KE SEMARANG KITA BERDANSA …
Kompetisi lagi, berjuang lagi, menang lagi …
Semarang Open 2008 Dancesport Championship dilaksanakan pada tanggal 1 November 2008 di Ambassador Semarang Plaza. Tiga keponakan saya : Iin, Aan, dan Dhany, sudah sejak beberapa bulan sebelumnya jungkir balik berlatih. Dua minggu menjelang kompetisi, hampir setiap hari mereka mandi peluh di sanggar, berlatih keras hingga habis napas …
Aan berpasangan dengan Dhany akan menguji diri dalam nomor Medal Test Ballroom/Standard Category dan Medal Test Latin Category, sedangkan Iin berpasangan dengan Nadi akan bertanding dalam nomor Novice Latin Category. Medal Test adalah category paling bawah, baru menilai kemampuan teknik dasar. Sedangkan Novice adalah category yang lebih tinggi, sudah melihat improvisasi dan kerumitan koreografi. Musik yang dipakai di Novice juga lebih cepat dan sulit, sehingga atlet (dancer) yang belum piawai bisa terjebak dalam off beat, yang sudah pasti bakal langsung dicoret para juri.
Kostum sudah jauh-jauh hari disiapkan. Untuk membuat pakaian dansa, ada penjahit khusus yang menjadi langganan para dancer di Yogya. Memang tidak semua penjahit bisa membuat pakaian jenis ini. Selain bahannya harus strecht, garis potongan harus pas di badan, namun tidak menghalangi gerak. Saya selalu takjub melihat gaun dansa yang dipakai para dancer dalam kompetisi-kompetisi. Indah, penuh detil yang rumit, seperti sayap kupu-kupu yang berwarna-warni.
Gaun dansa biru yang mempesona
Untuk dansa Ballroom (dalam kompetisi dipakai istilah Standard Category), pakaian untuk dancer wanita adalah gaun panjang lebar. Bagian bawah gaun ini sebaiknya sangat lebar, sehingga kalau sang penari mengangkat kaki hingga sejajar pinggang pun, gaun tidak tersibak. Sungguh tak sedap dipandang kalau kaki penari sampai terlihat, apalagi kalau (maaf) ‘cd’nya sampai mengintip. Penari pria mengenakan tuxedo, tetapi untuk pemula, boleh hanya mengenakan hem putih dengan dasi kupu-kupu putih.
Gaun warna-warni dalam dansa Ballroom, anggun dan memikat
Sedangkan untuk dansa Latin, pakaian bisa gila-gilaan. Sesuai dengan karakter tarian Latin yang sensual dan enerjik, pakaian pun biasanya ‘minimalis’. Pada kompetisi di Semarang ini, seorang peserta wanita dari Surabaya mengenakan busana yang mirip taman bunga : dua rangkaian bunga di bagian atas tubuh, satu rangkaian bunga di bagian bawah, selebihnya hanya ditutupi angin …. Benar-benar keberanian mengekspos tubuh yang mengagumkan. Fotonya sengaja tidak saya tampilkan disini, khawatir teman-teman terpesona memandangnya dan tidak mau beranjak untuk membaca tulisan saya selanjutnya …. hehehe.
Adapun kostum Dhany, karena sehari-hari dia berjilbab, ya tetap rapat dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Dia menjadi pemandangan yang ‘aneh’ di lantai dansa, dan saya bangga dengan keteguhan pendirian dan konsistensinya dalam mengikuti syariat. Saya lebih gembira lagi karena pakaian tidak menjadi unsur yang mempengaruhi penilaian juri. Tidak ada diskriminasi bagi pemakai jilbab. Terbukti Dhany bisa meraih Juara Harapan III, mengalahkan sekian peserta lain yang berpakaian jauh lebih ‘heboh’.
Dhany dan Aan dalam Latin Category, membawakan Chachacha dan Jive.
Selain pakaian, sepatu adalah perlengkapan utama dalam dansa, boleh dibilang bahkan lebih penting dari pakaian. Memang apa bedanya sepatu dansa dan sepatu biasa? Sepatu dansa memiliki sol yang lentur, tapi kuat. Tinggi heel minimal 7 cm, bentuk heel bulat dan tidak runcing. Bagian bawah sol dilapisi dengan suede, sehingga tidak licin namun juga tidak kesat. Jika lantai tidak terbuat dari kayu (lantai standar untuk dansa), melainkan lantai keramik yang licin, sol sepatu ditaburi bubuk gondorukem agar sedikit kesat. Jika tidak ada bubuk gondorukem, bisa dibasahi dengan air. Sebaliknya, jika lantai terlalu kesat, sol sepatu ditaburi talk (bedak bayi) agar sedikit licin. Sol yang terlalu licin atau terlalu kesat bisa membuat penari tergelincir atau terjatuh. Dan kalau sampai itu terjadi, bukan hanya sakit yang diderita, tapi juga malu, dan yang pasti …. didiskualifikasi oleh juri.
Sepatu untuk dansa Latin biasanya memiliki model terbuka, sedangkan untuk dansa Ballroom bermodel tertutup (pantofel). Yang pasti, baik sepatu dansa Latin maupun dansa Ballroom, harus memiliki tali pada pergelangan kaki, agar tidak terlepas ketika dipakai menari. Apalagi pada dansa Latin, gerakan bisa sampai melompat dan melempar tubuh. Kalau sepatu sampai terlepas dan mengenai penari lain (apalagi menimpa kepala juri), wahahaha …. bukan saja didiskualifikasi, bisa-bisa digampar orang yang jidatnya terhantam sepatu!
Kami berangkat dari Yogya jam 05.30 dengan mobil. Mampir sarapan soto Bangkong di daerah Banyumanik, dan ternyata di restoran ini kami bertemu rombongan-rombongan lain dari Yogya yang juga akan mengikuti kompetisi. Dalam komunitas dansa ini, hampir semua saling kenal, sehingga sarapan jadi meriah. Kami tiba di Semarang jam 09.30. Ternyata floor test baru dilaksanakan jam 12.00, sehingga kami istirahat dulu di Novotel.
Iin yang sudah sangat siap untuk turun bertanding, ternyata gagal tampil karena Nadi, pasangannya, mendadak sakit. Aduh … uhuk uhuk, bukan main kecewanya …. Tapi apa boleh buat. Terpaksa dia hanya jadi juru rias dan penonton di pinggir dance floor.
Kompetisi dimulai dengan Standard Category. Dhany dan Aan turun dalam nomor Medal Test. Mereka baru sekali ini ikut bertanding, dan dansa ballroom juga baru beberapa bulan mereka pelajari. Dalam Medal Test, peserta harus menampilkan dansa Waltz dan Quick Step. Dansa ballroom ini kelihatannya enak dan simpel, padahal tekniknya tidak mudah dan menguras tenaga. Waltz masih agak gampang, karena hitungan dan stepnya jelas. Quick Step lebih sulit. Selain hitungannya sedikit berubah-ubah, gerakannya juga lebih cepat. Tapi kalau sudah mahir, dansa Quick Step ini sangat indah. Berlari-lari, meloncat-loncat, lincah seperti langkah kijang.
Dhany dan Aan menampilkan Waltz. Waduh, kaos kaki Dhany kok kayak anak sekolah …
Pada dansa Quick Step, Aan dan Dhany bertabrakan dengan peserta lain, sehingga harus berhenti dulu. Nah, karena berhenti mendadak, oh ooh … mereka lupa urutan koreografinya! Quick Step ini terdiri atas 3 line, setiap line tersusun atas beberapa bar. Nah, karena pada saat latihan mereka selalu urut dari line satu ke line berikutnya, dari bar satu ke bar selanjutnya, mereka jadi blank ketika terputus di tengah. Saya panik melihat mereka berhenti selama beberapa detik, mengingat-ingat step berikutnya, sambil mencari timing yang pas dengan beat musik. Come on, cepat, cepat … !! Setiap heat (satu putaran yang diikuti oleh sekitar 6 pasangan) hanya berlangsung beberapa menit, dan mereka sama sekali tidak boleh kehilangan waktu.
Ketika akhirnya Aan dan Dhany ‘menemukan’ kembali rangkaian koreografi yang terlupa, waktu sudah hampir habis. Hahaha … sudahlah. Juri juga sudah tidak ada lagi yang memperhatikan mereka, lebih tertarik memberikan penilaian pada peserta lain yang menari melayang-layang dengan indah. Walhasil, di Standart Category, Aan dan Dhany gagal masuk ke babak berikutnya.
Sykurlah, di Latin Category mereka tampil lebih baik, berhasil masuk babak final dan akhirnya menjadi Pemenang Harapan III. Bukan pemenang terbaik, tetapi tak apalah. Mengingat latihan mereka hanya beberapa bulan, dan Dhany baru pertama ikut kompetisi, hasil itu lumayanlah.
Biarpun cuma menyabet Pemenang Harapan III, senyum cerah teuteuup ….
Pada Semarang Open 2008 Dancesport Championship ini tampil dua atlet dansa dari Australia, David Byrnes dan Karla Gerbes. Mereka juga menjadi juri pada putaran final. Show dance kedua atlet ini sungguh mempesona. Meskipun koreografi yang mereka tampilkan tidak terlalu istimewa (banyak peserta yang juga menampilkan koreografi hebat), tetapi teknik mereka benar-benar bagus. Setiap gerakan dilakukan dengan akurat dan perfect.
Kompetisi berakhir jam 23.00, dan kami pun pulang dengan segala kelelahan, kekaguman menyaksikan begitu banyak dansa indah, serta rasa puas pulang tidak dengan tangan kosong.
Sampai bertemu lagi di kompetisi berikutnya ….
Semoga pada event mendatang trophy-trophy itu bisa kita bawa pulang …















Mungkin peserta dari Surabaya terinspirasi dari taman2 kota Surabaya yang beberapa tahun belakangan ini mulai dibenahi dan ditanami bunga-bungaan mba… sampe lupa nggak pake penutup lain…
dulu…pengen banget belajar dansa latin…sayang waktu itu dah agak berumur jadi agak-agak malu gitchu…coba kalo masih sma wah…bisa jadi Juara 1 hehe…
btw salut juga buat keponakan mba yang tetep konsisten dengan syariatnya…budaya barat boleh kita ikuti, tapi tetep di sesuaikan ma budaya kita khan…
Tuti :
Hehehe … berarti Pemkot Surabaya sukses dong menanamkan jiwa ‘cinta taman’ pada warganya ya? Peserta dari Surabaya ini memang suka banget ekspose tubuh, waktu kompetisi di Jakarta tahun lalu, dia juga memakai kostum yang sangat minimalis … (saya ingat, lha wong penampilannya menyolok banget je …)
Wah, belajar dansa nggak ada batasan usia lho, Jeng Rani. Saya juga baru belajar setahun yang lalu, padahal usia saya pasti puluhan kali lipat dari usia Jeng Rani kan? Ayuk, jangan malu-malu (apalagi malu-maluin …
)
Iya, kebetulan di sanggar tempat saya latihan, ada beberapa yang berjilbab. Niat kita sih sederhana saja, bisa melakukan apa yang kita sukai, tetapi tetap berpegang pada prinsip. Budaya kan ciptaan manusia, jadi karena ‘kita juga manusia’, boleh dong kita menciptakan budaya yang sesuai dengan kebutuhan kita. Gitchu …..
Di TV Indo ada acara “Dancing with the Stars” ga ya mbak Tuti. Wah tiap hari Senin selalu mengikuti dan seneng banget liatnya. Dan setiap hari Selasa deg-degan siapa artis yang harus pulang?
Seandainya saya bisa dansa pasti seneng banget…
thanks
Tuti :
Dulu ada “Seleb Dance” di Anteve. Pemenangnya pasangan Surya Saputra dan Cynthia Lamusu, yang sekarang sudah menjadi suami isteri. Padahal Surya Saputra tadinya nggak bisa dansa, tapi dia berlatih keras dan berhasil. Kalau Cynthia Lamusu memang penari.
Belum terlambat lho untuk belajar, Mbak Yulis. Dijamin, happy and healthy.
waktu dulu pernah bekerja di sebuah NGO for art & culture saya pernah diajak dansa seorang kolega. Saya dengan BB 91 sungguh tak PD, bukan hanya karena BB yang OW tapi juga karena…tak bisa dansa, bisa saya cuma dangsah (bar maDang trus kesah…)…tapi sang kolega yang seorang seniman dari Amrik keukeuh mengajak saya.
Saya yang nggak kebayang mesti bagimana akhirnya mengangguk setuju (dengan terpaksa). Tadinya sih grogy, lama2 asyik, menikmati dan berakhir dengan saya menginjak kaki si seniman…mak ngekks…mantap abis pijakan saya sampai sang seniman pun mengelus2 telapak kakinya diringi pandangan mata saya yang penuh penyesalan…(qiqiqi…sapa suruh maksa saya)
Sampai sekarang, saya tak pernah berhasil mengingat gaya dansa waktu itu, waltz,salsa, chacha…saya gak tahu…yang bisa saya ingat cuma Mas AndyMc…selalu mengatakan ” dansa lagi Yik ? tapi jangan injak kaki saya lagi” …qiqiqi…kapokmu kapan,Mas
BTW, dansanya Mbak tuti (-K) bisa sekalian olahraga ya,Mbak. Itu masuk kategori sport apa dance ? atau dua2nya ?
Tuti :
BB 91? Wah … Bau Badan mbak Ayik 91 macam? Emang jualan parfum ya? Asyik dong ….
BB OW bukan halangan untuk dansa lho Mbak. Saya melihat di kompetisi-kompetisi selalu ada peserta wanita dengan ukuran badan triple L, bahkan 4L, bisa berdansa dengan bagus. Memang sih, perlu ‘kerja’ lebih keras, sebab untuk mengayunkan badan yang berat itu dibutuhkan tenaga lebih besar. Pasangannya juga harus sekuat superman (atau kuli), karena seperti ‘digendoli’ beras sekarung …..
Saya menduga, dansanya Mbak Ayik dulu adalah waltz, karena ini dansa pergaulan yang paling umum. Dansa pergaulan lebih sederhana, asal langkahnya bener, nggak usah pakai teknik macem-macem yang belajarnya sampai ngos-ngosan …
Dansa saya campuran olahraga dan seni. Wah, latihan sepuluh menit saja pasti sudah gobyos kotos-kotos. Dansa ini lebih berat dari erobik. Oya, dansa sudah masuk olahraga yang dipertandingkan di PON lho Mbak. Nama organisasinya IODI (Ikatan Olahraga Dansa Indonesia).
Jadi, yang kelihatannya cantik dan cling itu, sebenarnya kemringet dan menggeh-menggeh … hehehe …
Btw, BB Mbak Ayik sekarang masih 91 atau sudah jadi 19?
biasanya kalo saya dansa pas belum punya anak dengan lagu mandarin hehehe
Tuti :
Wah … baru tahu sekarang, bisa dansa dengan lagu mandarin. Bajunya pakai cheongsam, bawa kipas dan pedang?
bravo..bravo!! bener-bener berhasil mbak tuti dalam melatih para keponakan itu! (lho..kok mbak tut jadi kayak agak malu gitu?…yang nglatih khan?)
Tuti :
Terimakasih, terimakasih ….
Iya, saya agak malu, soalnya waktu difoto belum mandi ….
Saya mah masih dilatih, Mbak Ernut. Pelatihnya ada sendiri, namanya Mbak Lusi. Mau kenalan?
Salam…
Di Malaysia tika ini heboh dengan program TV realiti – Mari Berdansa. Kisah pasangan suami isteri yang tidak tahu menari tetapi diberi latihan dan menari saban minggu dengan variasi muzik dan konsep. Hebat juga…
Tapi kalau saya diberi peluang, sumpah saya tidak akan menari sambil ditontonkan di seluruh dunia. Kaki dan tangan bisa jadi keras.. hehehe
Tuti :
Salam juga, Bang Syirfan …
Baguslah kalau pasangan suami isteri itu diberi latihan dulu, sehingga mereka berdansa dengan benar. Pastinya sedap lah dipandang. Dulu di salah satu teve swasta Indonesia ada acara Album Kenangan (kalau tak silap) yang dipandu oleh Bob Tutupoli, menampilkan lagu-lagu nostalgia seraya khalayak di studio dipersilahkan berdansa. Tetapi banyak yang sama sekali tak tahu menari, asal goyang-goyang saja, sehingga tak nyaman dilihat. Lagunya waltz, goyangnya dangdut ….. aduh!
Kalau ditonton seluruh dunia, saya juga tak mau Bang. Takut dikontrak production house …. hahaha!
Satu kata untuk Dhany SELAMAT,
dan satu kata untuk Bukle…HEBAT tidak sia-sia melatih dan menjadi Managernya Dhany.
Kisah penari dan manager saya temukan hanya disini loh mbak…!!
Tuti :
Terimakasih, Pakde.
Ngomong-ngomong, Bukle itu apaan? Buklet ‘kali, ato leaflet, ato brosur ….
Iya nih, saya jadi manajer, sekaligus sponsor utama, fotografer, juga suporter merangkap driver. Hebat toh?
Saya sebetulnya berharap bisa melihat foto mbak Tuti yang sedang menari loh, disamping tentunya melihat foto-foto yang muda. Kapan mbak ikut lomba? hehehe
EM
Tuti :
Lho, itu foto paling atas, yang pakai gaun biru, itu kan saya! Masak pangling? Tunggu aja sampai dia nengok ….. wakakaka!
Lagian, saya juga masih muda lho (tersinggung deh … hihihi). Kapan saya ikut lomba? Wah, ya nggak boleh, lha wong saya sudah level juri (haiyaah!)
saya juga kepingin berdansa ala tango
seperti biasa dilakukan Diego Maradona doeloe
meliuk-liuk mengelabui lawan-lawannya
hehehee (nggak nyambung ya)
*saya pernah menonton film
‘Dance with Me’ dibintangi Vanessa Williams
woow, dansanya keren banget mbak tuti
para pedansa perlu menonton film itu !
(lagi2 ngga nyambung kalee ya)
*selamat buat Dhany & Aan
btw, pengen juga nih sekali2 berdansa
dengan mbak tuti……..qiqiqiqiiiiiiiiiii
Tuti :
Iya, Maradona memang jagonya bola dan dansa. Pemain-pemain Brazil (eh, Maradona Brazil ato Argentina sih? kekeke …. *tolol mode on*) memang piawai bergoyang samba. Nggak kayak pemain-pemain Jerman yang kayak buldoser …. (halah, sok teu!).
Wah, saya malah belum nonton “Dance With Me”. Masih ada nggak ya VCD/DVDnya? Yang saya tonton malah “Dances With Wolves” Kevin Costner (nggak nyambung ya …. hehe, itu sih kisah serdadu Amerika yang desersi dan jadi pahlawan Indian)
Bang Agus mau dansa dengan saya? Boleh, boleh. Tapi ati-ati, soalnya hobby saya sama dengan Mbak Ayik, nginjak kaki pasangan …. ngeekks!
Bedanya, kalau Mbak Ayik 91 kg, saya cuma 55 kg (halo Mbak Ayik … toss!)
Ya iyalah….. kalau dancesport championship ya seharusnya kategori busana tidak mempengaruhi dong. Yang dilihat dance-nya aja…. kalau yang dilihat busananya ya itu artinya Fashion Show dong huehehe…… Itu sama aja kejuaraan catur yang dilihat busananya bukan main caturnya….
eh, beda ya??Lagian kalau busana dipertimbangkan juga, busananya Aan juga nggak jelek kok, tergantung kita menpersepsikan busana yang bagus itu apa. Sayangnya, untuk kategori yang susah diukur orang cenderung menilai menurut persepsinya sendiri…. Ya begitulah…..
Tuti :
Untuk kompetisi tingkat daerah (seperti di DIY), ada peraturan soal pakaian, misalnya gaun harus berupa baju terusan (sehingga perut nggak kelihatan), punggung nggak boleh terbuka, nggak boleh sewarna dengan kulit (supaya nggak seperti telanjang), dsb. Ini untuk mengadaptasi kultur daerah yang tidak bisa menerima ‘buka-bukaan’. Apalagi dansa sedang diupayakan masuk ekstra kurikuler olahraga di sekolah-sekolah. Lha kalo bajunya cuma sepotong di atas dan sepotong di bawah, jelas para guru dan orang tua akan kompak bilang “no way!”.
hahaha…
baru lihat fotonya sekarang….
Tuti :
Makanya, ikuuut!
jah jah jah… salut buat mba tuti dan keponakan yang tetap enerjik berolah raga dan gaya… hehehe… kalo saya pasti udah keserimpet berapa kali dansa2 kaya begitu hehehe…
mudah-mudahan di kesempatan berikutnya bisa jadi Juara Satu ya Aan dan Dhany. amien… kaos kakinya jangan yang kaya anak sekolah lagi ya… (kiddin) :p salam -japs-
Tuti :
Iya Japs, dansa memang olah raga yang asyik banget. Soalnya ada unsur musiknya, ada unsur tarinya, juga sport otak (menghafalkan gerakan dan koreografi).
Terimakasih, mudah-mudahan pada kompetisi berikutnya Aan, Dhany, juga Iin (yang kemarin batal ikut) bisa menggondol (kucing kalee … ) trophy juara. Hehe … itu aja kaos kakinya Dhany hasil minjem …
heheheee…..maklum juga Mbak Tuti
tak suka sepakbola atau malah
pura pura aja nih
Maradona itu megastar Argentina
dan dansanya dikenal dengan
tarian Tango, kl Brasil baru tarian Samba
btw, saya kira DVD Dance with Me
Vanessa Williams itu masih
ada di rental rental
klo mbak Tuti yg nginjak kaki sy
tak apa2lah…….bs diinjak sama
orang yg ngetop aja pun
udah syukur kok……..heheeee
Tuti :
). Ada beberapa fotonya di category ‘dance’. Nah kalau samba, dansanya gradak-gruduk, banyak goyang pinggul, tapi asyik juga …
Nah, kan? Saya sok teu kan? Dasar … *njitak kepala sendiri*
Saya memang sering kelobak-labik antara Argentina dan Brazil. Argentina yang seragamnya biru-kuning, Brazil yang lorek-lorek putih & biru muda ya? Kelabik lagi? Haduh …!
Saya suka juga nonton sepakbola, tapi untuk World Cup saja.
Tango itu dansanya agak menyentak-nyentak, kepala dancer cewenya dilempar-lempar (maksudnya dilempar arahnya, alias diputar dengan cepat, bukan dilempar ke got …
Orang ngetop? Kata almarhum Pak Harto, TOP itu singkatan dari Tua-Ompong-Peot …. Hwaduh, nggak mauuuu!!
loh mbak tuti kok ga ikutan? oooo udah level juri ya hehehehe
keponakan2nya pasti sehat2 semua ya, tuh liat aja senyumnya pada nggemesin semua.. saya dulu suka menari tp semenjak sma udah ga pernah lg krn udah ga ada di ekskul lg..
salam buat keponakan2nya mbak, smoga di kompetisi berikutnya bisa meraih yg lebih baik
Tuti :
Iya, saya memang sudah level juri, tapi bukan juri kompetisi dancesport, melainkan juri balap karung tingkat RT …..
Ayo nari lagi, Jeng Ida. Nggak usah nunggu ekskul (emang udah nggak cekolah lagi kok ya … ). Ikut latihan di studio atau sanggar tari saja. Dijamin sehat dan happy ….
Terimakasih, nanti salamnya saya sampaikan kepada ponakan-ponakan saya ….
Duhh asyiknya….udah lama tak berlatih, sejak pindah rumah.
Dansa memang mengasyikkan, gabungan antara sport dan seni….apalagi diiringi musik, waktu terasa berhenti….
Hmm kalau ke Yogya, kita bisa cari tempat dansa ya mbak Tuti…paling-paling keinjek kaki….hehehe.
Selamat buat keponakannya….pakaiannya bagus….selendangnya itu dijepit ya…soalnya bisa nyrimpet hehehe…(memangnya saya, yang suka kesrimpet kalau jalan pakai kain….)
Tuti :
Iya, bener sekali, Mbak Enny. Kalau Mbak ke Yogya, kita bisa dansa sampai kaki kram … hehehe … Nggak apa-apa keinjek kaki, asal nginjeknya pelan-pelan ….
Terimakasih untuk ucapan selamat kepada Aan dan Dhany. Baju Dhany termasuk yang paling sederhana dibanding baju peserta-peserta lain. Tadinya sudah dipasangi payet-payet bagus, eh … malah dicopot. Katanya malu kalau trlalu ‘bling-bling’. Iya, itu selendangnya dijepit ke pergelangan tangan, supaya tidak lepas ….
hyaa..bulikk..maluu
dipajang potonaa..
ehehehe..
Tuti :
Hehehe ….. yo wis, tak kecilin aja ya …. keciiil banget sampe gak ketok ….
Satu kata mbak tuti “KEREN” banget dech. Sip2 selamat buat keponakan2 tercinta yach mbak Tuti. Selamat berlatih lagi biar tahun berikutnya bisa mboyong piala dan hadiah yang paling gede. Amien

Best regard,
Bintang
Tuti :
Terimakasih Mbak Elinda, anak-anak lagi berlatih keras nih, tanggal 28 Maret ada kompetisi lagi di Jakarta. Tapi tingkat internasional, jadi yaa … berat banget persaingannya. Doakan saja bisa mendapatkan salah satu nomor.
salam manis,
Dancesport UI menurunkan beberapa pasang ke Safiel nanti. Di Kelas Medal, Novice, dan One Dance.
Dancesport UI sendiri sudah semakin dikenal di kalangan mahasiswa Ui dan masyarakat umum. Kami terus mempromosikan diri sih termasuk lewat blog ini
Tuti :
Wah, selamat bertemu di Ancol (Safiel?) besok. Kalau tidak ada halangan, dari Yogya akan berangkat beberapa atlet, termasuk tiga keponakan saya.
Semoga dancesport semakin dikenal dan berkembang di masyarakat.