JIKA HIDUP TINGGAL SESAAT LAGI …
Jika kita tahu bahwa hidup kita tinggal sesaat lagi, apa yang akan kita lakukan?
Sudah pasti jawabannya sangat beragam, tergantung siapa diri kita. Jika kita seorang pendosa, yang menyadari bahwa seumur-umur kita bersekutu dengan syaiton dan hawa nafsu, dan penjaga neraka akan menyambut kita dengan riang gembira, mungkin kita akan panik, ketakutan, putus asa, dan stress tak terkira. Namun jika kita merasa bahwa hidup di dunia ini sudah cukup, kebahagiaan sudah teraih sempurna, dan selamanya tak pernah jauh-jauh dari Tuhan, mungkin kita akan menunggu saat menghadap kepadaNya dengan ikhlas dan tenang.
Selain terpidana mati yang sudah ditetapkan saat eksekusinya, siapakah yang dengan sadar menjalani hari-hari terakhirnya? Para penderita penyakit berat, yang oleh manusia-manusia pandai berjuluk dokter telah divonis bahwa ruhnya akan meninggalkan jasadnya dalam jangka waktu tertentu.
Edward Cole dan Charter Chambers adalah dua penderita kanker kronis yang oleh dokter divonis usianya tak akan mencapai setahun lagi. Edward Cole adalah milyarder kaya raya yang atheis, terbiasa memanjakan nafsu hedonisnya, dan empat kali menjalani perkawinan yang kacau balau, sedangkan Carter Chambers adalah mekanik mobil yang gagal kuliah, tetapi sangat pandai, memiliki keluarga bahagia, dan selamanya hidup di jalan Tuhan. Keduanya memutuskan untuk menjalani sisa hidup mereka dengan melakukan berbagai hal yang menjadi impian mereka. Daftar keinginan itu mereka susun dalam The Bucket List.

Akting Jack Nicholson dan Morgan Freeman membuat “The Bucket List” memikat, meskipun sepanjang film penonton disuguhi wajah dua pria gaek yang jauh dari ganteng …
Dua orang menjelang ajal, dengan dua latar belakang kehidupan serta karakter yang sangat berbeda, bahkan dengan warna kulit yang juga berbeda, saling belajar memahami hidup dan menemukan kebahagiaan. Mereka melakukan terjun payung, ngebut dengan mobil Mustang Shelby, bersafari ke Afrika, mengunjungi pyramida di Mesir, mengagumi Taj Mahal di India, menjelajah tembok besar Cina dengan sepeda motor, hingga mencoba memanjat gunung Himalaya, yang sayangnya gagal karena dihadang badai.

Cole dan Carter berdiskusi tentang makna kematian di depan Pyramida
Ada yang menarik dalam keyakinan orang Mesir mengenai kematian. Jika seorang Mesir meninggal, sebelum diijinkan masuk ke surga ia akan ditanyai dua hal : apakah ia sudah mencapai kebahagiaan hidup, dan apakah hidupnya membahagiakan orang-orang di sekitarnya? Jika kedua pertanyaan tersebut dijawab dengan ‘ya’, maka barulah orang tersebut diijinkan masuk surga. Cole menjawab pertanyaan pertama dengan ‘ya’, tetapi pertanyaan kedua terpaksa dijawab dengan ‘tidak’, karena ia telah melukai hati putri satu-satunya hingga putrinya itu tak mau lagi bertemu dengannya.
Sepanjang perjalanan yang penuh petualangan itu, Cole dan Carter berdiskusi tentang makna kematian, perkawinan, kepercayaan kepada Tuhan, dan berbagai pemikiran hidup lain. Sungguh dialog filosofis yang menarik, yang entah kenapa, jarang kita temukan dalam film-film Indonesia.

Kopi luwak menjadi topik yang muncul sejak awal hingga akhir cerita
Topik obrolan lain yang menarik adalah perbincangan mereka tentang kopi Luwak. Cole sangat menyukai kopi yang berasal dari Sumatera ini, dan menyebutnya sebagai “kopi surga”. Carter, yang tahu bagaimana proses terjadinya kopi Luwak, membiarkan Cole terus menyeruput dan memuja kopi termahal di dunia ini. Menjelang ajalnya, barulah ia memberikan sebuah artikel tentang proses terjadinya kopi Luwak, yaitu berasal dari biji-biji kopi yang dimakan oleh luwak namun tak terhancurkan dalam perut luwak dan keluar bersama kotorannya. Fermentasi biji kopi oleh cairan dalam lambung luwak itulah yang membuat biji kopi luwak memiliki rasa dan aroma khas. Informasi Carter ini membuat mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal hingga keluar air mata. Carter mentertawakan Cole, Cole mentertawakan dirinya sendiri. Terlaksanalah salah satu keinginan yang ada dalam bucket list mereka : tertawa hingga keluar air mata.

Tertawa hingga keluar air mata, setelah Carter memberi tahu Cole bagaimana proses terjadinya kopi luwak
Film ini diawali dan diakhiri dengan narasi yang diucapkan oleh Thomas, asisten Cole, “Aku yakin jika Cole mati, matanya tertutup rapat, dan hatinya terbuka lebar”. Ia membawa abu jenazah Cole untuk dimakamkan dalam satu satu lobang, bersisian dengan abu jenazah Carter, dalam tumpukan salju di puncak Himalaya.
Terlalu banyak hal menarik dalam film ini yang tidak bisa saya ceritakan semuanya (jangan lupa, saya sedang sibuk dan waktu saya terbatas … halah!), jadi sebaiknya teman-teman nonton sendiri saja. Saya memperoleh rekomendasi film ini dari dua pakar terpercaya, Om Trainer , panutan para bloger se dunia, dan sahabat saya Pak Eko, yang koleksi film dalam memorinya lebih banyak dari persewaan VCD mana pun.
Tepat sebulan yang lalu, saya mengira bahwa kematian saya mungkin sudah dekat. Entah mengapa, tiba-tiba saya merasa memperoleh firasat. Pada waktu itu terjadi musibah kecelakaan yang menimpa beberapa pesawat di dalam maupun di luar negeri. Saya sendiri sudah membeli tiket pesawat ke Jakarta untuk tanggal 27 Maret, dan pulang ke Yogya tanggal 29 Maret. Berita kecelakaan beberapa pesawat itu membuat saya miris. Tiba-tiba saja saya berpikir aneh. Awal Maret itu, saya yang tidak bisa bernyanyi, kok tiba-tiba punya ide merekam lagu dalam CD dan membagikannya kepada semua keluarga, kerabat, teman dan sahabat. Lalu pada tanggal 22 Maret, saya pamit pada teman-teman dan menyatakan tidak akan bloging lagi. Apakah ini firasat, bahwa saya akan pergi untuk selamanya, dan CD itu adalah jejak terakhir hidup saya?
Saya sungguh sedih dan gundah. Saya merasa belum siap menghadap Yang Maha Kuasa. Meskipun insya Allah saya tidak melakukan dosa-dosa besar, tetapi bekal amal baik dan ibadah saya rasanya masih jauh dari cukup. Saya menangis berhari-hari. Saya sungguh tak siap untuk mati.
Saya merasa, bahwa hidup saya akan berakhir dalam sebuah kecelakaan pesawat. Saya membayangkan, jika saatnya tiba, saya akan terbang di udara, dan melihat jasad saya dikelilingi keluarga dan teman-teman saya. Mungkin mereka akan menangisi kematian saya. Mungkin saya ingin mengucapkan sesuatu kepada mereka, meminta maaf atas kesalahan-kesalahan saya, dan berterimakasih atas cinta kasih mereka, tapi pasti saya tak bisa bicara. Bagaimana rasanya? Pasti sedih sekali.

Akankah hidup saya berakhir dalam kecelakaan pesawat seperti ini? (foto diambil dari sini )
Tapi saya tak sedikit pun berniat membatalkan kepergian saya. Jika kematian memang sudah sampai, ia akan tetap tiba, dan Tuhan tak akan kekurangan cara untuk memanggil saya. Jadi kalaupun saya membatalkan naik pesawat, pastilah saya akan mati juga dengan cara yang lain. Ya sudahlah, akhirnya saya pasrah saja, sambil mohon ampun atas dosa-dosa saya kepada Allah.
Ternyata saya belum mati, sampai detik ini.
Mungkin benar kata sahabat saya, tak ada orang yang tahu kalau dia akan mati. Firasat baru akan disadari oleh orang lain, setelah yang bersangkutan benar-benar meninggal.
Sebulan yang lalu, karena ‘firasat’ itu datangnya mendadak, saya belum sempat menyusun bucket list saya. Hmm ….. jadi, mungkin inilah saatnya saya menyusunnya. Okey, here we go! Saya ingin menjelajah dunia. Saya ingin belajar menerbangkan pesawat kecil. Saya ingin belajar membatik dan menenun kain songket. Saya ingin belajar melukis. Saya ingin belajar bahasa Inggris dan Perancis hingga bisa bicara lancar dan indah. Saya ingin bekerja di lembaga sosial untuk membaktikan hidup saya bagi kemanusiaan dan memajukan masyarakat. Saya ingin …. Astagaaaa !!! Ini mah bukan bucket list, tapi a truck of impossible dreams ….
Anda punya bucket list juga?









aduh mbak kok sampe punya firasat gitu sih?
Jatuh dari pesawat terbang? Aduh kalau bisa, aku tidak ingin mati dengan jatuh dari pesawat terbang. Karena aku takut ketinggian. Juga kalau bisa aku ngga mau mati tertimbun gempa, karena aku takut kegelapan. Tapi yah, kalau memang harusnya begitu, Tuhan yang menentukannya begitu ya apa boleh buat.
Saya pernah bilang ya mbak, saya ngga suka nonton film. Itu sebetulnya bukan karena benci, lebih karena sebal, dan menderita sesudah menontonnya. After effectnya. Kalau saya menangis, then satu hari itu akan rusak, karena saya sakit kepala (akibat menangis) . Jadi saya menghindari nonton film yang bisa membuat saya menangis….. Dan mungkin kalau tidak terpaksa banget (di TV saya film ini terputar) mungkin saya tidak mau menonton. (sst mbak saya tuh kalau lagi nonton tidak bisa dipotong, dan biasanya tidak beranjak dr depan TV… kasian kan 3 boysnya terlantar)
Soal bucket list… emangnya harus punya ya mbak? hehehe. Saya sudah pernah ke Lourdes, Roma dan Sendang sono tempat Ziarah umat Katolik. Jadi tidak ada tujuan khusus. Tapi biasanya sih mbak, setiap awal tahun, saya menyusun “Plan of the year”. Apa saja yang mau saya capai utk tahun itu. Dan kok th 2009 tidak saya bikin ya? Saya sendiri heran. Hanya melanjuti rencana2 th 2008 saja (tahun yang lalunya kemaruk sih).
Saya sedang me-maintain apa yang sudah saya capai di tahun-tahun sebelumnya. Dan itu sulit! Termasuk menulis di blog saya.
“Menjelajah dunia dan mengabadikan lewat foto dan tulisan…” mungkin itu isi list saya saat ini.
EM
Tuti :
). Penginnya sih mati waktu tidur, jadi tertidur dengan lelap, dan tahu-tahu bablas aja ke surga (tentu harus sudah gosok gigi sebelum tidur ya …
)
Kalau boleh milih, saya juga nggak mau mati karena jatuh dari pesawat atau tertimbun bangunan yang runtuh karena gempa (apalagi kalau tubuh dan wajah saya sampai bonyok-bonyok, yang membuat saya nggak kelihatan cantik … qiqiqi ….
Iya, saya ingat Mbak Imel pernah cerita nggak suka nonton film (kalau nggak salah, ceritanya waktu mbak ngambil mata kuliah sinematografi di S2). Waktu itu saya juga komentar, heran kok mbak nggak suka nonton film. Dengan personality Mbak Imel, ‘harus’nya mbak suka film (lho, kok mengharuskan!
).
Saya sendiri suka banget nonton film, tentunya yang bagus, bukan macam film “Pocong Bercinta” (emang ada?
). Dari film, saya bisa menikmati banyak hal, ya artistik gambarnya, ya akting pemainnya, ya musiknya, ya pelajaran yang bisa kita petik dari jalan ceritanya. Sama, saya juga nggak bisa berhenti kalau nonton film. Tapi kalau di tv Indonesia, kan banyak iklannya, jadi pas iklan bisa lari sebentar untuk ini-itu. Saya nggak pernah nonton lewat tv kabel. Pernah berlangganan Indovision, sampai 3 tahun sama sekali nggak pernah dipakai …
Nah, kalau nonton VCD atau DVD, kan bisa kita hold dulu, nanti dilanjut lagi …
Sebenarnya bucket list itu adalah obsesi kita, seperti metafora (kata Carter di film ini), bukan hal-hal yang dengan jelas dan pasti akan bisa kita lakukan. Makanya, dalam bucket list saya, saya menulis hal-hal ‘besar’ dan ’sulit’, tetapi yang memang benar-benar saya inginkan.
sepertinya saya harus memasukkan agenda untuk ketemu Mbak Tuti Nonka sebelum ajal menjemputkuuu…….
Tuti :
Yuuuk …. dari pada ketemunya sesudah saya atau Mbak Ayik meninggal, kan sereeem …
Jika hidup tinggal sebentar lagi, saya akan melakukan banyak hal sebisa yang saya lakukan tentu yang memiliki nilai positif di hadapan Tuhan
Tuti :
Sama Mas, saya juga begitu. Oh ya, tolong dicatat, mengirimi saya kue atau bunga termasuk hal yang memiliki nilai positif di hadapan Tuhan lho
Dua minggu yang lalu saya sempat menyadari bahwa antara hidup dan mati itu jaraknya sangatlah tipis. Perasaan ini sebenarnya juga pernah saya rasakan ketika gempa bumi 27 Mei 2007 yang lalu. Dalam benak saya saat itu, sore nanti jasad saya akan ditemukan di sebuah tempat entah di mana (itu lho, saat ada isu tsunami).
Lalu, mengapa 2 minggu yang lalu perasaan itu muncul lagi? Asal muasalnya, pagi itu ketika berangkat ke kampus, ketika belok masuk ke jalan Imogiri, tisu mobil tiba-tiba terjatuh. Mungkin reflek, dengan cepat tangan saya menyambarnya. Hampir fatal akibatnya. Mungkin tangan saya nyenggol stir. Sreeeettt….mobil belok sendiri dengan tiba-tiba dan cepat, masuk ke teras sebuah rumah. Hffffhh…….untung tidak ada orang di situ, dan untung saya segera dapat mengerem. Tapi ya…..gemeter deh saya jadinya. Lha kalau ada orang di situ, apa gak panjang urusannya? Dan bila saya tak segera dapat ngerem? Apa nggak pendek umur saya? hahaha…….
Sehari sebelumnya, Senin, 13 April, teman saya yang juga mantan mahasiswa saya, meninggal dalam kecelakaan mobil. Di saat keberhasilan mulai diraih: putri pertamanya lahir 2 bulan sebelumnya, SK PNS akan turun bulan ini, dan dia diterima S2 di UNS tinggal menjalani saja, ternyata Allah menghendaki lain. Dia meninggal pada usia yang masih muda. Berangkat masih segar bugar, pulang dalam keadaan serupa itu.
Dua peristiwa itu ternyata sangat mempengaruhi pikiran saya selama beberapa hari. Membuka kesadaran saya kembali bahwa antara hidup dan mati sangat tipis jaraknya. Saya merasa itu semua adalah peringatan Allah pada saya karena selama ini saya hampir melupakan-Nya. Segera saya benahi lagi hidup saya. Saya ajak anak-anak saya kembali membaca Al-Quran setiap habis Isya. saya merasa saya belum siap untuk menghadap-Nya. Bekal saya belum cukup. Bahkan, sangat jauh dari mencukupi. Saya takuuut……….Bekal saya belum cukup, sementara jarak antara hidup dan mati sangatlah tipis. Kita bisa saja tidak menyadari bahwa mungkin saja semenit lagi nyawa kita sudah tercabut dari badan kita.
Maaf Mbak, kalau terlalu panjang. Ya, mungkin karena pas saja dengan kondisi saya saat ini. Mudah-mudahan apa yang ada dalam pikiran saya dan pikiran Mbak Tuti merupakan peringatan dari Allah agar kita bisa segera bersiap-siap mengumpulkan bekal untuk perjalanan abadi, perjalanan panjang dalam kesendirian. Semoga. Amin.
Tuti :
)
Wah, untung waktu mobil Buhan nyelonong ke teras rumah orang, nggak ada kameramen teve disitu ya. Kalau ada, pasti gambar Buhan masuk “Sekilas Info” dengan judul “Jangan menaruh tissue di mobil” (lho, kok kesimpulannya ngaco banget …
Sama seperti tipisnya batas antara hidup dan mati, demikian juga batas antara sehat dan sakit. Salah seorang sepupu saya sudah hampir 2 bulan terbaring coma di ICCU, padahal sebelumnya ia baik-baik saja, tidak ada gejala sakit apa pun. Ternyata ia menderita penyakit langka, yang tidak terdeteksi sebelumnya. Melihat kondisinya, saya disadarkan bahwa kesehatan itu (seperti juga hidup) adalah hal sangat berharga yang sering kita lupakan. Kita baru sadar setelah melihat seseorang di dekat kita sakit atau dipanggil Tuhan.
Tetapi yang namanya iman memang naik turun, mengalami pasang-surut. Ada grafik naik dimana iman kita kuat banget, ada grafik turun dimana kita rada-rada lupa Tuhan (tentu naik turunnya relatif untuk setiap orang). Yang harus dijaga adalah agar pada waktu grafiknya turun, ya jangan sampai terjun bebas (apalagi nggak pakai payung
). Selalu me-recharge rohani dengan mengikuti siraman kalbu adalah salah satu cara untuk menjaga kestabilan iman.
Nggak apa-apa komennya panjang, Buhan. Tapi lain kali saya kenai pajak
(kan katanya ‘orang bijak membayar pajak’ … )
Ahh mbak Tuti..berarti film itu mesti di coret dari list ku…hahaha..
Firasat, kita tak pernah tahu apa orang-orang yang dipanggil mempunyai firasat sebelumnya…karena biasanya firasat ini baru teringat jika telah terjadi.
Ya, antara hidup dan mati hanya tipis bedanya, jadi kita memang harus siap setiap waktu. Yang jelas saya bersyukur udah ketemu mbak Tuti, mendengarkan suaranya yang renyah, seperti tulisan2nya selama ini
Tuti :
)
Lho, kok dicoret dari list Mbak Enny, berarti sudah nonton ya?
Memang betul, kita tidak tahu apakah orang yang akan meninggal punya firasat sebelumnya, soalnya belum pernah ada yang berhasil mewawancarai orang yang sudah meninggal dengan sukses (maksudnya, bukan mati suri … kalau itu kan meninggal yang gagal …
Mbak, suara dan tulisan saya sering dijemur di atas genteng, terus digoreng dua kali, jadi renyah …
Wah, lha suara dan cerita Mbak Enny lebih kemriuk gitu lho …
Jika hidup sebentar lagi, saya akan minta pada-Nya untuk ditambahkan waktu sedikit lagi aja, klo dah mau habis waktu dikit yang telah diberikan, minta lagi dan lagi. Meminta pada-Nya boleh kn?
Salam Kenal Bu.
Tuti :
tapi boleh-boleh aja kok, selama Tuhan belum bosan.
Itu judulnya “Kecanduan” atau “Tuman”, Mas Wong
Salam kenal juga Mas Wong, terimakasih sudah mampir.
waduh… firasatnya kok ngeri amat sih bu tuti….?
tapi, saya setuju dg bu tuti, bahwa meski bayangan maut ada di depan mata, tidak harus membuat kita takut menjalankan apapun. hadapi saja, karena menghindar seperti apapun, itu tetap akan terjadi…
oya, saya baru saja nonton film “knowing”. ini lebih dahsyat lagi. menceritakan tentang seseorang yg mengetahui kapan kiamat akan datang…! insya Allah saya akan bikin reviewnya di blog…
btw, dg segitu banyaknya bucket list bu tuti, itu menandakan kalau bu tuti masih bakal lama di dunia ini… emang bisa gitu, belajar bahasa asing dalam satu-dua bulan…? hehehe…
Tuti :
Iya, kalau dipikir-pikir memang aneh. Orang yang meninggal karena kecelakaan pesawat jumlahnya mungkin hanya nol koma sekian persen dibanding orang yang meninggal di atas tempat tidur, tapi banyak orang takut naik pesawat sementara mereka tidak pernah takut naik ke tempat tidur
Saya tunggu review film “Knowing”nya, uda. Pasti menarik …
Tentang bucket list saya, itu adalah obsesi. Mungkin kelihatan kemaruk ya (istilah mbak Imel)
… terlalu banyak yang saya inginkan. Tetapi sebagai cita-cita atau obsesi, boleh saja kan? Tentang terlaksana atau tidaknya, sepenuhnya tergantung pada kemurahan Allah.
See …
Bener bagus kan film ini …
Ceritanya sederhana … namun maknanya dalam sekali …
And yes indeed …
Untuk menjadi bintang … memang tidak perlu tampan dan berusia muda …
Jack Nicholson dan Morgan Freeman telah membuktikannya …
Salam saya Ibu …
Tuti :
)
Betul Om, untuk menjadi bintang tidak harus tampan dan berusia muda. Begitu juga jadi bloger kenamaan, tidak harus ganteng dan muda ya Om? (ehehe … saya bukan nyindir Om Trainer lho … lha wong Om kan berada dalam kelompok ‘kalau memang ganteng ya ganteng aja’
Biar berumur, kalau ganteng kayak Om dan cantik kayak saya, pasti banyak penggemarnya ya Om … (berteman dengan kelompok narsis harus ikut narsis
)
Laaah… wong saya aja yang nggantengnya kayak gini aja diem2 aja…. wakakakakak…..
**nggakmaukalahnarsisnya[dot]com**
Tuti :
Soalnya, kalau Mas Yari ngomong, gantengnya jadi ilang ….
Aku selalu punya firasat bahwa hidupku tak kan lama lagi. Ketika aku batuk teruhuk-uhuk, aku merasakan paru-paruku sudah hancur. Ketika aku dipatuk ular aku rasakan bisanya menghancurlantakkan jaringan tubuhku. Ketika aku terbaring di tempat tidur, kulihat malaikat maut siap mengajakku ke tempat yang jauh.
Aku tahu, bahwa dosaku tak terhitung. Tapi aku siap bila Tuhan menghendaki aku mati, sekarang.
Tuti :
Firasatnya sudah datang berkali-kali, tapi sampai sekarang Mas Gun masih hidup dengan nyawa lengkap, berarti firasatnya palsu Mas Gun …
Hmm, kesiapan menghadap Tuhan rupanya tak selalu berkorelasi dengan dosa ya … (*manggut-manggut, tapi bingung*)
Apakah hidupku ini masih berguna? Apakah masih ada orang yang membutuhkan hidupku? Kalau memang masih banyak yang harus kulakukan dan nampaknya hidupku juga masih berguna bagi orang lain, terutama orang-orang yang kucintai dan dicintai Tuhan, maka aku bermohon kepada Tuhan, jikalau boleh panjangkanlah usiaku Tuhan. Tapi jikalau memang sudah tidak ada lagi yang membutuhkanku di Dunia ini, ya mati juga nggak perlu aku keberatan, alias ikhlas saja.
Terlepas dari itu, apapun dalam fikiranku, aku katakan: Bukan kehendakku, tapi Kehendak Tuhanlah yang terjadi pada diriku, apapun dia bentuknya.
Tuti :
Setuju, Bang. Jika hidup kita tak berguna bagi orang lain, bahkan bagi diri kita sendiri, memang tidak ada gunanya lagi hidup. Entah mengapa orang-orang yang hidupnya bukan saja tidak berguna bagi orang lain, tetapi bahkan mencelakakan orang lain, masih juga bertahan hidup.
Tentu, kehendak Tuhan yang akan berlaku bagi manusia. Sebagai makhluk ciptaannya, kita hanya bisa berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita menurutNya (karena yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut Tuhan).
pertama : waooo segera berburu filmya ahh
Kedua : Firasat… ya kadang-kadang kita ngga percaya dengan firasat-firasat seperti itu tapi begitu udah terjadi baru dech inget, seperti dulu alm ibu saya mungkin sudah punya firasat kalau mau pergi, jadi malam sebelumnya ibu menulis surat ke babe berisi pesan2 (sssttt bayar hutang n cicilan rumah)… Aku yang pertama kali menemukan surat itu dan di bawah surat itu sudah tersedia pakaian ibu lengkap dan selimut kesayangan ibu yang pengen di sertakan di dalam peti.
Udah aahhh ngga bisa nerusin, airmataku udah jatuh duluan…
Retie cuma bisa doakan Bunda sehat dan selalu dalam Lindungan-NYA, amien…
Tuti :
Pertama : segera cari VCDnya ya Retie, banyak kok di toko-toko VCD. Ssst … nggak boleh beli yang bajakan ya
Kedua : Mungkin memang benar, orang yang akan meninggal sudah punya firasat. Yang kita tidak tahu, apakah dia melakukan ‘pesan-pesan terakhir’ itu dengan sadar, atau ia sendiri tidak menyadarinya?
Saya yakin ibunda Retie sekarang sudah tenang dan damai di sisiNya, jadi jangan menangis lagi ya sayang. Doakan saja agar ibunda memperoleh tempat yang sebaik-baiknya.
Terimakasih doanya, Retie. Saya juga doakan semoga Retie selalu sehat dan rukun damai dengan suami tercinta.
Mama juga kapan itu ngomong tentang mati Bunda …
Belakangan ini juga saya baca beberapa postingan teman-teman tentang mati…
Semakin mengingatkan kita tentang mati.
Ada apa ini, Bunda..?
Tuti :
Ya karena kita semua memang akan mati. Anehnya, kita jarang mau berpikir tentang mati, padahal kematian bisa terjadi kapan saja, tidak pandang usia. Apalagi pada usia muda, semangat dan keinginan menggapai hal-hal yang bersifat keduniawian masih mendominasi hidup kita. Jadinya kita seolah-olah lupa bahwa mati itu akan terjadi.
Kemarin saya membaca di blog Mbak Elindasari tentang berpulangnya salah seorang bloger yang masih sangat muda (sayang saya belum pernah mengunjungi blognya), yaitu Sassie Kirana. Sungguh sedih, meskipun saya tidak mengenal gadis belia yang cantik ini.
Entah mengapa kalau antri untuk urusan2 keduniaan kita minta didahulukan. Ada rasa gembira, senang dan lega jika nomor urut kita sudah semakin mendekati panggilan.
Tapi entah mengapa untuk urusan menyangkut mati hampir setiap orang tidak ada yang mau didahulukan atau mendahului. Padahal, siap tidak siap, senang tidak senang setiap kita pasti akan mengalami hal itu.
Bukannya rasa senang dan lega yang dirasakan. Tapi perasaan takut yang justru mencengkram. Sesiap apapun seseorang menghadapi kematian tetap saja ada rasa takut yang hinggap dalam dirinya.
Tuti :
Ketakutan menghadapi kematian membuktikan bahwa manusia yang sejahat apa pun masih percaya akan adanya Tuhan, serta adanya kehidupan sesudah mati dimana manusia dimintai pertanggungjawaban atas segala perilakunya di dunia. Jika ada orang jahat yang tidak takut mati, pastilah ia seorang atheis.
Tetapi ada juga lho, yang menghadapi kematian dengan tenang dan ikhlas, khususnya ini pada orang yang sudah lanjut usia, sudah merasa cukup menjalani kehidupan, dan sudah berserah iri pada Tuhan.
Bun, daku baru tahu nih.. bunda mulai ngeblog lagi..
Semangat ya bun.
Aku juga pernah ngalamin kok bun, kekhawatiran soal hidup. Tapi balik lagi ke jalan Nya, apakah dengan kekhawatiran itu akan membuat hidup saya kedepan lebih baik.
So, aku percayakan saja pada Tuhan.
Miss you, bun!
Tuti :
Hehehe …. sekali-sekali nulis boleh kan, Mbak Puak? Soalnya kangen nih, sama teman-teman …
Memang, kepercayaan kepada Sang Pencipta adalah pegangan hidup yang paling penting. Selama kita selalu menyandarkan hidup kita kepadaNya, hidup adalah mudah dan indah, right?
Miss you too, Mbak Puak …
Yang saya suka dari film2 Hollywood itu, tema2 sedih dapat “dibengkokan” menjadi cerita-cerita hidup yang menghibur, segar dan tidak membosankan. Nggak seperti cerita2 atau film2 di Indonesia, kisah sedih ya momennya di sekitar2 itu juga dari awal film sampai akhir film. Sebenarnya sih, jikalau ceritanya mau sedih juga dari awal sampai akhir juga nggak apa2, asalkan kalau diangkat menjadi sebuah film maka minimal sinematografinya harus menawan. **halaah kayak pengamat film aja**
Film ini kalo nggak salah baru ditayangkan di HBO juga akhir2 ini tetapi saya belum sempat nonton semuanya karena keburu ada acara lain yang lebih menarik. Huehehe…….
Tuti :
Setuju, Mas Yari. Mengolah kesedihan menjadi sesuatu yang lucu, itu butuh kecerdasan. Film ini masuk genre komedi, meskipun kisahnya adalah tentang kematian. Meskipun demikian, dialog-dialog filosofisnya juga cukup menarik.
Wah, jangan-jangan Mas Yari juga nggak selesai membaca postingan saya karena ada acara lain yang lebih menarik …
Bu, saya malah semakin takut terbang nih
Postingan ibu, dasyat
Tuti :
Lho, kok takut? Kan temannya banyak, satu pesawat …
Terimakasih Mas Achoey …
Terima kasih, mbak.
Nasehatnya bermanfaat sekali.
Tuti :
Sama-sama, mas Heryan …
Eh, saya nasehatin apa ya? Rasanya saya bukan angota BP4 lho …
Wah sepertinya saya harus nonton film itu mbak Tuti. Sepertinya isi filmnya sarat mana hidup yach mbak. Terima kasih atas infonya.
Tapi ngomong2, kok yach mbak Tuti mikirnya sudah jauh banget gitu yach, sampai udah mikirin kalo mati pas naik pesawat segala. Duch jangan sampai dech mbak. Kalau bisa minta sama Allah, kita mintanya dipanggil pas kita sudah siap yach….(emang sudah siap qiqiqi….kalau saya kayaknya jauh dari siap…)
Hem kalau saya “The Bucket List”nya harus saya masukan ingin ketemu mbak Tuti face to face, cerita2 banyak tentang berbagai macam hal, krn sepertinya hobby & berbagai macam obsesi saya & mbak Tuti kok bisa mirip yach, qiqiqi (Amien semoga bisa terkabul yach mbak).
Eit mbak Tuti, sebentar lagi ULTAH khan,….dan sepertinya ULTAH kita bareng lho….beneran
Nah, sepertinya rumpian pagi kita harus stop sampai disini dulu, krn mau lanjutin aktivitas dulu. See you mbak Tuti
Best regard,
Bintang
Tuti :
Memang betul, film ini cukup menyentuh. Kita dibuat tertawa, tapi juga merenung. Pemandangannya juga elok, karena menjelajah ke berbagai ujung dunia. Pokoknya, cepetan nonton!
Nggak tahu tuh, saya kok kepikiran bakal meninggal karena kecelakaan pesawat. Saya suka terbang, tapi kalau lihat berita kecelakaan pesawat, ngeri juga. Ohya, sesudah kecelakaan Garuda di Yogya, yang gagal landing dan terbakar sehingga banyak jenazah sulit dikenali, saya langsung bikin foto gigi, supaya kalau saya mengalami kecelakaan serupa, jenazah saya cepat dikenali dengan mencocokkan foto gigi saya (heuheu …. sedih kan kalau sampai jenazah kita pun tak dikenali keluarga … ihiks …
). Tapi mudah-mudahan foto gigi itu nggak perlu digunakan ya … amin.
Wah, saya juga pengin nih, ketemu muka sama Mbak Elinda. Ntar deh, kalau saya pas ke Jakarta, saya kontak ya.
Ultah kita bareng? Yang beneerrr? Lho, kok tahu ultah saya dari mana? Tapi lilinnya pasti beda ya, banyakan saya
Wah, kalau gitu kita tukeran kado yuuuk (jangan-jangan kado kita pun sama ….. qiqiqiqi …..
)
Ok, selamat mempersiapkan ultah ya, Mbak Lin.
salam hangat,
Huff..
jatuh dari pesawat, sempat kepikiran .. dan emang menegangkan.. semoga aja saat dipanggil olehNya, udah ada persiapan.
Tuti :
Kalau saya, bukan kepikiran jatuh dari pesawat, tapi berada di dalam pesawat yang jatuh (beda, kan?). Yah, semoga kita semua sudah siap ketika tiba saat untuk kembali kepadaNya …
hai, Tante Tut!
saya klik blog dikaw dari sidebar mentor saya nulis, Maz Arief. gokil! baru dateng langsung disuguhin posting tentang ‘memento mori’. hihi.
buat saya, mau mati dimana pun, dalam kondisi apa pun, dan kapan pun, keknya kita ga punya kuasa buat milih deh. mati sih mati aja. toh itu cuma salah satu fase seperti memadamkan lampu rumah ketika malam berganti pagi. tapi kalo masalah firasat mau mati sih… keknya yg bakal notice itu bukan si calon mayat. tapi lebih ke orang2 yg ada di sekelilingnya. tapi ga tau juga sih.
setiap ada posting kematian, saya inget mbah kakung saya yg sampai sekarang kain penutup mayatnya masih tak pake buat selimut. rasa kehilangan itu… damn. it hurts. sorry for my french
but to be honest, i truly wish for god to take me when i’m 30. rasanya hidup terlalu panjang dan melelahkan untuk dijalani ketika kepala terbeli perut.
doain yaaaaa… hehe.
Tuti :
Haddduh …. baru sekali ini aku kedatangan tamu yang aneh banget. Nggak takut mati, malah menganggap kematian cuma seperti lampu yang harus dipadamkan ketika pagi menjelang. Aduh Nak …. kamu nggak pernah diajarin agama ya? Atau lahir di negara komunis, dan baru terdampar kesini kemarin sore? Hehehe …
Pengin mati pada usia 30? Emang umur kamu sekarang berapa? 35? (*lho, piye to??!!* wakaka …
)
Ya deh, aku doain kamu meninggal dengan sukses seperti keinginanmu …
saya 25, tante. makasiiihhh udah mau doain
Tuti :
Syukurlah baru 25, jadi masih ada waktu 5 tahun lagi kan? Ntar kalo waktunya hampir tiba, saya dikabarin ya, biar bisa siap-siap melayat …
mbak tuti ngak salah kok, tulisan ini aku bikin setelah abis nonton film “The Bucket List”. Aku coba mencari intisari aja apa yang bisa aku bagiin sama orang lain
*hihihi saya udah pernah kasih komen di postingan ini yaaa sebelumnya
*
Tuti :
)
Baguslah, karena tidak semua orang bisa mengambil intisari dariapa yang ditonton/dibacanya lho.
(*Hoo hiya … sudah ada foto lucu Huang tuh di atas
Bunda.. saya tulis tuh mengenai kematian.. mampir yaaaa.. *muka ngarep ON*..
Salam Sayang
Tuti :
Nulis tentang kematian? Tapi bukan kematian diri sendiri kan? (ditulis dari alam kubur dong … hiiiy … )
Ok, langsung meluncur menuju tulisan kematian
Salam juga, KangBoed
bagus banget tuh film….baru kemaren nonton….
dalam banget maknanya…ilmu pengetahuan yang terselip di filmnya juga banyak….suka…..
aku mau review juga…
–
ekabelog
thebelogers.wordpress.com
akusukafilm.wordpress.com
Tuti :
Memang betul ini film bagus. Sudah jadi direview?