MAIN GIROSKOP SAMPAI NAIK SEPUR
Wisata ke TMII? Orang Jakarta, bahkan mungkin juga anda yang tinggal nun jauh dari ibukota, akan spontan berkomentar ‘jaduuul… !’
Memang, Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Timur ini sudah cukup sepuh. Gagasan pembangunan TMII dimunculkan oleh Ibu Tien Soeharto pada 13 Maret 1970. Meskipun gagasan untuk membuat sebuah miniatur Indonesia yang menghimpun seluruh kekayaan bangsa Indonesia itu sangat visioner, pada waktu itu pembangunan TMII mendapat tentangan keras dari mahasiswa dan masyarakat. Masalahnya, biaya pembangunan TMII luar biasa besar, padahal ketika itu ekonomi Indonesia sedang terpuruk, rakyat sulit memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun demikian gagasan tersebut terus mengkristal dan pembangunan fisik dimulai pada tahun 1972. TMII yang mencakup lahan seluas 150 hektar diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1975.
Kini TMII sudah berusia 34 tahun. Setelah melewati sekian dasa warsa, terbukti TMII menjadi salah satu tujuan wisata yang diunggulkan dan paling banyak dikunjungi, dan menjadi ‘etalase’ kekayaan budaya Indonesia terlengkap.
Selain memiliki anjungan dari seluruh provinsi di Indonesia, di TMII juga terdapat berbagai museum serta pusat informasi. Meskipun sudah berusia tua, apa yang terdapat di TMII masih relevan untuk diketahui seluruh anak bangsa, dan menyajikan sangat banyak informasi yang bernilai pendidikan.
Yuk kita lihat dua edutainment yang ada disana : Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Museum Transportasi.

Halaman depan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan land mark bola dunia (maap, ada yang numpang setor muka … )

Monumen dengan gaya futuristik yang menarik, menyambut pengunjung di depan pintu masuk. Siapakah gerangan seniman pencipta karya indah ini?

Bagian depan entrance, cerah ceria seperti taman bermain anak-anak.
Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini berisi lebih dari 250 alat peraga iptek interaktif. Woow! Tempat rekreasi edutainment yang sangat mengasyikkan. Apa saja sih isinya? Kita intip yuuuks … !

Main landing gear pesawat terbang Airbus A-300 B4
Menyambut pengunjung di bagian depan, terdapat main landing gear pesawat Airbus A-300 B4, salah satu tipe pesawat angkut komersial yang dipakai oleh Garuda Indonesia, flag carrier penerbangan nasional. Kenapa roda pesawat ini ada di PP Iptek? Habis ditambal karena bocorkah? Hmm … adakah orang yang bisa menjelaskan?
Masuk ke dalam, di bagian kiri terdapat beberapa relief filsuf dan ilmuwan besar dunia, seperti Plato, Nicolas Copernicus, Sir Isaac Newton, dan Albert Einstein. Pasti kita semua sudah kenal mereka di sekolah dulu, kan? Kalau ada yang belum, atau lupa siapa orang-orang hebat ini, gampang saja : tanya ke Paman Google.

Interior di bagian dalam, modern dan futuristik (ya iyalaah … mosok interiornya pakai ukiran Jawa, nggak matching lah!)
Anda tahu bagaimana helikopter dapat berbelok di angkasa? Di PP Iptek ada alat peraga yang bisa menjelaskan hal itu, namanya giroskop. Cara mengoperasikannya gampang, dan siapa pun bisa mencobanya. Putar roda giroskop hingga berputar cepat, angkat roda, duduklah di kursi, lalu miringkan roda ke kiri atau ke kanan. Peragaan ini menunjukkan adanya gaya yang bekerja pada benda berputar, yang disebut efek giroskopi. Gaya ini yang menyebabkan landasan tempat duduk berputar, dan gaya ini pulalah yang membuat helikopter bisa berputar di angkasa. Ayo kita coba … !

Putar, putar, putar rodanya! Yeeeiy …. malah ketawa …

Mesin 6 silinder mobil BMW (eh … silindernya yang mana sih?)
Mesin 6 silinder BMW memiliki getaran yang tenang dan halus, ringan, efisien dalam pembakaran, dan menghasilkan gas buang yang bersih sehingga ramah lingkungan. Ya iyalah, harganya muahaal tauu …. (lah, kenapa juga mesin mobil ini masuk ke sini ya?)
Salah satu koleksi yang cukup menarik adalah pecahan roket yang jatuh di Gorontalo pada tanggal 26 Maret 1981. Berdasarkan lokasi orbit dan waktu jatuhnya, diduga benda ini adalah bagian dari motor roket Cosmos-3M, Space Launcher 8 (SL-8) 11K65M milik Rusia. Roket ini dipakai untuk meluncurkan satelit Interkosmos 20, sebuah satelit penginderaan jauh untuk penelitian laut dan permukaan bumi yang merupakan kerjasama antara Uni Sovyet, Cekoslovakia, Jerman, Hungaria, dan Rumania.

Ini bukan tong sampah rusak, tapi pecahan roket yang jatuh dari antariksa

Peragaan sistem kerja satelit komunikasi dari berbagai stasiun di bumi
Untuk melihat dan mencoba semua alat peraga yang ada di PP Iptek ini, waktu satu hari pastilah tidak cukup. Jadi jika ingin menjadi pintar, memang butuh waktu tak sebentar untuk belajar!
Oke, pintar memang harus, tapi jalan-jalan juga penting, jadi mari kita teruskan menjelajah ke Museum Transportasi. Museum ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 april 1991. Isi museum adalah berbagai alat transportasi yang pernah ada di Indonesia, mencakup transportasi darat, laut dan udara. Lucu, tapi mengasyikkan juga melihat berbagai alat transportasi kuno yang ada di sana, serasa dibawa ke masa puluhan tahun silam.

Museum Transportasi, membawa kita mengenang kembali cara orang bepergian di masa lalu
Begitu masuk, kita akan menemukan sebuah lokomotif yang sangat tua. Menurut tulisan yang terdapat di dinding loko, lokomotif ini buatan Henschel & Sohn, Cassel Lokomotieffabriek tahun 1911, Hoofdagenten Voor N.O.J. My voor smalspoorwegen Berlyn – Samarang … Lhoo??!! Apakah sepur ini doeloe punya trayek antara kota Berlin dan Semarang? Heeelllpppp … ada yang bisa bahasa Belanda?

Naik kereta api … tut … tut … tut … hei, awas jatuh! Kotak merah di samping masinis centil itu bertuliskan keterangan pembuatan loko dalam bahasa Belanda
Selain lokomotif buatan tahun 1911 di atas, terdapat rangkaian kereta api yang juga sangat jadul, berwarna hitam kelam dengan lokomotif bertenaga uap. Rangkaian kereta api ini diset-up seperti di Museum Kereta Api Ambarawa. Eksotik dan romantis sekali untuk lokasi pemotretan pre wedding (hallo … yang mau married!).

Ini kereta sudah tua beneran, beberapa bagian sudah keropos dan berbunyi keriut-keriut ketika diinjak, sehingga saya takut naik ke atas …
Nah, bagi para Engkong, Nyak dan Babe zaman doeloe, bisa naik Si Jangkung Merah pastilah menjadi kebanggaan tak terkira. Gimana enggak, bus tingkat buatan Leyland, Inggris yang memiliki rute Blok M – Salemba – Senen ini keren banget, dan di jaman itu hanya ada beberapa buah saja. Bus berwarna merah ini adalah bus tingkat pertama milik PPD (Perusahaan Pengangkutan Djakarta).

Senen, Senen, Senen …!! (Senen mulu, kapan Selasanya?). Ayo cepat, cepat! Yang di dalam maju sedikit! Kasih tempat, kasih tempat! Tariiiik …!
Di halaman depan museum, teronggok dengan megah (haiyah, teronggok kok megah … ) sebuah pesawat jet Douglas DC 9-32 milik Garuda Indonesia. Pesawat ini memiliki kapasitas 102 penumpang dan diawaki oleh 6 kru. Kecepatan maksimumnya 350 KTS dengan altitude tertinggi 9.144 meter. Ketika membeli tiket masuk, penjaga tiket menanyakan apakah kami akan masuk ke pesawat. Langsung saya jawab ‘iya dong’. Kalau begitu kami harus beli tiket tambahan, harganya seribu rupiah. Okay, no problem. Murah banget, naik pesawat kok cuma seribu.
Setelah meninggalkan loket dan masuk ke dalam, Iin, keponakan saya yang setia ngintil kemana-mana itu, bertanya dengan heran, ‘Bulik kan sudah sering naik pesawat beneran, ngapain naik pesawat mogok?’. Saya tertegun, lalu ketawa geli …. hehehe … hiya yaaa? Tapi karena sudah terlanjur beli tiket, ya sudah, naik aja.
Ternyata, oh ternyata …. di dalam pesawat terbang yang tak lagi bisa terbang itu udara sangat pengap (maklum ACnya sudah dicopot). Kursi pun sebagian sudah dilepas, dan pramugari yang ada menyambut kami dengan dingin dan kaku (maklum terbuat dari triplek …)

Selamat datang, welcome, sugeng rawuh … nyamankah diri anda, enjoy your self, dipun sekeca’aken …
Selamat datang di dalam pesawat Garuda Indonesia. Kepada para penumpang kami persilahkan untuk segera menggelar tikar serta membuka bekal makanan masing-masing. Kami menyediakan kartu gaple, halma, ataupun dadu utuk judi koprok bagi penumpang yang menginginkan. Sabung ayam tidak dianjurkan, karena kalau ayamnya lepas ke luar dari pesawat, akan sulit menangkapnya lagi. Kepada para pedagang asongan, kami persilahkan untuk menawarkan jualan dengan jujur dan sopan. Terbanglah bersama Garuda. Kami bangga melayani anda … (weleh weleeh … !)

Udara dan darat berpacu, siapa yang sampai lebih dulu?

Warna oranye yang keren, tapi semoga saya tak perlu naik helikopter SAR ini, kecuali sebagai anggota tim penolong …

Lampu mercusuar ini buatan tahun 1879, Onder de Regering Van Z.M. Willem III. Tak disebutkan di pelabuhan mana lampu ini pernah dipasang, yang jelas cahayanya telah menuntun arah pulang bagi jutaaan pelaut ke pelukan keluarga yang menantinya …

Kereta api Kepresidenan RI ini digunakan oleh Presiden dan Wakil Presiden pada waktu Pemerintah RI hijrah dari Jakarta ke Jogjakarta. Dibuat oleh bengkel kereta Staatspoorwegen di Bandung tahun 1919
Masih sangat banyak yang ingin saya ceritakan tentang isi TMII, yang bukan saja atraktif, inspiratif, dan rekreatif, tetapi juga edukatif. Tapi … lagi-lagi saya harus patuh pada batasan panjang tulisan … huff!!
Oke, kita sambung di posting berikutnya saja deh …









wah mbak, aku sering loh ke TMII, antar teman/tamu dari Jepang. Tapi karena waktu terbatas hanya ke tempat-tempat yang umum. Tahu sih ada macam-macam tempat edu-edu itu. Berarti emang harus ke sana kalo pulkam lagi. Terima kasih untuk infonya Mbak. (Saya paling pernah ke museum minyak dan gas bumi itu loh mbak, maklum papa kerjanya sehubungan dgn itu)
soal kereta Berlyn, Samarang itu…. kayaknya Berlyn itu nama orang/pengusaha sepur deh mbak. Bukannya berlin nama kota di Jerman hehehe. Dan satu lagi penemuan bahwa Samarang itu bisa jadi kota Semarang, tapi bisa juga nama orang Belanda yang bernama Samarang. Untuk tahu sejarahnya lebih lengkap mungkin perlu pergi ke Ambarawa deh mbak hihihi. (Pas nyari-nyari ini ketemu milis penggemar kereta, wow percakapan mereka membuat saya ingin ke Ambarawa)
EM
Tuti :
Iya Mbak, ke TMII kalau waktunya terbatas memang hanya bisa melihat sepintas saja. Saya sudah 4 kali ke TMII, dan belum tuntas juga, masih banyak yang belum saya lihat. Makanya, besok kalau pas ke Jakarta mau ke TMII lagi. Kakak saya yang tinggal di Jakarta sampai heran, kok nggak bosen-bosen ke Taman Mini, kampungan banget … hihihi … Nggak tahu dia, banyak yang menarik di TMII. Lha wong seharian aja cuma bisa masuk ke 3 atau 4 tempat kalau kita mau bener-bener menikmati.
Tentang kereta Berlyn – Samarang … hihi … gitu ya? Bego banget sih saya
Mosok ada kereta jalurnya dari Jerman sampai Indonesia, nyebrang lautnya gimana …
Waaw! Saya jadi seperti diingatkan untuk ke Museum Kereta Api di Ambarawa nih. Setiap bolak-balik ke Semarang saya selalu mengingat-ingat, kayaknya ada objek yang harus saya datagi, tapi selalu lupa kalau objek itu adalah Museum Kereta Api Ambarawa. Besok deh, kalau ke Semarang lagi, saya akan menyempatkan mampir. Terimakasih diingatkan, Mbak …
TMII agak tampak ndesit tapi saya malah terharu melihatnya, Bu.
Betapa Bu Tien ternyata berjasa besar untuk mengabadikan Indonesia dalam sebuah taman mini.
Tuti :
Setuju, Don. Makanya aku tulis, gagasan Bu Tien itu visioner. Hanya saja, pada waktu itu memang terasa seperti megalomania, karena ekonomi Indonesia masih di bawah garis kemiskinan. Termasuk Taman Buah Mekarsari, itu juga proyek yang sangat bagus loh. Tapos, yang dulu menjadi pusat mengembangbiakan sapi unggulan, sekarang merana tak terurus.
Begitulah, ide besar ada kalanya baru diakui kebesarannya setelah sekian lama waktu berlalu, dan orang melihat hasilnya. Itulah sebabnya, seseorang dikatakan memiliki ide besar jika mampu menggagas suatu hal jauh sebelum orang lain memikirkannya.
…
Meski puanjang ku baca semua kok buk, ini kan udah jd ciri khas..
-panjang dan banyak photo-
Hehe..
Smoga tmii makin bagus aja deh,biar gak kalah sama tempat wisata lainnya..
Tuti :
poto-potonya memang banyak, soalnya obyeknya memang bagus, jadi supaya Ata nggak bosen cuma baca tulisan mulu …
Ini nggak panjang banget lho Ta, cuma 1.200 kata kok …
Ya, beberapa anjungan TMII memang perlu direnovasi, karena sudah cukup tua. Sayangnya beberapa Pemerintah Provinsi pemilik anjungan-anjungan tersebut kurang menaruh kepedulian. Apalagi sesudah era reformasi, ketika semua pejabat sibuk berpolitik dan tak lagi menaruh perhatian pada budaya dan pengembangan daerah …
reportase khas ibu tuti, terima kasih sharingnya bu..
seumur umur saya belum pernah ke TMII bu… ndesit yach..
he..he.. gak tahu knapa kok gak tertarik ke sana.. waktu di jakarta, kalo ada libur, saya lebih seneng tidur di kost saja he..he..
Tuti :

TMII memang jadul dan ndesit, tapi belum pernah ke TMII lebih ndesit lagi ….
Sekarang kalau Bro Neo mau ke TMII mahal lho … tiket Pare-pare – Jakarta PP (berdua) sudah berapa hayo? Coba dulu waktu di Jakarta nggak seneng tidur mulu ….
Wah-wah, ternyata boleh juga nich mampir ke sini mbak. Meski sering juga ke TMII ini tapi ke anjungan ini belum pernah masuk. Hem kapan2 boleh juga ngajak anak2 ke mari agar pengetahuan & wawasan mrk bertambah.
Ngomong2 ke Jktnya ini kapan mbak ?.
(Wah…wah kalau tahu sebelumnya bisa janjian ketemuan nich, hihihi
Best regard,
Bintang
Tuti :
Iya Mbak, selain PP Iptek, ada juga Museum Energi, Museum Listrik, Museum Perangko, dll. Yang sudah saya lihat baru Museum Listrik, besok kapan-kapan akan saya tulis juga. Saya ke Jakartanya bulan Februari 2009, jadi sudah agak lama juga. Lain kali kalau ke Jakarta lagi insya Allah saya kontak Mbak Elinda deh …
salam hangat
saya seneng buanget mbak tut ekspos isi TMII, soalnya jadi bisa dibaca dengan enak dan menarik…tolong teruskan lhoo, dibuat berseri ya mbak!… favorit saya: taman burung!
Tuti :
Haduuh … Taman Burung saya belum masuk je Mbak. Tunggu saya ke TMII lagi ya? Besok saya tulis dulu tempat-tempat yang sudah saya kunjungi, Museum Listrik dan Istana Boneka …
jadi pingin lihat-lihat juga nih
Tuti :
Silahken … monggo, boleh kok Mas
Hm… Biarpun banyak yang bilang jadul, tapi aku bener2 belum pernah kesana…
Huhuhu…
Tapi sepertinya emang asik tuh. Selama ini kalau aku ke jakarta, pasti bakal mengurungkan niat buat ke TMII soalnya teman2 bilang itu udah kuno…
Tapi setelah membaca tulisan ini….
Tuti :
Ya iyalaah … teman-teman Arif pasti lebih suka ke Dufan, Ancol. Memang untuk hiburan dan main-main, Ancol dan Dufan itu asyik banget. Tapi tempat rekreasi yang membuat kita banyak tahu tentang budaya dan pengetahuan, adanya ya di TMII. Lain kali kalau ke Jakarta lagi, bilang sama teman-teman Arif, disuruh Ibuk Tuti ke TMII, gitu ya … hehehe
*malu*
ke TMII cuma keliling rumah adat aja ama kereta gantung
gak taunya masih banyak yang bagus2 yak
Tuti :
)
Masih mending dibanding Bro Neo, yang belum pernah ke TMII … (kwaciaan
Ohya, kapan-kapan kalau aku ke Makassar lagi, kayaknya sudah ada sponsor yang menjamin segalanya nih? Seneng ya, kembali ke pangkuan bunda?
Dua hal …
#1. Jika tidak mengantar the boys saya study wisata ke TMII mungkin saya juga tidak pernah tau musium-musium bagus tersebut. Thanks to sekolahannya The Boys …
#2. BTW itu pemeran pembantunya sudah pol-polan acting kok ndak di kenalken to Bu ???
hehehe
Salam saya
Tuti :
#1. Saya pikir semua sekolah di Jakarta seharusnya mewajibkan siswanya berkunjung ke TMII, agar mengenal budaya nasional dan juga penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan yang ada di sana ya Om …
#2. Pemeran pembantu itu sudah berkali-kali saya kenalkan lho Om
Namanya Iin, mahasiswi Teknik Informatika UII Yogya (hampir lulus), atlet olah raga dansa Cha Cha dan Rumba yang sudah berkola-kali ikut kompetisi tingkat nasional, dan saat ini sedang single … nah, Om punya keponakan yang cocok nggak? Hehe …
Ke TMII cuma ke taman bunganya, Bu Tuti, hmm adeem…
Sewaktu di Makassar, saya punya tempat “ngadem” (ngadem pikiran maksudnya), pas udah di Jakarta malah susah mendapatkan tempat ngadem, sumpek Bu…
Nah di taman bunga TMII itu lah saya mendapatkan kembali suasana yang nyaman sekali untuk sekedar menghirup napas dalam-dalam, merem, merasakan hembusan angin, rindangnya pohon, kemudian mensyukuri apa yang sudah didapatkan…
Tapi, saya sudah kepikiran, kalau anak-anak bertambah besar dan sudah saatnya kenal dengan iptek, saya bisa pergi ke museum yang Ibu ceritakan, dengan anak-anak…
Terima kasih… *agak OOT ya*
Tuti :
Saya belum masuk ke Taman Bunga (Taman Anggrek?) … hiks … hiks … Maklumlah, dengan areal seluas 150 hektar dan begitu banyak anjungan, dibutuhkan waktu seminggu penuh untuk menikmati semuanya. Besoklah, kalau ke TMII lagi, saya akan menghirup udara dalam-dalam di Taman Bunganya Ly …
Terimakasih juga Ly, nggak Oot kok …
Rumah saya gak jauh dari TMII sebenarnya, tapi kok gak pernah kepikiran utk pergi ke sana ya? *jitak kepala sendiri*
Pertanyaan saya satu : Bu Tuti gak mengunjungi Istana Anak – Anak Indonesia (atau populer juga dengan nama Istana Boneka TMII)? Wah, kurang afdhol kalo gak ke situ, Bu
Tuti :
)
*ikut jitak kepala Reva … eh, kepala sendiri*
Sudah pasti saya masuk ke Istana Boneka. Waw …. serasa masuk ke negeri dongeng HC Andersen. Belum sempat ditulis aja Reva, karena posting ini sudah terlalu panjang.
Bu, aku mau ngomel… Pas bangun pagi aku ngelongok ke beranda, mmh belum ada postingan baru.. giliran ditinggal bentar…eeh, udah ketinggalan kereta…
Bu, aku juga belum (tapi sekarang jadi pengen) ke TMII, soalnya kalo ke JKT *yg cuma berapa kali itu* aku suka stres sendiri, gak tau jalan, tempatnya jauuh, jalur kendaraan susah… pilihan paling mudah adalah membaca laporan lengkap Bu Tuti tentang TMII aja…
Salam sayang Bu..!
Tuti :
lagipula, keretanya belum jauh kan?
Omelan diterima … hehehe
Memang betul, di Jakarta itu jaraknya serba jauh, jalannya sering macet. Di Jakarta saya juga nggak tahu jalan sama sekali, jadi kalau pergi kemana-mana pakai taksi Blue Bird yang aman …
Lain kali kalau ke Jakarta lagi, sempatkan ke TMII ya. Pasti Ping Ping senang sekali kalau diajak ke Istana Boneka.
Salam sayang juga buat Henny dan si manis Ping Ping
hemmm… indah ya…
jadi pingin ke sana nih, belum pernah masalahnya.
salam hangat bunda lama tak jumpa
Tuti :
)
Ya, selain indah juga menambah wawasan dan pengetahuan. Besok kalau sudah pulang ke Indonesia, sempatkan berkunjung ke TMII ya.
Ya, lama nggak mampir, lagi sibuk nyelesein studi ya? Salam hangat juga (sehangat udara Kairo …
Lihat foto-fotonya keknya asyik banget.
Maaf lama gak berkunjung
Tuti :

Memang asyik lho Mas
Nggak apa-apa, saya juga minta maaf sudah lama nggak jalan-jalan ke alamendah … tapi pastinya masih tetap indah kan?
Saya pernah berkunjung kesana , tapi udah 7 tahun yang lalu…
makasih mengingatkan saya kembali mbak.
Tuti :
7 tahun yang lalu? Kayaknya sudah perlu berkunjung kembali Mas …
Saya juga makasih sudah dikunjungi …
wah, saya keduluan bu tuti. saya aja yang orang jakarta belum pernah masuk ke museum transportasi (hiks..payah). itu pusat peragaan ilmu pengetahuan dan teknologi adanya di museum pp iptek atau museum listrik, bu? saya udah pernah ke pp iptek tapi perasaan kok belum pernah lihat deh
Tuti :
Memang kalau obyek itu ada di kota tempat kita tinggal, ada kalanya kita malah nggak menyempatkan diri untuk berkunjung. Di Yogya saya juga begitu. Pikirnya, “Ah, toh di kota sendiri, besok-besok juga bisa … tuh, tempatnya masih disitu-situ juga kan?” Nah, kalau orang dari luar kota, penginnya kan lihat apa yang bagus di kota tersebut, lhawong sudah jauh-jauh datang gitu loh …
Itu beneran di Pusat Peragaan Iptek. Mungkin saking banyaknya alat peraga yang ada di sana, jadi Yasmin terlewatkan nggak perhatiin yang itu. Museum Listrik saya juga sudah masuk, tapi belum saya tulis. Ntar deh, lain waktu …
iya bu, mungkin aja saya terlewatkan ngelihat alat-alat peraga yang itu. soalnya saya kesananya 4 tahun yang lalu. jadi saya juga udah agak lupa. yang inget cuma alat peraga tsunami sama sepeda di atas tali.. hehehe…
Tuti :
Wah, saya malah nggak sempat lihat alat peraga tsunami dan sepeda di atas tali itu … bisa dimengerti sih, karena sangat banyak isinya (250-an item), sehingga tidak semuanya bisa kita lihat dan kita coba …
Tok, tok, tok.. kulonuwun tante tuti…
*narpen hadir kembali*
hehehe. baru bangun tidur, tante..
aku juga suka lho ke TMII.. sejak kecil sih sering. Tapi makin dewasa, rasanya cara pandangnya juga makin beda, jadi tetep seneng2 aja. Klo waktu kecil kan, atas nama piknik, hehehe. Yang diinget lebih ke acara makan2nya
Sayang terakhir kali ke TMII waktu itu naik bis dari rumah dan jalan kaki di dalem TMII (padahal taman mini luas aja gitu, yang ada malah gempor pas muterin areanya)..
abisnya yang bisa buat mejeng banyak benull.. makanya klo ke TMII jangan lupa bawa fotografer pribadi.
kalo yang PP iptek emang seru banget (menurut saya), tante.. klo yang lain, bisa seru juga.. klo buat foto2
baca tulisan ini, jadi pengen ksana lagi.. karena keterbatasan betis (pegel!), waktu itu belum terlalu dieksplor.
Tuti :
Ceklek … krieeet ….. ! *suara pintu dibuka*
Hei, Narpen! Ayo masuk, masuk … *sambil buru-buru nyopot rol rambut* (hare gene masih rol-rolan? ampun!)
Memang di TMII banyak banget yang bisa dilihat. Saya sudah 4 kali ke sana, dan belum tuntas juga. Lha wong mengeksplor satu tempat saja bisa 1 – 3 jam, tergantung minat kita.
Jalan kaki keliling TMII? Ya ampun, itu buat juara maraton olimpiade aja, Pen! Kan ada mobil dan kereta gratis buat pengunjung, dan kita bisa turun naik di mana saja? Foto-foto di TMII, memang bisa sampai kamera jebol … hihi … saking banyaknya obyek menarik untuk mejeng.
Besok kalau pulang kampung, ke TMII bayar kangen ya. Gimana di Jepang? Krasan kan?
aku sering kesitu tapi koq gak pernah nemu ini ya?
Taunya anjungan ama keong mas hehhe
jadi maluuuuuu
kalah sama wong ngayojokarto hehehe
cakep bun (backgorundnya) hehehhee peaceeee
bunda juga cakep koq
Tuti :
Hyah!! Mau yang cakep backgroundnya, atau foregroundnya, yang penting orang nggak dibikin sakit mata ngeliat fotonya …
Hayo, jangan mau kalah sama wong Jogja, Ka. Eksplor abis TMII! Siaaap … grak!
postingan mbak tuti
memang slalu inspiring dan edukatif
soal TMII ini, saya bersyukur
bisa memperoleh info
menarik dan penting
dari postingan ini,
soalnya saya memang
blom pernah ke sana,
maklumlah wong udik
Tuti :
Jogja kan kota kecil, lebih kecil dari Medan.
Saya wong Jogja lebih udik lho dari Abang orang Medan
Kapan-kapan kalau pas ke Jakarta nyempetin ke TMII Bang, tapi waktunya harus cukup, minimal seharian, agar bisa puas keliling. Saya mau lho jadi pemandu wisata …
Mmmmm……aku kok belum pernah ke sana ya? Padahal selalu penasaran tapi karena tiap ke Jakarta acaranya kolektif jadi harus nurut yg bikin acara.
Semoga suatu saat deh….
Tuti :
), jadi nggak tergantung pada yang bikin acara. Tapi ke Jakarta jangan naik sepeda motor, nanti lihat hantu di siang bolong lagi
Sekali-sekali ke Jakartanya sendiri Mas Nur (ngajak istri boleh ding …
Saya 3x ke TMII. pertama kali survey aja, nggak bisa keliling TMII karena waktunya mepet.
Yang kedua “nggiring” anak-anak murid ke Museum Minyak dan aquarium air tawar..nyoba naik skylift udah gitu doang…kali ini pun harus segera pulang karena waktu itu musim hujan, takut kebanjiran di jalan..
Yang ketiga, nganter Papa dan mama saya. Kami berkeliling anjungan rumah adat. saya lihat rumah adat Kaltim dan Sulsel…nggak nyangka akan melihat rumah-rumah yang sebenarnya di pulau tersebut hehehe…
Tuti :
Tiga kali ke TMII dan belum tuntas, ya Na? Memang butuh waktu berhari-hari untuk bisa melihat semua yang ada di TMII, saking luas dan banyaknya obyek di sana. Wah, saya malah belum ke Museum Minyak dan Aquarium Air Tawar. Kalau rumah adat, sudah dikelilingi semua, meskipun tidak semuanya sempat dimasuki.
Hm … nampaknya memang saya harus ke TMII lagi, untuk ‘menyapu bersih’ semua tempat yang ada disana
hmmm… jadi ingat terakhir ke TMII kapan ya? seingat saya pas sebelum merit. cie… ceritanya jalan-jalan berdua nih. hahaha. di sana niatnya pengen sepedaan, tp rupanya sewa sepeda agak mahal (dg waktu sedikit). dan malah ujung-ujungnya ke toko buku bekas langganan. udah deh, kalau sudah nongkrong di toko buku bisa lupa segalanya …
)
Tuti :
Lah kalau mau belanja buku kan nggak usah jauh-jauh ke TMII Kris … hehehe …
Waaa …. ke TMII kok masuknya ke toko buku
Yaah, kalau memang pecinta buku, apapun pasti kalah sama buku. Lagipula, yang penting kan pergi berduanya itu to? Jadi bukan mau lihat TMIInya …
Terakhir kali saya ke TMII tahun 1993. Lumayan udah lama ya…? Tapi yang saya kunjungi ya rumah adat itu. kebetulan waktu itu saya mengantar saudara yang baru pertama kali mengunjungi TMII. jadi, karena keterbatasan pengetahuan tentang TMII dan keterbatasan tenaga untuk menjelajah lebih jauh, maka rumah-rumah adat itulah yang jadi sasaran, hehehe…
Sepertinya Pusat Peraga IPT itu mirip-mirip gedung oval taman pintar ya bu?
Tuti :
Tahun 1993? Waah … sudah lama banget Da. Pastinya waktu itu belum ada Uni Icha ya
Sekarang sudah banyak tambahan anjungan dan museum baru, jadi sudah waktunya ke TMII lagi. The Fantastic Four pasti senang sekali kalau diajak kesana
Pusat Peragaan Iptek TMII memang serupa dengan Gedung Oval di Taman Pintar Yogya, tapi pastinya lebih lengkap (mungkin lho …. wong saya belum pernah masuk Gedung Oval … hiks
)
memang di belakang lelaki hebat selalu ada perempuan hebat ya bu…buktinya bu tien sukses dengan TMII ini…
aku juga suka ke sini, nanti kalau pulang mo ngajak ponakanku main2 kesini ah….sekalian ke ancol juga
Tuti :
Gimana kalau kalimatnya kita ubah : bukan ‘di belakang’ tapi ‘di samping’. Biar posisinya sejajar. Jadi, di samping lelaki hebat selalu ada perempuan hebat, gitu …
Kapan mo pulang? Aku juga pengin ke Ancol dan ke Dufan lagi, soalnya belum punya foto lengkap obyek-obyek di sana …