SAMPAI BERTEMU KEMBALI DI JERMAN …
Hari kedua di Berlin, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar loak. Haa? Jauh-jauh ke Jerman cuman pergi ke pasar loak? Wah, jangan under estimate dulu. Ini memang pasar loak, tapi yang dijajakan disana adalah ‘barbeku’ (bukan pesta daging panggang lho, melainkan ‘barang bekas berkualitas’). Pasar loak ini terdapat di Trodelmarkt, di tepian sungai Spree. Pasarnya sangat panjang, pokoknya sampai kaki pegel kalau mau lihat semuanya. Berbagai barang di tawarkan disana, mulai dari barang seharga 1 euro hingga ratusan euro. Banyak juga barang-barang yang berasal dari Eropa Timur (negara-negara kecil di sekitar Rusia). Jika kita pandai memilih, tak mustahil kita akan mendapatkan barang antik yang super murah. Saya berhasil mendapatkan sebuah jam porselen yang sangat indah seharga 1 euro.

Jam porselen antik seharga 1 euro
Tidak jauh dari pasar loak, kami ngamen. Halah, apa pula ini, ngamen di negeri orang? Emang nggak cukup ngamen di negeri sendiri? Sabar dulu kawan, dengar dulu ceritanya. Kami menemukan tiga bocah cilik sedang ngamen di pinggir jalan. Tapi biarpun ngamen, mereka keren banget lho. Ngamennya main musik beneran, pakai partitur segala (nggak seperti di Yogya, yang cuma pakai icrik-icrik, kadang malah cuma kaleng bekas diisi kerikil terus dikocok-kocok). Konon, mereka memang belajar musik, dan kalau pas hari libur mereka suka mempraktekkan kepiawaian mereka bermain musik dengan ngamen.

Ngamen di Berlin, lagunya “Morning Has Broken”. Monggo sederek-sederek … lemparkan euro panjenengan ke dalam wadah gitar itu …
Anak-anak itu menyanyikan macam-macam lagu yang cukup populer, sehingga saya dan suami tak tahan untuk cuma nonton saja. Maka bergabunglah kami, ikut nyayi (syuit, syuiit …. ). “Morning Has Broken” ciptaan Cat Stevens pun mengalun, kebetulan hari memang masih pagi dan sangat cerah.
Morning has broken, like the first morning
Blackbird has spoken, like the first bird
Praise for the singing, praise for the morning
Praise for them springing fresh from the word
Di Eropa memang banyak juga pengamen, tetapi mereka mengamen dengan cara yang sopan dan indah (baca Ngamen Elegan Cara Eropa ).
Mencari cindera mata adalah ‘acara wajib’ yang tidak bisa ditinggalkan jika kita pergi ke suatu tempat. Di sekitar Checkpoint Charlie (baca Berlin, Uber Alles ) kami mencari sesuatu yang khas untuk kenang-kenangan. Suami saya membeli beberapa topi bulu khas Rusia, yang menutup sampai kuping itu. Saya tertarik boneka tumpuk, itu lho … boneka berbentuk bulat lonjong, yang kalau dibuka, di dalamnya ada boneka-boneka lagi yang lebih kecil. Saya pilih boneka para pemimpin negara-negara Eropa. Gorbachev paling mudah dikenali (berjas merah) karena memiliki tanda lahir hitam di keningnya yang lebar. Setelah tawar menawar sengit, akhirnya boneka itu berhasil saya peroleh dengan harga 5 euro.
Boneka tumpuk para pemimpin negara Eropa
Belakangan, saya kaget ketika tahu bahwa boneka-boneka semacam itu ternyata diproduksi di Yogya, yang kemudian diekspor ke manca negara. Bentuknya macam-macam, tapi kebanyakan berupa gadis molek. Whoaa … ya mangkel, ya geli jadinya. Memang belum terbukti sih, kalau boneka saya itu ‘gawean Yoja’. Mungkin saja asli produksi ’sono’ (menghibur diri …).
Kasus ’souvenir manca negara bikinan Yogya’ juga saya alami dengan porselen Belanda. Ketika gempa mengguncang Yogya, sebagian porselen yang saya beli di Amsterdam pecah. Sudah tentu saya sedih, lha wong belinya mahal dan bawanya jauh. Suatu ketika saya jalan-jalan ke sebuah toko souvenir di Yogya, dan … saya menemukan sederet kerajinan porselen khas Belanda seperti kelom, kicir angin, dan bunga tulip. Barang-barang itu mustahil diimpor dari Belanda, wong harganya sangat murah. Jangan-jangan, justru orang Belanda yang mengimpor dari kita. Sekali lagi saya geleng-geleng kepala. Orang Indonesia memang hebat-bat-bat ….
Saya pun membeli beberapa ’souvenir Belanda’ tersebut, untuk mengganti souvenir saya yang pecah. Meskipun ‘rasa cinta’ saya tidak sedalam seperti cinta saya terhadap souvenir asli yang saya beli di Amsterdam, yah … tak apalah. Sekedar untuk pengobat patah hati. Ibarat kata, kalau gagal menggaet Primus Yustisio, Brad Pitt boleh lah (yee …. itu mah judulnya ‘mimpi lu ye’)
Tebak, mana yang made-in Amsterdam dan mana yang ‘gawean Indonesia’?
Sebelum kembali ke Amsterdam, kami mampir ke Postdam. Postdam adalah ibukota dari Brandenburg, terletak di tepi sungai Havel, arah barat daya Berlin. Postdam memiliki sejarah panjang, tempat bermukin Raja Prussia hingga tahun 1918. Di kota ini terdapat banyak bangunan tua bersejarah, antara lain istana Sanssouci yang merupakan World Heritage Site terbesar di Jerman. Pada masa Perang Dunia II, Postdam hancur luluh dibom, dan banyak bangunan bersejarah yang tinggal puing. Meskipun demikian, bangunan-bangunan yang masih bisa diselamatkan sekarang terpelihara dengan baik.
Selain istana Sanssouci, istana Cecilienhof adalah bangunan bersejarah tempat berlangsungnya Postdam Conference pada tahun 1945, dimana para pemimpin Perang Dunia II yaitu Harry S. Truman (Amerika), Winston Churchill (Inggris) dan Stalin (Rusia) bertemu untuk memutuskan masa depan Jerman sesudah PD II.
Churchill, Truman, dan Stalin pada Postdam Conference, 1945
Istana Cecilienhof, tempat berlangsungnya Postdam Conference
Ketika Tembok Berlin membagi dua kota Berlin menjadi Berlin Barat dan Berlin Timur, Postdam menjadi perbatasan antara dua Berlin. Jembatan Glienicke yang terbentang di atas sungai Havel menjadi saksi sejarah tempat dilagsungkannya pertukaran serdadu tawanan dari kedua negara yang terlibat perang dingin.
Setelah Jerman bersatu, Postdam menjadi ibukota Brandenburg. Belakangan muncul gagasan dan upaya-upaya untuk mengembalikan kota Postdam sebagaimana aslinya dulu, antara lain dengan membangun kembali Postdam City Palace dan Garrisonchurch.
Jembatan Glienicke, tempat dilangsungkannya pertukaran tentara tawanan pada masa Perang Dingin
Taman Sanssouci adalah yang paling banyak menarik pengunjung ke Postdam, terletak 2 km di sebelah barat pusat kota. Tempat ini dibangun oleh Raja Frederick pada tahun 1744, dimana dia bisa tinggal secara sans souci (bahasa Perancis yang kira-kira berarti ‘dengan damai’). Di taman ini terdapat beberapa bangunan indah, seperti Schloss Sanssouci, Orangerieschloss, Neus Palais, Schloss Charlottenhof, Romische Bader, dan Chinesisches Teehaus.
Alter Markt adalah pusat sejarah Postdam. Selama tiga abad, istana yang dibangun pada tahun 1662 ini menjadi Stadtschlos (istana kota). Pada masa kekuasaan Raja Frederick, istana ini menjadi kediaman Raja Prussia di musim dingin. Istana ini rusak parah pada PD II tahun 1945, dan pada tahun 1961 dihancurkan oleh penguasa Komunis. Pada tahun 2002 Fortunaportal dibangun kembali pada tempat aslinya. Pada saat ini Alter Markt didominasi oleh Nikolaikirche, yang dibangun pada tahun 1837. Bangunan ini merupakan karya terakhir Karl Friedrich Schinkel, yang mendesainnya tapi tak pernah menyaksikan penyelesaian pembangunannya. Nikolaikirche diselesaikan oleh Friedrich August Stuler dan Ludwig Persius. Di sisi timur Alter Markt berdiri Altes Rathauss (balai kota) yang dibangun pada tahun 1755 oleh arsitek Belanda Jan Bouman.
Fortunaportal dan Nikolaikirche (bangunan besar di sebelah kiri) dan Altes Rathauss (tampak agak jauh di belakang)
Yeah …. perjalanan menyusuri Berlin dan Postdam pada saatnya harus berakhir. Saya ingat penyanyi cilik asal Belanda keturunan Jerman yang sangat populer tahun 70-an, Heintje. Suara penyanyi ini sungguh luar biasa, tinggi dan bening, merdu dan menyentuh hati. Lagunya yang sangat terkenal adalah “Mama”. Pernah dengar? Jika belum, silahkan search di Youtube. Dijamin nggak rugi deh …
Auf wieder sehen. Wir sehen uns nie wieder … (halah, apa artinya?)
boneka tumpuknya lutju2 ya mbak, masuk ke Sanssouci ya, muter2 seluruhnya mbak ? luaaaas sekali khan, bikin pegel kakiku
, paling enak muternya pakai sepeda, tapi istana2nya cantik2 sih
aku lebih suka bilang yang ini mbak “Auf Wiedersehen. Wir sehen uns wieder”
, , masak mbak Tuti nggak mau ke jerman lagi ? nggak percaya aku
Waduuh … nggak masuk Sanssouci je, cuma di luar aja, lha wong gaet (guide) nya nggak begitu mudheng, baru pertama juga ke Postdam. Kami muter-muter di sekitar Alter Markt aja.
Ihik ihik …. ketahuan kalo aku nggak ngerti arti kalimat yang kutulis ya? Jujur aja, kalimat itu kuambil dari bait terakhir sebuah lagu, embuh opo karepe. Makanya, dalam kurung aku tulis (halah, apa artinya?). Maturnuwun Mbak Elys, tak koreksine ah …. (*jadi malu*)
Kayaknya perlu kembali ke Jerman sekali lagi ya, untuk melihat banyak tempat yang kemarin belum sempat dikunjungi.
Mbak Tuti,
perjalanannya menarik sekali, jam porselin 1 euronya bagus banget. Koleksi porselin yang seperti kincir angin dan sepatu itu beli di Jogja ya mbak. Bagus banget. Boleh dong nanti minta info belinya di mana? Thanks
Mbak Yulis,
Setiap perjalanan memang selalu menarik. Iya, saya bersyukur jam porselen itu tidak ikut pecah waktu gempa dahsyat melanda Yogya. Soalnya jam seperti itu nggak ada yang ‘gawean Yoja’. Kincir angin dan sepatu ‘aspal’ (asli tapi palsu) itu saya beli di toko Progo. Waktu itu mungkin barusan disetor sama suplier, jadi banyak banget. Kalau masih ada, saya belikan deh buat Mbak Yulis, takutnya besok-besok nggak ada lagi. Tapi kalau mau beli souvenir yang buagus-buagus dan berbagai macam, ya di Amsterdam Mbak. Ada kelom asli dari kayu, segede kaki beneran, saya pengin beli tapi syusyeh bawanya …
mampir lagi, dan sekarang diajak jalan-jalan ke pasar loak, nonton pengamen, dan ke tempat-tempat seru lainnya. wehehehe…. seru seruuu… sempet ke Jewish Museum-nya Daniel Liebeskind tak Mba? -japs-
Halo Japs,
Wah … kok tahu-tahunya Jewish Museum segala? Lihat dari bangku kuliah lagi, kayak Reichstag? Hebat yah bangku kuliahmu, bisa lihat apa aja (wuih … kayak bola dunianya nenek sihir .. hehehe …)
Nggak sempat ke Jewish Museum, Japs.
Lambat laun, kemanapun kita pergi di dunia ini, semua souvenirnya ‘buatan cina’. Negara lain, termasuk Indonesia sulit menyaingi murahnya harga Cina.
Betul, Pak Arman
Kalau kita pergi haji, hampir semua oleh-oleh yang dijual di Pasar Seng itu buatan Cina. Bordir buatan Cina juga sangat bagus karena prosesnya sudah computerized, dan harganya murah. Bordir Tasik kalah deh. Bahkan furniture sekelas Da Vinci sekarang sudah bisa dibuat di Cina, dengan pasar ekspornya ke Amerika dan Eropa.
Mbak, itu kan ngamennya di Jerman, tapi nyanyinya bahasa Inggris ya? Terus, hasil ngamennya dibagi nggak dengan artis dari Yogya? Atau boneka tumpuk itu hasil ngamen? Hehehe …
Iyaoo … biarpun di Jerman, lagune boso Inggris, wong gak iso boso Jerman. Karena nyanyinya jelek, jadi gak ada yang mau masukin koin euro ke wadah gitar …. kacian deh. Lhaa, kalau boneka tumpuk itu hasil ngamen di UII Yogya …
….”Tebak, mana yang made-in Amsterdam dan mana yang ‘gawean Indonesia’?…”
daffa tau bude, yang gawean Indonesia adalah “FOTONYA”…
tul kan?
Plok plok plok …. tepuk tangan buat Daffa! Pintel, pintel, pintel …
Wah Mbak Tuti,
Jangan ah merepotkan. Nanti aja kalo saya dah di Jogja antarin saya. Thanks
Ok, everything you say, Ma’am …
Sakjane gak opo-opo kok Mbak, gak repot kok …
salam kenal bunda tuti..
senangnya menemukan blog ini.
dibawa “jalan-jalan” gratis ke Jerman
Salam kenal juga, nanda Arif
Alhamdulillah jika senang membaca blog sederhana ini. Terimakasih sudah berkunjung, insya Allah saya akan berkunjung balik ke blog Arif.
Ach ja… Ich möchte nach Deutschland gehen aber habe ich kein Geld
und kein Zeit. Huehehe……Wah… kalau ngamennya Morning Has Broken, mana pagi2 apa nggak pada ngantuk tuh?? Mendingan lagu
Deutschland Liedrock Scorpion yang asal Jerman ituh aja…. (sekarang masih ada nggak ya??)Btw… saya juga punya boneka tumpuk dari kayu seperti itu… tapi dari Moskwa dan bonekanya bukan gambar pemimpin Eropa tapi gambar petani wanita Rusia yang sederhana… tetapi entah sekarang ke mana sudah hilang waktu kita pindah…..
Matek aku … diajak ngomong bahasa Jerman … (Mbak Elys dan Mbak Yulis, heeelp … opo kuwi karepe?).
Iya ya, ngamennya kok “Morning Has Broken”? Habis, mau nyanyi “Midnight Has Broken” masih pagi tuh. Kalau nyanyi lagunya Scorpion, takut para kalajengking pada datang Mas …
Boneka tumpuk seperti itu memang khas Moskwa. Kebanyakan sih bentuknya gadis nyempluk. Jangan-jangan bonekanya Mas Yari sudah pulang ke Rusia tuh, nggak kerasan di Indonesia …
Jam porselinnya bagus banget…ehh mbak sempat ngecek enggak, saat saya cari oleh-oleh di Oxford Road (London), juga saat di Paris…lha kok tibane made in China….hebat ya…
Senang sekali baca acara jalan-jalannya, juga foto-fotonya yang indah….
Wah, jam loak 1 euro saya rupanya banyak yang naksir nih …..
Seperti kata Pak Arry Arman, lama-lama nanti semua souvenir di dunia ini adalah buatan China. Sebenarnya orang Indonesia juga ahli lho bikin tiruan-tiruan seperti itu. Kalau beli aneka patung kucing kayu di Jepang, hati-hati …. itu bikinan Yogya dan Bali. Begitu juga kalau ke Amerika, waspada kalau beli patung & topeng suku Indian yang indah dengan bulu-bulu burung di kepala itu, karena jauh lebih murah beli di Kasongan, Yogya. Lah, kalau beli jilbab atau baju bordir di Mekkah, 90% kemungkinan itu made-in Tasikmalaya …
saya pokoknya udah tahu deh, barang2 tersebut semua kalo gak dari china ya dari indonesia, dari manalagi coba. Wong ongkos buatnya lebih murah dibuat dinegara tsb.
FYI aku pernah tinggal diberlin 6 bulan. Kenangan yang tak terlupakan… harus segera pindah dari sana soalnya bahaya, kebanyakan main… heheheh
Iya, kita ini bisa bikin souvenir apa saja, diekspor ke mana saja, tapi kok nggak makmur juga ya? Saya pernah ke Kasongan (Yogya), seorang pedagang bunga kering dari bahan alam cerita baru saja menerima pesanan 15.000 kuntum bunga dari Belanda. Berapa harganya coba? Rp. 900,- per kuntum. Padahal di Yogya aja, harganya Rp. 1.200,- per kuntum. Lho kok malah lebih murah? Padahal di Belanda, bunga itu bisa dijual 1 euro per kuntum (sekitar Rp. 13.000,-). Gimana kita bisa makmur kalau posisi tawar kita sangat lemah?
6 bulan di Berlin? Wah, pasti sudah main kemana-mana ya. Cerita dong …
Salam, wah ibu ku ini ternyata jalan-jalan lagi ya, asyiknya….. heheh sekali-kali ajak dong bu, tapi lumayan bisa dapat cerita2 perjalannnya, jadi kalo nanti berkesempatan pergi dah tau info2nya.
Have a nice day….. selamat mensyukuri nikmat Allah yang kita terima hari ini…
Soal ngarang tea bu, hehehe dah pernah di coba tapi untuk saat ini baru bisa jadi penikmat buku…. mudah2an bisa belajar u nulis juga, minimal sekarang ira belajar u bikin resensi buku dulu aja bu.
Halo Ira,
Sebetulnya jalan-jalannya sudah lama kok, tahun 2005. Baru ditulis sekarang karena saya punya blog kan juga baru beberapa bulan.
Bersyukur tentu saja harus selalu kita lakukan, dalam kondisi apa pun. Mengeluh adalah hal terakhir yang boleh kita lakukan.
Sebetulnya belajar menulis itu diawali dari membaca tulisan orang lain. Bagaimana mungkin bisa menulis dengan baik kalau kita tidak banyak membaca? Meresensi buku juga bagus. Itu bukan pekerjaan mudah lho, karena kita harus punya kerangka pikir yang mantab untuk bisa menilai tulisan orang lain.
Salam kenal bu tuti, dr solo neh. Gmna kalo jalan2 ke luar negri selanjutnya, bu tuti mgadakan undian berhadiah buat pngunjung blognya bu tuti…. biar yg belum pernah ke luar negri sprti saya ini jd tau,luar indonesia tu koyo opo seh….,huehehe…
Hallo Oen,
Maksudnya, undian bagi pembaca blog untuk jalan-jalan ke luar negeri? Wah, saya mah ikut ndaftar yang diundi aja …. hehehe
Saya belum pernah blusukan juga ke Solo nih, padahal deket banget dari Yogya ya. Emang kebangetan …
wadoohh…. lha nek gtu nnti yg mbiayai jalan2nya capa dunk!!! kl ke solo hari minggu bu tuti, ke stadion manahan. tiap hr minggu ada pasar murah di stadionnya, dl sih cm disepanjang jalan aja, trz dipindah ke dlm stadionnya. bakalan pegel muter2 kl jln kaki, saking gedenya… murah meriah lho aneka barang dan makanan yg dijajakan. masuk gratiz… bs naek andong jg muterin stadionnya, sewa cm 7rb. penyewaannya di belakang stadion,jd ga didalam.. mulai pg2 bgt (ga tau mulenya jam brapa.. cm ampe skitar jm 10-11 an mungkin). wah jd humasnya ya… oiya mbak di solo banyak makanan enak n psti murah…. berkunjung donk mbak, biar pgunjung blog jg mnikmati suasana solo…
Tuti :
)
Seep … iya deh, ntar kapan-kapan aku ke Solo. Lha wong sing adoh-adoh wae wis ditekani, sing tonggo dewe malah durung ki piye? Naik kereta Pramex kan nyaman ya, tinggal duduk aja (mbayar juga pastinya …
Ya iya lah, setiap warga kota harus jadi humas bagi kotanya. Aku suka serabi Solo dan nasi liwet, mm ….. ueenaak tenan …
naik kereta solo-jogja pastinya mbayar…. kl yg gratis tu kalo ke bandung ato surabaya ya bu tuti…
naik kereta api tut tut tut
siapa hendak turut
ke bandung surabaya
bolehlah naik dengan percuma (hehe…)
jgn2 lagu masa kecil ini terlalu mendarah daging di hati, makanya bnyak yg rela bertaruh nyawa duduk diats gerbong, ato smbunyi2 naek cari gratisan, hehe… (maap…just kidding lho!!!)
Tuti :
Wah … lirik lagu itu saya tulis juga pada artikel “Naik Kereta Api … Tut, Tut, Tut”. Tapi ternyata saya salah pada baris ke empat. Saya tulis bukan “bolehlah naik dengan percuma”, tapi “bolehlah semua ikut serta”. Mungkin itu sebabnya, saya nggak pernah naik kereta api ‘percuma’, melainkan selalu ‘bermanfaat’ … hehe …
‘percuma’ itu bahasa tempo doeloe, yang maksudnya ‘cuma-cuma’ ya. Tapi di Malaysia, sampai sekarang tetap dipakai kata ‘percuma’ untuk ‘gratis’.
wah mba tinggal d jerman ya ?
ceritain mengenai kultur d jerman donk.
saya butuh buat tugas kampus.
thx.
Tuti :
Maap … saya tinggal di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta. Artikel ini saya tulis sebagai kenangan perjalanan saya ke Jerman pada tahun 2005 …
maaf numpang tanya, itu beli di mana ya di yogyanya yg souvenir belanda.
mohon infonya.
soalnya saya lagi butuh souvenir belanda buatan indo yg murah buat hadiah.
mohon info ke email ya.
makasih