LEBIH NIKMAT BELANJA DARI PADA OLAHRAGA …
Dulu, Kampus UGM menjadi tempat olah raga dan lari pagi yang nyaman di hari Minggu. Jalan-jalan di kawasan kampus penuh dengan orang yang mengenakan pakaian olah raga dan sepatu kanvas, berjalan cepat maupun berlari-lari kecil mengelilingi gedung-gedung kampus. Tak jarang terlihat satu keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak, berolah raga bersama. Kampus yang pada hari-hari biasa hiruk-pikuk dengan hilir mudik mahasiswa dan kendaraan bermotor, pada hari Minggu pagi berubah menjadi arena olah raga yang membangkitkan semangat setiap orang untuk hidup sehat.
Banyaknya orang yang melakukan olah raga kemudian mengundang munculnya penjual makanan, menawarkan sarapan lezat bagi mereka yang letih dan lapar sehabis olah raga. Bubur ayam, lontong sayur, nasi kuning, kolak pisang, bubur kacang ijo, dan berbagai sajian lain dapat dinikmati sambil duduk lesehan di tikar-tikar yang dihampar di sekitar danau buatan. Lama-kelamaan, dagangan yang tidak ada hubungan dengan olah raga pun ikut meramaikan suasana. Pakaian, mainan anak-anak, bed cover, tanaman hias … pokoknya semua yang bisa dijual, dijajakan disana.

Beberapa stand menawarkan box-box indah, boneka, sprei, dan pakaian
Kini, suasana Minggu pagi di kawasan Kampus UGM sudah berubah total dari lima- sepuluh tahun yang lalu. Tak ada lagi orang yang lari pagi di sekeliling gedung-gedung kampus. Mengapa? Apakah mereka sudah tidak suka lagi berolah raga? Sama sekali bukan, tetapi karena setiap Minggu pagi kawasan Kampus sudah berubah menjadi pasar. Sepanjang jalan, terutama di kampus bagian timur (di sekitar Masjid UGM dan Gedung UC) pedagang berderet menggelar dagangannya. Lebar jalan tersita untuk tempat parkir sepeda motor dan mobil, dan pengunjung yang hilir-mudik memenuhi jalan-jalan membuat lalu lintas tersendat. Belum lagi panggung musik, yang biasanya diisi oleh grup-grup band mahasiswa. Orang datang ke kampus bukan lagi untuk berolah raga, tetapi untuk cuci mata dan belanja.

Panggung musik di Bundaran Fakultas Filsafat, yang mengusung tema “Tribute to Munir”

Bukan lagi berolah raga, pengunjung datang untuk berbelanja

Pakaian adalah dagangan yang paling banyak digelar. Beberapa stand menawarkan pakaian yang cukup bagus dengan harga yang murah.

Sebagai ‘cikal bakal’ pasar Minggu Pagi UGM, penjual makanan masih tetap berjaya. Selain di kampus sebelah timur, mereka banyak mendirikan tenda dan menggelar tikar di sekitar Boulevard UGM.

Jalan di sebelah timur lapangan Pancasila dan Gedung Graha Sabha masih cukup nyaman untuk berjalan santai. Tetapi di ujung selatan sudah padat dengan pedagang berbagai barang.
Apa boleh buat, bisnis rupanya sudah mengalahkan olah raga. Mungkin, belanja dan menyantap makanan sambil duduk santai memang lebih nikmat dari pada bermandi peluh …









Apalagi pas Ramadhan nanti ya Bunda … gak sore, gak pagi … banyak yang jualan.
Ah gak sabar nunggu puasa
Betul Rindu, pada bulan Ramadhan kampus UGM benar-benar hidup. Sore hari ramai dengan mahasiswa dan anak-anak muda yang ‘ngabuburit’. Penjual makanan untuk berbuka sangat banyak. Malam, subuh, dan siang (hampir sepanjang hari deh) semarak dengan kegiatan keagamaan di Masjid UGM. Masjid UGM adalah tempat favorit saya untuk sholat tarawih, meskipun letaknya cukup jauh dari rumah (sekitar 25 menit dengan mobil). Penceramahnya bagus, dan suasananya sangat menyentuh.
Sabar Rindu, puasa tinggal seminggu lagi kok …
Apalagi kalo ikut sambil jualan, lumayan untuk nambah uang belanja .. heheheh
Cuma sedihnya kalo saya lihat, hampir semua fasilitas umum di negara ini diubah menjadi pasar/tempat orang jualan. Sehingga mengganggu orang yang akan menggunakan fasilitas tersebut, baik untuk berjalan, berolahraga atau hanya sekedar untuk menikmati suasana.
)
Hal ini menurut saya tidak bisa dibiarkan, sebab negara ini perlu diatur. Kalo tidak, ya bakal semrawut dan kotor (lagi sok tahu nich
Wah iya ya …. bagus juga kalau ikut jualan. Tapi jualan apa ya … (*mikir*)
Memang betul, ‘nafsu’ berjualan bangsa kita ini seringkali tidak mengindahkan kepentingan umum. Di tempat-tempat wisata, pedagang asongan sering memaksakan agar dagangannya dibeli, menguntit pengunjung kemanapun pengunjung pergi. Kalau satu dibeli, nanti pedagang yang lain ikut berdtangan, minta dibeli juga. Tapi kadang-kadang kasihan juga, mereka itu benar-benar hanya mencari sesuap nasi (bukan plus segenggam berlian lho …).
Pengaturan memang sangat perlu, agar kepentingan publik terlindungi, pedagang juga bisa mencari nafkah.
Jadi ingat waktu di Surabaya suka lari pagi ke gedung walikota, sampe disana ikutan senam aerobic free untuk warga dan beli susu kedelai trus pulang naik bus kota karena sudah nggak kuat lagi berlari.
Ngomong ngomong tempat belanjanya itu kalau sudah selesai balik bersih lagi nggak mbak? Di Surabaya ada sebuah jalan yang setiap pagi digunakan sebagai jalan raya tetapi setelah jam 5 sore ditutup karena dipakai sebagai pasar. Dan biasanya mereka akan meninggalkan beberapa meja dan tenda dipinggir jalan yang membuat jalan kelihatan berantakan dan jorok. Namanya Jl. Pande Giling.
Kalau di sini ada namanya Farmas Market dan mereka berjualan cuman setiap hari Sabtu di musim summer. Tetapi mereka berada disebuah tempat yang disediakan oleh pemda dan biasanya akan bersih seperti tidak pernah ada pasar sebelumnya setelah selesai acaranya.
Semoga yang di kampus UGM jangan seperti di Jl. Pande Giling Surabaya deh. thanks
Pasar Minggu pagi di kampus UGM ini selesai sekitar jam 11 siang. Biasanya jalan memang menjadi kotor oleh kertas-kertas dan plastik sampah, tetapi nampaknya ada petugas kebersihan kampus yang segera membuang sampah-sampah itu, sehingga pada sore hari jalan sudah bersih kembali. Tenda dan meja juga tidak ada yang ditinggal, sehingga selain hari Minggu pagi, kampus bersih seperti tidak pernah ada pasar. Kalau di sekitar Boulevard memang setiap hari mangkal beberapa penjual bakso, es buah, dan ketoprak. Nyaman banget lho, makan bakso di bawah rindangnya cemara-cemara kampus. Apalagi bagi yang lagi pacaran …
Ohya, tanggal 27 dan 28 saya akan jalan-jalan ke Surabaya. Tempat-tempat apa ya mbak yang menarik untuk dikunjungi? Terimakasih …
Puluhan tahun lalu, ketika saya ditugaskan oleh pimpinan di Kalimantan Selatan, ada satu tempat yang mirip modelnya dengan pasar kagetnya UGM, tapi hanya di bulan puasa saja. Tepatnya di halaman kantor gubernur di kota Banjar Baru, setiap bulan puasa dipenuhi pedagang wadeh (kue, jajanan) dan minuman yang konon kabarnya hampir semuanya berasal dari Kabupaten Kandangan, yang terkenal gadisnya cantik cantik.
Warung warung tersebut mulai dibuka pukul lima sore menjelang maghrib sampai subuh. Penjaga/pelayannya pada umumnya gadis, ada juga satu dua yang janda. Dan ternyata suasana bulan Ramadhan tersebut dinanti-nanti oleh warga Kalimantan Selatan, karena penuh dengan kenangan….
Jadi untuk UGM, nggak apa apa, kita berikan ruang sekejab untuk mereka, asal jangan nantinya kaum pedagang itu mendaulat UGM untuk pindah lokasi, dengan alasan suasananya sudah tidak sesuai lagi untuk kegiatan kuliah (lebih cocok jadi plaza…)
Betul, Chris. Di Kalsel memang pada bulan Ramadhan banyak pedagang menjual makanan kecil (‘wadeh’ atau ‘wadai’ ya?). Kebanyakan berupa makanan tradisional yang hanya bisa dijumpai di sana. Kebetulan mertua saya berasal dari Kalsel, jadi di rumah (di Yogya) sering juga membuat wadai.
Wah, kalau bukanya sampai subuh, dan penjaganya gadis-gadis cantik, apa nggak bahaya ya?
Kalau pedagang sampai menyuruh UGM yang pindah, wadooow … namanya ‘air susu murni dibalas air susu beracun’ tuh ….
Wah apa ya mbak ya, kalau saya pribadi mungkin ini nich:
Wisata religius di Surabaya seperti :
- Masjid Laksamana Cheng Ho di Komplek PITI Jl. Gading Sby, menarik mbak. Dulu saya aktif di Sierohis hotel di Surabaya, suka ada pengajian disana. Di tempat ini kental dengan suasana Tionghoa.
- Masjid Ampel, dulu saya dan temen suka iktikaf di masjid Ampel. Suasana etnis Timur Tengah, banyak barang dan makanan timur tengah. Bahkan sering dipakai oleh sodara yang baru pulang haji untuk beli oleh oleh disana, karena lebih murah dibanding beli di Saudi Arabia sana.
- Masih ada lagi masjid akbar di Jl. Pagesangan dekat tol Gempol, tapi nggak ada yang unik, hanya merupakan masjid terbesar di Surabaya dan memiliki interior yang sangat megah.
- Kya kya di jalan Kembang Jepun, china townnya Surabaya. Menyajikan budaya Cina, mulai dari makanan, service feng sui, membaca telapak tangan dll. Coba deh mbak liat, menarik juga kok.
- Trus untuk makanan khas Surabaya, mungkin di jalan kayun banyak sekali kedai makanan.
- Shoping centre di Tunjungan Plaza dan Sogo di Jl. Basuki Rahmat. Menarik juga, biasanya ini tempat saya keluyuran setelah bekerja menghabiskan waktu kalau lagi males diruamah.
Nah mungkin ini aja cukup dulu nanti kalau masih butuh yang lain lagi contact saya ya Mbak. thanks
Mbak Yulis, terimakasih sekali informasinya. Saya sudah buka google, dapat informasi tentang kota Surabaya di Wikipedia. Masjid Cheng Ho tidak disebut-sebut, padahal saya sudah ke kuil Cheng Ho (Sam Poo Kong) di Semarang, dan berniat kalau pas ke Surabaya mau ke Masjid Cheng Ho. Kalau nggak disebutkan Mbak Yulis, obyek penting ini terlewat dari ingatan saya.
Masjid Ampel memang disebut, tapi tidak ada informasi kalau itu masjid dengan suasana Timur Tengah. Pasti menarik sekali. Akan saya kunjungi deh. Kya-kya juga disebut, tapi juga tidak diinformasikan kalau itu chinese town. Wah, info Mbak Yulis lebih akurat dari Wikipedia lho. Sekali lagi terimakasih.
Ohya, kalau Monumen Kapal Selam, Museum Mpu Tantular, Museum House of Sampurna, Taman Budaya Cak Durasim, apa ya isinya?
Thanks a lot.
Musium kapal selam kalau menurut saya pribadi kurang menarik tapi biasanya anak sekolah selalu kesana mbak Tuti. Kalau Taman Budaya Cak Durasim tempat berkumpulnya para seniman Jawa Timur untuk tetap melestarikan kesenian Jawa Timur. Wah yang lain yang disebut mbak Tuti, saya kok lupa ya. Maaf mbak saya lupa atau mungkin malah nggak pernah kesana. Padahal 7 tahun disana mbak. Walah, payah ….
It’s oke, mbakYulis. Informasi dari Mbak Yulis sudah sangat membantu. Biasa kok, kalau di kota sendiri kita malah belum melihat berbagai obyek yang ada. Saya sendiri, sudah puluhan tahun di Yogya, ya baru-baru kemarin mengunjungi Tamansari, Museum Kereta Keraton, Benteng Vredeburg, dlll …. Hal-hal yang ada di depan kita memang sering malah kurang kita perhatikan, kita anggap suatu hal yang biasa, padahal sebetulnya kekayaan yang istimewa …
Oh ya satu lagi, maaf tapi jangan kaget kalau banyak sekali peminta minta di masjid Ampel.
Ok … saya akan siapkan banyak uang receh. Semoga menjadi sedekah yang berpahala (mudah-mudahan mereka memang para fakir miskin betulan, bukan orang yang hanya malas bekerja …)
kalau pas ke jogja, saya dan istri selalu menyempatkan mampir ke sana bu. sekedar menyantap lontong opor dan cuci mata belanja (ini untuk istri, saya mah sopir saja)…
Wah, lain kali kalau pas ke Yogya mampir ke rumah saya ya. Di rumah saya bisa kok lari-lari (lari di tempat tapi …
wong rumahnya RSSSSSSS)
). Itu, baju merah yang di foto lagi diperagakan oleh penjualnya …
Iya, belanja memang selalu asyik. Kemarin saya juga beli nasi kuning dan kolak. Ohya, beli baju juga (walah …
Ngomong-ngomong, dik Aryo ini masih kecil kok sudah punya istri to ….
yaa…ga jadi OR ya Bude Tuti? enakan belanja, persis Omaku. ntar kalo da gede Daffa pengen kuliah di jogya Bude Tuti, biar pintar kaya Bude, biar belajar gak terganggu listrik mati, biar bisa jualan kalo mami telat ngasi subsidi… hehehe.
Ternyata nyonyahnya dik Aryo, omanya Daffa, dan Budenya Daffa yang di Yogya sama saja … suka belanja. Habis, kalau duitnya nggak dibelanjain, ntar sia-sia dong dik Aryo, opanya Daffa, dan Pakdenya Daffa kerja keras cari uang, iya toh? Pembagian perannya kan memang begitu : bapak cari uang, ibu menghabiskan uang …
Kalau Bude Tuti mah udah pinter dari sononya (huehehe …
) bukan karena kuliah di UGM, Daffa. Jadi logikanya dibalik : “orang pinter kuliah di UGM”, bukan “orang kuliah di UGM jadi pinter”, gituuu …. (waduh, Bude bisa dipecat dari UII nih!). Maksud Bude sih, “orang pinter juga kuliah dan ngajar di UII”
Halah, Bude ngaco ya. Maap,maap,maap …
kalo minggu pagi olahraganya di GOR UGM bu, yang di lembah, “namplek bulu”.
menurut kabar burung yang beredar, katanya “pasar kaget UGM” ini mo ditiadakan pa bu? apa iya or sekedar hoax?
btw, tarawih di Maskam, dapet tempat juga bu? biasanya rame banget khan.
Ha?? Olahraga “namplek bulu”? Bulunya siapa yang dipukul? Bulunya udah dicabut to dari badan si empunya?
Wah, itu burung yang menyebar kabar, mudah-mudahan salah dengar. Kenapa harus dibubarkan? Apa ruginya UGM sih? Kalau alasannya membuat kotor, ya tinggal ditarik retribusi saja dari para pedagang untuk biaya kebersihan. Pedagang bisa jualan, pembeli bisa belanja, tukang sapu dapat kerjaan. Iya nggak sih? Coba saya yang jadi rektor UGM (halah!).
Tarawih di MasKam paling asyik di halaman, Yod. Saya suka cari tempat di rerumputan, di bawah sinar rembulan dan naungan pohon palem. Khusuk, syahdu, dan romantis (e-lho …. sholat kok romantis ki piye ??)
Saya hampir gak pernah jalan2 ke UGM kalau pagi, jadi saya gak tahu bagaimana suasana UGM di pagi hari. Tapi dengan melihat2 gambar/foto di atas saya jadi tahu.
Halo feri …
Orang Torajakah dirimu, sehingga nama blogmu “Tongkonan”? Saya pernah kesana (ada ceritanya di blog ini). Wah, Toraja ‘melong tongan’ deh …
Btw, jangan percaya hanya melihat foto saja (soalnya tukang fotonya tak pandai memotret), datang saja langsung kesana. Boleh langsung ke gedung OR di lembah, bergabung dengan Yodama “namplek bulu” …
Para penjual itu tahu kalau masyarakat kita paling hobi lihat-lihat, menawar, dan kalau cocok beli…padahal kadang nggak terlalu membutuhkan.
Di Lembang juga seperti itu…daerah sekitar kompleks AU, setiap Minggu pagi penuh orang jualan….saya sih senang aja..jalan-jalan dan beli makanan….
Betul, Mbak Enny. Para penjual juga tahu, meskipun kita teriak-teriak karena harga beras dan minyak membubung tinggi, belanja jalan terus …. (we lha, gek kepiye iki …).
)
Sama Mbak, saya juga senang jalan-jalan dan beli makanan (plus beli baju, tambah beli selendang, lanjut beli sepatu, sesudah itu beli tas …. kalau ada yang mbayarin
Mbak Tuti,
Adaaaa saja yang baru dan mengagumkan dari tulisan dan informasi mbak Tuti.
Sering menyadarkan kita sebagai orang Jogja, bahwa kondisi seperti pasar minggu pagi di UGM itu betul betul dilematis. Di satu sisi mereka mencari nafkah, di sisi lain … saya khawatir, tidak Minggu tetap jualan, hari lain ya jualan … wah,bisa repot UGM.
Monggo kita saling menghargai kepentingan masing2 pihak, kampus kebanggaan kita harus juga tetap indah,bersih tak penuh sampah dan megah.
Salam.
Nah, ini ‘ngendikane’ Bu Walikota. Melihatnya dari sisi kepentingan banyak pihak.
Ijinkan saya berandai-andai jadi Bu Walkot (boleh dong, mosok mimpi aja nggak boleh). Saya akan bisikkan ke Pak Walkot, agar Pak Walkot bisik-bisik kepada Pak Rektor UGM. Pedagang harus diatur, dan aturan harus ditegakkan. Jualan hanya hari Minggu, habis jualan tempat dibersihkan, tidak boleh ada properti (tenda, meja, bangku) yang ditinggal.
Soalnya pasar Minggu Pagi ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kampus UGM, kalau bisa dikelola dengan baik. Sama seperti ‘ngabuburit’ dan tarawih di MasKam pada bulan Ramadhan.
Mekaten Bu Dyah, ini cuma opini seorang warga lho …
Tentang UGM, tepatnya Fakultas Geografi, terakhir kali kukunjungi tahun 1988, ketika aku melegalisir ijazah untuk berangkat ke University of New South Wales meneruskan kuliah sebagai bagian dari perintah atasan. Sejak itu, aku tidak pernah lagi hadir di kampus itu. Ketika masih di Kantor Pusat di Jakarta, ada beberapa kali ke Yogya, tapi sangat buru buru, datang pagi pulang sore. Semenjak bertugas di Medan, wah Yogya itu sudah jauuuuuh,
Kalaulah aku hadir hari ini di kota Yogyakarta, siapakah yang akan kutemui? Semua orang-orang (yang sudah tua pada tahun 1977 – 1982) sudah pada pergi menghadap Tuhan, sohib sohib semasa kuliah berserakan ke seluruh pelosok nusantara, tentu ada satu dua teman lama yang jadi dosen di UGM, yang sekarang barangkali sudah pada Profesor. Mungkin suasana, bangunan bangunan, semua sudah pada berubah. Apakah masih ada Bioskop Rahayu, apakah masih ada Gardena Departmen Store, apakah masih ada Bioskop Soboharsono, apakah masih ada Gudeg Bu Amat di jembatan Selokan, di sudut Fakultas Geografi dan Fakultas Teknik dulu. Perubahan ini membuat rinduku menjadi luluh, dan merasa lebih nikmat menggumuli kenangan masa lalu, Yogya yang selalu kutelusuri dengan motor bebek tuaku yang sekarang sudah entah dimana ya ??????????? (dulu kujual sama teman dari fakultas teknologi pertanian untuk biaya jilid skripsi he…he…he). Mungkin jika aku ada di Yogya, aku akan menelusuri jalan-jalan memori, untuk berharap bertemu dia yang kucari (lagunya broery ya……) hati batakku yang rapuh ini takkan sanggup menanggungnya ha..ha..ha.
UGM……. UGM, tuti dengan tulisannya membuatku………… sadar bahwa aku sudah tua.
Chris,
Dari tahun 1988 sampai 2008, berarti sudah 20 tahun lewat. Sudah pasti banyak yang berubah di Yogya (kalau nggak berubah, berarti mandeg dong …). Tetapi bukankah perubahan itu adalah hakiki dari kehidupan itu sendiri (halah, sok filosofis pula aku ini …
). Gedung-gedung kampus sudah banyak diganti dengan gedung baru yang lebih megah. Yang masih dipertahankan asli adalah gedung Balairung. Bioskop di Yogya sudah gulung tikar semua (emang dulu nonton pelem lesehan?
). Bioskop yang ada sekarang di Ambarukmo Plaza. Gardena Dept. Store masih ada, gudeg Bu Amat tambah laris.
Yogya memang sudah berbeda, tapi aroma dan atmosfirnya masih tetap sama. Jangan ragu-ragu ke Yogya Chris. Sambil mengenang drama-drama romantis dulu, menyusuri kembali jalan-jalan memori, siapa tahu menemukan sesuatu keindahan yang baru. Hati Batak, aduh … ternyata suara keras “Horas bah!!” itu sangat lembut di dalam hatinya ya …
Kalau ke Yogya, telepon saja aku.
Kita memang sudah tua. Begitulah alam berkata. Tapi usia tua membuat kita lebih bjaksana, bukahkah begitu? (ya ya ya, semoga …)
Sekitar sepuluhan tahun yang lalu UGM belum seramai ini. Paling yang jualan hanya pedagang makanan saja. Tapi sekarang kok sudah jadi pasar ya dan kelihatan ruwet? Lama banget sih gak lewat atau mampir ke sana.
Menurut saya, ramai sebentar pada hari Minggu pagi nggak apa-apa. Sesudah itu toh bersih kembali. Biarlah UGM juga mendatangkan rezeki dan dapat ‘dinikmati’ oleh masyarakat umum, jangan jadi ‘menara gading’ yang angker dan untouchable …
Ass. Mohon diinfokan kepada yang lain.. Jangan sampai kena korbannya. Beberapa perusahaan sedang mencari nama-nama hacker yang menyalah gunakan kepintarannya hingga akhirnya merugikan banyak pihak. Berhati-hatilah jika Anda menemunkan nama-nama seperti di bawah ini :
1. mousenetstatawar
2. byz9991
3. willy8978
4. grecc878
Dari beberapa sumber, mereka selalu meninggalkan inisial tersebut setelah merusak beberapa situs. Berhati-hatilah jk anda menemukan nama-nama itu, baik di chatt, YM, dll. Saya dan beberapa teman-teman adalah korban mereka.
Terima Kasih.