penyelenggara hajat ’sibuk dengan dirinya sendiri’, dan lupa memperhatikan kepentingan tamu.
Bagaimana sih tuan rumah yang ’sibuk dengan dirinya sendiri’ itu? Misalnya, menyusun acara yang panjang bertele-tele, yang membuat tamu harus menunggu lama untuk menyampaikan ucapan selamat. Kapasitas tempat yang tidak sesuai dengan jumlah tamu yang diundang, sehingga tamu berdesak-desakan dan sulit bergerak. Penyediaan meja hidangan yang kurang banyak, sehingga tamu harus antri panjang hanya untuk sekedar mengambil makanan. Lebih parah lagi jika jumlah hidangan yang disediakan tidak mencukupi, sehingga ada tamu yang tidak kebagian makanan.
Suami saya memiliki aktivitas di berbagai bidang, sehingga lingkungan pergaulannya cukup luas. Saya sendiri bekerja, memiliki lingkungan sosial dan pergaulan sendiri. Pada bulan-bulan ‘baik’, ketika banyak orang menyelenggarakan pernikahan, undangan bisa datang beruntun. Sebagian memang dari relasi yang kami kenal dengan baik, sebagian tidak berhasil kami ‘lacak’ keterkaitan hubungannya dengan kami.
Beberapa waktu yang lalu kami menerima undangan perkawinan yang sangat indah. Sayangnya, sudah kami lacak ke nama orang tua kedua pengantin, sampai ke nama pengantinnya, memory kami tetap saja gelap. Tapi karena undangannya begitu bagus, nama suami juga ditulis dengan lengkap tanpa salah sedikitpun (menunjukkan bahwa pengundangnya benar-benar kenal dengan suami saya), akhirnya kami memutuskan berangkat. Kami berharap, sesudah bertemu dengan orang tua kedua mempelai, kami akan ingat kapan dan dimana pernah mengenal mereka.
Begitulah, kami datang ke pesta. Tapi sesudah bersalaman dengan kedua orang tua pengantin pun, suami saya tetap tidak ingat siapa mereka. Untunglah pesta diselenggarakan di gedung yang bagus dan hidangan lezat tersedia melimpah, sehingga kami agak ‘terhibur’. Suami juga bertemu dengan beberapa kenalan, sehingga tidak merasa ’salah waktu dan salah tempat’. Saya pun bertemu beberapa teman dosen, dan dari perbincangan dengan mereka, saya baru sadar bahwa sang pengantin wanita ternyata adalah bekas mahasiswa saya! Pantaslah ketika kami bersalaman, dia tersenyum lebar dan mengucapkan, “Ibu, terimakasih sudah hadir”. Ooo ….. Untunglah kami hadir!
Hadir di pesta perkawinan juga bisa menjadi kesempatan untuk ‘belanja’ fashion, terutama jika pesta diselenggarakan oleh kalangan menengah atas. Tamu yang hadir biasanya mengenakan busana yang ’sophisticated’, yang tidak akan mereka kenakan pada kesempatan biasa. Nah, jika hadir pada pesta seperti ini, saya bisa berlama-lama tinggal untuk menikmati keindahan pakaian para tamu.
Selain belanja fashion, menghadiri pesta perkawinan ada kalanya juga menjadi kesempatan bagi saya untuk ‘mengeluarkan’ simpanan pakaian. Banyak kain-kain songket yang saya koleksi dari berbagai daerah di Indonesia hanya cocok dipakai pada pesta yang gemerlapan, seperti songket dari Palembang dan Padang. Nah, pada pesta seperti ini, pastilah menghadiri resepsi menjadi saat yang menyenangkan …











Jadi ingat waktu masih jadi Personalia di Elmi hotel Surabaya. Karena profesi waktu itu saya banyak kenalan dan kenal semua karyawan hotel. Di setiap bulan “baik” hampir setiap akhir pekan ada undangan, sampe kadang bangkrut. Habis kalo nggak datang, nggak enak dikira sombong, kalo datang sungkan kasih angpao kecil, nanti dibilang pelit. Susah juga ya…. serba salah…
Mbak Yulis,
Betul, begitu juga yang saya alami. Kalau lagi banyak undangan, neraca rumah tangga jadi gonjang-ganjing … Susah memang kalau kita dikira ‘beruang’ padahal ‘tak ada uang’. Nyumbang sedikit dikira pelit, nyumbang banyak dompet jadi jebol …. hehehe ….
Menghadiri kondangan manten adalah kesempatan untuk perbaikan gizi bagi para mahasiswa berkantong tipis hehehe
Jeng Zahliy,
Pantas mahasiswa rajin datang ke kondangan ya. Mudah-mudahan pulang dari kondangan mahasiswa tambah sehat dan lancar studinya … hehehe …
Hadirnya sih menyenangkan, tapi amplopnya yang bikin pusing, masa amplop kosong.
Bang Marko,
Paling pusing kalau yang mengundang adalah pejabat tinggi atau orang yang kaya raya. Mau ngasih angpao berapa? Sampai kantong kita robek, nggak ada artinya bagi mereka. Kalau dapet undangan yang beginian mah, nggak usah ngado aja … hehehe …
Yang bikin pusing jika undangan pada jam yang sama, dan semuanya teman dekat……nggak datang nggak enak, dan sulit juga untuk hadir pada keduanya jika beda kota…sedangkan di jakarta sendiri sekarang macet sekali. Apaboleh buat, biasanya yang satu datang pas akad nikah, sedang yang lainnya pas resepsi.
Mbak Enny,
Ternyata yang memusingkan Mbak Enny bukan soal angpaonya, tapi soal jadwal yang bersamaan. Syukurlah, artinya itu pusing yang sejahtera … hehehe. Ya, kalau menerima undangan yang bersamaan memang repot. Tapi biasanya penyelenggara hajat maklum kok kalau kita datang tidak di waktu resepsi (meskipun pasti kecewa juga).
Saya jadi ingat peristiwa yang menggelikan, sekaligus memalukan, yang saya alami beberapa belas tahun yang lalu.
Di daerah Panembahan, Yogya, ada dua gedung pertemuan yang letaknya berdekatan. Suatu ketika saya menghadiri resepsi perkawinan seorang teman. Dengan stil yakin, saya datang ke Gedung Joglo, menyerahkan kado (waktu itu belum biasa orang memberikan angpao), dan masuk ke dalam. Ketika bersalaman dengan pengantin, saya kaget karena ternyata pengantinnya bukan teman saya. Buru-buru saya keluar, dan menanyakan ke bagian penerima tamu. Rupanya, saya salah alamat. Resepsi teman saya dilaksanakan di Gedung Senopati, yang jaraknya kira-kira 50 meter dari Gedung Joglo. Terpaksa, dengan menahan malu, saya meminta kembali kado saya …..
Habis gimana, masak saya ngasih kado ke orang yang tidak saya kenal (apalagi kadonya cukup berharga lho, saya beli spesial untuk sahabat saya dengan uang tabungan), dan datang ke resepsi teman saya tanpa kado?
Untunglah kado saya bisa ditemukan di antara tumpukan kado-kado yang lain. Coba, kalau saya memasukkan amplop, kan susah untuk diminta kembali (karena kotak angpao biasanya dikunci oleh pemilik hajat).
Celakanya, karena saya datang terlambat ke resepsi teman saya (di gedung yang benar), hidangan sudah habis. Padahal di gedung yang salah saya juga tidak makan karena terlanjur panik …
Anita,
Pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah : makanlah dulu biarpun salah masuk gedung … hehehe
Masa mahasiswa saya juga sering datang ke kondangan untuk perbaikan gizi, gak tanggung2 yang datang bisa satu rombongan, jadi hati2lah kalau kasih undangan ke kampus. hehehe… salam -japs-
Japs,
Pantaslah sekarang Japs keliatan sehat wal afiat, segar bugar, dan riang gembira (dari fotonya …). Itu hasil rajin datang ke kondangan dulu ya? Semoga amal ibadah para penyelenggara hajat pernikahan diterima Allah Swt, amin amin amin …..
Saya melaksanakan pernikahan hanya orang2 terdekat saja yang datang, saudara kandung ibu, saudara kandung bapak, dari istri juga. serta teman2 dekat. Itu saja dihitung sudah banyak, maklum kapasitas rumah khan tidak sebesar digedung. Apalagi ibu mertu dapet petuah dari ortunya agar tidak menyelenggarakan pesta, akhirnya cuma akad.
Kebetulan, heheh waktu saya cuma 2 minggu di tanah air, sehingga yang penting akad terselenggara, murah, simple dan bermakna.
Memang betul, yang penting adalah syahnya akad nikah, berlangsung khidmat dan khusuk, direstui orang tua. Waduh, cuma 2 minggu pulang ke tanah air untuk nikah? Belum puas dong bulan madunya ….
Pantas aja sekarang kangen terus sama isteri ya. Dijemput aja Mas Resi, bawa ke Jerman …