MENJELAJAH MUSEUM DAN ISTANA DI TMII
Bicara tentang TMII, apa boleh buat, kita tak bisa melupakan Presiden Soeharto dan Ibu Tien. Beliau berdualah penggagas miniatur Indonesia ini, dan pada masa pemerintahan Pak Harto pula TMII terus diperkaya dengan berbagai fasilitas serta koleksi baru. Salah satunya adalah Museum Purna Bhakti Pertiwi, yang terletak di bagian paling depan, sebelum masuk ke gerbang utama.
Museum Purna Bhakti Pertiwi berisi koleksi cindera mata Presiden Soeharto selama pengabdian beliau sebagai Presiden RI. Museum ini diresmikan pada tanggal 23 Agustus 1993, bertepatan dengan ulang tahun ke 70 Ibu Tien (kelak pada ultah ke 70, saya meresmikan apa ya … hihi). Bangunan Museum PBP berbentuk tumpeng besar setinggi 45 meter dikelilingi sembilan tumpeng kecil, dengan luas total bangunan 25.095 meter persegi, berdiri di atas tanah seluas 19,7 hektar (data Wikipedia ).
Apa isi museum ini? Dengan segala permohonan maaf, saya terpaksa mengaku : tidak tahu, karena belum masuk ke dalam dan hanya memotret dari luar saja. Lain kali, kalau saya sudah masuk, saya pasti akan cerita (janji deh!). Sabar yaa … orang sabar kan disayang Tuhan. Atau, kalau ada di antara teman-teman yang sudah pernah masuk, share dong ceritanya kepada teman-teman yang lain. Honor? Ya’elaah … saya yang sudah nulis banyak aja nggak ada yang kasih honor, dan tetap bahagia ….

Bangunan utama Museum PBP berbentuk satu tumpeng besar dikelilingi oleh banyak tumpeng kecil, simbol kemakmuran dan syukur dalam budaya Jawa

Inovasi arsitektur bangunan yang unik, bentuk kubah dan segitiga a-simetris. Bangunan segitiga yang miring itu memang didesain demikian, bukan karena ambles setelah digoyang gempa …
Meskipun belum tahu isinya, keindahan dan keunikan bangunannya cukup menghibur dan menimbulkan rasa ingin tahu, kan?
Oke … lanjut ke museum lain yuuks!
Ke Museum Listrik dan Energi Baru dulu deh. Bagi teman-teman yang suka kesetrum listrik … eh, suka ilmu Fisika, museum ini pasti sangat mengasyikkan. Meskipun bagi sebagian orang ilmu Fisika potensial membuat rambut brodol, kening berkerut lipat tujuh, dan guru secantik Cut Mini jadi tampak seperti Mak Lampir, di museum ini tersedia banyak alat peraga yang menarik dan mudah dioperasikan, yang mampu mengubah imej Fisika dari menyeramkan menjadi menyenangkan.

Aduh, tampak depan bangunannya jauh banget dibandingkan Museum Purna Bhakti Pertiwi. Nggak papa deh, yang penting ada listriknya …

Ini contoh PLTA skala kecil. Pergerakan kincir oleh aliran air digunakan untuk memutar generator listrik, bisa juga untuk menumbuk padi (haiyaa … hari gini numbuk padi? udah pake mesin selep buuuk … !)

Mesin disel merk Deutz Sultzer 85 KW ini buatan Jerman tahun 1926. Semula dipakai oleh perusahaan kopi milik veteran PD I keturunan Jerman. Pada kurun 1936 – 1974 disel ini digunakan PLN Sungai Penuh, Sumatera Barat

PWR (Pressurized Water Reactor) ini memiliki ukuran dengan skala 1 : 1, tingginya sekitar 7 meter. Reaktor Air Tekanan ini buat apa ya?

Panel-panel yang menjelaskan sejarah dan penemuan listrik, serta berbagai peralatan seperti Generator Van de Graff, Hukum Ohm, Magnet, dll …

Di dalam Ruang Cerdas Energi ini terdapat berbagai permainan yang memperagakan prinsip-prinsip energi. Ruangannya bersih berkarpet, jadi kalau masuk harus melepas sepatu (apalagi kalau kita habis nyemplung sawah … )

Prototype mobil listrik bernama Widya Wahana, karya mahasiswa ITS Surabaya. Itu desainnya futuristik, aerodinamik, atau niru mouse ya …
Puas bermain listrik, kita main Cinderella-Cinderellaan di Istana Boneka. Nama wahana untuk anak ini sebenarnya Istana Anak Indonesia, tapi lebih dikenal dengan nama Istana Boneka. Sebenarnya agak aneh bangunan ini ada di TMII, karena sama sekali tidak berakar dari budaya Indonesia. Bentuknya yang bergaya Gothic nampaknya ditiru dari kastil-kastil di Eropa pada abad pertengahan. Memang indah, sangat indah, dan mampu membawa kita seolah masuk ke dunia dongeng Hans Christian Andersen (eh …. anak-anak jaman sekarang masih kenal HC Andersen nggak sih?). Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah Indonesia tidak memiliki dongeng anak yang melegenda? Tentunya ada, bahkan buanyaak, dari seluruh Nusantara. Entah kenapa penggagas istana anak ini tidak mengambil salah satu legenda anak Indonesia, misalnya Timun Emas, atau yang lain.
Oke, protes sudah terlambat, wong istana sudah terlanjur berdiri dengan megah. Mari kita nikmati saja. Lupakan sejenak bahwa kita ada di Indonesia. Bayangkan bahwa kita adalah putri raja yang tinggal di kastil megah, menunggu seorang pangeran gagah yang akan datang dengan kuda putih dan melamar kita menjadi permaisurinya (weleh, weleh … cita-cita kok tradisional banget : jadi istri. Kenapa bukan kita saja yang jadi ratu, seperti Cleopatra dari Mesir atau Tribuana Tungga Dewi dari Majapahit?)
Harus diakui, bangunan istana ini dibuat dengan sangat bagus. Detail arsitekturnya dikerjakan dengan halus dan rapi. Keramik berwarna merah bata yang melapisi seluruh bangunannya menimbulkan kesan kuno, sekaligus anggun dan megah. Hmm … siapa ya arsitek, kontraktor, dan tukang yang mengerjakannya? Pengin juga nih, punya istana serupa (haiyyaa … mimpi lo ye!). Saya jadi membayangkan, kalau diambil legenda Timun Emas, yang hidup bersama janda tua di hutan, memang agak susah membuat rumahnya kelihatan indah dan menarik untuk anak-anak … hehehe

Di halaman depan istana, dengan boneka tikus merah dan kelinci oranye. Badan boneka yang empuk karena disumpal busa membuat Iin pengin memeluknya …
Di halaman depan istana beberapa boneka yang lucu-lucu menyambut pengunjung, menawarkan diri untuk berfoto bersama. Semula kami agak ragu berdekatan dengan mereka, tapi ketika mereka membuka penutup kepalanya dan tampak bahwa mereka adalah ibu-ibu, kami tak ragu lagi. Iin pun tanpa sungkan-sungkan memeluk salah satu boneka tikus berwarna merah. Gemas sih dengan tubuhnya yang gendut dan empuk karena disumpal busa. Selesai berfoto-foto, mereka minta sekedar uang saku seikhlas hati pengunjung. Dengan senang hati saya memberikan selembar uang Rp. 20.000. Mereka sangat berterimakasih, dan saya pun senang. Seharian berpakaian seperti itu, di Jakarta yang panas, pasti bukan pekerjaan yang nyaman, kan? Dan keberadaan mereka sudah membuat hati pengunjung senang.

Sisi dalam Istana Boneka. Woow …. siapa tak terpesona melihat keindahan dan kemegahannya?

Halaman dalam Istana Boneka yang luas memberi keleluasaan kepada anak-anak untuk bermain dan melakukan aktivitas fisik yang menyenangkan

Inilah Cinderella, yang menunggu Sang Pangeran datang menjemput dengan menaiki kuda putih ….
Dari Istana Boneka, kemana lagi? Oh, masih banyaaak. Ada Museum Keprajuritan, Museum Perangko, Museum Minyak, Theater Keong Mas …. waw, banyak lagi. Tapi posting ini sudah hampir mencapai 1000 kata, dan saya patuh pada komitmen semula untuk tidak menulis terlalu panjang.
So, tunggu posting berikutnya, oke?









Kalau Museum Purna Bhakti Pertiwi malah saya sudah 5 kali pergi mbak hehehe. Biasa antar tamu jepun. Satu yang saya suka di sana adalah ukiran akar pohon berdiameter 5 m (mungkin…pokoknya guede). Pasti berfoto di situ.
Istana Boneka dalamnya gimana mbak? Bangunan dengan kamar-kamar atau itu hanya tembok saja? Saya belum pernah ke sini (soalnya saya ngga suka boneka sih hihihi)
Itu boneka manusia kan minta tip nya agak maksa kan? hehehe… dan terus terang bonekanya bau keringat hihihi.
EM
Tuti :
Mbak, kenapa kalau ngantar tamu dari Jepun selalu ke Museum Purna Bhakti Pertiwi? Mereka memang minta kesitu, atau Mbak yang pilihkan? Kenapa bukan museum yang lain?
Di Istana Boneka nggak masuk ke dalam ruang-ruangnya, karena beberapa ruang pintunya dikunci. Dan karena waktunya terbatas, saya hanya mengelilingi saja, lalu naik sampai ke pelataran paling atas. Di aula belakang ada anak-anak yang sedang latihan menari.
Tentang boneka manusianya, waktu itu sih minta uangnya baik-baik, jadi saya nggak merasa dipaksa. Dan karena (menurut saya) mereka ramah, saya ngasih uangnya juga dengan suka rela. Tentang bau keringat, wah … saya kok nggak ingat ya … rasanya nggak tuh. Mungkin pas Mbak Imel ketemu boneka dulu, pemerannya sudah dua hari nggak mandi … hihihi …
Meski tampak semakin ndhesit dan ketinggalan jaman, tapi TMII tetap tampak pepak ya, Bu!
Itu istana boneka bagusan yang di Dufan, Bu!
Tuti :

TMII memang ndesit, tapi aku tetep seneng Don. Berarti aku lebih ndesit lagi ya ….
Semua yang ada di TMII aku lihat dari sisi budaya, sejarah, dan ilmu pengetahuan, jadi meskipun sudah jadul, tetap saja menarik. Budaya Indonesia itu kaya sekali lho!
Dari pada uplak-uplek main game di komputer, aku lebih suka jalan-jalan di TMII dan melihat segala hal yang aku belum pernah lihat.
Aku sudah dua kali ke Dufan, tapi kok nggak ingat istana bonekanya ya? Weleh, weleh …
Enggak ah bagusan disini…
yg di dufan udh agak tua gt Don
(menurutku lho) hehehe
Tuti :
Nah … ! Jangan-jangan Donny belum pernah masuk yang di Dufan maupun yang di TMII tuh! Hihihi …
Soalnya, kalau lihat ‘potongan’nya, Donny pasti nggak suka boneka …
Emang potongan si bang donny cem apa tante
kekekeke
Tuti :
Potongan Donny itu … emmm (*ngebayangin sosok Dony, padahal blom pernah liat orangnya*) macho, berotot, nggak suka pakai batik, jenius, filosofis … pokoknya nggak cocok banget pegang boneka ….
(maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
Keknya TMII perlu lebih memodernkan dirinya. Biar lebih menarik buat pengunjung.
Tuti :
Ya, memang beberapa yang sudah tua perlu direnovasi kembali, dan ditambah dengan koleksi baru …
Wah bener deh. TMII ga ada abisnya dieksplor. Kebetulan semua yang di liputan ini (rasa2nya) saya belum pernah berkunjung (baru liat doang dari luar).
Lah bonekanya mana, tante??
Moso yang dua di depan itu diitung boneka?
Eh tante.. moso kereta yg muter2 itu gratis? ahahaha.. Jadi menyesaaalll… Saya pikir bayar.. Owalah.. kasihan kamu, betis.. menanggung siksaan sepanjang hari..
Abisnya otak mahasiswa saya waktu itu penuh kalkulasi biaya tante, hahahaha. Lagi bokek tapi pengen jalan2. Tau gitu bareng tante aja ya
*maunya*
Tuti :
(*seneng dapet teman senasib*)
Haa!! Ternyata saya se’aliran’ dengan Narpen : pecinta TMII ….
Iya yaa … kok saya nggak lihat boneka di dalam istana ya? Memang nggak masuk ke dalam ruangan-ruangannya sih (waktu itu kebetulan beberapa ruang dikunci).
Beneran Pen, kereta terbuka yang muat sekitar 20 orang itu gratis, siapa saja boleh naik dan ikut berkeliling di TMII. Pengemudinya sekalian menjelaskan obyek-obyek yang dilewati, ini apa, itu apa. Naik turunnya juga tidak harus di halte tertentu, bisa di mana saja. Saya pernah naik kok …. Laah, kalau keliling TMII jalan kaki ya bengkak tuh kaki!
Oke, oke … besok ke TMII lagi bareng aku ya Pen …
…
Kalo gak salah di istana boneka ada boneka berpakaian tradisional suku-suku di Indonesia..
Kalo ke pbp ajak2 ya buk, penasaran juga nih
…
Tuti :
Wah, Ata sudah pernah masuk ke Istana Boneka ya?
Ayuuk … kapan mau ke PBP? Ketemu di depan gerbang ya!
Hahaha, cerita di TMIInya masih lanjut nich mbak, hem…pasti seru dech.
Ngomong2 di dalam istana boneka itu apa yach mbak ?.
Terus terang saya & anak2 pernah juga kesana, tapi nggak sampai masuk kedlm-dlmnya, krn sa’at itu cuaca sangat terik, jadi cuma fotoan diluar sama badut-badut juga, dan akhirnya saya & anak2 berkunjung ke museum air tawar dan insekta. Dan mrk sangat enjoy
Ok, mbak saya tunggu cerita lanjutannya
Best regard,
Bintang
Tuti :
Iya nih Mbak Elinda, kalau dituruti, lama-lama blog saya jadi ‘blog TMII’ karena banyak sekali yang bisa saya tulis dari obyek-obyek di sana
Pertanyaan yang sama dengan beberapa teman : apa isi Istana Boneka? Dan saya jadi menyesal, karena waktu itu nggak masuk ke dalam ruangan-ruangannya. Selain beberapa ruangan dikunci, menjelajahi bagian luar, halaman, dan naik sampai ke pelataran atas sudah membuat saya terkagum-kagum, jadi sampai nggak ingat untuk masuk ke dalam. Bangunan ini betul-betul cantik lho Mbak. Pengerjaannya detail dan rapi …
Saya belum ke Aquarium Air Tawar dan Museum Insekta … hiks
… harus ke TMII lagi nih!
salam buat keluarga ya Mbak
Bu, laporan kali ini…. penulisnya ceriwiis bgt! hahahaha… aku gak tahan baca komentar di foto2. Dan ya ampuuun, ternyata dari jaman dulu hingga kini; cita-cita tradisional itu tetap dipertahankan dan diperjuangkan ya…. “cita-cita tradisional”, hahaha bahasa yang cerdas!!!
Ping (termasuk anak jaman sekarang ‘kan?) belum mengenal Eyang H.C. Andersen, tapi emaknya udah pernah bacain dongeng2 Eyang Andersen karena kebetulan aku punya beberapa buku dongengnya yang mendunia itu…
Makasih untuk reportase nan centilnya Bu…
Tuti :
Ceriwis? Bukannya itu Indie Barens di Transteve? Hehehe …
Iya Hen, ‘cita-cita tradisional’ itu memang akan terus diperjuangkan, karena sudah menjadi dorongan naluri dan kebutuhan dasar manusia. Dan yang tradisional itu tidak selalu ketinggalan jaman kan?
Dulu waktu masih SD, aku baca semua komik HC Andersen. Kayaknya waktu itu buku anak-anak yang ada memang tidak banyak, dan didominasi oleh cerita-cerita terjemahan dari barat. Ada satu cerita yang sangat berkesan bagiku, yaitu “Gadis Korek Api”. Kisahnya, ada seorang gadis miskin yang kedinginan di musim dingin. Pada suatu malam, untuk mengusir dingin ia menyalakan satu demi satu batang korek api yang dimilikinya. Pada setiap nyala sebuah batang korek api, dia bermimpi bertemu dengan seorang pangeran gagah, dan mereka berniat untuk hidup bersama. Tapi sebelum mimpi hidup bersama itu kesampaian, batang korek apinya habis. Esok paginya, orang-orang menemukan gadis ini sudah mati beku kedinginan …. wah … sedih sekali bacanya … hiks
Baru saya mau tanyakan mengenai Boneka Badut itu Bu …
Ya bu …
Pengalaman saya …
mereka “setengah” memaksa anak kita untuk foto dengan mereka … dan meminta imbalan dari sana …
di satu sisi saya kasihan melihat mereka
di sisi yang lain … ada kekhawatiran … semoga mereka tidak mengganggu kenyamanan pengunjung ya bu …
semoga anak-anak (juga orang tuanya) ikhlas berfoto dengan mereka
Salam saya …
Tuti :
Wah … pengalaman Om Trainer kok sama dengan pengalaman Mbak Imel ya … agak negatif tentang manusia-manusia boneka di Istana Boneka. Kebetulan pengalaman saya ‘baik-baik saja’ Om. Mungkin juga karena saya memang suka boneka ….
Tapi saya setuju dengan harapan Om, semoga apa yang dimaksudkan sebagai daya tarik sebuah obyek wisata, tidak justru terasa menjadi pengganggu kenyamanan pengunjung (saya jadi ingat pedagang asongan yang banyak terdapat di candi Borobudur, juga pantai-pantai di Bali, yang menawarkan dagangannya dengan cara memaksa …
)
terakhir ke sana .. kapan ya ?? rasanya dah lamaaa banget, waktu masih skul ..
dulu rasanya gak begitu menikmati, karena disertai harus mengisi tugas makalah yang diberikan sesaat sebelum kunjungan study tour ke sana ..
apa TMII sekarang makin bagus ya ?
Cara Membuat Web
Tuti :
Wah … waktu masih skul itu sudah berapa tahun yang lalu? Yang jelas, sesudah Pak Harto lengser, TMII agak kurang berkembang … maklum, yayasan pengelolanya kan milik keluarga Pak Harto.
Tapi masih banyak yang bagus untuk dilihat kok …
* Kalo mau nurutin ngubek2 semua yang ada di TMII, wah bisa dari pagi sampai sore belum tuntas mbak …. dan pastinya betis kaki pada kaku deh …..
* Kesengsem dengan istana peri, eh istana boneka ya mbak ….. itu lho sampai ada 5 gambar dari berbagai angle …
* Ditunggu cerita berikutnya hasil klinong2 di seputar jakartanya ya mbak….
Tuti :
dan supaya kaki nggak kaku, paling enak bawa mobil sendiri, jadi dari obyek yang satu ke obyek yang lain nggak usah jalan kaki
* Betul, kalau mau ngubek-ubek semua isi TMII, nggak cukup cuma dari pagi sampai sore, tapi butuh waktu seminggu, Mas …
* Iyaaa!! Istana Boneka itu mainan impian masa kecil saya yang nggak pernah terwujud. Jadi meskipun sudah bangkotan gini, masuk ke istana boneka teuteup aja kegirangan …. hehehe
* Iya deh … tapi besok ganti obyek lain ya. Kalau TMII terus, takut teman-teman pada bosan
Saya sudah lama tak ke TMII, terakhir nonton film bersama si sulung.
Dulu, saat anak-anak kecil, malah sering kesana…setelah mereka besar, pilih sama pacar dibanding sama ibunya…hehehe
Tuti :
)
Kalau anak-anak pilih pergi sama pacarnya, Mbak Enny pergi sama bekas pacar dong (alias bapaknya anak-anak … hehehe
tdk nyoba pakai kostum boneka kelincinya, mbak?
Tuti :
Nggak Mbak Nut, takut dikejar Paman Bobo …
Bun.. harusnya bunda jadi PR nya Taman Mini ya bun wong ulasannya ciamik gini
Tuti :
Ok, ok!! Tolong kirim profilku ke pengelola TMII ya Ka …
Saya setuju dengan komentarnya Eka …
Tanpa bermaksud untuk mengajari siapa-siapa …
saya kira tulisan ibu Tuti ini patut ditiru (or at least dipertimbangkan ) oleh para pengelola object pariwisata tersebut …
Ini tulisan yang bagus …
Jujur aja nih … terbersit keinginan saya untuk datang kembali ke TMII setelah membaca tulisan ibu Tuty …
Juga tulisan-tulisan yang lain … i.e ullen sentanu, dan sebagainya
Tuti :
*tersipu malu dengan kalbu bagai disiram madu ….. yeeiy, lengket dong!!*
Terimakasih Om … emang Om paling pandai membesarkan hati orang. Ya iyalaah … namanya juga trainer …
saya juga punya keheranan yang sama dengan bu tuti soal istana boneka itu. kenapa yang satu ini agak beda dengan yang lainnya dan sedikit lari dari pakem. karena itu adalah taman mini indonesia, seharusnyalah yang ditampilkan segala hal yang berakar budaya indonesia…
hmmm… memang terlambat buat protes, tapi bukan tidak boleh tho…?
*menggelar tikar, menunggu reportase berikutnya*
Tuti :
)
*nyiapin spanduk buat protes*
Ayoo … siapa lagi mau protes, kita demo di depan TMII. Istana Boneka harus diganti dengan yang berbudaya Indonesia (dan yang lama dipindah ke rumah saya … hihihi
Sambil nggelar tikar, bagus juga ngrebus air sama bakar jagung Da
ernut dulu sempat kerja part time berkostum kelinci itu Mbak…makanya dia nawarin Mbak Tuti barangkali mau nyobain juga….
Tuti :
Mbak Ayik sendiri dulu jadi apa? Wortel yang dimakan kelinci? Waduuh …
kalau bukan kita…sapa lagi sih yang “menjual” kekayaan bangsa kita..
jd pengen ke sana lagiii
Tuti :
*loncat-loncat, sorak-sorak, joget-joget*
Horeee …. sukses memprovokasi cogan kelahiran Papua nengok TMII lagi!!
Mbak tuti, habis ini saya pesen ulasan theater keong emas ya, hehehe….
Di samping belum pernah kesana, dulu waktu SMP aku pernah mimpi mengunjunginya (ketahuan kepengin tapi nggak kesampaian).
Tuti :
)
Keong Emas ya? Ok, saya usahakan ya Mas Nur. Saya nonton di Keong Emas waktu pertama ke TMII, jaman masih SMA. Memang sekali dalam hidup, harus nonton di teater Imax itu. Layar yang begitu besar membuat kita seakan masuk ke dalam filmnya. Sensasinya luar biasa ….
(sengaja memprovokasi, biar Mas Nur semakin termimpi-mimpi
Saya malah bukan ke istana boneka tapi ke tempat burung, keliatannya agak terbengkalai jadi ikut prihatin
Tuti :
Saya belum masuk ke Taman Burung. Apakah terbengkalainya karena adanya virus flu burung beberapa waktu lalu?
waduh aku belum pernah kesana walaupun sering sliweran kesitu kekek maklum .
Tuti :
Nggak papa Mas Totok … kita semua maklum kok
postingan soal TMII dan
yang ada di dalamnya
yang disajikan Mbak Tuti
sangat menarik dan enak dibaca,
kelihatannya bakal ada
lanjutannya lagi….,
bagus nanti diterbitkan
jadi sebuah buku saku
mantaaap
Tuti :
Terimakasih Bang
Tapi untuk diterbitkan menjadi buku, kayaknya masih perlu perjuangan keras mencari sponsor … (ssst … Bang Mike bisa menghubungkan saya dengan pemilik kocek Cendana?
Saya beberapa kali ke TMII di antaranya mengantar teman2 dari negara sahabat. Mereka kadang mau juga badannya dililit ular, lalu foto2 dengan si ular itu.
Ketika mereka disuguhi salak, bengong melihat buah unik itu.
Salam hangat dari Surabaya
Tuti :
Hiii … nggak ngeri ya dililit ular? Saya mah pasti sudah pingsan duluan, Pakde
Oh ya, nampaknya salak bisa dijadikan buah khas Indonesia ya? Memang nggak ada di negara lain, Pakde?
Salam hangat dari Jogja, Pakde
Wah bu tuti.. gk bisa comment banyak.. tahu kan knapa
*ambil cemilan, duduk disamping uda, tunggu reportase selanjutnya*
Tuti :
Tahu Bro … soalnya Bro Neo gak suka main boneka, wong sudah punya boneka hidup di rumah …
*ngeluarin kacang rebus buat cemilan*
Satu kata : Kangeeeennnnn……!!!! Waktu SD dulu saya dan bbrp teman sekelas terpilih utk ikut latihan Tari Tradisional dan Bina Musika di sana. Jadi kangen masa-masa itu. Apalagi tiap usai latihan kami langsung latihan drama. Iya. drama Putri yang menunggu Pangerannya dgn script berdasar khayalan kami sendiri
Wah, postingan kali ini Bu Tuti benar-benar memanjakan saya
Tuti :
Whoaa … Reva pernah latihan tari di Istana Anak Indonesia? Hebat banget dong. Seneng banget dong.
Dan dramanya itu … yang nunggu dijemput pangeran berkuda putih itu … akhirnya jadi kenyataan nggak?
Senang sekali kalau tulisan ini telah memanjakan Reva (dapat pahala kan saya?
)
Oh, dramanya jadi kenyataan, Bu. Cuma yang menjemput pake honda bebek, bukan kuda putih
Tuti :
biarpun jemputnya nggak pakai kuda putih, yang penting pangerannya gagah kan …
Wah, senengnya … khayalan jadi kenyataan
mmmm…aku belum pernah masuk ke dua2nya…aduhh ibu bikin aku penasaran masuk deh…jadi kepengen…hehehehe….nanti ah mo nyobain pas pulang jakarta
*semoga bisa main2 kesana*
Tuti :
Memang jadi Cinderella itu asyik banget. Dan kalau nggak ada pangeran dengan kuda putih yang menjemput, pake kuda lumping juga boleh …. wakaka
bu tuti, waktu kunjungan terakhir bu tuti ke istana anak, kolam renang yang lama (yang di deket istana anak) masih ada engga? kolamnya masih diisi air ga? numpang nanya ya bu, hehe..
Tuti :
Kolam renang di dekat Istana Anak? Waduh, saya kok nggak sempat lihat ada kolam renang di sana ya? Mungkin saya nggak sampai jalan ke tempat itu, jadi nggak tahu. Maaf, Yasmin …