MOZART, DARI ELVIRA MADIGAN HINGGA BAYI CERDAS
Jika anda penggemar musik, mungkin anda pernah mendengarkan, dan menyukai komposisi musik Mozart, meskipun mungkin anda tidak tahu bahwa musik itu adalah karya Mozart. Saya sendiri baru tahu bahwa musik yang saya dengar dari RRI melalui radio di rumah, ketika saya kanak-kanak dulu, adalah musik Mozart. Lama kemudian, setelah saya dewasa dan memiliki kasetnya (waktu itu CD belum kocap), baru saya ngeh kalau musik yang saya dengar itu adalah Elvira Madigan, atau Eine Kleine Nachtmusik, atau Symphony No. 40 in G Minor, atau Piano Sonata in A Major …
Cara paling sempurna untuk menikmati musik Mozart adalah pada malam yang hening, di ruangan besar berjendela lebar, sambil duduk menyandarkan kepala di sofa empuk, boleh juga sambil memejamkan mata. Setelah mendengarkan satu CD Mozart, biasanya lengan saya akan pegal-pegal. Lho, apa hubungannya? Soalnya, sambil mendengarkan, saya suka menggerakkan tangan bak dirijen, mengikuti irama musik (penyakit gila nomor 27 … hehe!)
Mozart hidup sekitar 250 tahun yang lalu (tapi bukan berarti saya juga sudah hidup sejak 250 tahun yang lalu … saya bukan mummy yang hidup lagi!). Ia lahir di Salzburg, Austria, pada 27 Januari 1756. Nama lengkapnya adalah Wolfgang Amadeus Mozart. Amadeus berasal dari bahasa Latin yang artinya ‘kesayangan Tuhan’. Oleh orang tuanya, ia sering dipanggil dengan sebutan ‘Woferl’. Ayah Mozart, Leopold, adalah seorang pemusik. Mozart memiliki seorang kakak perempuan yang juga pandai bermain musik, bernama Maria Anna dan sering dipanggil ‘Nannerl’.
Pada umur 3 tahun (betul : ti-ga ta-hun!) Mozart sudah bisa memainkan not pada clavier, sejenis piano. Pada umur 4 tahun ia mulai mengalahkan Nannerl dalam memainkan harpsichord. Dan pada umur 5 tahun ia sudah bisa memainkan piano dengan sebuah komposisi lengkap!

Mozart kecil, dilukis pada tahun 1763 oleh Pietro Antonio Lorenzoni
Pada masa itu belum ada radio (jangan sebut pula televisi, apalagi CD dan MP3!), sehingga untuk memperkenalkan bakat musik anak-anaknya yang luar biasa, Leopold membawa Woferl dan Nannerl berkeliling Eropa. Jangan dibayangkan perjalanan muhibah itu nyaman dengan pesawat terbang eksekutif dan pelayanan premium. Mereka menempuh perjalanan sepanjang ribuan mil dengan kereta kuda, melalui jalan yang kadang buruk berlobang-lobang, pada musim dingin yang membekukan tulang sungsum. Pada waktu itu Mozart baru berumur 6 tahun. Penampilan mereka memberikan kesan yang mendalam di Istana Bavaria. Kesuksesan itu kemudian mereka lanjutkan dengan melakukan tour show ke Wina, London dan Paris.
Mozart dan kakaknya selalu mempesona orang di setiap tempat. Ia memainkan karya-karya yang sulit, membuat variasi pada suatu karya, bahkan memainkan piano dengan mata ditutup. Mereka dijamu dimana-mana, dan mendapatkan banyak hadiah. Mozart sangat senang dimanjakan semua orang, dan menjadi sedikit … yah, liar ….

Keluarga Mozart dalam suatu pertunjukan : Leopold, Nannerl, dan Woferl. Lukisan cat air ini dibuat oleh Carmontelle pada 1763
Mozart benar-benar komposer jenius. Simphony pertamanya ia gubah pada usia 8 tahun, dan opera pertamanya pada usia 12 tahun. Pada usia 13 tahun, Mozart sudah menulis lebih dari 80 karya musik, termasuk 6 symphony. Ia mampu menggubah karya yang rumit tanpa mencoret sesuatu atau berpikir dua kali.
Sayangnya, pada masa itu tidak semua orang menyukai komposisi Mozart. Gagasannya sering dianggap terlalu modern, dan tidak bisa langsung dipahami. Lagipula Mozart memiliki saingan berat, yaitu Antonio Salieri. Salieri juga seorang komposer, dan ia adalah pemimpin paduan suara Kekaisaran Joseph II di Wina. Kaisar sangat menyukai musik Salieri. Salieri dan Mozart bersaing untuk menjadi guru musik Putri Elizabeth, dan Salieri yang terpilih. Salieri juga menciptakan opera berjudul “Axur” yang sudah dipentaskan sebanyak 100 kali, sementara opera Mozart, “Don Giovanni”, baru dipentaskan sebanyak 9 kali. Hal ini membuat Mozart iri hati, dan ia mengatakan musik Salieri ‘kuno’. Semenjak itu mereka berdua bermusuhan. Meskipun demikian, diam-diam sesungguhnya Salieri mengagumi karya-karya Mozart. Ia menonton semua opera Mozart. Dan sebagai Kapellmesiter, orkestranya memainkan musik Mozart di Kerajaan Wina.
Mozart pertama kali jatuh cinta kepada Aloysia Weber, tetapi cintanya ditolak gadis cantik yang memiliki suara merdu ini. Tak putus asa, Mozart lalu menikahi Constanze Weber, adik Aloysia, dan tinggal di Wina. Meskipun Constanze tidak begitu cantik dan kurang cerdas, lagipula suka berfoya-foya, tetapi ia pandai merawat Mozart, dan pernikahan mereka berjalan baik.
Mozart senang bermain dan nakal seperti waktu ia kecil dulu. Rumahnya ramai dipenuhi suara anak-anak bermain, anjing piaraan mereka, dan buruk jalak dalam sangkar yang bisa menyiulkan salah satu konserto piano Mozart. Di luar itu, Mozart menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja keras menciptakan karya musik.

Rumah Mozart di Wina (jangan salah, maksudnya : Mozart dan keluarganya tinggal di salah satu lantai dari bangunan besar itu … )
Wina adalah kota tempat istana, taman, ruang dansa, gedung opera, dan kedai kopi indah berada. Kota ini tempat masyarakat kelas atas yang glamor tinggal. Pria dan wanita hilir mudik mengenakan pakaian mahal berhias bulu-bulu binatang indah. Mozart dan Constanze menyukai kehidupan mewah itu, sehingga meskipun sesungguhnya Mozart memperoleh penghasilan cukup besar dari karya-karyanya, gaya hidup yang boros membuatnya terlibat banyak hutang.
Salah satu gaya hidup mewah pada masa itu adalah kegemaran para pria memakai rambut palsu. Rambut palsu ini dibuat dari rambut kuda, dirawat dengan cara diberi minyak wangi serta dibedaki, dan beberapa diikat ke belakang dengan simpul beludru. Hanya orang yang sangat kaya yang punya rambut palsu berbeda untuk setiap acara berbeda. Mozart pun tak ketinggalan mengenakan rambut palsu semacam ini agar tampak gaya.

Para bangsawan Austria dengan rambut palsu dan gaya hidup borju mereka
Istana Schonbrunn yang sangat indah di Wina dibangun untuk menyaingi Istana Versailles di Perancis. Istana ini dibangun oleh Raja Leopold I pada tahun 1695. Dari 1.441 ruangan, ada beberapa ruangan yang begitu indah, yaitu ruang pertunjukan yang dihiasi lukisan dinding dan ruang untuk Ratu Maria Theresa yang disepuh emas. Di ruangan inilah Mozart pertama kali memainkan musik pada usia 6 tahun, dan membuat Ratu sangat terpesona sehingga Woferl kecil yang nakal berani melompat ke pangkuan Ratu (yang kalau dilakukan oleh anak lain, pasti sudah dihukum berat!)

Salah satu ruangan di Istana Schonbrunn, Wina, tempat Mozart pertama kali main musik pada usia 6 tahun
Gaya hidup mewah dan boros membuat Mozart selalu terlilit hutang. Ia harus bekerja keras untuk membayar hutang-hutangnya, sehingga ia tak berhenti mencipta karya musik. Karena terlalu keras bekerja, akhirnya ia jatuh sakit. Tampaknya ia tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, dan tiga bulan sebelum meninggal, ia menulis,
“Ajalku sudah dekat sebelum aku mengambil keuntungan dari bakatku”
Dalam keadaan sakit parah, Mozart menulis Requiem, komposisi musik yang akan dimainkan untuk mengiringi pemakamannya. Ia melihat seorang pria tak dikenal di depan pintu rumahnya, baik saat ia bermimpi maupun saat terjaga, seolah-olah orang itu mendesak agar ia segera menyelesaikan Requiem sebelum kematiannya. Tetapi Mozart tidak berhasil menyelesaikan komposisi itu, dan Requiem akhirnya diselesaikan oleh Sussmayer, salah seorang muridnya. Kini, Requiem dikenal sebagai salah satu karya Mozart yang paling agung.

Sosok lelaki berpakaian hitam yang selalu menghantui Mozart menjelang ajalnya
Ketika sakit keras, Mozart pernah mengatakan kepada Constanze bahwa ia diracun Salieri, saingan beratnya. Namun fakta ini tak pernah bisa dibuktikan, karena jenazah Mozart dimakamkan di pemakaman umum (waktu itu Constanze tidak punya cukup uang untuk memakamkan Mozart di pemakaman ‘kelas atas’), yang kemudian tak berhasil diketemukan lagi dimana lokasinya.
Mozart meninggal dunia pada tahun 1791 dalam usia 35 tahun. Sepanjang hidupnya, ia menggubah lebih dari 600 karya, termasuk 21 karya untuk panggung dan opera, 15 lagu untuk misa, lebih dari 50 symphony, 25 konserto piano, 12 konserto biola, 27 aria konser, 17 sonata piano, 26 kwartet alat gesek, dan banyak lagi. Gayanya unik, tidak seperti gaya musisi lain di masanya. Sayangnya, kebanyakan orang tidak menghargai musiknya saat ia masih hidup.

Lukisan Mozart yang dibuat pada tahun 1780 oleh Johann Nepomuk Della Croce
Kini, kita bisa menikmati karya musik Mozart dengan penuh kekaguman, yang merupakan salah satu pemusik terbesar sepanjang masa. Beberapa ahli mengatakan, jika musik Mozart diperdengarkan pada bayi sejak masih berada dalam kandungan, dapat memacu otak bayi sehingga akan tumbuh cerdas. Hmm …. coba ibu saya dulu setiap hari menempelkan radio yang menyiarkan musik Mozart ke perut beliau ketika mengandung saya, barangkali saya sekarang sudah menjadi seorang profesor …. hahaha!
(Sumber : Wikipedia & “Kisah Rambut Palsu Mozart” by Gerry Bailey & Karen Foster)









Wow asyik mbak mbahas soal Mozart.
Terus terang mbak, kalau urusan musik klasik saya tidak ngerti, hanya suka menikmati saja, tanpa tahu judul-judulnya. Saya sendiri suka Vivaldi 4 seasons. Bapak saya suka Tchaikovsky. Tapi…. bapak mertua saya Mozart banget.
Waktu saya hamil dengan Riku, dapat deh kiriman CD yang harus, kudu, wajib didengarkan hihihi (padahal kayaknya Riku lebih suka dangdut loh mbak, soalnya saat itu saya lagi suka chatting dan suka pasang/dengerin musik di chat room musiknya dangdut dan si Riku yang masih di perut suka nendang-nendang. eh tapi ngga tau nendang karena suka atau …pleaseeeee stop it ya hihihi)
Bapak Mertua saya pasti hafal judul2 gubahan Mozart dan punya CD yang lumayan lengkap. Dia anggota paduan suara Yokohama dan pernah ikut konser menyanyikan Requiem. Dia cinta sekali Requiem, dan berpesan kalau dia mati, dia mau dipasang lagu Requiem. Padahal dia kan agama Buddha, mana ada di Kuil pasang Requiem? (Waktu Riku dibaptis, sempat terjadi gurauan, si bapak disuruh jadi katolik aja, otomatis bisa pasang musik Requiem loh hihihihi)
Yang pasti saya tidak lupa wajahnya Mozart, karena wajahnya pasti ada di pembungkus coklat marzipan Mozartkugeln yang merupakan oleh-oleh dari Wina. (http://en.wikipedia.org/wiki/Mozartkugel)
Wah mbak enak deh kalau makan coklat ini, baca postingannya mbak sambil dengerin Sophie Ann Mutter (kayaknya dia masih bersaudara sama ibu saya deh, karena family namenya sama …hihihih ngaku-ngaku) di http://www.youtube.com/watch?v=0K2N2LQVIjg
Sayang sekali opa dan oma dari mama cepat meninggal, padahal mereka berdua, opa violin dan oma piano, sering buat pertunjukan kecil di keluarganya. Dan sayangnya bakat musik itu tidak ada yang menurun ke saya. sedih deh tidak bisa piano, tidak bisa violin….
Saya musti banyak belajar nulis feature begini dari mbak deh. Dasar orang ngga sabaran jadi paling malas kalau mau menulis feature seperti begini.
EM
Tuti :
Saya suka musik klasik yang tidak terlalu berat, Mbak. Yang melodinya mudah dinikmati, dan tidak terlalu rumit. Sebenarnya musik klasik yang paling saya sukai adalah Johann Strauss, karena musiknya bernuansa waltz, sehingga membuat kita serasa menari-nari. Saya pernah menulis tentang Strauss di http://tutinonka.wordpress.com/2008/03/09/terbang-bersama-johann-strauss/
Riku suka ndangdut? Bagus lah, berarti dia memang memiliki darah Indonesia yang kental … hehehe. Sekarang apakah Mbak Imel masih sering memutar lagu ndangdut untuk Riku? Siapa tahu kelak Riku bisa menajdi penyanyi sohor seperti Ridho Rhoma (anak Rhoma Irama)
Penggemar Mozart memang sangat banyak. Bapak Mertua Mbak Imel anggota paduan suara Yokohama? Wah, hebat sekali. Saya mendengarkan Requiem, nggak bisa menangkap satu kata pun dari lirik lagunya. Selain pengucapannya tidak begitu jelasa, mungkin bahasanya juga bukan bahasa Inggris ya … Tapi memang suasana yang terbangun oleh lagu itu sangat khas, campuran antara sedih, pilu, tapi juga kemegahan .
Saya belum pernah ke Wina. Ketika ke Eropa tahun 2005, sebenarnya pengin sekali kesana, tapi waktu itu musim liburan, dari Amsterdam sulit mendapatkan tiket pesawat secara mendadak. Mudah-mudahan ada umur panjang (dan rejeki nomplok tentunya … hehehe
) sehingga suatu saat saya bisa berkunjung ke kota musik klasik itu.
Kok Mbak Imel bilang nggak punya bakat musik? Memangnya sudah pernah dicoba? Kalau belum, ya belum tahu dong, bakat itu ada atau tidak. Coba dong Mbak, main piano atau violin. Pasti asyik nanti bisa dengerin Mbak Imel main piano sekaligus menyanyikan lagu …
Mbak, jangan gitu dong … tulisan Mbak kan selalu informatif, juga sangat menyentuh, sampai bisa membuat pembaca menangis. Saya nangis membaca tulisan Mbak Imel tentang Mr. …. (wah, lupa namanya), yang sudah berusia 94 tahun tapi masih bersemangat untuk terus belajar …
salam hangat,
seringkali karya seseorang lebih dihargai dan dikenal justru setelah ia meninggal dunia. yang baru saja kita alami adalah wafatnya michael jakcson. kematiannya justru melambungkan lagu-lagunya yang sudah nyaris terlupakan. dikabarkan bahwa sekarang ini kaset dan cd-nya laku keras di seluruh dunia. barangkali, para penggemar merasa bahwa tidak akan ada lagi karya terbaru darinya, maka karya2 lama itu diburu untuk koleksi…
menurut saya, bukan lagu-lagu mozart saja yang bisa membuat bayi cerdas. tapi, bunyi-bunyian yang lembut dan menenangkan pada umumnya. termasuk di antaranya, memperdengarkan bacaan ayat-ayat suci dengan suara ayah dan ibunya sendiri. saya telah membuktikannya…
wah… saya gak bisa bayangkan cerdasnya bu tuti bila dulu diperdengarkan lagu2 mozart sejak dari kandungan oleh orangtua… lha, tanpa diperdengarkan saja sudah segitu cerdasnya je…
oya, met ultah ya buat bang mam… kayaknya ultahnya sama dengan anak bungsu saya, fatih
Tuti :
Inilah yang saya suka dari Uda Vizon : selalu memberikan perspektif religius pada setiap hal. Betul sekali Da, bukan hanya musik Mozart saja yang bisa membuat seorang bayi dalam kandungan menjadi cerdas. Alunan ayat suci Al Qur’an, apalagi yang dibacakan oleh orangtuanya sendiri, adalah doa berirama yang bukan saja merangsang pertumbuhan sel otak bayi, tetapi juga memberikan asupan gizi bagi nurani dan kalbunya.
Saya pernah membaca, musik klasik membuat anak menjadi cerdas, karena komposisi musik klasik memiliki struktur yang lengkap, sehingga akan merangsang sel-sel otak bayi tersusun dalam struktur yang seimbang dan optimal. Selain itu, hati sang ibu yang damai ketika mendengarkan musik, juga akan membuat janin dalam kandungan tumbuh dengan baik. Nah, struktur nada yang lengkap dan kedamaian hati ibu ini tentu bisa juga diperoleh dari bunyi-bunyian yang lain, terlebih dari bacaan ayat suci Al Qur’an yang bukan sekedar bunyi-bunyian ciptaan manusia.
Wah … Uda terlalu memuji, jadi malu nih
Saya ini ’std’ saja, alias standar-standar saja … nggak ada lebihnya dari orang lain. Tapi, terimakasih doanya D.
Terimakasih juga ucapan selamat ultahnya buat MAM. Waah … bareng dengan Fatih ya? Kalau begitu, lain kali bisa dirayakan bersama dong …
Cara tepat menikmati musik klasik adalah kalau semua hutang sudah terbayar lunas Mbak … hahahaha … apa enaknya menikmati musik klasik sambil ingat-ingat masih punya tagihan kartu kredit …
Saya pernah satu mobil sama om yang sepanjang perjalanan muter CD musik klasik ini …, matanya merem melek, kadang-kadang kaki menghentak lembut, … sebelum trans dititipkannya HP kepada saya dengan instruksi, jangan ganggu saya saya mau menikmati musik ini …. sampai segitunya.
Wina, Salszburg … mengingatkan saya pada Sound of Music film favorit saya dan anak-anak … sehari bisa 3 kali muter ini film kalau lagi mood … lebai deh …
Tuti :
Besok kalau sudah bosen, VCDnya dilungsurkan ke saya ya Mbak … hihihi … ngarep
Mbak Ayik, kalau masih punya utang, si penagih utang diajak aja sekalian dengerin musik klasik, siapa tahu ia akan lupa nagih karena terlena menikmati alunan musik …
Film The Sound of Music memang sangat bagus, saya pernah nonton di teve. Sayang saya nggak punya VCDnya, jadi nggak bisa nonton berulang kali kayak Mbak Ayik
Bu, saya iseng-iseng mencari nama Ibu di deretan nama dosen Fakultas Teknik (Arsitektur atau Sipil, saya lupa) dalam buku kenangan milik suami yang alumni Manajemen UII lulusan 2006. Saya nemu nama dosem bernama Tuti dengan dua gelar kesarjanaan teknik dan satu gelar magister. Weleh…keren sekali…
Tampaknya tak perlu kembali jadi bayi dan mendengar musik Mozart untuk membantu Ibu mencapai jalan menjadi Profesor… ^_^
Tuti :
Tapi terimakasih untuk doanya
Oh, suami Isma alumni Manajemen UII ya. Tapi karena beda fakultas, mungkin nggak pernah ketemu saya di kampus. Lulus tahun 2006, berarti masih muda banget …
Waah … kalau saya mah nggak berambisi menjadi profesor, takut jadi pelupa dan rambut botak
setuju @ miss… juga mbak Tuti pantas menjadi Proffesor Blogger. hihihi
EM
Tuti :
Halah! Mbak Imel ada-ada saja. Proffesor Blogger pidato pengukuhannya di kampus mana?
Seperti biasa … postingan dengan informasi yang komplit … plit ..!
Aku suka music klasik kok bun … dengerin nya .. angler tenan …
serasa dibawa terbang kemanaaa … gitu ..
Tuti :
Dibawa terbang kemana? Kalau terbang ke bulan sih oke (jangan lupa bawa tabung oksigen, soalnya disana nggak ada udara untuk bernafas). Tapi kalau dibawa terbang ke matahari … weks, jadi dendeng kali ya …
Wah, rupanya sudah ditulis nih sebelum nonton filmnya. Kebetulan sudah ketemu film “Amadeus” di Payakumbuh dan dalam perjalanan ke Jogja. Kalau sudah sampai nanti saya kirim ya bu. Sebenarnya gak usah nonton filmnya, sumber dari Wikipedia cukup lengkap kok. Selamat menikmati gubahan-gubahan Mozart ya bu.
Tuti :
daripada mood saya keburu lewat, nanti malas mau nulis topik ini karena keburu tertimbun ide tulisan-tulisan lain. Lagipula, saya pikir Pak Eko lagi suibuuk nulis disertasi, mana sempatlah nyariin VCD “Amadeus” itu. Tapi tetap ditunggu lho Pak, nanti saya tulis tersendiri sebagai review film.
Iya Pak …. lha sudah ‘kebelet’
Selain Wikipedia, sumber yang saya pakai adalah buku tulisan Gerry Bailey dan Karen Foster itu. Foto-foto lukisan sebagian saya ambil dari Wiki, sebagian dari buku.
Wah tantee .. Membacanya membuat saya sedih, hiks ..
Mozart kecil sudah bisa memainkan komposisi piano lengkap pada usia 5 tahun.
Lha saya, 23 tahun, satu Fur Elise (Beethoven) pun belum lancar (ga pernah latihan juga siy :p). Bakat emang ga bs bohong ya, tante .. Tapi perjuangannya juga manteb tuh kayanya.
Ngomong2, saya baru tau mozart meninggal di usia 35. Muda sekali, tapi karyanya sudah sebanyak itu ..
Tuti :

Lho, sedihnya kenapa, Narp? Karena membaca kisah Mozart yang mati muda, atau karena sedih nggak bisa main musik sebagus Mozart?
Fur Elise termasuk lagu yang saya kenal sejak duluuu … Masih bagus Narpen bisa memainkannya, meskipun ngakunya tidak lancar … (halah, itu kan cuma rendah hatinya Narpen saja … ), lha saya cuma bisa ‘pegang’ piano, tapi nggak bisa memainkannya
Memang Mozart meninggal dalam usia muda, tetapi karya-karyanya berusia jauh melampaui usia hidupnya …
Saya, meski sering dicekoki Mozart sampe sekarang ya ndak terlalu suka
Mungkin terlalu agung, tapi saya tetap menganggap U2 lebih seksi hahaha!
Tuti :
U2 kuwi opo to Don? Sak ngertiku, U2 kuwi toko klambi neng Jl. Solo je … wakakaka
Ya iyalah, anak muda gaul kayak Donny Verdian, pasti pemusik idolanya U2 (eh, sejak dulu masih U2 terus ya, belum bekembang biak jadi U3, U4, atau U5? )
Wah bu Tuti nggak ngerti U2 to. Band yang mulai terkenal tahun 80-an, harusnya bu Tuti tahu karena U2 adalah salah satu icon generasi kohort kita. Nanti saya kirim deh lagunya yang paling klasik “With or Without You”.
Tuti :
)
Lho, ternyata Pak Eko penggemar U2 juga to? Iya ya … saya kok ndak kenal sama grup band itu ya? Namanya sih sering baca di majalah, tapi musik dan lagunya yang mana …. mbuh gak eruh
Ok, saya tunggu “With or Wihout You” (I’m still happy … hehehe
Wow, ulasan yang menarik dan lengkap oi, asyik bacanya sampai membayangkan irama2 tsb mengalun lembut dan sekali2 menghentak, hem indah …
Mbak nggak bisa membayangkan kalau mbak Tuti sudah mendengarkan lagu2 ini dari dalam perut …. pasti cerita ini akan diposting lebih dasyat lagi, hahaha ….
Aha, jadi mau dengerin alunan Mozart dari CD-koe nich, smoga memberi ilham, hahaha ….
Ok, mbak ntar lanjut lagi yach cerita serunya
Best regard,
Bintang
Tuti :
Wah … Mbak Lin punya CD Mozart juga? Berarti penggemar musik klasik juga ya. Saya sendiri paling bisa menikmati adalah musik Johann Strauss. Indah dan membawa kita berayun-ayun dalam irama waltz.
Eh, jangan-jangan ibu saya dulu memang sudah memperdengarkan musik Mozart ini sewaktu saya masih dalam kandungan ya. Lha dari seluruh saudara saya, yang suka musik klasik kok cuma saya gitu lho …
Oke Mbak, selamat menikmati CD Mozartnya ya …
Ibu, saya suka cara menulisnya.. bikin saya betah membacanya dari awal sampai akhir dan mendapatkan suatu pengetahuan baru!
Tuti :
Terimakasih Ade … jadi sesak nih baju saya ….
Senang sekali kalau apa yang saya tulis bermanfaat bagi teman-teman …
zaman itu ortunya mozart rupanya begitu keras usahanya ya utk memperkenalkan bakat musik anak2nya. nggak kebayang deh anak kecil dibawa naik kereta kuda keliling eropa. kali kalau di jawa kali dibawa keliling naik dokar ya bu? hihihi.
Tuti :
Itu satu-satunya cara untuk memperkenalkan bakat musik Mozart dan Nannerl, soalnya waktu itu belum ada alat komunikasi massa apa pun (radio, teve, apalagi internet). Teknologi rekaman juga belum ada. Memang perjalanan itu sangat berat, dan Mozart beberapa kali jatuh sakit. Makanya, alangkah beruntungnya para pemusik jaman sekarang, yang sangat dimudahkan oleh teknologi yang sudah sedemikian maju ..
saya suka musik klasik. dulu ketika masih kuliah di yogya, saya sering nonton konser musik klasik di LIP dan UGM..ah, tentunya nyari yang gratis…hehehe..
salah satu temen yang suka nonton gratisan adalah krismariana. hihihi..
saya nggak terlalu suka musik sekarang. wedew……jgn2 saya udah mulai merasa tua neh hehe…
nana
Tuti :
Ooo … jadi Nana teman lama Kris to? Teman cari gratisan maksudnya … hehehe …
Saya juga suka nonton konser musik klasik, tapi bukan di LIP atau UGM. Beberapa waktu yang lalu (sekitar kurun 2000 – 20005) ada Orkestra Cisya Kencana, anggotanya sebagian besar adalah mahasiswa ISI. Mereka sering mengadakan konser, dan musiknya bagus lho! Cuma sedikit di bawah Twilight Orchestra-nya Addie MS. Sayang sekarang kelompok orkestra itu sudah bubar …
Saya juga nggak ngikutin musik anak-anak muda sekarang. Apalagi nontonnya Metroteve terus, yang jarang menampilkan grup band atau videoklip musik anak muda, jadi nggak kenal musik anak-anak muda zaman sekarang. Ketika keponakan saya ngajak nonton Afgan, saya malah balik tanya, “Afgan ki sopo to?” wakakaka!
Saya suka musik bu
tapi kalo musik saya itu males ngapalin judul, lirik atau penyanyi nya
pokoknya cuma suka dengerin.
Nah skr saya punya suami pemusik (pembetot bas di bandnya)
lambat laun saya jadi mulai ngapalin… (walaupun lambat bgt)
lha wong tiap pagi diputerin lagunya hahaha
bu, ada pertanyaan nih, kenapa ya lagunya Mozart yg bagus untuk bayi di kandungan?
Komposer lain koq enggak ya….atau kurang ya…
ada apa di musik mozart…?
heeem
Tuti :
Kenapa musiknya Mozart yang bisa bikin bayi pinter? Wadoooh … Eka nguji saya nih … wakaka!
Persisnya saya juga nggak tahu, tapi kalau nggak salah, karena komposisi musik mozart itu memiliki nada yang lengkap dan ritme yang harmonis, sehingga akan memacu sel-sel otak bayi untuk tumbuh dengan lebih sempurna. Sebenarnya bukan hanya musik Mozart, tetapi musik klasik pada umumnya, bagus untuk merangsang kecerdasan otak.
Eka pernah dengar nggak, bahwa tanaman pun kalau di-therapy dengan musik yang mengalun indah, atau kita ajak bicara dengan lembut, akan tumbuh lebih subur? Bener lho …
aduhh..musik klasik ya. mbak?
aku passs dehhh….
*tapi di baca kok mbak, sumprit di bacaaaa*
Tuti :
Haiyah … ! Nggak percaya …. pasti nggak dibaca (*emang harus?*)
Thanks a lot for your comment anyway
berarti mulai bicara lembut kepada suami

hauahhahah ketauan selama ini begajulan
xixixi
Tuti :
Siapa tahu justru begajulan itu yang membuat suami cinta mati pada Eka ….