Salam Sahabat …
Ada kalanya kita membaca sebuah cerpen, atau novel, yang begitu menghanyutkan perasaan kita, membius pikiran kita, membuat kita terhenyak dan dalam waktu lama terbenam dalam emosi yang pekat. Begitulah yang saya rasakan ketika membaca cerpen mini “Gelas Tanah Liat”.
“Gelas Tanah Liat” ditulis Eva dengan bahasa yang indah, namun bernuansa sendu. Penggambarannya yang sedikit kabur tentang tokoh-tokoh dalam cerpen ini — tak ada satu nama pun disebut — membuat kita seakan menonton sebuah film dalam tirai kabut. Kesenduan dan bobot emosi yang kental dalam setiap kalimatnya membuat kita tak bisa mengelak dari keterlibatan emosi yang sama kentalnya.
Eva Budiastuti, sahabat saya ini memiliki hobi menulis cerita dan puisi. Ia ikut serta dalam komunitas Cafesastra Musikalisasi Puisi di Facebook. Cerpennya tersebar di berbagai mass media. Salah satu cerpennya ikut pula menyemarakkan antologi cerpen dan puisi “24 Sauh”. Arsitek lulusan Trisakti ini memutuskan untuk resign dari sebuah bank asing agar bisa sepenuhnya mengasuh putra tunggalnya yang kini berusia 9 tahun.
Eva, lantunkan kisahmu, dan biarkan kami terbenam hanyut dalam rindu bersamamu ….
*melipat tangan dengan rapi, memusatkan perhatian ke alunan tutur kata Eva yang menoreh hati*
…………………………….
GELAS TANAH LIAT
Seseorang dengan hati yang penuh cinta membuat sebuah gelas dari tanah liat untukku, bertulis namaku yakni ‘Rindu’. Gelas itu terdiri dari dua warna. Warna hijau seperti tumbuhan lumut di bagian atas sebagai lambang abadi, sedangkan warna di bawahnya putih seperti tulang merupakan lambang kebaikan. Begitulah penjelasan darinya . Jika aku menggunakan gelas tersebut, aroma tanah sangat terasa, apalagi terhirup bersama wangi daun teh hijau kesukaanku. Pesannya padaku, “Minumlah dengan gelasku bersama daun teh hijau suam-suam kuku, ketika kau rindu padaku.” Sejak ia katakan itu, aku tidak pernah berikan gelas tanah liat itu untuk digunakan oleh orang lain. Aku sendiri merawatnya dengan sentuhan berbeda dari gelas lain.
Pada suatu hari tiba-tiba datang padaku seorang tamu kehausan, saat aku tengah duduk di teras akan menikmati tehku. Wajahnya sangat penat dan letih. Ia ceritakan tentang jauhnya perjalanan yang ia tempuh dan lamanya waktu yang ia habiskan dalam berjalan. Ketika aku lihat peluh membanjiri pakaiannya hingga basah, aku percaya pada apa yang dikatakannya. Aku persilahkan dia duduk di sebelahku. Lalu, saat ia minta aku memberikan air minum untuk menghilangkan dahaganya, segera aku berikan gelas tanah liat berisi air tehku untuknya. Perlahan sekali aku berikan gelasku padanya. Dia menerima dan meminumnya dengan segera, mengahabiskannya dengan cepat.
Saat ia memberikan kembali gelas itu padaku, tiba-tiba tangannya gemetar kencang sekali, dan lepaslah gelas itu. Aku terperanjat kaget. Kulihat di lantai gelas tanah liat bertuliskan namaku itu terbelah menjadi tujuh bagian.
Aku terbata-bata ingin menerangkan tentang gelas tersebut padanya. Namun hatiku kusut, pikiranku pecah seperti puing-puing gelas itu. Tamu itu bertutur dengan gagap, “Maaf, maaf …. terimakasih … air minumnya.” sambil mengumpulkan retakan gelas itu dan menaruhnya di atas meja di dekatku. Ditatapnya aku dengan penuh kekhawatiran akan keadaanku. “Kalau begitu saya pergi dulu, maaf saya tidak bermaksud ….”
Aku hanya diam seribu kata, perlahan aku anggukkan kepalaku sebelum ia selesaikan kata-katanya. Tamu tak dikenal itu pun pelan-pelan pergi meninggalkan terasku.
Aku pandang gelas tanah liatku dengan isakan tangis. Banjir air mataku tak terbendungkan. Aku kumpulkan satu per satu puing-puingnya. Gelas tanah liat itu kini telah menjadi tujuh luka rindu untukku. Aku tidak tahu apakah aromanya akan sama ketika terisi teh kembali, jika ada lem perekat yang dapat mengembalikan bentuknya. Aku tak tahu bagaimana aku bisa menumpahkan rasa rinduku kepada seseorang yang membuat gelas tanah liat itu, jika rasa rindu itu sedang melandaku. Aku tak tahu. Aku tak tahu.
Yang aku tahu, seseorang yang dengan hati penuh cinta membuat gelas dari tanah liat untukku, bertuliskan namaku ‘Rindu’, adalah suamiku. Ia baru saja meninggal 2 bulan yang lalu di terasku, saat ia menikmati teh bersamaku, tepat di tempat gelas itu pecah berpuing-puing.
Eva, bagilah rindumu dengan kami, sahabat-sahabatmu …
…………..
Tuti :
Jangan terlalu bersedih, sahabat. Cerpen di atas hanya fiksi, bukan kisah sejati. Suami Eva masih segar bugar dan selalu berada di samping Eva, lengkap dengan gelas cintanya yang tak pernah kosong. Ya, gelas cinta yang pasti dirindukan oleh setiap wanita, dari suami sendiri tentu saja …
(Busyeeeet …. kok saya jadi melankolis begini yak? Ehm, sekali-sekali akting rada anggun boleh saja kan?
)



…

hai Mbak Eva Budiastuti..
salam kenal..
nama belakangnya kok mirip owner-nya TV ya..
hi..hi..
..
ceritanya pendek bener Mbak, kurang panjaang..
pasti udah di ultimatum sama Bu Owner,
gak boleh panjang-panjang..he..he..
*ngelirik Bu Owner*
..
ceritanya agak melow, tapi Mbak Eva bisa merangkai kalimat dengan bagus..
jadinya gak terasa menye-menye..
..
jujur saya lebih suka Je t’aime..
..
*senyum*
..
Tuti :

)
Waduh, ternyata owner TV sudah dikenal dengan ultimatumnya kepada para tamu ya, si Ratu Tega … hiks!
Aslinya Eva mengirimkan dua cerpen, tapi untuk kali ini baru saya muat satu dulu, biar teman-teman penasaran menunggu cerpen yang satu lagi …
…
Itulah kekuatan cerpen ini yang aku suka. Mellow, tapi gak manja-manja … eh, menye-menye (di kamus mana ya ada istilah ini?
…
Je t’aime …. siapa gak suka sih?
…
Senyum pada siapa, Ata? *lirik kiri kanan*
Salam kenal untuk semuanya. Senang saya berkenalan di sini dengan semua.
Terimakasih untuk segala komentarnya tentang tulisan saya. Terimakasih tak terhingga tentunya untuk mba Tuti ( seorang penulis yang senior dan hamble ini ) yang memperbolehkan saya mengisi di Blog-nya.
matur nuwun, love you all
Mba, ndak sabar kita bersua dan berceloteh ria
Saya pernah dapet hadiah gelas dari teman dekat, sampai sekarang saya pajang saja baik-baik, takut pecah.. (untungnya masih punya banyak gelas lain di lemari)
Je t’aime ya? Saya juga suka cerita tulisannya Mba Eva.. salam kenal saya..
Tuti :

Besok saya kasih gelas dari kaleng aja ya Cla, biar bisa dipake terus dan gak usah takut pecah … hihihi …
Hmmm …. ternyata Clara suka Je t’aime juga …
Salam kenal Mba Clara….
…
Terimakasih menyukai Je t’aime
Mba Tuti hehehe…bener gelas plastik atau kaleng tidak bakal pecah
Baru nyadar kalau ceritanya udah selesai…
Wuih… paten kali Mbak Eva menjalin kata-kata, saya sangat suka… Pantes kalau beliau masuk dalam jajaran penulis 24sauh…
Salam kenal saya buat Mbak Eva, ya Bu Tuti
Tuti :
Gak salah kan kalau saya mengundang Eva sebagai penulis tamu di TV? Sama seperti nggak salahnya saya mengundang Uda Vizon menulis di TV (sayangnya Uda lagi sibuk berjibaku di hadapan para profesor … ).
Salam kenal untuk Eva sudah dicatat Da, nanti saya sampaikan
Ceritanya pendek. Alurnya jelas dan mengalir. Idenya simpel.
Menyentuh.
Saya suka ini
Tuti :
Menyentuh apa Na? Hati pastinya ya …
Catat : Wijna suka cerpen ini
Hadiah tanpa pemberi hadiah itu hampa, begitulah sebuah cerita yang teruraikan dengan baik. Tulisan yang terurai dengan baik dan tanpa sadar kulahap setiap bait ceritanya, melalui ide cerita yang simpel dan dikemas secara menarik.
Sukses untuk sahabatku.
Tuti :
‘Hadiah tanpa pemberi hadiah’ ….. *mikir keras apa maknanya*
Sukses untuk sahabat Eyang …
Terimakasih Eyang….
Hadiah tanpa pemberi hadiah itu hampa, apalagi kalau hadiahnya pecah
Hik..hik..hik.
(Sambil mengelap air mata. Tak terasa sudah 11 lembar kertas tissue menghapus air mata keharuanku)
Tuti :
Jangan khawatir Pak Eko, saya sediakan sekotak tissue kok. Jadi silahkan dilanjutkan ber-hik hik hik …
[...] Cerpen selengkapnya: Gelas Tanah Liat « Tuti Nonka's Veranda [...]
Eva, i love it!
Ga mudah merangkai kata untuk kisah pendek yang bermakna, seperti yang telah dianyam oleh Eva. Salut, Eva telah menuliskan cerita tentang cinta, bahwa “Gelas Tanah Liat” telah membuktikan seorang Eva dalam dunia kata. Eva telah menjadi penulis sesungguhnya….
M’Tuti : kisah Eva ini makin melengkapi “kisah teh kita”, setelah M Sanie ikut merangkai kisahnya. Tak sabar menunggu bersuanya kita.
Tuti :
)
Betul, Dada …
Cerpen ini bener-bener menunjukkan kualitas Eva dalam mengemas ide cerita melalui rangkaian kata yang bernas dan cerdas. Salut buat Eva.
(wah, tinggal aku dong yang belum menulis cerita tentang teh ya …
Semoga tidak lama lagi kita bisa segera bertemu di Jakarta, Dada …
Dada dan Mba Tuti…dua kakakku yang luar biasa. Yang selalu ada support besar dan positif di dalamnya, membuat aku selalu nyaman bersama mereka.
Tak sabar bertemu dengan kalian berdua
Rangkaian kata indah
Singkat banget padet banget kaya ikan sardin di kaleng, berjajar rapi
Tapi penuh makna
Salut sama penulis2 yg bisa merangkai kata indah
“mau blajar merangkai kata dan merajut cinta ah”
Tuti :
)
Hahaha …. analoginya kok ikan sardin ya? Begitulah kalau seorang chef menggambarkan perasaannya …
Belajar merangkai kata bagus aja Mbak Wied, dan merajut cinta asyik loh (dengan suami sendiri ya…
Lia pikir beneran ternyata fiksi hehhehe…
ada hikmah disebalik gelas tanah liat…
jadi ingat dulu minum dari gelas tanah lia..
salam hangat bu tuti dan mbak Eva
Tuti :
Tulisan Eva memang bagus banget, serasa membaca kisah beneran …
Lia minum dari gelas tanah liat juga ya
salam hangat juga, Lia ..
Salam Delia
Ya, ada pesan di situ…selamat menemukan
Mba Tuti…hehehe itu cerita imajinasi yang keluar begitu saja di kala sendu
Wah-wah sepertinya cerpennya yang kedua akan berlanjut yach mbak Tuti, jadi nggak sabar utk menikmatinya.
Kisah yang romantis dlm nuansa yang berbeda mbak Eva ….(saya panggil mbak Eva saja dech….biar lebih akrab…)
Saya juga sudah baca cerpen mbak Eva di 24 sauh….cerpennya itu saya suka juga lho…Pokoknya memang ciri khas penulis …ok punya
Nah mumpung masih pagi, saya curhat dikit yach mbak Tuti & mbak Eva, & sahabat blogger yg lain yach….
Ngomong-ngomong saya juga punya pengalaman diberi oleh sahabat karib saya ketika masa kuliah dulu (perempuan) sebuah sajadah th 1995. Sajadah itu sengaja dia pesan sa’at dia jalan2 ke Turki dan ada tulisan dengan tulisan arab nama saya di sudut kanan bawah. Dan sejak itu sajadah itu sering saya pakai, apalagi kalau saya teringat sama dia. Krn sahabat karib saya itu sudah “berpulang” sejak 1997 lalu (13 thn).
Ketika saya pindahan rumah sajadah itu hilang (thn 2000). Saya beserta orang rumah sudah sampai pusing mencarinya…dan sampai sekarang nggak ketemu. Yach…tapi saya sudah ikhlaskan….kalaupun hilang hanya sebuah sajadah bukan “makna persahabatan” yang pernah saya jalin dgn sahabat saya itu”…..AH…jadi melankolis dech kalau ingat itu….sepintas jadi rada mirip cerpennya mbak Eva khan, tapi sahabat saya itu perempuan ?….Hahaha…
Ok mbak Tuti, mbak Eva, dkk…sekian dulu curhatnya…see you and nice day for us
Best regard,
Bintang
Tuti :
Cerpen kedua Eva tunggu saat publishnya ya Mbak, harap sabar …
Wah, ikut sedih lho baca kisah Mbak Linda yang kehilangan sajadah dari sahabat tercinta. Tapi persahaabtan itu tetap jalan kan, Mbak? Minta lagi aja sajadah yang baru … hehe …
Meskipun sajadah itu tak ada lagi, saya percaya Mbak Linda dan sahabat Mbak selalu saling mendoakan yang terbaik, iya kan …
salam hangat,
Salam Elindasari
Terimakasih….
Pemberian seseorang yang sudah tiada memang membuat kita kuat mengenangnya. Semoga sahabat yang sudah tiada selalu tersenyum karena sajadahnya selalu digunakan.
walaupun hanya sekdar fiksi….
tapi saya cukup terhanyut dengan tulisan bunda…..
benar-benar kisah yang mengharukan…..
Tuti :
Kalau untuk Eva, kayaknya lebih cocok sebutan Mbak deh …
Terimakasih ya …
cukup menarik dan tentunya bagus. menyentuh kalbu
Tuti :
Thanks …
Salam kenal Mbak Eva.
Luar biasa …………
membaca cerita ini, mataku jadi berembun ………
akupun sudah membaca tulisan Mbak Eva di 24 Sauh (* buku yang dihadiahkan oleh Mbak Tuti yg baik hati *)
Salam.
Tuti :
)
Memang tulisan Eva bagus. Tapi Bunda Ly pasti juga bisa menulis sebagus ini. Sudah pernah menulis fiksi, Bunda? (maaf kalau sudah, soalnya saya belum pernah baca fiksi Bunda …
Alhamdulillah buku “24 Sauh” berkenan bagi Bunda …
salam,
waduh sedih juga ceritanya ya bu…dan bahasanya gampang di cerna
Tuti :
Meskipun ceritanya sedih, mudah-mudahan nggak membuat Mas Indra jadi sedih ya …
terhanyut ya… kalau penulis handal yang bercerita
walau gelas sudah pecah, tapi momen pemberian gelas dan nikmatnya menghirup teh dari gelas itu yang patut dipelihara
Tuti :
Setuju Mbak Monda … meskipun gelas sudah pecah, makna yang terkandung dalam pemberian gelas itu (maksudnya perlambang cinta dari sang suami) tidak menjadi sirna …
wooo, tamunya ndak sopan tan. dateng main selonong, mecahin gelas, baliknya main selonong juga..
*emosi*
loh.. bukan itu ya nilai moralnya?
hihihihi..
biarpun gelasnya udah pecah, klo kata jikustik,
“jika kau rindukan aku putri, coba kau pandangi langit malam ini..”
Tuti :
Tapi tamunya sudah minta maaf kok, juga sudah bilang terimakasih …
Hihihi … itu nilai moral versi Narpen ya? Boleh juga …
Haduh, ngikutin Jikustik, kalau langit pas dihiasi gerhana bulan, gimana dong?
Entah kenapa, saya kurang suka baca yang sedih…mungkin karena saya suka larut dalam bacaan….
Sama seperti nonton film, suka deg2an kalau lihat film yang gelap, sedih..dan akhirnya nggak diteruskan nontonnya.
Membaca cerpen mini Eva di atas, membuatku larut dalam duka dan kerinduan…..rindu pada siapa? Pada alm orangtuaku, dan orang2 yang telah meninggalkanku duluan….
Tuti :
Jangan larut dalam kesedihan Mbak Enny, nanti penulis cerpennya jadi ikut sedih, dan nulis cerpen lagi … yang lebih sedih lagi … Nah lo, gimana?
Tapi saya percaya, orang tua dan orang-orang yang sudah lebih dulu meninggalkan Mbak Eny sekarang sudah tenang di alam sana, mungkin bahkan lebih tenang dari kita yang masih di dunia …
waktu smp dulu saya suka baca novel atau komik,termasuk nocel berbahasa Jawa karangan Suparto Broto, Any Asmara, harjono HP.
Sekarang malah nggak sempat mbaca novel je mbak.
Apa karena faktor usia ya
Kayaknya perlu strum lagi agar hobi saya dulu bangkit.
Mbak, kami (saya dan nh18, kang Yayat ) kopdar lho di Surabaya, asyik banget.
Salam hangat dari Surabaya
Tuti :
Pakde, saya dulu juga suka baca karangan Any Asmara, termasuk mendengarkan sandiwara radio naskah Any Asmara. Memang karya-karyanya bagus. Sayang sekali sekarang sudah jarang karya fiksi berbahasa Jawa (atau saya yang tidak tahu?). Kalau tidak ada lagi yang menulis fiksi dalam bahasa Jawa, lama-kelamaan sastra Jawa akan punah …
Ayo Pakde, bangkitkan lagi minat pada sastra Jawa. Siapa tahu Pakde bisa mempelopori menulisnya, atau disayembarakan di blog Pakde.
Kopdar dengan Om Nh18 dan Kang Yayat? Waw, asyik dong … generasi babe-babe kopdar bareng. Mustinya dibarengi dengan emak-emak juga, Pakde
salam hangat dari Yogya, Pakde …
Mbak Eva, tulisannya keren…
Jadi pengen belajar nulis cerpen lagi…
Bunda Tuti….penulis tamunya keren2…..
Tuti :
Yustha … ayo, nulis cerpen lagi. Ntar dikirim ke TV ya. Beneran lho!
iya Bun, mau coba tulis cerpen lagi ah..
Tapi buat dikirim ke TV, waduuuuh…..kula mboten pede Bun…
Ini fiksi sederhana namun sangat menyentuh …
Salam saya Ibu Tuti …
Tuti :
Iya Om, ada kalanya cerpen yang menyentuh itu justru yang sederhana, tapi kaya makna.
Salam saya juga Om …
Sukses deh buat mba Eva B…rangkaian katanya..sangat menyentuh hati….pelan tapi pasti..salut banget deh..pokoknya…ditunggu karya2…selanjutnya
Tuti :
Silahkan ditunggu karya Eva Ibu …
hai mbak Eva..
lega rasanya baca penjelasan bunda Tuti di paragraf terakhir
untung cuma fiksi. Hati saya sempat ikutan jadi tujuh keping baca cerpen di atas…
fiuh.. *ngelap keringet*
Tuti :
Saya urun lem deh … 
Waduh, semoga kepingan hati Anna bisa dikumpulin dan direkatkan lagi ya …
kunjungan perdana nih mbak…
saya hampir menitikkan airmata, untungnya cuma fiksi yah mba…
salam kenal
Tuti :
Salam kenal juga, Bangau
Terimakasih kunjungannya ya …
[...] saya langsung meluncur ke Plasa Senayan untuk bertemu dengan dua penulis sahabat saya, Widya dan Eva. Widya, pasti Anda masih ingat, pernah menulis tentang kebiasaan minum teh dalam keluarganya, dan [...]