BIARKAN MUSIK MENGHIDUPKAN JIWA KITA
Tiba-tiba saja saya bertemu kembali dengan seorang sahabat baik, yang sudah lama sekali tak saya ketahui kabar beritanya. Dia sudah menjadi manajer senior di sebuah perusahaan asing, setiap tahun beberapa kali melakukan perjalanan ke luar negri untuk meeting mewakili perusahaannya, dan setiap akhir minggu menghabiskan waktu di lapangan golf. Dia ke kantor mengendarai mobil buatan Jerman yang paling top, dan rumahnya megah seperti foto-foto di buku interior. Dia insinyur Teknik Kimia yang cemerlang, dan aktivis organisasi yang selalu menjadi leader dimana pun dia berada. Pokoknya, he’s great!
Karena saya suka berbagi hal-hal yang menurut saya bagus kepada teman-teman, saya emailkan beberapa lirik lagu indah kepada beliau ini, seperti “Bridge Over Troubled Water”nya Simon & Garfunkel dan “The Greatest Love of All” yang dinyanyikan George Benson (Whitney Houston juga menyanyikan lagu ini). Herannya, dear friend ini tak merespon kiriman lagu saya. Ketika saya tanya kenapa dia tak berkomentar tentang lirik-lirik indah yang saya kirimkan, teman ini mengaku bahwa he knows nothing about song. Baginya nyanyi, musik, dan segala ‘anak cucu’ ekspresi seni adalah dunia antah berantah yang gelap …
Simon & Garfunkel, pelantun lagu indah “Bridge Over Troubled Water”
Saya berandai-andai. Andai teman saya ini mengaktifkan juga otak kanannya, yang berkaitan dengan intelegensia seni dan kreativitas, maka sekarang ini dia tidak akan menjadi manajer senior. Dia akan menjadi Presiden Direktur !! I believe so.
Tokoh-tokoh hebat yang berhasil mencapai puncak prestasi adalah mereka yang intelegensia otak kanan dan otak kirinya optimal. Di dalam negeri, kita sebut saja mantan presiden Soekarno, Soeharto, Habibie, dan Gus Dur. Soekarno, kita semua tahu adalah insinyur Sipil (yang tentunya cukup cerdas) sekaligus pecinta seni yang luar biasa (termasuk ’seni’ kecantikan wanita …). Soeharto, meskipun pendidikan formalnya ‘hanya’ sekolah tentara, jelas sangat cerdas, taktis, dan strategis, dan dia juga pecinta kesenian Jawa yang fanatik. Habibie, tak diragukan lagi kecerdasannya incredible, dan tokoh berwajah innocent ini sangat suka menyanyi. Gus Dur, meskipun statementnya lebih sering membuat orang puyeng, pasti cerdas juga, dan kiyai ini adalah penggemar berat musik klasik Beethoven. Megawati? Baru-baru ini dia mengatakan bahwa dia tidak lulus S1 bukan karena kurang cerdas, tapi karena pada waktu itu ada ‘invisible hands’ yang menghalangi anak-anak Soekarno memperoleh pendidikan tinggi. Saya belum pernah mendengar Megawati menyanyi, tapi setidaknya dia bisa menari poco-poco. Presiden SBY punya ijazah S3, dan belum lama ini mendaftarkan hak cipta untuk lagu-lagunya yang direkam dalam kaset dan CD.
Otak kiri manusia merupakan pusat kecerdasan yang berkaitan dengan logika, matematika, sistematika, dan bahasa. Sedangkan otak kanan merupakan pusat kecerdasan yang berkaitan dengan seni dan kreativitas. Otak kiri berpikir secara berurutan, superior dalam analisa dan unggul mengelola kata-kata. Otak kanan berpikir secara holistik, mengenali pola-pola, serta menafsirkan emosi-emosi dan ekspresi-ekspresi nonverbal (Daniel H. Pink, 2007). Jika otak kanan dan otak kiri seseorang bekerja secara optimal, maka hasilnya adalah pribadi yang jenius. Seorang pemimpin pada hakekatnya adalah seorang manajer, dan manajemen adalah gabungan antara sains dan seni.
Kembali ke laptop (eh maap, laptopnya sudah dilarang tayang oleh Komisi Penyiaran televisi) … Kembali ke soal musik. Para ahli meyakini bahwa musik Mozart yang diperdengarkan kepada bayi di dalam kandungan akan membuat bayi menjadi anak cerdas. Penelitian juga membuktikan bahwa tanaman yang di‘entertain’ dengan musik akan tumbuh lebih subur. Jenis musik yang mampu mempengaruhi otak bayi dalam kandungan serta tanaman menjadi lebih ‘hidup’ adalah jenis musik yang lembut, ritmis, dan memiliki struktur serta range nada yang lengkap. Musik klasik memiliki karakter seperti ini (kalau bayi dan tanaman dirangsang dengan musik rock yang menjerit-jerit mungkin malah kisut dan pingsan … he he).
Mozart dan kedua saudaranya, Leopold dan Nannerl
“Tanpa musik hidup hanyalah kekacauan”, kata Nietzche (tapi ‘gak usah terlalu diambil ati deh, ini kan kata filsuf yang atheis …. he he). Sang filsuf juga bilang, musik itu pencerahan. Musik adalah penghiburan, kata Camus. Tak pernah ada orang bilang, musik itu jelek. Para ahli komunikasi kontemporer bahkan percaya, musik adalah medium komunikasi tak tersulihkan saat ini (Suka Hardjana, Kompas 2 Maret 2008).
Musik adalah bahasa yang universal. Suara dan nada yang keluar dari sebuah alat musik tidak kenal apakah pemainnya orang Latin, Negro, Cina, atau Arab. Siapa pun yang meniup, menabuh, menggesek, atau memetik alat musik, suara yang dihasilkan sama. Komposisi beragam nada dari berbagai alat musik itu akan menciptakan suasana yang berbeda-beda. Kita mungkin tidak tahu apa arti “Csardas” yang menjadi judul salah satu komposisi yang dimainkan oleh Werner Muller, tetapi ketika mendengarkan musik tersebut, kita larut dalam suasana keputus-asaan dan kesedihan yang mendalam, untuk kemudian berubah secara dramatis menjadi kebangkitan semangat yang menggelora.
Karena elemen dasarnya adalah bunyi, musik mempunyai kekuatan pengaruh sugesti tersembunyi yang tak terelakkan. Bunyi itu penetratif dan sugestinya menembus ke seluruh spektrum kesadaran — dalam gelap maupun terang — bak benda cair merembes ke ranah dataran benda padat. Ia tak terelakkan (unverhindem), bahkan untuk mereka yang tuli dan hilang ingatan sekalipun. Getaran frekuensi dan gelombang bunyi yang menjadi wahana primer seni musik menggelitik seluruh jaringan susunan syaraf dan aliran darah serta cairan dalam tubuh makhluk hidup, termasuk hayat tumbuh-tumbuhan. Orang tuli tak mendengar (musik), tetapi menghayati kesadaran (meng-grahita) fenomena seni bunyi itu. Hanya keterbatasan kesadaran dan kecerdasan (intelegensi) yang memungkinkan terjadinya kendala terhadap persepsi keluasan bunyi yang disebut musik (paragraf canggih nan ‘akademik’ ini saya contek abis dari tulisan Suka Hardjana, Kompas 2 Maret 2008).
Kata seorang pelatih vokal, pada dasarnya setiap orang bisa bernyanyi, selama dia masih punya pita suara. Yang diperlukan adalah berlatih cara pernafasan yang benar serta menguasai teknik mengeluarkan suara. Bahwa ada orang yang dikaruniai suara merdu bagai buluh perindu, ada yang kebagian suara cempreng ibarat kaleng jatuh ke lantai, itu mah nasib aja …
Yang perlu dilakukan adalah mengenali ‘warna’ suara kita serta jangkauan nada yang bisa kita raih, kemudian memilih lagu yang sesuai. Kalau jangkauan nada kita terbatas, ya kita pilih lagu-lagunya Koes Plus saja, seperti “Kapan-kapan” atau “Kolam Susu”. Tapi kalau range nada yang bisa kita capai cukup lebar, bolehlah mencoba menyanyikan “My Way” nya Frank Sinatra atau “Kissing A Fool” nya Michael Buble. Bisa kan menyanyikan lagu itu? Bisa kan? Nggak bisa? Ya sudah, gpp (ga’ papa), saya juga nggak bisa kok … he he ….











Saya termasuk pecinta berat musik, walaupun tidak bisa memainkan satu jenis instrumen pun.
Tetapi tetap saja musik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari membaca sambil mendengarkan musik, menyelesaikan pekerjaan rumah sambil mendengarkan musik, dimobil sudah pasti dengan musik sampai dengan menonton konser musik ataupun sekedar menikmati karaoke amatiran. Thanks
Tuti:
Kayaknya kita sama, Mbak Yulis. Saya juga pecinta musik, tapi nggak bisa memainkan satu jenis alat musik pun. Ini disebabkan (mungkin) karena tiadanya kesempatan untuk belajar memainkan alat musik waktu muda dulu. Sejak kanak-kanak hingga dewasa, ekonomi keluarga saya sederhana saja, jadi tidak ada prioritas untuk ikut kursus musik, apalagi membeli alat musik. Sekarang mungkin sudah agak longgar, tapi masak iya umur segini belajar main piano? Jari jemari sudah terlanjur kaku … hehehe …
Sampai sekarang, saya selalu kagum kalau melihat orang memainkan piano dengan bagus. Menurut saya, piano adalah alat musik yang paling indah. Bisa menghasilkan bunyi lembut indah, bisa juga riang gembira. Kalau sekarang, orang banyak menggunakan organ, yang juga bisa menghasilkan berbagai jenis irama.
Wah, besok kalau Mbak Yulis ke Yogya, kita bikin acara nyanyi-nyanyi yuuk …
Ketika sedang hectic, musik menjadi teman setia saya hingga masalah terselesaikan.
Dengan musik, hidup saya jadi lebih berirama, tidak kaku seperti otot2 yang sedang tegang.
Salam kenal Mba Tuti. Saya ijin pasang link blog nya ya. Tks ..:)
Tuti :
Memang betul, musik membuat ‘hidup kita hidup’. Kalau mendengar suatu irama musik, saya langsung membayangkan : kalau dibikin koreografi tarian seperti apa ya ….
Salam kenal juga Buthe, terimakasih bersedia me-link blog saya yang sederhana.
setuju… saya tak bisa bayangkan hidup ini tanpa musik, walaupun saya akan lebih menderita jika hidup ini tanpa makanan enak. hehehe…
musik adalah bahasa menurut saya sebelumnya, dan betul saja ternyata seperti yang Mba Tuti tulis diatas
musik adalah medium komunikasi tak tersulihkan saat ini (Suka Hardjana, Kompas 2 Maret 2008)
jadi secara tidak langsung musik menyampaikan sesuatu baik yang kita sadari maupun dalam bawah sadar kita. saya selalu ingat ucapan teman saya yang kebetulan musisi (saya pernah menulisnya di satu postingan saya), semenjak maraknya musik2 dengan penggunaan lirik “selingkuh” secara vulgar, rasanya kita secara tidak sadar mulai menganggap selingkuh itu wajar. Bayangkan jika yang mulai terbiasa mendengar adalah anak-anak kecil yang masih sangat kuat sekali ingatannya. duh, amat disayangkan.
musik juga beberapa darinya seperti memiliki endorphin yang dimiliki coklat, ataukah ia mampu menstimulan terciptanya endophin? yang jelas beberapa lagu seringkali membuat kita yang bad mood menjadi seketika bersemangat. saya menyebutnya lagu-lagu penyenyum hati hehehe.
waaah, karena saya senang musik artinya otak kanan saya lumayan lah mba ya? andai saja otak kiri saya juga lumayan encer cairannya, pasti bisa jadi kaya temen Mba Tuti yang huebat itu… jejejeje…. salam Mba,
-japs-
Tuti :
Hwahahaha ….. Japs, Japs, makanan enak itu pada hilang kemana sih ? Kok nggak meninggalkan bekas di badanmu? Habis buat ndengerin musik dan jalan kaki ya ….
Tentang musik zaman sekarang yang liriknya vulgar, aku pernah gak sengaja dengerin lagunya Zamrud, ah … lupa judulnya (dan memang nggak merhatiin), hwaduuh … liriknya kok ‘ngeres’ dan porno banget. Masak ada kalimat “…..” (wah, nggak tega ngutipnya). Pokoknya kasar dan ’saru’ banget. Padahal menggemar Zamrud itu kan kebanyakan ABG-ABG. Lha kalo denger idola mereka nyanyi dengan lirik kayak gitu, apa mereka nggak niru?
Kalau bagi Japs musik adalah penyenyum hati, bagiku, musik adalah penyembuh luka (nah lo, lebih hebat kan?). Ketika hati sedang pedih, mendengarkan musik akan membuat kepedihan itu hilang.
Iya iya … aku yakin otak kiri Japs encer banget kok. Pasti deh. Kalo nggak, mana bisa jadi arsitek, ya toh? Eh, temenku itu cuma otak kirinya saja yang encer, otak kanannya kental. Jadilah kayak Habibie, yang otak kanan dan kirinya encer semua …
Setuju bu, sehari tanpa musik membuat hidup saya terasa hampa banget (ciiiieee….) Kayak makan sayur asem tanpa garam, tanpa sambel trasi & tanpa ikan asin gitu.
Jadi inget jaman sekolah dulu, kalo belajar saya ga pernah bisa kalo ga dengerin musik.
Tapi sayang saya tidak bisa bermain alat musik, nyanyipun wah… bisa-bisa yang dengerin pada lari ha ha ha padahal ayah saya suka sekali nyanyi & begitu ketemu umi wah klop banget….
Tuti :
)
Tanpa musik, kayak makan sayur asem tanpa garam, tanpa sambel terasi, tanpa ikan asin, tanpa sayuran, tanpa kuah (lho …. jadi makan panci doang dong ….. wakakaka
Saya juga kok, kalau nyanyi dibilang orang “Kamu nyanyi bagus, tapi lebih bagus lagi kalau kamu nggak nyanyi” …. hahahaha.
Wah, ayah dan umi suka nyanyi ya? Pasti suasana rumah kayak studio rekaman dong … asyik.
Setuuujjuuu…lha… ini internetan jg sambil dengerin musik…I love music very much…
anakku sejak dalam kandungan sudah ta’ dengerin music mozart lho…tapi sekarang dah 6 tahun kok nggak suka ma musik mozart ya…? heran..
di leskan piano maunya main lagu2nya nidji, yovie n the nuno, dewa dll, piye tho…
Tuti :
) tapi musik itu merangsang pertumbuhan otaknya, melatih kemampuannya mengenal harmoni nada. Lha kalau dia suka musiknya Nidji, itu sudah heibaaaat ….
Rani, anak umur 6 tahun ya aneh banget kalau suka musik Mozart. Cocoknya ya lagu macam ‘Bintang Kecil’, ‘Cicak-cicak Di Dinding’, ‘Balonku Ada Lima’, dan lain-lain. Dengerin Mozart sejak masih dalam kandungan bukan berarti dia lantas nganggep Mozart adalah bapaknya (qiqiqiqi …
waah..sampai sekarang saya cuma bisa menikmati musik..
kadang juga itupun bajakan..hehehe
sekarang daripada beli CDnya, mending cari mp3-nya…
wah penemu format mp3 mungkin sangat sedih kalau hanya dimanfatkan untuk pembajakan….
Tuti :

Wahaha …. ini dia potret mahasiswa pinter .. pinter mbajak lagu
Mudah-mudahan saja pencipta MP3 mendapat banyak pahala di akhirat karena amal jariyahnya ….
Mbak, aku juga ga hafal lagu2…tapi suka dengerin musik. Dan musik kadang membuat kenangan, saat kapan ya kita dengar musik itu. Anak-anak termasuk suka musik, karena sejak kecil latihan piano, walau ga dilanjutkan sampai besar, karena terus banyak pilihan lainnya.
Tapi memang ada orang yang lebih menyukai sport dibanding musik, dan musik sebagai pengantar saja. (ha! saya sendiri juga musik hanya sebagai latar belakang, untuk kerja, untuk belajar, untuk menari…hahaha).
Tuti :
Untuk lagu-lagu generasi anak muda sekarang, saya nggak ada yang hafal. Tapi kalau lagu-lagu era 60-an sampai 90-an, kayaknya banyak yang saya tahu. Sekalipun mungkin nggak hafal banget, tapi kalau ada organ dan disodorin buku teks lagunya, ayuuuuk …. hehehe
Saya sudah kenal musik chacha, rumba, waltz, rock’n roll, sejak masih remaja dulu. Dulu pengiiin sekali tahu, gimana ya langkah dansa yang cocok untuk lagu-lagu seperti itu. Eh, begitu lihat ada sanggar dansa di Yogya, langsung deh …. tancaaap …
saya setuju dengan postingan mbak tuti ini,
yang sprt biasanya sll inspiring,…..*ngiri.com*
hidup tanpa musik, ibarat blog tanpa veranda….hehehee
saya juga penikmat musik sejati
semua jenis musik saya suka
dari musik berorientasi sajadah hingga haram jadah
dari Hollywood dream hingga Bollywood style
sesekali saya juga suka menikmati
keroncong hingga cikala lepongpong
dengerin musik nan syahdu
bisa membuat tersipu malu
*uda dulu komennya ya,
mau dengerin musik nih
Tuti :
Musik berorientasi sajadah saya ngerti Bang …. bangsanya nasyid dan qasidah, gitu ya. Tapi musik berorientasi haram jadah? Aduh biyung, koyo opo iki? Jadah saya tahu …. itu, makanan dari ketan yang menjadi salah satu ciri khas Kaliurang, Yogya. Rasanya enak, gurih, apalagi kalau digoreng pake kocokan telur. Lha kalau ‘haram jadah’? Ooh … tahu saya, jadah yang digoreng pakai lemak babi kan …
Ini lagi, cikala lepongpong itu apaan? Musik tradisional Batak ya? (*time out* : Bang Agus orang Batak bukan? Kok gak pake marga?). Tulis di blog Bang, biar orang seluruh dunia tahu apa itu cikala lepongpong.
Wihihihi …. saya susah membayangkan Bang Agus tersipu malu karena dengerin musik syahdu. Emang bisa malu juga Bang? Malu-maluin ‘kali ….
Ya deh, silahken, silahken ….. dengerin musik dulu
setujuh Mbak, saya meskipun masih bisa hidup tanpa musik, tapi saya teuteup pecinta musik..
Musik yang saya suka campur bawur, dari yang klasik (yang jarang banget saya dengerin), yang ethnic (keroncong) sampai yang pop bahkan rock.
Karena kedua gadis saya adalah penikmat musik yang fanatik, saya jadi ketularan selera mereka yang cepet banget berubah-ubah…hari ini suka genre ini, besok sudah beda lagi, sungguh anak2 yang masih labil…
Tapi, jujur, saya masih paling suka dengerin musik berirama keroncong…biar saja dibilang kuno atau jadoel, yang penting nyamleng…sambil dengernya, sambil bayangin lagi dikeloni Bapak Almarhum, sambil terkantuk-kantuk, lhiyat-lhiyut…dan mak brrrukkk…ambyuk dikasur, bablas mendengkur….
Apik ta, Mbak ? tos!
Tuti :

We lhaaa … saya kira ’sambil bayangin lagi dikeloni suami’, jebul ‘dikeloni Bapak’
Memang iya, musik keroncong itu bikin kita ngantuk theklak-thekluk, apalagi kalau dengerinnya jam dua siang, habis makan, perut kenyang, angin bertiup semilir. Wis ….. mesti langsung mak less, bablas ke dunia mimpi.
Eh, Bapak saya (almarhum) dulu juga suka banget lho musik keroncong. Bapak kita ternyata sama, Mbak. Toss!
Lha kalo saya, jaman masih remaja dulu senengnya musik rock (dulu disebut musik ‘underground’). Group favorit saya Deep Purple, Uriah Heep, Led Zeppelin, dan sebangsanya itu, yang serem-serem pokoknya …
Setuju sekali mbak…
dengan musik otak kita seakan belajar dgn cara tanpa paksaan..
saya menyenangi pelajaran Bahasa Inggris awalnya krn saya mendengar Air Supply mendendangkan Goodbye ato Bryan Adams dgn Please Forgive Me-nya..
Menyenangkan sekali bagaimana saya yg msh duduk di bangku SD pada jaman itu telah mengenal vocabulary dr rasa ingin tahu… “ngomong apa sih si penyanyi barat ini?” hehehe
So I always love music, mo apapun itu, dangdutan juga hayo hahaha
Tuti :
) dengan ‘Goodbye’ dan Bryan Adams dengan ‘Please Forgive Me’. Bagaimana dengan “Right Here Waiting’nya Richard Marx, ‘Heaven Knows’nya Rick Price, ‘Hard To Say I’m Sorry’nya Chicago?
Lho, lho …. ini Pimbem bukan? Kok beda … kecil dan imut … hehehe
Wah, iya …. saya juga suka tuh Air Supply (artinya : kipas angin
Ada juga lirik lagu dalam bahasa Inggris yang agak susah saya pahami maknanya, yaitu lagu ‘Sometime When We Touch’nya Dan Hill. Bahasanya agak rumit. Tolong dong, kalau Idawy tahu …
saya suka dengerin lagu, tapi kok nggak cerdas ya
Tuti :
Udah dari ’sono’nya ‘kali …. *dijitak isnuansa*
waaah……mau komen apa ya… Mbak Tuti tahu rahasiaku … diajak nyanyi2 cuma datang sekali. Alasan gak sempat dan lain lain.. Halllaaaah…… lha wong ra iso nyanyi ..
Apapun….setujuu mbak. Hidup tanpa musik seperti sayur tanpa garam…eh…paling tidak dalam satu hari, musik menemani saya ketika blog walking, cek email dan laporan laporan… juga ketika latihan Yoga….
Tuti :
)
Hehehe …. padahal Mbak Dyah datang dengan bawa buku koleksi lagu-lagu setebal kamus John. M. Echols. Kayaknya mantep banget, jebul cuma datang sekali. Latihan dansa juga cuma datang sekali. Gimana ibu-ibu PKK mau seneng nyanyi kalau bosnya nggak ngajari … hehehe …
Tentang yoga, saya pengin juga lho belajar. Latihannya dimana, Mbak? Boleh ikutan nggak? Katanya, rajin latihan yoga bisa bikin awet muda (halah, lha wong sudah terlanjur tua gini …
Satu lagi mbak… kalo ‘Kolam Susu’ dan ‘Kapan-Kapan’ tetep nggak bisa ??? Yo…kebangeten…
Baca postingan ini saya jadi mau latihan nyanyi dan kenal musik lagi ah … Kalau perlu menghafal lagu-lagunya Naff, Ungu, Arie Lasso, ha..ha….makin serem yang dengernya ya mbak, kalo saya yang nyanyi.
Satu lagi … kata anak-anak … saya harus belajar nyanyi…biar ngurangi ngomel…waaaah….
Tuti :
*bercanda mode on*
Kalau ‘Kolam Susu’ dan ‘Kapan-Kapan’ Koes Plus nggak bisa, coba nyanyi ‘Amigos Para Siempre’ yang biasa dibawakan Sarah Brightman & Jose Carreras (halah, tambah kesandung-sandung ya … qiqiqi).
Wah, lha kalau lagu-lagunya Naff, Ungu, Arie Lasso, itu malah selera anak muda Mbak, bagus lah. Nggak kok, nggak serem, asal nyanyinya dalam hati saja …
Nah, kalau nyanyi untuk ngurangi ngomel, saya setuju banget. Atau ngomelnya dinyanyikan?
Yuk ikutan Lomba Blog, Hadiah total 10jt + handphone+ internet speedy. lihat info di http://www.audiochute.com
Tuti :
Beneran nih? Wah, asyik dong. Ikuuut …. !
(kalau yang ini awardnya pasti ‘beneran’)
Setuju dengan artikel ini … bahkan Howard Gardner, seorang pakar psikologi dari Harvard memasukkan musik sebagai salah satu pilar dalam kecerdasan, yaitu kecerdasan musikal …
Saya sendiri kalau waktu senggang, suka maen musik sama anak saya yang sulung (8 tahun) … dia gedebuk drum dan saya maen keyboard / organ … jadilah rumah berisik setengah mati … ha ha ha …..
Tuti :
Penyanyinya sudah ada belum, Pak Riri? Kalau belum, saya ndaptar deh … (*nggak tahu diri mode on*).
Btw, istilah ‘kecerdasan musikal’ baru kali ini saya dengar (eh, baca). Wah … oke juga. Terimakasih, Pak Riri
O iya, tahun 1970an dulu dan mungkin juga sampai sekarang, ada yang berpendapat bahwa musik klasik ‘lebih tinggi’ kedudukannya dari musik2 lainnya, apalagi dibandingkan musik dangdut. Bagaimana menurut mbak Tuti?
Menurut saya sih, semua musik itu derajadnya sama. Hanya saja beberapa orang senang musik A, sedangkan beberapa orang lainnya senang musik B, dsb. Nah, dari sinilah mungkin derajad ‘ketinggian’ musik mulai dibeda-bedakan. Musik klasik yang notabene lebih dinikmati oleh ‘orang2 atas berdasi’ dianggap sebagai musik yang lebih baik dibandingkan musik dangdut yang hanya dinikmati oleh ‘orang2 bawahan’. Padahal ukurannya apa sih yang membedakan genre suatu musik lebih tinggi dari genre musik lainnya?? Itu menurut saya lho…..
Kalau saya sih, bisa menikmati musik apa saja, dari musik oriental tradisional sampai yang heavy metal. Dari musik zaman baroque sampai yang ‘modern’ seperti Jean-Michèl-Jarre….. walaupun musik yang paling sering saya dengar masih terkonsentrasi di sekitar pop dan slow rock…
Tuti :
). Tapi sekedar berpendapat boleh saja kan?
Waduh, saya bukan pakar musik Mas Yari, takut juga mau jawab (takut ketahuan begonya …
Musik, tari, dan ekspresi seni yang lain, adalah hasil budaya suatu masyarakat. Kita tidak bisa mengatakan ini lebih bagus dari itu, ini lebih tinggi dari itu, dan seterusnya. Selama ekspresi seni itu mampu mewakili apa yang ada dalam jiwa masyarakatnya, mereka berhak hidup.
Musik klasik dikatakan sebagai musik yang ‘tinggi’, karena memiliki kerumitan dalam komposisi nada, memiliki tingkat harmoni yang sempurna, dan membutuhkan kemampuan teknis tertentu untuk memainkannya. Adapun musik/lagu ndangdut sering dikatakan sebagai musik ‘bawah’ mungkin lebih disebabkan liriknya yang sederhana (dan kadang-kadang ‘naif’). Sekali lagi, mungkin lho …
Wah, rentang selera musik Mas Yari ternyata luas sekali. Memang, kalau telinga dan jiwa kita memiliki ‘rasa’ musik, kita bisa menerima musik dari jenis apa pun, karena setiap jenis musik memiliki keindahannya masing-masing.
Daffa suka musik… suka lagu bangun pagi… Bude mo denger khaan???
..bangun tidur Sitorus mandi….
..simatupang menggosok gigi…
..pasaribu menolong ibu…
..panjaitan menjahit bajuuuuu….
horeeeee…. banguuuun…
pasti Bude Tuti senang dengarnya… hehehe…
Bude Tuti, pernah nggak dengar kalimat ” biarkan rasa seni itu memaksa kita berkarya seni, jangan paksakan diri kita berbuiat senI…” ituuuu … kata sapa yaaa????
Tuti :
Bude mau denger nih …
Waaa … itu lagu bangun pagi pasti dinyanyikan oleh orang Batak ya? Kalau yang nyanyi orang Jawa, liriknya gimana, Daffa?
“biarkan rasa seni itu memaksa kita berkarya seni, jangan paksakan diri kita berbuat seni” itu pasti kata-kata Opa …. iya kan?
Bude tahunya ‘gulagalugu suara nelayan’nya Mbah Leo Kristi …
musik adalah hidupku, let’s get the beat!!..
lha ko malah nyanyi dan iklan hehehe..
musik menemaniku saat ngantuk begadang menunggui cake mateng depan oven supaya ga bablas bobok, musik menceriakan moodku saat pekerjaan dan laporan menumpuk,
musik (keroncong, campursari) juga sahabat setia si mbak saat menyetrika..
hidup tanpa senandung musik pasti seperti sayur tanpa garam..
Tuti :
Let’s get the beat!! Yuhuiii … oks bangets!!
Weleh, emang nungguin cake mateng sampe begadang ya Mbak Sofi? Saya pikir yang begadangan cuma orang ronda aja … hihihi.
‘Hidup tanpa senandung musik pasti ibarat sayur tanpa garam’ …. masih mending Mbak, bisa dimakan. Coba, gimana kalau ‘ibarat sayur tanpa panci’? Laah … tumpah dong, jadi nggak bisa dimakan …
musik berorientasi haram jadah
yang saya maksudkan
mungkin sprt lagu ’simpathy for the devil’-nya
Rolling Stone yng dinyanyiin
play boy berbibir ndower Mick Jagger
atau bbrpa lagu Ozzy Osbourne
yang doeloe setiap nyanyi di pentas
bersama bandnya Black Sabbath
suka menggigit kelelawar hidup
*karena musik adalah bagian hidup,
saya menulis komen ini sambil
kepala nggeleng-nggeleng
dengerin lagunya Sonu Nigam…..
penyanyi nomer siji Bollywood…..qiqiqiqiiiiiii
Tuti :
*bengong.com*
Aku ndak kenal lagu-lagunya Mick Jagger dan Ozzy Osbourne je Bang. Kalau tampang Mick Jagger kenal banget, tapi lagunya ndak ada yang nyantol di kepala. Black Sabbath juga sering baca namanya, tapi nggak pernah lihat Ozzy nyanyi sambil nyokot kelelawar (untung juga, soalnya kalau lihat, insya Allah saya seminggu nggak doyan makan … )
Sonu Nigam … halah, halah …. ini aku juga ndak kenal
Kalah deh sama Bang Agus ….
Betul Mbak, hiduplah dengan musik, minimal apresiatif aja dulu. Saya punya dua sahabat… yang nggak pernah ngerti sedikitpun dengan musik. Nyanyi sejak SD sampai usianya 47 tahun masih juga Garuda Pancasila. Dibilang nggak gaul, nggak juga. Entah ini bawaan sejak orok tidak bisa nyanyi atau gimana… Teman itu nggak bisa nyanyi sebaitpun…. bersiul dengan nyanyian pun belum bisa dia.
Tuti :
Sejak SD sampai usia 47 tahun nyanyinya Garuda Pancasila melulu? Teman Pakde itu bukan nggak bisa nyanyi ‘kali, tapi sangat cinta pada tanah tumpah darah, negara Indonesia …
Pakde sendiri pasti jago nyanyi kan? Jadi kalau pas siaran radio dan segala macam alat pemutar lagu macet, Pakde langsung tarik suara (emang suara ada talinya? qiqiqi … )
dulu kalau jam les usai dan msh ada waktu, aku sering karaokean bareng murid2ku mbak, wuii jadi rame …. ada juga lagu my way , tears in heavennya eric clapton dan masih banyak lagu2 evergreen lainnya
Tuti :
Wah …. mau dong jadi muridnya Mbak Ely. Apalagi ikut les piano. Tapi gimana nih, jari sudah pada kaku semua kok pengin belajar main piano …
Saya juga paling suka lagu-lagu evergreen. Kayaknya kok masih uenaak saja dinyanyikan.
wahhh bagi saya tak ada hari tanpa musik…
Saya penggemar musik apa saja mbak…. mungkin karena tuntutan kerja jadi DJ Radio dulu, terpaksa dangdut juga ditelan. Tapi sebetulnya ada juga dangdut yang enak loh mbak. hehehe.
Tapi saya tidak bisa main alat musik. Hanya bisa mengandalkan pita suara saja, yang untungnya masih bisa nyanyi nada untuk sopran dan alto. Tapi paling nyaman nyanyi lagu-lagunya penyanyi pria. Setengah nada juga hayuk…. “Misty” atau “Masquerade” adalah lagu kesayangan saya. (Kalau sejenis Mariah Carey ngga deh mbak ….saya pas dulu).
Aduh jadi pengen pergi karaoke-an sama mbak Tuti nih…
Mbak… Februari akhir/awal Maret ada di Jogja ngga?
Tabik
EM
Tuti :
Kalau lagu Melayu, aku suka lho Mbak, kayak ‘Cindai’, ‘Fatwa Pujangga’, dll. Cengkoknya itu lho, tantangan yang menarik untuk bisa menyanyikannya.
Aku juga nggak bisa main alat musik. Nyanyi pun ngasal aja. Modalnya cuma seneng sama nekad doang. Laaah … kalau diadu sama Mbak Imel, ya aku kayak pengamen jalanan dibanding penyanyi konser ….
‘Misty’ dan ‘Masquerade’ saya juga suka. Ini termasuk lagu-lagu evergreen ya. Saya suka semua lagu-lagu evergreen. Asal ada kepek’an liriknya, hayuu aja …
Ohya, Mbak Imel nggak suka Mariah Carey kenapa?
Akhir Februari/awal Maret? Kayaknya sih saya lagi di planet Yupiter. Tapi nggak papa deh, demi Mbak Imel, saya pasti balik Yogya. Beneran nih? Saya tunggu lho!!
salam manis.
Wah Kang Yari di atas suka Jean Michel Jarre … apa Kang ? … Zoolook ? Night in Shanghai ? Rendezvous … he he he ..
Tuti :
Halooo Mas Yari, ada yang mau ngajak pentas nih … Saya siapin stage deh, ntar saya yang jual karcis merangkap sekuriti, tukang lampu, dan jaga parkir
Mbak Tuti, saya ngga suka Mariah Carey karena suaranya melengking ihihihi
sebetulnya itu aja alasannya
EM
Tuti :
Oooo …. gitu to. Iya memang suara Kere itu (hush, Carey …) melengking. Liukannya kadang juga agak berlebihan. Pasti lebih sip suara Emiko-san, sang wonder woman …
Bagaimana dengan Sarah Brightman, Whitney Houston dan Celine Dion? Eh, Barbara Streisand juga bisa nyanyi bagus lho …
Yes Ibu …
Thanks to the music …
Music mengajarkan kita sesuatu yang disebut …. Harmoni …
Salam saya
NH18
Yang juga cinta musik …
Tuti :
Betul Pak, tapi bukan Bundaran Harmoni kan maksudnya?
Kalo lagi ngasih training, para trainee diajarin musik nggak Pak?
Salam buat para trainee ya Pak (sekali-sekali saya ikut dong)