Saya mengenal beberapa pasangan, teman dan sahabat saya, yang sama-sama tidak (belum) memiliki anak hingga lewat beberapa tahun usia pernikahan mereka. Tapi sebaliknya, ada seorang teman saya, usianya belum 40, saat ini memiliki 8 anak (swear … delapan, wolu, eight!) yang dilahirkannya sendiri. Astagaaa … ! Hari gini, punya delapan anak? Dan tidak berencana untuk KB! Betul-betul membuat kita takjub … *melongo dan geleng-geleng*
Sekitar 10% – 15% pasangan usia subur mengalami infertilisasi, atau tidak memperoleh keturunan. Pada kasus-kasus tertentu, pasangan yang infertil masih bisa mendapatkan anak melalui program bayi tabung (In Vitro Fertilization). Teknik IVF sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1950-an oleh Robert Geoffrey Edwards yang dilahirkan di Inggris pada 27 September 1925. Meskipun mengalami serangkaian percobaan yang gagal, Edwards pantang menyerah. Usaha kerasnya akhirnya sukses dengan lahirnya Louis Brown, bayi tabung pertama di dunia, pada tahun 1978. Kini, teknologi IVF sudah semakin berkembang, dan sekitar 4 juta bayi telah berhasil dilahirkan melalui proses bayi tabung. Atas jasanya yang luar biasa di dunia kedokteran, Edwards memperoleh penghargaan Nobel untuk Bidang Kedokteran Tahun 2010.
Robert Edwards, sang penemu IVF (foto dipinjam dari sini)
Medali Nobel (foto dipinjam dari sini )
Penyebab infertilitas antara lain gangguan pada sperma, sumbatan saluran telur, endometriosis, gangguan perkembangan sel telur, dan sebab yang tak dapat dijelaskan (pasangan suami istri sama-sama sehat, tetapi sulit memperoleh keturunan).
IVF adalah teknik mempertemukan sel telur dan sperma dalam cawan/tabung petri. Sel telur yang sudah masak (mangga ‘kali …
) diambil dari indung telur calon ibu dengan teknik laparoskopi, kemudian dibuahi dengan sperma yang sudah dipersiapkan di laboratorium. Embrio yang terbentuk (stadium 4 – 8 sel) kemudian ditanamkan kembali ke rahim ibu. Untuk memperbesar peluang keberhasilan, biasanya ditanamkan 2 – 4 embrio, sehingga jika beberapa embrio berkembang dengan baik, bayi akan lahir kembar (wow … senengnya
).
Pembuahan sel telur oleh sperma di cawan petri (foto dipinjam dari sini )
Edwards bekerjasama dengan Patrick Steptoe, seorang ginekolog yang mengembangkan teknik laparoskopi (teknik operasi dengan sayatan kecil) yang memungkinkan pengamatan terhadap ovarium (indung telur) lewat instrumen optik. Steptoe menggunakan laparoskopi untuk memindahkan sel telur dari indung telur, dan Edwards melakukan kultur sel dan menambahkan sperma.
Bayi tabung pertama di dunia adalah Louis Brown, dilahirkan pada 25 Juli 1978 dari pasangan Leslie dan John Brown. Louis yang berbobot 5 lb 12 oz (2,6 kg) dilahirkan dengan cara bedah Caesar. Bayi ajaib Louis tumbuh secara mengagumkan, subur makmur gemah ripah loh jinawi. Setelah menikah dan mengalami kehamilan secara alami, pada umur 28 tahun Louis melahirkan seorang bayi laki-laki secara normal yang diberi nama Cameron. Mengagumkan. Bayi yang dibuat di dalam tabung, ternyata bisa hamil dan melahirkan di dalam tubuh …
Leslie dan John Brown bersama Louise yang baru saja dilahirkan (foto dipinjam dari sini )
Louis beberapa saat sesudah dilahirkan, digendong oleh Edwards (kiri) dan Steptoe (kanan). Foto dipinjam dari sini
Edwards, Louis Brown, dan Cameron yang berumur 18 bulan (foto dipinjam dari sini )
Di Indonesia, teknik bayi tabung pertama kali dilaksanakan di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta pada tahun 1987, didukung para dokter ahli Obstetry-Ginekologi antara lain Prof. Dr. dr. Sudraji Sumapraja SpOG. Bayi tabung pertama di Indonesia adalah Nugroho Karyanto, dilahirkan pada 2 Mei 1988. Sekarang teknik IVF sudah diterapkan di 15 rumah sakit di Indonesia, antara lain RSAB Harapan Kita Jakarta dengan Klinik Melati, RSCM Jakarta dengan Klinik Yasmin Kencana, RS Bunda Jakarta dengan Klinik Morula, RS Sarjito Yogyakarta dengan Klinik Permata Hati, dan di berbagai rumah sakit lain.
Namun demikian, menurut dr. Andon Hestiantoro SpOG dari Klinik Yasmin Kencana, klinik-klinik kesehatan di Indonesia hanya mampu menangani 1.500 pelayanan bayi tabung per tahun dari sekitar 20.000 permintaan. Permintaan yang sangat tinggi dari Indonesia ini membuka kesempatan bagi negara-negara tetangga untuk menawarkan pelayanan program IVF. Di Singapura, dari 2.500 pasangan yang dilayani per tahun, 800 – 1000 berasal dari Indonesia. Di Malaysia, dari 3.500 layanan, 2.000 di antaranya untuk warga negara Indonesia.
Phaga Savana, bayi tabung putri dari Gatik Widayati & Julnaidi Musyar yang dilahirkan pada 25 November 2008 di Klinik Permata Hati RS Sarjito (foto dipinjam dari sini)
Sayangnya, biaya untuk mengikuti program IVF relatif masih mahal, yaitu berkisar 50 – 60 juta (ah, sebenarnya nggak juga ya …. masih lebih mahal harga mobil atau rumah, kan?). Dan kalaupun memiliki uang sebanyak itu, belum tentu juga anak diperoleh, karena tingkat keberhasilan program bayi tabung di Indonesia adalah 35%. Untuk mengatasi mahalnya biaya, sekarang di Klinik Yasmin Kencana RSCM orang bisa mengikuti program bayi tabung dengan kredit dari Bank Mandiri. Wow … bayi kreditan? Nggak apa-apalah, meskipun dikredit, bayinya lahir lengkap kok, sama dengan bayi normal (nggak dicicil kepala dulu, baru kemudian leher, tangan, badan dan kaki …
).
Bayi tabung, yang merupakan program ‘pembuatan’ manusia, tak bisa tidak masuk ke ranah etika dan moral. Semua orang yang beriman pasti meyakini bahwa penciptaan makhluk hidup adalah wilayah kekuasaan Tuhan. Apakah etis, apakah tidak melanggar moral ketuhanan, jika manusia menciptakan manusia?
Para ahli agama dari Majlis UlamaIndonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memberikan pendapat yang sama. Program bayi tabung merupakan ikhtiar manusia untuk mendapatkan keturunan, sama seperti upaya untuk menyembuhkan penyakit, maka hukumnya halal. Namun demikian ada syarat mutlak yang harus dipenuhi, yaitu sel telur dan sperma yang dipertemukan itu harus berasal dari suami istri yang syah, dan ditanamkan di rahim sang istri sendiri. Jika sperma berasal dari pria yang bukan suami, atau jika embrio yang sudah terbentuk ditanamkan di rahim wanita yang bukan istri, maka hukumnya adalah haram. Juga haram, jika sperma dikeluarkan dengan cara yang haram …
Proses IVF di laboratorium Klinik Yasmin Kencana RSCM (foto dipinjam dari sini)
Proses medis dikerjakan dengan cermat dan penuh kehati-hatian di Klinik Yasmin Kencana RSCM (foto dipinjam dari sini)
Mungkin ada di antara teman-teman yang bertanya-tanya, apakah saya pernah mengikuti program bayi tabung? Ya, tahun 2000-an saya pernah mencoba mengikuti program ini di Klinik Permata Hati RS Sarjito, tapi karena berbagai sebab (yang terlalu panjang untuk diceritakan) dokter tidak merekomen untuk dilanjutkan. Oke, supaya teman-teman tidak penasaran, saya ceritakan sedikit … karena pada waktu itu umur saya sudah 40 … hiks
. Jadi bagi teman-teman yang ingin mendapatkan bayi lewat tabung, jangan tunggu lama-lama. Usia yang masih memiliki kans besar untuk berhasil adalah sampai sekitar 35 tahun.
Tapi kalau tak berhasil juga, jangan putus asa. Hidup tidak kiamat kok meskipun tanpa kehadiran anak. Sangat banyak hal yang bisa kita lakukan, yang bermanfaat bagi orang lain dan bagi diri kita sendiri, yang membuat hidup bahagia. Believe me
(Sumber : Kompas, Kompas.com, Okezone, Antara News, Vivanews, Wikipedia)
..
tentang IVF jadi inget film the back-up plan..
sepertinya kalo di Amrik sono prusedurnya lebih gampang..
bahkan sampek ada bank sperma, hi..hi.. gimana nabungnya ya..
tentang keHamilan dan keturunan itu adalah masalah yang sensitif..
Amat sangat sensitif. Salah “cara nanya” bisa bikin si perempuan jadi sedih..
Karena wanita, spt apapun itu, punya perasaan yang jauh berbeda dari laki-laki..
lebih peka dan lebih sensitif… iya kan..?
jadi kadang pertanyaan “udah isi belom..?” bisa bikin sedih..
sama kayak pertanyaan udah nikah belum..? *jadi pengen nyekik itu orang hihi..*
aih.. betapa sulit-bin-super-mahalnya “untuk bisa hamil”…
Betapa besarnya keinginan setiap pasangan untuk memiliki “anak”..
Betapa kerasnya perjuangan mereka –terutama untuk para wanita– , usaha mereka, pengorbanan mereka untuk itu semua..
Dosa besar kalo sampe anak-anaknya itu durhaka sama orangtuanya…
..
Tuti :
)
*
…
Gimana cara nabungnya? Yang jelas nggak bisa lewat sms-banking atau ATM-banking … hahaha …
…
Masalah kehamilan dan keturunan sebenarnya bukan cuma masalah wanita lho. Peran dan partisipasi pria sama besarnya. Cuma, karena yang hamil wanita, maka kalau belum juga hamil, yang ‘disalahkan’ adalah pihak wanita. Padahal bisa jadi penyebabnya adalah pria, atau dua-duanya. Jangan salah, pria yang ‘jantan’ tidak otomatis subur loh … (diskusi tentang ini dilanjut off-line aja deh …
…
Iya … iyaa … aku nggak akan nanyak, “Ata udah nikah belum?”
*pegangin leher, takut dicekik*
…
Setuju, dosa besar anak-anak yang durhaka sama orangtuanya. Begitupun, ada juga loh anak yang bilang “Siapa suruh mama ngelahirin aku?”. Haduuuh …. diapain ya baiknya anak seperti itu? *pergi ke gudang, milih cangkul, arit, dan garu …. (mau ke sawah soalnya)
@ atta :
cuma satu pertanyaan ajah..
emm…
jadi atta udah nikah belum…
** nyodorin leher,bersiap siap dicekik attanya**
@ bunda tuti :
anak yang kayak gituh enaknya kita habiskan sajah bunda, ceburin ke empang
*sadiss..!!
Tuti :
Waduh … ceburin ke empang, nanti dikira ikan …
Teman saya sudah nikah hampir 10 tahun. Tidak juga dikaruniai anak. Usaha dengan teknik apapun telah dicoba. Akhirnya mereka berdua ke Malaysia tepatnya di Penang.
Ternyata dapat triplets. Boleh milih mana yang mau dijadikan anak. Karena memang sudah ingin benar dapat anak maka ketiganya diambil. Akibatnya sekarang si isteri bed rest sebulan di RS. Insya Allah Desember ini lahir.
Minggu ini, anak saya juga mulai melakukan bayi tabung. Mudah2an berhasil.
Tuti :
Wah, pasti teman Pak Eko bahagia buangets ya Pak. Dapat kembar 3 sekaligus? Wow …
Yang mau melakukan program bayi tabung anak bungsu yang di Amrik ya Pak? Semoga berhasil, apalagi di sana kan teknologinya sudah canggih. Tapi di Indonesia pun sebenarnya juga sudah canggih loh …
Hmm berarti skr ini Nugroho Karyanto sang bayi tabung pertama di Indonesia itu udah berusia 22 tahun ya bun…
Apa kabarnya yah dia skr?
Ngakak deh baca soal dicicil tangan, kaki, leher =)) mengerikan!
Anak itu kan anugerah ya bun… Diberi, tidak diberi murni Kuasa Ilahi ^_^
Salam sayang,
Eka
Tuti :
Ya, pastinya Nugroho Karyanto sudah dewasa sekarang. Aku coba gugling, tapi gak nemu informasi tentang dia … Padahal mestinya dipantau terus ya oleh RSAB Harapan Kita.
Hahaha … itu kejelian sebuah bank, sampe menawarkan kredit untuk program bayi tabung. Kerjasama dengan klinik, jadi bank dapat klien, klinik dapat pasien. Kreatif ya
Betul Eka, anak itu anugerah Tuhan. Tapi, kita tidak boleh lupa, bahwa anugerah bukan hanya anak. Banyak bentuk yang lain bukan? Jadi apapun yang dianugerahkan kepada kita, kita mesti bersyukur.
salam sayang juga, Eka …
40 tahun kalau di Jepang tidak masalah mbak…
aku melahirkan bersama teman yang berusia 41 th anak pertama. Tapi aku tidak tanya apakah bayi tabung atau tidak.
Tapi memang perlu energi yang besar untuk membesarkan anak. Aku cukup keteteran mempunyai Riku di usia 35 th.
EM
Tuti :
).
Kalau si ibu sehat, umur 40 memang masih bisa hamil. Ibu saya sendiri melahirkan saya di usia 44, sehat dan lancar (anak yang dilahirkannyapun pintar … wakaka
Tapi untuk program bayi tabung, karena probabilitasnya hanya 35%, dan dibutuhkan kesehatan yang benar-benar prima, dokter menyarankan usia di bawah 40. Memang ada juga wanita yang umurnya sudah 44 dan memaksa ikut program (saking kayanya, sehingga tidak peduli biaya dan kemungkinan berhasil kecil). Akhirnya memang tidak berhasil.
Ya betul, membesarkan anak memang butuh energi besar …
Bu Tuti …
Saya tidak menguasai masalah ini …
Namun saya ingin bercerita bahwa …
saya punya rekan kerja yang juga melakukan hal seperti ini
Dia menyebutnya inseminasi … (entah apakah ini sama atau tidak …) tetapi saya pikir ini sama saja …
dia baru berhasil pada usaha yang kedua …
usaha yang pertama gagal … dia mengalami keguguran saat usia kandungannya sekitar 5 – 6 bulan
tetapi dia tidak putus asa … dia mencoba lagi
dan akhirnya sekarang dia sudah dikaruniai seorang putri yang lucu
Salam saya Bu
Tuti :
)
Inseminasi agak beda dengan bayi tabung Om. Kalau inseminasi (sepengetahuan saya) sperma suami dimasukkan ke dalam rahim dengan peralatan khusus, sehingga pembuahannya tetap terjadi di rahim ibu. Ini bisa disebabkan karena ada gangguan pada jalan rahim, atau sperma kurang bagus sehingga dikumpulkan dulu di laboratorium, kemudian dipilih yang paling bagus. Soalnya, untuk bisa berenang menembus sel telur, sperma membutuhkan tenaga besar. Nah, kalau spermanya kurang kuat, dia nggak usah berenang tapi ‘diantarkan’ dengan bantuan peralatan ke sel telur (haiyaah … bicara saya sok tahu banget …
Salam saya juga Om …
iya ivf emang gak menjamin keberhasilannya. tapi ya walaupun mahal tetep pada nyoba ya, namanya juga demi mendapatkan buah hati… apapun pasti dicoba…
Tuti :
Ya iyalah. Yang namanya anak kan nggak bisa dinilai dengan uang. Apalagi bagi yang uangnya banyak, 50 juta nggak mahal, lha wong mobil saja harganya bisa ratusan juta …
Teman-temanku banyak yang menggunakan IVF mbak Tuti, ada yang berhasil dan ada yang tidak…dan tidak diganti oleh perusahaan. Bagaimanapun kita percaya ada rencana Tuhan dibalik itu….
Saat melamar saya (uhuu), suami tak mau diajak cek kesehatan pra nikah. Ternyata dia kawatir kalau saya tak mau meneruskan rencana pernikahan ini, kalau hasilnya kurang baik. Apa yang dikawatirkannya? Karena dia tahu persis saya menikah karena ingin keturunan…cinta sudah pasti….tapi mungkin karena saya termasuk lebih banyak menggunakan logika (makanya kalau belum mendekati umur 30 tahun, ya saya masih tenang-tenang aja…walau alm ibu udah senewen), sehingga tak terlalu memikirkan urusan menikah ini. Suami mengatakan, kalaupun nanti tak punya anak, kita bisa bahagia, dia memberikan contohnya pak Doddy dan ibu (mantan rektor ITB, Doddy Tisna A.)….
Ternyata saya termasuk yang sulit juga, jadi mesti pakai bantuan pihak ketiga (dokter kandungan), agar kandungan lebih kuat… sempat keguguran anak pertama, yang membuat syok. Syukurlah Allah masih berkenan memberikan saya momongan mbak….tapi banyak teman2ku tak mendapat karunia itu…walau saya lihat mereka tetap berbahagia bersama suami tercinta.
Tuti :
Memang tingkat keberhasilan program IVF cuma sekitar 35% Mbak, jadi kemungkinan gagal lebih besar dari kemungkinan berhasil. Meskipun banyak yang gagal, contoh yang berhasil selalu mengobarkan semangat bagi pasangan yang ingin mencoba. Hitung-hitungannya : kalau tidak mencoba kan tidak ada harapan, kalau mencoba harapannya 35%. Nah, harapan yang 35% itu lebih baik dari pada tidak ada harapan sama sekali, bukan?
Tujuan orang menikah memang bisa berbeda-beda. Ada yang menikah karena ingin punya keturunan, ada yang menikah karena ingin hidup bahagia bersama orang yang dicintainya. Nah, kalau tujuannya hidup bahagia bersama orang yang dicintai, ada atau tidak ada anak bukan menjadi masalah utama. Tetapi kalau kebahagiaannya adalah jika ada anak, maka ketiadaan anak bisa menghancurkan pernikahan. Bagaimanapun, setiap orang berhak untuk meraih kebahagiaannya. Jadi kalau dalam sebuah pernikahan tidak memperoleh anak padahal pasangan tersebut sangat ingin punya anak, jalankeluarnya ya berpisah baik-baik lalu menikah lagi dengan orang lain.
Saya juga dua kali keguguran Mbak, tapi kemudian tidak ada lagi. Sudah ganti empat dokter, ya sudahlah
Saya jadi ngeh dengan konsep bayi tabung. Dulu mah kirain teh gimana. Maka banyak juga masyarakat yang menolak proses bayi tabung ini.
Memiliki bayi dengan cara normal memang pilihan utama, tapi ketika keadaan berkata lain maka munculah solusi lain.
Tuti :

Teh gimana? Teh celup atau teh susu?
Dulu ngirainnya gimana, Kang? Suami istri sama-sama masuk ke tabung gitu ya …
Bu Tuti,
Memutuskan untuk mengikuti program dan memasuki tahapan prosedur IVF juga memerlukan persiapan fisik dan mental yang matang.
Seorang teman menceritakan pengalamannya menjalani tahapan program ini, membaca tulisannya dalam berjuang membuatku terharu … Beberapa prosedur, ada yang cukup menyakitkan. Namun akhirnya dia harus mengikhlaskan embrio yang ditanamkan karena mereka tidak berkembang.
Tuti :
Betul, Hen. Untuk mengikuti program ini mental juga harus disiapkan, harus sadar bahwa ada kemungkinan tidak berhasil, sehingga harapan tidak terlalu membubung tinggi dan jadi depresi ketika ternyata gagal …
Untuk menjalani program ini, dukungan suami sangat penting bagi istri. Tanpa dukungan moral dari suami, istri akan merasa berjuang sendiri, kesepian, dan bisa benar-benar stress jika gagal …
Alhamdulillah saya sudah dipercaya dapat mengandung tanpa program itu bu…
sekarang jalan 3 bulan, mohon doanya saja..
tapi kakak ipar sampai usia 25th pernikahannya belum dikaruniai anak, bisa kali ya mencoba ini, tapi apakah aman? masih ragu..
Tuti :
. Dijaga baik-baik ya kehamilannya. Semoga lancar dan sehat sampai saat melahirkan kelak.
Saya ikut berbahagia, Tiyha
Kakak ipar yang sudah menikah selama 25 tahun itu usianya berapa? Pastinya sudah di atas 40 ya? Bisa dicoba, tetapi peluang keberhasilannya mungkin tidak terlalu besar. Program ini boleh dikata tidak beresiko bagi kesehatan ibu. Resikonya lebih pada tidak berhasilnya embrio yang ditanamkan itu tumbuh dalam rahim ibu.
Saya belum punya pengalaman yang begini, tapi sebagai perempuan saya juga sangat ingin suatu saat punya anak dari rahim sendiri..
Tuti :
Semoga Clara termasuk dalam 85%, bukan yang 15% (infertil). Untuk memperbesar probabilitas, cepat-cepat saja nikahnya Cla. Kalau bisa, melahirkan yang pertama sebelum usia 30
Amiinnn Buuu.. hehehe..
Tuti :
Jangan lupa undangannya ya …
Wew, saya sih belom nemu calon donor spermanya Bunda, jadi ga ngeh soal ivf ini
Makaci, Bunda… baca ini jadi nambah ilmu…
Luv Bunda Tuti… ^_^
Tuti :
Mau cari ke bank, Mid? Kayaknya Ata tertarik untuk nabung tuh …. hihihi …
Thanks Mida, luv tu …
..
yak oloh..
saya aja belom ketemu cara nabungnya..
buka rekening dulu ya Buk..?
..
Tuti :
Iya lah, gak bisa pake celengan ayam jago dari lempung …
Hahaha… Bunda nih seneng banget godain Ata
Bukan muhrim kan ga boleh, Bunda… ntar saya dicari-cari FPI lagi…
Tuti :

Hihihi … Atanya suka digodain kok
Jadiin muhrim dulu kalo gitu … ehm …
Huhuhu… Komennya dimakan aki…
Tuti :
Udah dimuntahin tuh … pahit katanya …
sungguh kebesaran Allah.. hingga manusia dapat menemukan pengetahuan yang lebih.
Tuti :
Betul. Pengetahuan lebih itu semestinya dipakai untuk kemaslahatan umat …
Mbak Tuti, aku gak ngerti sama sekali ttg masalah bayi tabung ini, hingga membaca nya dgn lengkap disini, dr mulai proses, hukum dan tata caranya.
Adikku, kebetulan sudah hampir 20thn menikah, dan sekarang sudah berumur 49 thn, mereka berdua sudah pernah mencoba bayi tabung ini hingga keluar negeri, namun memang Allah swt belum mengizinkan mereka berdua utk mendapatkan titpanNYA..
Dan, saya sangat setuju dgn tulisan di akhir, bahwa tanpa adanya anak, hidup perkawinan bisa tetap bahagia, krn aku melihat itulah yg terjadi pd adikku.
Mereka berdua tetap bahagia dan menikmati hidupnya layaknya kakak dan adik2ku yg lain.
karena kebahagiaan itu , kitalah yg menciptakan dan ada dimana2, tdk pd satu hal saja
salam
Tuti :
Begitulah Bunda Ly, dalam satu keluargapun, karunia Allah bisa berbeda-beda. Tetapi seperti kata Bunda Ly, kebahagiaan bisa diciptakan dimana-mana, dengan berbagai cara, dari berbagai sumber. Kuncinya adalah ikhlas dan syukur. Mengikhlaskan apa yang tidak ada, dan mensyukuri apa yang ada.
Saya ikut berbahagia atas kebahagiaan adik Bunda
salam
* Terimakasih info IVF dan ttg pengalamannya mbak Tuti thn 2000, jujur tadinya saya masih penasaran ttg keluarga mbak Tuti….Allah SWT telah memberikan Yang Terbaik.
* “ANAK” hanya sebagian kecil saja amanah YANG MAHA KUASA yg dititipkan kepada hambanya…..”ilmu” yg mbak Tuti miliki juga bagian dari amanah, dan mbak Tuti telah menyampaikan dgn ikhlas, apalagi yg disampaikan resmi di dalam kampus.
* Ada yg sudah berikhtiar namun belum diberikan oleh`NYA, tetapi ironinya ada juga yang lebih hina dari binatang (dgn sengaja membunuh darah dagingnya), Naudzubillah……..
Tuti :
* Sekarang sudah tidak penasaran lagi ya, Mas Karma?
* Terimakasih sudah diingatkan pada amanah Allah yang diberikan kepada saya. Jadi semakin bersemangat ngajar nih …
. Ya, karena saya tak bisa memperoleh amal jariyah dari anak yang sholeh, maka gantinya adalah dari ilmu yang diamalkan. Amin …
* Itulah manusia, Mas Karma. Beraneka ragam watak dan perilakunya …
Anis suka kata-kata bunda bahwa anugerah Allah itu gak hanya berupa anak, terharu bun…
Kalau hanya berfokus pada satu titik, kadang orang tidak menyadari bahwa ada begitu banyak titik lain yang sebenarnya bertebaran;
bagi ponakan-ponakan bunda, dan rekan blogger semua, insyaAllah mengenal bunda juga adalah anugerah kok
Salam sayang bunda
Tuti :
Waduh … terharu membaca kalimat akhir Anis. Alhamdulillah jika kehadiran saya di dunia (dunia nyata maupun dunia maya) memberi manfaat bagi orang lain. Sebenarnya kehadiran kita semua adalah untuk saling memberi manfaat. Kalau kita hanya hidup sendiri, siapa yang akan memberi dan menerima manfaat?
salam sayang juga, Anis
Benar, Bu!
Kehadiran anak memang menyenangkan, tapi untuk pasangan yang tidak mempunyai anak oleh karena apapun itu, bukanlah sesuatu yang patut terlalu dirisaukan.
Banyak teman saya di sini yang ‘membatasi diri’ untuk tidak punya anak.. sangat disayangkan tapi ya apa boleh buat, itu adalah pilihannya.
Ada juga pasangan yang sudah banyak berusaha untuk punya anak tapi belum/tidak dikasih, dan mereka tetap bisa melalui hidup dengan berbagai macam penghiburan kok.
Ada juga teman saya, kebanyakan bule, baru punya anak menjelang 40, menjelang 45 dan menjelang 50.. mereka tetep PD aja…
So, keep on spirit! GBU, Bu!
Tuti :
Pasangan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak memang ‘agak aneh’, tetapi memang ada, dan mereka memiliki alasan sendiri untuk itu. Di Indonesia, kalau aku tidak salah, Jaya Suprana adalah salah satu orang yang memilih untuk tidak punya anak.
Di negara yang tingkat kesehatannya sudah maju, memiliki anak di usia 40 memang tidak menjadi masalah. Tapi kalau sudah usia 50 (untuk wanita), kemungkinannya sudah kecil.
Thanks Don, salam untuk Joyce dan Odilia ya …
Wah ternyata biaya mahal sekali yach mbak. Alhamdulillah saya sudah punya 2 org putra.
Kadang ikut prihatin jika ada sahabat2 yang kadang juga curhat, belum dpt momongan pdhal umurnya sdh nambah terus. Yah semuanya itu pasti sudah ada rejekinya dari Allah. Manusia hanya bisa berusaha, beriktiar dan bersabar, semuanya pasti udah diatur oleh NYA
Nah saya setuju banget sama kata-kata mbak Tuti ini :
“Tapi kalau tak berhasil juga, jangan putus asa. Hidup tidak kiamat kok meskipun tanpa kehadiran anak. Sangat banyak hal yang bisa kita lakukan, yang bermanfaat bagi orang lain dan bagi diri kita sendiri, yang membuat hidup bahagia. Believe me”
Sip….mantap mbak
Ok, sekian dulu yach mbak Tuti, mau lanjut kerja lagi mbak ….see you & miss you so much
Best regard,
Bintang
Tuti :
Ya, Mbak Linda beruntung sekali memiliki dua putra yang tampan dan pintar, Farid dan Ghalib. Jaga baik-baik titipan Allah yang sangat berharga itu ya Mbak. Kelak mereka akan menjadi tonggak-tonggak kokoh tempat Mbak Linda dan Mas Dicky bersandar dikala usia telah senja …
Thanks so much, see you next time, miss you too
salam hangat
Bunda Tuti..
saya sendiri juga pernah ikutan kok di Permata Hati..
tapi gagal.. tahun 2008 (usia saya 28 saat itu)
trus pernah juga hamil secara alami tahun 2009, tapi sayangnya keguguran setelah bulan ke-4
sedih banget rasanya…
alhamdulillah suami dan keluarga selalu mendukung.
berikut quote dari suami saya…
Janganlah hanya karena 1 keinginan yang belum terkabul, membuat kita lupa akan berjuta, bermilyar, bahkan tak terhitung lagi nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Karena sejatinya, Allah telah memberikan nikmat yang luarbiasa.. yaitu kehidupan, rasa syukur, dan kesabaran..
salam saya Bunda
Tuti :
Jeng Anna, tetap optimis ya. Usia Jeng Anna masih muda, masih banyak kesempatan untuk bisa memperoleh putra. Yang penting sumeleh, santai, ikhlas, tidak kemrungsung, sehingga hati adem. Psikologi yang tenteram akan menjadikan kondusif bagi hadirnya baby
Saya juga pernah keguguran 2 kali, pada usia 3 dan 4 bulan. Memang sedih, tapi ya sudah, ikhlas saja
Quote dari suami Jeng Anna sangat menyejukkan dan menenteramkan. Terimakasih ya, saya kopi paste …
salam saya juga, Jeng Anna
rotasi kehidupan, pertanyaan pertanyaan yang sering diajukan : suda menikah? suda punya anak berapa?
bicara bayi tabung, dulu pas booming bayi tabung [ taun berapa yah bun? lupa wiennya, ato emang amnesia *nyengir] ada beberapa orang yang ikut program ini, meski dengan biaya yang tidak sedikit.
sebagian berhasil, tak sedkit yang gagal..
Inul penyanyi itu juga sukses dengan program bayi tabungnya, perjuangan yang berat dan panjang..
yang menarik adalah kok bisa sperma itu hidup diluar, kemudian bisa dimasukkan kedalam rahim dan berkembang disanah, sungguh kuasaNYA..
dibelahan bumi manapun tentu sajah keinginan seseorang yang suda menikah adalah memiliki seorang anak dari rahimnya sendiri, tak ada satu perempuanpun yang menginginkan tak mempunyai anak.
tapi ketika takdir Tuhan berkata lain?
Laki laki sebagai pendamping hidupnya, harusnya bisa mengerti, karna itu bukan keinginannya, harusnya para lelaki bisa meredam ego dan nafsu untuk tidak menyakiti perempuan dengan menikah lagi dg alasan ingin mendapatkan keturunan *aarrgg
selalu perempuan yang menjadi obyek penderita tentang keturunan
harusnya para pria bisa menerima kenyataan itu, nikahilah karna kekurangannya, bukan karna kelebihannya.
ada banyak hal yang bisa dilakukan meski tanpa keturunan, berbagi dengan anak anak yang tak mampu, adopsi ato apalah..
selalu miris jika mendengar kisah anak anak yang disiksa, sementara disana ada mereka yang begitu mendambakan anak.
masalah kesuburanpun berbeda beda yah bunda..?
fiuuhh..jadi pengen punya anak
belajar he he
*tapi cukup puas dengan anak asuh
untuk bunda tuti, semoga allah slalu mencurahkan Rahmat pada keluarga bunda , amin..
Tuti :
Memang pernah ada booming bayi tabung ya? Wah, saya malah nggak tahu …
Sperma bisa hidup di luar tentunya dengan dibekukan dan disimpan secara khusus. Ilmu Allah sangat luas, dan manusia diijinkan untuk bisa menguasai sebagian kecil saja dari ilmu Allah, untuk menunjukkan kebesaranNya.
Sebenarnya ikhlas adalah dasar dari kebahagiaan dan kedamaian hidup. Pasangan yang tidak dikaruniai anak dan mereka ikhlas, pastilah akan bahagia. Wanita yang suaminya menikah lagi karena ingin punya anak, ya ikhlaskan saja, apakah ia tetap dalam ikatan perkawinan dengan suaminya ataupun memilih hidup sendiri.
Menikahi seseorang karena kekurangannya, itu sangat mulia tetapi membutuhkan keikhlasan yang sangat besar. Menikahi seseorang karena kelebihannya, itu wajar dan tidak salah …
Terimakasih do’anya, Wien
weks..komeng aku panjang aaamaaat..!!
bisa jadi postingan bunda
haduuuuucchh..ngomong apa seeh wien itu??
delete ajah bunda….
Tuti :
Ndak apa-apa … biar jadi postingan tambahan
Bu Tuti….
Kakak sepupu saya, sudah tiga kali melakukan ini di Singapura. Semuanya gagal…
Setelah semua usaha yang berakhir pada kegagalan, merekapun sampai pada sebuah kepasrahan dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Mereka sekarang berprinsip, bahwa untuk menjadi mulia, tidak selalu melalui keturunan. Masih ada banyak cara yang bisa dilakukan, agar hidup ini jadi lebih bermakna. Kebajikan yang ditebar di muka bumi ini, insya Allah akan sama nilainya dengan “doa anak yang sholeh”.
Tuti :

Saya menyampaikan simpati kepada kakak sepupu Uda Vizon. Semoga hidup mereka kini tenteram dan bahagia …
Sejuk sekali membaca kalimat Uda yang terakhir, bahwa ‘Kebajikan yang ditebar di muka bumi ini, insya Allah akan sama nilainya dengan “doa anak yang sholeh”. ‘ Amiiin …
ada temen yang punya anak setelah 8 tahun
ada juga temen yang lagi ikut program, harus sabar dan butuh biaya mahal
kalau saya anaknya 7 lho mbak…
Tuti :
)
Wah, Mas Sugeng putranya 7? Bagi-bagi dong … (emang kue …
wiw… banyak banget anak temennya 8. hehe
nanti saya kalo udah gede punya 2 anak, 1 laki 1 perempuan udah cukup. hehehe
Tuti :
Iya, memang banyak. Rumahnya jadi kayak sekolah TK
Oh … jadi sekarang Danu masih kecil ya? Makan yang banyak ya biar cepet gede …
Kl ketemu org yg baru dikenal atau kawan lama yg baru dijumpai sy nggak mau tanya tentang anak, atau status takutnya ada yg sensitif, kecuali jika dia yg menyinggung dulu. Tanteku ada yg tidak memiliki anak, tp perkawinan tetap harmonis sampai keduanya meninggal dunia di usia lanjut.
Tuti :
Dalam budaya kita, menanyakan hal-hal yang sifatnya pribadi seperti itu memang sudah menjadi kebiasaan. Kadang orang tidak sadar bahwa itu bisa membuat orang yang ditanyai merasa tidak nyaman.
Tapi kalau bagi saya sih, biasa saja Mbak Monda. Kalau ketemu teman lama atau kenalan baru juga, dan ditanya berapa anak saya, saya santai saja menjawab ‘tidak punya anak’. Biasanya orang yang bertanya malah jadi kecipuhan sendiri …
jadi tahu banyak soal IVF, mbak Tuti soalnya ada kerabat yang takut gagal mencoba program ini. Anak selain titipan Tuhan ternyata anugrah dan harta yang buat sebagian orang perlu diperjuangkan ya…
Tuti :
Kalau takut gagal ya nggak akan pernah mencoba ya Mah. Kalaupun gagal, nggak ada risikonya bagi kesehatan wanita kok. Paling-paling risikonya, harta habis …
Ya, anak itu harta yang tak ternilai. Makanya biaya IVF yang mahal itu sebenarnya tidak sebanding (sangat murah) jika berhasil memperoleh anak.
waah saya baru tau nih tante
maklum saya belum berkeluarga
Tuti :
Dapet ilmunya dulu nggak ada ruginya kan? Tapi semoga Edda kelak nggak perlu ikut program IVF
Bun, kk sy dulu juga endometriosis. Sempat takut tdk bisa hamil. Tapi Tuhan berkehendak lain, dia dikasih kepercayaan hamil tak lama setelah menikah, lalu melahirkan dan membesarkan buah hati. Minggu kemarin baru melahirkan putranya yg kedua dgn jarak persis 2th dari yg pertama.
Teman2 kantor sy banyak yg belum memiliki momongan. Berbagai usaha sudah mereka lakukan. Informasi ttg usia untuk melakukan program bayi tabung ini sgt bermanfaat Bun. Sy akan sampaikan ke teman2 mumpung usia mrk msh <35 th. Yang penting usaha, hasilnya serahkan Yang Kuasa.
Sy setuju Bun, bahwa keturunan bukanlah satu2nya anugerah yg hadir melalui pernikahan. Banyak berkat2 Tuhan yg kita tak mampu menghitungnya. Rasa tenang, tentram, damai, bahagia bersama pasangan juga anugerah yg sama tak ternilainya.
Bun, bunda memiliki banyak 'anak' yg mengasihi Bunda. Hitunglah berapa orang yg memanggil Tutinonka dengan sebutan Bunda, mrk adl anak2 Bunda yg mengasihi & mendoakan Bunda.
Salam sy.
Tuti :
Endometriosis memang masih bisa hamil (meskipun kadang-kadang memang sulit). Syahnas Haq itu malah indung telurnya cuma satu, dan ternyata sekarang punya tiga anak perempuan. Tuhan memang Maha Kuasa, jika berkenan memberi, apapun kondisinya akan bisa juga terwujud …
Secara biologis, dengan bertambahnya usia seorang wanita, tingkat kesuburannya akan menurun. Memang tidak sedikit wanita yang masih bisa hamil di atas usia 40, apalagi saat ini tingkat kesehatan dan gizi kita sudah lebih baik. Tetapi kalau selama beberapa tahun menikah belum juga hamil, berarti tingkat kesuburan tidak begitu bagus, maka jangan menunggu waktu lagi jika ingin mengikuti program IVF. Pokoknya semakin cepat semakin baik. Semoga teman-teman Titik berhasil ya …
Iya Tik, bahkan orang yang tidak menikahpun belum tentu tidak bahagia dan tidak mendapatkan anugerah Tuhan. Dengan semakin majunya pendidikan wanita, dan semakin mampunya mereka hidup mandiri, semakin banyak wanita yang tidak lagi menganggap pernikahan sebagai satu-satunya tujuan hidup. Wanita yang menikah belum tentu lebih bahagia dari yang tidak menikah lho, tergantung pada kualitas hidup yang mereka jalani …
Ah …. paragraf terakhir Titik membuat mataku berkaca-kaca …. Terimakasih Tik, dan semua saja yang memiliki rasa kasih serta mendoakan aku. Semoga Tuhan merahmati teman-teman semua …
salam saya juga Tik
Izin share di facebook ya Bun…
Tuti :
Silahkan … with my pleasure …
Kebetulan saya pernah mencari-cari juga teori ttg IVF ini sekitar 2 tahun yang lalu..
IVF ini dalam agama-agama tertentu tidak bisa diterima. Dalam agama saya misalnya, menganggap bahwa pada saat sel sperma ayah melebur dengan sel telur ibu, saat itu telah tercipta kehidupan (calon) manusia baru dan berhak hidup, bahkan hak hidupnya harus diperjuangkan.
Yang dipertentangkan adalah, embrio yang berhasil terjadi itu kan ada beberapa, dipilih yang terbaik untuk di ET dalam rahim ibu. Sisanya itu mau diapakan? mahluk2 hidup itu dibekukan untuk disimpan, sampai kapan? Apakah mau dibuang/dimusnahkan begitu saja? (padahal embrio itu sudah berupa mahluk hidup).
Atau diberikan pada pasangan lain yang tak mungkin mempunyai anak? Sedangkan sistem menitipkan embrio untuk dikandung dan dilahirkan perempuan yang bukan istri punya pertentangan dan perdebatan tersendiri. Serba dilematis…
Salam hangat selalu, Bu Tuti…
Tuti :
Memang betul, masalah bayi tabung ini memicu kontroversi di berbagai kalangan agama. Bahkan pemberian Hadiah Nobel untuk Robert Edwards pun mendapatkan kritik dari kalangan pemuka agama tertentu. Nah, untuk masalah ini saya memang hanya mengacu pada fatwa pemuka agama Islam, karena saya tentu tidak memiliki kompetensi untuk menyampaikan kepercayaan pemeluk agama lain.
Sepanjang yang saya baca, embrio yang ditanamkan ke dalam rahim ibu itu memang dipilih yang terbaik, dan biasanya lebih dari satu (tiga atau empat). Setelah ditanamkan dalam rahim ibu, belum tentu embrio-embrio itu bisa berkembang menjadi janin. Nah, pertanyaan Nana memang menggelitik : lalu dikemanakan embrio yang tidak ditanamkan? Hm …. barangkali perlu ditanyakan lagi kepada para dokter dan para ahli agama ya?
Salam hangat juga, Nana …
Kami ada ramuan alam yg dapat membantu untuk kesuburan dan istri bisa hamil (dengan ijin Tuhan tentunya),saya sudah buktikan sendiri dengan meminumkan ramuan alami ke istri saya setelah 4,5 tahun berusaha berobat ke dokter,Alhamdulillah bulan depannya hamil,walaupun dokter sudah bilang peranakannya jauh,info lebih lanjut 08128448627
Tuti :
Terimakasih infonya