KERATON TERTUA CIREBON
Sudah lama saya nggak ngajak teman-teman jalan-jalan. Sekarang kita ke Cirebon yuk … Saya pergi ke Cirebon tanggal 6-9 November 2008 untuk menghadiri pernikahan seorang keponakan. Di sela-sela kesibukan acara perhelatan, saya bersama kakak, sepupu, dan keponakan-keponakan menyempatkan diri mengunjungi Keraton Kasepuhan Cirebon.
Tiket masuk keraton seharga Rp. 3.000,- per orang (cukup murah … ). Begitu membeli tiket dan melangkah masuk ke dalam komplek keraton, seorang pemandu berpakaian tradisional mendampingi kami. Tanpa diminta, ia menjelaskan sejarah keraton dengan fasih (lebih lancar dari pita kaset, nggak pakai ‘ngombak’ dan ‘bundet’, hehe … ). Sebenarnya kami hanya ingin melihat-lihat sebentar, tetapi rasanya kok nggak sopan dan nggak tega juga meminta pemandu tersebut pergi meninggalkan kami. Lagi pula, saya pikir penjelasannya toh bermanfaat. Ia juga bisa membantu memotret, sehingga kami serombongan bisa berfoto lengkap.
Berfoto dulu di gapura masuk keraton. Satu … dua … tiga … klik!
Konon, Cirebon berasal dari kata ‘caruban’, yang artinya tempat pertemuan atau persimpangan jalan. Ada juga yang mengatakan Cirebon berasal dari kosa kata dalam bahasa Sunda ‘Ci’ yang berarti sungai, dan ‘rebon’ yang berarti udang. Ini sesuai dengan makanan khas Cirebon yang banyak memakai bahan baku udang. Mana yang benar? Mungkin kedua-duanya ….
Di Cirebon terdapat tiga keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan. Dari ketiga keraton tersebut, Keraton Kasepuhan adalah keraton yang kondisinya paling terawat dengan baik. Keraton tertua di Cirebon adalah Pakungwati, yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1445. Pada tahun 1529 keraton Pakungwati diperluas menjadi Keraton Kasepuhan. Penguasa pertama Keraton Kasepuhan adalah Syeh Syarif Hidayatullah, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Keraton Kasepuhan dikelilingi pagar dan gapura yang terbuat dari susunan bata merah. Arsitektur gapura Keraton Kasepuhan memiliki kemiripan dengan candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terdapat di Trowulan, Mojokerto. Terlihat ada pengaruh Jawa Hindu disana. Dinding dan gapura bata merah ini dibangun tanpa menggunakan semen. Sebagian masih asli, tetapi sebagian sudah merupakan hasil renovasi. Adapun bangunan keraton sendiri merupakan perpaduan antara Portugis, Jawa, dan Cina.
Gapura dan pagar yang terbuat dari bata merah
Bangsal Jinem Keraton Kasepuhan, merupakan bangunan terdepan di dalam komplek keraton
Ciri utama keraton-keraton di Cirebon adalah terdapatnya piring-piring keramik Cina di seluruh bangunan. Piring-piring ini dipasang mulai dari tembok pagar hingga dinding-dinging dalam keraton. Hal ini menunjukkan eratnya hubungan keraton-keraton Cirebon dengan negeri Cina.
Di halaman depan terdapat patung sepasang harimau berwarna putih, yang merupakan lambang kerajaan Prabu Siliwangi. Bendera dan lambang kerajaan Cirebon sebelum zaman penjajahan berupa kaligrafi yang juga berbentuk harimau, bernama Macan Ali.
Halaman di depan Bangsal Jinem. Terdapat patung sepasang harimau berwarna putih.
Macan Ali, lambang negara dan keraton Cirebon
Bangunan di bagian dalam keraton Kasepuhan sangat indah dan masih terawat dengan baik. Kursi-kursi kayu jati berukir warna kuning gading berjajar rapi, dengan lampu-lampu kristal dan dinding berukir indah. Di bagian dalam terdapat dinding dengan ukiran bunga teratai merah. Pemandu kami menjelaskan makna bunga teratai merah tersebut, juga piring-piring keramik Cina yang dipasang berderet di bagian bawah dinding (sayang, saya lupa tidak mencatatnya, dan sekarang sudah melayang semua dari ingatan saya …). Sebenarnya saya ingin mendapatkan penjelasan rinci tentang segala sesuatu isi keraton, tetapi karena saya pergi bersama banyak orang yang tidak semuanya ‘gila sejarah’ seperti saya, akhirnya saya tidak sempat bertanya dan mencatat apa-apa. Saya harus mentolerir keinginan dan minat anggota rombongan yang lain (itulah sebabnya, saya lebih suka pergi sendiri, supaya bebas dan tidak mengganggu orang lain yang minatnya beda … hehehe).
Dinding dengan ukiran bunga teratai merah dan piring-piring keramik Cina. Maaf, saya lupa apa makna teratai merah dan piring-piring keramik yang sangat indah ini …
Salah satu koleksi Keraton Kasepuhan yang sangat istimewa adalah kereta Singa Barong. Kereta ini dihias dengan ornamen kepala gajah, dengan belalai memegang trisula. Kereta juga dihias sayap garuda dan ekor naga. Hebatnya, kereta ini dilengkapi dengan ’shock breaker’ untuk meredam goncangan yang terjadi pada saat kereta melaju. Dan yang mengagumkan, kereta ini dibuat oleh bangsa kita sendiri (tidak seperti kereta-kereta di Keraton Yogyakarta yang hampir semuanya bikinan Inggris, Belanda dan Jerman).
Kereta Singa Barong yang gagah perkasa. Jika kereta ini melaju dengan cepat, sayapnya akan mengepak-ngepak … wow, gagahnya!
Di Keraton Kasepuhan terdapat museum barang kuno, yang antara lain menyimpan piring antik yang merupakan cindera mata dari Cheng Hoo, utusan Kaisar Ming dari Cina. Sudah lama saya tertarik pada Cheng Hoo, pelaut Tiongkok abad ke-15 dengan pasukannya yang hebat, dan ingin melihat piring cindera mata yang dipersembahkannya ketika singgah di Keraton Cirebon. Tetapi karena tergesa-gesa, kami tidak sempat masuk ke Museum Keraton Kasepuhan.
Kami hanya sempat melihat lukisan tiga dimensi Prabu Siliwangi. Lukisan ini memang istimewa. Jika kita melihat lukisan ini dari arah kiri, mata dan ujung jari kaki Prabu Siliwangi terlihat menghadap ke kiri (ke arah kita). Namun kalau kita bergeser ke arah kanan lukisan, mata dan ujung jari kaki itu pun terlihat menghadap ke kanan (seolah-olah mengikuti kita). Lukisan semacam ini juga terdapat di Keraton Yogyakarta, hasil karya Raden Saleh, pelukis legendaris Indonesia. Saya tidak tahu siapa pelukis yang membuat lukisan Prabu Siliwangi di Cirebon ini. Tapi kalau melihat garis-garis lukisannya, pelukis Prabu Siliwangi ini masih beberapa tingkat di bawah Raden Saleh.
Lukisan tiga dimensi Sri Baduga Prabu Siliwangi
Masih banyak koleksi berharga Keraton Kasepuhan yang belum sempat saya lihat. Mudah-mudahan suatu saat kelak saya punya waktu yang lebih longgar untuk bisa mengeksplor semuanya dengan lebih mendalam …
Oh ya …. selain ke Keraton Kasepuhan, jika anda pergi ke Cirebon, jangan lupa mampir ke Trusmi. Di sini terdapat banyak toko yang menjual batik-batik Cirebon, baik dengan motif yang masih sepenuhnya asli (disebut motif ‘Mega Mendung’), maupun motif-motif baru. Bahannya bermacam-macam, mulai dari katun, sutera, serat nanas, hingga serat kayu. Harganya pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Tinggal memilih yang sesuai selera dan kantong …
Nah, kalau perut sudah keroncongan, sangat sedap menikmati nasi jamblang atau empal gentong. Apa itu? Coba saja sendiri ….

















Cerita jalan-jalan yang menarik mbak Tuti. Apakah ada cerita tentang binatang piaraan (macam) Prabu Siliwangi yang menyeramkan itu mbak Tuti? yang ada di lukisan beliau?
Empal gentong? empalnya mungkin gedhe banget sak genthong-genthong kali mbak Tuti ya?..
sepertinya menarik untuk dicoba. thanks
Tuti :
Cerita tentang macan putih itu sebenarnya ada, tapi karena kemarin saya terburu-buru, tidak sempat saya tanyakan. Saya nggak tahu, apakah ada buku yang membahas secara lengkap tentang keraton Kasepuhan, Prabu Siliwangi, dsb. Kalau mengunjungi tempat wisata bersejarah, di lokasi saya lebih konsentrasi untuk memotret dan menangkap ’suasana’, adapun data rinci saya mengandalkan brosur atau buklet yang biasanya disediakan. Sayangnya, di Keraton Kasepuhan belum ada brosur atau buku yang menjelaskan tentang sejarah, isi, dan nilai-nilai yang terkandung di dalam keraton tersebut, sehingga saya sangat kekurangan data. Lain kali deh, saya kesana lagi untuk mengumpulkan data yang lebih komplit …
Sampai sekarang, macan menjadi simbol keberanian dan kegagahan rakyat Jawa Barat. Kalau nggak salah, mereka menyebutnya ‘maung’. Makanya ada istilah ‘maung Bandung’ untuk menyebut Persib. Perajurit TNI Siliwangi juga memakai simbol macan (kalau nggak salah …)
Empal gentong …. iya, ketika pertama mendengar, saya juga penasaran, kayak apa sih empal gentong itu. Ternyata, empal gentong adalah lontong dan masakan daging sapi semacam gulai. Mungkin nenek moyang dulu masak gulainya di gentong, jadi dinamai empal gentong …. hehehe
Mbak,
Patutlah lama menghilang, rupanya kembali mencari sejarah dan leluhur. Menarik, kalau ada ruang pasti saya juga mahu menelitinya…
Tuti :
Naaah …. kalau pergi dengan Bang Syirfan, pastilah saya bisa berlama-lama di Keraton Kasepuhan. Menanyakan semua kisah dan memotret semua obyek … karena minat kita sama, suka kisah-kisah lama, suka sejarah masa lalu. Bagi saya, belajar sejarah berarti mempelajari siapa diri kita ini, siapa bangsa kita ini. Dari sejarah, kita bisa mempelajari kesalahan leluhur dan memperbaikinya, serta meneladani contoh-contoh yang baik. Jika kita tahu siapa diri kita, pasti kita tidak akan salah arah, bukan begitu Bang?
Kereta Singa Barong itu dulunya digunakan untuk perang ya? Keretanya kelihatan antik banget.
Btw, penasaran juga dengan nasi jamblang.
Hehehe…
Tuti :
Mungkin juga, Pak Edi. Di Keraton Kasepuhan hanya ada satu kereta, jadi mungkin dipakai untuk keperluan macam-macam : mulai dari kirab penobatan, pesiar, sampai perang. Di Museum Kereta Keraton Yogyakarta, ada 22 kereta yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Ada kereta untuk perang, untuk penobatan raja, untuk jalan-jalan, sampai kereta jenazah.
Nasi jamblang itu adalah nasi yang dibungkus daun jati dalam porsi kecil, dengan lauk macam-macam : pergedel, dadar telur, daging, kering tempe, kentang, dan sebagainya. kekhasannya ya pada bungkus daun jati itu.
Mbak,
Tulisannya komplit plit.
Sempet mampir ke Goa Sunyaragi gak?
Banyak lo cagar budaya di Cirebon.
Salam kenal.
Tuti :
Terimakasih, Buthe. Wah, tulisan ini mah sama sekali nggak komplit. Sebenarnya saya punya referensi komplit … plit, tentang sejarah Keraton Kasepuhan dan kisah raja-rajanya, tetapi kalau saya tulis semua, takut pembaca bosaaan ….
Nggak sempat mampir ke Goa Sunyaragi. Iya, goa itu juga banyak disebut di buku-buku tentang Cirebon. Wah, mesti balik lagi nih ke Cirebon ….
Salam kenal juga Buthe, terimakasih kunjungannya.
Mbak Tuti(k)
Saya jadi pengin juga nih liat kraton kasepuhan Cirebon ini, menarik sekali liputannya…
Kemaren waktu tayangan event Ramadhan (chanelnya lupa) ada acara berbuka puasa bersama keluarga keraton, piyayinya sederhana dan bersahaja sekali, sangat membumi…
Tuti :
Mbak Ayik jadi pengin ke Keraton Kasepuhan ya? Whoa …. berarti saya harus diberi penghargaan nih oleh pemkab Cirebon, karena telah mempromosikan obyek budayanya. Sebenarnya banyak detil-detil cerita yang juga menarik, tapi tidak sempat saya tuliskan. Maklum, pembaca blog kan umumnya tidak punya waktu banyak, jadi saya selalu membatasi panjang tulisan. Takut ngebosenin, dan akhirnya nggak dibaca … hehehe …
Wah, kemarin saya tidak sempat bertemu dengan keluarga keraton. Mereka memang masih tinggal di dalam Keraton Kasepuhan, tetapi area tempat tinggal itu tidak dibuka untuk umum, tentunya untuk menjaga privacy. Sama seperti di Keraton Yogyakarta, Keraton Kilen yang menjadi tempat tinggal Sultan HB X juga tertutup untuk umum.
Saya tertarik dengan cerita kereta kerajaan dengan kepala Gajah itu, Mbak Tuti… Membayangkan kalau sayapnya terentang bebas ketika menyusuri jalan di depannya dengan kecepatan tinggi.. Uuuhh… pasti keren sekali, ya?
Memang sebaiknya kalau ke tempat-tempat seperti ini harus dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama, kalau nggak… bisa-bisa nggak enak sama yang lain ya Mbak kalau kita keasyikan sendiri….
Sekarang sudah sampai Jogja lagi Mbak? Sehat-sehat saja kan…
Tuti :
Betul, Jeung Lala. Gajah itu adalah simbol hubungan baik Keraton Kasepuhan dengan India, lalu trisula yang digenggam gajah itu juga ada maknanya (saya lupa …). Sayap garuda itu melambangkan hubungan baik dengan negara … (lupa juga), dan ada satu binatang lagi yang melambangkan hubungan dengan Mesir/Arab.
Aduh, ternyata memory saya benar-benar tumpul. Habis, begitu banyak data dan informasi yang diberikan pemandu, sehingga akhirnya malah lupa semua … hehehe …
Iya Jeung, apalagi kalau yang dilihat secara fisik cuma peninggalan berupa reruntuhan, bagi yang tidak berminat pada sejarah dan arkheologi pasti nggak menarik sama sekali … “Iki opooo … nyawang boto rubuh ae kok suwi temen” hahaha …..
Alhamdulillah, saya sudah di Yogya lagi, dan sehat-sehat saja. Terimakasih, Jeung Lala …
Saya sering dengar nama Syarif Hidayatullah
yang diabadikan menjadi nama IAIN Jakarta
tapi untung juga ada postingan
yang menarik dan cemerlang ini
sehingga sy dan rakyat Indonedia
jadi tau ternyata Kanjeng Syarif
dulunya merupakan penguasa pertama
di Keraton Kasepuhan ini
btw, keraton itu sekarang
berfungsi sebagai apa ya mbak Tuti ?
atau hanya sebatas peninggalan
bersejarah saja ?
Tuti :
Sama Bang, saya juga baru tahu kalau Sultan Syarif Hidayatullah adalah raja pertama Keraton Kasepuhan, yang juga bergelar Sunan Gunung Jati (termasuk salah satu diantara Wali 9 ya?).
Keraton Kasepuhan masih berfungsi sebagai keraton, pusat budaya (khususnya yang berkaitan dengan Islam). Di dalam keraton ini masih tinggal beberapa keluarga keturunan raja-raja. Tetapi tentu saja kehidupan mereka biasa saja, tidak gemerlap seperti Sultan Brunei.
Cirebon, negeri yang berada pada posisi perubahan/peralihan antara budaya Jawa dengan budaya Sunda (pesisir). Penuh dengan Peristiwa Budaya.
Tentang pemandu wisata, menurutku…..sebaiknya diberi kan kesempatan bagi mereka untuk mencari nafkah. Supaya semua mendapatkan ruang untuk melanjutkan hidup.
Tuti :
Betul Bang Sis, para pemandu wisata tersebut memang harus kita hargai keberadaannya. Jika mengunjungi empat-tempat bersejarah, saya memang selalu menggunakan jasa mereka (kemarin mau cepat-cepat, karena membawa rombongan yang sebagian pengin cepat-cepat belanja ke mall … hehehe). Tanpa pemandu wisata, kita hanya melihat secara fisik, nggak tahu makna apa yang ada dibalik wujud fisik tersebut. Padahal yang membuat wujud fisik tersebut menjadi berharga adalah makna dan sejarah yang menyertainya.
Lagi pula, pemandu wisata ini tidak mematok harga. Kita berikan saja uang jasa sepantasnya, biasanya berkisar antara 25 – 50 ribu rupiah untuk 1-2 jam ‘guiding’.
Wow….enak banget jalan2..
semoga keraton cirebon dapt terus terpelihara
Karena banyak keraton saat ini yang terbengkalai baik karena minimnya perhatian pemerintah, dan perebutan antara ahli waris keraton.
Tuti :
Betul, Mas Ahmad. Perhatian pemerintah sangat penting untuk melestarikan kekayaan budaya ini. Tanpa adanya bantuan pemerintah, bisa dipastikan keraton-keraton di berbagai wilayah nusantara pelan-pelan akan runtuh, sebab pada umumnya ahli waris keraton ini tidak memiliki sumber ekonomi yang kuat, sementara untuk memelihara, merawat, dan melestarikan keraton membutuhkan biaya yang cukup besar. Banyak bangunan keraton yang akhirnya keropos, benda-benda pusakanya habis dijual untuk biaya hidup para ahli waris. Sungguh memprihatinkan memang.
Quote:
Bagi saya, belajar sejarah berarti mempelajari siapa diri kita ini, siapa bangsa kita ini.
benar sekali mbak…saya juga berpikir demikian sehingga saya suka sejarah dan sampai belajar juga sejarahnya bangsa lain hehehe. Siapa tahu ada yang bisa kita “curi” dari sejarah bangsa lain untuk dipakai negara kita.
Saya belum pernah ke Cirebon je… nanti kalau ada kesempatan ingin pergi ke sana juga.
tabik
EM
Tuti :
Begitulah, Mbak Imelda. Sudah menjadi kodrat kita, ingin mengetahui ‘akar’ kita itu ada dimana. Dalam skala yang lebih kecil, seorang anak selalu ingin tahu siapa orang tua yang telah menghadirkan dirinya di dunia. Oleh sebab itu, seorang anak angkat tidak akan pernah tenang jiwanya sebelum mengetahui siapa orangtua kandungnya (meskipun sesudah mengetahui, mungkin ia tetap memilih hidup bersama orangtua angkatnya).
Belajar tentang sejarah berarti juga belajar tentang manusia. Bukankah sejarah selalu diisi dengan kisah kehidupan manusia dan hubungannya dengan manusia lain, yang di dalamnya muncul berbagai karakter, pemikiran, dan tindakan para tokoh sejarah?
Saya juga belum pernah ke Tokyo kok Mbak …. hehehe (kalau ke Cirebon mah gampang atuh … )
Kereta Singa Barong yang gagah perkasa. Jika kereta ini melaju dengan cepat, sayapnya akan mengepak-ngepak … wow, gagahnya Daffa ketika mengendarainya, seakan dunia hanya milikku…
Tuti :
Hwahaha …. kalau dunia milik Daffa, Bude tinggal dimana dong? Boleh nggak numpang?
Saya paling senang kalau Ibu Tuti (-)K menulis tentang laporan pandangan matanya ketika beliau berkunjung ke tempat-tempat tertentu …
Deskripsinya begitu jelas dan tak lupa dokumentasi … seolah kita sendiri sedang berada disana …
Terima kasih ya ibu …
Yang paling menarik adalah … khas bangunan yang ada piring-piring dari Chinanya itu …
Ah jadi pingin ke Cirebon saya …
Once again … Makasih Ya Bu …
Salam saya …
Apa khabar bu …
(Lama tak mosting rupanya sedang berkunjung ke Cirebon toh …)
Sehat ya Bu …
Tuti :
Terimakasih Pak … eh, Om Trainer …
Masih ada beberapa perjalanan yang belum saya tulis (Abu Dhabi, Makkah-Madinah-Jeddah, Malaka, Kuala Lumpur, Singapore, Antwerpen, Brussel, Trowulan (bekas kerajaan Majapahit), Pekanbaru, Palembang, Bali). Takut teman-teman bosan, kok postingannya kisah perjalanan melulu …
Iya, piring-piring keramik Cina itu sangat banyak, dan indah-indah. Di bawah dinding dengan relief teratai merah itu terdapat piring-piring dengan gambar Yesus. Bagi saya ini menarik untuk digali ceritanya, karena Keraton Kasepuhan ini adalah pemeluk agama Islam. Bukan untuk mempertentangkan dua agama ini, tetapi untuk mengetahui kisah apa yang ada dibalik fenomena ini.
Alhamdulillah, kabar saya baik-baik saja Om. Iya, saya ke Cirebon beberapa hari. Wah, panasnya disana …
Tulisan yang sangat berkesan, saya jadi lebih mengerti tentang sejarah kerajaan kerajaan di Indonesia….saya tunggu tulisan berikutnya ya…
Salam dari jauh.
Tuti :
Terimakasih, Michael. Jika tertarik kisah-kisah kerajaan, saya sudah menulis tentang Keraton Yogya dan beberapa bangunan bersejarah di Yogya. Untuk kisah-kisah perjalanan, saya tulis dalam category “Jalan-Jalan Yuuk … ”
Salam juga, terimakasih sudah berkunjung
naa..persualannya sekarang, kok dipanggil “sepuh”? emang yang paling mbarep ya mbak?
saya juga pernah ke sana waktu masih muda…
oya, di Cirebon mampir ke kampung batiknya ndak?
Tuti :
Iya, Keraton Kasepuhan memang keraton yang tertua di Cirebon. Keraton yang lain adalah Kanoman (lebih ‘enom”), dan Kacirebonan.
Saya sempat mampir ke Trusmi, pusat penjualan batik. Tapi nggak tahu, apakah kampung batiknya memang disitu juga, atau di tempat lain. Wah, batiknya bagus-bagus, dan harganya cukup ‘masuk akal’ …
nah mbak kan belum pernah ke Tokyo….
kapan ke Tokyo dan menulis tentang Tokyo?
saya tunggu loh (bersedia jadi gaet (guide gitu))
EM
Tuti :
Betul nih? Betul nih? Betul nih? (*semangat 45*)
Lha tapiiii …. (*terduduk lesu*) kesananya naik apa? Ya naik pesawat dong, mosok naik onta! Maksudnya, buat beli tiket pesawat, bayarnya pakai apa? Ya pake uang lah, emang pake daun? Iya,iya,tahu ….., tapi uangnya itu lho, lupa nyimpennya dimana ….. hihihi …
Saya ini malah kebangetan, Cirebon cuma dilewati aja kalau pulang kampung…padahal banyak yang menarik ya mbak….
Btw makasih ceritanya, saya menikmati banget.
Tuti :
Saya dulu juga nggak suka jalan-jalan. Tapi setelah memperoleh pengalaman indah dan rasa senangnya melihat, serta mempelajari tempat dan budaya lain, sekarang ketagihan … hehehe
Kalau nggak jalan-jalan 3-4 bulan, rasanya sudah kangen … Pergi kemana lagi ya, lihat apa lagi ya …
Indonesia ini kaya banget lho budayanya. Semakin mengenal budaya kita, semakin kita cinta.
Hebat banget, benar pak Enha, saya juga terheran heran kalau bu Tuti mengulas sebuah pengalaman, tempat yang pernah dikunjungi. Runtut dan rinci.
Padahal beberapa tahun yang lalu saya pernah kesana,….kesannya ?? Banyak hiasan piring keramik bagus, lukisan kaligrafi yang khas… motif2/ragam hias kain kain khas Cirebon…wis…itu saja..
Parah tenan…aku ki mbak..
Tuti :
Wah, Mbak Dyah ini suka merendah lho! Tulisan panjenengan juga bagus, runtut dan komplit kok. Lagi pula pengalaman panjenengan jauuuh lebih banyak dari pada saya, baik pengalaman bermasyarakat, pengalaman berbisnis, maupun pengalaman berkeluarga. Cerita panjenengan waktu di India itu menarik sekali lho. Saya jadi pengin kesana, tapi apa daya … kaki tak sampai …
Kereta2 yang ada di kraton di cirebon itu namanya gak ada yang pake embel2 kyai seperti di Yogya dan Solo ya bu? Tentu banyak juga koleksi senjata pusaka yang dulu dipergunakan untuk perang maupun keperluan lainnya.
Tuti :
Memang betul mas Mufti, kereta di Keraton Kasepuhan nggak pakai ‘titel’ Kyai. Koleksi senjata memang ada juga, antara lain (yang sempat saya lihat) adalah meriam yang berasal dari Mongolia. Saya tidak sempat masuk ke museum benda-benda kunonya, jadi tidak tahu apa saja koleksi yang ada disana (mungkin ada senjata-senjata juga).
Sudah nyuba empal gentong sama nasi jamblang!!!
tapi belom ke keratonnya, untung ada ibu ngejelasin disini. nanti kalau ada kesempatan ke cirebon lagi, mau mampir ah….
makasih inpohnya ya bu…
Tuti :
Wah … sudah nyicip empal yang segentong-gentong dan nasi lauk cambang, eh … nasi jamblang ya. Enak nggak?
Kapan mau ke Cirebon lagi? Ikut ah …..
Inpohnya belum lengkap Shierly, ntar dilengkapin kalau Shierly udah sempat mampir kesana ya …
Tengkiu
bangunan2 tua di negeri ini sangat banyak, namun sayang kadang tidak dirawat dan dijaga oleh pemerintah…… padahal bangunan2 tua itu adalah bukti sejarah..yang bisa kita ambil pelajaran di dalamnya.
pa khabar neh bu ??? Sehat2 ?
Tuti :

Iya, Uda Alex. Mungkin pemerintah sibuk ngurus yang muda-muda, jadi yang tua-tua dilupakan
Kabar baik Uda Alex, lama nggak aktif nge-blog ya? Terakhir saya coba berkunjung di ‘bahagialah.wordpress’ kok nggak bisa dibuka (sudah agak lama sih … ). Mudah-mudahan sekarang sudah ‘buka gerai’ lagi ya …
Ohya, foto baru nih? Foto lama yang gelap gulita itu dimana?
Hmm..bunda dosen..denok jg suka sekali mempelajari sejarah dan budaya indonesia..sekalian hunting foto dan unjuk kenarsisan..hihi..teuteup..
Tuti :
Memang sejarah itu penting, Nok. Supaya kita tahu, sebenarnya kita keturunan Nabi Adam atau keturunan kera seperti kata Darwin (lho … kok terus belok ke teori evolusi).
Narsis boleh, tapi di blog aja. Jangan pasang poster di jalan-jalan, ntar dikira …… caleg!
Wihihihi, jalan-jalan ke Cirebon memang selalu menyenangkan karena sejarahnya yang panjang ya Mba Tuti. Pengalaman saya ke Keraton Kasepuhan juga sangat berkesan, terutama pada saat pemandu yang berseragam dalem keraton mampu menjelaskan mulai dari sejarah sampai filosofi setiap hal dan benda yang terdapat di dalam keraton. Saya masih ingat nama guidenya : Mas Nanang. Waduh saya terpukau kalau beliau menceritakan filosofi setiap barang yang tidak hanya memandang sesuatunya dari unsur mistis, tetapi semua itu berdasar akan kebijakan, kearifan dan filosofi yang selalu dijunjung Kesultanan Cirebon dahulu kala.
Ada yang menarik Mba Tuti, kebetulan nyambung sama piring porcelain yang Mba Tuti lihat di Bangsal Prabhayaksa, jadi piring porcelain itu bukan hanya dari Cina. Kebetulan piring yang dipasang di Bangsal Prabhayaksa adalah piring2 dari Belanda, maka gambar2 yang terdapat di tiap piring itu justru menjelaskan ayat2 dari Kitab Injil. Satu hal yang terpikir adalah, akulturasi budaya di Cirebon ini memang sangat kuat, karena percampuran budaya berbagai bangsa (arab, india, cina, belanda) membaur dengan sangat manis. Baik dari segi budaya berkesenian, arsitektural, hingga ke bidang sosial. Hampir tidak pernah ditemukan friksi sosial antar ras di Cirebon, karena mereka sudah terbiasa dengan perbedaan. Dan keharmonisan itu terwakilkan oleh manisnya Keraton Kasepuhan dengan berbagai ornamen hasil campur aduk berbagai suku bangsa.
Waduh, saya jadi pengen ke Cirebon lagi. Makan nasi Jamblang yang di Pelabuhan, Mba Tuti, enaknyaaa… atau makan Mie Koclok di daerah dekat Mesjid Merah.
Kapan-kapan kita ketemu di Cirebon ya Mba Tuti, mencari data dan sejarahnya bersama-sama.
salam
-japs-
Tuti :
). Tapi ya itu … karena pada waktu itu saya pergi dengan banyak orang, dan kelihatan ada yang mulai bosan, saya jadi kurang konsen.
Cocok, Japs. Saya juga tertarik sekali mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata saya (sayang saya lupa tidak menanyakan namanya, jangan-jangan ia Mas Nanang yang pernah memandu Japs ….
Tentang piring porselen bergambar Yesus yang mengherankan saya, terimakasih sudah dijelaskan Japs. Iya, saya baru ingat kalau tidak semua piring porselen itu dari Cina, ada juga yang dari Belanda. Memang piring-piring porselen berwarna biru putih yang dipasang dibawah dinding teratai merah itu dari Belanda, pemandu saya juga bilang begitu (saya aja yang kemarin lupa).
Saya belum ke pelabuhannya Japs, juga belum ke masjid merah. Whoaaa …. seneng sekali kalau bisa ke Cirebon lagi bareng Japs. Pasti asyik kalau pergi dengan teman yang punya minat sama. Ayuk, kapan? (*napsu mode on*
)
Dengan senang hati Mba Tuti, nanti kabar-kabari saja jikalau ada rencana dan waktu mau kesana, kalau tidak berhalangan saya pasti ikutan, atau sebaliknya kalau saya yang berencana dan ada waktu duluan, saya yang hubungi Mba Tuti.
Udah kebayang pengen kemana dan makan apa disana, hahaha. Saya sempet ke Gua Sunyaragi Mba, waah, itu juga wajib dikunjungi, karena mereka ternyata sudah menerapkan arsitektur landscraper yang saat ini lagi ngetrend2nya dibangun arsitek2 international, hehehe… indah sekali. Kapan2 kesana mampir deh mba…
salam
-japs-
Tuti :
Ok … seeep! Ntar ya, aku lihat kalender dulu.
Wah, jadi penasaran pengin ke goa Sunyaragi. Apa kayak gua di Turki itu ya, yang dibangun di bukit-bukit batu (eh, apa ya namanya …. lupa).
Kayaknya kalau ke Cirebon lebih afdol sekalian ke Bandung ya, soalnya waktu ke Bandung bulan Juni lalu cuma 7 jam disana, banyak tempat belum sempat dikunjungi.
)
Tunggu ya japs, saya nabung dulu ….. (beli celengan ayam ah
Siiip jalan-jalan ke Kasepuhan, saya terakhir kesana mei 2008 kemarin, seru serasa kembali kemasa lalu. Semoga ada perhatian lebih dari pemerintah agar keraton bisa tetap tampil terjaga keutuhannya dan sepertinya perlu ada gerakan peduli atas aset sejarah dalam bentuk penggalangan dana untuk memelihara kelestarian sejarah itu sendiri. Hayo siapa yang mau mulai…?
Tuti :
Setuju, Arya. Memang diperlukan perhatian lebih besar dari pemerintah dan juga masyarakat untuk merawat dan melestarikan aset sejarah bangsa kita ini. Biaya perawatan keraton memang tidak murah, tetapi jika dipelihara dan dikelola dengan baik, akan menjadi sumber ilmu dan wisata budaya yang bisa bernilai ekonomi tinggi.
teruskan…
Tuti :
Kemana … ?
ceritanya sangat lengkap dan menarik.
Daerah Cirebon banyak menyimpan sejarah, terutama sejarah Syekh Syarif Hidayatullah waktu menyebarkan agama Islam di pulau jawa.
sekalian ceritain tentang keraton kanoman sama keraton kacirebonan (agar saya jadi tahu he…he…he..)
Tuti :
Wah, itu sebenarnya belum semua saya ceritakan, soalnya kalau terlalu panjang khawatir nggak akan dibaca semuanya. Saya belum ke Kraton Kanoman dan Kraton Kasepuhan, tapi saya dengar, yang terawat paling baik adalah Kraton Kasepuhan ini.