TEROR DARI UDARA
Kita pasti pernah mendengar, menonton langsung, melihat di televisi, atau membaca di koran, tentang ‘tembakan ke udara’. Tembakan ke udara dilakukan pada berbagai event : merayakan kemenangan perang, memeriahkan tahun baru, upacara militer, peringatan bagi penjahat yang kabur, juga tanda start untuk lomba lari. Meskipun beberapa waktu yang lalu ada juga pelawak ibukota (berinisial D) yang menembakkan peluru ke atas ketika jengkel dikerubuti wartawan yang ingin tahu tentang isteri simpanannya, itu pastilah peristiwa konyol yang hanya mungkin terjadi di Indonesia ….
Tembakan ke atas tentu saja tidak ditujukan untuk melukai orang, tetapi benarkah tembakan seperti itu aman? Apakah setelah ditembakkan, peluru itu akan terus melesat tanpa henti, menembus alam semesta, tiba dan bersemayam di nirwana, dan tak pernah jatuh kembali ke bumi?
Tentu saja tidak. Peluru itu akan jatuh kembali ke bumi. Dan jika mengenai kepala kita, maka kita akan langsung naik ke syurga (atau kecebur ke neraka).
Revolver Colt Python 357 Magnum. Gagah dan berwibawa
Peluru yang ditembakkan dari senapan militer akan melesat ke udara dalam kecepatan 3.000 km/jam. Kecepatan ini akan berkurang karena resistensi udara dan gaya gravitasi bumi. Dibutuhkan waktu sekitar 20 detik untuk mencapai ketinggian sekitar 3 km, kemudian peluru akan turun kembali ke permukaan bumi. Kecepatan peluru pada saat turun adalah sekitar 330-770 km/jam, tergantung pada berat dan bentuk peluru. Waktu yang dibutuhkan peluru untuk turun adalah sekitar 30 detik. Pada saat ditembakkan peluru melesat dengan kecepatan tinggi karena dorongan tenaga dari senapan, sedangkan pada saat turun peluru lebih lambat karena hanya di’sedot’ oleh gaya gravitasi bumi yang kekuatannya jauh lebih rendah daripada ledakan senapan.
The question is (halah, sok Inggris) : apakah peluru yang jatuh ke bumi dengan kecepatan 330-770 km/jam ini cukup berbahaya? Oh ya! Sure. Of course. Sudah pasti. Peluru dengan kecepatan 110 km/jam akan menembus kulit, sedangkan pada kecepatan 220 km/jam akan menghancurkan tulang. Jadi silahkan memanjatkan doa terakhir jika anda berada di lokasi penembakan bebas ke udara, sebab barangkali sebentar lagi anda akan menghadap Tuhan …
Di Kuwait, seusai Perang Teluk tahun 1991, orang-orang merayakannya dengan menembakkan senjata ke udara, dan 20 orang Kuwait tewas akibat peluru-peluru yang jatuh itu. Di Los Angeles antara tahun 1985 hingga 1992, para dokter di King/Drew Medical Center merawat 118 orang akibat luka kejatuhan peluru, 38 orang di antaranya meninggal. Kebanyakan orang yang dapat bertahan hidup menderita cacat jangka panjang yang parah, seperti rasa sakit kronis, serangan kejang, paraplegia (kelumpuhan kedua tungkai), dan kuadriplegia (kelumpuhan kedua tangan dan kedua kaki).
Bedil-bedil yang ditemukan tentara Marinir Amerika di Fallujah, Irak, tahun 2004
Di Slidell, Louisiana, AS, menembakkan senjata api ke udara dianggap pelanggaran hukum, yang bisa dikenai sanksi penjara enam bulan dan denda 500 dolar. Di New Orleans, Louisiana, masalah peluru yang jatuh begitu parah sehingga diadakan kampanye “Peluru yang Jatuh Akan Membunuh” pada saat Natal dan Tahun Baru.
Kejadiannya akan berbeda jika peluru ditembakkan ke atas dalam ruangan hampa udara, seperti di permukaan Bulan, karena di Bulan tidak ada resistensi udara. Maka, jika peluru meninggalkan laras senapan dengan kecepatan 3.000 km/jam, peluru itu akan jatuh membentur permukaan Bulan pada kecepatan yang sama. Peluru juga akan naik jauh lebih tinggi, sekitar 35 km, dan membutuhkan waktu 168 detik untuk naik dan turun kembali.
Pistol Smith & Wesson Model CS45. Wow, keren ya ….
Pelawak yang menembakkan pistol ke udara untuk mengusir wartawan pastilah sedang mengidap syndrom ‘sok jago’ dan ‘mabuk popularitas’, dan pantas saja kalau kemudian berurusan dengan pihak yang berwajib. Tapi bagi polisi yang sedang mengejar penjahat, gimana ya caranya memberikan peringatan kalau tidak dengan menembakkan pistol ke udara? Apa pakai kentongan? Hwaduuh …. repot dong
Mari kita sama-sama berdoa, semoga kita tidak berada di waktu dan tempat yang ‘salah’ sehingga tertembus peluru jatuh. Mana enaaaaak …..
(Sumber : Dr. Karl Ksruszelnicki. Foto : Wikipedia)




Saya fikir senapan yang ditembahkkan keatas tersebut cuma peluru kosong atau peluru karet gitu? Eh ternyata beneran dan berbahaya lagi……
serem mbak. Kalau yang dipakai untuk upaca penghormatan Pahlawan itu senapan kosong apa beneran ya mbak?…. Berarti mesti hati hati juga kalau ada perayaan seperti itu ya. thanks
Tuti :
Kalau tembakan salvo untuk upacara militer, mungkin (saya juga belom tahu, besok kita tanya ke Pangab ya … ) peluru kosong ya? Seperti juga tembakan start pada berbagai olahraga. Saya juga nggak tahu, apakah senapan kosong yang ditembakkan bunyinya sama dengan senapan yang berisi peluru? Soalnya di film-film, kalau si tokoh menembakkan senjata apinya dan ternyata magasin pelurunya kosong, dia maupun musuh yang ditembaknya langsung tahu. Kayaknya sih bunyinya beda.
Mbak bisaaaaa aja dapet ide mosting kayak gini. hehehe.
Saya juga selalu pikir seperti Yulis bahwa itu peluru kosong… hanya bunyi saja.
Jadi inget film-film kartun kalo terbang ke atas sampe keluar dari bumi dan muterin bumi hihihi.
TFS mbak
EM
Tuti :
)
Hehehe …. iyaa, habis baca-baca di berbagai blog kayaknya belum ada yang nulis tentang peluru nyasar (kalau cinta nyasar mah banyak ….
Itu film kartun betul juga ‘kali. Kalau kita melesatnya sampai keluar dari pengaruh gravitasi bumi, memang kita jadi berputar mengikuti suatu orbit tertentu, seperti satelit-satelit yang sekarang banyak gentayangan di angkasa luar. Ohya, saya pernah baca, konon di angkasa luar tuh sekarang banyak sampah bertebaran. Bukan sampah kayak di bak sampah pinggir jalan, tapi sisa-sisa satelit dan benda-benda angkasa yang diluncurkan manusia dari bumi.
wah…serem ya mbak…
Btw, mas ku ada 2 orang yang militer, tapi saat ini sudah purna. Beliau selalu berpesan pada para taruna (dulu pernah jadi Gub AKMIL), untuk hati2 dalam penggunaan senapan untuk latihan, dsb. Eh…ternyata, saat ini banyak sekali peluru nyasar…lha sampai2 anak kecil juga kena sasaran. Mbak Tuti elok tenen, ilmu tentang senapan saja, di ketahuinya sampai rinciiii… Aku iri positip, kok bisa ya..hard disk nya luar biasa … he he he.
Oh ya, saya lagi off 2 hari gak bisa di akses, blog saya sedang proses migrasi dr server internal. Rasanya sdh rindu kontak teman2. Nuwun
Tuti :
Iya, itu anak kecil yang tertembus peluru malah kejadiannya di Rutan (saya lupa tahanan mana), karena kelalaian seorang polisi ketika akan membersihkan senjata apinya. Si ibu yang menggendong anaknya itu juga terluka, tapi jiwanya selamat.
Kalau tentang ilmu, sumber buanyaaak sekali kok, Mbak Dyah. Banyak buku yang berisi tulisan ringkas padat tentang hal-hal ‘aneh’ tapi menarik, kita tinggal meramunya dengan pengalaman dan wawasan kita sendiri, dilengkapi foto-foto yang bisa kita cari di internet (syukur kita punya foto sendiri yang cocok). Artikel di koran dan berita tv juga bisa menjadi sumber inspirasi yang nggak habis-habis. Di rumah saya, channel tv selalu mengarah ke Metroteve, yang banyak menyajikan berita dan ilmu pengetahuan. Saya nggak pernah nonton sinetron atau gosip artis.
Ohya, mudah-mudahan blognya segera bisa diakses lagi ya. Saya tunggu.
Serem banget topiknya posting kali ini mbak… sampe mrinding mbacanya…membayangkan kaluk harus nampani peluru yang melaju turun dari nirwana tadi. Memang sdh slisih banyak sih dari waktu ditembakkan ke atas…tapi khan masih 300 km/jam… masih kayak ketubruk sepur sinkansen donk!
Amit-amit jabang beibeh deh!
(btw, duo kribo sdh welcome kepada komen wordpress lho mbak, kta diajarin guru dari Jerman..)
Tuti :
Hiyaaa ….. biar sekali-sekali pembaca ngeri dan bacanya sambil merem (lho, terus piye le moco?).
Eh, itu sepur Shinkansen malah bisa sampai 500 km/jam lho. Aku pernah posting soal kereta api (silahken baca “Naik Kereta Api … Tut Tut Tut”).
Alhamdulillah, syukurlah kalau blogspot sudah bisa menerima komentar tanpa rewel minta konfirmasi macem-macem. Lha aku sudah ikutin, ngetik deretan huruf yang dia suruh (yang bentuknya pating pletot itu …) sampai berkali-kali, kok ora bar-bar. Wah, yo wis, tak tinggal mulih …. (lho, kok njur nesu
)
Weeh … kapan ke Jerman? Hebat dong, minta diajarin gitu aja sampai ke negerinya Pakde Hitler …
setidaknya akan ada satu orang/benda tak berdosa yang akan ketiban ceblokan peluru dari nirwana ituh… Kalo si orang emang lagi dalam keadaan depresi dan berniat bunuh diri tapi gak tahu cara efektif apa yang musti dilakukannya, pastilah sebelum peluru jatuh menghujam kepalanya dia akan sempatkan berteriak…” terima kasih Tuhan kiriman pelurunyaa….” lalu dorrr! MERDEKA! Lho…
Tuti :
Mudah-mudahan orang yang depresi itu bukan Ayik, sebab kalau iya, pasti sejak sekarang dirimu akan rajin mendatangi para pemilik sen-pi …. Aku ikut bertanggungjawab dong!
Eh, mau tahu cara bunuh diri efektif yang lain? Aku punya banyak tips lho. Ntar ya …
Ah Ibu Tuty …
This is the other way of shooting …
Kalo biasanya kena peluru yang berangkat …
Ini orang bisa mati karena peluru yang pulang …
Hah …
Ini menarik ibu …
And surprise … Ibu Tuty bicara Pistol dan peluru …
Hhhhmmm …
Tuti :
)
Iya Pak, emang kurang kerjaan tuh peluru. Tinggal pulang aja kok masih jahil nyari korban …
Saya dulu (sekarang juga masih) suka baca cerita spionase, James Bond, dll. Nah, dalam novel-novel semacam itu berbagai jenis senjata api kan sering muncul. Makanya ketika cari foto-foto senpi di Wikipedia, saya senang lihat macam-macam foto sen-pi. Oooh …. ini to yang namanya Colt Magnum, Smith & Wesson, Luger, Howitzer, dll. Sudah akrab dengan namanya, tapi belum pernah lihat gambarnya (kayak Pak Nh ….
Kalau terperangkap oleh gravitasi benda langit seperti planet atau asteroid, ya pasti berakhirnya di benda langit tersebut. Huehehe…. Tapi… andaikan melesat ke luar angkasa hingga keluar galaksi entah gimana terus kembali lagi ke Bumi kayaknya sih kita2 ini tetap saja aman. Yang kena sial ya anak cucu kita, jutaan tahun yang akan datang!
Tuti :
). Apalagi kalau terperangkap Black Hole, yang dipercaya oleh Raja Khufu’ sebagai syurga (sehingga ia membangun Pyramide sebagai tangga untuk menuju ke lubang hitam itu), maka si peluru benar-benar bersemayam dengan damai di nirwana.
Wuehehe …. ini komen yang ilmiah, Mas Yari. Betul, kalau peluru itu melesatnya sampai ke luar angkasa, ya nggak balik ke bumi (soalnya sudah terlalu jauh, jadi si peluru sudah lupa jalan pulang …
Btw, saya pernah menulis tentang pembuatan Pyramide di artikel “Pyramid, Jalan Menuju Syurga Abadi”.
peluru nyasar dan timbulkan korban
agak lumayan sering terjadi di Indonesia
tapi duit hasil korupsi pejabat
tak pernah nyasar ke rumah mikekono
hehehee…………
postingan mbak Tuti makin sophisticated aja ya
Tuti :
Itu duit hasil korupsi memang enggan nyasar ke rumah orang baik-baik seperti kita, Bang Agus. Tapi kalau kita jadi pejabat, baik itu eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, duit panas itu gampang sekali nyasar (atau memang disasar … ). Beliau-beliau yang duduk di atas itu tahu nggak ya, kalau karena jabatannya, hisab mereka di akhirat nanti sangat panjang dan lama?
Terimakasih sudah ‘setia’ mengunjungi saya, Bang Agus …..
Klo di Auzzi, boomerang kembali ke pemiliknya setelah melakukan misi yang tidak berhasil mencapai sasaran, maka peluru yang ditembakkan ketempat tanpa sasaran, akhirnya sibuk nyari sasaran sendiri (tanpa sepengetahuan si penembak). Coba kalau pelurunya akan kembali seperti boomerang, pasti si penembak akan berpikir seribu kali sebelum meletuskan bedilnya.
Tuti :
Iya, itu peluru kenapa nggak secerdas boomerang ya Bang? Masak nggak ngenalin pemiliknya sendiri, terus kembali ke orang lain. Btw, itu cara kerja boomerang gimana ya, kok bisa balik gitu? Lintasan geraknya seperti apa? Gimana cara mengukur jarak antara si pelontar dengan sasaran yang dibidik? Kalau boomerang balik ke si pelontar, gimana cara si pelontar bisa menangkapnya lagi dengan aman?
Pe-er nih Bang, dikerjain ya, besok dikumpul …
Ketiban batu aja dah bikin kepala benjol apalagi peluru yang bentuknya tajam. Pantesan mereka yang melakukan tembakan salvo dalam upacara militer itu senjatanya tak pernah lurus ke atas, tapi agak miring dikit. Takut kejatuhan pelurunya sendiri kali ya…..
Tuti :
Betulll ! Nggak bertanggungjawab banget tuh penembak salvo ya? Kalau ada pepatah “lempar batu sembunyi tangan”, ini mah “tembakkan peluru ngacir sendiri” … hehehe
Ehhmm… gitu ya bu.
Tapi, mungkin si empunya pistol menembakan ke atas dengan tujuan membela diri atau peringatan dengan peluru hampanya. Kalo peluru beneran, memang jadi Mak Nyus.
Tuti :
Emang gitu nak …
Kayaknya sih, kalau polisi lagi berdinas, pasti pistolnya berisi peluru tajam. Jadi kalau nembak ke atas, ya ada pelurunya bener. Mana sempat sambil berlari mengosongkan magasin dulu, baru nembak ke atas? Habis itu masang lagi peluru ke magasin. Wah, bisa-bisa larinya jadi terantuk batu ato nyebur kali …
Mbak Tuti itu anak kecil yang menjadi korban keteledoran Polisi kalau tidak salah di Rutan Bojonegoro…..
yang sedang menjengguk ayahnya yang dititipkan di Rutan tersebut karena mencuri kayu di hutan. Trus akhirnya penahanan ayahnya ditunda sampai waktu tidak terbatas karena kecelakaan tersebut. Kasihan kebebasannya seharga dengan nyawa anak perempuan yang berusia 7 tahun. Saya suka metro TV juga mbak kalau lagi siang sambil ngerjain kerjaan rumah sering pasang Metro TV. thanks
Tuti :
Wah, Mbak Yulis yang di Amrik malah tahu lebih detil berita itu. Asyik ya, di Colorado bisa nonton Metroteve, lha saya di Indonesia nggak bisa nonton teve Colorado.
Karena waktu kita terbatas, memang kita harus pandai-pandai memilih tontonan dan bacaan yang bermanfaat, yang membuat pengetahuan kita bertambah. Saya, seperti juga teman kita Mbak Dyah Suminar, sangat prihatin dengan kegemaran para ibu dan remaja wanita nonton sinetron dan gosip artis.
Terimakasih.
iya juga yah….
bahaya juga kita harus pake helm dwonk…!
heheheh…
salam kenal mbak
Tuti :
Betul dik ….
Makanya tentara selalu pakai topi baja (kalo lagi perang), soalnya mereka tahu, kalau kepala mereka diadu dengan peluru, pasti pelurunya yang menang.
Salam kenal juga.
eh pasti orang itu langsung diambil malaikat… lha pelurunya nyasar kena anaknya
Tuti :
Eh …. orang yang mana, Pak?
Kalau yang di Rutan Bojonegoro, itu anak orang lain, bukan anaknya sendiri …
Memang betul dia langsung ‘diambil’, tapi oleh provost.
..iya ya.. bahkan di beberapa tempat, yang di-tembakkan ke udara itu jenis AK-47.. wahh.. serem..
Tuti :
Betul, Pak Arief. Kalau yang ditembakkan AK-47 (itu senapan otomatis ya?) pasti pelurunya bertaburan kayak kembang api. Whoao …
terlanjur berkunjung nih
rupanya belon ada yg baru…..
berarti saya termasuk dalam
kelompok orang kesasar jg nih ya
untungnya kesasar di veranda-nya
orang shalihah sprti mbak tuti
jd nggak kena dorrr
Tuti :
wah, maaf Bang Agus
kecele ya ….
habis nggak bikin appointment
besok kalau mau mampir sms dulu ya
tapi kan masih banyak tulisan saya yang lain
biar jadul masih oke kok (halah!)
kalau pengin dorrr, ada nih
balon kejepit pintu ….. dorrr!
jd inget waktu masuk kuliah dulu.. mesti ikut wajib militer..
sempet nyobain senapan.. lupa jenis apa gitu..
tapi bener2 pengalaman yang menyenangkan..
Tuti :
Whoaa … baru tahu, menembakkan senapan ternyata menyenangkan ya …
Pengin juga aah ….
Kenapa sih harus ada pistol dan peluru?
Rasanya itu bukan benda-benda yang membuat hati damai dan sukacita….
Tuti :
Itulah manusia. Bisa damai, yang dibikin justru keributan. Bisa sukacita, yang diciptakan malah sumber dukacita dan malapetaka …
Aneh juga si pelawak itu, main-main kok pake peluru….
Betapapun, namanya peluru, bila terkena tubuh pasti berisiko, walau berupa peluru karet sekalipun.
Lha ketiban buku aja kaki sakit kok….
Tuti :
. Kalau bukunya cuma 100 halaman, kaget aja ‘kali …
Senjata api itu membawa hawa panas. Orang yang punya senpi cenderung merasa diri ‘lebih’ dari orang lain. Punya barang istimewa, pengin dong memamerkannya pada orang lain. Kalau terancam sedikit saja, lalu tergoda ingin memakainya.
Eh, yang sakit pasti kalau ketiban buku setebal 1000 halaman ya mbak
Boomerang dipergunakan oleh suku Aborigin untuk membunuh mangsanya, misalnya membidik burung, membidik binatang liar lain di padang steppa. Kalau boomerang dilemparkan maka dia akan berputar ngingngng…………..ngng nguingng….. dan bila dia mengenai sasaran, maka jatuhlah dia ke tanah. Tapi jika tidak mengena, maka dia akan berputar terus dengan gerakan ellips dan ketika mendekat kepada pemilik/pelontar, maka pelontar menangkapnya untuk dilontarkan kembali. Keahlian melempar sejalan dengan keahlian menangkap, tanpa kepandaian menangkap maka keahlian melontar akan menjadi sia-sia. Dan semua harus dilakukan melalui latihan dibawah pengawasan ahlinya. (Sayang, aku nggak sempat belajar menggunakan boomerang, karena aku nggak sempat jumpa sama ahlinya).
Tuti :
Ya itu, kok bisa lemparannya berbentuk ellips itu gimana? Terus cara membuat ellipsnya gede atau kecil (kan harus tepat sasaran) itu gimana? Oh … sori, Bang Sis nggak sempat ketemu ahlinya kok ya?
Kalau ‘lempar batu sembunyi tangan’, itu mah gampang banget Bang …
Mari kita sama-sama berdoa, semoga kita tidak berada di waktu dan tempat yang ’salah’ sehingga tertembus peluru jatuh. Mana enaaaaak …..
***Amin.
Tuti :
Ya robbal ‘alamin …
Aduh seremmm gak kebayang kalau itu bersarang pada tubuh. Salam kenal!
Tuti :
Kalau gitu nggak usah dibayangin, dirasain saja (lho???!!)
Salam kenal juga, thanks sudah mampir.
hmmmm… kmrn emang sempet kepikiran, sbnrnya kekuatan jarak sebuah peluru itu maksimal berapa sih.. misal ya, ada polisi yg lg nembakin peluru ke atas, lha kl misalnya di atas itu tb2 ada pesawat yg sedang lewat trus piye? kl pelurunya bs nembus badan pesawat bisa bocor dan jatuh dunk… seram kan ya, tp dalam situasi kyk gitu, disaat detik2 mengejar si penjahat, mosok pak polisinya msh liat2 ke atas sblm nembak, bisa kabur jauh dunk penjahatnya..
Tuti :
) tertembaknya pada ketinggian berapa, sebab semakin tinggi, kecepatan peluru semakin berkurang (sampai mencapai nol ketika mencapai titik balik).
Jarak jangkau sebuah peluru yang ditembakkan tentunya tergantung pada jenis senapan dan jenis pelurunya. Bisa nembus badan pesawat nggak? Tergantung lagi pada pesawatnya jenis apa. Kalo pesawat tempur (Tornado misalnya), mestinya didesain lebih kuat dari pada pesawat kecil kayak Casa. Tergantung juga (banyak amat gantungannya ya …
Saya sih usul, kalau Pak Polisi mau ngasih tembakan peringatan ke atas, lihat-lihat dulu ada burung lewat nggak. Kan kasihan tuh, kalau si burung jadi korban salah sasaran …
Ini sudah di buktikan dalam mythbuster. Terminal velocity sebuah peluru tidak cukup mematikan bagi manusia, paling parah benjol. Terminal velocity adalah kecepatan maksimum suatu benda saat jatuh bebas ke bumi di saat gaya gesek dengan udara sama dengan gaya gravitasi (tidak ada penambahan percepatan).
Bahaya justru muncul saat senjata ditembakkan tidak tegak lurus ke atas.
Tuti :
Terimakasih tambahan informasinya. Semua yang saya tulis adalah berdasarkan sumber-sumber yang saya baca di referensi.
Coba di cek:
http://en.wikipedia.org/wiki/MythBusters_(2006_season)#Bullets_Fired_Up
Tuti :
Ok, terimakasih …
artikel yang sangat bagus
Tuti :
Terimakasih
Dalam kasus peluru ditembakkan cukup dekat dengan sudut vertikal untuk menghasilkan lintasan non-balistik, peluru akan jatuh, kehilangan spin, dan jatuh pada kecepatan jauh lebih lambat karena kecepatan terminal dan karena itu diberikan kurang dari mematikan pada dampak (rating Busted). Namun, jika peluru ditembakkan pada sudut yang lebih rendah memungkinkan untuk lintasan balistik (kasus jauh lebih mungkin), itu akan mempertahankan spin dan akan mempertahankan energi yang cukup untuk menjadi mematikan pada dampak (peringkat yang masuk akal). Karena potensi ini, menembakkan pistol ke udara adalah ilegal di negara bagian AS,
bahkan di negara-negara di mana itu legal, tidak dianjurkan oleh polisi. Juga MythBusters mampu mengidentifikasi dua orang yang terluka oleh peluru jatuh (dipecat dari sekitar 1 mil (1,6 km), dan karenanya pada sudut yang lebih rendah), salah satunya fatal (rating Dikonfirmasi). Sampai saat ini, ini adalah mitos hanya untuk menerima peringkat ketiga pada saat yang sama.
……artikelnya bertujuan baik dan sangat bagus ,tapi jangan bikin orang parno ahh
Regards