WARISAN BUDAYA JAWA DI RUMAH BATU
Ullen Sentalu?Aneh betul kedengarannya. Seperti bukan bahasa Jawa, padahal ini nama sebuah museum budaya Jawa. Oh, ternyata Ullen Sentalu adalah akronim dari “Ulating Blencong Sejatining Tataraning Lumaku”. Halah, apa pula itu artinya? Dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, kata-kata di atas diterjemahkan menjadi Pelita Hidup Bagi Perjalanan Manusia. Wooo gitu toh …..
Museum Ullen Sentalu terdapat di tengah obyek wisata Kaliurang, Yogyakarta. Museum ini menyimpan sejarah budaya Jawa, khususnya yang berkaitan dengan raja-raja Yogyakarta dan Surakarta. Apa isinya? Mari kita lihat. Yuuuk …
Sudah pasti sebelum masuk kita harus beli tiket dulu. Eh, ternyata tiketnya lumayan mahal : Rp. 25.000 untuk dewasa, dan Rp. 15.000 untuk anak-anak serta pelajar/mahasiswa. Tapi desain tiketnya sungguh menarik, indah dan ‘berkelas’, tidak seperti umumnya tiket museum yang tidak beda dengan karcis retribusi parkir. Dari desain tiket yang berkelas, saya langsung ‘curiga’ (halah!) isi museum ini juga berkelas.

Loket penjualan tiket Museum Ullen Sentalu, berupa bangunan dengan dinding batu
Tiket masuk yang ‘berkelas’
Dari luar, museum ini sudah kelihatan keunikannya. Bangunannya berdinding batu-batu besar, menyatu dengan pohon yang rimbun dan sulur-sulur yang menjulur menggapai atap. Gaya bangunannya mengingatkan kita pada bangunan-bangunan kastil tua di Eropa. Pada waktu malam, berada di museum ini insya Allah akan terasa seperti di rumah Pangeran Dracula. Makanya jangan pergi ke museum pada waktu malam (dan memang museum sudah tutup pada jam 5 sore).

Pintu masuk museum berdinding batu menyatu dengan pohon besar

Logo yang terpampang di dinding depan pintu masuk, “nDalem Kaswargan”
Memasuki pintu gerbang, kita disambut oleh taman yang rimbun, lagi-lagi dengan pohon-pohon besar. Lingkungan serba rimbun dan kuno ini membuat kita seperti terdampar di dunia antah berantah, dunia yang hanya muncul dalam alam mimpi.
Bagian pertama dari museum ini merupakan bangunan di bawah tanah. Kita dibawa masuk melalui tangga batu menurun yang berkelak-kelok. Ruangan-ruangan di dalam museum tertata dengan apik, dindingnya dipenuhi lukisan yang penuh cerita. Pemandu wisata, mbak-mbak muda yang ramah, akan mengungkapkan kisah menarik dari setiap lukisan, foto dan berbagai benda yang mengisi museum. Sayang sekali, kita tidak diperbolehkan memotret di dalam museum, sehingga saya tidak bisa menunjukkan keindahan isi museum ini. Tapi percayalah pada rekomendasi saya (halah!), kalau saya bilang bagus, pasti memang benar-benar bagus.
Ullen Sentalu didirikan oleh keluarga Haryono, dan diresmikan oleh Paku Alam VIII pada 1 Maret 1997. Museum ini berisi sejarah budaya kerajaan Solo dan Yogyakarta. Seperti kita ketahui, Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua, yaitu Solo dan Yogyakarta. Yogya terpecah lagi menjadi Keraton Yogyakarta dengan rajanya Sultan Hamengku Buwono dan Kadipaten Pakualaman dengan penguasanya Paku Alam. Demikian juga Solo terpecah menjadi dua, yaitu Keraton Solo dengan rajanya Paku Buwono dan Kadipaten Mangkunegaran dengan penguasanya Mangku Negoro.
Dua kerajaan ini (Yogya dan Solo), memiliki karakter yang berbeda. Yogya menentang kolonialisme, sedangkan Solo mendukung kolonialisme. Sikap ini tercermin pada berbagai aspek budaya yang hidup di kedua pusat budaya Jawa ini. Keraton Yogya lebih kukuh memegang ‘pakem’ budaya Jawa, sedangkan Solo lebih terbuka dan banyak terpengaruh budaya barat. Salah satu contoh yang nampak jelas, di Keraton Solo banyak sekali dijumpai patung-patung bergaya Barat. Motif kain batik Solo juga lebih ‘cair’, tidak kaku seperti kain batik Yogya. Para bangsawan Solo juga terbiasa dengan berbagai budaya Barat, seperti musik dan dansa.
Sosok yang menjadi icon Ullen Sentalu, yang gambarnya dipasang pada tiket masuk, adalah Raja Paku BUwono X dari Solo. Perhatikan pakaiannya. Sungguh modis, tidak seperti busana raja-raja Jawa yang formal, dan harus mengikuti aturan-aturan tertentu. Lukisan ini adalah lukisan PB X ketika masih langsing (lihat pinggangnya …. wuiii!). Sesudah bertambah usia, PB X berubah menjadi sangaaat gemuk. Konon, PB X sengaja menggemukkan badannya, agar baju di bagian dadanya bisa memuat 26 lencana penghargaan yang diterimanya dari berbagai pihak. Ya, PB X ini adalah raja yang paling kaya, paling cakap, dan banyak menerima penghargaan. Karena kehebatannya, PB X ‘berhak’ pula mengambil selir sebanyak-banyaknya. Berapakah selir raja kaya ini? Sebenarnya nggak banyak-banyak amat sih, wong ‘cuma’ 39 kok …
PB X kala masih langsing
Bagian kedua dari museum ini berupa lima ruangan di atas permukaan tanah, yang dikelilingi oleh selasar-selasar yang berkelok-kelok unik. Salah satu ruangan ini merupakan ruangan khusus untuk Gusti Tinneke, Sekar Kedaton Solo yang memiliki nama asli Kus Sapariyam. Gusti Tinneke adalah adik PB XII yang memiliki nama panggilan Bobby (weiss … raja kok panggilannya Bobby? ). Ia patah hati karena ibunya, Ibu Ageng, tidak menyetujui kekasih pilihan hatinya. Di ruangan ini dipajang dengan rapi surat-surat sahabat dan kerabat berisi hiburan dan dukungan kasih bagi Gusti Tinneke, agar tidak larut dalam patah hatinya. Surat-surat ini ditulis dengan sangaaaat indah, sebagian berbahasa Belanda. Saya ingin menyalin salah satunya, tetapi mbak pemandu wisata rupanya nggak sabaran menunggu saya menulis, dan ‘menghalau’ kami serombongan agar segera melanjutkan tour ke ruangan berikutnya. Aduh, sayang sekali …
Bagian ketiga Museum Ullen Sentalu berupa bangunan yang terpisah dari bagian kedua oleh taman-taman dan kolam. Di bagian ini tersimpan lukisan-lukisan Sultan HB X, tarian Bedoyo Ketawang, dan sebagainya. Ohya, tarian Bedoyo Ketawang ini adalah tarian sakral, yang dibawakan oleh 9 penari wanita. Konon, pada saat Bedoyo Ketawang ditarikan, Kanjeng Ratu Kidul akan hadir ikut menari, tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya.
Oh ya …. jangan salah, Kanjeng Ratu Kidul ini beda dengan Nyi Loro Kidul. Kanjeng Ratu Kidul adalah Ratu Pantai Selatan yang anggun dan kharismatik, isteri semua raja-raja Jawa, sedangkan Nyi Loro Kidul adalah patihnya yang jahil dan suka bikin huru-hara, terutama di sinetron-sinetron …

Kolam di salah satu sudut halaman museum, membuat suasana adem dan tenteram

Rumah batu yang cantik (kalau siang! kalau malam mah sereeem … )

Arca Ganesha, gajah bertubuh manusia. Arca ini merupakan simbol ilmu pengetahuan.
Tour di museum Ullen Sentalu memakan waktu sekitar satu jam. Nah, jika kita lelah, lapar dan haus sesudah berjalan naik turun menyusuri lorong dan selasar di antara taman dan bangunan, boleh juga beristirahat sambil menikmati hidangan di Beukenhof Restaurant, yang berada di dalam lingkungan museum. Lho, kok restonya bergaya Belanda? Ketika saya ‘protes’ kepada waiters yang menyambut kami, dengan cerdik si mbak menjawab, “Ya, kan Belanda dulu lama menjajah kita, jadi bagian dari sejarah juga”. Wehehe …. pinter!

Ruangan di bagian dalam Beukenhof Restaurant

Taman dengan ‘Reco Londo’ (Arca Belanda) di tengahnya, bisa dinikmati dari balkon resto

Beranda resto, tempat ini memberikan suasana yang lebih santai

Bukit Turgo, salah satu puncak kecil di lereng Gunung Merapi, bisa dinikmati dari beranda resto
Resto ini ditata dengan apik, dan memberikan pemandangan yang indah ke lingkungan museum maupun ke bukit Turgo, salah satu puncak gunung Merapi. Ketika memeriksa daftar menu, saya bingung karena nggak tahu makanan yang disebut disitu rasanya seperti apa. Akhirnya saya pilih saja yang namanya paling keren : Le Veloute de Poulet Aux Asperges (sup) dan Hutspot met Klapstuk (main course). Minumannya Herbal Tea.

Inilah sup yang namanya hebat tak alang kepalang itu : Le Veloute de Poulet Aux Asperges.

Dan inilah main course yang saya pesan : Hutspot met Klapstuk
Bagaimanakah gerangan rasa makanan yang saya pesan? Supnya lumayan enak, terutama rotinya, enak banget. Tapi hutspot-nya …. hehehe ….. dasar lidah Jawa! Saya hanya menyuap beberapa sendok, sudah merasa kenyuaaaaang. Dagingnya yang seonggok besar, dikelilingi oleh kentang selebar bibir sumur, dengan rasa sangat ‘keju-istik’, tak bisa saya telan lebih dari lima sendok. Hahaha …. jika lidah anda buatan Indonesia, saya tidak merekomen Beukenhof Restaurant, kecuali untuk menikmati suasananya yang nyaman, pemandangannya yang indah, dan musiknya yang membuat kita terbang ke masa Jan Pieterzon Coen menjadi jenderal Kumpeni di Nusantara …

Tangga menuju ke resto, dilihat dari atas

Jalan menuju ke resto, rimbun dengan naungan pohon

Rumah peristirahatan pribadi pemilik museum

Gebyok kuno yang membatasi salah satu halaman
Jika anda ke Yogya, dan anda pecinta budaya dan keindahan, maka museum Ullen Sentalu adalah pilihan yang sangat layak dikunjungi. Saya tak bisa bercerita banyak tentang isinya, karena postingan ini akan menjadi sangat panjang ….
whuaaa….
asyiknya..foto-fotonya juga bagus…
Bunda berbakat motret deh…
saya pengen ke Ullen Sentalu kalau jadi honeymoon ke Jogja.. ;p
Tuti :
Fotonya biasa aja Isma, obyeknya yang memang bagus, jadi siapa pun yang memotret, pasti hasilnya bagus. Honeymoon ke Yogya? Asyiik …. mampir ke Ullen Sentalu memang cocok karena tempatnya indah dan romantis.
thx MBak, infonya lengkap banget…walau belum pernah kesana serasa sudah tour ke situ…qiqiqi…
saya jadikan agenda liburan yang akan datang….
Sik Mbak, saya mau nanyak cerita tentang kekasih hati yang ditolak oleh Ibu Ageng itu yang dimaksud kekasih hati Gusti Tinneke atau sinuhun Bobby ?
BTW, saya baru tahu kalau sinuhun XII nama panggilannya Bobby, keren euy…Trus, ssst…bisik2 tetangga nih Mbak tut, konon kekasih hati sinuhun XII atau Gusti Bobby yang ditolak oleh Ibu Ageng itu konon adalah seorang gadis sepupunya yang kini menjadi pengusaha jamu terkenal dinegeri ini…begitu bisik2 tetangga yang saya dengar. Kalau salah…, namanya juga bisik2 tetangga, protesnya sama tetangga yang suka bisik2 dunk!
Tuti :
Ibu Ageng itu wanita yang sangat modern : pandai main piano, naik kuda, dan menguasai 3 bahasa. Tapi untuk jodoh anak-anaknya, beliau sangat konservatif. Banyak kekasih hati anak-anaknya yang tidak ia setujui, salah satunya ya Gusti Tinneke itu …
Hehehe … iya, Sinuhun Raja Surakarta itu panggilannya memang Bobby. Lha kalau raja Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono IX, panggilannya (waktu sekolah di Belanda) adalah Henky … nggak kalah sama artis ya?
Lalu tentang bisik-bisik tetangga Mbak Ayik itu, saya juga dengar dari bisik-bisik mbak pemandu wisata Ullen Sentalu. Konon memang begitu, Mbak. Tapi kalau ini bukan Ibu Ageng yang tidak setuju, melainkan pengusaha jamu cuantiiiik itu yang tidak mau. Makanya, PB XII nggak punya permaisuri, soalnya yang mau dijadikan permaisuri ogah …
Wow keren banget mbak Tuti…ternyata Indonesia banyak juga objek yang cantik-cantik & panoramanya membuat saya penasaran. Kalau saya liburan ke Yogja, kayaknya ngajak Mbak Tuti lebih klop dech, krn banyak tahu tempat wisata yang bagus-bagus. Hem kapan2 temenin yach mbak Tuti, hehehe….
Best regard,
Bintang
Tuti :
Ayuk … ayuuk, kapan mau ke Yogya? Saya siap menemani, jadi pemandu wisata merangkap sopir pun boleh … hehehe …
Memang betul Mbak Elinda, banyak tempat-tempat di tanah air kita (bukan hanya Yogya saja) yang menyimpan keindahan dan nilai budaya tinggi.
Jadi, ayo berwisata ke Nusantara!
salam hangat.
Saya jadi malu sama Mbak Tuti. Cuma tetangga sebelah Yogya tapi nama museumnya baru dengar sekarang. Terima kasih atas informasinya
Tuti :
Jangankan tetangga sebelah, mas Narno. Wong orang Yogya sendiri aja banyak yang belum tahu keberadaan museum ini. Makanya saya mencoba berbagi informasi, agar lebih banyak orang yang datang kesana
Ibu Tuti (-)K
Waw …
Aku belum pernah dengar musium ini …
Ternyata ….
Ah …
Ini tempat yang harus dikunjungi …
Klasik … very classy …
Di Kaliurang ya Bu ?
BTW …
Saya juga baru tau bahwa …
Ratu Pantai selatan itu berbeda dengan Nyi Roro kidul ternyata …
Salam saya Ibu
NH18
Tuti :
Betul, Om … ini tempat yang seperti kata Om, “very classy”. Keindahan yang sesungguhnya memang hanya bisa ditangkap dan dirasakan jika kita berkunjung kesana. Atmosfir keindahan itu hanya bisa dihirup langsung di tempatnya, tidak cukup melalui cerita orang maupun foto-foto …
Ya Om, di Kaliurang, Jl. Boyong …
Btw, saya juga baru tahu kemarin, ketika mengunjungi Museum Ullen Sentalu, bahwa Ratu Pantai Selatan itu berbeda deban Nyi Loro Kidul (apalagi Nyi Loro Lor ya Om …
)
.
wah…tujuan wisata yg unik tp malah belum pernah denger…tq infonya, mbak! Btw, reco londo-ne kwi sedang ngapa siy?
Tuti :
Memang, karena museum ini adalah milik swasta, mungkin mereka kekurangan dana untuk promosi besar-besaran di media cetak maupun elektronik.
Reco londo itu lagi nunggu dikunjungi Mbak Ernut …
Mbak Tuti kok jalan-jalan melulu nih
udah gitu ngga pernah
ngajak-ngajak pula…..hihihi
Ullen Sentalu…..wahhhh
dari foto-fotonya Mbak Tuti saja
sudah kelihatan segerrrr dan menggoda
jadi pengen ke sana bareng
Mbak Tuti, Bunda Dyah, Jeunglala,
Yessy, dan Om ngganteng NH 18
btw, saya memang pecinta keindahan
semoga suatu saat nanti
bisa kesasar ke Ullen Sentalu…..
Tuti :
), jadi mending jalan-jalan aja.
).
Iya bang, habis kalau lari-lari kan capek (lagian takut dikejar anjing …
Betul Bang, Ullen Sentalu memang romantis dan klasik. Ayoo, kapan mau ke Yogya? Besok awal Maret kan ada kopdar di Yogya, datang aja Bang (sekalian kampanye juga boleh kok …
Pokoknya saya siap jadi hostess (ssst, jangan salah … hostess itu artinya ‘tuan rumah’ lho … ) yang baik dan benar …
Mbaaaaak….. bisa ngga ke restonya aja hihihi. Aku pengen masuk restonya tuh.
Nyi Roro Kidul itu yang suka lelaki berbaju hijau kan mbak hehehe.
EM
Tuti :
Mau ke restonya aja? Bisa. Memang restonya terbuka untuk umum, ada jalan masuk sendiri yang tidak harus melewati museum. Lidah Mbak Imel bikinan Belanda ya?
Nyi Loro (Roro apa Loro sih?) Kidul itu suka semua yang berbaju hijau (tapi nggak termasuk belalang ‘kali ya …
)
Aku pikir-pikir, jangan-jangan lokasinya pas ditempat aku angon sapi itu dulu ya (fotonya menyusul), hebat dong sudah menjadi musium dan tempat bersantai ria. Tapi… akhirnya hanya bisa kukagumi dari jarak 3000 km.
Tuti :

Hah? angon sapiiiii? Emang Abang dulu di Yogya kuliah atau jadi gembala sapi?
Sekali-sekali nengok Yogya, Bang. Ber’nostalgia’ sekaligus ber’nostalgila’ …
waoooo apik tenan je hasil jepretan bunda….
aku jadi pengen ke sana,bun….
asri bangettt
Tuti :
Jepretannya biasa aja, retie … wong cuma tinggal tekan tombol, langsung mak ‘klik’ …
Ayo kesana, besok Maret ikut kopdar di Yogya to?
Mari bersama-sama bergabung dalam aksi kemanusiaan untuk membantu manusia perahu ( muslim rohingnya )yang terdampar di Aceh , saatnya kita bergerak bersama untuk membantu mereka .
http://www.saverohingya.com
info:
http://www.acehblogger.org
http://baiquni.net/wp-content/uploads/2009/02/muslim-rohingya.png
Tuti :
Setuju! Pesan dilanjutkan ke teman-teman.
seriiiing sekali kalau ada tamu, juga keponakan…saya harus mengantar kesana. Rasanya nggak bosan…. dulu di cafenya ada kue2 yang khas, juga pancake yang lezaaat.
Ayooo…teman-teman kalau ke Jogja mampir kesana..
Btw….mbak …lagi MOOD dan Happy ya….tulisane hebat hebat….juga berkelas…Weees…aku ketinggal teruuus.
Tuti :
Oh ada kue dan pancake to? Kok kemarin saya nggak sempat lihat di daftar menu ya? Atau nggak tahu aja, wong pake nama asing … hehehe …
Hehehe …. mbuh piye carane, pokoknya dibikin mood dan happy terus, Mbak. Halah, Mbak Dyah bisa aja memuji, lha wong tulisan Mbak Dyah sendiri bagus-bagus dan informatif gitu lho!
wah keren ya! dulu pas masih di Jogja kok saya nggak mampir ya? duh!
padahal kalau dari rumah saya paling cuma 30 menit saja lo. nanti deh, kalau saya pulang, saya pasti ke sana
btw, tiketnya bagus tampaknya. bisa2 nanti dilaminating trus buat pembatas buku…
Tuti :
Memang rumah Mbak Kris yang di Yogya ada di mana, Mbak? Masih sering pulang ke Yogya ya?
Iya, tiket masuknya memang bagus, cantik dan berseni. Wah bener …. baru keingatan sekarang, bisa dipakai buat pembatas buku. Kalau perlu, nggak usah dilaminating juga nggak apa-apa, wong kertasnya sydah tebal. Thanks, Mbak.
yey, aku dah prnah ksitu..
memang keren y bulik..
harusnya smua museum yg milik pmrintah jg dgtuin..
dibagusin..
aku mau lo bulik diajak kstu lg..
*pedenyaaa..*
Tuti :
)
Waw … yang sudah kesana, sombong ni yee …
Ya iyalah, bagus, karena dipelihara. Harga tiketnya juga mahal. Pemiliknya orang kaya (bukan kaya orang lho …
Mau kesana lagi? Ayuuk …
Saya catet Bu. Pokoknya kalau ke Yogya saya harus kesana. Masuk Top10 places to visit pokok’e.
Selain kampungku sendiri di Gunung Lawu.
Tuti :
Sudah dicatet ya Mas Nardi? Jangan ilang ya, itu catetannya ….
Ooo …. aslinya dari gunung Lawu to? Tetanggaan sama Mbak Ayik dong? Ituu … yang cantik-manis, mentul-mentul, yang suka mampir di sini …
enak ya…….saya ingin ke Belanda tapi bagaimana caranya???
Tuti :
Ya naik pesawat lah, mosok naik becak …
Bagus sekali Bu. Hmm, kalau ke Yogya saya ingin lihat sendiri tempat ini.
Tuti :
Memang harus kesana sendiri untuk menikmati keindahannya. Kalau ke Yogya kontak saya ya, saya mau lho jadi sopir …
waaa bu…saya udah lama pingiin banget kesana, tapi belom kesampaian, padahal deket banget ya
bukan apa-apa, tiap ke kaliurang, malah bingung arahnya itu museum kemana ya bu?
Tuti :
Waaa …. kalau gitu harus cepet-cepet disampein tuh kepenginannya. Kalau kita datang dari Yogya, sesudah nyampe di patung udang (yang menjadi patung selamat datang), ambil lurus aja, sesudah itu belok kiri, masuk Jl. Boyong. Nah, nanti sesudah lewat lapangan tenis, di sebelah kanan jalan ada papan namanya kok.
Ternyata ada musium yang menarik juga di Kaliurang, sayang tidak ada kesempatan untuk kesana dan juga tidak tahu. Menarik sekali mbak Tuti ulasannya, Thanks
Tuti :
Ya, Mbak Yulis kemarin ke Yogya waktunya singat sekali ya, jadi nggak sempat mengunjungi banyak tempat. Lain kali kalau pulang ke Indonesia dan sempat mampir Yogya lagi, saya antar kesana, Mbak.
sekedar mengingatkan hati-hati, itu bukan budaya jawa.
ada hubungan dengan gereja serem di Sayidan, pintunya juga tertulis Ullon Sentalu.
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1543320&page=15
lebih cocok disebut aliran gelap yang “membajak” elemen jawa.
* gereja di Sayidan; patung besarnya tangan kanan ke atas, tangan kiri ke bawah.
* ullon sentalu; pelita “cahaya”, putera fajar sebagai petunjuk hidup.
* tiket museum; subliminal art: lantai darah, material tajam.
* logo museum; illuminati
Tuti :
Ah, apa iya? Apakah anda sudah pernah masuk ke Museum Ullen Sentalu? Saya tiga kali kesana, dan dari penjelasan tiga pemandu yang berbeda, sama sekali tidak tersirat apa yang anda tulis. Yang saya tangkap adalah benar-benar budaya Jawa, tepatnya keraton Yogya dan Solo.
Dear Tuti, in the past time it’s Masonic Lodge. The entrance structure, symbol of Square and Compasses. See the ticket, Masonic Black-White floors, subliminal message are bloody room, hand at genital, weapon tells about phallus is “ON” (sex). You may zoom on his shoes if there is some All Seeing Eye logo or Demonic Entity. And, museum logo is Illuminati. Nowadays, we finally realised Western Christianity is going collapse. Church and Bible also sublimed, and fake Jesus too! Just be aware, Yshua (Isa) will soon return as Mahdi.
Salaam.
Subliminal in religious art:
1. youtube.com/watch?v=43QS9vHTvfs
2. youtube.com/watch?v=C0TB6uK7i5s
3. youtube.com/watch?v=raOxf9nXpVs
Tuti :
Terimakasih informasinya. Meskipun demikian, menurut saya, apa pun yang sebenarnya ada di’balik’ Museum Ullen Sentalu (kalau pun itu benar), semuanya tergantung kepada kita : APA YANG INGIN KITA LIHAT. Kalaupun memang benar ada simbol-simbol Kristiani disana, so what? Saya hanya mengambil nilai sejarah budayanya, tak peduli itu disajikan di tempat seperti apa. Saya juga masuk ke gereja Notre Dame di Paris, no problem. Semuanya kembali kepada kita : apa yang ingin kita ambil dari apa yang kita lihat.
ituh beneran po mbak? kok, kayaknya menyimpan sesuatu yg mistis ,,,
kata temen saya ituh ada hubungannya sama gereja gothic di sayidan jogja ,,,
trus kata ‘mason VOC’ ituh mungkin ada benernya ,,,
siapa tau pemandunya nutup”in sesuatu gitu (rahasia museum kalik!) ,,,
tapi itu cuma pendapat lho ,,,:)
awal sy buka ..,sy kagum bgt bener lo..,gak nyangka impian sy membangun rumah unik langsung dapet inspirasi dari sini . keren top abis tq
Tuti :
Bangunan aslinya jauh lebih unik dari yang ada di foto. Karena di dalam bangunan pengunjung tidak boleh memotret, maka yang saya foto hanya bagian luar-luar saja.
kalau ada event trus kira-kira bisa bantu nyewain tempat ga mbak. sebenernya sy mau dong kalo di kirimin gambar2 unik ke e-mail sy ..he..he.., thank’s ya mbak
Tuti :
Di Ullen Sentalu ada ruangan yang disewakan untuk acara, lokasinya di luar museum. Suasananya sangat eksotik. Tapi saya tidak punya gambarnya ….
mo nanya nih…
sbnrny d dlm ullen sentalu itu blh fto2 g c??
kos kmrn agustus tmn ku kesn
dia g d blhin fto2 ddlmnya
cm blh fto dluar d t4 yg sdh d sediakan
bnr g c???
kan rugi kl udh kesn tp g bs fto2
mn t4nya sebgs itu lg
hikzzz
bls y
thanks be4
^.^
Tuti :
Di bagian dalam Ullen Sentalu memang tidak boleh mengambil gambar/foto. Memang sangat disayangkan, karena keadaan di dalam sangat bagus. Mereka juga tidak punya brosur/booklet yang memberikan penjelasan isi museum dan foto-fotonya, sehingga pada waktu membuat tulisan ini, saya tak bisa menampilkan keindahan di dalam museum …
..
Mampir buk, atas undangan mbak Eka..
..
Buk apa Tari bedoyo ketawang boleh ditonton rakyat jelata kayak saya, pengen liat ratu kidul je…
..
Tuti :
…..
Ngngngng … kalau dulu tari itu hanya untuk lingkungan kerabat keraton. Tapi sekarang mungkin boleh juga dilihat oleh rakyat biasa. Cuma, pementasannya memang hanya pada kesempatan-kesempatan khusus saja.
Pengin liat ratu kidul? Kan sudah ada fotonya, itu di posting saya “Debur-debur Ombak Cinta” … hihihi …
[...] Ibu Tuti Nonka : Ullen Sentanu [...]
mengesankan memang
two thumbs up to ullen sentalu
Tuti :
Memang. Sudah ke sana ya?
Terimakasih untuk infonya. Sangat bermanfaat bagi saya.
Tuti :
Terimakasih juga kunjungannya. Senang bisa memberikan info yang bermanfaat
sama saja dengan patung ini bu: http://tinyurl.com/4btuqez orang mengira itu budaya jawa padahal bukan. juga sama dengan Serat Centini, isinya sudah di sisipi kalimat porno. semua itu namanya SUBLIMINAL. teliti ya bu.
Thankyou for your story about us that inspired your friends.
We’re waiting for your next visit
Please follow us on:
Facebook: Museum Ullen Sentalu
Twitter: @ullensentalu
Hai infonya lengkap sekalii saya emang pengen ke sana, tapi bingung. Kalau naik taksi jauh ga? Ato ada bus ga? Thanks yaaa
Tuti :
Museum Ullen Sentalu letaknya di tengah obyek wisata Kaliurang. Lika dari mana? Kalau dari Yogya, ada angkutan umum kok …