JIKA MUSIBAH DATANG TAK TERDUGA …
Pernahkah Anda mengalami suatu musibah ketika sedang berada dalam sebuah perjalanan, musibah yang kecil-sepele, tapi bisa membuat bumi serasa gonjang-ganjing dan langit kelap-kelip? Misalnya, kancing baju yang tiba-tiba lepas benangnya, padahal anda sedang berada di sebuah forum resmi dimana anda menjadi pusat perhatian? Atau tiba-tiba tali tas anda putus padahal tas itu berisi segala macam yang sangat penting, dan sungguh merusak penampilan (sekaligus tidak elegan) menggendong tas celaka itu karena ia tidak bisa lagi dijinjing?
Saya mengalaminya tadi siang. Ketika sedang asyik menjelajah konter demi konter di Centro Ambarukmo Plaza, tiba-tiba saya merasakan ada yang aneh dengan sepatu kanan saya. Ketika saya lihat …. aduh! Celaka 169 (13 kuadrat)!!. Sol sepatu saya ternyata mengkap-mengkap, terbuka seperti mulut buaya menyongsong mangsa. Sepatu ini memang sudah luamaaa tidak saya pakai, dan karena terburu-buru, tadi tidak sempat saya cek kondisinya. Sebenarnya sepatu ini belum terlalu sering saya pakai, sumpah belum lebih dari sepuluh kali. Tapi terlalu lama disimpan (dan tanpa dirawat) rupanya membuat bahannya menjadi getas dan aus, lemnya renggang, dan setelah dipakai beberapa saat, lepaslah lem solnya.
Mati gaya deh saya! Baju, tas dan sepatu sudah matching abis, tapi dengan sol sepatu mulut buaya itu, ancur sudah penampilan saya. Ancur seancur-ancurnya. Saya bukan lagi Miss Matching, tapi missmatching!

Ihiks … sol sepatu saya tak mau lagi setia pada tuannya …
Keep calm. Jangan panik. Tetap anggun meskipun sepatu merengek dan meronta. Kebetulan saya mendapatkan voucher snack gratis di kafe Centro, karena belanja dalam jumlah tertentu. Maka pelan-pelan, bergaya melihat-lihat berbagai barang yang dipajang, saya bergeser masuk ke kafe.
Oke, untuk sementara saya selamat. Sambil menikmati Banana Pancake dan Pink Panther Juice, saya mengerahkan segenap imajinasi saya untuk keluar dari kemelut. Ah, kalau saja saya membawa pita atau sesuatu yang cukup cantik untuk mengikat sol sepatu saya yang nakal. Saya tahu di tas saya tak ada pita, tapi toh saya tiga kali mengaduk isinya seperti orang idiot. Yah, satu-satunya benda yang bisa menolong, yang mungkin bisa saya temukan, adalah karet gelang. Ya, karet gelang. Tapi dimana saya bisa memperoleh karet gelang?
Saya memanggil waitress, menanyakan apakah ia punya karet gelang. Ah! Syukurlah dia mengangguk dengan sigap dan penuh semangat membantu, seperti tim SAR diberi tahu ada korban kecelakaan.
“Ibu perlu berapa?” tanya si Mbak dengan sikap helpfull asli.
“Satu saja,” jawab saya, tapi cepat-cepat saya ralat “Boleh juga dua”. Siapa tahu sol sepatu saya yang kiri solider dengan saudara kembarnya, ikut-ikutan mempermainkan saya, iya kan?
Si Mbak kembali dengan dua buah karet gelang, satu berwarna merah, satu hijau. OMG. Cuma dua aja kok ya nggak sama to Mbaaak … ?! Padahal tadinya saya membayangkan karet gelang warna coklat muda (kan karet kebanyakan seperti itu warnanya?). Tapi come on, sudah ditolong kok masih ngeluh. Dengan gerak rahasia penuh tipu muslihat, saya memasang karet itu melingkari sol sepatu dan pergelangan kaki saya. Saya pandangi kedua kaki saya dengan terharu. Astaga, seumur-umur tak pernah saya membayangkan mengikat sepatu ke kaki saya dengan karet gelang beda warna. Ihiks … !
It’s okey. Yang penting sol saya tidak lepas ketika saya sedang berjalan. Alangkah hebohnya kalau saya sedang berjalan dengan penuh gaya, lalu sol sepatu saya benar-benar lepas … pas … dan ketinggalan di lantai. Lalu ada orang yang melihat dan berteriak memanggil saya : “Mbak, Buk!! Sol sepatunya ketinggalan tuh!!”. Wah, mending saya nyungsep ke sumur deh! (bego, emang ada sumur di mall?)
Tapi dari karet gelang itu muncul ide baru di kepala saya. Bukankah saya bisa menggantinya dengan karet pengikat rambut yang cantik? Maka saya pun pergi ke konter aksesori rambut. Dan alhamdulillah, meskipun tidak seindah yang saya inginkan, saya menemukan karet dengan warna yang sesuai dengan sepatu saya. Maka setelah membayarnya ke kassa, saya pergi ke toilet (masak ke kafe lagi, kembung dong) untuk menggusur karet gelang dari kaki saya, dan menggantinya dengan pengikat yang lebih oke. Selamat tinggal karet gelang, kau purna tugas sudah. Terimakasih atas segala jasamu. Percayalah, namamu akan selalu terpateri dengan indah di hatiku.

Much better …. at least bukan lagi karet gelang

Hopla! Saya kembali jadi Miss Matching!
Secepatnya pulang ke rumah yang semula menjadi obsesi saya, lenyap sudah. With the karet in my shoes (juga With The Song in My Heart, lagu yang indah banget itu), pe-de saya langsung kembali ke puncak. Jalan-jalan, lanjutkan! (halah, itu mah slogan capres … )
Kejadian serupa pernah dialami Yoga, ketika kami (Mbak Edratna, Mbak Imelda, Yoga Amalia dan saya) kopdar di American Sizzler Jakarta, bulan Februari 2009. Karena terlalu bersemangat mengikuti Riku dan Kai yang lari kesana-kemari, sandal Yoga jebol …. Entah bagaimana Yoga mengatasi situasi darurat itu, tapi tampaknya ia cukup survive (meskipun konon, sesudah itu langsung ke Plaza Indonesia dengan Mbak Edratna untuk beli sandal baru … qiqiqi … )
Untuk mengantisipasi situasi darurat sperti itu, hotel-hotel besar biasanya menyediakan sewing kit untuk para tamu, berisi benang dalam beberapa macam warna, jarum jahit, kancing hem, kancing ceples, dan peniti. Yah, siapa tahu jahitan baju atau kancing tiba-tiba lepas, padahal harus menghadap presiden.

Perangkat kecil yang bisa jadi dewi penyelamat
Situasi darurat bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan pada siapa saja (yang ceroboh, maksudnya … ). Maka sebaiknya cek kembali segala sesuatunya sebelum pergi jauh dari rumah, dan bawa kotak PPPK. Tapi jika musibah terjadi juga, putar otak (kiasan aja loh!), dan semoga Tuhan mengirimkan pertolongan …









Ibu Tuti, nuwun sewu nggih, aku ndak bisa nahan ketawa je sepanjang mbaca tulisan accident ini.
Hahahahaha…!!!
Memang nggak bisa diduga ya, Bu. Tapi lumayan kan, bisa bikin ketawa geli sendiri. Hihihi. Usulku, lain kali sedia permen Mentos saja, Bu, di tas. Seperti iklan Mentos itu lho, sepatu toklek, tinggal diakali saja. Hehehe.
Yang ingin kutanyakan: itu motretnya di mana, Bu? Di TKP kah? Sepertinya ada yang kurang, Bu. Yaitu mimik Ibu saat menyadari kali pertama sepatu itu toklek. Mestinya yang pertama difoto wajahnya (hehehe, orang lagi dapat musibah kok malah foto-foto wajah :p ). Tapi kan jadi lebih seru, Bu. Lebih hidup gitu. Hihihi.
Bu Tuti apa kabar? Sehat? Maaf lama ndak ke sini. Kemarin blog-ku sedang semaput cukup lama. Sehat selalu ya, Bu… Salam.
Tuti :
Lha tapi tanpa mentos pun ternyata saya survive je 

Betul itu! Mestinya bawa mentos ya ….
Wah, kalau wajah saya yang dipotret, pasti jelek banget Mas DM. Senyum, tapi manyun dan kecut (meskipun sesudah ketemu sang karet, senyumnya manis bener lho … qiqiqi … )
Alhamdulillah, kabar baik Mas DM. Wah, saya juga lama nggak mampir ke rumah panjenengan. Bukan karena blog saya semaput, tapi karena yang punya blog meh semaput …
salam …
ibu kreatif sekali hehehe
aku pikir tadinya bakalan beli sepatu baru, eh ternyata malah lebih kreatif beli karet yang senada..
Tuti :
Orang kalau kepepet memang biasanya terus kreatif.
Saya nggak berniat beli sepatu baru, soalnya pas nyoba sepatu kan pramuniaganya pasti bakal lihat sepatu sol mulut buaya saya. Maluuuu ….
di lem glukol bu, hehe ato kalo nda, kan bisa beli sandal jepit, biar gak modis juga membantu lho, ok! diputuskan besok-besok sangu sandal di tas, hehe
Tuti :
Sangu sandal di tas kan berat bawanya, mas. Saya mau sangu karet saja ah ….
Wah, Bu… Seru!
Saya bisa mbayangin dah aih saya rindu Centro. Saya ingat betul, waktu masih tinggal di Jogja kalau stress saya bisa kalap belanja di sana. Kelembaban di Indonesia memang salah satunya bisa menyebabkan lem yang merekat di antar bagian sepatu jadi cepat renggang, Bu!
Seru, Bu!
Tuti :
Mas DV, lain kali kalau kalap-mengalap di Centro, saya ngintil dong, biar bisa ikut ngalap juga
Memang iya, sepatu-sepatu saya yang lama nggak dipakai (dan nggak dirawat), banyak yang rusak karena lepas lemnya, atau mengelupas lapisan kultnya. Sedih deh …
Memang pengalaman seru. Apalagi kalau Mas Donny ada disana dan sorak-sorak
Mbak Tuti, saya kan sudah bilang … jangan loncat2 kalau lagi pakai hak tinggi. Jadinya begitu. Untungnya mbak Tuti ini hebat, kreatif abiz. Saya kepikiran sempet2nya ngambil camera hanya untuk motret sepatunya. jiakakakaka. Itu yang luar biasa. Salam saya
Tuti :
). Emang kalau nasib lagi apes … ya begitulah, padahal sebelum berangkat sudah berdoa panjang lho. Memang sih, berdoanya bukan memohon agar sepatu jangan jebol
Wah, saya nggak loncat-loncat lho (cuma jingkrak-jingkrak ….
Iya tuh, daripada orang lain yang motret sepatu saya, mending saya potret sendiri …
Hahaha….mbak Tuti…mbak Tuti, sambil baca tulisan ini saya jadi cengar-cengir abis. Krn saya jadi ngebayangi gimana situasi gawat darurat melanda mbak Tuti yang dandanannya selalu matching itu. Wow nggak kebayang karena ulah sepatu yang nggak bisa diajak kompromi sama tuannya itu. Asli pasti bikin mati gaya, hahaha….
Tapi salut atas ide kreatifnya mbak Tuti, duch meski keadaan udah gawat darurat masih bisa berpikir panjang dan kreatif dan pastinya lebih murah membeli karet rambut dibandingkan beli sepatu baru seketika.
Kalau kejadiaan ini menimpa diri saya, saya langsung bergegas mencari pertolongan pertama dgn masuk ke toko sepatu, meski mungkin dirumah koleksinya sudah bejibun & tujuan ke mall semula bukan utk cari sepatu, hahaha.
Good2 ide kreatifnya ini, kalau kejadiaan ini menimpa saya, saya akan praktekkan pengalaman mbak Tuti ini. Tapi kalau kejadiaannya bukan di mall gimana yach…Ah mungkin harus selalu ingat pepatah “Sedia payung sebelum hujan”, must prefer about everything, halah…bikin pusing, qiqiqi…..
Ok, mbak Tuti, see you later…I always miss you & your posting
Best regard,
Bintang
Tuti :
Prestasi saya (halah, prestasi!) menemukan ide karet rambut ini malah akhirnya bisa saya terapkan pada beberapa sepatu dan sandal lain, yang karena agak kebesaran atau modelnya kurang nyaman di kaki, sering lepas ketika dipakai berjalan. Nah, jadi kalau besok-besok melihat saya memborong ikat rambut, pastilah itu bukan untuk mengikat rambut saya …
Thanks a lot Mbak Lin.
salam hangat
kwikiki…aya2 wae si mbak! kaluk aku pernah terjadi salah gerak di kamar mandi di suatu tempat yg mengakibatkan CD basah kuyup…ya udah dicopot saja yg basah itu…(lha drpd basahnya nular kemana-mana…)
Tuti :
Untung nggak ada razia. Kalau ketahuan petugas Mbak Nut nggak pakai cd, waaah …. blaikk!!
Sik sik siiik … dicopot? DICOPOT? Njuk ora nganggo cd? Whuiiiii …… teneh isis Mbak! Qiqiqiqi …..
apaa yg direnungkan si krudung merah itu…kok di pinggir arus deras gitu lho…ojo sampik menyemplungkan diri lho!
Tuti :
eh nggak ding, nunggu surat dari kekasih yang dimasukkan dalam botol dari pulau seberang (tobaaat!!)
Ngenteni cd-ne Mbak Nut, sopo ngerti keli
Hehehe … saya geli … tapi itu asesori nya pas banget ya … dan mbak Tuti nggak beli sepatu baru?
Kalau dulu, Yoga memang harus beli sandal baru, walau sandalnya udah bisa di selotip … kan tasku lengkap dengan tetek bengek seperti itu: dari obat2an, selotip, obat gosok, peniti … maklum biasa bawa anak-anak, dulu kan si bungsu suka jatuh, berdarah dsb nya. Sekarang anaknya udah gede, ya teteup aja.
Dan kebiasaan hidup di Bogor yang sering hujan, serta saya mudah masuk angin, membuat isi tas selalu ada payung kecil, kalau tak hujan bisa untuk melindungi panas …. apalagi saya sering menggunakan kendaraan umum, dan sekarang mencoba lebih sering jalan kaki walau berpanas-panas.
Tuti :
Saya memang sedang berusaha keras untuk ‘puasa’ beli sepatu baru Mbak, lha wong di rumah sudah ada lebih dari 60 (weissh … kok jadi buka rahasia!). Tapi yaa …. karena namanya juga ‘usaha’, kadang sukses kadang gagal
Wah, isi tas Mbak Enny selengkap itu? Tas saya juga kayak laci berjalan, tapi isinya seperangkat make-up (soalnya kalau habis sholat kan harus berbedak lagi biar wajah saya nggak kayak pantat kuali … hehehe
), parfum kecil, beberapa jarum pentul, peniti, dan bros, kamera, ponsel, kunci-kunci, tissue, pick tooth, saputangan, dll … Mungkin sekarang perlu ditambah selotip, stepler, lem, karet gelang, dan paku …
mantap, mantap, mantap…! ada 3 mantap:
pertama, tetap kalem, tidak panik, dan berusaha menenangkan diri.
kedua, berpikir cepat dalam situasi darurat
ketiga, tidak lupa mengabadikan momen langka itu…
hehehe….
Tuti :

Mantap ya Da, bukan mantaff to?
harus begitu, maklum jadi guru kan sudah biasa dipelototin murid sekelas. Kalau terjadi error, harus cepat melakukan kamuflase …
Kalau soal potret-memotret, dasar narsis ya teuteup narsis dalam situasi dan kondisi apa pun! Heuheuheu …
Benar2 jurnalis sejati. Wong dilanda musibah kok masih sempat2nya memotret. Luar biasa insting penulisnya. Pas kejadian, langsung teringat untuk menulis postingan. Sekali lagi, dahsyat, Bu…
Tuti :
Sekali lagi, bukan karena naluri jurnalis saya terlalu tajam Bang, tapi karena saya seorang narsis sejati
Ide yang muncul seketika seperti ini seringkali malah lebih powerfull dan cepat ditulis, sehingga menggeser topik-topik tulisan yang sudah lama direncanakan.
Terimakasih Bang Hery ..
pernah banget…
untung… (masih untung???) kejadiannya di sebuah Mall yg ada one stop repair shoe…
jadi sambi jalan terseret-seret mampir disitu langsung diperbaiki…
selesai langsung cabuuuuutttt….
wakakakakak…
Tuti :
Selesai langsung cabuuuuuttt ? Maksudnya, sol yang sudah selesai diperbaiki langsung dicabut lagi??? (*gebleg.com*)
mengkap-mengkap … !!!???
Huahahahha …
lalu …
pengikat rambut … sang penyelamat …
But tetep aja bu …
Rada bagemanaaaaa getoh …
Sepatu coklat … tas beige …
kerudungnya tetep Merah ndak ya … ???
Tuti :
)
Sepatu coklat … tas beige … kerudung ya jelas coklat juga Om, lha wong Miss Matching gitu loh ….
(kerudung merah dicuci dulu
qiqiqi… lucu banget bu pengalamannya … saya pernah juga ngalami peristiwa gitu. Waktu itu saya dan suami mau jagong manten, pas di depan pintu gedung jebol sendalnya … untungnya ketemu bapak ibu saya yg diundang jg ke acara itu dan kebetulan udah mau pulang … akhirnya … tukeran deh …. ibu pulang dg sandal jebol, saya dg pede masuk gedung meski sendal ibu agak kegedean …
Tuti :
Mbak Dewi (ini Mbak Dewi UII ya?) untung ketemu ibu. Kalau nggak? Oh, bisa juga lho pinjam sandal mbak-mbak penerima tamu, kan mereka pada duduk saja di belakang meja, nggak kemana-mana. Pakai ninggal KTP atau jam tangan ya nggak apa-apa ….
ihihihi … kreatip … kreatip.
tapi ada yang kurang lho bu, … hak paten!
ati-ati lho bu, itu kan bisa jadi model sepatu baru.
Haaaatsii!!!
Tuti :
Dan kalau sesudah ini para penjual karet rambut pada kelarisan, itu berkat saya (halah!)
(*tutup hidung pakai masker, soalnya Mascayo lagi flu babi … eh, flu manusia*)
Betul Mas, hak patennya mau saya daftarkan
Pengalaman bu Tuti ada-ada saja. Saya juga punya pengalaman yang mirip. Ceritanya saya njagong manten dengan ibu saya. Karena sudah agak telat saya berangkat tanpa memperhatikan kondisi sepatu. Sampai di pintu masuk sol sepatu saya lepas. Mati aku!! Mau pulang kok gak enak karena ibu saya jauh-jauh datang dr Surabaya kok batal njagong. Akal-punya akal, saya seret kaki saya yang sol sepatunya mangap. Jadinya seperti orang yang sakit kakinya. Saudara-saudara bertanya kenapa kakinya sakit. Terpaksa bohong kalau kena paku besar. Ibu saya senyam-senyum saja. Beliau berkata, inilah njagong manten yang paling berkesan selama ini. Wah, ini ngenyek ataukah kasihan. Ini bisa jadi bahan obrolan dengan adik-adik saya, kata ibu. Bagi saya itu njagong paling memalukan. Untung akal manusia tak terbatas variasinya ya bu.
Tuti :
Kakinya terkena paku besar? Sebesar apa? Wakakaka!
Untung nggak ketemu teman atau saudara yang berprofesi dokter, yang lalu memaksa memeriksa kaki Pak Eko. Kalau diperiksa betulan, Pak Eko bisa berkilah lagi : “Pakunya besaaaar banget, sampai sepatuku jebol!”
Hehehe ….
Ibu Tuti saya mampir sini
waduuuh ibu keren ya akalnya buanyak ! kreatif
And yes it looked cool !
Really cool
Tuti :
Eka, terimakasih sudah mampir.
Hehehe … dalam kondisi kepepet, segala daya upaya harus dikerahkan.
Terimakasih
hihihi mbak…. untung solnya yang lepas mbak
bukan hak nya. kalo haknya ngga bisa dengan cara itu kan?
Saya pernah kejadian mbak… dan memalukan sekali.
Hujan lebat, padahal saya harus jalan dari tempat kerja satu ke universitas untuk mengajar. Pas saya jalan (ada 40 menit jaraknya) tiba-tiba hujan deras. Untung ada payung… BUT, waktu saya mau menyeberang jalan besar (lebarnya kira-kira 25 meter kali ya) sepatu sandal saya yang pake itu terbuka bagian depannya karena basah, sehingga terpaksa saya seret-seret sampai ujung jalan. Sulit sekali jalan begitu sampai ke universitas yang masih 15 menit, dalam keadaan hujan. Dan saya tentu sambil lirak-lirik sepanjang jalan, kalau-kalau ada toko sepatu. Tidak ada! Terpaksa sekali dengan cara begitu saya mengajar. Sepatu ngablak, baju basah kuyup (sampe ke dalam-dalam) persis kucing kecebur kolam deh. Untung muridnya cuma dua, satu bapak, dan satu ibu. Akhirnya mereka bilang, sensei kita batalkan saja kelasnya, sensei pulang, nanti masuk angin. Wahhhh gimana caranya pulang naik kereta???
Dan akhirnya si ibu mengantar saya pulang naik taxi dari depan univ sampai ke rumah saya yang jauh. ongkos taxinya 8000 yen saja! (800.000 rupiah) dan dibayari si ibu. Tak lupa si ibu wanti-wanti supirnya, “matikan ACnya ya nanti sensei saya ini masuk angin”…. bener-bener kasiaaaan deh saya hari itu.
(Aku masih ngga habis pikir kok warna dan model karet pengikatnya itu bisa matching)
EM
Tuti :
). Kucing kecebur kolam? Wakaka! Rambut yang sudah diblow kempes dong
.
Hahaha … hihihi … hehehe …. uhuk,uhuk,uhuk (*terbatuk-batuk*)
Sumpah saya terpingkal-pingkal baca komen Mbak Imel (eh, bukan nggak berempati pada kemalangan Mbak lho, tapi memang lucuu banget membayangkan kondisi Mbak saat itu … hihihi
Tentang sepatu yang lepas haknya, saya pernah lho. Pada suatu pesta lagi, perpisahan kelulusan SMA. Bagaimana saya mengakalinya? Karena hak yang lepas nggak bisa dipasang secara darurat, maka agar jalan saya tidak kelihatan timpang, saya jinjit (mengangkat tumit). Untung hak itu tingginya cuma 5 cm, bukan 9 cm …
Iya, memang saya bernasib baik, menemukan pengikat rambut yang warnanya matching dengan sepatu saya. Konternya ya di toko itu juga (Centro). Tapi sepatu itu sekarang sudah saya pensiun, soalnya sangat mengkhawatirkan kalau dipakai lagi. Padahal saya suka sekali modelnya (genit soalnya … kekekekek … ).
Pelajaran buat saya, inventaris memang harus selalu dipelihara. Jangankan sepatu, alutsista TNI saja pada celaka karena tidak dipelihara … ihiks … sungguh saya sedih melihat nasib malang para prajurit yang tewas dalam kecelakaan …
Lho, bukannya ada asisten Mbak Tuti yang biasanya ngecek mobil? Mbok ya asistennya itu diminta ngecek sepatu-sepatu dan yang lainnya to Mbak…nggak cuma ngelap mobil aja…
Masalah mangapnya sol sepatu (posisinya persis dengan mangapnya sol sepatu Mbak Tuti) juga pernah saya alami. Namun, saya masih untung 100x, karena sol itu jebol begitu saya keluar dari kelas (saya yakin kok ketika di kelas belum jebol, wong rasanya beda). Meskipun begitu, saya masih harus ngajar lagi dua jam berikutnya. Larilah saya ke Jalan Solo cari toko sepatu yang sudah buka (waktu itu belum ada jam 9). Satu-satunya toko sepatu yang sudah buka adalah Bata, itu saja yang paling barat, mepet perempatan Bethesda itu. Maka, jadilah hari itu sepatu saya baru. Sepatu yang lama saya tinggal di toko.
Tuti :

Coba kalau waktu itu Buhan telpon saya, pasti saya antarkan sepatu saya yang terbagus
Wah, sepatu yang jebol ditinggal di toko? Jangan-jangan diperbaiki terus dipakai sama yang jaga tuh …
Wah, saya pernah mengalami yang namanya “sol ketinggalan”.
Waktu itu lagi jalan di Jakal, dari rumah mau minjem DVD di rental. Trus mampir bentar beli lotis di pinggir jalan. Trus pas saya mau pulang, tiba-tiba temen saya bilang, “Hey, Muzda.. Itu solmu ketinggalan.”
Hahaaa …
Langsung saya nyari becak.
Kalo kata DV memang kelembababan di Indonesia itu berpengaruh sama nggak kuatnya lem sol kita, pantesan aja banyak tukang sol yaa…
Tuti :
Hehehe …. itu sol yang ketinggalan diambil lagi nggak? Kan bisa ngasih rejeki sama tukang sol sepatu
[...] secara tanpa sengaja , di pagi buta saya menjadi pelengkap komentator yang ke tiga tiga tiga tiga disini. Amboi !!! senang rasanya bisa jadi pelengkap penggembira di blog istimewa. Memang apanya yang [...]
wah tetap tenang dalam situasi under pressure ya bu…
jadi ingat sama MacGyver saya waktu baca tulisan ini hihihi…
Tuti :
hehehe … kalau di tangan MacGyver, sepatunya bisa jadi meriam
hiks…hiks…. ikut sedih …. tapi saya ngampet ketawa baca tulisan ini ….
Serius mbak, hal seperti ini sering terjadi pada perempuan lain, pasti deh. Dan yang hebat …. mereka selalu punya managemen krisis untuk mencari solusi.
Demikian juga mbak Tuti … lha tak bayangke … dari cafe ke counter asesoris olehe tindak agak diseret atau malah jinjit-jinjit yo ?? Ha..ha…ha…lucu tenan.
Tuti :
Manajemen krisis? Ha! Inilah kalau Bu Direktur Utama holding company memberi komen, pakai istilah canggih bin sophisticated. Jaan, mencerminkan sebagai manajer ulung tenan.
Yang gawat itu waktu mau masuk ke cafe Mbak, lha solnya sudah mengkap-mengkap mau lepas. Kalau dari cafe ke counter asesoris kan solnya sudah diikat karet, jadi jalannya sudah pe-de …