MELIHAT ISTANA, JALAN-JALAN DI KEBUN RAYA
Saya sudah bermimpi melihat Istana Bogor dan jalan-jalan di Kebun Raya Bogor semenjak umur 10 tahun, ketika pertama membacanya di buku. Dan mimpi itu baru menjadi kenyataan berpuluh tahun kemudian, tepatnya sekitar setahun yang lalu. Ya, saya khusus terbang dari Yogya untuk beli tales Bogor yang terkenal enak itu. Niat banget ya …
Dari bandara Soekarno-Hatta saya berempat dengan kakak dan keponakan langsung menyewa mobil ke Bogor. Sebenarnya lebih murah naik taksi argo, tapi saya tidak tahu taksi bandara bisa sampai ke Bogor
. Sewa mobil Inova dari BB tarifnya Rp. 480.000,-, sementara dengan taksi BB cuma Rp. 270.000,-an. Yeah … namanya juga enggak tahu. Pelajaran pertama : jangan menjadi orang yang kurang pengetahuan.
Meluncur di tol Jagorawi. Sebenernya mau memenuhi undangan ke Puri Cikeas (weks
), tapi berhubung waktu terbatas, terpaksa ambil jalur kanan menuju Bogor …
Tugu Parangkujang, simbol kota Bogor.
Ohya, saya baru pertama kali itu ke Bogor. Kepada driver saya minta untuk mampir dulu ke Tajur, kawasan yang kondang dengan tas-tasnya yang konon bagus dan murah. Entah kami salah memilih toko, di toko besar yang kami masuki harga tas-tasnya ternyata sudah cukup mahal, sama saja dengan di Jakarta atau Yogya. Tapi karena sudah terlanjur sampai ke Tajur, dan kebetulan ada yang saya suka, ya beli juga …
Memasuki kota Bogor, kami sempat berkeliling sebentar. Meskipun hujan turun rintik-rintik, kami menyempatkan diri berfoto di depan Istana Bogor, meskipun hanya dari luar pagar. Halaman depan istana ini sungguh luas, dengan rumput hijau yang terawat rapi, pepohonan rindang, dan rusa tutul yang bergerombol di mana-mana. Di beberapa sudut kota masih berdiri bangunan lama peninggalan zaman kolonial, sayangnya telah menjadi korban vandalisme yang membuat bangunan tampak kumuh dan menyedihkan …
Halaman depan Istana Bogor yang sangat luas menghijau
Bangunan lama yang menjadi korban vandalisme, kumuh dengan corat-coret
Saya sudah booking hotel tiga hari sebelumnya melalui Travelpass, lebih murah dan ada kepastian memperoleh kamar. Penginnya sih menginap di Hotel Salak yang legendaris itu, tetapi mahalnya euy! Akhirnya saya memilih Hotel Pangrango II yang berbintang 3, yang cukup terjangkau kantong
. Selesai check in, kami langsung keluar untuk menikmati Bogor. Banyak factory outlet berjajar di sepanjang jalan, juga resto dan kafe yang cukup menarik. Dasar perempuan, langsung deh kami asyik melihat-lihat koleksi baju dan sepatu yang … hmm, cantik dan modis. Belum juga ke istana dan kebun raya, belanja udah duluan! Foto-foto narsis pula di depan outlet
Ehm … kayaknya saya harus dapat komisi nih, sudah mempromosikan Hotel Pangrango
Dua yang di tengah itu bukan poster, juga bukan peragawati, tapi emak-emak narsis …
Model suka, warna ada, ukuran tersedia, tapi … dompet gak cocok
Hotel kami sangat dekat dengan kebun raya, jalan sedikit saja sudah sampai ke salah satu pintu belakangnya. Tapi karena untuk masuk harus lewat pintu depan, kami naik angkot warna hijau muda yang di Bogor ajubile banyaknya. Heran deh, apakah orang Bogor hobi banget muterin kota pake angkot, sampe segitu banyaknya angkot yang beroperasi?
Armada hijau berjubel memadati jalan, berebut tempat dengan sepeda motor
Tales Bogor yang legendaris … tapi untuk oleh-oleh ribet bawanya euy!
Kebun Raya Bogor memiliki luas 87 hektar, didirikan pada tahun 1817 atas prakarsa Sir Stamford Raffles, seorang berkebangsaan Inggris yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal di Jawa. Ada lebih dari 17.000 spesies pohon di KRB, banyak di antaranya sudah berumur ratusan tahun. Sungguh mengagumkan melihat pohon-pohon yang begitu besar dan tinggi, dengan bentuk batang dan akarnya yang eksotis. Pada setiap pohon ditempelkan label yang berisi nama pohon dan kapan pohon tersebut ditanam. Pohon-pohon ini tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi banyak juga yang berasal dari luar negeri. Yang selalu menarik untuk disaksikan adalah berkembangnya bunga Bangkai (Rafflesia Arnoldi), karena ukurannya sangat besar (bisa mencapai sekitar 1 meter) dan termasuk bunga langka.
Pintu 1 Kebun Raya Bogor. Karena luasnya areal, mobil pengunjung diperbolehkan masuk
Bangunan baru yang cukup indah di samping pintu masuk KRB
Papan informasi ini sangat membantu pengunjung untuk mempelajari isi KRB dan langsung menuju ke lokasi yang diinginkan
Pohon ini tingginya puluhan meter, diameter batangnya hampir 2 meter, dan sudah berusia ratusan tahun. Amazing!
Duduk di kursi, menikmati ketenangan danau dan kehijauan pepohonan, selalu membuat kita tak ingin pulang …
Tidak jauh dari pintu masuk KRB terdapat Tugu Raffles yang merupakan monumen peringatan bagi Lady Olivia Marriane Raffles, istri Sir Thomas Stamford Raffles yang meninggal pada tahun 1814. Lady Olivia lahir di India pada tahun 1771. Ia mengikuti suaminya yang menjadi Letnan Gubernur Inggris di Indonesia pada tahun 1811 – 1816. Pada usia 43 tahun ia sakit malaria dan oleh Sir Raffles dibawa ke istana Buitenzorg. Sayangnya, udara segar dan bersih di Bogor tak mampu menyembuhkan Lady Olivia. Enam bulan kemudian ia meninggal, dan dimakamkan di pemakaman orang-orang Eropa, di Pemakaman Umum Kober, Tanah Abang, Jakarta.
Pada Januari 1970 tugu ini sempat rusak berat karena dilanda angin ribut, dan direkonstruksi kembali pada Agustus 1970. Konon, posisi monumen ini merupakan titik tengah kota Bogor. Di samping monumen, kita bisa membaca kata-kata puitis dalam bahasa Inggris klasik yang merupakan ungkapan cinta Sir Raffles kepada Lady Olivia. Hm … so sweet *terharu*
Tugu Lady Raffles adalah monumen penghormatan, bukan makam loh …
Di kawasan KRB terdapat makam Belanda, yang berisi 42 makam. Makam ini sudah ada sebelum kebun raya didirikan. Ini adalah pemakaman untuk keluarga dekat Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Makam tertua adalah makam seorang administrator toko obat bernama Cornelis Potmans, yang meninggal pada 2 Mei 1784, sedangkan makam terbaru adalah Prof. Dr. A.J.G.H Kostermans yang meninggal pada tahun 1994. Ia adalah ahli botani terkenal dari Belanda yang sudah menjadi WNI sejak tahun 1958. Hingga akhir hayatnya Kostermans bekerja di kantor Herbarium Bogoriense yang terletak di seberang KRB.
Bentuk makam-makam ini sangat unik dan tentu saja bergaya Eropa, dengan ukiran dan relief yang indah. Saya tertarik mengamati desain makam-makam ini, tapi kakak saya merinding dan mengajak cepat-cepat pergi dari sana. Memang sih, suasananya yang hening dan agak wingit sempat membuat bulu kuduk sedikit meremang. Apalagi kesan makam tua sangat terasa , membuat kita seakan dibawa ke masa ratusan tahun berselang. Padahal di siang hari bolong lho. Nggak terbayang bagaimana pada malam hari … hiii …
Di malam hari, sumpe saya nggak mau dekat-dekat makam Belanda ini …
Aiiih …. ke KRB kok ceritanya orang mati melulu sih. Nggak asyik ah! Oke kita lihat yang indah-indah aja yuuks …
Istana Bogor adalah bagian tak terpisahkan dari Kebun Raya Bogor, meskipun dari KRB kita hanya bisa melihat bagian belakang istana, dan tak bisa masuk ke sana. Istana ini dulu bernama Buitenzorg atau Sans Souci yang berarti ‘tanpa kekhawatiran’. Sejak tahun 1870 hingga 1942 Istana Bogor merupakan tempat kediaman resmi 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu Gubernur Jenderal Inggris.
Buitenzorg dibangun pada Agustus 1744 atas prakarsa Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff. Bangunan aslinya bertingkat tiga, mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke Malborough, yang terdapat di kota Oxford, Inggris. Pada 10 Oktober 1834 gempa bumi mengguncang akibat meletusnya Gunung Salak, mengakibatkan Buitenzorg rusak berat. Istana Bogor dibangun kembali pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmayer Van Twist (1851 – 1856) , dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19 dan tidak lagi bertingkat karena disesuaikan dengan lokasi yang sering diguncang gempa.
Pada tahun 1950, Istana Kepresidenan Bogor resmi menjadi salah satu Istana Presiden Indonesia. Istana ini menjadi tempat pertemuan menteri ekonomi APEC pada 15 November 1994, dan disana diterbitkan Deklarasi Bogor yang merupakan komitmen 18 negara anggota APEC untuk mengadakan perdagangan bebas dan investasi sebelum tahun 2020. Istana ini juga menjadi tempat resepsi pernikahan Agus Yudhoyono, putra Presiden SBY dengan artis cantik Anisa Pohan pada 9 Juli 2005. Sebenarnya saya mendapat undangan, sayang saya sedang sibuk sehingga tidak bisa datang *ngayal.com*
Halaman belakang Istana Bogor sejuk dan asri dikelilingi rumput hijau dan kolam teratai
Teratai merah mekar di tengah kolam, keindahannya sungguh menawan
Salah satu patung yang menghiasi halaman belakang istana
Istana Bogor memiliki luas 28, 86 hektar. Halamannya dihiasi dengan sekitar 600 rusa tutul yang dulu didatangkan langsung dari Nepal. Terdapat 37 bangunan di Istana Bogor, mencakup Gedung induk, Gedung Utama Sayap Kiri, Gedung Utama Sayap Kanan, dan Paviliun I-VI. Di istana ini juga tersimpan koleksi karya seni yang sangat berharga. Terdapat 450 lukisan karya pelukis-pelukis ternama Indonesia dan manca negara, 360 patung, berbagai hiasan kristal dan lantai keramik mewah menghiasi istana. Beberapa tahun terakhir ini, Walikota Bogor membuka istana bagi umum pada hari ulang tahun kota Bogor. Wah, perlu dicatat nih tanggalnya, karena menyaksikan dari dekat istana yang indah ini sungguh kesempatan langka bagi rakyat kecil seperti kita!
Yang tak boleh dilupakan jika berkunjung ke KRB adalah Museum Zoologi, yang berisi replika binatang-binatang yang terdapat di Indonesia. Pada bagian depan museum terdapat kerangka ikan paus biru (Balaenoptera Musculus atau Blue Whale). Paus biru ini ditemukan mati terdampar di pantai Pameungpeuk pada Desember 1916. Panjangnya 27 meter dengan bobot 119 ton. Berat kerangkanya saja 64 ton. Paus biru adalah jenis binatang terbesar di dunia. Mamalia ini terdapat di semua lautan, tapi jarang di daerah tropis. Paus betina mencapai kedewasaan pada umur 5 tahun, hamil selama 11 bulan, dan bayi paus ketika lahir panjangnya mencapai 7 meter (untung nggak perlu kamar bersalin …
)
Meskipun warna kulitnya biru, kerangkanya tetap saja putih …
Monumen peringatan untuk Johannes Flias Teysmann terdapat di dalam KRB
Sebuah bangunan asli peninggalan Belanda dengan arsitektur bergaya Indie
Monumen CGK Reinwardt, ahli botani Jerman yang memprakarsai pendirian KRB
Mengelilingi KRB dengan berjalan kaki memerlukan kekuatan fisik seorang atlet lari marathon atau pendaki gunung. Bagi manusia normal seperti kita (wew … memangnya atlet dan pendaki bukan manusia normal?
) pastilah kaki gempor dan pinggang pegal-linu. Tapi jangan khawatir, di pintu masuk/keluar KRB sudah siap penjual jamu, yang akan mensuplai kita dengan minuman ajaib penguat tubuh.
Jamunya Neng, Kang, Mbakayu, Kangmas, Aki, Nini ….
Lapak souvenir berjajar di depan pintu masuk KRB, cukup murah jika pandai menawar
Apa lagi yang perlu dikunjungi di Bogor? Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) tentu saja. Perguruan tinggi ternama ini menjadi salah satu ikon kota Bogor, dan telah menelurkan (atau menetaskan? hihi … ) puluhan ribu sarjana pertanian yang tersebar di mana-mana. Maka sebelum bertolak ke Jakarta, kami sempatkanlah berkeliling kampus IPB, supaya bisa menyerap aura keilmuan yang terdapat di sana. Siapa tahu suatu saat diundang ceramah di sini …. yeeeiy!
Dua hari menikmati Bogor mungkin belum tuntas, tetapi cukuplah rasanya setelah melihat Istana Bogor, menjelajahi Kebun Raya, keluar masuk factory outlet, dan melihat-lihat suasana kota. Hari Jum’at sore kami meluncur ke Jakarta dengan taksi BB. Drivernya sudah tua, ramah dan sangat helpfull. Yang membuat saya mengernyitkan kening, ia menyetir dengan melepas sepatu alias nyeker …. hihihi …
Sumber : http://www.presidenri.go.id & http://id.wikipedia.org




..

wew,..dari usia 10 tahun memendam keinginan dan baru keturutan berpuluh tahun kemudian..ck..ck..ck..
syukur deh mimpinya terwujud, sudah lega pastinya..
..
kalo saya sih dari kecil udah maen di hutan..
jadi kalo mau lihat pohon mah, gak perlu ke Bogor.. hi..hi..
tapi yang bikin saya tertarik adalah koleksi lukisan istana Bogor..
hmmm… pengennyaaa…
kapan ya hari jadi bogor..?, pengen banget mengagumi karya lukisan bersejarah itu..
..
Sir Raffles romantis dan puitis ya..
itu puisinya di terjemahin dong Buk, biar saya ngerti..
..
wew makam dan tugu itu pasti bagus kalo di bikin sketsa,
tapi minus wanita berjilbab merah lho..
nanti di kira penampakan.. ha..ha..ha…
*stater motor siap-siap kabur*
..
ps: foto yang di pinggir kolam bagus, saya suka’..
..
Tuti :



Sejujurnya, aku suka jalan juga baru sekitar 10 tahun terakhir. Dulu nggak suka pergi-pergi, males aja rasanya. Sekalinya tahu kenikmatan jalan-jalan, melihat dan mempelajari sesuatu yang baru, ketagihan deh …
…
Aku juga pengin banget lihat lukisan-lukisan yang ada di Istana Bogor. Cari info ah, kapan hari jadi kota Bogor. Yuk sama-sama kesana …
…
Waduh, kemarin nggak dicatat je puisinya, jadi udah lupa …
…
Menurutku yang paling bagus dibikin sketsa adalah Istana Bogor. Dan akan lebih menarik lagi kalau ada jilbab merah di sana …
*cabut kunci motor, simpen di saku*
…
Tengkiu … *menjura*
Yang bagus lokasi pemotretannya atau pemakai jilbab merahnya?
Iya tuh Ta.. saya sering diajakin ke Kebun Raya Bogor, tapi ga kepengen.. secara saya lahirnya di hutan, jadi udah puas dengan pohon2 tinggi, xixixixi
Pantesan saya ga liat bu Tuti di nikahan Agus, Ibu ga bisa datang ya waktu itu, saya tungguin loh padahal, xixixixi (weks weks)
Tapi tetap asik baca bu Tuti menggambarkan tempat ini dan prasasti2nya, berasa pergi ke sana juga deh..
Tuti :
Hutan Kalimantan dan Kebun Raya Bogor beda jauh ‘kalee …
Kalau di KRB, kan ada science-nya, ada bangunan-bangunan bersejarahnya. Dan jelas nggak ada gorilla atau orang utannya
Owgh, nungguin saya di pernikahan Agus – Annisa? Nungguinnya di Monas ‘kali ya … hihihi …
Thanks, semoga suatu saat Clara tergerak untuk pergi kesana juga. Paling enggak, untuk bikin foto dengan background Istana Bogor. Keren euy … !
Mbak,
keluarga mama, Mutter berasal dari Buitenzorg. Ntah sebelumnya dari mananya Belanda hehehe. Jadi kami dulu waktu Oma dan Opa masih hidup, setiap dua minggu sekali pasti pergi ke Bogor. Jaman dulu belum ada jalan tol, sehingga harus lewat ciputat, semplak baru masuk bogor. Perjalanan juga terasa lamaaa sekali. Yang kasihan papa karena harus menyetir mobil amerika “kingswood” yang segede bagong melewati jalan yang jelek. Kami, anak-anak cuma bisa tidur, dan bangun menyapa opa. Bogor bagi kami dulu adalah kampung ke dua. Tapi saya belum pernah masuk istananya. Cuma lihat dari Kebun Raya saja.
Kalau saya ke bogor pasti makan/beli asinan Bogor yang terkenal.
EM
Tuti :
Mobil Holden Kingswood itu nyaman sekali lho Mbak. Dulu ada perusahaan travel jurusan Bandung – Jakarta yang armadanya menggunakan mobil ini. Saya pernah satu kali menumpang travel ini, dan rasanya memang nyaman sekali perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang memakan waktu 3,5 jam …
Kemarin saya sempat beli asinan juga, dan memang enak … segeeerr …
Saya tau …
Ini pasti ke Sempur kaler nih …
hahaha
salam saya
Udah mendarat Bu ?
Tuti :
)
Sempur Kaler?
Nggak paham Om …
(yeeiy … emang Om bukan bicara sama aku kok
Iyes…. Sempur kaler yang ada jembatan gantungnya di atas sungai. Aku selalu takut mau coba nyeberang.
Ah rumah itu dulu banyak anak kost IPB tuh, kok ngga ada yang muncul kenalan sama aku ya hihihi.
Rumah tua, lantai batu hitam dingin, mau mandi? Jam berapa aja tetap dingin di situ brrrr. Aku cuma nyesel ngga banyak foto ttg rumah itu.
Sorry mbak, jadi cucol di sini. Saya sudah mendarat dengan selamat. Terima kasih doanya.
EM
Tuti :
Lha waktu itu Mbak Imel umur berapa? Kalau masih umur 10, ya jelas saja mahasiswa-mahasiswa IPB tidak tertarik untuk kenalan. Ibarat bunga, masih kuncup gitu loh … hihihi …
Silahkan curcol Mbak, belum ada undang-undang yang melarang kok
Syukurlah Mbak Imel sudah mendarat dengan selamat di Tokyo. Selamat menjalani kembali kehidupan sehari-hari …
Om Trainer Senyum-senyum …
hehehehe
(aku kok)
* Kunjungan ke KRB setahun yang lalu? cerita yang sudah tertunda donk mbak, tetapi tetap saja masih terasa segar, sesegar gambar Talas Bogor itu…..
* Sepertinya sengaja ada cerita yang disembunyikan karena bulan puasa ya mbak, itu tuh….cerita KULINER nya gak muncul, hehehe….padahal Kuliner di Bogor enak2 banget: Makaroni bakar, Asinan, Roti Unyil, etc, etc….
* Dahulu BOGOR disebut KOTA HUJAN, tetapi sekarang BOGOR adalah KOTA SEJUTA ANGKOT mbak……sepertinya Pemda Bogor sudah kehabisan ide untuk menertibkan angkot di Kota`nya, akhirnya dibiarkan saja…
Tuti :
* Hehe … iya, sudah setahun yang lalu. Tapi Bogor, istana, dan KRB masih belum banyak perubahan kan? Lha wong umurnya sudah ratusan tahun, kalau cuma ditambah setahun kan nggak ada artinya …
* Kisah kulinernya memang disimpen Mas, karena kebanyakan teman-teman kan bacanya siang hari, takut menggoda yang lagi puasa …
* Herannya, dengan angkot yang sebegitu banyak, apakah semua masih bisa mendapatkan penumpang? Kalau kurang penumpang, kan akhirnya pada tutup juga perusahaaan angkotnya …
saya terakhir ke bogor itu th 2006 pas merayakan anniversary ke 1. jadi inget banget.
emang di bogor mulai banyak FO ya, walaupun belum sebanyak bandung.
lain kali kalo ke bogor nginep di novotel deh bu. bagus hotelnya. banyak rerumputan dan pohon2 pula… seneng nginep disana… walaupun cuma 45 menit dari jakarta tapi rasanya bedaaa banget….
kalo terakhir ke kebun raya bogor udah lama banget… rasanya waktu itu masih sma, karena ada tugas sekolah. hehee.
Tuti :
Novotel dimana-mana memang bagus. Saya pernah menginap yang di Bukittinggi juga bagus. Kemarin kalau nggak salah Novotel full booked.
Ke KRB saat masih SMA, berarti sudah beberapa belas tahun yang lalu ya? Kayaknya sih belum beitu banyak perubahan Man …
Wah Bunda menjajah Kebun Raya Bogor niy, hehehe. Kapan ya saya terakhir ke Bogor? Eee…kayaknya dulu pas masih SD. Soalnya saya pernah ikut lomba jalan kaki di kebun raya bogor pas SD, kelas 5 apa ya? Cuma itu satu-satunya kenangan saya tentang Bogor dan kebun rayanya.
Yah, semoga pohon-pohon besar itu masih bisa diliat oleh generasi mendatang ya Bunda.
Tuti :
Yang mengkhawatirkan adalah jika terjadi angin ribut besar, karena pohon-pohon yang sudah tua itu bisa roboh. Harus dilakukan regenerasi untuk pohon-pohon langka yang ada, supaya tidak punah …
saya ke bogor baru 2 kali..
sekali meeting, sekali lagi dolan ke kebun raya..n sempet ngelirik istana juga sih..
wah menarik nih utk masuk ke istana
*lumayan, ono bahan cerito kanggo anak putu*
Tuti :
Ciee …. yang barusan nikah, terus merasa sudah berhak ngomong “anak putu”
Anak dulu Dal, putu mah masih luamaa euy!
Ah ibu Tuty ini membangkitkan kenangan saya saja …
Bogor adalah kota yang paling Romantis menurut saya …
Tapi itu duluuuuu …
Sekarang sudah banyak angkot …
Yang jelas Tinggal 4.5 tahun di Bogor … saya merasa beruntung … walaupun cuma indekos doang …
Ada banyak hal saya pelajari di Bogor
Salam saya Bu Tuti …
(kembali ngelamun)
Tuti :
Memang angkot di Bogor ampun-ampunan Om … Tapi di kebun raya masih tetap romantis loh …
salam saya juga Om
(membayangkan Om yang lagi ngelamun)
soalnya om NH alumni IPB
Tuti :
IPB itu singkatan Ikatan Pecinta Blog ya Ria?
Menurut saya, Bogor hanya untuk wisata kuliner, mbak
Saya gak pernah tertarik untuk masuk istana bogor. Kebun raya Bogor? Kalo untuk foto-foto *kepentingan narsis* boleh la, kalo untuk jalan-jalan? Malessss
Saya gak pernah memandang Bogor sebagai kota semenarik tulisanmu ini, mbak
Benerannn 
Jadi menarik karena gayamu menulis yang asikk
Bukan apa-apa, Bogor juga macetnya ampun-ampun
Hehehe
Tuti :
KRB untuk kepentingan foto-foto narsis? Yessy bukan nyindir saya toh? Hihihi
Tengkiu Yessy, maap memang sudah sedari dulu tulisanku selalu asiik (sama sedari dulu juga aku ini selalu nggak tahu diri powl !).
Bogor macet ya? Kalau begitu aku beruntung, karena kemarin selama di Bogor gak pernah ngalamin macet …
pergi ke bogor tuh harus weekday, karena bisa bawa masuk mobil ke dalam Kebun Raya. Kalau weekend ngga oleh (ya sama dgn TMII lah). Romantis loh Kebun Raya itu.
EM
Tuti :
Pantaslah. Kemarin itu saya ke KRB hari Jum’at, jadi mobil pengunjung diperbolehkan masuk. Kalau menyusuri setiap jengkal KRB dengan jalan kaki, memang sangat mustahil …
Yang jelas …
Dulu Kebon Raya itu …
Adem … semilir …
bikin ngantuk …
Entah kalau sekarang …
Mbak Tuti….
Dulu Kebun Raya tempatku mengungsi, kalau mau belajar…tapi jadinya liyep-liyep terus tidur…lha enak banget kok.
Dulu, Bogor enak banget, pohon berjejeran di kiri kanan jalan, persis nyanyian Ernie Djohan, sampai matahari malu-malu nyampe ke aspalnya, jadi saya kalau pulang praktikum sore hari ngibrit…takut ada penampakan dari Kebun Raya.
Btw jangan pacaran di Kebun Raya, ntar bisa ga jadi…..dan nggak percaya…ya akhirnya nggak jadi..hahaha
Sekarang Bogor jadi kota Angkot…..ribet banget…ngangeni, cuma macetnya yang bikin males. Jadi, udah memborong tas di Tajur?
Tuti :
Whaa … mau belajar malah tidur di KRB? Tapi Mbak Enny nggak sendirian kan ke KRBnya? Kalau sendirian, terus ketiduran … wew, bisa-bisa terbangun sudah ada di tempat lain … hihihi …
Iya, makanya saya termimpi-mimpi ke Bogor, karena dalam imagi saya Bogor adalah seperti yang digambarkan Mbak Enny tempo dulu : sejuk, rindang, banyak pohon besar …
Oh … jadi ada pengalaman ngajak pacar ke KRB ya Mbak?
Berarti bukan Bapak yang sekarang ya?
Alhamdulillah kemarin saya nggak kena macet. Di Tajur cuma beli 1 tas aja Mbak, nggak mborong kok …
Yang aku juga pernah denger gosip ada pasangan yang gituan dan ngga bisa dipisahin tuh mbak hihihi. Ntah bener atau ngga
EM
Tuti :
Whaaatt??!!
Ih, Mbak Imel serem ah ceritanya …
Terakhir aku ke bogor kapan ya? waktu itu kalau tidak salah naik kereta ekonomi. Niatnya nyari tempat foto yg outdoor tapi malah gak dapet…hohohoho…
ehhh malah nyasar beli asinan dan roti unyil huhehehehehe…
Bun, kok aku jadi kepengen main ke Bogor liat foto2mu ini…coba waktu itu aku diajak
Tuti :
Wah, kok bisa gagal cari tempat foto di Bogor? Nggak ke KRB ya Ri?
Nah, besok kalo pulang ke Jakarta sempatkan main ke Bogor. Tapi seperti kata Mbak Imel, jangan pas weekend. Pasti padat dan macet.
Yeiiy … waktu itu kan aku nggak tahu Ria mau juga kesana …
Nanti masukin bogor dalam list dan gue yang jadi pemandunya
Tuti :
Tuuh … kan Ri, pemandunya sudah siap dari Tokyo …
ngomong ngomong mengenai sepatu, kita harus rawat tuh sepatu sayangi spatu dengan cara kasih dia pelindung. andaikan sepatu bisa bicara pasti dia bilang begini lindungilah dan rawatlah aku sebagaimana aku melindungi kakimu
udah tau belum cara menyayangi sepatu kesayangan anda silahkan langsung aja klik ke http://boxsepatu.wordpress.com/2010/08/13/kotak-sepatu-transfaran-type-slide-box/
Tuti :
Ow-ow … tentang sepatu ni ye
Sayang kemarin di Bogor nggak beli sepatu …
bogor itu kota dimana kekasih yang kutitipkan hatiku padanya ada di sana
Tuti :
So sweet …. *merem melek*
Waktu nitipin hati, minta tanda bukti nggak Jul? Kalau nggak, ntar susah lho kalau hatinya mau diambil kembali …
belom ada niat buat diambil kembali
tapi tanda terimanya ada koq bu tuti :p
Tuti :

Wah …. lha harapanya kan memang nggak bakal diminta kembali, Julia …
Semoga titipannya awet ya …
bu tuti gak puasa ya koq merem melek? :p
Tuti :
Lho, memangnya merem melek membatalkan puasa ya?
bogor? wooo seru.
hahaha.. klo tante berburu tas, saya pernah ke bogor sepeda motoran dari jakarta panas2 cuma demi berburu makanan.
wah rugi tante klo ga bawa pulang: roti unyil, asinan bogor, pia apple pie, makaroni panggang (mp), mm.. apalagi ya..
pokonya pulang2 bawa oleh2 makanan dan kulit gosong, hehe.
anyway, saya belum pernah masuk ke kebun raya ama istananya. di dalamnya ada makanan apa tante? hahaha.. becanda.
someday, tante.. someday
masuk list saya juga kok. termasuk berkunjung ke jembatannya sama mencoba memeluk pohon2 yang katanya segede gaban..
Tuti :
Coba nggak ada makanan enak, pasti dunia ini penuh penderitaan … (hiyah!)
Wah Narpen … seru ya, jauh-jauh dari Jakarta cuma untuk cari makanan … Lho, tapi makanan itu memang yang terpenting kan?
Jadi Narpen belum pernah masuk KRB? *wajah bengong* Kalo di dalam KRB sih gak ada yang jualan makanan …
)
Wew, saya kemarin malah lupa nggak coba meluk pohon (mending peluk orang aja deh … hihihi …
Aha, selamat datang kembali mbak…akhirnya mbak Tuti posting artikel sendiri juga di TV…sudah kangen baca postingan khas mbak Tuti loh….akhirnya….Yang ditunggu2…jadi nyata…hahaha…
Hem…memang salut…cerita apapun kalau dibuat oleh mbak Tuti jadi asyik banget ngebacanya…benar2 khas…termasuk ceritanya kali ini.
Hahaha…jujur mbak Tuti, saya sudah bbrp kali ke istana Bogor, eh…setelah baca postingan mbak Tuti ini baru nyadar kalau Bogor ternyata kota yang mengasyikan juga yach…meski angkot hijaunya bak bunga di musim semi, wakakakkk…ampun macetnya itu bok….bikin sebel….
Oyach…untuk mbak Imelda…selamat tiba kembali di Tokyo
Ok, selamat beraktivitas kembali semuanya…Nice day for us
Best regard,
Bintang
Tuti :
)
Iya nih … kangen juga setelah lama nggak nulis … hehehe …
Loh, jadi beberapa kali ke Bogor, Mbak Linda nggak ngerasa kalau Bogor indah ya? Memang sih, hampir semua teman bilang Bogor itu macet, nyebelin. Angkotnya memang ampun-ampunan. Tapi alhamdulillah saya kemarin nggak mengalami macet yang sampai macet banget (seingat saya malah nggak kena macet deh …
Terimakasih Mbak, selamat beraktivitas kembali juga
salam hangat,
Mbak..kapan tuh saya rasan-rasan sama EM pas ketemu….rasan-rasan baik lho…
Kangen tulisannya mbak Tuti sendiri, karena tulisan mbak Tuti benar-benar khas, yang tak bisa digantikan atau disamakan dengan orang lain. Makanya saya keder waktu diminta nulis disini…..walau saya dan mbak Tuti dekat, tapi gaya tulisannya kan sungguh jauh berbeda…hahaha….
Lha iya lha, mosok saya disamakan dengan novelis yang udah puluhan tahun…jelas saya ndlosor bin banget
Tuti :
Waah …. terimakasih banget Mbak Enny, jadi tersanjung nih …
(fasten seat belt! kencangkan sabuk pengaman kursi agar tidak terbang ke angkasa … hehehe … )
Mbak Enny sungguh merendah, lha wong tulisan Mbak Enny itu selalu informatif, mengalir lancar dan enak diikuti. Makanya blog Mbak Enny laris manis, selalu dibanjiri pengunjung.
Terimakasih banget Mbak Enny sudah mau berbagi tulisan dan pengalaman di TV
kumplit..plit bunda, khasnya bunda tuti nih, he3
serasa balik lagi ke tahun lalu dan tahun lalunya lagi–lho?!–ketika anis juga berkesempatan ke KRB,
bunda lihat bekas helipad yang dibangun untuk pendaratan George Bush? juga pohon2 yang jadi dikrukup2 kawat agar tidak rusak oleh angin dari baling2 heli apa masih ya bun? apa2 kalo tidak sesuai peruntukannya pada akhirnya merusak saja, sedih waktu itu lihatnya
tapi selalu kangen kembali ke sana bunda, sejuk..tenang..dan jadi program pengurusan badan yang lumayan
oya bun, bolehkah sedikit berbagi? setahu anis, penulisan nama ilmiah dengan huruf ketik adalah dengan huruf miring…dan karena paus bukan ikan, maka pemakaian kata ikan di depannya menjadi kurang tepat,he3
–
– biar tulisan bunda makin oke deh
selamat menunaikan ibadah puasa bunda
Tuti :
Wah, rupanya Anis sudah bolak-balik dan jadi pelanggan KRB ya?
Saya nggak sempat lihat helipad yang dulu digunakan George Bush untuk mendarat. Maklum, KRB sangat luas dan belum semuanya sempat saya susuri. Semoga saja pohon-pohon yang berada di sekitar helipad itu sudah ‘dibebaskan’ kembali dari kerangkeng kawatnya ya …
Hehe … terimakasih untuk koreksi penulisannya. Jadi paus bukan termasuk ikan ya? Iya sih, mamalia, tapi karena ia hidup di air dan bentuknya seperti ikan, jadi kita sering salah kaprah memasukkannya ke dalam golongan ikan …
Selamat menjalankan ibadah puasa juga, Anis …
Saya ke Bogor cuma sekali, waktu karya wisata SMP dan sampai sekarang belum pernah lagi.
Pengen ke sana lagi karena sampai sekarang masih penasaran apa iya Bogor itu kota hujan meski di musim kemarau sekalipun?
Sugeng siam, Bu!
Tuti :
Waktu SMP? Itu berapa puluh tahun yang lalu ya Don? *bercanda*
Donny harus kesana lagi, supaya bisa membandingkan Bogor waktu Donny SMP dan Bogor waktu putri Donny SMP
Maturnuwun Don!
Dulu memang iya Don..tiada hari tanpa hujan.
Bedanya? Kalau musim kemarau, hujan datang sore atau malam hari terus berhenti..kalau musim hujan, hujan hanya berhenti dari beberapa menit sampai beberapa jam…jadi berbulan-bulan hujan terus, dari pagi sampai pagi lagi hanya berhenti beberapa jam…terus hujan lagi. Sepatu bisa jadi dendeng….. Jadi wajar kalau kemana-mana bawa payung.
Kayaknya situasi sekarang udah jauh berbeda deh…..karena makin banyak bangunan, angkot….dll.
Tuti :
Kalau hujan sepanjang waktu, mungkin lebih baik pake sandal jepit kemana-mana ya Mbak. Sepatunya ditenteng saja, dan baru dipakai kalau sudah sampai di tempat tujuan. Malah irit to?
hmmmm……jalan-jalan melulu nehhh
nggak pernah ngajak-ngajak pula
selalu rindu bertamu ke sini
karena postingan di TV veranda
selalu memikat hati……
walaupun postingan soal
Istana Bogor ini lumayan panjang
tetap terasa enak dibaca dan perlu
met malem, met menjalankan ibadah puasa
Tuti :

)
Iya Bang, soalnya kalau ngajak jalan-jalan orang Medan jemputnya jauh …
Selalu rindu, tapi lama nggak bertamu
Terimakasih bang, semoga sajian TV bisa selalu memenuhi selera teman-teman …
Met malem juga, met menjalankan ibadah puasa besok siang (kalau malemkan nggak puasa Bang …
IPB meluluskan puluhan ribu sarjana pertanian? Tidak hanya sarjana pertanian bu. Sarjana matematika, sarjana statistik, sarjana perikanan, sarjana ekonomi, sarjana macam-macam. Lha sekarang ndak cuman fokus ke pertanian je. Lulusannya tersebar di seluruh dunia. Tapi yang terjun ke pertanian??? Jauuuh lebih banyak yang ke non pertanian.
Namun demikian, lulusan IPB memang top. Selalu mewarnai lingkungan kerjanya.
Tuti :
Wah … saya nggak tahu kalau alumni IPB tidak selalu konsen di bidang pertanian. Saya malah sering heran, Thailand bisa mengembangkan buah-buahan yang bagus, kenapa kita tidak padahal kita punya IPB. Ternyata, banyak sarjana IPB yang tidak belajar pertanian to?
..
Lha saya bukan sarjana pertanian malah jadi tani Pak..
Hebat tho..
He..he..
..
Tuti :
Saya bukan sarjana pertanian dan tidak menjadi petani. Berarti saya bener to?
Komentar mas Eko menggelitik saya..semalam ketemu teman yang sama-sama alumni IPB….dan berkarir dibidang macam-macam, dari konsultan, bankir, pengajar, pengusaha…
Dan apa komentar kami? IPB memang hebat, lulusannya berkarir dimana-mana…kecuali pertanian….hahaha
Kuping saya jadi merah…tapi memang seperti itu kan?
Dan jujur aja, kelompokku dulu paling ketinggalan saat disuruh menanam padi pada sepetak sawah, karena cowok dalam kelompok kami anak kota besar semua. Jadilah bahan ledekan….hehehe. Seminggu kemudian, saat kami siap menanami tanah tsb, petak sawah kami telah siap untuk ditanami, sama seperti sawah teman2 lainnya. Ganti dh mereka bilang…”Sialan…tahu gitu kita nyantai aja…” hahaha
Walau begitu, saya tetap suka tanaman, suka melihat kebun, tapi jangan suruh mengelolanya….saya mengelola bidang lainnya aja deh…
Tuti :

Mbak Enny kan ngurusi bunga juga …. bunga bank …
Salam kenal Ibu,
Hanya mau memberi info. Jika Ibu ingin berkunjung ke Istana Bogor, setiap tahunnya ada program Istana Open selama 7 hari (kecuali weekend) dalam rangka merayakan hari jadi Kota Bogor yg jatuh tanggal 3 Juni.
Caranya mudah, tinggal datang dan mendaftar di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor saja. Lokasinya di kompleks perkantoran Pemda yg di depan istana. Gratis.
Persyaratannya hanya wajib berpakaian rapi, tidak menggunakan jeans dan sandal, tidak membawa makanan dan kamera.
Kalau Ibu berkesempatan ke Bogor lagi, silahkan memanfaatkan program tersebut
Tuti :

Salam kenal juga, Restu
Iya, saya juga pernah dengar tentang pembukaan istana untuk rakyat itu. Cuma, kemarin belum tahu tanggal hari jadi kota Bogor. Wah … tapi kalau nggak boleh bawa kamera kecewa juga dong ya? Lha penginnya kan motret isi istana untuk diposting di blog …
wah, info dari Mbak Restu komplit banget.
aku yg rumah ortunya di bogor malah gak pernah tau tuh
( itulah kalau kurang ilmu hiks…hiks… *)
Menginap di bogor di novotel dekat rumah ibuku, Mbak Tuti.

enak, benar2 angin nya semilir, adem, bikin ngantuk dan laper melulu hehe..
serasa ada dimanaaaa…gitzuuu………
salam
Tuti :
Wah …. semua kok menyarankan dan memuji Novotel ya? Kayaknya komentar teman-teman yang menyarankan menginap di Novotel perlu saya kirimkan ke manajemen Novotel nih, biar pemilik blog TV bisa dapat voucher menginap gratis gitu … hehehe
Terimakasih Bunda …
Iya Bunda infonya lumayan komplit, soalnya 2 tahun ini saya belum kesampean ikut visit di Istana Open, hiks. Weekdays saya dihabiskan buat kerja di Tangerang soalnya hehehe
Saya beberapa kali ke Bogor, tapi baru sekali masuk KRB.. waktu itu sore dan hujan pula… penjaganya bilang, jalanan agak licin jadi kami dilarang masuk ke ‘hutan’-nya, padahal udah penasaran ingin lihat pohon-pohon gede… akhirnya cuma bisa masuk sampai depan kolam teratai, foto-foto dan melihat sepetak lahan yang belang karena ditumbuhi rumput baru. lahan itulah bekas helipad untuk Bush mendarat…
Hmmm… Novot*l Bogor emang asyik… sejuk banget, meski jauh dari jalan raya, Hampir 5 kiloan… cocok deh untuk bulan madu, atau meeting kantor yang harus “disekap’ dari dunia luar hehe…
Beberapa kali ke Bogor selalu kehujanan… pernah juga nyoba angkotnya… sopir dan penumpangnya baik-baik kok, ngasih tau no trayek angkot, harus berhenti di mana, ganti angkot di mana dsb… aih, kangen kota sejuta angkot itu…. *apanya sejuta kata nana ya?
Tuti :
Tapi maksud penjaga itu pastilah baik, khawatir Nana kepleset, padahal KRB sudah sepi, kan bisa-bisa nggak ada yang menolong …
Yeah … masuk KRB nggak lihat pohon-pohon besar rugilah Na …
Wah, aku kok nggak lihat lahan yang belang itu ya. Mungkin rumputnya sudah tumbuh lagi, jadi sudah nggak kelihatan belangnya …
Ehm, jadi bulan madunya dihabiskan di Novotel Bogor ya Na?
Kota ‘sejuta angkot’ menyimpan sejarah, blog ‘sejuta kata Nana’ menciptakan sejarah …
Wuoooow…iri deh mbak.
Jadi pengen kesana, hehhehe…
Sayang yah, ada yang dicorat-coret bangunannya, padahal bangunan bersejarah.
Kapan yah bisa kesana?
Tuti :
)
Kalo gitu harus diagendakan untuk ke Bogor, Zippy …
Mumpung Bogor belum pindah ke Papua (kan jauh tuh
Kl nggak salah istana bogor dibuka utk umum bulan juni atau juli. Alhamdulillah bbrp tahun lalu pernah masuk ke sana dgn rombongan. Hanya sbgn kecil yg dikasih liat ant lain kamar pengantin mbak Tutut. Berkali2 ke KRB tp selalu nggak nemu jembatan bagus yg sering dijadiin lokasi pemotretan mode dan video klip. Jalannya lewat mana sih? Kunjungan berikut hrs dapat tuh. Bogor skrg jadi tempat fav keluarga utk wisata kuliner dan sy juga rekomendasi novotel, halamannya hijau dan luas, banyak pohon besar, serasa nginap di KRB bu.
Tuti :
Dan nginap di Novotel. Wah, promosi nggak habis-habis nih buat Novotel …
Betul Mbak Monda, Istana Bogor dibuka setiap bulan Juni, yaitu pada hari jadi kota Bogor. Beruntung sekali Mbak Monda sudah pernah masuk ke sana. Tapi yang dibuka hanya sebagian kecil ya? Mungkin karena istana ini masih difungsikan, sehingga perlu dijaga dengan baik.
Wah, saya juga nggak lihat jembata bagus itu. Kayaknya perlu kembali ke KRB lagi deh …
hyaaa, penyesalan tak berujung setelah aku baca tulisan mbak cantik ini. belasan tahun hidup di tanah Sunda, berkali2 ke Bogor gak sekalipun aku menjejakkan kaki di KRB
sungguh, T.E.R.L.A.L.U
tp lumayan terhibur.. lihat foto mbak di pinggir danau, indah banget!
Tuti:

Bundo, itu artinya Bundo harus kembali ke Bogor lagi, khusus untuk mengunjungi KRB …
Terimakasih untuk pujiannya Bundo, yang indah danaunya kan, bukan orang yang duduk di pinggirnya?