AGAR TAK CUMA SAKIT YANG DIDAPAT
Kata-kata mutiara di atas saya peroleh dari sebuah buku saku berjudul “Inspiring Words” yang disusun oleh Ida Prastiowati, diterbitkan oleh Penerbit Indonesia Cerdas, Yogyakarta. Buku kecil ini (10 x 14 cm) menghimpun kata-kata mutiara, kata-kata emas, dan kata-kata berlian dari para tokoh di seluruh dunia, meskipun ada juga yang anonim. Nah, kalimat indah di atas diucapkan oleh Oswald Avery.
Siapakah Oswald Avery? Saya bertanya kepada Paman Google, dan menemukan informasi yang cukup memadai dari Wikipedia . Avery adalah warga negara Amerika berasal dari Canada. Ia dilahirkan pada 21 Oktober 1877 dan wafat pada 2 Februari 1955. Avery adalah seorang ahli biologi molekular, immunochemistry, gen dan chromosom. Ia bekerja di Rockefeller University Hospital, New York City.
Oswald Avery (1877 – 1955)
Saya sangat terkesan pada kata-kata Avery, dan pernah memuatnya di status Face Book beberapa waktu yang lalu. Peristiwa tak mengenakkan yang menimpa saya beberapa hari kemarin, yang pernah saya tulis dalam dua posting terakhir (yang kemudian saya hapus), mengingatkan saya kembali pada kata-kata Avery.
Sebenarnya kata-kata Avery bukan sesuatu yang sangat baru. Sebelumnya kita pasti sudah pernah mendengar kalimat sejenis, yang intinya adalah : ambilah hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Kalimat Avery jadi mengesankan karena saya membayangkannya secara visual :
Ketika kita jatuh terjerembab, tubuh berdebum ke bumi, dan wajah mencium tanah (mungkin dengan hidung berdarah), jangan langsung bangkit dan kembali berjalan. Ketika wajah kita begitu dekat ke permukaan tanah, itulah kesempatan bagi kita untuk mengamati apa yang ada di atas permukaan tanah itu, yang selama ini mungkin tak pernah kita perhatikan (misalnya, semut ternyata memiliki pinggang yang sangat ramping … ).
Lalu perlahan-lahan kita duduk, mengamati permukaan tanah di sekitar kita dalam area yang lebih luas. Mencari sebab kenapa kita jatuh : mungkin ada lobang yang tidak kita lihat, mungkin ada batu yang kita sandung, mungkin karena ada tali melintang yang sengaja dipasang orang untuk menjegal kita, tapi mungkin juga karena kita berjalan dengan gembelengan dan pethakilan.
Nah, apa pun sebab yang membuat kita jatuh, jangan berdiri tanpa ‘memungut sesuatu’ dari tempat kita jatuh. Sudah pasti yang harus kita pungut adalah sesuatu yang bermanfaat, misalnya koin yang tercecer, sandal jepit yang tertinggal, ataupun tali melintang yang sudah membuat kita jatuh (lumayan kan buat bikin tali jemuran di rumah …). Nah, jatuh kita bisa menjadi berkah melimpah kalau yang kita temukan adalah berlian segede durian …
Sekarang pertanyaannya adalah : bagaimana kalau teman yang berjalan di sebelah kita jatuh? Pe-er untuk direnungkan, dan dikumpul secepatnya ke meja Bu Guru …









pertanyaan lain lagi dulu : temen yg jatuh gendut apa kurus? kaluk gendut, yg perlu dilakukan pertama adalah “tolooongg…saya perlu bantuan untuk menoloooong!” qiqi
- btw, setuju mbak tut simpan aja dua postingan kemarin itu, eman2 blog ini … ntar kaluk udah nenek-nenek kita intip2 lagi sekedar mengenang hal lucu di waktu muda-
Tuti :
(*lho, emange aku gendut? Mbak Ayik protes*)
)
Pertama : semoga Mbak Ayik nggak tersinggung dengan pertanyaan lain Mbak Ernut …
Iya, Mbak … dua posting itu saya simpen aja (tapi saking primpen leh nyimpen, malah digoleki meneh ora ketemu … hihi
kumpulkan! kumpulkan! waktu habis! -asisten bu guru-
Tuti :
)
terimakasih asisten, cepat serahin ke saya! (eh, ngumpulin jawaban to? kirain ngumpulin duit …
Jadi penadah berlian segede duren yg dia pungut, hehe..
Tuti :
Saya nunggu sang penadah memberikan berlian itu sebagai hadiah untuk saya …
wah, kalau jatuh nemu berlian segede durian, mantaap..
(enggak papa deh jatuh)
tapi kalau nemunya sandal jepit sebelah, ah maleess..
hehehe.. (wah saya maunya untung doang)
Tuti :
Paling enak memang jatuh di kasur empuk, habis itu nemu berlian segede durian …
Yeeiy … sandal jepit sebelah kan lumayan buat bandul kalung di leher, Yasmin …
Hmmm … melihat spirit temen yang jatuh tadi untuk bangkit kembali
trus … trus … tolongin temen yang mungut sesuatu yang bermanfaat itu, and apa yg dipungut jadi milik kita. Kan slogan mupek, nemu di-pek hehehe
pdhl yg nemu temennya huahahhaha
sableng
Tuti :
Ah, bagus sekali Ka : melihat spirit teman yang jatuh untuk bangkit kembali …
Tapi slogan ‘mu-pek’ itu … ntar kalo ada cewek nungguin suami Eka di depan kantornya, trus begitu hubby keluar kantor di’mupek’ sama dia, gimana hayooo …. hihihi
Weleeeeh ini kan khusus barang bunda…
kalo suami kan orang
ya gak boleh di.pek dunk hehhehe
Tuti :
Pasti M*******ri nggak setuju pendapatmu Ka, lha wong nge-pek suami orang (apalagi Bb Tr ganteng dan kaya raya) itu enak je, mantep je, bangga je …
* INI JAWABAN Pe-er`nya…….Apabila situasi tsb terjadi pada kita, maka INGAT2 kata oom OSWALD AVERY:
1. Perhatikan dengan seksama yang jatuh di sebelah kita, adakah sesuatu yang dipungut saat dia terkapar???
2. Bila TIDAK ADA YANG DIPUNGUT?? Ingatkan dia untuk segera memungut sesuatu selagi dia masih terkapar, selagi dia belum bangkit lho.
3. Tunggu reaksinya apa yg terjadi setelah itu ……. paling2 akan ada pertengkaran hebat di tempat itu, hahaha….
–Ada-ada saja pe-er bu dosen….–
Tuti :
mending pura-pura jatuh di dekat Brad Pitt (padahal Brad Pitt nggak lihat …
)
Jadi nggak nolongin teman yang jatuh ya? Waduh …. saya nggak mau ah jatuh di dekat Mas Karma …
[Quote] Jadi nggak nolongin teman yang jatuh ya? Waduh …. saya nggak mau ah jatuh di dekat Mas Karma …
mbak, kadang teman yang jatuh itu juga tidak mau ditolong. Dia lebih enak terjerembab, dan mungkin sambil merenung.
Saya pernah alami itu juga, ditolak ketika saya mau membantunya. Dan… itu sakit sekali mbak.
Oleh sebab itu saya putuskan, saya tawarkan bantuan, jika tidak mau…. ya tidak apa, tapi jangan harap saya akan menawarkan bantuan lagi di kemudian hari.
Tapi yang pasti, saya tidak mau menjatuhkan orang lain mbak hehehe
EM
Tuti :
Ya, memang ada orang yang seperti teman Mbak Imel itu. Nggak mau ditolong. Kalau menghadapi orang yang seperti itu, memang kita hanya bisa menawarkan. Kalau dia menolak, ya sudah. Saya coba berpikir positif saja : mungkin dia sudah punya rencana sendiri untuk mengatasi permasalahannya. Cuma, kalau menolaknya dengan cara yang kurang baik, memang kita jadi sakit hati ya.
Kalau saya mah, senang sekali dibantu Mbak Imel. Jadi kalau besok mau jatuh, pilih tempat di dekat Mbak Imel ya … hihihi
masalahnya jadi sulit karena temen yang disebelahku itu JATUH hati, kepada aku …… wah gimana nih ….. sayang sayang buah kepayang, dimakan mabuk dibuang sayang ……. (secara usia udah setengah abad)
Tuti :
Yeee … Bang Sis
Mo nanya Bang, temennya itu laki-laki apa perempuan?
Bu, malam minggu kemaren… Karena hujan deras ada seorang anak muda yg terpleset jumpalitan terguling di trotoar yg licin. Aduduh tidak kutolong krn dia langsung berdiri tegak… Jadi aku pura2 gak liat biar doi gak terlalu malu…*OOT gak sih?
Salam buat bu guru!
Tuti :
Ada yang jatuhnya membuat malu, sehingga lebih baik kita pura-pura tidak melihat, tapi ada yang jatuhnya bener-bener musibah, sehingga kita ‘wajib’ menolongnya. Kalau dia langsung berdiri tegak, kayaknya memang nggak perlu bantuan ya Hen
Memang tergantung ‘cara’ jatuhnya sih
Salam juga buat para murid
Saya mbatin aja, wah, kok yang jatuh temen, jadi dia dong yang punya kesempatan nemu berlian segede durian. Padahal dari tadi saya sudah jalan sambil merem, berharap agar jatuh, hehe..
Tuti :
Isnu, pura-pura aja ikut jatuh, lalu cepet-cepet umpetin tuh berlian … hehehe
Kalau teman samping kita yang jatuh? Biasanya kita bakal “mak trataaap” karena ikutan kaget. Hehe. Teman yg jatuh itu juga biasanya kaget plus malu. Kurasa kita bisa membantu dia supaya bisa menangani rasa malunya dengan baik. Misalnya, nggak usah “diisin2″ karena dia jatuh.
Tuti :
Mmm …. kok rada aneh ya? Mengapa orang yang jatuh merasa malu? Kalau jatuhnya karena dia sembrono, atau kemayu/kemaki, mungkin memang malu. Tapi kalau jatuhnya karena dijegal orang, atau karena musibah? Rasanya dia nggak perlu malu, justru orang yang menjegal itulah yang harus malu …
Btw, ngisin-isin orang jatuh kayaknya kok nggak perlu ya … meskipun jatuhnya karena dia kemayu/kemaki …
Kalau teman sebelah kita jatuh, kita ikut pura2 jatuh aja Bu, menimpa di tubuhnya… sapa tau cantik hihihihihi..
)
Trus jangan langsung berdiri… amati dari dekat wajahnya, kalau ia memberi lampu ijo, sosor bos!
Begitulah jawaban saya… Ini dikumpulkan kemana????
Tuti :
Jiaaan …. Donny tenan, yo koyo ngono kuwi kelakuane … 
Wakaka … !
Ayu, tapi begitu senyum, ternyata punya taring kayak Draculi, gimana Don? Hihihi …
Jawaban dikumpulkan di tempat Mbok Bon dulu, soale Bu Guru lagi rapat dengan KepSek.
Hem, ini beneran jatuh khan mbak ?.
Kalau beneran jatuh pasti saya tolongin dong, khan kasihan, hehehe….
dan yang pasti ambil himah positifnya, agar besok2 nggak jatuh, hehehe…
Udah githu aza mbak jawaban pe-er-nya, hahaha
See you mbak
Best regard,
Bintang
Tuti :
Jawaban pe-ernya bagus Mbak Elinda, saya kasih nilai A deh …
salam hangat
saya pernah jatuh kesrimpet…tapi malah diketawain ernut , MBak…. Katanya , ” kalau jalan lihat2 .knape…?”….Jadi menurut Mbak Tuti bagaimana ?…
Tuti :
Geret ae sikile, ben melu tibo …. hihihi … jahat ya? Nggak dong, kan terus diajak golek berlian segede duren bareng-bareng …
Kalau saya …???
Tergantung … Siapa teman yang Jatuh itu Bu …!
Jika ada pandangan memohon … kedip-kedip … mulut menganga … ya saya tolong …
kalau ternyata tidak …
ya didiamkan saja … seraya … berkata … “Jangan lupa ambil sesuatu …!!!”
Kalau Sandra Dewi yang jatuh ?
hehehe … mmm gimana ya ???
Tolong … enggak … tolong … enggak …
Salam saya
Dikumpulkan … lalu keluar maen …
Tuti :
(kalau itu tambah klebus njedindil … hihihi)
Pandangan memohon … kedip-kedip … mulut menganga …. wah, saya kok jadi ingat kucing saya yang kecebur kolam ya Om …
Kalau Sandra Dewi yang jatuh? Om tolong aja, saya ambil kamera, terus saya potret, jeprett …. !! (untuk dilaporin ke Tante Nh … hihihi)
…
Judulnya pernah nemplok di Fb ya buk..
Duh musti nulis komen beda dgn yg di fb nih..
Yang namanya hidup pasti pernah dipuncak tertinggi lalu jatuh kebawah di titik terendah..
Memang sakit, tapi tak sampai mati..
Yang pasti setelah jatuh membuat kita berjalan tak seperti dulu lagi..
*quote film, lupa judulnya*
Tuti :
Nggak kok Ta … karena postingnya sama, komennya juga boleh sama
Quotenya bagus, Ta. Tapi harus disebutin lho, sumbernya dari mana. Kalau nggak, ntar kena komplen … hihihi …
Lihat dulu, yg jatuh ganteng apa gak
Hehe…., gak ding! Terkadang orang yg lg jatuh justru tidak ingin ditolong, jadi saya lihat-lihat dulu doski sekiranya mau ditolong atau gak. Sembari melihat, saya biasanya sih dengan jelas bilang “I’ll be there whenever you need,”
Tuti :
Betul Reva, memang ada orang yang nggak mau ditolong. Bisa jadi karena gengsi, tapi bisa jadi karena dia ingin menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Kita harus hargai sikapnya, kan? Bilang “I’ll be there whenever you need, just call my name” sungguh sangat simpatik. Orang yang nggak mau ditolong itupun pasti akan terharu dan berterimakasih …
kalau menurut aku mbak, tergantung tipe temennya seperti apa…aku pernah baca…
terkadang seorang temen itu perlu jatuh dulu untuk liat di permukaan tanah itu ada apa, agar dia sadar. karena kadang kalau kita omongin yg ada malah berantem…hehehehe
tapi kalau temennya mau di bantu dan bener2 bisa di ajak diskusi boleh lah
Tuti :
Wah, kalau ada temen yang kayak gitu, bagusnya nggak usah diomongin, tapi dijorokin aja Ria … hihihi … (*bercanda*)
Emang orang cem-macem karakternya ya, makanya dunia jadi rame … Tapi aku percaya, kalaupun Ria jatuh, pasti jatuhnya dengan gemulai sembari tersenyum anggun …
tergantung bagaimana dia bereaksi setelah jatuh bu.. kalo minta tolong ya aku tolong, kalo udah bergegas bangun lagi ya jd “pengamat” aja, kalo dia menikmati terjerembab ya teriak aja “ayo bangun” & kalo tetap aja menikmati keterjerembabannya (halah.. kata apa itu) ya.. sorry kadang aku jalan terus…
*clingak clinguk cari meja bu guru… kok gak ada sih mejanya?*
Tuti :
Jawabannya komplit-plit Bro … oke deh, saya kasih A+ …
Hah! meja Bu Guru nggak ada? (*kaget*) aduuh … jangan-jangan ditarik oleh pemasok meubelnya karena sudah bertahun-tahun belum dibayar oleh Diknas …
bila teman kita jatuh maka ya di tolongin seeh
Tuti :
Dua jempol untuk Kawan Lama …
Ah, anak baik
ah.. Jleb banget tante..
Rasanya saya baru banget jatuh.. dan itu karena kesalahan saya.
Sedang berusaha membersihkan dan menyembuhkan luka, sambil berpegangan agar tidak tergelincir jatuh semakin dalam..
*ga menjawab pr gpp ya tante..*
Tuti :
Aduuh …. sini pegangan sama Tante (*mengulurkan tangan*)
Jalan hidup kadang-kadang memang licin, terjal, dan bergelombang. Tapi percayalah, jatuh bangun dalam hidup itu yang justru akan membuat kita dewasa dan arif menghadapi segala persoalan. Tentu saja, seperti judul posting saya kali ini, kalau kita pandai memungut sesuatu ketika kita jatuh. Kalau nggak mungut apa-apa, ya dapetnya babak belur doang …
Narpen sedang berusaha membersihkan dan menyembuhkan luka? Saya jadi ingat diri saya sendiri. Saya tuh kayak kucing : kalau terluka akan menyendiri, membersihkan luka sendiri, dan menyembuhkan diri sendiri. Diam-diam, nggak ribut-ribut …
*peluk Narpen erat-erat*
kalo saya jatoh, yang saya pungut biasanya sih ceceran harga diri.. hihi.. abis, saya suka heran aja, wong udah berpengalaman berdiri sekian lama, koq ya masih aja bisa jatoh..
tapi yah, kalo dalam dunia usaha dan juga pekerjaan, memang kalo jatoh pasti akan banyak sekali yang terhempas dan kemudian retak atau hancur berkeping2.. dan, itulah yang susah buat saya jalani selama ini.. karena saya belum cukup berpengalaman
duh..duh..
Tuti :
Mas Billy, yang namanya jatuh itu bisa dialami siapa saja : yang baru belajar berdiri maupun yang sudah terlalu lama berdiri. Orang pun bisa jatuh berkali-kali, karena sebab jatuhnya bisa beda-beda. Tapi kalau jatuh melulu di lubang yang sama, nah … baru itu namanya kurang hati-hati.
Memunguti ceceran harga diri? Bagus juga. Tapi jangan lupa juga untuk memungut sesuatu yang berharga, yang bisa disimpan sebagai mutiara hidup.
Dalam dunia usaha dan pekerjaan, jatuh dan gagal itu biasa. Pengusaha-pengusaha besar yang sekarang sukses pun dulunya pernah jatuh berkali-kali. Tapi mereka tak pernah menyerah, dan selalu bangkit kembali. Tak pernah menyerah, dan terus belajar, itu kuncinya.
Semangat dan sukses ya, Mas Billy
(*mengepalkan tangan di depan dada*)
kalo ditempat kerja saya gak ada yang mau jatuh bu..soalnya semuanya pake rok super mini..mungut bolpen di lantai aja bisa keliatan itunya gimana jatuh…wah udah pasti saya mau nolongin…heee.. udah kumpulkan!
Tuti :
)
Kalau saya jadi Mas Indra, lantainya saya lumuri oli, biar yang pada pakai rok mini jatuh semua. Kan Mas Indra jadi banyak ‘pahala’, nolongin kanan kiri (sambil ngintip kanan kiri pula …
Kalau yang jatuh disamping kita temen akrab sih sudah otomatis menolong dan si korban juga pasti dengan senang hati menerima pertolongan kita.
Lha kalau yang jatuh tuh “rival berat” sepertinya harus ditanya dulu deh, “Lu mo gue tolong kagak?” Hehehe….Paling banter dia akan tambah benci sama kita. (Jangan dicontoh ya-nggak baik).
Wah jadi penasarandengan 2 posting yg dihapus itu Mbak, soalnya aku belum baca.
Tuti :
Buntut-buntutnya, dia nunggu kita lengah, dan narik kaki kita hingga ikut jatuh
Rival kita akan tambah benci kalau kita nanyanya sambil berkacak pinggang dan senyum gimanaa gitu ….
Penasaran dengan dua posting yang sudah saya hapus? Makanya, rajin-rajinlah mampir ke beranda saya, supaya nggak ketinggalan berita … halah!
(*bisik-bisik*)
Ringkasnya, tulisan saya dicopy-paste tanpa ijin, dan ketika saya konfirmasi, si pelaku malah membalas dengan kata-kata yang tidak baik. Jadinya mengundang komentar keras dari teman-teman. Tapi karena lalu jadi ribut nggak keruan, akhirnya saya putuskan untuk menarik kedua posting itu …
bagaimana kalau teman yang berjalan di sebelah kita jatuh?…
saya pasti tolong…
apapun kondisinya
Tuti :
Teladan yang terpuji dari Omiyan. Selalu siap menolong.
kalau Mbak Tuti berjalan
di sebelah saya, dan jatuh
pasti akan segera sy pungut
(ditolongin maksudnya…..)
kalau ada yang terkilir
akan segera dipijitin…
hmmmmm
btw, Peer nya dah siap…..
jawabannya betul, apa nggak?
ditunggu pengumumannya
Tuti :
Hwahaha ….
Saya dipungut jadi apa Bang? Anak pungut, adik pungut, kakak pungut? Tapi mungutnya hati-hati ya Bang, jangan pakai jepitan kayak pemulung mungut puntung rokok …
Jawaban Bang Mike betul nggak ya? Mmm … sebentar, lihat kunci jawaban dulu …
Terkadang kan kita spontan mbak, begitu teman jatuh langsung nolong. Risikonya jika badan yang jatuh besar, yang nolong bisa ikutan jatuh. Tapi nggak apa-apa asal nemu durian sebesar jengkol
Tuti :
Iya, saya pernah ngalamin yang seperti itu. Mau menahan teman yang jatuh, eh … malah saya ikutan jatuh menimpanya …
Durian sebesar jengkol? Wakaka …. ! Itu ‘pentil’ durian Mbak
“Saya lihat dulu…pura pura jatuh apa beneran jatuh…”…he..he….baru kita menolong setelahnya, dan rasah dipikir…pokoknya ditolong, karena banyak juga yang jatuh lalu kita tolong trus nggak tahu diri..
Tuti :
Wah, betul sekali Mbak. Manusia memang karakternya macam-macam. Ada yang sekali ditolong terimakasihnya seumur hidup, sebaliknya ada juga yang berkali-kali ditolong malah balasannya merampok … (*geleng-geleng kepala*)
Ini kok padha ngomogin berlian segedhe durian ya? Kalau berlian yang guedhe sih saya punya, tidak hanya segedhe durian. Berlian punya saya beratnya 46 kg lho, sepuluh kali besarnya durian aja lebih. Kalau jatuh ya mak gedhebug tenan. Berlian apa tuh? Berlianto Yusuf anak saya. Hahaha…. Dia cowok, dah kelas dua SMP.
Tuti :
Buhan, boleh nggak saya dicuilkan berliannya? Ujung kuku aja, nggak papa deh … hihihi
ulurkan tangan dengan segera, menariknya untuk berdiri kembali, lantas mengajaknya untuk “memungut sesuatu”
maaf bu guru, jawabannya singkat saja, soale telat nih, bel dah bunyi… masih bisa dikumpulkan bu guru…?
D
Tuti :
jadi masih boleh dikumpul …
Yang bunyi itu bel rumah di samping sekolah kok Da …
are you okay? hihihi…..moga2 ok…klo ga terpaksa manggil 911….
tapi klo mbak Tuti yg jatuh langsung saya jepret2 dulu untuk bahan postingan……
baru setelah itu saya tolong…..saya ambilkan es durian isi jengkol yah?
ato berlian cap 3..eh cap tiga berlian…hehehe opose kui?
Tuti :
I’m fine, thanks …
Eh, ada cerita lucu tentang 911. Seorang wanita (di Amerika tentu), tak berdaya ketika rumahnya terbakar. Ketika ditanya, kenapa nggak telepon 911, dia menjawab : dia bisa memencet angka 9, tapi tak berhasil menemukan angka 11 (sebelas) …. wakaka!!
Wah, kalau mau dipotret Mbak Wied, saya jatuhnya dengan akting elegan dan senyum manis deh … hihihi … tapi kalau dikasih es durian isi jengkol nggak mau ah, maunya sambel petai campur jengkol
Nah, kalau cap tiga berlian, itu pasti batik Solo, iya toh?
Saya pernah sekali jatuh dari motor menabrak pagar masjid RT…. karena memungut harga diri, saya langsung bangkit berdiri seakan tidak ada sesuatu pun yang terjadi (padahal kepala benjol, lumayan gede).
Eh, setelah berdiri dikerumunin orang-orang, dengan bangga saya berkata:
Saya tidak apa-apa Pak, tidak usah kuatir.
Sayang disayang, tak disangka2, si Bapak yang kelihatannya ketua kampung malah ngomong gini:
Ga kenapa2 gimana Mba, ini pagar kampung rusak, siapa yang ganti nanti??? Aduh, Mba ini gmana sih? Kog berkendaraan ga hati-hati!! (Gubrak)
Setelah itu saya menyimpulkan: kalo jatuh, jangan langsung berdiri deh.. Xixixixixi…
Ibu, postingan Ibu lucu, saya add jadi link blog saya ya.. nuwun
Tuti :
Kalau saya jadi Clara, saya akan pura-pura kesakitan mengaduh-aduh, biar Pak Ketua Kampung itu iba dan nggak nyuruh mbenerin pagar kampung …
Silahkan di link, terimakasih Clara