Pemirsa TV penghuni bumi …
Semua dari kita pasti tahu, bumi kita cuma satu. Kita tidak bisa pindah ke bumi yang lain. Di bumi yang satu ini, kita hidup gratis, menghirup udara gratis, menyedot air gratis, menangkap sinar matahari gratis. Bumi ikhlas, rela, dan penuh cinta memberikan semuanya pada kita. Tapi apa balasan kita kepada Ibu Bumi ini? Kita koyak tanahnya yang subur, kita babat hutannya yang hijau, kita hisap airnya, dan kita membuat oven raksasa yang membuat bumi menjadi panas!
Lady Clara Sihotang, gadis rimba yang cantik ini (karena lahir di tengah rimba Kalimantan), adalah arsitek yang sekarang berkarir di BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Loh, arsitek kok ngurusin iklim? Ya boleh aja toh, tentara bagian masak aja ada kok. Jejak ke’arsitek’an Clara bisa kita runut dengan jelas melalui tulisan-tulisan tentang arsitektur yang sangat banyak di blognya. Sesuai dengan bidang kerjanya, Clara menulis tentang global warming. Tulisannya bagus, sangat informatif, membuat kita tiba-tiba tersadar, betapa kejamnya perilaku kita selama ini kepada bumi dan alam. Meskipun panjang, tulisan Clara sungguh perlu dibaca. Jadi, jangan berhenti membaca sebelum selesai tuntas … tas … tas …!
Namanya Lady Clara, jadi meskipun lahir di rimba dan bukan putri raja, Clara adalah seorang lady …
Nah, silahkan bertutur tentang sapi dan vampir itu, Cla. Apakah ini tentang vampir yang menyedot darah sapi? Atau tokoh vampir Edward Cullen makan steak sapi? Atau dracula kesetrum listrik? Halah … sudahlah, dari pada ngaco, yuk kita ikuti saja pitutur sang Lady …
*menyerahkan mik kepada Clara, dan duduk manis di sisi panggung*
……………
Wah, surprise banget deh waktu terima email bu Tuti, yang intinya meminta saya jadi salah satu penulis tamu di TV … (tengkiuu … -tuti-). Ga nyangka bener, karena sebelumnya saya kira harus punya foto bareng Bu Tuti dulu baru bisa jadi penulis tamu di TV, hehe … (untung kita kopdar tanggal 2 kemarin, jadi sudah punya foto berdua
-tuti- ). Saya sempat bingung juga mau menulis apa, sebab tulisan para tamu sebelumnya bagus-bagus semua. Setelah timbang-timbang, pilih-pilih, hitung-hitung, bungkus-bungkus (loh, ngapain sih sebenarnya?) akhirnya saya memilih topik hangat-hangat kuku yang selalu didengung-dengungkan kantor saya juga, yang meskipun bukan topik khusus bidang saya, tapi akan saya coba angkat dengan sudut pandang non-teknis, dari sudut pandang sendiri, dan dari selera sendiri … (nggak papa, selera kita pasti sama kok, selera nusantara
-tuti- )
BYE-BYE SAPI DAN VAMPIR LISTRIK
Ceritanya berawal dari kota yang cantik di sebuah negara Eropa, bernama Freiburg, sebuah kota abad ke-12 di sebelah selatan Jerman. Gambar tentang Freiburg menampilkan sebuah kota yang tenang dengan bangunan-bangunan mirip kastil, pohon-pohon hijau dan latar belakang pegunungan, mengintip dari balik ribuan panel fotovoltaik yang modern.
Freiburg, kombinasi harmonis antara pegunungan yang biru, bangunan berarsitektur kastil yang kuno dan cantik, serta panel-panel penangkap energi sinar matahari
Apa yang istimewa tentang Freiburg? Apa bedanya dengan kota-kota lain di Eropa? Freiburg, kota yang kecil mungil ini ternyata cabe rawit. Biar kecil dia telah berhasil membuat iri kota-kota di Amerika dan di dunia karena kesuksesannya menciptakan sebuah kampung hijau yang minim emisi.
Maksudnya? Freiburg ternyata sangat tergila-gila dengan energi matahari. Panel surya terdapat dimana-mana di seluruh kota ini, dan menjadikannya kemudian sukses mengurangi emisi gas rumah kaca kota sebesar 10%. Wow … sebuah angka yang mungkin hanya bisa diimpi-impikan oleh kota-kota lain di Amerika, bahkan di dunia ..! Freiburg si pelopor, bersama beberapa kota lain, seperti Samsø di Denmark (dengan energi anginnya) membuat negara-negara lain berkaca, dan berhasil mengetuk pintu hati para pengambil keputusan, untuk lebih peduli pada masalah besar yang pelan-pelan tapi pasti terjadi dan berlangsung di alam … Pemanasan Global!
Ah, isu itu toh … pemanasan global. Sudah tahu, dan sudah pernah dengar! Global warming, perubahan iklim. Basi … ketinggalan zaman beritanya, ga up to date, dan sebagainya … mungkin itu yang menjadi pemikiran kita begitu mendengar kembali isu lama tentang yang satu ini!
Tapi pertanyaannya: apa kita sudah berbuat sesuatu?
Atau mungkin kita mendengar istilah itu dan menggunakannya, tapi kemudian tetap saja memboroskan listrik di rumah atau membuang-buang karbon sesukanya? Sering kita tahu tapi lupa … atau tahu tapi tak peduli! Sayangnya masalah yang sama, yang itu juga, tetap ada dan terus berkembang makin buruk sampai sekarang ini.
Di Mali, di sebuah kawasan tempat tinggal suku nomadik Tuareg, di sebelah selatan Gurun Sahara, beberapa danau berubah menjadi gurun pasir akibat bencana kekeringan dan pembalakan hutan.. proses penggurunan merampas tempat tinggal 50 juta orang dalam satu dekade, dan seorang bayi kecil di Mali, bisa saja tidur berselimutkan pasir danau kering yang tertiup di sebuah sore yang terik.. semuanya akibat pemanasan global, sungguh kasihan..
Dulu, ibu saya mengajarkan kami cara praktis mengingat rentang kala musim hujan. Jika nama bulan sudah berakhiran –ber, September, November, Desember, artinya kita harus sudah mempersiapkan em-ber, yang artinya musim hujan sudah datang.
Sekarang ini, bahkan di bulan berakhiran –ber pun udara masih saja kering, dan di musim kemarau, hujan turun tak berhenti. Cuaca jadi tidak menentu, dan cenderung ekstrim. Ada badai salju, ada badai pasir. Di kantor saya hal ini disebut dengan istilah ‘anomali iklim’. Peningkatan rata-rata suhu udara menyebabkan munculnya curah hujan yang lebih tinggi, panas dan uap air berlebih, angin topan yang lebih dasyat, dan gelombang panas. Penguapan yang berlebih menimbulkan paradoks : daerah yang kering makin kering, yang basah makin basah. Curah hujan yang berlebih menimbulkan banjir, daerah bersalju pun kini didera hujan.
Lapisan es di Samudera Arktika, menyusut 1,3 juta km2 akibat angin selatan yang hangat dan faktor lain dibandingkan dengan lapisan es yang sama di tahun 1979.
Kita bisa meniru Freiburg dengan panel-panelnya. Toh panel-panel matahari itu bisa kita dapat dengan mudah di Indonesia, ya kan? Atau kita tiru kebijakan kota Freiburg yang ramah pejalan kaki dan difasilitasi jalur sepeda. Kita juga bisa meniru ratusan ribu lebih penduduk Freiburg yang tidak melibatkan mobil dalam aktivitas mereka..
Apapun itu, semuanya bisa kita lakukan jika kita sudah merasa memang perlu dan wajib melakukannya untuk kepentingan bersama. Di rumah sendiri, cara paling sederhana untuk berpartisipasi mengurangi percepatan pemanasan global adalah dengan berhemat listrik. Kalikan jumlah KWh yang kita gunakan dengan 0,6 (faktor konversi rata-rata seluruh pembangkit listrik di Indonesia), maka kita bisa tahu hasil emisi yang kita sumbangkan bagi pemanasan global.
Gambaran lapisan es sekitar tahun 2007, menurut peneliti di National Snow dan Ice Data Center. Sekitar musim panas tahun 2030 nanti, mungkin tidak akan ada lagi es di Samudera Arktika jika pemanasan global terus berlangsung..
Gunakan panel surya jika mungkin, hemat pemakaian air, hemat BBM mobil atau motor, dan pakailah peralatan elektronik yang memiliki label hemat energi. Kulkas, AC, pompa air, mesin cuci, semakin sedikit energi yang dipakai maka semakin ramah lingkungan peralatan tersebut.
Jika membangun rumah, bangunlah rumah dengan bukaan maksimal, sehingga bisa mengurangi penggunaan AC dan pencahayaan ruang. Dengan menghemat listrik, kita akan menghemat bahan bakar yang dibutuhkan … dan tentunya menghemat biaya juga.
Oya, hati-hati juga dengan si vampir listrik!
Peralatan listrik kita, yang berada dalam kondisi stand by, a.k.a yang sedang dicolok ke stop kontak, meskipun dalam kondisi tidak menyala ternyata masih mengalirkan listrik sebesar 5 Watt/jam. Jika dicolok 8 jam sehari saja, maka akan tetap memakan 160 Watt/jam listrik, atau setara dengan 31 kg emisi CO2 per tahunnya. Seperti vampir, peralatan elektronik ini main hisap seenaknya, hus hus …! Cepat usir si vampir dari rumah kita sebelum dia menghisap pos biaya rekening listrik kita juga, hehe …
Kulkas, salah satu vampir listrik ganas di rumah kita … (foto : Wikipedia)
Yang menarik, baru-baru ini Institute for Essential Service Reform (IESR) memudahkan kita untuk sama-sama melakukan “diet karbon”. Kita bisa tahu jumlah emisi karbon yang kita hasilkan dalam keseharian kita dengan mengklik ikon “Kalkulator Jejak Karbon” di situs resmi IESR: http://iesr-indonesia.org. Jika sudah tahu betapa besar emisi yang turut kita sumbangkan secara sengaja dan tak sengaja kepada lingkungan ini, kita bisa rencanakan sendiri di bagian mana kita mau menguranginya..
Ada cara lain yang cukup sederhana tapi agak susah dilakukan, yaitu dengan merubah pola makan. Beberapa teman saya yang memang concern di bidang pemanasan global, saat ini sudah mengubah pola makannya menjadi vegetarian, sebab ironisnya emisi gas rumah kaca ternyata bertambah dari setiap daging yang kita makan. Saya sendiri? Sedang merintis, berhubung saya hanya suka beberapa jenis sayur tertentu, sekarang saya mengurangi makan daging ternak, tapi masih makan ikan dan telur.
Faktanya: peternakan ternyata menyumbang porsi paling besar dari pemanasan global (sekitar 18%), lebih banyak dari gabungan emisi transportasi di seluruh dunia (13 %) berdasarkan laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock’s Long Shadow: Enviromental Issues and Options. Hewan ternak seperti sapi, membuang kotoran yang jauh lebih berat dari bobotnya sendiri, dan kotoran-kotoran itu mengeluarkan gas metana dan dinitrogen oksida, yang kemampuan memerangkap panasnya 72 kali dan 296 kali lebih besar daripada CO2 di udara. Ow-ow …! Semakin banyak gas-gas ini di atmosfer, semakin panas bumi kita dalam perangkap gas rumah kaca buatan sendiri.
Peternakan sapi di Comboyne, New South Wales (foto : Wikipedia)
Wanita dan sapi …. kombinasi yang aneh … (foto : Wikipedia)
Selain itu, peternakan dibuat dengan membuka lahan baru, hutan-hutan penadah hujan yang harusnya bisa mengolah udara kotor pun hilang. Faktanya: 80% pembabatan hutan Amazon digunakan untuk menanam makanan ternak dan tempat ternak merumput. Bayangkan betapa besar luas hutan yang dikorbankan untuk menghasilkan daging di piring kita?
Belum lagi pupuk-pupuk yang diberikan bagi tanaman pakan tersebut menyumbang gas rumah kaca lain yang tidak kalah besar. Banyak sekali jejak karbonnya! Aih, belum stop sampai di situ … si ternak pun ternyata harus dikirim ke rumah-rumah jagal atau ke negara lain dengan transportasi, tambah gas rumah kaca lagi deh! Lalu untuk mengolah dagingnya perlu bergalon-galon air, dan hal itu sangat tidak ramah lingkungan. Masih ada lagi, setelah si daging dalam bentuk potongan, belum tentu langsung dimasak.
Faktanya: si daging biasanya akan dibekukan dulu, sebelum akhirnya dimasak. Proses pembekuan dan memasak daging tadi kemudian menghasilkan emisi karbon yang lebih banyak lagi, dan CFC dari refrigeratornya, ikut terbang ke udara dan merusak ozon … Bandingkan hasilnya jika kita membeli sayur hasil tanam petani lokal: murah, tidak menghasilkan emisi karbon berlebihan, badan pun jadi sehat.
Seorang pengemudi mobil yang vegetarian, sesungguhnya lebih ramah lingkungan daripada seorang pemakan daging yang naik sepeda. Jadi, kurangi makan daging ternak, dan kalau bisa sekalian hidup vegetarian, murah, sehat, ramah lingkungan lagi, benar kan? Bye bye daging sapi!
Mengatasi Pemanasan Global, Lakukan Sesuatu.. saat ini yang bisa saya lakukan adalah menjadi seperti wanita berambut kuning di sebelah kiri gambar ini.. Meskipun belum maksimal karena belum menjadi vegetarian total, setidaknya ajaklah teman, rekanan, keluarga, pacar, dan semua orang yang kita kenal untuk sama-sama peduli pada masalah perubahan iklim ini. Ini bumi kita bersama kan?
Saya sampai kepada fakta yang terakhir : tulisan saya dari data wordcount sudah menunjukkan angka 1500, yang artinya kepanjaaangan ... akhirnya sebelum saya ditimpuk buku “24 Sauh” dari Bu Tuti, tulisan ini saya sudahi saja, semoga rating blog TV ga jadi turun karena tulisan saya ini (amiinnnn). Dan semoga tulisan ini ada manfaatnya juga. Saya cuma ingin cucu pertama saya kelak masih bisa melihat beruang kutub di habitat aslinya, selamatkan lingkungan dengan mencegah pemanasan global.
Foto Beruang kutub yang mulai kehilangan habitatnya, haruskah mereka punah karena ketidakpedulian kita terhadap lingkungan? Save The World, Stop Global Warming
……………
Presenter TV :
*tersadar dari hipnosa global warming*
Hmm …. Betapa buruknya perilaku kita selama ini kepada bumi. Betapa kelirunya pola hidup kita, yang tak mengindahkan kelestarian lingkungan. Egois, hedonis, dan materialistis. Yuk kita mulai hidup dengan lebih baik, lebih bersahabat dengan alam pemberian Tuhan Sang Pencipta …










..

wah Asiiik..!! akhirnya si tomb raider tayang di TV juga..
..
“Yuk kita mulai hidup dengan lebih baik, lebih bersahabat dengan alam pemberian Tuhan Sang Pencipta”
karena Bu Tuti yang ngajak, berarti musti ngasih contoh dong…
Bu Tuti harus mulai tidur tanpa AC, gak boleh makan beef Lasagna, ke kampus gak boleh naik’ BMW, boros tuh, pake’ sepeda aja..
hi..hi..
karang Kajen-UII berapa jam ya..?
..
tentang peternakan sapi, kok sayang ya kalo sampek gak boleh..
]


sebenarnya gak harus anti tapi harus di carikan solusi..
kotoran sapi memang mengandung gas metana, tapi itu bisa dimanfaatkan untuk pengganti LPG..
lebih aman dan murah..
dan itu sedang digalakkan di Desa-desa..
selain itu kotoran sapi bisa di jadikan pupuk organik, sehingga mengurangi pemakaian pupuk kimia yang merusak tanah..
[ sorry aku masih jual pupuk kimia, tapi mulai beralih ke organik kok..
lalu pupuk organik bisa buat memupuk sayuran, jadi hasil panen sayurnya lebih sehat..
satu lagi sebaiknya memilih daging lokal, jadi bisa mengurangi emisi saat transportasi sama penyimpanan..
..
soal mematikan peralatan elektronik yang gak kepakai, aku setuju banget tuh..
disamping bisa ngirit dan hemat energi, juga mengurangi emisi..
kan PLN masih banyak pake’ BBM..
..
nice artikel Sis Clara..
..
ps: Bu Tuti harus membuktikan ajakannya untuk mulai hemat energi..
*senyum-senyum*
..
-AtA-
..
Tuti :
Gak boleh makan beef lasagna? Mmmm …. kalo dikit nggak papa kan?
Ke kampus nyepeda? Oke, tapi mulai dari gerbang depan sampe ke gedung fakultas aja ya …
Haduh …. *speechless*
Kena batunya deh saya. Tidur tanpa AC? KK bukan BR je
Ta, kalo ganti jual pupuk organik, toko Ata bakal penuh ‘itu’ dong ….. hiiiiy ….. baunya …. *tutup hidung*
Nah loo.. BMW Bu Tuti kena sebut deh.. hehehe.. maksudnya Atta mungkin Ibu bisa menginap di Caty House jika diperlukan
Soal peternakan sapi: memang banyak menuai pro dan kontra.. Di satu hal, penggemar daging sapi itu bejibun orangnya.. di sisi lain: proses produksinya tidak dipungkiri banyak memakan energi.. apalagi kalau produk dagingnya impor..
Soal gas metan jadi biogas, bagus memang Ta.. asal ambil kotoran sapinya bukan dari peternakan di Amrik.. yah, tambah polusi lagi dong, hehe..
Kabarnya nyala api biogas sama dengan LPG, warnanya biru, ga beracun dan ga bau, ga berjelaga lagi.. tinggal petaninya, telaten ga nyetor/ olah kotoran sapi.. atau pemerintahnya, berhasil menghimbau masyarakat ga?
Sapi, sementara dibudidayakan dalam skala kecil dan pola tradisional masih terlihat bersahabat dibanding dalam skala besar, tapi tetap tidak dipungkiri masih memberi dampak juga..
Teorinya: Ongkos produksi untuk 1 porsi sayuran perlu 0.0098 galon bensin
sementara ngkos produksi untuk satu porsi steak sapi = 0.1587 galon bensin atau 16 kali lebih banyak daripada ongkos sayuran (karena sapi juga makan sayur yang harusnya bisa langsung kita makan juga)
Berhubung saya tidak punya kecanduan akan daging sapi, saya cenderung lebih memilih memakan yang lain, selama masih ada pilihan.. sementara ini masih makan ikan, dan produk-produk laut
Atta dan pupuk organik.. keren Ta, kayanya Atta bisa sekalian jadi duta Greenpeace sambil masarin produk
Tanggapan Atta mantep juga yaa.. hmm.. memang hal tentang sapi ini kontroversial sekali.. kalo memang belum bisa stop, mungkin bisa dikurangi dulu kali ya
PS: Bu Tuti.. disenyumin Atta itu Bu.. (jadi-ga-enak.com)
Thanks ya Ta..
Tuti :
Kayaknya sih Ata mau ngasih saya sepeda, Cla. Terimakasih. Nanti sepedanya saya naikkan ke atas mobil, dan baru dinaiki sesudah sampai di depan gerbang kampus … hehehe …
..
aku juga gabung Greenpeace lho, meski cuman ngasih donasi doang..
..
Simpatisan Green Peace? Satu lagi yang bikin kagum dari Atta dong
..
To: Bu Tuti..
Pupuk organik itu juga dibikin pake’ mesin, bentuknya butiran kaya’ pelet ikan..
Kemasannya plastik kedap udara, gak kalah sama pupuk pabrik..
Asal kemasannya gak dibuka, ya gak bau..
..
Tuti :
*tepok jidat*
Owgh … kirain pupuk organik itu pupuk kandang yang masih segar keluar dari ‘sumber’nya, jadi ngebayanginnya aja udah bikin mules …
saya dukung greenpeace…tp disisi yg lain profesi saya bidang pertambangan dan tentunya akan bertolak belakang dengan greenpeace..tp untungnya kita berusaha untuk tetap ramah lingkungan lho..
Tuti :
Pertambangan yang ramah lingkungan? Good. Seperti apa ya pelaksanaannya?
Buka tambang dengan izin yang sah semestinya tidak apa-apa Ito..
tulisan yang sangat amat informatif clara
memang kita semua kadang tidak sadar perilaku terdahap lingkungn itu bagaimana. contoh kecilnya, kadang charge batteray HP masih kecolok tapi gak di pake, atau tidur dalam keadaan lampu menyala, atau keluar rumah tapi ac gak dimatiin…well..well… tulisan ini bagus bgt!
Tuti :
Kalau di rumahku, yang lebih sering adalah TV dan segala peralatan elektronik mati tetap nyolok ke stop kontak, lampu terang benderang di ruangan yang gak dipakai …
Thanks Ria.. aku juga baru-baru ini saja sadarnya.. dulu malah lampu WC dibiarkan aja hidup selama2nya sampai mati sendiri.. TV nyolok, radio nyolok, komputer nyolok..
Mengurangi makan dagingnya juga baru aja kog.. thanks ya
Tulisan menarik. Membuat termenung beberapa saat. Soal beruang kutub, sampai sekarang saya juga belum pernah lihat beruang kutub di habitat aslinya. Yang saya lihat hanya di telepisi aja.
Betapa besar pengorbanan kita untuk melestarikan kehidupan di bumi. Jadi vegetarian membuat warteg sebelah jadi berkurang pelanggannya (alah alasan gak mau jadi vegetarian). Nggak bisa bayangkan bu Tuti jadi vegetarian dan sepedaan ke kampus. Jalan Kaliurang menanjak, man. Kalau saya gak masalah. Lha wong dekat antara rumah dan kampus.
Tuti :
Kalau gitu saya ngampiri Pak Eko aja pakai mobil, habis itu mbonceng sepeda Pak Eko ke kampus ….. hihihi …
Iya Pak.. takutnya kalo es kutub habis, liputan di TV pun cuma tentang beruang kutub yang ada di kebun binatang.. semoga ga sampe begitu deh.. kayanya serem banget..
Mengubah pola makan itu memang yang paling sulit.. bisa dipastikan.. tapi kalo ga bisa distop, ya minimal dikurangi boleh juga
Semoga yang biasa makan di KFC/ AW yang ayam semua sekarang cari ikan dan sayur di Ibu warteg, jadi langganannya tetap banyak..
Bu Tuti sepedaan ke kampus? Pastinya tetap cantik dan seksi..
(*mulai membayangkan bu Tuti menanjak pakai sepeda*)
Waw!! Konsep tulisan yg keren XD baru pertama kali nemuin postingan blog dg konsep kek gini. Btw, nice sharing X)
Tuti :
Thanks Riza. Kalau mau, Riza boleh juga loh nyumbang tulisan ke sini …
Terima kasih, semoga pesannya sampai
very very nice info!
emang sih kita harus hemat listrik.
tapi tentang kulkas, bukannya kulkas emang harus dicolok terus ya? kalo dilepas2 bukannya malah jadi rusak kulkasnya?
Tuti :
Betul Man, untuk kulkas memang harus dicolok terus. Kecuali kalau mau ditinggal lama …
Vampire listriknya itu benda-benda yang selama tidak dipakai tapi tetap dicolok.. benar Mas Arman.. selama kulkasnya tidak dipakai, colokannya boleh dilepas, tapi kalo sedang dipakai ya pakai saja dengan normal.. biar lebih hemat lagi cari kulkas yang ada label hemat energinya
tulisan yang menarik mbak..
beberapa waktu yang lalu saya juga membaca artikel di majalah B*bo tentang ‘Jejak Karbon’, dengan membaca tulisan mbak ini saya jadi lebih mengerti artinya,he3, terima kasih…
semoga orang tua sekarang juga lebih cerdas dan gak segan belajar ya mbak..biar pemahaman tentang pelestarian lingkungan bisa ditanamkan sedini mungkin.
Mari2..kita mulai dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil, dan dari sekarang ^^
*
*aa’ mode on
#untuk Bunda Tuti, terima kasih Berandanya telah jadi tempat bertukar pengetahuan baru. Sukses selalu Bun
Tuti :
Terimakasih juga, Anis sudah mau berkunjung meramaikan beranda saya
Sukses buat Anis juga …
Iya, majalah yang satu itu dari dulu memang isinya bagus, menyampaikan isu2 orang dewasa kepada anak-anak.. cuman kadang kalo lingkungan rumahnya juga ga mendukung, maka mentah lagi deh niat baiknya..
Salam kenal ya Anis
tidak makan sapi? tapi makan daging berkaki empat yang lain…ya sama saja. Aku lebih setuju dengan Ata dengan makan produk lokal, yang energi distribusinya lebih kecil. Mana bisa kita menghilangkan semua hewan berkaki empat di dunia ini? Segala sesuatu yang ada jika dimusnahkan semua juga tidak baik karena menyebabkan ketidakseimbangan alam.
meskipun saya juga tidak terlalu makan sapi, sebulan paling sekali
di Jepang kami pakai colokan steker yang punya saklarnya sehingga tidak perlu mencabut semua plug, cukup mematikan saklar seperti lampu dinding. setiap malam saya cukup mematikan saklar yang jumlahnya lebih sedikit daripada cabut semua plug. Timer juga merupakan pemecahan yang baik.
banyak juga HP di jepang pakai charge dengan batere solar, jadi tidak perlu pakai listrik. Memang masih merek tertentu.
Penghematan air seperti harus lebih digalakkan. di Jepang berlalku sistem membayar air bersih + air buangan. Jadi misalnya air PAM di sini dikalikan dua. Karena air limbah itu masih harus diolah sebelum bisa dibuang ke laut.
Banyak juga sudah saya tulis di TE secara serabutan usaha kecil-kecil yang bisa dilakukan keluarga-keluarga. Bertindaklah, jangan bicara saja
Dan sedapat mungkin saya selalu pakai sepeda kemana-mana di jepang. Di sini? jalannya masih bahaya, dan tidak ada sepeda sih.
pemilahan sampah juga solusi yang baik. saya masih selalu kagok kalau buang sampah di sini, karena semua menjadi satu. Padahal banyak barang yang masih bisa didaur ulang. 3 R, Reduce, Reuse dan Recycle, tampaknya belum diperhatikan di indonesia.
nah kan, jadi panjang komentarku. Maksudku jangan kita bermimpi membangun solar panel satu kota dulu, karena solar panel itu juga tidak murah. Di Jepang hanya orang kaya yang bisa pasang solar panel, meskipunan nantinya Perusahaan Listrik membeli listrik dr perumahan itu. Tetap saja awalnya perlu modal yang tidak sedikit. Buatlah yang kecil-kecil tapi jika dibiasakan akan membantu banyak.
udha ah….. ngga bisa berhenti ntar
nice posting clara
EM
Tuti :
Setuju Mbak, makan sapi boleh saja, tapi dari peternakan lokal yang tidak harus dengan membabat hutan. Apalagi gas metana yang dihasilkan oleh kotoran sapi bisa diolah menjadi energi untuk memasak.
Tentang sampah, di rumah saya sudah memisahkan sampah kering dan sampah basah. Rasanya nggak tega aja mencampur segala sisa makanan dengan sampah kertas dan plastik, yang masih bisa dimanfaatkan pemulung …
Saya juga baca tulisan Mba EM tentang kertas daur ulang.. dan kesadaran orang Jepang untuk membelinya, ketimbang membeli kertas putih, sangat bagus.. memang kita sangat ketinggalan, karena berbagai faktor juga sih.. saya juga pakai saklar yang Mba EM maksud. Lebih praktis kalo terburu2 keluar rumah
Batere solar, sudah masuk ke Indonesia belum ya?
Sekarang jadinya makan produk laut, dan masih sih sedikit makan produk ternak seperti susu dan telur, tapi ga makan dagingnya, sudah stop (mudah-mudahan untuk seterusnya).. saya juga pergi ke kantor berjalan kaki dan pengguna angkutan kota yang setia
Di Indonesia meski disediakan tempat sampah orange biru, kadang sampahnya masih tercampur juga..
“Buatlah yang kecil-kecil tapi jika dibiasakan akan membantu banyak.” Setuju banget Mba EM, share komennya banyak dan menarik sekali.. semoga suatu saat Indonesia seperti Jepang, Freiburg dan Samso
perihal anomali iklim ini saya juga merasakannya. Sebagai penggemar fotografi, saya kesulitan menentukan bulan tanpa mendung dan hujan.
Biasanya Juli-Agustus ini cuacanya cerah dan tanpa hujan. Namun akhir-akhir ini hujan masih saja turun. Saya jadi susah motret langit biru bersih.
Tapi menurut saya,
Selama manusia masih mengkonsumsi sumber daya alam (SDA), Bumi semakin lama akan semakin rusak. Ah ya, mungkin karena kemampuan regenerasi Bumi tak sebanding dengan daya konsumsi manusia.
Apalagi manusia semakin lama semakin bertambah banyak. Apa dengan itu tingkat konsumsi SDA bisa ditekan hingga ke batas paling minimal?
Belum lagi dampak samping dari kemajuan teknologi. Dimana manusia menginginkan hal yang lebih praktis dari hari ke hari. Itu adalah pedang bermata dua. Sebab semakin praktis suatu benda, maka SDA yang diperlukan untuk menciptakan teknologi itu makin banyak. Apalagi kalau teknologinya diproduksi secara massal. Duh!
Mungkin ya manusia ingin praktis. Ingin beraktivitas seminimal mungkin dengan hasil yang maksimal. Egois?
Tapi dibalik itu semua. Bumi saya rasa makin menderita. Tinggal menunggu nasibnya untuk mati…
Tuti :
Apapun yang ada di alam semesta ini, pada akhirnya akan rusak dan berakhir masa hidupnya. Termasuk bumi, tentu saja. Nah, yang jadi masalah, kerusakan itu sekarang terjadi jauh lebih cepat dari yang seharusnya karena ulah manusia yang serakah …
Sudut pandang yang lain dari seorang penggemar fotografi nih..
Semoga bumi kita jangan sampai mati ya Mawi.. salam kenal..
mbak Clara, senang baca tulisannya
salam kenal ya,
banyak hal kecil dari rumah yang bisa juga ikut mengurangi global warming,
nggak usah pakai tissue, nggak usah pakai sedotan, ke mana2 bawa minuman sendiri, daripada beli2 air kemasan
Tuti :
Untuk usul Mbak Monda nggak pakai sedotan dan bawa minuman sendiri, saya sudah melaksanakan. Tapi nggak pakai tissue? Waduh … agak susah nih
Ngomong-ngomong, tissue kan bisa hancur dalam air, tidak seperti plastik. Mungkin bahan bakunya yang berasal dari pulp ya, yang membuat pemakaian tissue tidak ramah lingkungan?
Iya Buu.. salam kenal juga yaa..
Iya, mulai dari hal kecil dulu deh.. belum punya kuasa bikin hal yang besar
Yang jelas …
Yang kita alami sekarang …
Bulan sudah July – Agustus … tetapi Hujan masih sering turun … (deras pula)
iklim jadi anomali …
bingung …
Eniwei …
Nice information Clara …
Terima kasih Ibu Tuti
salam saya
Mohon Maaf lahir Bathin Semuanya …
Tuti :
Terimakasih juga Om ..
Maaf lahir batin juga
Semoga puasanya lancar ya Om
Mohon maaf lahir dan batin juga om.. maafin saya kalo sering komen yang aneh-aneh.. selamat berpuasa..
Wadoww…global warming….kulasannya bagus banget Clara. Lagi-lagi saya harus mengacungkan jempol buat pengisi TV dan empunya TV yang selalu top mencari bintang pengisi.
Setelah baca kulasanya…saya jadi semakin khawatir akan prilaku kita yang memang sering menyebabkan lingkungan rusak…Duch…gimana nich nasib anak cucu kita nanti….
Ok, dech daripada berpanjang2 mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan utk mengatasi global warming, yuk…
Best regard,
Bintang
Tuti :
Terimakasih, Mbak Linda. Mbak juga pernah menjadi Bintang di TV kan, jadi mbak juga harus diacungi jempol dong …
Salam hangat ,
Makasih Mba Elinda, iya dari yang kecil-kecil dulu
Salam saya, Clara
bingung mau komen apa… hehe
panjang-panjang banget yach komennya…
Bikin aja komen sesuai yang jabon pikirin.. ato yang udah jabon lakuin juga.. salam kenal aja dulu ya..
Bu Tuti dan Clara…
saya pernah baca artikel dengan issue yang sama dan materinya beraatt….
Tapi di tangan Clara, tulisan ini jadi sedemikian menarik, kaya info, dan mengajak berpikir hal sederhana apa yang bisa kita lakukan dimulai dari diri sendiri.. Thumbs up!!
Clara…
saya komen di sini aja ya… di blogmu susaahhh…
Tuti :
Terimakasih, Nana …
Clara memang penulis hebat. Sama hebatnya dengan Nana dengan ‘Coltan’
Makasih Mba Na.. iya kalo tulisannya teknis, itu gawenya teman saya yang di meteorologi dan klimatologi, aduh mereka kalo nulis pake data dan rumus yang rumit banget.. bener2 bidangnya.. kalo saya karena senang aja dengan isu itu, jadi bahas yang dipermukaan aja..
Ga ngerti juga Mba Na, kotak komennya sedang error..
Salam kenal ,Clara.
tulisan ttg global warming yang sangat menarik, gak capek bacanya, gak banyak istilah yg njlimet.
terimakasih sudah menuliskan ttg hal ini dgn simple tapi tetap enak dibaca dan menambah wawasan baru, ttg pemeliharaan lingkungan. ( salut…….2 thumbs up)
saya pernah jadi vegetarian selama 8 thn, namun 2 thn belakangan ini mulai mencoba makanan laut, terutama ikan, dan belum bisa kembali utk makan daging sapi atau ayam.
terimakasih banyak utk share hal berharga ini, Clara.
salut utk Mbak Tuti, verandanya jadi benar2 berwarna dgn bermacam tulisan2 indah
salam
Tuti :
Iya Bunda, maka dari itu saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman yang sudah berkenan memberikan tulisan terbaik mereka untuk TV. Ehm … ngomong-ngomong, saya masih nunggu tulisan Bunda loh …
Ibu dulu vegetarian?? Wahhh, saya iri Buuu.. saya tuh pengen banget, tapi lidah belum cocok dengan sayur sampe sekarang.. dulu sama sekali ga bisa makan sayur, sekarang sudah mending bisa makan 2-4 jenis..
Makasih juga Bu dan salam kenal..
Mbak Tuti, kali ini kunjunganku disini sekedar mampir doang dan hanya kasih info bahwa pertemuan kita tempo hari sudah saya posting lho.
Nah, silahkan dinikmati mumpung masih hangat.
Selamat berakhir pekan mbak
best regard,
Bintang
Tuti :
Semoga kita bisa bertemu kembali dalam moment yang lebih indah ya …
Iya Mbak, saya sudah meluncur ke TKP barusan. Terimakasih Mbak sudah menuliskan pertemuan kita dengan begitu komplit dan indah
Salam sayang selalu …
waaah tulisan sang lady keren banget ya bu tuti
cocoklah dengan yang punya blog ini sama2 keren
salam saya bu tuti
*ketularan papah nh*
Tuti :
Betul Julia, tulisan ‘Sang Lady’ memang oke punya. Sama-sama keren dengan yang punya blog? Waduh, terimakasih … *menjura dengan hati berbunga*
Salam saya juga, Julia
*copy jawaban untuk Om Nh*
salam saya Gerhana Cokelat
*ketularan papah nh juga* xixixi..
wah ulasannya lengkap!
soal vampire listrik, awalnya kebanyak vampire yang pake batere.. yang perlu di-charge kalo habis energinya.. (hape kali…)
ternyata peralatan elektronik kita..
bener juga ya..
byk peralatan listrik yang selalu standby. Terutama ya kulkas tadi yah?
Tuti :
Kalau kulkas, kayaknya memang harus selalu dicolok ke listrik ya, karena kalau kulkas mati-hidup kan makanan yang disimpan di dalamnya akan rusak. Nah, yang musti diubah adalah kebiasaan untuk tetap mencolok teve, komputer, dan peralatan elektronik lain yang sedang tidak dipakai.
Iya.. tivi paling sering mungkin ya.. banyak yang terpikir kalo sudah off/ mati, ya ga ada listriknya lagi, tapi ternyata masih menyedot listrik juga..
Salam kenal Anna..
salam kenal mbak dari anak pulau seberang.
saya senang sekali membaca tulisan2nya
http://www.kangean.net
Tuti :
Salam kenal juga …
Terimakasih sudah berkunjung
Maen ke pulau Kangean dulu deh.. meluncuurrr..
Tulisannya menarik….mengajak agar kita dapat berperan serta untuk mengelola agar pemanasan global tak berlanjut terus.
Btw saya kok malah belum pernah ke blognya Clara ya..segera ke TKP.
Tuti :
Silahkan mampir ke blognya Clara, Mbak. Banyak tulisan bagus di sana …
Sudah Bu, ada 2 kali komen kalo ga salah, satu yang saya ingat tentang Masa orientasi, itu nulisnya juga terinspirasi Bu Enny dan Om NH
menarik tulisannya
saya pernah dapet wacana yang sama juga dari film dokumenter (ada di youtube) berjudul “earth”, yang bikin saya jadi mikir2 klo mau makan sapi.
eh.. tapi mikir aja lho ya tan..
(selanjutnya, asal halal tetep disantap, kekeke..)
*ditimpuk mbak clara*
btw.. mbak clara, saya minta link referensinya ttg statement “Peralatan listrik yang berada dalam kondisi stand by meskipun dalam kondisi tidak menyala ternyata masih mengalirkan listrik sebesar 5 Watt/jam.”, boleh?
Soalnya dari dulu penasaran (gara2 suka “berantem” ama bokap, kekeke..). Hatur nuhun nyak..
National Geographic Magazine adisi 2008, yang covernya warna biru putih bergambar seorang pria berdiri di tengah2 es kutub, temanya Climate Change.. ada di situ statementnya..
Selamat meyakinkan ayah yaa..
Jangan cuma dipikir ya.. dikurangi sebisa-bisanya.. hehehe..
salam kenal ya, tapi ga ada link blognya yaa?
Link blognya kalau udah jadi temen FB nya, Clara…itu anakku bungsu…hehehe
apakah kita harus meninggalkan susu sapi juga?