RUMAH MELAYU MODERN, PUSAT BUDAYA MELAYU VIRTUAL
Jika mendengar kata ‘rumah Melayu’, apa yang muncul dalam benak kita? Rumah panggung, itu barangkali yang pertama terbayang. Memang benar, salah satu ciri khas rumah Melayu adalah didirikan di atas tiang-tiang. Bentuk rumah panggung ini adalah suatu upaya penyesuaian diri terhadap alam. Di daerah-daerah tepian sungai dan di tepi pantai, rumah panggung dibuat untuk mengantisipasi banjir dan air pasang. Ruang di bawah rumah biasanya digunakan untuk menyimpan perahu. Adapun di daerah pedalaman, rumah panggung dibuat untuk menghindarkan diri dari serangan binatang buas. Di daerah pertanian, kolong di bawah rumah dipergunakan sebagai kandang ternak.
Jika ditilik lebih jauh, rumah Melayu memiliki arsitektur yang sangat beragam. Rumah adat di Riau, Minangkabau, Jambi, Palembang, juga rumah-rumah di Kalimantan dan Sulawesi memiliki ciri khas yang berbeda.
Di Yogya, nun jauh dari ‘negeri asalnya’ di Riau, terdapat sebuah rumah Melayu Riau milik Mahyudin Al Mudra, seorang putra Riau yang sudah lama bermastautin (bermukim) di Yogya. Rumah ini terletak di Jl. Gambiran, tidak jauh dari terminal bus antar kota Giwangan. Berhubung pemiliknya adalah orang Melayu yang hidup di dunia modern, maka rumah ini pun dibuat menjadi ‘rumah Melayu modern’. Ke’modern’an ini diwujudkan antara lain dengan bangunan yang tidak lagi berupa rumah panggung, melainkan bangunan dua tingkat, serta pembagian ruang-ruang yang lebih bervariasi.
Balai Melayu, rumah Melayu modern tempat melabuh rindu warga Melayu di rantau, terletak di Jl. Gambiran 85 A Yogyakarta
Rumah Melayu Riau memiliki ciri khas pada atapnya yang dihiasi dengan ’selembayung’, ‘bidai’ atau ’singap’, ’sayap layang-layang’, dan teritisan ‘lebah bergantung’. Ukiran pada rumah Melayu Riau sangat beragam, seperti “Awan Larat”, “Kaluk Paku”, “Kembang Jatun”, “Kuntum Menjalar”, “Itik Pulang Petang”, dan masih banyak lagi.
Satu hal yang membedakan rumah Melayu di Yogya ini dengan rumah Melayu asli di Riau antara lain pada pemilihan warnanya. Orang Melayu di Riau menyukai warna-warna cerah, sehingga rumah biasanya dicat dengan warna kuning, hijau, atau biru menyolok. Nah, karena pemilik Balai Melayu ini sudah lama tinggal di Yogya, yang kental dengan warna batik ’sogan’nya (cokelat tua), maka ukiran dan semua bagian yang terbuat dari kayu diberi finishing melamin warna cokelat. Kesan yang diperoleh memang menjadi lebih ‘elegan’.
Lengkung tinggi di bagian depan bangunan dibuat dari batu putih ukir buatan Muntilan. Proses pembuatan batu ukir ini cukup rumit, karena dibuat dari batu alam yang diukir dengan tangan. Ukiran pada kaki lengkung bermotif ‘Awan Larat’, dan pada bagian lengkung diukir kaligrafi Surat Al A’raf ayat 96 yang artinya “Dan sekiranya penduduk negeri ini beriman dan bertakwa, pasti Kami akan berikan berkah dari langit dan bumi”.
Lantai atas bangunan tampak dari depan
Di atas atap teras dibuat taman kecil. Teritisan teras (di bawah jajaran pot) dihias dengan ‘lebah bergantung’ motif “Bunga Jatun”. ‘Selembayung’ dan ‘bidai’ di atas genteng memakai ukiran “Kaluk Paku” dan “Awan Larat”. Lobang angin di atas jendela ditutup dengan ukiran kerawang (tebuk) bermotif “Kuntum Menjalar”, sedangkan bagian atas jendela bendul jendela dihias dengan ukiran “Kaluk Paku”.

Pintu utama dengan pegangan berbentuk keris Melayu
Begitu masuk ke ruang depan Balai Melayu, tamu akan disambut dengan ornamen dari tembaga tatah bertuliskan Gurindam Dua Belas (Pasal 5) karya Raja Ali Haji yang ditulis pada tahun 1846. Di Ruang tamu juga terdapat banyak benda-benda budaya, seperti kain songket, alat-alat perlengkapan kerajaan, alat musik tradisional, dan sebagainya. Alat musik tradisional Melayu memiliki kesamaan dengan alat musik Jawa, seperti gong dan gendang.
Sebagian alat musik tradisional Melayu dan contoh pakaian adat Melayu
Dari ruang tamu, terdapat selasar menuju ke ruang pertemuan di bagian belakang. Di samping selasar ini terdapat taman, kolam, dan balai ‘apung’ di atas kolam. Balai terapung ini digunakan untuk duduk-duduk menikmati teh, beristirahat sambil mendengarkan suara gemericik air dan mengamati ikan yang berenang hilir mudik di kolam.
Selasar samping dengan balai terapung di sebelah kiri
Balai terapung dilihat dari arah timur. Kolam di sekeliling balai kebetulan baru saja dikuras, sehingga airnya belum penuh.
Di sebelah timur selasar dan balai terapung terdapat ruang pertemuan besar, berisi berbagai benda budaya Melayu dan buku-buku tentang Melayu. Ruang ini berfungsi untuk menerima tamu, rapat, dan menyelenggarakan berbagai acara. Ruang pertemuan ini dikelilingi kaca pada bagian timur dan utara, serta terbuka pada sisi selatan dan barat, sehingga pemandangan terbuka ke udara bebas dan taman luas di bagian belakang bangunan.
Ruang pertemuan, penuh dengan benda-benda budaya dan buku-buku tentang Melayu
Halaman belakang, teduh dan hijau dengan rumput dan berbagai tanaman bunga. Pada bagian kiri tampak tangga menuju taman di atas, yang merupakan atap dari gudang basement (tampak bagian atas pintu basement di samping tangga)
‘Rumah bujang’ di halaman belakang. Kolong bangunan digunakan untuk garasi mobil
Di halaman belakang terdapat sebuah bangunan kecil berbentuk rumah panggung. Pada rumah Melayu asli, bujang (perjaka) yang sudah dewasa tinggal di bagian terpisah dari rumah, yang disebut dengan ‘rumah bujang’. Jika pada bangunan asli Melayu bagian bawah (kolong) bangunan digunakan untuk menyimpan perahu atau ternak, pada rumah Melayu modern ini kolong bangunan digunakan sebagai garasi mobil.

‘Selembayung’ dan ’sayap layang-layang’ pada pintu gerbang belakang
Di atas atap ruang pertemuan terhampar ‘taman atap’ (roof garden). Di taman atap ini terdapat gazebo dengan arsitektur Melayu, kolam, berbagai tanaman berbunga, dan tanaman-tanaman buah yang selalu berbuah lebat (mangga, jambu, nangka, jeruk, rambutan). Tanaman buah ini ditanam dalam drum, dan tingginya tidak sampai 2 meter, sehingga buah-buah bisa dipetik dengan mudah.
Taman atap dengan berbagai tanaman bunga dan buah. Pada malam hari, jika langit cerah bisa duduk-duduk sambil menikmati bulan dan bintang dari tempat ini.
Gazebo di taman atap, nyaman untuk bekerja. Lokasi ini memiliki hot spot, sehingga dari gazebo ini bisa surfing ke seluruh dunia.
Bunga-bunga merah mekar dengan cerah, dan buah mangga bergantungan menunggu dipetik

Balkon di mezanin lantai dua yang membuka ke arah roof garden
Di lantai atas rumah Melayu terdapat 5 buah ruangan, musholla, dan pantry. Terdapat juga mezanin seluas 5×6 meter persegi. Dari mezanin ini terdapat sebuah balkon yang memberikan pandangan bebas ke taman atap. Sebagaimana ruangan-ruangan lain, lantai atas juga dihias dengan ukiran khas Melayu.
Salah satu ruangan di lantai atas dengan mezanin di bawah atap. Di mezanin ini terdapat balkon yang memberikan pandangan ke taman atap
Musholla di lantai atas, terdapat di bagian depan bangunan. Di luar mushola ini terdapat batu putih lengkung berukir yang tampak dari depan Balai Melayu
Balai Melayu merupakan pusat kegiatan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), sebuah lembaga non pemerintah yang bertujuan mengembangkan budaya Melayu. Salah satu kegiatan BKPBM adalah mengelola tiga portal Melayu, yaitu Melayuonline.com , Wisatamelayu.com , dan RajaAliHaji.com (ketiganya ada di Blogroll). BKPBM sudah menjalin kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah maupun non pemerintah serta institusi-institusi pendidikan, di dalam maupun di luar negeri.
Jika ingin mengetahui profil pemilik dan pendiri Balai Melayu, Mahyudin Al Mudra, profilnya dimuat di harian Kompas terbitan hari Jum’at, 8 Agustus 2008 di halaman 16 (kebetulan ia adalah suami saya … hehehe). Adapun tentang Melayuonline.com dimuat di harian yang sama pada halaman 53.
Tak kan Melayu hilang di bumi, demikian cita-cita Balai Melayu.























Rindu … ah nama saya disebut
Wah, iya … Pasti semua orang merindukan Jeng Rindu yang cantik.
Terimakasih sudah berkunjung
Weis, keren juga tu rumah… jd pengen…
Salam kenal yo mba
Terimakasih … boleh kok pengen (kami menerima order pembangunan rumah ….
)
Salam kenal juga Mas Dev, terimakasih sudah berkunjung.
berandanya mannaa bu?
saya jadi teringat ‘Jambi’ nih bu.
Waduh, berandanya belum kefoto …
)
Emang Irna dari Jambi ya? Saya pengin lho ke Jambi, belum pernah. Ada apa ya disana (pastinya ada orang Jambi ….
Wah, saya baru tahu tentang rumah melayu.
Siiip…
Ini rumah Melayu moderen, Mas Edi. Kalau rumah Melayu yang tradisional, lain kali deh saya tulis. Terimakasih sudah mampir dan melihat rumah Melayu.
mantap..mantap
Terimakasih …
Kapan ya saya bisa ke Sumut dan lihat rumah-rumah Batak. Horas bah!
kirain rumah melayu tu artinya “rumah lari”,… lari ke Jogya dari riau…
kapan ke riau Bude Tuti? …
salam dari riau,
daffa
Emang iya, mlayu seko Riau ….
Masih pegel nih kaki bude …
Bude bingung deh, Daffa tinggal dimana sih? Kirain di Jakarta. Nggak tahunya di Riau to? Bude sudah sering banget ke Pekanbaru, tapi sekarang lagi ‘musim asap’ ya? Ntar deh, kesana lagi lagi udah ‘musim durian’ aja …
Mbak Tuti,
Terjawab sudah pertanyaan saya di Caty’s house. Thanks Mbak nanti Insya Allah kalau kita dah di Yogja, mohon diperkenankann untuk bertamu ya? Thanks. Wonderful and beautiful house. Salute.
Yulis
Monggo, mongggo pinarak. Dengan senang hati saya akan menyambut Mbak Yulis dan Mas Marvin (lho, kok ‘Mas’? …
) di Balai Melayu. Foto-foto saya belum sepenuhnya mewakili Balai Melayu yang sebenarnya (promosi nih …
). Maksudnya, Balai Melayu memang sudah menjadi semacam ‘museum’ yang boleh dikunjungi publik.
Btw, saya tidak tinggal di Balai Melayu lho. Tapi dekat kok, cuma 5 menit dengan mobil.
indah….
ouw..ternyata yang punya suaminya ta…
jadi, balai melayunya boleh dikunjungi publik juga ta bu. gratis bu?? Kapan-kapan coba jalan-jalan kesono ah.
buah semangka buah duren
gak nyangka, balai melayunya keren
Yodama,
)
Ya, Balai Melayu boleh dikunjungi publik. Tapi kalau dalam rombongan besar, sebaiknya kontak dulu via telepon, ke nomor (0274) 414233 atau e-mail info@melayuonline.com atau balai_melayu@melayuonline.com
Nggak bayar tiket, tapi kalau pengunjung bawa oleh-oleh diterima dengan senang hati kok ….
Silahkan mampir, aslinya lebih keren daripada fotonya (promosi lagi …
Ooo ya, Bude Tuti sering banget ke Pekanbaru ya!? Daffa orang Pekanbaru Bude, bukan orang Jakarta. Ntar kalo mo ke pekanbaru mampir ke rumahnya Daffa ya Bude,…tapi rumahnya RSSSSSSSSSS lo kaya yang Bude omongin di…dimana ya? yoalah lali aku Bude. Kalo di Pekanbaru, durian ga pake musim Bude, ada terus…, asap lagi gak parah seperti taon-taon lalu… karena raja-raja penyamun hutan lagi.. itu tu.. sama kpk.
Bude sering ke Pbaru dalam rangka apa ya Bude?, dagang durian ga mungkin, dagang asap apalagi,…. ngapa yaaa..??
ooo, Daffa tau sekarang, pasti ngasih ceramah / seminar, tulkaaan?
Daffa
RSSSSSSSSS singkatannya udah ganti lho Daffa (lihat di Lukisan Bali …). Daffa kan masih kecil, jadi rumahnya juga mungil to? Kalau rumahnya gede, ntar mau buka jendela harus cari tangga ….
).
)
Iya, bude sering ke Pekanbaru, tapi nggak pernah dapet asap kebakaran hutan tuh (‘kali asapnya takut sama bude, terus kabur …..
Tapi bude ke Pku memang cari asap, maksudnya ngajar, supaya asap dapur tetap ngepul, gitu …. (kalau itu asapnya dalam amplop ….
Rumahnya terlihat sejuk. Saat ke Pekanbaru, saya pernah ke Rumah Melayu, indah sekali….
Negara kita memang kaya etnik….asalkan aman, sangat menyenangkan berkunjung untuk memahami adat istiadat dan budaya masing-masing suku bangsa di Indonesia.
Mbak Enny, waktu ke Pekanbaru, ke rumah Melayu yang ada dimana? Kalau yang ada di Bandar Serai, dimana ada rumah tradisional dari seluruh kabupaten di propinsi Riau, memang bagus-bagus sekali. Pekanbaru terlihat betul Melayunya, terutama di jalan-jalan utama, karena semua bangunan pemerintah memakai ’selembayung’ yang merupakan ciri khas rumah Melayu. Bangunannya sendiri banyak yang sudah berupa bangunan modern.
Memang betul, kalau kita sudah melihat sendiri keindahan dan kekayaan budaya Indonesia, kita akan semakin mengagumi dan mencintai negeri kita ini.
baru kali ini nih liat rumah melayu modern, cantik ya mbak, pasti juga butuh waktu extra ngurus rumah sebesar itu
Betul Mbak Elis, terutama merawat kolam-kolamnya, karena airnya cepat kotor dan berlumut, jadi harus sering dikuras. Ukiran-ukiran itu juga capek membersihkan debunya. Ada dua orang yang khusus bertugas merawat tanaman dan membersihkan rumah. Dulu waktu nggak ada orang, kolam sering dikeringkan, habis capek ngurasnya …
Kebetulan saya tinggal diRiau dan memang ciri khas rumah melayu biasanya banyak ukiran2 dari kayu…dan kalau ibu kotanya riau yakni Pekanbaru rata2 perkantoran di Jln. Sudirman itu semuanya menampakkan ciri khas melayu…cantik memang, apalagi perpustakaan propinsi yg baru di bangun di jalan Sudirman…wow bagus bgt bu…
Iya, bangunan di sepanjang Jl. Sudirman memang membuat kita merasa betul-betul berada di Melayu karena bangunan-bangunan khasnya. Waktu terakhir saya ke Pekanbaru (akhir 2007), perpustakaan itu belum selesai dibangun. Semoga tidak hanya bangunannya yang megah, tapi juga isinya lengkap dan banyak pengunjungnya.
Bangunan-bangunan di Bandar Serai juga sangat bagus, terutama Gedung Idrus Tintin.
Ibu… veni aja yang kedua orang tua veni suku melayu ga ngerti dengan nama macam ukiran-ukiran yang ibu tulis, jadi malu..
Makasi tulisannya ya bu, v jadi diingatkan dengan akar v.
Sama saja V, orang Jawa juga banyak yang tidak mengenal budayanya sendiri. Ohya, untuk setiap jenis ukiran tersebut sebenarnya ada pantun-pantun yang menyertainya, serta memberikan makna dari ukiran tersebut. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu sudah menerbitkan banyak buku-buku tentang Melayu. Silahkan buka websitenya di http://melayuonline.com
bagus banget
Tuti :
Trims banget
bu barus ada bang budi ini ternyata rumah melayu baguuuuuuuuuuuuus banget dan ada d mana mana-mana.. ibu udah lihat rumah melayu d sambas kalimantan barat ke……….
Tuti :
Wah, saya belum pernah ke Sambas. Kalimantan Barat baru ke Pontianak, ke Istana Kadriyah. Semoga suatu saat saya bisa ke Sambas ya …
Terimakasih.
gimana caranya pasang banner foto sendiri
bisa tolong diberi tahu?
kirim email ke andikafachrial@yahoo.com yaaaa
Tuti :
Kalau pakai wordpress, silahkan klik menu “Appearance”, kemudian pilih “Custom Header”. Selanjutnya tinggal ikuti langkah-langkah yang disarankan. Maaf, tidak saya jawab ke email, tapi di blog saja supaya bisa juga dibaca orang lain yang membutuhkan informasi ini.
bedanya rumah khas ” melayu” ama “mlayu” apa ya mbak……….???
Tuti :
Rumah khas ‘Melayu’ memakai selembayung di atapnya, kalau rumah ‘mlayu’, itu rumah yang takut digusur …
Aduch … bangunannya indah sekali yach mbak, ciamik dan unik, so beautiful… Ternyata Indonesia itu sangat kayak akan budaya & kebudayaan. Senang sekali di zaman modern seperti ini tetap ada orang2 yang peduli dan sangat cinta dgn budaya Melayu. Luar Biasa mbak … saya sangat kagum akan hal ini. Semoga hal ini bisa menginspirasi banyak orang tentang kebudayaan yang harus tetap kita lestarikan. Salut buat Mas MAM-nya & mbak Tuti
Mbak Tuti kapan2 kalau saya & keluarga main ke Yogya mau dong bisa mampir lihat2 dan foto2 di Balai Melayu.
Ok, mbak selamat beraktivitas kembali
Best regard,
Bintang
Tuti :
Balai Melayu cuma kecil saja kok Mbak, tapi memang diusahakan benar-benar mencerminkan budaya Melayu. Banyak barang-barang seni dan budaya yang asli dikumpulkan dari berbagai tempat. Ada juga yang duplikat dari aslinya, karena beda yang asli sudah tidak ada.
Silahkan, saya akan senang sekali kalau Mbak Elinda dan keluarga berkenan mampir ke Balai Melayu. Pokoknya kalau ke Yogya jangan lupa mengkontak saya. Saya tunggu.
Terimakasih untuk dukungan dan perhatiannya.
Salam hangat,
salam kenal ya bu! maaf aku saya tidak pakai foto. Rumahnya bagus sekali dan kebetulan akhir tahun ini kami ada rencana ke yogya. Kalo boleh saya ingin melihat rumah unik dan cantik ini secara langsung. Bangga saya anak bangsa begitu kreatif seperti ini.
Tuti :
Salam kenal juga Mbak Martina. Silahkan, jika ingin mengunjungi Balai Melayu. Kami akan senang sekali …
Terimakasih
Bagus, dan nanti saya tak kunjung ke Balai Melayu. Meskipun saya kelahiran dan berdarah Jogja, dengan sedikit campuran darah Sumatera, tapi saya sangat suka dengan budaya. Khususnya budaya Melayu dan Jawa.
Terima Kasih,
-Sidik
Tuti :
Monggo … silahkan kalau mau mampir, Mas Sidik …
aku juga pingin tu rumahnya! boleh gak aku pinjam
Tuti :
Pinjam? Mmmm …. boleh, tapi pakai jaminan
hy…………….??????????
bleh knln gk?????????????????
mekum bu….. indahnya budaya indonesia dengan beragam budaya yang berbeda namuh tetap satu jua….. indonesia ku.
good luck dech buat ibu…
Tuti :
Terimakasih, Rev …
AssWrWb
Sblumnya salam kenal. Semula saya surfing hanya ingin mencari gambar-gambar rumah adat yg menarik bagi saya yaitu Melayu dan Dayak. Trus ketemu alamat ini, dan WAAHH LUAR BIASA. Setidaknya untuk suatu bangunan di luar Riau, Balai Melayu ini sudah sangat mewakili untuk PENGOBAT RINDU, sekaligus tambahan wawasan bagi masyarakat yang belum pernah tahu tentang apa dan bagaimana MELAYU RIAU itu. Yang membuat saya kagum dan sangat-sangat heran (bhs Jawa=”gumun”) adalah mengapa baru sekarang ada putra daerah yang dengan segala kepandaian dan kerendahan hatinya mendirikan Balai seperti ini. Padahal kalau kita cermati bersama mahasiswa pelajar yang berasal dari Riau dan belajar serta bermukim di Yogya itu sudah sejak dari dulu (setahu saya sewaktu msh kuliah di Ked. Hewan UGM thn 1985) saya sering berkunjung ke asrama mahasiswa Riau yang letaknya dekat eks rumahnya Jend. Sudirman (jalan apa saya lupa). Waktu itu saya sedikit pernah tahu mengenai beberapa putra daerah Riau yang bekerja dan bermukim di Yogya, akan tetapi dari 1985 hingga 2009 ini baru saya tahu ada yang mendirikan bangunan seperti ini. Maksudnya tidak hanya sekedar bangunan fisiknya saja akan tetapi lengkap dengan pernak pernik isi bangunan yang mengaktualisasikan Riau dengan menggabungkan seni tradisional dan modern.
Karena saya belum pernah melihat dari dekat, apakah bu Tuti bersedia menjelaskan BALAI MELAYU ini arahnya cenderung ke gaya daerah mana (meskipun semua rumah adat Melayu memiliki kesamaan, tapi pasti ada 1 atau 2 hal yang membedakan) maksudnya ke gaya yang di daratan (Kampar, Inhu) atau kepulauan.
Bu Tuti & pak MAM asli mana, kalau saya orang tua Taluk Kuantan, saya sendiri Pekanbaru besar di Jawa. Saat ini keluarga di Solo tapi kerja di Pekanbaru.
WassalamWrWb
Tuti :
Ass ww Bpk. Irwan.
Sebelumnya saya mohon maaf agak lama baru menjawab komentar Bapak. Jika Bapak ingin mengunjungi Balai Melayu, bisa datang langsung ke Yogya (mungkin sekalian pas nengok keluarga di Solo) pada jam kerja, antara jam 08.00 – 16.00. Banyak bagian yang tidak sempat saya ceritakan dan saya tampilkan fotonya di artikel di atas. Tapi jika Bapak belum sempat berkunjung langsung, Bapak bisa klik di websitenya, yaitu http://melayuonline.com/ind
Bangunannya sendiri tidak mengacu ke satu daerah tertentu. Kami mengambil ciri khas bangunan Melayu, seperti bentuk atap dengan selembayung, teritisan lebah bergantung, dsb.
Suami saya, Mahyudin al Mudra berasal dari Tembilahan, Inderagiri Hilir. Saya sendiri orang Jawa, Yogya asli. Saya juga sudah bolak-balik ke Pekanbaru, kebetulan pernah ada ikatan kerja disana (tapi sekarang sudah berakhir).
Demikian Pak Irwan, terimakasih telah berkunjung ke blog ini
akkhh …
masa cieee ….????
assalamualikum..wr wb…
saya orang pekanbaru suku minang… saya sudah lama mencari gambar-gambar rumah… ternyata gambar rumah melayu khas riau sangat menarik bagi saya baik desain dan interior dan ornamen2 yg ada didalam maupun diluar… beda dgn rumah melayu khas minangkabau agak sulit untuk dirancang menjadikan suatu rumah kediaman.. tetapi sesungguhnya rumah yang ada pada dahulunya..sebelum provinsi sumatera tengah menjadi mekar riau, sumbar, dan jambi ragam rumah tersebut hampir kemiripan…tapi yang saya lihat gambar rumah ibuk.. ini lebih menitik beratkan pada rumah melayu indragiri…sangat bagus sekali…dan tampak melayu banget..kata orang jakata…karena dilihat gagah perkasa bak Hang Tuah…tameng negeri…