Catatan :
Setelah terputus selama hampir empat bulan, akhirnya ‘tiba waktunya’ bagi saya untuk melanjutkan cerber ini. Sebagaimana pernah saya sampaikan, cerber ini dimuat sebanyak lima kali di majalah Femina yang terbit pada bulan Juni – Juli 1985. Kelima majalah tersebut sudah saya jilid, dan masih tersimpan dengan baik hingga saat ini. Sesudah dijilid, saya tak [...]
Arsip untuk ‘Buah Pena’ Kategori
Diburu Bayang-Bayang (Bagian 9)
Diposkan dalam Buah Pena pada 5 September, 2008 | 12 Komentar »
Diburu Bayang-Bayang (Bagian 8)
Diposkan dalam Buah Pena pada 18 Mei, 2008 | 6 Komentar »
BERITA MALAM YANG TAK TERDUGA
Bergegas aku keluar dari kamar Warni, langsung menerobos dapur. Ketika keluar dari pintu dapur, oppss!! Aku nyaris bertubrukan dengan sesosok tubuh anak lelaki. Topo! Kami sama-sama terkejut. Topo memandangku dengan heran dan penuh pertanyaan. Aku benar-benar tak tahu harus berubah wujud menjadi apa, untuk mengingkari kehadiranku disitu. Sungguh aku berharap [...]
Diburu Bayang-Bayang (Bagian 7)
Diposkan dalam Buah Pena pada 5 Mei, 2008 | 4 Komentar »
TERJEBAK DI SARANG PENYAMUN
Tangan Ibu yang keriput dengan terampil dan gesit mewiru kain batik yang ada di pangkuannya. Setumpuk kain yang lain ada di samping Ibu, menunggu untuk diwiru juga. Ibu memang suka memakai kain wiron, kain batik yang dilipat-lipat seperti kipas pada ujung yang jatuh di bagian depan, sehingga kalau dipakai berjalan akan [...]
Diburu Bayang-Bayang (Bagian 6)
Diposkan dalam Buah Pena pada 25 April, 2008 | 2 Komentar »
PERTENGKARAN DI SUATU MALAM
Aku tahu pasti dia ada di dalam laci itu. Foto lelaki yang selalu memenuhi hatiku. Membubungkan harapanku. Membakar semangatku. Meneduhkan jiwaku. Membuat mimpiku bertabur sejuta mawar merah.
Aku rindu melihatnya lagi. Kubuka laci meja belajarku, kuambil foto dalam pigura kecil itu. Kubelai dengan seluruh mata hatiku. Aku suka matanya yang tajam dan selalu [...]
Diburu Bayang-Bayang (Bagian 5)
Diposkan dalam Buah Pena pada 15 April, 2008 | 4 Komentar »
RUMAH KECIL DI SUDUT HALAMAN
Halaman rumah kami memang luas. Di sertifikat tanah, tercantum luasnya 1.100 meter persegi. Pohon nangka, jambu air, mangga, pepaya, pisang, belimbing, jeruk nipis, jeruk peras, srikaya, sawo dan beberapa tanaman hias menyejukkan halaman rumah kami dari sengatan matahari bahkan di musim kemarau yang paling terik. Bila sedang musim buah, anak-anak [...]
Diburu Bayang-Bayang (Bagian 4)
Diposkan dalam Buah Pena pada 10 April, 2008 | 1 Komentar »
mayat, laboratorium Anatomi, praktikum bedah mayat, magersari, bunuh diri,
Diburu Bayang-Bayang (Bagian 3)
Diposkan dalam Buah Pena pada 4 April, 2008 | 1 Komentar »
MAYAT NOMOR 1251
Sepeninggal ibu kembali pikiranku dipenui oleh Warni, suami dan anaknya.Tidak lama mereka hadir di antara keluarga kami, tetapi apa yang terjadi selama waktu itu sungguh sukar terhapus dari kenanganku, terutama karena aku ikut terlibat dalam sebab-sebab kemalangan mereka.
Sudah setahun lewat Warni dan Topo, anaknya, pergi dari rumah kami. Tapi saat terakhir [...]
Diburu Bayang-Bayang (Bagian 2)
Diposkan dalam Buah Pena pada 30 Maret, 2008 | 2 Komentar »
WAJAH COKELAT ANEH
Mereka menari-nari di depanku. Manusia-manusia kate dengan kepala yang sangat besar dan wajah seperti terbuat dari karet itu. Lalu samar-samar kurasakan tanganku digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah. Keningku diusap. Bau minyak gosok menyeruak melonggarkan dada. Manusia-manusia kate itu pun mundur, kabur dan lenyap.
Kubuka mataku perlahan-lahan. Mula-mula semuanya tampak [...]
Diburu Bayang-Bayang (BagianI)
Diposkan dalam Buah Pena pada 25 Maret, 2008 | 6 Komentar »
Catatan :
Novelet ini terpaksa saya upload menjadi cerita bersambung, karena cukup panjang. “Diburu Bayang-Bayang” adalah salah satu novelet yang saya sukai, terinspirasi oleh tragedi kehidupan keluarga yang tinggal di depan rumah ibu saya. Novelet ini adalah Pemenang III Sayembara Novelet Femina 1984. Ilustrasi yang ada pada cerber ini saya ambil dari ilustrasi yang ada di [...]
PRITA
Diposkan dalam Buah Pena pada 26 Februari, 2008 | 14 Komentar »
PRITA
Prita hampir selalu kulihat sendirian. Dari teman-teman kuliah seangkatan kami, memang dia satu-satunya cewek. Dan fakultas Kehutanan bukan tempat yang cocok untuk seorang gadis. Apalagi semanis dan semungil Prita. Toh sebenarnya itu bukan alasan final. Arsinta, kakak kelas kami dua tahun, juga tidak punya teman cewek. Tapi dia selalu berteman, selalu ada orang lain [...]








