SINGAPURA, DISINI SINGA MENGAUM
Singapura memiliki arti ‘Kota Singa’, sehingga negara-kota ini mengambil singa sebagai simbolnya. Tapi, siapakah sebenarnya yang pertama kali menamakan kota supersibuk ini dengan Singapura?
Dialah Sri Tri Buana, atau disebut juga Sang Nila Utama, seorang penguasa dari kerajaan Sriwijaya. Pada abad ke 13, Sri Tri Buana mendarat di pulau itu, dan melihat singa disana. Ia lalu menamakan tempat itu Singapura, dari bahasa Sanskerta ’singa’ dan ‘pura’.
Di dalam kitab Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365, Singapura disebut dengan Temasek (Kota Laut). Pada tahun 1390 Parameswara, penguasa dari kerajaan Sriwijaya, melarikan diri ke Temasek setelah dikalahkan oleh Majapahit. Ia mendirikan pemerintahan di Temasek, kemudian membangun kesultanan di Melaka, dan Temasek menjadi pelabuhan perdagangan penting. Pada tahun 1613 Portugis membakar pelabuhan Singapura. Semenjak itu Singapura silih berganti dikuasai oleh bangsa Eropa. Kemudian pada tahun 1819, Sir Thomas Stamford Raffles datang ke Singapura dan mulai membangun kota itu menjadi pelabuhan yang maju dan ramai.
Nah, anak-anak … cukup sekian pelajaran sejarah berdirinya Singapura. Selanjutnya Bu Guru akan cerita yang ringan-ringan saja selama melancong ke sana …
Barangkali karena menurut sejarahnya Singapura didirikan oleh para penguasa kerajaan Sriwijaya, maka orang Indonesia gemar betul jalan-jalan dan berbelanja di kota singa ini. Meskipun tak kurang-kurang juga yang datang kesana sebagai TKW …

TKW di atas sedang mendapat libur dari majikan, jadi jalan-jalan deh … mejeng di depan patung singa. Huuu …. ndeso!
Saya pertama ke Singapura tahun 2001. Wah, langsung terkagum-kagum dengan keindahan dan kebersihan bandara Changi. Bunga anggrek, yang menjadi bunga nasional Singapura, bertebaran dimana-mana dalam kelompok-kelompok besar, mekar warna-warni. Di Changi juga tersedia banyak brosur obyek wisata, sehingga bagi wisatawan yang baru pertama kali ke Singapura, tidak perlu celingukan cari-cari informasi.
Pulau Sentosa yang terletak di bagian selatan Singapura adalah salah satu obyek wisata andalan Singapura. Di pulau ini terdapat puluhan landmark Singapura, antara lain Fort Siloso, benteng yang dipakai sebagai pertahanan dalam melawan Jepang pada Perang Dunia II. Juga terdapat patung Merlion (singa) raksasa. Pengunjung dapat naik sampai ke puncak merlion dari dalam patung, sambil mempelajari sejarah yang berbau mitologi tentang singa putih ini. Di kepala singa, kita bisa keluar ke sebuah pelataran, menikmati pemandangan ke se antero pulau dan laut yang mengelilinginya.
Pulau Sentosa bisa dicapai dengan mobil, bus, Sentosa Express, ataupun dengan cable car. Tiket cable car sekitar 19 S$ untuk kabin biasa, dan 22 S$ untuk glass cabin. Bagi yang menderita phobia ketinggian, sebaiknya jangan naik cable car, daripada semaput di atas! Saya yang tidak takut ketinggian, enjoy naik pesawat, dan sudah beberapa kali naik cable car pun, tetap saja keder berada di dalam kabin yang tergantung-gantung pada seutas kabel, ratusan meter di atas permukaan tanah. Kengerian saya adalah karena cable car tidak memiliki mesin seperti pesawat terbang, dan keselamatan kita sepenuhnya ada pada kawat baja tempat cable car tergantung.

Menara stasiun cable car di pulau Singapura terdapat di Mount Faber. Jangan melihat ke bawah, ntar semaput! Doa keselamatan dan mohon ampun atas segala dosa pun tak putus dipanjatkan …

Di Mount Faber (2001) : MAM memakai rompi, sorban, dan kalung ular di leher, bergaya bak pawang ular India. Awaas … !! Ularnya pingsan ketakutan (lho, yang ketakutan kok malah ularnya?)

Secara periodik, mulut naga di pulau Sentosa ini akan terbuka dan menyemburkan air. Wah, telat motretnya …
Singapura dan Malaysia adalah dua negara yang bertetangga. Checkpoint perbatasan kedua negara melalui jalan darat terdapat di Johor. Saya beberapa kali melintasi perbatasan ini dengan mobil, yaitu ketika bolak-balik dari Singapura ke Kuala Lumpur, dan ketika diajak oleh seorang auntie yang tinggal di Singapura untuk berbelanja ke Johor. Karena jaraknya dekat, banyak penduduk Singapura memilih berbelanja ke Johor (Malaysia) karena lebih murah. Satu kaleng soft drink di Singapura harganya 1 S$, sedangkan di Johor 1 RM. Sama-sama bernilai 1, tapi nilai 1S$ setara dengan sekitar 2,5 RM.
Kali pertama melintasi perbatasan tidak ada masalah, karena kami hanya jalan-jalan sehingga tidak membawa kopor pakaian. Di imigrasi, semua penumpang mobil harus turun, dan naik ke lantai dua untuk menjalani pemeriksaan paspor. Pada waktu itu (kalau nggak salah tahun 2004), sedang heboh terorisme, dan ada kabar teroris dari Indonesia melarikan diri ke Singapura dan Malaysia. Di perbatasan, banyak berjaga polisi Singapura dengan senapan laras panjang dan anjing-anjing pelacak yang gemar menyeringai, memperlihatkan giginya yang putih tajam, siap menerkam. Wadow … ngeri juga!
Polisi Singapura (foto : Wikipedia)
Nah, heboh terjadi ketika saya melintasi perbatasan di Johor, dari Kuala Lumpur menuju Singapura (2007) bersama dua adik ipar. Bertiga, jumlah barang kami adalah lima kopor dan tiga tas besar. Maklumlah, yang namanya emak-emak, kalau bepergian pasti bawaannya seabreg. Sebenarnya dari tanah air kami cuma membawa empat kopor dan dua tas, tapi di Kuala Lumpur kopor kami ‘beranak’ sehingga menjadi lima, dan tas menjadi tiga, untuk membawa belanjaan.
Kocap kacarito, di imigrasi kami harus turun dari mobil, DENGAN MEMBAWA SEMUA BARANG BAWAAN untuk diperiksa. Alamak …. !! Tiga orang membawa lima kopor dan tiga tas besar, pigimane caranye? Padahal tempat pemeriksaan paspor itu ada di lantai dua, dan kami harus naik melalui eskalator. Hiks …
Setelah memutar otak (berpikir keras maksudnya, bukan mutar otak pakai obeng!) kami menemukan cara. Dua adik saya menunggu di lantai atas, di ujung atas eskalator, lalu saya dari bawah meletakkan kopor-kopor kami di anak tangga. Kopor pun naik satu demi satu dengan anggunnya, dan begitu tiba di atas langsung disambut kedua adik saya. Alangkah jeniusnya kami, bukan?
Selesai mendapatkan stempel dari petugas imigrasi di paspor, kami harus turun kembali ke lantai bawah, melalui eskalator yang lain. Penuh percaya diri, kami menurunkan kopor dengan cara yang sama. Saya gantian menunggu di bawah, dan adik saya ‘mengirimkan’ kopor-kopor kami turun lewat eskalator. Malang tak dapat pindah ke Yogya, Untung tak bisa pergi ke sawah … eh, salah … malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Adik saya kurang pas meletakkan dua kopor di anak tangga, dan ditambah tarikan gaya gravitasi bumi, dua kopor tersebut dengan sukses terguling-guling, jatuh menimpa seorang pria yang sedang turun di eskalator. Malangnya lagi, orang tersebut rupanya berdarah panas, dan langsung mendamprat kami dengan semburan kata-kata seperti mitraliur. Saya tak begitu paham bahasanya, kedengarannya campuran antara bahasa Inggris dan Mandarin. Saya hanya bisa menangkap, bahwa perbuatan kami itu melanggar aturan!
Kami berdiri kaku, tegang dan agak takut juga. Maklum, ini Singapura, negara yang meludah pun diatur dengan undang-undang, dan semua pelanggar undang-undang bakal kena denda atau dikurung dalam penjara. Melihat ribut-ribut itu, seorang petugas wanita berwajah Melayu datang mendekat. Setelah tahu duduk persoalannya, ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ibu, kenapa susah-susah bawa kopor lewat eskalator? Ada lift di sana.” ia berkata ramah sambil menunjuk ke sebuah pintu lift.
Whaatt??!! ADA LIFT? Dan kami mengira telah begitu jenius bersusah payah menggelundungkan kopor melalui eskalator! Huwaa … !

Perbatasan Singapura dan Malaysia, Johor-Singapura Causeway, dilihat dari Woodlands Checkpoint Singapura (foto : Wikipedia)
Salah satu tempat yang kami kunjungi pada tahun 2001 adalah The Balm Garden. Tempat ini adalah semacam museum, yang memperlihatkan budaya tradisional etnis Tionghoa zaman dulu. Pada salah satu bagian, terdapat diorama yang menggambarkan berbagai cara penyiksaan yang dilakukan pada zaman dulu terhadap orang-orang yang dianggap bersalah. Wah, ngeri sekali! Saya langsung menutup mata dan ngacir keluar (tapi waktu lari keluar sudah melek lagi lho!).
Yang menarik, di depan museum terdapat sebuah stan yang menyewakan pakaian tradisional China bagi para pengunjung untuk berfoto. Maka naluri narsis kami pun muncul, berpose dengan pakaian kebesaran yang benar-benar besar itu.

Putri Ling-Lung dan Pangeran Sin-Ting, di depan kuil Siauw Lim Pay …
Ah, cerita tentang Singapura akan memakan waktu 1001 malam, oleh karena itu disambung besok malam lagi deh. Kan masih ada waktu 1000 malam lagi …









Hahahaha fotonya lucu-lucu, Bu!
Nganu, saya belum pernah ke Singapore tapi yang menjadikan penasaran adalah, negara yang kecilnya cuma se-Jogja (bener ngga?) tapi kok sentosanya ngalah2i Indonesia ya?
Dan seorang Tuti Nonka pun butuh waktu 1001 malam buat menulisnya hingga tuntas…tas…tas
Tuti :
Nganu Don, Singgapur itu sentosa karena punya pulau Sentosa. Lha kalok kita kan punya pulau yang cuma gumunan terus … itu, pulau di ujung Sabah … “Wee … kok Singgapur elok ya” , “Wee … kok Singgapur sugih ya”
Kalau yang nulis tentang Singapura seorang Donny Verdian, mungkin cuma perlu waktu 1,001 abad (lho, malah luwih suwe … !)
Bu, sama kaya DV, saya jg belum pernah ke S’pore babar blas! Pengennya ke sana memborong buku. Hehehe. Tapi kapan ya?
Tuti :
Jadi sekarang lebih suka beli buku di Jakarta saja, sudah cukup lengkap juga kok
Waktu ke S’pore tahun 2001, kami memborong buku di Kinokuniya, satu dos besar. Busyet, ternyata di bandara overweight, dan harus bayar muahaaalll sekaleee …
cerita perjalanan ke Singapura ini
sungguh menarik dibaca……
para pembaca seakan terbius
dan segera pengen berkunjung
ke sana setelah membaca postingan ini
…ditunggu lanjutan ceritanya
masih ada waktu 999 malam lagi….
Tuti :
)
Ehm …. yang 999 (sebetulnya 1000) malam lagi, nggak harus mulai malam ini lho Bang, bisa kapan-kapan …
Dan bagi yang pengin ke Singapura, jangan lupa bawakan saya oleh-oleh dari Takashimaya (nggak macem-macem kok, cukup yang merknya Bonia, Guess, atau Channel …
bener tuh bu…
waktu numpak cable car ke sentosa, semua doa tak woco..
doa maem, doa bobo, doa masuk kamar mandi, maunya sih baca juzz amma, tapi keburu nyampe
Tuti :
Waduh, padahal di cable car nggak ada kantin, nggak ada tempat tidur, nggak ada toilet ….
Nggak baca Surah Yasin ya Dhal? Itu doa untuk mengantar orang yang mau meninggal
Mbak,
Singapore adalah satu-satunya negara yang pernah membuat saya sakit perut. Makanannya ngga enak hihihi. Cuma satu yang sempet terasa enak, Carrot Cake. Tadinya saya pikir kue manis tau-taunya seperti kwetiauw hihihi. Yang pasti saya ngga mau lama-lama nginap di Singapore hehehe. (Soalnya waktu itu nginap di Raffless semalam, langsung menjadi miskin rasanya hahaha. 1 malam 700 dollar saja jeh)
Duh itu MAM ngga geli ya kalungin ular hiiiii
EM
Tuti :
Carrot Cake? Bukannya itu kue wortel (kalau dilihat dari namanya). Tapi bentuknya kayak kwetiauw? Hehe … aneh ya orang Singapura ini. Saya dulu makannya kok enak saja (dasar perut kantong nasi, apa-apa masuk tanpa penolakan … hihihi).
Nginap di Raffles Hotel? Ya iyalah mbak …. kalau saya nginap disana bukan cuma jadi miskin, tapi masuk penjara karena nggak bisa bayar
. Saya pertama ke Singapore nginap di Mandarin Hotel, sama juga … bikin pingsan tarif kamarnya. Habis itu pindah ke hotel India, di belakang Orchard Road, cuma 200 S$ semalam tapi sudah cukup nyaman.
Hihi … iya, saya heran juga, kok MAM berani pegang ular … dan ularnya itu lho, malah takut (berarti MAM lebih menakutkan dari ular? weks … !)
waaaaah.. ajak ajak dunk bu.. hehehe.. kayaknya bagus yaa..
Salam Sayang
Tuti :
Boleh, boleh …. KangBoed mau bayarin tiket pesawat, hotel, dan uang saku jalan-jalannya kan?
Kata Mbak Tuti: “ini Singapura, negara yang meludah pun diatur dengan undang-undang”. Gimana kayaknya kalu di sini.
Tuti :
Kalau di sini, undang-undang (maaf) diludahin oleh sebagian orang …
tumben jilbabnya ndak abang mbak…qiqi…
btw, putri ling-lung itu kayaknya wajahnya kok tertekan gitu … karna menanggung beban topi kerajaan?
Tuti :
Iya Mbak, tertekan banget sampai linglung gitu lo! Eh, bukan ding … tertekan karena jilbab merahnya dipinjam Mbak Ayik untuk jadi panitia penataran 1000 lurah di Solo …
Walah Singapura ki cilik sak numplik, nggateli….(gatel pengin kesana maksudnya, hehe….)
Salam kenal Bu…..
Tuti :
Cilik, nggateli … itu kutu MasNur. Disemprot B****n saja!
Salam kenal ugi Mas, sugeng rawuh, maturnuwun sampun kerso pinarak wonten mriki …
lapooooor…..komen2nya dah dibales
laporan selesai…………..
singapore……
sungguh indah nan gemerlap
Tuti :
Laporan diterima, bubarkan barisan!
Singapore kelihatan dari Medan ya Bang?
Asyik bgt bunda jalan2nya
kapan aku bisa sampe sana ya???? ^_^
I will…Soon…doakan ya bunda….
Tuti :
Dari Duri, ke Singapore kan tinggal lompat aja, Ria. Nggak pake bayar fiskal, lagi.
Kalau mau kesana, kontak saya ya (mau ikut,siapa tahu dibayarin Ria …. hehe … maunya!)
Of course you will be there soon …
Wahhh…
Jalan2 asyik nich…….
Tuti :
Iya, mau ikut? Mandi dulu …
wah … saya pernah masuk singapura.
hadiah dari SQ-line, gara-gara pesawatnya rusak jadi kita diinapkan di Singapura gratis sehari semalam … lumayan bisa jalan-jalan ..
tapi eh .. saya kok langsung kangen indonesia … kangen sawah .. ladang .. rumah-rumah joglo … dll.
Tuti :
)
Wah, kalau kangen sawah, ladang, dan rumah-rumah joglo, ke Yogya aja Mas. Ntar saya anter ke rumah Mbah saya di desa. Kebetulan kebun kelapanya mau panen, siapa tahu Mascayo bisa bantu manjat kelapa (eh, manjat kelapa mah susah … maksudnya manjat pohon kelapa …
Mbak ini ceritanya enak banget dibacanya, sampai2 udah kalimat terakhir nggak terasa harus bersambung lagi…Baiklah kalau begitu tak tunggu kelanjutan ceritanya di malam2 berikutnya … (kayaknya bisa memakan waktu lebih dari 2.5 thn ini cerita tamat qiqiqi …. )
Ok, mbak selamat beraktivitas kembali, semoga hari2 mbak Tuti disana selalu indah dan penuh warna
Best regard,
Bintang
Tuti :
Saya sih bisa aja cerita sampai 1000 malam, tapi yang dengerin … mana tahaaan !!! Bisa-bisa saya ditimpukin orang sejagad blogsphere …
Terimakasih Mbak Lin, selamat beraktivitas juga.
Salam hangat selalu
Saya dulu 6 bulan ditugaskan di S’pore tahun 1997 sebelon krismon
)… ah pokoknya kalo buat tinggal di sana nggak betah…. boring juga…
yang membuat perusahaan Amerika tempat saya kerja hengkangdan tinggal di ang mo kio. S’pore menurut saya sih enak buat visit tapi entah kenapa kalo buat stay nggak betah rasanya. Udah gitu aromanya barat nggak, timur nggak (selatan nggak, utara juga nggak!Btw…. itu putri Ling-Lungnya cantik loh. Cocok deh mbak Tuti jadi aktris di pelem silat memerankan permaisuri dinasti chan (emang ada??
) keturunan Jawa Barat bernama princess chan che bhok. Wakakakakak…….
**lariiiiiii sebelum digigit princess chan che bhok**
Tuti :
Tapi yang menarik, barat nggak, timur nggak, selatan nggak, utara juga nggak. Itu mah di kutub Mas
Tinggal di Singapore nggak enak? Ah, yang bener Mas. Tapi kalau nggak punya duit kayak saya, memang sengsara sih, wong semua mahal, dan apa-apa diatur dengan undang-undang …
Princess Chan Che Bhok? Masih mending Mas, daripada Prince Lali Che Bhok …..
(*jorok.com*)
tegang di negeri orang, sungguh amat kreatif
Tuti :
Tegang kok kreatif ki piye to mas?
Telat aku kembalikan jilbab merahnya membuat Mbak tuti terpaksa menyandang beban mahkotanya putri Ling Lung yang sungguh berat … Maafkan aku Mbak … aku tak bermaksud ….
Tapitapitapi, fotonya cantik sekali …. yang mana ? yang ada air mancurnya itu lho Mbak, yang putih mulus itu … seger diliatnya ….
Tuti :
Terimakasih Mbak Ayik, saya memang putih mulus dan segar …
Eiitt … ! Bentar-bentar …. PUTIH MULUS? Maksudnya? Lhadalah, singa itu to? Ihiks … tak kira muji aku je mbak
ngakak guling2 baca koper naik turun eskalator padahal ada lift
Tuti :
Apalagi kalau lihat sendiri kopor itu terguling-guling di eskalator, sementara tiga emak ‘jenius’ itu cuma melongo nggak bisa berbuat apa-apa …..
Kalo saya gak bakalan betah tinggal disingapura, karena udah biasa hidup semrawut dan gak banyak aturan..hehe
Aku cinta indonesia
Tuti:
Yeee …. aku juga cinta Indonesia kok
Hahaha terbayang bagaimana wajah mbakTuti saat mendapat omelan. Tapi orang Singapura harusnya seneng, lha orang Indonesia mborong barang di sana.
Mbak itu Putri Ling-Lung nya cantik sekali…
Tuti :
)
Iya memang. Kalau kita ke Orchard Road, kita bisa mendengar orang ngomong pakai bahasa Indinesia, bahkan bahasa Jawa, dimana-mana. Heran …. orang Indonesia kok suka sekali belanja ya.
Hehe … Putri Ling-Lung nya nggak sadar lho kalau cantik sekali (lha wong linglung …
Salam kenal mbak Tuti,
Ingat Singapura, ingat lagi ngurusin org sakit dan makanannya yang nggak enak (setuju dengan mbak Emi).
Yang disenangin banyak toko bukunya, terutama buku2 yang sesuai dgn profesiku.
Tuti :
)
salam kenal juga, Cindy …
Ke Singapura ngurusin orang sakit? Sakitnya obesitas ya, sehingga harus dikurusin? Ooo …. maksudnya, mengurus orang sakit … hihihi …
Tentang makanan yang nggak enak, wah … lidah Cindy sama dengan Mbak Imel ya. Lidah saya sih sudah ada penyedap rasa alaminya, jadi semua makanan terasa enak asal halal (dasar rakus dan gembul …
kalo disingapura singa mengaum
tapi kalo disini, kuda berteriak he he he
Tuti :
Kuda bukannya meringkik? Kalau yang berteriak tuh kayaknya pria berwajah gelap (sampai nggak kelihatan hidungnya) bernama zulhaq …
Mau menginap di Singapura dan tidak takut sama Singa., tapi takut ndak bisa pulang.. Karena kesenengan atau kehabisan uang? Hmm.. coba tebak..
Tuti :
Oke, aku tebak ya : karena kecantol amoy Singapura
Yang belum aku lihat foto Masjid Sultan, Masjid Baalwi, atau masjid di bawah gedung bertingkat di Orchid Road. Apa mbak Tuti tidak sholat di sana?
Tuti :
)
Wah … nggak Mas Gun, soalnya hotelnya dekat Orchard Road, jadi kita sholat di hotel saja (saya malah nggak tahu kalau di Orchard Road ada masjid
Huahahaha …
Saya tertawa terpingkal-pingkal …
terutama membaca ritual koper di eskalator ituh …
mangkanya to … dilihat dulu … (sok tau trainer ini )
And BTW …
Where is your kerudung merah ?
(lariiiiiii …)
Tuti :
Walah, Om …. lha wong saya sebelumnya sudah dua kali lewat imigrasi itu, dan ndak pernah lihat orang naik pakai lift je. Semua orang yang mau melintasi perbatasan ya lewat eskalator. Soalnya mereka memang kebanyakan orang Singapura dan Malaysia yang hanya belanja atau pergi kerja, jadi nggak bawa kopor. Yang pakai lift itu cuma manula atau mereka yang pakai kursi roda.
Untung yang kejatuhan kopor bukan Om ya … hihihi …
Kerudung merahnya di dalam kopor yang terguling-guling itu Om, wakakaka!
Konon, yang dilihat oleh raja Palembang itu sebenarnya cuman “harimau” karena singa tidak mungkin tinggal di Asia, tapi yang keluar dari mulut pangeran adalah “singa…singa….singa…” maka kotanya diberi nama Singapura…
Yang menarik, lambang negara Singapura adalah 1 singa dan 1 harimau, singa melambangkan Singapura dan harimau melambangkan “bekas” bagian dari negara Malaya Raya… (lambang Malaysia = dua-duanya harimau)..
Dan yang menarik lagi, dulu jajahan Inggris itu ada di Bengkulu dan Singapura adalah jajahan Belanda. Karena Belanda tidak tahu arti strategis Singapura di masa depan, maka ia mau saja Singapura ditukar dengan Bengkulu sehingga Singapura jadi jajahan Inggris dan Bengkulu jadi jajahan Belanda..
Tuti :
)
Siip! terimakasih tambahan informasinya, Pak Tri. Tentang Inggris dan Belanda yang saling tukar jajahan itu, saya juga pernah baca di sejarah. Enak aja ya orang-orang bule itu, tanah bangsa lain kok diambil dan ditukar-tukar sak enak udele dewe (lha kalau udele orang lain ya yang punya udel ngamuk …
postingannya lucu eeuuuyy!! aku ngakak abis baca pas cerita naek turunkan 5 kopor pake eskalator di kantor imigrasinya. hahahaha.. cahyoo Bu..
Tuti :
Cahyoo? Maksod looe?? (*gakmudheng.com*)