TANAH AIR KITA TERCINTA
Bagaimana caranya kita mengukur rasa cinta pada tanah air?
Pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Physically, mungkin jika kita merasa bahagia menginjak tanah, menghirup udara, menyentuh air, dan berada di bawah lingkupan langit yang menaungi bagian bumi yang menjadi tanah air kita. Mentally, jika kita tidak ingin melihat apa pun yang berada di tanah air ini : alam, manusia, dan budaya, rusak atau terabaikan.
(Swear, ini definisi saya sendiri, tidak merujuk pada referensi manapun, jadi silahkan didebat, dikritisi, ditambah, atau dikurangi … )
Nah, saya merasa rasa cinta saya pada tanah air ini mengharu-biru hati ketika menemukan (sudah pasti di toko, bukan di tong sampah … ) CD bertajuk “Tanah Airku” (My Home Land). CD ini berisi 12 lagu daerah, dinyayikan oleh paduan suara Tri Ubaya Cakti, dengan iringan Shanghai Philharmonic Orchestra. Lho, kok Shanghai! Itulah dia. Mengapa lagu-lagu yang membangkitkan rasa nasionalisme ini justru diiringi orkestra dari China? Hello, where are you Adie MS, Erwin Gutawa, Widya Kristanti, dan para pemusik Indonesia lainnya?

Cover depan yang ’sangat Indonesia’, menampilkan anak gembala dengan kerbau dan seruling bambu
Meskipun agak lebay, cover depan yang menampilkan anak gembala duduk di punggung kerbau dengan seruling bambu, caping, dan alam pedesaan itu sungguh sangat mengaduk kerinduan dan kenangan kepada kampung halaman. Bayangkan, kalau cover depan itu diisi anak-anak muda hang out di kafe, atau suasana metropolis Jakarta, atau bahkan seorang bloger duduk di depan laptop (wakaka … !) kayaknya kok nggak cocok banget. Mau nggak mau, covernya memang harus seperti itu, meskipun anak-anak kota besar mungkin akan protes, karena mereka lalu seperti bukan anak negri yang baik …
Recording dan mixing untuk Shanghai Philharmonic Orchestra dikerjakan di Shanghai pada tahun 1996. Adapun recording dan mixing lagu dikerjakan di berbagai kota di Indonesia. Produsernya adalah PT Gema Nada Pertiwi, dan CD ini baru diedarkan pada tahun 2005. Dua belas lagu yang ditampilkan adalah Sing Sing So, Jali-Jali, Manuk Dadali, Bengawan Solo, Sarinande, Tanah Airku, Keroncong Kemayoran, Kambanglah Bungo Parautan, Anak Kukang, Rek Ayo Rek, Nasonang Do Hita Na Dua, dan Ayam Den Lapeh. Lirik semua lagu juga dilampirkan, sehingga kita yang tidak hafal bisa memakainya untuk belajar. Sayangnya, lagu-lagu daerah tidak disertai dengan terjemahan bahasa Indonesia, sehingga saya misalnya, tidak tahu “Sing Sing So” itu melagukan apa sih, atau “Na Sonang Do Hita Na Dua” itu kisah tentang apa. Meskipun begitu, dengan mendengarkan nada, tekanan suara, dan emosi yang termuat dalam lagu-lagu tersebut, hati ini tetap saja bergetar membayangkan saudara-saudara sebangsa yang ada di berbagai pelosok nusantara.

Shanghai Philharmonic Orchestra dengan conductor Moordiana (Indonesia), koordinator Yao Zhong, dan supervisor Cao Peng

Meskipun saya sama sekali tidak bisa membaca huruf China, saya yakin tulisan di atas foto para pemain Shanghai Philharmonic Orchestra itu berbunyi “Tanah Airku” …
Baru sedikit wilayah Indonesia yang saya kunjungi (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Jawa tentu saja), tetapi saya sudah melihat begitu luar biasa kekayaan alam dan budaya tanah air kita ini. Semakin banyak saya melihat, semakin kagum dan semakin cinta saya pada tanah tumpah darah ini, dan semakin ingin saya menjelajah seluruh wilayah Nusantara.
Perancis memang sangat indah dengan budaya yang begitu tinggi, demikian juga Inggris, Amerika, Yunani, dan negara-negara lain di berbagai benua dengan segala pesonanya, tetapi semua itu hanya menimbulkan kenangan indah dan kekaguman semata, bukan cinta yang menggetarkan hati dan mengalir di segenap urat nadi.
Mata saya berlinang-linang ketika mendengarkan lagu “Tanah Airku” ciptaan Ibu Sud.
Tanah airku tidak terlupakan
Kan kukenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai di kata orang
Tetapi kampung halamanku
Di sanalah ku rasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan …









Mbaaaaaaaaaaaaaakkkk
Aku punya loh!!!
dan sering saya pakai sebagai BGM di acara radio saya, misalnya ketika saya membacakan berita tanah air dsb. Memang merinding loh mendengarkannya. Dan kalau saya lagi mellow bisa menangis deh.
Tanah air takkan kulupakan
sampai akhir hayat nanti
hiks
kangen mbak
pengen mudik….
EM
Tuti :
Hiks …. saya juga nangis …
Makanya, saya suka heran kalau ada orang Indonesia yang tidak mencintai tanah airnya. Apalagi malah merusaknya. Meskipun bangsa dan negara kita banyak memiliki kekurangan juga, it’s my country, I love it!
Ayo Mbak, mudik lagi. Kita keliling Indonesia yuuuuk ….
Mbak:
Produsernya adalah PT Gema Nada Pertiwi, dan CD ini baru diedarkan pada tahun 2005.
Kok saya punya sebelum tahun 2005 sih mbak? Mungkin dibuat kembali ya? Saya sudah punya lama dan yang pasti sering saya pakai dalam periode 1997-2001 waktu masih punya program radio itu.
GNP itu memang banyak mengeluarkan CD musik tanah air loh mbak. Saya punya lumayan banyak dari berbagai daerah juga. Ada seri Windows of Indonesian Music instrumental dengan alat musik degung, kolintang kecapi dsb sesuai asal lagu/daerahnya.
Waaah keliling Indonesia mbak? Nanti deh kalau anak-anak sudah bisa ditinggal, saya jalan sendiri ya mbak hehehe. Kita hunting foto yuuuk.
EM
Tuti :
Iya, ya? Jangan-jangan CD punya saya dan punya mbak Imel beda edisinya. Di cover belakang, tertulis rekaman musik di Shanghai tahun 1996, demikian juga rekaman Tri Ubaya Cakti dan beberapa lagu di Romeo Bravo Record Yogya, lalu mastering i Singapura, semuanya tahun 1996. Tapi untuk Indonesian Ethnic Music Section baru direkam di Semarang tahun 2004, dan Keroncong Section direkam di Jakarta 2005. Re-mixed dan re-mastered di Jakarta 2005. So, kayaknya CD saya memang edisi baru, dan pastinya lebih bagus dari CD Mbak Imel … wakakaka
Iya, GNP memang spesialis lagu-lagu tanah air. Saya punya CD solo biola Idris Sardi produksi GNP juga, lagu-lagu romantika perjuangan ciptaan Ismail Marzuki yang diproduksi tahun 1993.
Hayuuk, keliling Indonesia sambil hunting foto dan hunting makanan juga pastinya …
Mbak, saya bukan orang Indonesia, tapi saya jatuh cinta dengan Indonesia, saya kagum dengan budayanya yang indah. Saya kangen sama Indonesia…
Tuti :
Wah, jadi Akmal orang mana? Malaysia, Brunei, Singapura?
Terimakasih, saya terharu dan bangga Akmal yang bukan orang Indonesia saja cinta dan kangen pada Indonesia. Semoga negara Akmal sama indah dengan Indonesia.
salam,
CD My Home Land itu
kelihatannya wajib dimiliki
saya ngga tahu, apakah
ada dijual di Medan ?
…salut buat Mbak Tuti
yang begitu setia
mencintai….tanah air kita
mengukur kadar cinta
pada tanah air, memang sulit
mungkin sama sulitnya kala
menilai rasa cinta seseorang
kepada kita……hmmmm
btw, na sonang do hita nadua
artinya berbahagialah kita berdua……
Tuti :
Mestinya CD itu bisa dibeli di Medan Bang, tapi mungkin juga sudah nggak ada lagi. Saya sendiri belinya sudah sekitar 2 tahun lalu.
Mungkin kedengarannya lebay ya, tapi saya serius, sama seperti Mbak Imelda yang pasti serius ketika menitikkan air mata mendengar lagu-lagu daerah.
Mengukur cinta seseorang kepada kita? Wah, itu maha sulit Bang. Tapi mungkin bisa pakai ‘test case’. Kita minta dia nyebur ke laut demi kita. Kalau dia nggak mau, belum tentu berarti dia nggak cinta, tapi berarti dia pinter. Dan kalau dia mau, belum tentu juga berarti dia cinta mati kepada kita, bisa jadi karena dia memang pengin bunuh diri. Jadi? Ya, test-case itu nggak menjawab apa-apa.
Tanya aja langsung apa susahnya, Bang? “Dinda, seberapa sih cintamu kepadaku?” Kalau si dinda nggak jawab? Ceburin aja ke laut
Oh, baru tahu saya, Na Sonang Dohita Nadua itu artinya ‘berbahagialah kita berdua’ ya? Wuah, asyik juga …
lemah lan banyu iki sing uwis nguripi aku nganti 43 tahun umurku…..mula aku tresna mati marang lemah lan banyu Indonesia…
(terjemahan bebas oleh Mbak tuti Nonka, silahken….)
Tuti :
)
Terjemahan bebasnya begini :
Nama saya Ayik Karyadi, dan selama 43 tahun ini saya hidup dari makan tanah dan minum air doang …. (ya ampyuuun …. kasihan bangeeet, mbok ke Yogya aja, disini banyak nasi-gudeg-endog-iwakpitik dan teh manis hangat …
Lagu ‘Na sonang do hita nadua’ (bahasa Batak Toba)
artinya ya itu tadi ‘berbahagialah kita berdua’,
maksudnya Mbak Tuti bahagia di sana,
saya juga mungkin akan bahagia di sini
hmmmmm
btw, saya bukan Batak Toba,
tapi sebagai orang Sumut
saya paham bahasa daerah
Batak Toba, Karo, Mandailing, dan Pakpak…..
saya sendiri Batak Pakpak
wis….kok dadi ngelantur pisan iki
hehehehe
Tuti :
)
Wah, kok cuma saya dan Bang Mike yang bahagia, lha teman-teman yang lain bagaimana? Pastinya semua juga bahagia dong. Kalau ‘berbahagialah kita semua’, bahasa Bataknya gimana Bang? Na sonang do hita na samua? (*ngaco.com*
Kalau Sing Sing So, tahu nggak Bang itu lagu tentang apa?
Itulah kekayaan bangsa kita. Batak saja ada banyak, dan masing-masing dengan budayanya yang unik. Suatu kali nanti saya pengin ke Sumut juga Bang. Untuk Sumatera saya baru ke Palembang, Padang, Bukittinggi dan Pekanbaru. Pengin ke danau Toba dan Nias. Insya Allah.
Kadang aku menjadi seorang chauvinis, sangat mencintai negriku. Emoh makan buah impor, emoh pakai baju merk impor. Aku merasa bangga terhadap negeri ini, hingga beberapa lagu daerah aku apal dendangnya. Bahkan ketika teman dari batak menyanyikan lagu Situmorang, tanganku tak kuasa melenggang dengan gerakan tor-tor. Kadang pula aku nyanyikan ole siuh, ketika aku sakit teringat ibuku yang sudah renta. Kemudian luruihlah jalan padangsikek, dan akupun kadang berpantun seperti Siti Nurbaya: pulau pandan jauh di tenga/ di baik pulo angso duo/ hancurlah badan dikandung tanah/ hati nan baik dikenang juo.
Negeri ini memang pantas kita cintai. Tapi negeri ini sedang krisis moral. Tak ada budi, yang ada money politics. Suatu hari aku melihat padang pasir di arab saudi, di tanah ini rakyatnya makmur. Tapi aku menangis karena negeriku yang makmur rakyatnya hidup dalam kemiskinan.
Tuti :
Wah, kalau gitu tolong dong terjemahkan lagu-lagu daerah itu, Mas Gun. Supaya kita semakin bisa menghayati maknanya.
Saya sendiri tidak sefanatik Mas Gun, kadang-kadang masih mau juga makan buah impor, atau beli baju impor. Tapi porsinya jelas jauh lebih sedikit dibanding makanan lokal yang setiap hari saya santap, begitu juga barang impor saya hanya beberapa saja.
Betul sekali, negeri kita sekarang sedang mengalami krisis moral. Kita yang tidak memiliki power kekuasaan tidak bisa berbuat banyak, selain menumbuhkan kesadaran dan kontrol melalui jaringan sosial masyarakat. Semoga nantinya akan ada perubahan ke arah yang lebih baik.
Tri Ubaya Cakti …
Aaahhh Paduan Suara ini dari dulu memang paten …
Ada lima Group Paduan Suara yang aku pikir (setahuku) the best di Indonesia …
Tri Ubaya Cakti … (ini markasnya di Semarang kah ?)
Vokalista Sonora … (ini markasnya di Yogya kalo ndak salah)
Paduan Suara Mahasiswa ITB … (Bandung punya )
Paduan Suara Mahasiswa Parahiyangan …(juga Bandung)
Paduan Suara Mahasiswa UI …
(Lho kok malah mbahas paduan suara ini …?)
But …
Aku mau cari CD ini …
Tuti :
Paduan suara Tri Ubaya Cakti (bacanya ‘Sakti’ ya Om?) ini memang cukup terkenal pada zamannya. Saya tidak tahu, apakah mereka sekarang masih eksis. Mengapa ya tidak ada televisi swasta yang mau menyelenggarakan kompetisi paduan suara nasional, nggak cuma idol-idolan yang sekarang banyak dihebohkan?
Selamat cari CD Om … (tapi jangan di TPA Bantar Gebang ya …
)
Air mata berlinang ketika mendengarkan lagu Ibu Sud : Tanah Airku ???
This is what I call … “Musical Sensitivity”
Saya juga sepertinya akan “mbrabak” ketika mendengarkan lagi ini …
(mbrabak means … mata berkaca-kaca)
Tuti :
Lebih mengharukan lagi lagu “Indonesia Pusaka” Om …
Tanah airku Indonesia
Negeri elok sangat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa …
Atau ini :
Nyiur hijau di tepi pantai
Siar-siur daunnya melambai
(lagu penutup TVRI zaman doeloe itu lho Om … )
Btw, ‘mbrabak’ itu bukan kalau kita punya koreng, lalu karena sering digaruk makin lama makin banyak itu ya Om?

Oh, itu ‘mbabrak’ ya, ‘r’ nya beda tempat …
Muzda tertunduk malu, karena lagu Tanah Airku di Trans TV berarti isyarat mematikan televisi.

Baru mulai serius merenungi lagu itu lagi, ketika ada kerja sama dengan arrangernya dari ISI.
Soal aransemen yang dibawakan oleh Orkestra luar, saya juga tau ada CD Symphony Negeriku yang berisikan lagu-lagu nasional, produksi tahun 97, dengan konduktor Addie MS, juga dimainkan oleh Victorian Symphony Philharmonic-Australia..
Kenapa ..??
Apa karena waktu itu, tahun 90-an instrumen musik di Indonesia belum begitu lengkap ? belum begitu hebat ?
Tuti :
Tentang keberadaan musikus kita tahun 90-an saya kira sudah bagus juga (kan ISI sudah lama ada), hanya mungkin belum ada yang menggarap produksinya dengan serius.
Wah, Muzda rupanya musikus juga ya, soalnya pernah kerjasama dengan ISI …
Apakah CD dengan musik yang dimainkan Victorian Symphony Philharmonic Australia itu produksi Gema Nada Pertiwi juga? Pasti bagus kalau Addie MS yang jadi kondektur … eh, konduktornya
Badhalahhh…sodara-sodara yang tak bisa berbahasa jawa. Terjemahan bebas ala Mbak Tuti ternyata benar adanyaaa………(saya masih ngarep dikirim sekendhil gudeg Yu Jum…qiqiqi)
Tuti :
Bagaimana kalau saya kirim kendhilnya dulu Mbak? Gudegnya nyusul kapan-kapan, lha wit gorine lagi ditandur je, pitike yo lagi wae netes, isih piyik …
wuih… ini cd kayaknya wajib hukumnya buat dibeli… cari ah… di jalan mataram ada gak bu? (hehehe… tau maksud saya? haiyah… beli yang asli bung!)
selalu memperdengarkan lagu2 yg menggugah semangat patriotik kepada anak2 kita, barangkali akan menjadi salah satu cara untuk menanamkan rasa keindonesiaan… insya Allah saya akan lakukan.. terima kasih bu tuti atas informasinya…
Tuti :
saya beli yang harga 30 ribu, kuat dipakai setahun lho …
Kalau di Jalan Mataram, kayaknya lebih baik cari sepatu, Da
Iyo, Uda. Anak-anak harus dikenalkan sejak dini dengan tanah air dan kekayaan budaya kita, agar tumbuh rasa kebangsaannya. Ini akan menjadi identitas diri yang sangat diperlukan jika mereka dewasa kelak. Seseorang yang tidak mempunyai akar budaya akan gamang mengenali dirinya.
Mbak,
lagu Tanah Air itu adalah satu-satunya lagu “hafalan” dari masa kecil. Dulu kalau disuruh nyanyi di depan kelas, pasti nyanyi itu. Baru setelah mahasiswa, nyanyi lagu “Indonesia Pusaka” selalu sambil menangis, karena itu pertama kali saya sekeluarga menyanyi bersama, waktu papa dan mama akan dipindahkan ke London, sedangkan anak-anak tinggal. Dan sejak itu kami tercerai-berai terus. Seakan lagu itu pengikat keluarga kami, bahwa nanti kita bertemu di akhir hayat itu di Indonesia. (Mungkin itu pula yang membuat saya tidak mau menjadi wn jepang)
Orang-orang Jepang, murid saya yang tua-tua saja cinta Indonesia, dan bisa menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” di luar kepala sambil berkaca-kaca matanya…. masa orang Indonesia kalah dengan mereka? Terutama yang muda-muda itu. But once, you go outside Indonesia, then you’ll know… Indonesia is your homeland. Kalo tidak mah kebangetan hihihi
Wah mbak kalo kita mau wisata kuliner… aku harus turunin berat badan berapa puluh kilo dulu dong hehehe
EM
Tuti :
Bagi orang/keluarga yang karena perjalanan hidup sering berada di luar negri, pendidikan dasar tentang nasionalisme memang sangat mempengaruhi keterikatan emosional mereka dengan tanah air. Jika pendidikan itu baik, maka semakin jauh dari negeri sendiri, semakin mereka rindu. Tapi jika tidak, bisa jadi mereka benar-benar kehilangan rasa kebangsaan, dan lebih bangga menjadi bangsa lain.
Tetapi sesungguhnya mencari akar budaya, leluhur, dan identitas diri, adalah dorongan naluri yang dimilki semua orang. Itulah sebabnya, seorang anak angkat selalu ingin mencari orang tua kandungnya, meskipun setelah bertemu belum tentu ia akan memilih untuk tinggal bersama ayah atau ibu yang sudah menghadirkannya ke dunia.
Saya ingat pernah baca posting Mbak Imel yang menuliskan bagaimana Mbak Imel tidak bisa menjawab jika ditanya asal sukunya. Juga tulisan tentang kewarganegaraan Riku, keinginannya menjadi orang Indonesia mengikuti mamanya, yang membuat mata saya berkaca-kaca. I know you love our country so deeply …
Eh, nurunin berat badannya bukan sesudah wisata kuliner ya Mbak?
Halah, biar sajalah, saya juga sudah nggak pernah memusingkan lagi, berapa berat badan saya. Yang penting kan hati kita cantik …. (ceileee ….
)
@ayik: ya ampyun yik…di blog bu dosen kok kamu minta dikirim thotholan!
@mbak tut: maapkan Ayik ya mbak, betul mbak, jangan repot ngirimi dia kendhil. Kendhil sak gudege kirim ke saya aja, alamat masih seperti sedia kala…
Betul mbak, Indonesia sebetulnya sangat luar biasa: bahasa, suku, adat, kuliner, sumber daya alam, pemandangane…sangat kaya beragam! Kayaknya yang begitu Indonesia saja deh! Tapi..kitanya banyak yg cuek bebek! Sedih!
Tuti :
Woo … jebul podo wae, Mbak Ayik dan Mbak Ernut suka kendhil. Kalau ditambah Joko gimana, jadi Joko Kendhil?
Itulah. Kita sering tidak menyadari dan tidak menghargai anugerah Tuhan, dan malah menyia-nyiakannya. Kalau saya mah selalu sadar dan menghargai anugerah Tuhan pada diri saya, yaitu bahwa saya ini cantik, manis, pinter, dan ….. rada gila (haah??!!).
Lagu tanah airku saya pakai juga untuk backsound insert program pidato ekslusive presiden bung karno. di bulan Agustus kemaren…soul nya dapet mbak…tenanggggggg amat…cooooool banget lah pokoknya….bener2 masuk ke hati. Touched banget lah pokoke.
Tuti :
Pidato Bung Karno? Laaah … sudah ganti presiden sekian kali, kok masih Bung Karno yang pidato? Weleh, weleeh … coool tenan. Saya belum pernah dengerin pidato Bung Karno lho Pakde (eh, pernah ding, tapi cuma sedikit, dan sudah puluhan tahun yang lalu … ). Masih relevankah dengan kondisi negara saat ini, yang kacau balau dengan pemilu, dan terancam krisis finansial global?
Gara-gara ditanya terjemahan lagu, yang langsung kujawab tidak mampu karena bukan bahasa ibuku (maklum bahasa Toba dengan bahasa Karo, agak jauh maknanya walau sama-sama Batak, sebagai contoh: MALALA GULA IBABANA kalau pengertian menurut Bahasa Karo adalah: Banyak Gula dibawanya, tapi kalau menurut bahasa Toba pengertiannya menjadi: Hancur Gula dimulutnya……. nah kalau diperturutkan, bisa kacau dong………… ibarat kata pantun:
Bukan kampak sembarang kampak
kampak itu pembelah kayu’
Bukan Batak sembarang Batak
Bahasa Batak lebih dari satu
Nah lanjut masalah Tanah Air…menurut ilmu yang aku pelajari Tanah itu termasukbagian dari Ilmu Geomorfologi, dan Air itu termasuk dalam ilmu Hidrologi. Jadi kalau digabung menjadi Geohidrologi alias Air Tanah…wah terbalik.
Makna puitis dari lagu A Sing Sing So (aslinya a sing, sing a song)
satu bait kalimat Ueeee….lugahon au da parahu…………dst, (Ueee…. hanyutkanlah aku wahai perahu…………………….
ceritanya seorang pemuda yang berdayung dikemilaunya air Danau Toba, memandang dikejauhan sebuah desa ditepi pantai, kampung halaman kekasih hatinya…..maka katanya: hanyutkanlah aku wahai perahu….tiupkanlah daku duhai bayu… kekampung halaman pujaan hatiku…..
Pujaan hati itu adalah disebut PARIBAN, dalam pengertian anak paman (saudara laki-laki ibunda kita), yang diistilahkan juga sebagai Sirongkap ni Tondi……
Memahami filosofi Rongkap ni Tondi, Tondi itu adalah ruh atau jiwa manusia, Rongkap artinya menambal bagian yang bolong supaya tidak menjadi jelek atau menyalah. Siapa yang dianggap sebagai tambalan (pelapis) ruh seorang laki-laki, adalah seorang wanita yang secara takdir adat disamakan dengan ibunda yang melahirkan kita (inang pangitubu), itulah anak paman kita, yang disebut pariban itu. (Kalo di Karo disebut IMPAL).
Lagu ini adalah lagu curahan hati akan kerinduan kepada harmoni kehidupan yang lebur menjadi satu dalam cinta terhadap kekasih, cinta kepada orang tua dan keluarga, cinta kepada adat istiadat, dan cinta kepada sang Pencipta.
Btw, aku sendiri tidak menikah dengan paribanku…….
Tuti :
Wah, terimakasih penjelasan panjang lebarnya Bang. Sampai blusukan ke perpustakaan ya untuk mendapatkan informasi ini, dan belajar bahasa Batak Toba?
(tadinya kusangka Bang Sis marah, soalnya ditanya kok nggak jawab. apa gerangan salahku?)
Jadi Sing Sing So itu berkisah tentang cinta. Weleh … ternyata lagu-lagu daerah ini banyak yang romantis juga ya. Tapi di zaman sekarang mungkin nggak sabar lagi kalau mau ke rumah pujaan hati nunggu perahunya didorong angin. Halah, keburu basi dan berjamur
Pasang motor tempel aja di perahu, dan langsung wuuzzz … !!!
Falsafah Rongkap ni Tondi itu rupanya yang membuat orang Batak menikahi sepupunya sendiri ya Bang? (*manggut-manggut*). Berarti Bang Sis bukan Batak yang baik dong, karena menikah bukan dengan pariban
(*kabuuuur …*)
mbak….sudah bulat nih…kembali aktif ngeblog ??…walaah…pamitannya serius je…
Btw…saya seneng…lha kembali bisa baca Tulisan yang sangat penting….bermutu…berkualitas…pokoke TOP…
Soal lagu lagu itu…waaah penting nih…mau cari buat ngajari Cucu saya…biar mengerti lagu lagu ini….
Tuti :
Nggak sepenuhnya kembali aktif sih, kebetulan saja kemarin kok pengin banget nulis tentang pemilu, lalu tentang lagu-lagu daerah. Saya mengurangi posting dan blogwalking, tapi semua komen yang masuk saya usahakan untuk saya jawab. Jadi mohon maaf jika saya agak jarang mampir ke blog teman-teman …
Memang penting lho ngajari cucu tentang tanah air. Jadi bukan hanya lagu saja, melainkan juga tentang alam dan budayanya. Apalagi cucu Mbak Dyah hidup di negara orang, jangan sampai lebih mengenal negara orang dari pada negara sendiri (halah, sok tahu deh saya …
)
Mbak Tuti, budaya negara kita sungguh indah, juga lagu2nya. Tulisan ini mengingatkanku betapa banyaknya lagu daerah yang kalau didengarkan menjadikan hati terharu dan terasa mrinding.
Tuti :
Betul Mbak. Sayangnya kadang-kadang kita lupa, apalagi lagu-lagu daerah jarang ditampilkan di televisi, kalah dengan lagu-lagu pop. Harapan saya, ada buku atau apalah … yang memuat lagu-lagu daerah beserta terjemahan bahasa nasionalnya, agar bisa dipahami oleh seluruh suku bangsa kita yang berbeda-beda ini.
Bu Tuti, ada baiknya panjenengan punya website yang ada tempat untuk chatting. Nah, panjenengan buka warung 1 jam antara jam 12-1 malam. Ketika buka warung dimainkan lagu-lagu kesukaan tergantung tema hari itu. Maksudnya, jika ada teman-teman mampir “ngopi” disitu, sambil menikmati musik juga dapat ngobrol soal musik, atau apapunlah. Untuk pembuatan websitenya bisa konsultasi dengan yang membuat website milik suami.
Oh ya, kalau nggak salah sampai dengan tahun 90-an kita tidak punya studio besar yang memadai untuk rekaman orkestra. Jika ada sudah tidak memadai. Daripada membawa pemain musik dan alat musiknya ke LN yang ongkosnya muahal, lebih murah jika menyewa orkestra di negeri itu. Kalau sekarang sy sdh tidak tahu lagi studio-studio besar sudah punya ruangan untuk orkestra atau tidak. Mudah-mudahan menjawab mengapa pakai Shanghai Orchestra.
Tuti :
). Asyik juga ya, setiap malam bisa buka warung sambil menjajakan musik. Wah, tapi nanti ketahuan kalau saya ini wanita malam … wakaka
Waah … sugeng rawuh Pak Eko, sampun dangu mboten pinarak …
Usulnya untuk membuat website sangat menggoda, Pak (maksudnya menggoda untuk meninggalkan disertasi lagi …
Oh, begitu ya, saya jadi paham sekarang, mengapa lagu-lagu nasional dan lagu daerah itu diiringi orkestra asing. Sayang ya, karena ketiadaan studio rekaman yang memadai, musisi-musisi kita jadi tidak memiliki kesempatan untuk merekam musik mereka sendiri, memainkan lagu milik bangsa sendiri …
(ssst … ingat disertasi Pak, jangan chatting melulu
)
[...] Hayat Ikkyu_sansatu satu nol juenglalaWhat’s So Special About Sakti? bunda dyahPerempuan bu tutiMy Home Land ajo imoe…usul pada kepala kampung blagu (UPDATE)… penganyamkataSeandainya Kartini Bukan Seorang [...]
[...] masih menyempatkan mengurusi acara-acara keperempuanan seperti ini. Katanya, ini sebagai wujud kecintaannya terhadap tanah air. Sebuah alasan yang sangat [...]
Tanah Airku itu lagu wajib bagi para relawan / ekspatriat di luar negeri. Bukan berarti tidak wajib bagi kita yang di dalam negeri lho. Tapi kalau di luar negeri diperdengarkan lagu ini rasanya kita memiliki kekayaan yang nggak terukur nilainya.
Oh, ya. Saya kebingungan mencari buku perjuangan bergambar seperti yang saya baca-baca dulu waktu SD, misalnya tentang perjuangan Panglima Besar Jend. Sudirman. Perjuangan Ambarawa dsb. Soalnya nggak ada lagi yang bisa menceritakan kisah-kisah kepahlawanan pendahulu kita itu untuk anak-anak di rumah. Mesti dibantu buku. Kalau ada informasi tentang ini, tolong dibocorkan ya Bu.
Tuti :
Buku-buku tentang para pahlawan mestinya ada ya. Coba deh, besok saya kasak-kusuk cari informasi.
Selain melalui buku, mengunjungi museum juga sangat bagus untuk memperkenalkan anak-anak pada sejarah bangsa. Di Yogya ada museum Vredeburg, dimana di dalamnya kita bisa menyaksikan diorama-diorama yang mengisahkan perjuangan bangsa sejak zaman kerajaan-kerajaan besar dulu. Di Jakarta, museum di lantai basement Tugu Monas juga menampilkan diorama seperti itu. Tapi memang kesempatan mengunjungi museum tidak selalu ada ya.
konon istilah “kampung halaman” krn zaman dulu orang se kampung halamannya menyatu…
Tuti :
)
Kalau sekarang, orang sekampung tak punya halaman (lha wong rumahnya sudah dempet-dempet …
pingin gudeg kendhil kok ditawani djoko kendhil, ndak mau ah, bukan muhrim! (nut)
Tuti :
Lho, memangnya mas Joko Kendhil mau diapain, kok harus muhrim? Kalo cuma disuruh jagain kendil, gak papa to …
saya bangga dengan tanah airku,
bahkan hingga china mengakuinya.
Tuti :
Sebagai warga negara yang baik, kita memang harus bangga dengan tanah air kita.
Asyik, ada tulisan baru lagi, bahasannya top pula. Iya mbak…kalau denger lagu2 tsb jadi inget waktu masa kecilku dulu (ketika SD dulu saya sempat aktif di Marching Band). Tapi sampai sekarang saya masih suka dengerin lagu2 sejenis itu. Musik dan kekayaan alam Indonesia sebenarnya sangat indah & kita sebagai anak negeri semestinya bangga punya tanah Air Indonesia yach mbak.
Ok, mbak sekian dulu ngobrolnya, ntar kita sambung lagi, tetap aktif nulis aza dech mbak, meski nggak rutin nggak apa2 dech, abis kangen juga baca artikel2 yang top markotop di blognya mbak Tuti, hehehe

See you….
Best regard,
Bintang
Tuti :
). Maafkan juga kalau saya jarang berkunjung balik, karena waktu saya memang benar-benar sempit.
Iya Mbak Elin, saya coba untuk menulis lagi, tapi nggak seaktif dulu. Kalau pas hati senang dan perut kenyang saja (ya’elaah …
Lagu-lagu cinta tanah air seperti ini memang perlu sekali-sekali (dua kali – dua kali lebih bagus
) kita dengarkan, supaya tidak lupa bahwa kita memiliki tanah air yang indah dan harus kita cintai. Demikian juga dengan kekayaan budaya kita, harus lebih dikenalkan lagi kepada anak-anak agar mereka mengenalinya dan kemudian tumbuh rasa bangga menjadi bangsa Indonesia.
Terimakasih sudah berkunjung Mbak Elinda, best for you
salam hangat,
Bunda…. Apa kabar??? Lama nich Reti ngga main
Bunda Sehat khan??
Aku ngga tau kenapa ya, bund tiap nyanyi lagu “Tanah Airku” ciptaan Ibu Sud ini selalu aja airmataku keluar….
Tuti :
Hallo Retie, alhamdulillah saya baik-baik saja. Iya, saya lama lho nunggu Retie kok nggak muncul-muncul …
Kalau airmata keluar waktu nyanyi lagu “Tanah Airku”, itu bagus. Berarti Retie memiliki rasa cinta tanah air yang mendalam. Semoga rasa cinta seperti itu dimiliki juga oleh para pemimpin kita yang sedang memegang kekuasaan, sehingga mereka mau berbuat yang terbaik untuk negara kita.
Saya jarang menyimak lagu-lagu nasional dengan seksama, mendengar sering tapi tidak selalu tergerak hati karenanya, kecuali pada saat-saat tertentu. Tapi lagu Tanah Airku itu sangat spesial buat saya, ini lagu bertema cinta tanah air yang paling sering saya mainkan, tidak sekedar memainkan atau menyanyikan tapi juga menghayati. Memainkan lagu ini di keyboard atau piano bisa membuat airmata mengalir tak tertahankan karena terhanyut dengan melodi dan liriknya yang menyentuh hati. Nggak tahu deh, tidak ada alasan khusus, it just happened to me..
Tuti :
Memang lagu “Tanah Airku” selalu membuat orang tersentuh rasa cinta tanah airnya. Selain lagu ciptaan Ibu Sud ini, ada beberapa lagu lain yang juga selalu membuat kita menitikkan air mata, misalnya “Indonesia Pusaka” dan “Rayuan Pulau Kelapa”. Padahal kalau dipikir-pikir, tidak semua orang hidup nyaman dan bahagia di negara ini, tetapi mengapa rasa cinta pada tanah tumpah darah itu tetap saja ada?
-kita memang harus mencintai tanah air kita mbak
-paribasan “sadumuk bathuk sanyari bumi dilabuhi taker pati”,kan.
-Boleh tukeran link mbak.
-matur nuwun
Tuti :
- lha iyo mas, kan tanah tumpah darah kita
- paribasan itu sekarang cocok untuk korban Lapindo
- boleh sekali, tapi maaf blogroll saya lagi error, bisa nyimpen tapi nggak bisa muncul di layar
- sami-sami
bagus ko lagunya.. aku suka…
Tuti :
sama dong klo gitu …