Jika Anda berlebih dalam harta, bagilah kesejahteraan Anda. Bila Anda hanya punya sedikit, berikanlah hati Anda. Tetapi entah banyak atau sedikit, berikanlah dengan cinta Anda (E. Crique)
Uang receh yang engkau jatuhkan ke dalam tangan-tangan rapuh yang terulur di hadapanmu adalah satu-satunya rantai emas yang mengikat hatimu yang mulia dengan hati Tuhan yang penuh cinta (Kahlil Gibran)
Ketika kita memberi dengan hati, siapakah sesungguhnya yang lebih berbahagia? Kita, atau orang yang menerima pemberian kita? Pasti dua-duanya. Memberi dengan hati akan membuat kita bersyukur, dan menerima pemberian yang diberikan dengan hati akan membuat sanubari penuh rasa terimakasih. Memberi kepada orang yang kita cintai, yang dekat dengan kita, adalah baik tapi biasa. Memberi kepada orang yang tidak kita kenal, tanpa perlu menyebutkan jati diri kita, itulah pemberian yang mulia. Tangan yang memberi seringkali dilukiskan dengan ‘tangan di atas’ dan tangan yang menerima digambarkan dengan ‘tangan di bawah’, padahal sesungguhnya tangan yang memberi tidak harus selalu berada di atas. Bukankah kita bisa memberi dengan tangan tengadah, dan mempersilahkan orang mengambilnya dari tangan kita? Dengan demikian tangan kita tidak berada di atas tangan penerima pemberian kita …
Di dalam agama apapun, selalu ada ajaran untuk memberikan sebagian dari milik kita. Umat beragama percaya, bahwa semua yang kita miliki adalah karunia Tuhan Yang Maha Pemurah. Tuhan menciptakan manusia tidak sendirian, melainkan bersama-sama dengan manusia lainnya dalam satu masyarakat. Apa yang diberikan Tuhan kepada seseorang tidaklah mutlak menjadi miliknya sendiri, melainkan ada hak orang lain yang tercakup di dalamnya. Hak seseorang dititipkan oleh Tuhan pada orang lain, agar di antara mereka terjalin kasih sayang, saling memberi dan menerima.
Dalam Islam, memberikan hak orang lain yang terkandung dalam milik kita disebut dengan zakat. Tidak semua orang wajib memberikan zakat, hanya mereka yang memiliki rizki berlebih. Kapan rizki dikatakan berlebih? Jika ada kelebihan penghasilan dari yang dikonsumsi untuk kebutuhan hidup, kelebihan itu sudah mencapai jumlah minimal tertentu, dan telah tersimpan selama setahun. Mungkin akan timbul pertanyaan, kalau begitu kelebihan itu bisa relatif, berbeda-beda untuk setiap orang? Ya. Orang yang penghasilannya tidak banyak tapi hidup hemat, bisa jadi memiliki kelebihan yang sama besarnya dengan orang yang penghasilannya besar tetapi hidup boros. Mereka harus mengeluarkan zakat yang sama besarnya. Pertanyaan lalu bisa menjadi ‘nakal’ : so, kalau kita punya penghasilan besar, dihabiskan saja untuk hidup dengan semewah-mewahnya, sehingga tidak ada yang tersisa dan tidak perlu membayar zakat. Boleh saja, silahkan. Tetapi yang seperti ini namanya tidak bersyukur dan mengakali Tuhan. Tuhan kok diakali …
Sebenarnya zakat bisa diberikan kapan saja (kecuali zakat fitrah yang harus diberikan sebelum tanggal 1 Syawal), tetapi agar mudah mengingat kapan waktunya zakat harus dikeluarkan (sesudah kelebihan harta dimiliki selama setahun), banyak orang memberikan zakat pada bulan Ramadhan. Mungkin juga, karena beramal pada bulan Ramadhan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Apa yang harus dizakati dan berapa besarnya, sudah ada ketentuan yang pasti. Zaman dulu, karena sumber penghidupan manusia masih terbatas dan terutama berasal dari pertanian, peternakan, dan perdagangan, maka jenis harta yang harus diberikan zakatnya pun adalah harta yang berasal dari kegiatan-kegiatan ekonomi di bidang tersebut. Sekarang, karena orang bisa memperoleh penghasilan dari berbagai pekerjaan yang tidak terbatas jenisnya, ditetapkan apa yang dikenal dengan zakat profesi.
Zakat memiliki arti tumbuh dan berkembang, karena harta yang dizakati tidak akan berkurang, tetapi justru akan berkembang semakin banyak karena Tuhan akan melimpahkan rizki yang berlipat ganda. Tidak pernah ada orang yang berkurang hartanya karena memberikan zakat. Zakat juga diartikan menyucikan atau membersihkan, karena zakat akan membersihkan harta yang dimiliki seseorang dari hal-hal kotor yang mungkin menyertai ketika harta tersebut diperoleh. Tetapi harta yang diperoleh dari korupsi, manipulasi, rampokisasi, malingisasi (halah
) dan kejahatan-kejahatan lain, sudah pasti tidak akan menjadi bersih meskipun dizakati. Harta itu akan menjadi bersih kalau seluruhnya dikembalikan kepada yang berhak, ditambah infaq dan shodaqoh dari pelakunya sebagai wujud taubat …
Zakat harus diberikan dengan tulus, dengan rasa kasih sayang, dengan keramahan dan kerendahan hati, dan tidak merendahkan orang yang menerima zakat. Bukankah orang yang memberikan zakat sesungguhnya hanya menyampaikan titipan Allah kepada orang lain yang berhak? Orang yang memberikan zakat sepatutnya berdiri sama tinggi, membungkuk sama rendah, tersenyum sama manis, dengan orang yang diberi zakat. Oleh karena itu cara yang paling terpuji dalam memberikan zakat adalah dengan mengantarkan zakat kepada mereka yang berhak menerima. Kalaupun penerima zakat yang datang mengambil, semestinya mereka disambut dengan hangat dan ramah. Bukankah karena mereka, maka para pemberi zakat itu memperoleh pahala dari Allah?
Sungguh mengiris hati menyaksikan orang yang berdesak-desak hingga terjepit, bahkan sampai meninggal, ketika berebut zakat yang dibagikan secara langsung dan massal. Sungguh, tidak seperti itu esensi zakat yang dimaksud dalam agama. Sungguh, cara pembagian zakat demikian sangat mengkhawatirkan, karena mudah tergelincir menjadi riya’ (bersombong diri).
Kini sudah banyak lembaga amil zakat (lazis) yang diorganisir dengan baik, yang tahu betul kemana zakat itu harus disalurkan. Zakat yang dikelola lazis bukan hanya dibagikan secara konsumtif, tetapi sebagian diberikan sebagai beasiswa untuk memajukan pendidikan anak-anak yatim dan tak mampu, juga dikelola sebagai modal usaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat miskin. Dengan demikian zakat yang kita serahkan ke lembaga-lembaga itu bukan saja akan sampai kepada orang-orang yang berhak, tetapi juga akan menjadi pendorong pembangunan ekonomi mereka, agar suatu ketika nanti mereka mampu keluar dari jerat kemiskinan. Itulah esensi zakat yang sesungguhnya : mengangkat derajad kemanusiaan.
Mari berbagi hati dan berbagi harta, insya’allah Tuhan akan merahmati hidup kita.
(Semua foto dipinjam dari Pakde Google)









Dulu sepertinya pernah aku diskusikan juga dgn Uda Vizon (lupa-lupa ingat), kalau di katolik ada kolekte dan di kristen protestan ada perpuluhan, jadi tidak perlu menunggu “hari besar” untuk memberikan “zakat”. Dan dikatakan bahwa dalam agama islam ada juga serupa itu. Waktu itu kami membicarakan soal pengumpulan uang di jalan-jalan, sampai mobil diberhentikan terutama di jalan kecil yang sangat mengganggu pemakai jalan (yang sudah pasti ada juga tidak beragama sama).
Apapun namanya, zakat, kolekte atau perpuluhan, asal dari hati yang ikhlas dan tanpa ada maksud duniawi lainnya pasti akan diterima Tuhan dan meningkatkan kehidupan rohani kita.
Selamat menyambut Idul Fitri ya mbak…doa kami dari jauh
EM
Tuti :
Iya Mbak, saya juga ingat, pernah membaca tulisan itu (kalau nggak salah di blog Uda Vizon ya?). Memang, cara pengumpulan derma (saya tidak menyebutnya zakat) dengan mencegat pengendara di jalan-jalan tertentu itu sangat tidak terpuji. Saya juga risih melihatnya. Seharusnya aparat setempat bisa menertibkannya. Saya sendiri ragu uang yang terkumpul itu benar-benar untuk kepentingan agama. Jangan-jangan itu hanya dipakai sebagai kedok saja, dan uang yang terkumpul diambil sendiri oleh orang-orang yang mengumpulkannya.
Memang, pemberian zakat tidak harus menunggu “hari besar” Mbak. Orang hanya ingin memudahkan saja, sehingga diberikan setiap hari besar.
Terimakasih Mbak, semoga Idul Fitri nanti kami semua dapat merayakannya dengan penuh kebahagiaan. Salam juga untuk Mbak Imel sekeluarga …
Salam Tausiyah yang baik terima kasih
Tuti :
Salam juga, terimakasih
Alhamdulillah Bunda, sampai sekarang saya masih mampu untuk menyisihkan sebagian harta saya sebagai zakat, baik itu zakat fitrah maupun zakat profesi yang 2,5% itu.
Awal-awal saya merasa berat. Kenapa saya yang penghasilannya pas-pasan ini mesti mengeluarkan zakat? Tapi setelah sadar, kalau di sekeliling saya banyak yang kurang beruntung dibandingkan saya, yang makan hanya sehari sekali dengan lauk seadanya, itu bikin saya terenyuh untuk berzakat. Walupun saya setiap hari cuma makan tempe (halah!) tapi ternyata ada yang tiap hari boro-boro bisa makan.
Tuti :
Wijna, kalau penghasilan masih pas-pasan, sebenarnya nggak wajib zakat lho. Kan ada batas minimal dari kelebihan penghasilan (sesudah dikurangi pengeluaran untuk mencukupi kebutuhan hidup). Tapi kalau Wijna sudah memberikan 2,5% zakat profesi (dihitung dari mana? Gaji atau sisa gaji?) itu sangat baik.
Betul, masih sangat banyak orang di sekitar kita yang kesusahan untuk makan. Makanya, zakat itu sebagai perwujudan dari rasa syukur kita …
Iya Bu, kalo di gereja tiap minggu pasti ada kolekte, dan bagi yang berkenan hatinya, biasanya juga boleh memberi perpuluhan dari gaji yang diperolehnya tiap bulan, sesuai kerelaan hatinya.. jadi pemberiannya juga bervariasi.. dan kalo ada momen2 tertentu di tempat saya, kadang ada acara mengumpulkan uang receh juga.. tapi sesuai kerelaan hati saja.. kalo ga rela ya ga perlu memberi..
Zakat yang disalurkan untuk pendidikan.. bagus sekali ya Bu.. semoga makin banyak yang seperti itu supaya anak2 yang ga mampu juga bisa dapat pendidikan
Udah mau mendekati Idul Fitri.. saya mengucapkan Selamat menyambut Idul Fitri ya Bu.. maaf lahir batin, kalo saya banyak salah kata ato tingkah laku
Tuti :
Iya, aku juga pernah dengar kalau di gereja adakolekte dan perpuluhan. Perpuluhan itu sepuluh persen dari gaji/penghasilan ya? Itu cukup besar. Kalau di Islam, hanya 2,5 persen dari kelebihan gaji (bukan gaji yang diterima, tapi kelebihan gaji sesudah dikurangi kebutuhan hidup). Kalau punya hasil kebun, ternak, rumah, simpanan emas, dll, semua harus dibayar zakatnya juga. Bahkan kalau mendapatkan harta tak terduga (menang undian mobil, misalnya) harus dibayarkan juga zakatnya.
Memang zakat sebaiknya dikelola secara lebih konstruktif, supaya tidak habis semua untuk konsumsi (meskipun yang diberikan sebagai konsumsi tetap ada). Kalau semua diberikan sebagai konsumsi, orang yang miskin akan miskin terus, dan hanya menggantungkan pada pemberian.
Terimakasih Clara, saya juga mohon maaf lahir batin ya. Kalau seingat saya sih, Clara nggak pernah berlaku atau bertutur kata yang kurang baik kok. Selalu baik dan manis …
Matematika-Nya memang amazing, ya, Bunda Tuti… Semakin banyak kita berbagi, justru semakin banyak Dia memberi…
Betul kata Bunda Tuti, kalau semua zakat dan infaq itu dikelola dengan baik, mestinya tak ada lagi saudara-saudara kita yang mengalami busung lapar atau makan nasi aking. Saya sampai suka berandai-andai, kalau semua zakat para pejabat dan hartawan di negeri ini dikumpulkan, harusnya kita bisa menjadi bangsa yang mandiri, insya Allah…
Mungkinkah terwujud?
Semoga… Amin…
Tuti :
Betul, Mida … mathematika Tuhan itu tak bisa kita nalar. Nggak ada cerita orang jatuh miskin karena rajin berzakat dan bersodaqoh. Kalaupun harta habis, maka yang habis itu hanya harta dunia. Padahal yang kita miliki sesungguhnya, milik kita yang abadi, adalah yang kita belanjakan di jalan Allah …
Barusan dengar di teve, ada seorang pengusaha minyak di Kaltim membagikan zakat sebanyak 600 juta. Biuuh … jadi berapa ya jumlah harta kekayaannya (jika diasumsikan bahwa zakat yang ia keluarkan itu adalah 2,5% dari harta seluruhnya).
Sebenarnya banyak juga loh bangsa kita ini yang kaya raya, meskipun jauh lebih banyak yang miskin …
Oleh karena itu cara yang paling terpuji dalam memberikan zakat adalah dengan mengantarkan zakat kepada mereka yang berhak menerima…
Ini benar sekali Bu …
Tanpa bermaksud untuk apa-apa …
saya suka miris kalau melihat “sebagian orang berada” …
yang dibawah sorotan kamera membagikan amplop di beranda rumahnya … sementara para penerima zakat berdesak-desakan ndak keruan …
semoga tahun ini tidak terulang kembali …
salam saya Bu
Tuti :
Itulah yang terjadi Om. Padahal sudah banyak lembaga amil zakat, tapi sebagian orang masih lebih ‘mantep’ kalau melihat rumahnya ramai didatangin orang, dan dia membagi zakat langsung dari tangannya. Sebenarnya cara seperti itu nggak apa-apa juga, tetapi kalau sampai terjadi penerima zakat berdesak-desakan nggak karuan, memang lalu terkesan seperti merendahkan derajad kemanusiaan para penerima zakat …
salam saya juga Om …
Aku tuh ya, selalu suka gayamu menulis, mbak. Sarat makna, tanpa harus menggurui. Dalam, tapi tidak perlu berkerut kening membacanya
Berbagi memang tidak pernah rugi. Berbahagialah semua manusia yang masih bisa memberi, sekecil apapun itu, selama itu ikhlas.
aku suka dengan kalimat yang ini; esensi zakat yang sesungguhnya : mengangkat derajad kemanusiaan.
Tuti :
Yessy … lagi puasa dipuji begini, bisa-bisa puasaku batal lho …
Btw, tulisanku nggak menggurui ya? Wah, kalo gitu gagal dong misiku, lha aku memang sengaja mau menggurui ataupun mendoseni je …
Bagaimana persiapan lebaran Yes? Baju baru berapa lusin? Sepatu berapa kodi? Kue berapa ton? Selamat menyambut hari yang fitri ya, salam untuk seluruh keluarga …
Itu yang harus kita cermati ya, mbak
Prinsip saya satu Bu, uang dan harta yang kita miliki itu punya dua sisi. Sisi personal, yaitu bagaimana ia ‘mampu mengabdi’ bagi tuannya yaitu kita, dan bagaimana ia harus kita mampukan memiliki ‘nilai sosial’ untuk sesama…
Mari berbagi… dan selamat menyambut Lebaran ya, Bu!
Tuti :
Syukurlah kalau prinsipmu begitu, Don. Yang celaka kan kalau kita dikuasai oleh uang. Pontang-panting hidup demi mengejar lembaran-lembaran merah bergambar Soekarno-Hatta itu (eh, kalau pecahan dolar Ostrali yang nilainya terbesar, warnanya apa ya?)
Ya, mari berbagi … termasuk berbagi kue lebaran. Jatah untuk Donny ada lho, tapi harus diambil sendiri ke Yogya ….
salam hangat.
dari hati yang dalam mohon maaf atas segala khilaf dan salah. selamat menunaikan zakat yang menjadi kewajiban setiap muslim.
http://sangpelembuthati.wordpress.com/2010/08/28/kita-ada-karena-kontribusi/
Tuti :
Salam hangat juga …
Saya juga mohon maaf jika ada kesalahan dan kekhilafan. Semoga zakat yang kita tunaikan dengan ikhlas akan diterima Allah SWT. Amin.
paman saya suka membagi-bagikan gratis bibit jagung terbaik ke teman-teman petani..
waktu saya tanya “apa tidak rugi membagikan bibit jagung terbaik dengan gratis..?”
paman saya menjawab “tidak taukah kamu, bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari ladang ke ladang yg lain. bila tanaman tetangga saya buruk, maka serbuk sari yg ditebarkan ke ladang saya buruk. ini menurunkan kualitas jagung saya.
bila saya ingin mendapatkan jagung yang berkualitas baik, maka saya harus membantu tetangga saya untuk mendapatkan benih yg terbaik pula”.
kesimpulannya bila kita kikir itu sama saja menurunkan derajad diri, tapi saat kita berbagi maka akan bertambah banyak yang kita miliki..
..
hi..hi.. mentang2 petani pake’ analogi jagung..
salam saya Bu Tuti..
Tuti :
Analogi yang sangat bagus, dan baru kali ini saya dengar. Minta ijin untuk pinjam dan disebarkan kepada teman-teman ya …
Benar sekali, kalau kita ingin menjadi baik, maka kita harus membaikkan sekeliling kita juga. Kebaikan yang dibangun bersama-sama akan menjadi sinergi yang luar biasa.
Terimakasih, Ata
Hari-hari menjelang Ramadhan akan berakhir, yang tak boleh dilupakan adalah memberikan zakat fitrah. Zakat yang lain bisa diberikan sekaligus saat mau Lebaran. bisa juga dipotong setiap bulan dari gaji atau pendapatan yang kita terima….
Si bungsu juga sudah menitipkan zakatnya…hehehe…..kalau uangnya diperoleh dari beasiswa wajib zakat nggak ya (atau harus dari hasil pendapatan)? Apapun, memberikan sebagian harta kita kepada orang yang lebih membutuhkan memberikan perasaan lega dan damai…..Dan kebiasaan ini bisa dimulai sejak anak-anak masih kecil, keinginan untuk berbagi dengan sesama dan pada orang yang kurang beruntung.
Akhirnya….puasa Ramadhan hampir berakhir. Semoga kita mendapatkan berkah dari puasa, dan amal baik kita diterima oleh Allah swt. Amien
Tuti :
Ya, jangan sampai kelupaan memberikan zakat fitrah, karena tenggang waktunya terbatas. Zakat fitrah akan menyempurnakan puasa kita yang mungkin ada kekurangannya di sana-sini.
Beasiswa, mungkin tidak perlu dizakati ya Mbak. Kecuali beasiswanya besar, sehingga berlebih untuk membiayai studi, dan kelebihannya sudah memenuhi batas minimal harta yang harus dizakati (nisab). Tapi kalau memberikan zakat meskipun kelebihannya belum memenuhi nisab, tentu baik sekali.
Wah, zakat Narpen dalam yen dong ya:)
Amin Mbak, semoga puasa yang tinggal 3 hari ini dapat kita laksanakan dengan lancar, dan dapat diterima oleh Allah SWT.
Amboi…postingannya sejuk banget mbak. Bak Oasis di tengah gurun…
Yach mari kita berbagi, selama kita bisa kenapa ditunda-tunda, mari lakukan hal-hal terpuji. Berbagi hati, berbagi harta di jalan yang benar.
Semoga amal kebajikan kita senantiasa dilipatgandakan oleh ALLAH. Amien.
Note:
Saya skrg lagi bersiap kerja keras di rumah mbak, secara asisten rt semuanya pada pulkamp.
Mbak Tuti gmn kesibukan jelang lebaran, apa asisten rt nya juga pd pulkam, hahaha
See you mbak, nice day for us
Bintang
Tuti :
Terimakasih, Mbak Linda. Alhamdulillah kalau tulisan ini bisa memberikan kesejukan
Wow … saya bisa membayangkan sibuknya Mbak Linda ditinggal para asisten. Mengasuh anak-anak dan mengurusi rumah sendirian … waw, pasti akan sangat melelahkan. Tetapi saya percaya Mas Dicky pasti akan menjadi superman yang dengan suka hati membantu menangani semuanya. Mudik kemana Mbak?
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.
para tetua jaman dulu suka mengajarkan bahwa hidup di dunia ini hanya perlu melakukan 2 simple perbuatan.
1. banyak2 lah memberi.
2. kalo tidak bisa memberi cukup jangan menyakiti…implikasinya sangat luas…
Tuti :
Ajaran yang sangat bagus dari para tetua kita ya?
Tetapi kita pasti selalu bisa memberi kok, meskipun kita tidak punya harta. Yaitu memberikan hati dan senyum kita, yang itu maknanya bisa melebihi pemberian harta …
betul banget.. memberi itu harus ikhlas.
walaupun emang ada pepatah kalo kita akan menuai apa yang kita tabur, tapi bukan berarti kita kalo berbagi itu harus disertai dengan pemikiran kalo kita bakal menerima kembali berlipat2…
Tuti :
Memberi memang harus ikhlas. Balasannya tidak selalu dalam bentuk yang sama (memberi materi mendapat balasan materi), tetapi kalau kita memberi dengan ikhlas, hati kita akan bahagia, dan kebahagiaan itu sudah menjadi balasannya, bukan?
mau kasih zakat ke orang yang lebih nggak punya, tapi dia bisa beli hp bisa beli pulsa, afdol nggak ya bu?
abisnya para pemulungpun sekarang berhape ria
Tuti :
Kalau ada pemulung berhp, berarti dia sudah tidak kekurangan Mbak
Berikan saja ke panti asuhan, yang sudah pasti memang berhak menerima zakat kita …
sebagian dari harta kita adalah hak orang miskin.
berarti sudah menjadi kewajiban kita untuk berbagi.
dan memberi itu juga memang harus iklas,
tangan kanan memberi tangan kiri tidak mengetahuinya.
Bali Villas Bali Villa
Tuti :
“Tangan kanan memberi tangan kiri tidak mengetahui” … owgh, pasti tangan kirinya ada di dalam saku celana ya … *bercanda.com*
Suka sekali dengan kalimat Bu Tuti yang ini:
Orang yang penghasilannya tidak banyak tapi hidup hemat, bisa jadi memiliki kelebihan yang sama besarnya dengan orang yang penghasilannya besar tetapi hidup boros. Mereka harus mengeluarkan zakat yang sama besarnya. Pertanyaan lalu bisa menjadi ‘nakal’ : so, kalau kita punya penghasilan besar, dihabiskan saja untuk hidup dengan semewah-mewahnya, sehingga tidak ada yang tersisa dan tidak perlu membayar zakat. Boleh saja, silahkan. Tetapi yang seperti ini namanya tidak bersyukur dan mengakali Tuhan. Tuhan kok diakali
Satu lagi sikap yang ironi; Kita sering kali perhitungan dengan Tuhan jika sudah bersangkutan dengan uang. Untuk beli baju mahal, tidak perlu pikir dua kali untuk melakukannya, tapi untuk mengeluarkan seribu rupiah untuk kotak amal di masjid, rasanya berat sangat…
Semoga kita selalu menjadi manusia-manusia ikhlas dalam setiap amal ibadah kita ya Buti…
Tuti :
Memang ada lho Da, orang yang suka mengakali syariat dan hukum Tuhan. Lucu ya. Lha wong Tuhan itu Maha Tahu je …
Wah, kalau mengeluarkan seribu rupiah untuk kotak amal saja berat, itu sungguh keterlaluan ya Da. Parkir saja sekarang dua ribu, masak Tuhan diaksih lebih sedikit dari tukang parkir …
Amin … semoga kita menjadi orang-orang yang ikhlas dalam beramal.
saya sangat iri dengan orang – orang yang kelebihan harta itu. Saya tambah iri lagi dengan orang-orang yang kelebihan harta namun masih mau mengeluarkan zakatnya. Hati dengan perasaan yang lembut itu tidak semua orang memilikinya. Mungkin saya harus belajar sedikit dulu untuk lambat laun bisa seperti orang-orang kaya yang berderma itu.
Tuti :
Saya percaya Mas Mandor pasti akan menjadi dermawan yang penuh keikhlasan. Lha tempenya itu mbok sekali-sekali dibagi-bagi …
“Selamat Iedul Fitri 1431 H. Mohon ma’af lahir batin. Taqabalallah minna wa minkum”.
Tuti :
Selamat Idul Fitri juga, Mas Mursyid.
Mohon maaf lahir batin juga …
Taqaballah minna wa minkum juga …
*yeiiy …. jawabannya ngulang komen mulu*
“Tuhan kok diakali”
makjleb tante
terima kasih sudah diingatkan..
bahwa sebagian dari milik saya adalah hak orang2 yang membutuhkan, kadang memang perlu diingatkan kembali..
namanya juga masa muda, klo membayangkan masa depan yang (mungkin) masih panjang, sebenarnya keinginan menabung sedang meluap2. hehehe. semoga hati saya tidak dibutakan oleh kehidupan..
Tuti :
Lha itu, kata Mbak Enny, Narpen sudah menitipkan zakat untuk bea siswanya. Padahal menurut saya beasiswa nggak perlu dizakati lho, kecuali nilainya memang besar sekali dan sangat berlebih untuk biaya studi dan biaya hidup …
Kayaknya Narpen termasuk gadis yang rajin belajar, baik hati, dan suka menabung …
Assalamualaikum ww,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Salam sukses selalu.
Tuti :
Wa’alaikumsalam ww,
Terimakasih Bang Alris, saya juga mohon maaf lahir batin ya …
saya gak tau mau bilang apa, di satu sisi miris sekali melihat mereka yg antri sampai pingsan2 segala hanya demi rupiah yg seadanya.
Namun, disisi lain kok, kelihatannya bangsa kita ini senang dan bangga utk pamer kemiskinan ya ?
seandainya saja zakat sudah benar cara mengeluarkan dan membagikannya, kemungkinan besar tdk akan ada lagi orang2 miskin di negeri ini.
Idealnya , memang yg mengeluarkan zakat, membaginya dan kalau bisa mengantarkan langsung pd mereka yg memang wajib menerima zakat ini ya Mbak Tuti
Salam
Tuti :
Betul Bunda, memang miris sekali melihat orang berdesak-desakan mencari zakat seperti itu. Tetapi masih saja ada orang yang lebih ‘mantab’ membagi zakat dengan cara demikian, padahal sekarang ini sudah banyak lembaga amil zakat yang mengelola zakat dengan baik.
Iya, idealnya memang demikian Bunda. Semoga kita bisa lebih santun dalam menunaikan zakat ya …
Salam …
Pada kesempatan ini, kami sekeluarga dari Tangerang ingin mengucapkan :
Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1 Syawal 1431 H.
Mohon maaf lahir dan bathin ya Mbak Tuti
Salam hangat utk keluarga
semoga selalu sehat
salam
Tuti :
Selamat Idul Fitri juga, Bunda …
Mohon maaf lahir batin. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT. Amin …
Salam untuk keluarga Bunda juga
Tanpa Gurindam, Tanpa Puisi
Hanya permohonan maaf dari lubuk hati yang suci
Maaf Lahir Bathin Bu Tuti
Salam saya
Tuti :
Saya juga mohon maaf lahir batin, Om …
Semoga sesudah puasa ibadah kita semakin baik, begitu juga silaturahmi kita dengan sesama …
salam saya juga …
Bu, minal aidin wal faizin, maaf lahir batin, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT
Tuti :
Saya juga mohon maaf lahir batin ya Mbak Monda
Semoga lebaran kali ini membawa kebahagiaan dan rahmat bagi kita semua. Amin …
foto yang ke-2, itu foto tangan orang megang tangan orang bu..?
selalu ingat untuk berbagi, bahkan yang receh pun. karena receh menurut kita, bisa berarti harta berharga bagi orang lain
Tuti :
Fotonya hasil saya browsing ke Google, tidak ada keterangan apa pun.
Foto yang kedua, saya tidak tahu pasti apakah yang hitam itu tangan orang juga …
Syukurlah kalau selalu ingat untuk berbagi, Nadia …
Artikelmu bagus, Inspiring, aku suka. Aku juga suka nulis artikel bisnis, Traveling dan pengalaman pribadi. Silahkan berkunjung ke blogku http://www.yohanwibisono.com, Kita bisa sharing
Tuti :
Terimakasih, segera meluncur ke blog Yohan …