POJOK NGEBLOG, POJOK NGIMPI
Menjelang lebaran, kayaknya banyak teman-teman bloger yang sudah off. Mungkin karena mudik, mungkin karena sudah libur kantor (yang biasanya nebeng nge-net di kantor jadi libur juga ngeblognya … hehe), mungkin karena sibuk menyiapkan berbagai masakan (nyam nyam …. jadi lapar nih). Oleh karena suasananya nggak kondusif (halah!) untuk posting artikel serius, saya tulis yang enteng-enteng aja daaah ….
Ini tentang sudut-sudut di rumah yang menjadi favorit saya, dan paling banyak saya pakai untuk menghabiskan waktu. Rumah saya keciiil. Kalau saya berdiri di ruang tengah, saya bisa melihat seluruh sudutnya. Pokoknya dalam beberapa langkah, semua sudah terjangkau tangan, dari dapur sampai tempat tidur.
Oh ya, mohon maaf kalau ada kesan pamer. Maksudnya nggak gitu sih, swear. Lagipula apa yang dipamerin, wong cuma meja dan kursi doang. Nggak ada yang mewah, mahal, atau eksklusif. Saya cuma ingin nunjukin, ini lho tempat saya ‘uplek’ sehari-hari … (padahal bagi teman-teman mungkin e-ge-pe ya, emang gue pikirin lu mau ngeblog sambil jongkok atau sambil nyungsep …. hehehe …. koq gitu sih? tega amat … )
Ruang kerja tempat saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis postingan, menjawab komentar, searching data, dan blog walking
Ada kalanya, setelah berjam-jam duduk di depan komputer, punggung terasa pegal (maklum mulai uzur … ). Maka saya akan beristirahat sejenak, ‘ngglundung’ di tempat tidur yang terletak di samping meja kerja. Ohya ini adalah tempat tidur ‘alternatif’ juga, kami pakai kalau salah satu dari saya atau suami saya sedang flu, supaya tidak saling menularkan virus. Juga kalau saya dan suami ’sepakat untuk tidak sepakat’ tentang suhu ruangan. Suami saya suka tidur dengan AC disetel pada 26°C, saya pada 30°C. Akhirnya di tengah-tengah tidur rebutan remote. Daripada berantem (mana bisa tidur sambil berantem, kan?) ya udah, I go away …
Kucing penunggu itu sekarang sudah ‘beranak-pinak’ jadi 5 ekor …
Selain dari membaca buku, koran, majalah, dan searching di website, ide penulisan artikel sering kali saya peroleh dari nonton televisi atau VCD. Nah, di pojok serba hijau tosca inilah tempatnya. Sudut ini ada di ruang tengah, di samping ruang kerja saya. Di ruang ini penunggunya bukan kucing, tetapi dua bocah berambut blonde, yaitu si Micky dan si Lucky. Sudah bertahun-tahun mereka bercokol di kursi itu, ogah dilengserkan, malah mengajukan RUU penambahan usia pensiun 70 tahun … (hehehe, maap Bapak-Ibu di MA). Di belakang sofa ada lukisan Bali yang menggambarkan aktivitas beberapa wanita di kali. Aslinya ada yang telanjang, lalu karena saya nggak mau ada lukisan wanita telanjang di rumah, wanita yang melanggar UU Pornografi itu saya pasangin ‘baju’ dari kertas ….
Pojok hijau tempat menjaring berita dan pengetahuan dari televisi dan VCD
Lha televisinya ada dimana? Sudah tentu ada di depan kursi (mosok di bawah kursi ….. ah, ayak-ayak wae …)
Tidak jarang juga, saya dan suami berdiskusi (halah!) tentang blog saya dan portal dia (Melayuonline.com , Wisatamelayu.com , dan RajaAlihaji.com ) sambil makan. Meja makan terselip di bawah tangga naik menuju ke perpustakaan. Kalau hari pas cerah, dari jendela perpustakaan itu bisa terlihat sebagian perbukitan di Gunung Kidul. Oh ya, kami tinggal di lantai dua, perpustakaan itu di mezanin lantai tiga, jadi cukup tinggi untuk melihat ke bukit di kejauhan. Di sebelah kanan tangga adalah ruang tamu.
Diskusi sambil makan, eh … makan sambil diskusi, nggak boleh emosi supaya nggak tersedak …
Lukisan dalam warna cokelat dan kuning emas di atas bufet adalah karya GM Sudarta, kartunis Kompas, menggambarkan kesatuan ayah-ibu-anak. Di belakang adalah ruang tosca tempat nonton televisi.
Lukisan GM Sudarta ini membuat saya ‘falling in love in the first sight’. Tulisan Jawa di sebelah kiri atas berbunyi “GM Sudarta” sedang yang di kanan atas berbunyi “Putro Bapak Ibu”
Sofa di ruang tamu ini paling nyaman, karena ukurannya pas untuk tubuh saya yang tidak tinggi (halah, pendek! gitu aja kok pake eufemism ….). Sulit mencari sofa dengan ukuran agak kecil seperti sofa ini, sehingga ia tidak kunjung kami ganti meskipun sudah bangkotan. Tapi karena nyamannya, membaca disini sering berakhir dengan terbang ke alam mimpi …. (celakanya, mimpinya bukan mimpi baca buku).
Patung ketika kami wisuda? Ah, bukan …. Tebak, patungnya yang liliput atau stoplesnya yang raksasa?
Kucing Bali ini mengidap Hydrochepallus ‘kali ya, kepalanya gede beneeer ….
Seperti patung burung hantu inilah mungkin kalau saya tua nanti, harus pakai kaca pembesar untuk membaca buku, satu mata terpicing satu mata melolo …
Itulah beberapa sudut di rumah saya, tempat saya banyak menghabiskan umur, menikmati saat-saat yang menyenangkan. Tidak ada yang mewah, semua sederhana saja. Tetapi itulah rumah saya, my home sweet home.
Oh, pasti senang sekali melihat home sweet home teman-teman juga. Karena kita tinggal di ujung-ujung dunia, sehingga kecil kemungkinan bisa saling berkunjung physically, kita saling berkunjung lewat foto saja. Okay? Ocree dong …


















Horeee …. nomer satu buat comment… Aduuuh… rumah kok rapinya luar biasa. Mbak Tuti, beberapa waktu yang lalu saya pernah tulis, kalo mbak Tuti pasti hapal, rinci untuk semua koleksi… Nah untuk sudut sudut terfavorit pasti lebih rinci dan rapi. Piye to ya, kok gak bisa niru saya nih.
Tuti :
Hwaduh, baru aja saya upload sudah dipirsani Mbak Dyah. Foto ruang tamunya saya ganti lho, baru aja saya jepret sesudah tulisan ini saya posting. Soalnya lukisannya sudah diganti dengan yang baru (foto pertama saya buat beberapa bulan yang lalu).
Ayooo … Mbak Dyah bikin juga dong tulisan tentang sudut-sudut terfavorit di ndalem. Wah, kalau ndalemnya Mbak Dyah asli buaaaguss. Wis to, pokoknya bikin siapa pun kerasan. Lagipula ndalemnya banyak, jadi tulisannya berseri nanti …
SAYA LIAT BUSA KURSINYA UDH MULAI KEMPES MBAK…PADAHAL KAYU NYA KOKOH DAN MASIH MENGKILAT BANGET…KETAHUAN DEH…MBAK DUDUK DI SANA LEBIH DARI ENAM JAM 1 HARI….HEHE
Tuti :
Wakakaka …. Mbak Dona kok jeli amat, sampai lihat busa kursi kempes segala. Tapi betul sekali Mbak, waktu lihat foto itu, saya juga mikir … wah, kursinya kok kelihatan peyot. Itu bukan karena diduduki lebih dari 6 jam sehari Mbak, tapi karena memang sudah minta ganti … hehehe
I MEAN…KURSI RUANG KERJANYA…
Tuti :
Iya Mbak.
Ada di antara teman-teman yang berminat mensponsori penggantian jok kursi saya? Masak nggak kasihan sih lihat kursi kempot gitu …
Aku tercenung……… apa mungkin ya aku punya cukup uang untuk ongkos berkunjung ke rumah Tuti (yang di Yogya).
Khabarnya yang diceritain ini, rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah kostku dulu di Tawangsari, Jl. Kaliurang.
Tuti :
Jangan lama-lama tercenungnya Bang, ntar keburu pemilu 2009 (halah, apa hubungannya?).
Wah, kleru Bang, iki dudu omahku sing neng Jl. Kaliurang. Ini yang di Yogya bagian selatan. Kalau yang di Jl. Kaliurang, silahkan lihat “Caty’s House” ….
pemandangan bukit di luar nggak di foto mbak ?
rumahnya terlihat adem, rapi, penuh karya seni

masak boneka kucing bisa beranak 5 ekor sih mbak ? itu patung yg diwisuda rambutnya pirang ya
btw, thanks a lot sudah membuka pojok2 indah rumahnya mbak
Tuti :
Wah iya … pemandangan bukit di luar jendela belum difoto. Harus nunggu cuaca cerah dulu.
Sebenarnya rumah saya terletak di pinggir jalan besar yang cukup bising dengan suara kendaraan. Tapi karena sudah terbiasa, ya nggak terasa lagi ….
Hehehe …. boneka kucing memang nggak bisa beranak Mbak Elys, soalnya nggak ada rumah sakit bersalin yang mau ngelayani. Maksud saya, sudah tambah dengan boneka-boneka baru, gitu lho …
Thanks juga sudah mau melihat pojok-pojok sederhana rumah saya. Saya pengin lihat rumah Mbak Elys juga lho …
OOT : mbak, blognya tak link ya, thank u
Tuti :
Silahkan Mbak, blog Mbak Elys sudah saya link juga kok ….
Waaaah mbak….adem dan rapiiiii banget rumahnya. Ntar kalo aku ke Yogya boleh mampir ngga?
Aku mimpi dulu deh kalau mau kasih liat sudut rumahku di Japan ini… Ngga bakalan aku bisa fotoin hehehe… Kecuali kalau Riku dan Kai saya titipin ke rumah mertua sebulan…. lalu semua barang2 nostalgia yang ngga perlu, kertas2 bahan ngajar dan soal ujian dibuang… mainan Riku diumpetin di Beranda…. aaaahhh udah gitu tetap aja deh kayaknya ngga bakal layak untuk di foto. Tapi….siapa saja yang mau datang dan rela bersempit2 dipersilakan datang hehehe
Terima kasih loh mbak udah kasih liat rumahnya…aku jadi semangat ngebersiin lagi nih hahaha
EM
Tuti :
)
Terimakasih Mbak Imelda.
Ya iyalah, kalau ada anak-anak kecil, rumah memang susah untuk rapi. Anak-anak kan sedang dalam masa mengeksplorasi segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Apalagi kalau di rumah tidak ada pembantu, walah … ngurus anak-anak saja sudah repots. Saya ingat foto Kai yang main-main dengan bedak, sehingga berceceran kemana-mana … hahaha …
Selamat bersih-bersih rumah Mbak. Saya mau lho bantu (cuma susah ke Jepunnya …
Wah penataan rumah mbak Tuti sangat artistik sekali. Kelihatan cita rasa seninya. Saya masih belajar dan rumah saya terasa gersang. Saya suka curtain dan Marvin suka blind. Menurut saya rumah bercurtain seperti itu kelihatan indah dan lux … Mbak itu pojok ruang makannya kelihatan indah banget. Boleh dong buat inspirasi..
thanks
Tuti :
Mbak Yulis terlalu berlebihan deh mujinya. Iya, curtain (gordin) memang menjadi elemen dominan dalam penataan suatu ruangan. Gordin bisa memberi kesan indah dan mewah, ruangan menjadi tidak ‘kosong’. Apalagi yang berploi-ploi dan berenda. Di rumah saya banyak barang pajangan tetek bengek, cukup merepotkan juga membersihkannya … hehehe. Tapi saya suka, dan ada si mbak yang membersihkan semuanya.
Pojok ruang makan itu sempit saja kok Mbak. Di sebelah kiri meja makan itu ada tangga naik ke mezanin yang satu lagi, yang difungsikan untuk mushola, tempat menyimpan segala macam barang, tempat setrika, dan kamar pembantu. Terimakasih.
wooooow………sungguh memesona
semua sudut ruangan adem,
designnya pas dan menyejukkan hati….
kondisi rmh yg bikin betah itu
sama persis dengan si empunya
rumah yg berakhlak karimah ;
selalu ramah dan apresiatif
Minal Aidin wal Faidzin
Mohon Maaf lahir & Batin
Tuti :
Terimakasih Bang Agus.
Ah, rumah saya biasa saja kok. Banyak rumah-rumah lain yang jauh lebih bagus. Saya mengupload foto-foto ini hanya iseng saja, sekedar menggambarkan suasana yang ada di sekeliling saya ketika menulis di blog.
Minal aidin wal faizin juga, mohon maaf lahir batin.
Kayaknya kalau ke Yogya saya pasti mampir deh, pengin ketemu si kucing, juga boneka yang lucu itu….
O, iya pemandangan gunungnya nggak d foto? Pasti menarik….
Saya sepanjang bulan puasa ini juga menulisnya yang ringan-ringan aja, kalau yang berat rada males mesti bikin konsep…atau dasar males ya…..
Tuti :
Monggo, silahkan mampir ke rumah saya. Saya senang sekali kalau Mbak Enny berkenan singgah. Boneka kucing-kucing itu sering berganti, soalnya kalau ada keponakan datang, sering pada diminta, jadi saya beli lagi yang lain. Pemandangan gunungnya belum difoto Mbak. Besok deh, mudah-mudahan cuaca cerah sehingga perbukitannya kelihatan.
Tulisan Mbak Enny sekalipun ringan tapi selalu menyenangkan diikuti kok. Iya, kalau nulis yang informatif, saya mesti baca buku, searching ke internet, jadi butuh waktu agak lama.
Perbukitan gunung kidul memang betul2 bagus disaksikan dari rumah lantai atas, karena tak ada penghalang bangunan bertingkat. Akan lebih bagus dan sempurna kalau bagian sebelah utaranya ada jendela atau teras untuk memandang gunung Merapi. Pasti asyik deh…
Tuti :
Betul Mas Mufti. Sayangnya gunung Merapi agak susah dilihat dari rumah saya, karena rumah saya terletak di Yogya bagian selatan, dan banyak bangunan tinggi yang menghalangi pemandangan ke arah Merapi. Tapi kalau dari jembatan layang di Klitren, atau dari kampus saya di Jl. Kaliurang, gunung Merapi sering kelihatan bagus sekali.
Kapan kapan saya boleh main kerumah mbak yah?
Saya sering sekali berkata kata yang tidak semuanya indah, kadang saya salah, mungkin riya, mungkin sedikit dusta … dan saya mohon untuk dimaafkan segala kesalahan saya yah
Minal aidin wal faidzin … maafkan saya lahir dan batin karena beginilah kewajiban kita sebagai hamba untuk meminta maaf dan memberi maaf.
Rindu [a.k.a -Ade-]
Tuti :
Wah, senang sekali kalau Rindu mau mampir ke rumah saya …..
Sama-sama Rindu, saya juga minta maaf jika pernah menuliskan sesuatu yang salah.
Taqobalallohu minna wa minkum, semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah Swt. Amin.
Ohya, maksudnya [a.k.a -Ade-] itu apa, Rindu?
bu, saya sudah di jogja
tadi sama istri sempet lewat depan rumah yang di timuran.
trus saya bilang ke istri, “ini rumah temen nge-blog aku, ma!”
tapi maaf, gak mampir…
Tuti :
Wah, lebaran di Yogya ya, dik Aryo? Mas Arief pulang nggak? Sudah agak lama juga nggak saling berkunjung ke blog beliau.
Sekarang yang tinggal di rumah Timuran adalah kakak saya. Saya sendiri agak ke selatan sedikit dari Timuran. Lain kali mampir ya. Salam buat istri …
Wa hanya satu kata yang trucap renyah. Bahasanya enak renyah kalau aku lagi deprok leyeh-leyeh sambil nikmati ginastel jogja wa mak nyes marem ning ati. Pun pula tulisan ini enak donk. Salam kenal
Tuti :
Terimakasih, Pak Guru. Iya, renyah wong sudah digoreng berkali-kali
Selamat deprok leyeh-leyeh Pak, sambil dengerin orkes keroncong atau klenengan, jaaan …. mat tenan.
Salam kenal juga, Pak Koes.
Assalamu’alaikuuuuum…,
*Sebelum Ramadhan melintas batas,
**Sebelum Syawal menebar fajar,
Kami datang kehadapan Bude Tuti berbajukan tulus bersandal ikhlas menggendong bakul kosong sambil bertutur “ Isilah Bakul Kami ini dengan Maaf Lahir dan Bathin”.
Agar Jiwa ini nyaman dalam perjalanan pulang, Terimalah THR ( Tuntunan Hari Raya ) dari Daffa & Opa “Selamat Idul Fitri 1429 H , minal aidin wal faidzin”, semoga kita dipertemukanNya kembali dengan Ramadhan taon depan, amin ya rachman, yaa rachim, amin yaa maha perancang segala peristiwa.
Wassalamualaikum,
Daffa & Opa
Tuti :
Waduh …. Daffa dan Opa bahasanya puitis banget. Bude sampai bengong lho bacanya.
Ya ya ya …. Bude juga mengucapkan Selamat Idul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan yang tak sengaja dibuat (kalau sengaja berbuat jahat sih kayaknya nggak yaa ….). Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT. Amin.
Bagaimana suasana berlebaran di Pekanbaru?
rumahnya mengingatkan saya pada kalimat Aizs kalau lagi menggambarkan sebuah rumah cantik yang habis dilihatnya, misalnya : ” Ibu, rumah Tante X itu buaguss banget, KAYAK YANG DI MAJALAH/TABLOID HOME”…, jadi menurut saya, rumah Mbak Tuti cantik banget kayak yang dimajalah-majalah interior itu…Kapan-kapan saya mampir boleh kan, Mbak ? wong default saya kalo ke Yogya cuma Tugu-Beringharjo-Mirota-MalioboroMall-Tugu lagi…, wis gak nyang ngendi-ngendi, wong gak mudheng dalane…
Tuti :
Hehehe …. monggo, silahkan mampir, rumah saya selalu terbuka bagi teman-teman yang mau berkunjung
asal bawa oleh-oleh. Nah, besok kalau Mbak Ayik ke Yogya lagi, telepon saya ya, biar rutenya nggak cuma Tugu-Beringharjo bolak-balik. Woa … Yogya itu kaya budaya dan banyak tempat yang bisa dikunjungi lho …Oh ya, terimakasih atas pujiannya. Ah, rumah saya biasa-biasa saja kok.
Bude Tuti…, Daffa protes nih, boleh kan? Kalo ga boleh yaaa… gimana ya? Ini lho Bude, moso foto Pakdeku yang di ruang ngeblog Bude tu ditaruh di bawah foto Bude siih?… ( walah Daffa, inikan rumahku kok protes-protes sih?, Bude ga jawab gitu kan?…)
Bude, sudut rumah Bude ada berapa sih..,
Tuti :
Wehehe … Daffa protes ya? Memangnya kenapa kalau foto Pakde ada di bawah? Kan Pakde jadinya bisa jagain Bude, kalau-kalau Bude jatuh. Lagipula Bude lebih kecil, jadi kalao misalnya ngejatuhin Pakde, kan nggak berat. Lha kalao foto Bude yang kecil kejatuhan foto Pakde yang gede, pecah dong …..
Tapi foto-foto yang ada di atas meja semua berdampingan, iya kan Daffa?
Sudut rumah Bude ada berapa? Sebentar ….. cari kalkulator dulu buat ngitungin … satu, dua, tiga …. duapuluh …. tigaratus …. tujuh ribu …. whoa, masih buanyaaaak neh …
waduh, kalo sy foto2 sudut favorit di rumah cm kasur sm notbuk (ga punya meja kerja hihihi) sm oven, mixer dna teman2nya.. kekeke..
aseli, rumahnya ibu rapih, asri dan pasti ngangenin ya bu.. home sweet home!
Tuti :
Waah …. kalau saya ke rumah Mama Vino pasti kerasan banget, soalnya dimana-mana ada kue lezat …
Saya sendiri nggak bisa bikin kue, dan memang belum pernah belajar. Sukanya makan doang …. hehehe.
Terimakasih Mama Vino, rumah yang penuh kue pun pasti jadi home sweet home bagi seluruh keluarga.
lucu postingannya
kalo saya blm punya rumah bu, masih nge-kos
suatu saat kl ‘ada’ pasti kubuat satu ruangan khusus untuk ngomputer (baca:mbuat peta dan ngeblog)
salam kenal dari lisa
Tuti :
Wahaha … diikutin ke festival lawak aja ya?
Saya malah belum pernah nge-kos. Ikut orangtua, terus habis nikah tinggal di rumah sendiri. Asyik pasti ya jadi anak kos?
Eh, Lisa kok mbuat peta, apa maksudnya?
Salam kenal juga Lisa, terimakasih sudah berkunjung ke blog saya.
asik asik engga
karna suka kangen dengan suasana rumah yang meriah ini itu terutama makanan
ya buat peta, saya kuliah di kartografi dan penginderaan jauh. jadi hari-hari saya ya berhubungan dengan peta melulu
Tuti :
Yang di rumah juga pasti kangen Lisa lho. Kalau kangen makanan, tengok aja ke blognya mamavino dan ernut duokribo (ada di komentar berbagai postingan), soalnya ibu-ibu itu suka banget mengupload foto makanan-makanan lezat …
Lisa Kuliah dimana? ITB ya? Saya alumni Teknik Geodesi UGM, jadi pernah belajar Kartografi dan Penginderaan Jauh juga. Tapi sekarang lebih konsen ke bidang Sipil, soalnya ngajar di jurusan itu.
Apakah sudah ada teknologi baru yang lebih canggih dari GPS?