<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tuti Nonka&#039;s Veranda</title>
	<atom:link href="http://tutinonka.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tutinonka.wordpress.com</link>
	<description>Beranda untuk berbincang tentang segala hal di sekitar kita ...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Nov 2009 08:50:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tutinonka.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/9c2439411ce667acc22a50bccfe1fb61?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tuti Nonka&#039;s Veranda</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Plagiat dan Fitnah</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/11/plagiat-dan-fitnah/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/11/plagiat-dan-fitnah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 17:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[kopi paste artikel]]></category>
		<category><![CDATA[plagiat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=3116</guid>
		<description><![CDATA[WAAH &#8230;. SAYA KENA!
Kisahnya berawal dari film &#8220;Troy&#8221;. Film kolosal yang dibintangi Brad Pitt, Peter O&#8217;Toole, dan Orlando Bloom ini untuk ke sekian kalinya diputar ulang di sebuah stasiun teve swasta. Saya sudah mereview film ini pada posting saya Troy, Legenda Helen dan Kuda Troya pada tanggal 8 Mei 2008. Dan setiap kali film &#8220;Troy&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3116&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>WAAH &#8230;. SAYA KENA!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Kisahnya berawal dari film &#8220;Troy&#8221;. Film kolosal yang dibintangi Brad Pitt, Peter O&#8217;Toole, dan Orlando Bloom ini untuk ke sekian kalinya diputar ulang di sebuah stasiun teve swasta. Saya sudah mereview film ini pada posting saya <a href="http://tutinonka.wordpress.com/2008/05/08/troy-legenda-helen-dan-kuda-troya/">Troy, Legenda Helen dan Kuda Troya</a> pada tanggal 8 Mei 2008. Dan setiap kali film &#8220;Troy&#8221; diputar ulang, selalu posting lama ini kembali banyak dikunjungi orang. Biasanya mereka menemukan tulisan saya melalui <em>search</em> di Google, karena terkesan pada film &#8220;Troy&#8221; dan ingin memperoleh informasi lebih lanjut tentang film ini. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Nah, begitu pula yang terjadi pada tanggal 6 November 2009. Posting saya kembali ramai dikunjungi, dan beberapa menulis komentar. Di antara para pembaca yang menulis komentar, tersebutlah seorang blogger, sebut saja R. Ia kemudian juga mengundang saya untuk berkunjung ke blognya. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Oke, saya pun balas berkunjung ke blog R. Postingannya bagus-bagus, hampir semuanya berupa artikel ilmiah populer. Tapi alangkah kagetnya saya ketika membaca posting  <a href="http://klikkliks.co.cc/index.php/2009073116/misteri-piramida-part2.html">Misteri Piramida Part 2</a> , karena artikel itu sama persis dengan posting saya <a href="http://tutinonka.wordpress.com/2008/04/25/pyramida-jalan-menuju-surga-abadi/">Pyramida, Jalan Menuju Surga Abadi</a> tanpa menyebutkan sumbernya! Saking penasarannya, artikel tersebut saya <em>print</em> lalu saya cocokkan dengan posting saya. Betul-betul persis <em>plek</em> sampai ke titik komanya, hanya foto-foto di posting saya dihilangkan dan diganti sebuah gambar baru. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3117" title="pyramid1" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid1.jpg?w=150&#038;h=115" alt="pyramid1" width="150" height="115" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3118" title="pyramid2" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid2.jpg?w=126&#038;h=150" alt="pyramid2" width="126" height="150" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3119" title="pyramid3" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid3.jpg?w=131&#038;h=150" alt="pyramid3" width="131" height="150" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Beberapa foto yang ada di posting saya : pyramida, pekerja yang memotong batu penyusun pyramida, dan Raja Khufu&#8217; meninjau pembuatan pyramida</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ya ampun! Ini benar-benar plagiat tanpa tedeng aling-aling! Saya lalu menulis komentar di blog R :</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-3116"></span><span style="color:#0000ff;">Lho, tulisan ini kok mirip persis dengan posting saya di sini ya :  <a href="../2008/04/25/pyramida-jalan-menuju-surga-abadi/">http://tutinonka.wordpress.com&#8230;rga-abadi/</a></span></strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Tulisan di atas saya posting tanggal 25 April 2008. Mengapa tidak disebutkan sumber tulisan ini?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Apa jawaban R? Ini dia, saya kopi dari blognya :</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>sudah hmpir 2 thn ini saya sudah gak pernah update artikel,kecuali tip&amp;trik n download,artinya misteri piramida ini lbh dulu saya posting jd sebenarnya siapa yg menggandakan konten?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tulisan di atas juga dikopi-paste oleh R ke kolom komentar posting saya, pada artikel &#8220;Pyramida, Jalan Menuju Surga Abadi&#8221;. Atas komentar tersebut saya jawab demikian :</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Posting-posting di blog Ricky semuanya tak mencantumkan tanggal. Saya bukan ahli IT, jadi tidak tahu mengapa bisa begitu, sebab di blog-blog yang lain tanggal posting itu selalu muncul. </strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Saya lihat, Ricky juga tidak pernah mencantumkan sumber tulisan maupun sumber foto, padahal banyak artikel yang bersifat ilmiah dan tentunya diambil dari satu/beberapa sumber.</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Tapi sudahlah, saya tak mau menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat soal ini. Jika memang Ricky menganggap tulisan saya bagus dan ingin memuatnya di blog Ricky, silahkan saja. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>R membalas lagi, dengan komentar berikut :</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong><em>Tapi sudahlah, saya tak mau menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat soal ini. Jika memang Ricky menganggap tulisan saya bagus dan ingin memuatnya di blog Ricky, silahkan saja.</em>&lt;&lt;&lt;  lagian ibu sok usil n kepedean. ngotor2in jilbab aja</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Astaghfirullah!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya bengong membaca tulisan anak muda ini. Selama beberapa detik dada saya terasa sesak. Tapi kemudian saya hanya menggeleng-gelengkan kepala, dan tersenyum dengan takjub. Saya takjub pada &#8216;keberanian&#8217; R, yang sesudah &#8216;mencuri&#8217; tulisan saya, berbohong mengatakan ia sudah lebih dulu memposting artikel, memfitnah saya menggandakan tulisannya, lalu mengatakan saya sok usil, kepedean, dan ngotor2in jilbab &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saking takjubnya, akhirnya saya malah tertawa. Saya sok usil? Iya memang, saya memang suka usil ngerjain teman-teman dengan jawaban komentar yang seenak saya (maaf &#8230; hehe). Kepedean? Iya dong, kalau nggak pede, gimana saya bisa tampil mengajar mahasiswa di depan kelas? Ngotor-ngotorin jilbab? Mmm &#8230; kadang-kadang sih, kalau pas lapar dan terlalu bersemangat menyantap soto atau makanan berkuah lainnya &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Lalu saya berpikir : R ini baru pertama kali masuk ke blog saya. Dia tidak kenal siapa saya (ya&#8217;elah, emang siape gue?). Kalau saja dia tahu tentang saya sedikit saja, saya kira dia tidak akan menulis sekasar itu, bisa-bisa malah terpesona dan jatuh hati &#8230;.  (*jebret! semua pembaca langsung pindah ke blog lain dengan sebal*)<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Artikel <span style="color:#0000ff;">Pyramida, Jalan Menuju Surga Abadi</span> itu saya tulis berdasarkan VCD berjudul “Pyramid, Beyond Imagination”, produk BBC. Dan sumber itu saya tulis di posting saya. Saya menonton VCD tersebut, mencatat detail informasi yang disajikan, dan menuliskannya kembali dengan kalimat dan gaya bahasa saya sendiri. Semuanya asli saya tulis sendiri. Foto-foto saya ambil dari foto yang ada di cover VCD.<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3120" title="pyramid4" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid4.jpg?w=129&#038;h=150" alt="pyramid4" width="129" height="150" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3121" title="pyramid5" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid5.jpg?w=118&#038;h=150" alt="pyramid5" width="118" height="150" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3122" title="Pyramid &amp; Sphinx" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid-sphinx.jpg?w=150&#038;h=91" alt="Pyramid &amp; Sphinx" width="150" height="91" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Gambar dari kiri ke kanan : pekerja memasang batu terakhir di puncak pyramida, pekerja di dalam lorong pyramida, dan &#8230; singa berjilbab di depan sphinx dan pyramida &#8230; </span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya mencoba menganalisis, mengapa R begitu <em>keukeuh</em> mengatakan artikel itu adalah tulisannya? Bisa jadi, dia memang tidak mengkopi artikel tersebut dari blog ini. Bisa jadi, artikel saya dikopi orang lain, kemudian R mengkopinya dari orang lain tersebut, sehingga R berani sekali menuduh saya yang mengkopi &#8216;tulisannya&#8217; (catat : &#8216;tulisannya&#8217; dalam tanda petik).</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Soal hak cipta tulisan dan kopi-mengkopi ini sudah menjadi pertanyaan saya ketika pertama ngeblog. Bagaimana caranya membuktikan bahwa seseorang adalah penulis asli dari sebuah artikel? Dalam kasus R, semua postingnya tidak bertanggal, sehingga kita tidak tahu, kapan artikel tersebut diposting. Bahkan, dengan fasilitas edit, seorang blogger bisa mengubah isi posting lama dengan konten baru. Bisa saja misalnya, R menulis artikel tentang Piramida itu sebelum saya, tetapi kemudian dia membaca tulisan saya dan mengganti isi postingnya dengan tulisan saya. Maka yang terjadi adalah, postingnya memiliki tanggal lebih dulu dari tanggal posting saya. Jika sudah begini, bagaimana membuktikan siapa penulis asli sebuah artikel?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Maka akhirnya, kembali pada integritas kepribadian seorang blogger. Apakah ia memiliki kejujuran atau tidak. Saya pun tak mempermasalahkan lebih jauh jika tulisan saya diambil orang lain. Yaaah &#8230; hitung-hitung, berarti buah pikiran saya tersebar lebih luas jika lebih banyak orang memuat di blog mereka. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Lagipula, bukankah ilmu itu milik Tuhan? Kita hanya perantara saja, yang diberi kesempatan untuk sedikit memahaminya, jadi mengapa kita pelit-pelit amat dan ingin mengakuinya sebagai milik kita sendiri?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Sebenarnya, menuliskan sumber tulisan dalam artikel kita sama sekali tidak akan membuat kita kelihatan bodoh. Di dunia ilmiah, justru semakin banyak referensi yang kita pakai, semakin menunjukkan kita banyak membaca, dan tulisan kita semakin bisa dipercaya. Tidak mungkinlah kita menyimpan begitu banyak data dan fakta dalam memori otak kita, jadi tidak perlu malu kalau kita sebutkan bahwa kita mengambil data dari &#8216;buku itu&#8217; atau &#8217;situs ini&#8217;. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Artikel saya tentang mumi, <a href="http://tutinonka.wordpress.com/2008/03/20/menyapa-mumi-firaun-menatap-pyramida/">Menyapa Mumi Fir&#8217;aun, Menatap Pyramida</a> juga pernah dikutip oleh seorang penulis lepas harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta) tanpa menyebutkan artikel saya sebagai sumbernya. Penulis ini berdomisili di Kairo, jadi mungkin dia tidak menyangka bahwa saya tinggal di Yogya dan berlangganan harian Kedaulatan Rakyat yang memuat tulisannya. Saya yakin penulis ini mengambil dari tulisan saya, karena saya kenal betul kalimat yang saya tulis, misalnya :</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong> </strong><strong>Pembalutan itu adalah proses pengawetannya dahulu, dan sebagian memang masih ada. Sayangnya, di museum ini pengunjung dilarang keras membawa kamera, jadi kita tidak bisa memotret. Mungkin pengelola museum khawatir mumi-mumi itu akan menagih royalti kalau foto mereka tersebar ke seluruh majalah mode …</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong> </strong><strong>Rasanya sulit dipercaya </strong><strong> </strong><strong>ada dua orang bisa menulis kalimat yang persis sama secara kebetulan. Ketika saya mencoba mengirim email ke redaksi, email saya tak bisa masuk entah kenapa. Ya sudahlah &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong></strong><strong>Wah &#8230;. sepertinya saya kok bawel banget, mengadu soal ini kepada teman-teman. Sebenarnya bukan maksud saya berbawel-ria, hanya ingin minta pendapat saja, bagaimana sebaiknya kalau kita mengalami hal seperti ini?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong></strong><strong>Ada pendapat? Tengkiu temans &#8230; (*senyum manis &#8230; bleh!*)</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
Posted in Kontemplasi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/3116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/3116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/3116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/3116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/3116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/3116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/3116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/3116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/3116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/3116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3116&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/11/plagiat-dan-fitnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pyramid1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid2.jpg?w=126" medium="image">
			<media:title type="html">pyramid2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid3.jpg?w=131" medium="image">
			<media:title type="html">pyramid3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid4.jpg?w=129" medium="image">
			<media:title type="html">pyramid4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid5.jpg?w=118" medium="image">
			<media:title type="html">pyramid5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/pyramid-sphinx.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Pyramid &#38; Sphinx</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inilah Indonesia</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/09/inilah-indonesia/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/09/inilah-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 17:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan Yuuk ...]]></category>
		<category><![CDATA[Arsipel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Keprajuritan]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Imax Keong Emas]]></category>
		<category><![CDATA[TMII]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=3092</guid>
		<description><![CDATA[ARSIPEL, ANJUNGAN, DAN KEONG EMAS
Ini adalah tulisan ke tiga (dan terakhir) dari serial &#8216;dolan ke TMII&#8217;. Sebenarnya saya hanya berniat menulis dua artikel saja, karena khawatir teman-teman sudah bosan. Tapi melihat sambutan penggemar yang gegap gempita (yeee &#8230; bohooong!), dan setelah minta pertimbangan kepada para pinisepuh serta tetua adat, akhirnya saya memutuskan untuk menulis satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3092&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>ARSIPEL, ANJUNGAN, DAN KEONG EMAS</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ini adalah tulisan ke tiga (dan terakhir) dari serial &#8216;dolan ke TMII&#8217;. Sebenarnya saya hanya berniat menulis dua artikel saja, karena khawatir teman-teman sudah bosan. Tapi melihat sambutan penggemar yang gegap gempita (yeee &#8230; bohooong!), dan setelah minta pertimbangan kepada para pinisepuh serta tetua adat, akhirnya saya memutuskan untuk menulis satu artikel lagi. Lagi pula, bagian terpenting TMII, yaitu Arsipel, Anjungan Rumah Adat, dan Teater Imax Keong Emas justru belum saya tulis.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Miniatur Arsipel Indonesia adalah bangunan pokok TMII, berupa danau buatan dengan gugusan pulau-pulau yang membentuk Nusantara, dengan skala 1 : 10.000. Luas Arsipel mencapai 8,4 hektar. Danau ini kedalamannya hanya 0,6 meter di bagian tepi, dan 1,5 meter di bagian tengah, sehingga tidak bisa dipakai untuk bunuh diri (wong orang berdiri nggak kelelep). Meskipun demikian, kita bisa menjelajah dari pulau ke pulau dengan menaiki perahu angsa yang disediakan, seakan melayari lautan yang mengelilingi Indonesia. Di sekeliling danau terdapat <em>jogging track </em>sepanjang 2,5 km, dimana kita bisa berolah raga jalan kaki atau lari (kalau pengin banget, merangkak juga boleh, tapi jangan ngesot sebab bakal diprotes para suster &#8230; hihi)</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Di ujung timur danau, diapit anjungan Maluku dan Sulawesi Selatan serta berhadapan dengan Istana Anak Indonesia, terdapat Plaza Arsipel. Plaza seluas 2 hektar ini mulai digunakan pada tahun 2007, berada di lokasi yang dulu adalah Taman Anggrek. Taman Anggrek sendiri dipindahkan menjadi Taman Bunga Keong Emas. Plaza Arsipel memiliki panggung berukuran 18 x 20 meter, tribun, tata suara, tata cahaya, dan bisa menampung 10.000 penonton. Kalau mau dipakai untuk ajang Pesta Blogger, pasti muat &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3093" title="IMG_0681" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0681.jpg?w=448&#038;h=300" alt="IMG_0681" width="448" height="300" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Danau Arsipel Indonesia, dengan Plaza Arsipel dan Istana Anak Indonesia di sebelah timur.</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3094" title="IMG_0686" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0686.jpg?w=433&#038;h=336" alt="IMG_0686" width="433" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Sky Lift</em>, atau kereta gantung, membentang dari ujung barat sampai ke ujung timur Arsipel.</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dari kereta gantung kita bisa melihat miniatur Nusantara berupa Arsipel Indonesia, juga bangunan-bangunan lain yang ada di dalam TMII. Pada kunjungan yang ke dua tahun 2003, saya sempat naik <em>sky lift</em> ini. Woow &#8230; indah sekali menyaksikan Arsipel dari atas. Tapi bagi yang takut ketinggian, sebaiknya menutup mata jika naik kereta gantung ini (lho, jadinya lihat apa dong?).</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-3092"></span>Di sekeliling Arsipel Indonesia berderet anjungan rumah adat dari seluruh provinsi di Indonesia. Rumah-rumah ini dibuat dalam ukuran sebenarnya, bukan miniatur, sehingga kita bisa masuk ke dalam bangunan. Setiap rumah adat berisi benda-benda budaya dan perlengkapan yang biasa dipakai masyarakat tradisional dalam kehidupan sehari-hari, juga museum dan toko cindera mata khas daerah tersebut.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Beberapa anjungan berisi lebih dari satu bangunan, seperti misalnya di anjungan Provinsi Riau, terdapat empat rumah adat yang berbeda dari beberapa kabupaten. Di anjungan Sumatera Barat juga terdapat beberapa bangunan, demikian pula anjungan Sumatera Utara dan Aceh.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3096" title="IMG_0641" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0641.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_0641" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Bangunan utama di Anjungan Provinsi Riau, berupa bangunan tiga lantai dengan hiasan ukiran khas Riau. Kuning adalah warna khas Riau, sehingga dikenal ada lagu &#8220;Lancang Kuning&#8221; (Perahu Kuning)</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Koleksi yang terdapat di dalam anjungan Riau ini sebagian berupa properti baru yang didesain dan dibuat oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) pimpinan Mahyudin Al Mudra dari Yogyakarta (tentang balai kajian ini bisa dibaca di   <a href="http://tutinonka.wordpress.com/?s=Balai+Melayu%2C+Melabuh+Rindu+di+Rantau">Balai Melayu, Melabuh Rindu Di rantau</a> ), dan sebagian lagi merupakan benda-benda budaya asli (lama) yang dikumpulkan BKPBM dari berbagai pelosok negri. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3098" title="IMG_0649" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0649.jpg?w=419&#038;h=285" alt="IMG_0649" width="419" height="285" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Monumen berbentuk buku terbuka ini ukurannya sekitar 3&#215;4 meter, merupakan perwujudan Gurindam 12, sajak berisi &#8216;tunjuk ajar&#8217; yang sangat terkenal karya Raja Ali Haji dari Riau</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3099" title="IMG_0650" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0650.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_0650" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Pompa pengeboran minyak, yang sering disebut &#8216;pompa angguk&#8217; oleh masyarakat Riau. Minyak adalah sumber pendapatan terbesar Provinsi Riau.</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3097" title="IMG_0654" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0654.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_0654" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Rumah adat Sumatera Barat, seluruh dindingnya dipenuhi dengan ukiran kayu yang sangat indah.</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3100" title="IMG_0659" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0659.jpg?w=448&#038;h=288" alt="IMG_0659" width="448" height="288" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Berpose sejenak di pelaminan Sumatera Barat. Loh, mempelai prianya mana nih? Kabur? Wadooh &#8230; ada yang mau jadi sukarelawan nggak ya?</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3101" title="IMG_0664" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0664.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_0664" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Rumah adat Sumatera Utara. Motif ukirannya berbeda dengan motif ukiran rumah adat Riau dan Sumatera Barat.</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3102" title="IMG_0670" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0670.jpg?w=448&#038;h=259" alt="IMG_0670" width="448" height="259" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Emak-emak, pade nongkrongin siape? Brad Pitt? Ya owlooh &#8230; udah digaet Angelina Jolie,  Maaak !!</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3103" title="IMG_0678" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0678.jpg?w=448&#038;h=298" alt="IMG_0678" width="448" height="298" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Rumah adat Aceh dengan bangunan kecil yang unik</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tidak mungkin memuat semua foto rumah adat yang ada di TMII. Selain memang saya nggak punya fotonya lengkap (hehe &#8230; ngaku), juga posting ini akan jadi kayak album foto.  Jadi kalau mau lihat rumah-rumah adat yang lain, silahkan datang sendiri ke TMII. Pesan saya, pakailah sepatu atau sandal <em>flat </em>yang nyaman di kaki, jangan pakai <em>high heel </em>dari pada akhirnya jadi beban karena harus dijinjing &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Sebelum sampai ke Teater Imax Keong Emas, mampir dulu ke Museum Keprajuritan yuk. Isi museum ini adalah visualisasi perjuangan bangsa Indonesia dari abad VII sampai abad XIX. Pada bagian luar bangunan terdapat fragmen patung dan relief yang menceritakan sejarah keprajuritan, seperti Raden Wijaya mengusir tentara Cina tahun 1293 dan pertempuran di benteng Indrapuri (Aceh) tahun 1881. Di sekitar bangunan dipamerkan 23 patung pahlawan yang terbuat dari perunggu, antara lain patung Gadjah Mada, Pangeran Diponegoro, dan banyak lagi. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bangunan museum berbentuk benteng segi lima, lengkap dengan <em>bastion</em> di setiap sudutnya. Museum ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 5 Juli 1987. Meskipun sekarang nampak tua dan agak kurang terawat, tapi bentuk bangunannya masih gagah berwibawa. Ya iyalah &#8230; benteng militer gitu loh!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3104" title="IMG_1323" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1323.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1323" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Meskipun tampak tua dan kurang terawat, benteng Museum Keprajuritan ini masih menyisakan kegagahannya</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3105" title="IMG_1316" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1316.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1316" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Pintu masuk ke Museum Keprajuritan, tinggi dan kokoh.</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Halaman depan museum ini sangat luas. Dari gerbang masuk, kita harus berjalan cukup jauh untuk mencapai bangunan benteng. Dalam sengatan panas terik jam dua siang, saya dan Iin harus membulatkan tekad untuk melintasi jalan panjang menuju benteng (jika tekad benjol sedikit saja, pasti deh urung  &#8230; ). Di halaman depan sebelah kiri terdapat sebuah kapal Phinisi dan sebuah kapal Banten, yang diresmikan pada tanggal 3 Februari 2005. Kapal Phinisi dengan cat lambung dan layar berwarna putih ini dibuat dalam ukuran sebenarnya, dan pengunjung bisa masuk ke dalam kapal. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong> <img class="alignnone size-full wp-image-3108" title="IMG_1309" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_13091.jpg?w=448&#038;h=284" alt="IMG_1309" width="448" height="284" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Kapal Phinisi di Museum Keprajuritan, yang tidak mungkin lagi berlayar mengarungi samudera</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Kapal Phinisi adalah kapal layar tradisional khas Indonesia, yang dibuat oleh suku Bugis dan suku Makassar dari Sulawesi Selatan. Menurut naskah La Galigo (abad 14), Kapal Phinisi dibuat pertama kali oleh Sawerigading, putra mahkota Kerajaan Luwu, untuk berlayar ke Tiongkok melamar Putri We Cudai. Tapi jangan salah, makhluk gendut-item-jelek di depan kapal pada foto di atas sama sekali nggak mirip dengan We Cudai &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dari kapal Phinisi menuju ke benteng kita harus melewati jembatan goyang dengan pagar berupa seutas tali. Jembatan gantung dari papan-papan kayu ini selalu bergoyang riang jika ada orang lewat di atasnya, nggak peduli goyang dangdut, goyang reggae, atau goyang samba &#8230; hehehe &#8230; musti pandai-pandai menyeimbangkan badan!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3109" title="IMG_1314" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1314.jpg?w=448&#038;h=287" alt="IMG_1314" width="448" height="287" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Yaelaah &#8230; sempet-sempetnya eksyen di tengah goyangan. Di sebelah kiri tampak sebagian  lambung kapal Phinisi, sedangkan di belakang tampak kapal Banten. </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bangunan museum ini terdiri atas dua lantai, berbentuk segi lima dengan <em>void</em> (ruang terbuka) di tengah. Saya tak memperoleh data berapa ukurannya, yang jelas sangat besar. Di lantai dua, pengunjung dapat melihat diorama dan patung prajurit tradisional dari berbagai daerah dengan persenjataan mereka masing-masing. <em>Lay out </em>ruangan maupun benda-benda peragaan yang diatur secara sama (maklumlah, tentara kan harus serba seragam, kaku, dan disiplin &#8230;), membuat suasana terasa agak monoton.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ketika kami melihat-lihat isi museum di lantai atas, tak ada pengunjung lain sama sekali. Mula-mula saya tenang saja, tapi setelah melewati separuh luas bangunan, mulai muncul rasa seram. Patung-patung tua seukuran manusia dengan berbagai senjata terhunus yang kelihatannya lama tak tersentuh lap, dan suasana ruangan yang agak remang, membuat bulu kuduk mulai berdiri. Ketakutan saya pada dua hal : jika tiba-tiba patung-patung itu hidup dan bergerak, atau jika ada sekelompok orang jahat yang muncul dari balik deretan patung dan menyeret kami berdua ke balik ruangan. Adakah orang yang bisa mendengar teriakan kami (itu pun kalau kami sempat berteriak)? Maka, langkah kami semakin cepat. Srek &#8230; srek &#8230; srek &#8230; hanya suara sepatu kami yang terdengar menggesek lantai. Jeblaarr!! Sebuah jendela menutup karena tertiup angin keras, membuat ruangan semakin remang. <em>Come on</em> &#8230;. cepatlah sampai di ujung ruangan dan turun ke lantai bawah. Lariiii &#8230;. !!<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3110" title="IMG_1322" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1322.jpg?w=336&#038;h=448" alt="IMG_1322" width="336" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Hei patung, diem-diem aja ya &#8230; jangan bergerak, oke? Tombak di tanganmu itu panjang bener, ujungnya tajam pula!</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Aaah &#8230;. akhirnya tiba juga di Teater Imax Keong Emas. Gedung teater ini berbentuk keong raksasa berwarna kuning emas. Keong Emas sendiri adalah cerita rakyat, yang merupakan penjelmaan dari seorang putri cantik yang dikutuk penyihir jahat. Karena ketulusan cinta seorang pemuda gagah yang baik budi, akhirnya si keong bisa kembali ke wujud aslinya sebagai putri yang cantik. Klise? Ya begitulah, mau bagaimana lagi? Mosok keong emasnya berubah jadi kucing belang berkumis jarang dengan buntut panjang, bisa-bisa si pemuda berang dan membuangnya ke padang alang-alang &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Film pertama yang diputar di Teater Imax Keong Emas adalah &#8220;Indonesia Indah&#8221;. Kini film &#8220;Indonesia Indah&#8221; sudah terdiri atas 4 seri. Selain itu Teater Imax juga pernah menyewa film dari luar negri sebanyak 21 judul film, seperti &#8220;To Fly&#8221;, &#8220;The Dream Is Alive&#8221;, &#8220;To The Limit&#8221;, &#8220;The Living Sea&#8221;, dan sebagainya. Film impor yang sekarang masih diputar di Tater Imax adalah &#8220;Journey To Mecca&#8221; dan &#8220;Star Trex&#8221;. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Gedung teater ini memiliki tempat duduk kelas ekonomi sebanyak 920 kursi, dan 36 kursi VIP di balkon. Ukuran layarnya sangat besar, yaitu 21,5 meter x 29,3 meter. Layar ini melengkung, sedikit melingkupi penonton, sehingga ketika film sudah diputar kita seakan-akan masuk ke dalam film. </strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#666699;">Saya nonton di Teater Imax pada kunjungan pertama ke TMII, tahun 1978 (ya ampyuun &#8230;. sudah lama bangets!), kalau nggak salah film &#8220;To The Limit&#8221;</span>. </strong><span style="color:#666699;"><strong>Saya ingat betul, salah satu gambar dalam film ini diambil dari dalam pesawat terbang layang kecil, yang menyusuri tebing terjal di atas laut. Tiba-tiba pesawat menukik turun dengan sangat cepat ke permukaan laut. Saya, yang rasanya berada di dalam pesawat itu, menjerit dan hampir terjungkal dari kursi &#8230; !  Banyak penonton lain juga menjerit (jadi bukan cuma saya yang kaget &#8230; hehehe!). Saya pikir, mestinya kursi penonton diberi <em>seat belt</em> untuk memberi rasa aman, karena kemiringan antar baris kursi di depan dan di belakangnya cukup tinggi. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Kini Teater Imax Keong Emas sudah memiliki teknologi DMR (Digital Re-Mastering), teknologi revolusioner yang memungkinkan transfer film dari format 35mm ke dalam <em>Imax</em> <em>Experience </em>70mm. Dengan teknologi ini film-film Hollywood dapat diganda ulang secara digital, seperti film Star Trek yang sekarang sedang diputar di  Keong Emas (eh, masih nggak ya?).</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3111" title="IMG_0712" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0712.jpg?w=448&#038;h=318" alt="IMG_0712" width="448" height="318" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Saya nonton di Teater Imax Keong Emas tahun 1978, dan foto di atas dibuat tahun 2008 &#8230; 30 tahun kemudian! </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Apa daya, posting ini akhirnya menjadi cukup panjang. Tapi ini benar-benar posting terakhir saya tentang TMII (kecuali besok saya ke sana lagi dan pengin nulis obyek yang baru saya lihat &#8230; hehe). </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Semoga TMII terus dirawat dengan baik, terus meng-update koleksinya, dan selalu mengikuti kemajuan zaman, sehingga keberadaannya tetap menjadi kebanggaan bangsa.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">(Sumber : http://www.tamanmini.com, http://www.keongemas.com, Profil Museum Monumen dan Perpustakaan Pusjarah TNI)</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
Posted in Jalan-jalan Yuuk ...  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/3092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/3092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/3092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/3092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/3092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/3092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/3092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/3092/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/3092/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/3092/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3092&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/09/inilah-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0681.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0681</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0686.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0686</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0641.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0641</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0649.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0649</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0650.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0650</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0654.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0654</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0659.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0659</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0664.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0664</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0670.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0670</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0678.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0678</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1323.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1323</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1316.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1316</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_13091.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1309</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1314.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1314</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1322.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1322</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_0712.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0712</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadi Cinderella di Istana Boneka</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/06/jadi-cinderella-di-istana-boneka/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/06/jadi-cinderella-di-istana-boneka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 17:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan Yuuk ...]]></category>
		<category><![CDATA[Istana Boneka]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Listrik dan Energi Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Purna Bhakti Pertiwi]]></category>
		<category><![CDATA[TMII]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=3073</guid>
		<description><![CDATA[MENJELAJAH MUSEUM DAN ISTANA DI TMII
Bicara tentang TMII, apa boleh buat, kita tak bisa melupakan Presiden Soeharto dan Ibu Tien. Beliau berdualah penggagas miniatur Indonesia ini, dan pada masa pemerintahan Pak Harto pula TMII terus diperkaya dengan berbagai fasilitas serta koleksi baru. Salah satunya adalah Museum Purna Bhakti Pertiwi, yang terletak di bagian paling depan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3073&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>MENJELAJAH MUSEUM DAN ISTANA DI TMII</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bicara tentang TMII, apa boleh buat, kita tak bisa melupakan Presiden Soeharto dan Ibu Tien. Beliau berdualah penggagas miniatur Indonesia ini, dan pada masa pemerintahan Pak Harto pula TMII terus diperkaya dengan berbagai fasilitas serta koleksi baru. Salah satunya adalah Museum Purna Bhakti Pertiwi, yang terletak di bagian paling depan, sebelum masuk ke gerbang utama.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Museum Purna Bhakti Pertiwi berisi koleksi cindera mata Presiden Soeharto selama pengabdian beliau sebagai Presiden RI. Museum ini diresmikan pada tanggal 23 Agustus 1993, bertepatan dengan ulang tahun ke 70 Ibu Tien (kelak pada ultah ke 70, saya meresmikan apa ya &#8230; hihi). Bangunan Museum PBP berbentuk tumpeng besar setinggi 45 meter dikelilingi sembilan tumpeng kecil, dengan luas total bangunan 25.095 meter persegi, berdiri di atas tanah seluas 19,7 hektar (data <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Purna_Bhakti_Pertiwi">Wikipedia</a> ).</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Apa isi museum ini? Dengan segala permohonan maaf, saya terpaksa mengaku : tidak tahu, karena belum masuk ke dalam dan hanya memotret dari luar saja. Lain kali, kalau saya sudah masuk, saya pasti akan cerita (janji deh!). Sabar yaa &#8230; orang sabar kan disayang Tuhan. Atau, kalau ada di antara teman-teman yang sudah pernah masuk, share dong ceritanya kepada teman-teman yang lain. Honor? Ya&#8217;elaah &#8230; saya yang sudah nulis banyak aja nggak ada yang kasih honor, dan tetap bahagia &#8230;.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3074" title="IMG_1138" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1138.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1138" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Bangunan utama Museum PBP berbentuk satu tumpeng besar dikelilingi oleh banyak tumpeng kecil, simbol kemakmuran dan syukur dalam budaya Jawa</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3075" title="IMG_1139" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1139.jpg?w=448&#038;h=299" alt="IMG_1139" width="448" height="299" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Inovasi arsitektur bangunan yang unik, bentuk kubah dan segitiga a-simetris. Bangunan segitiga yang miring itu memang didesain demikian, bukan karena ambles setelah digoyang gempa &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Meskipun belum tahu isinya, keindahan dan keunikan bangunannya cukup menghibur dan menimbulkan rasa ingin tahu, kan?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Oke &#8230; lanjut ke museum lain yuuks!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-3073"></span>Ke Museum Listrik dan Energi Baru dulu deh. Bagi teman-teman yang suka kesetrum listrik &#8230; eh, suka ilmu Fisika, museum ini pasti sangat mengasyikkan. Meskipun bagi sebagian orang ilmu Fisika potensial membuat rambut brodol, kening berkerut lipat tujuh, dan guru secantik Cut Mini jadi tampak seperti Mak Lampir, di museum ini tersedia banyak alat peraga yang menarik dan mudah dioperasikan, yang mampu mengubah imej Fisika dari menyeramkan menjadi menyenangkan.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3076" title="IMG_1151" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1151.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1151" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Aduh, tampak depan bangunannya jauh banget dibandingkan Museum Purna Bhakti Pertiwi. Nggak papa deh, yang penting ada listriknya &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3077" title="IMG_1154" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1154.jpg?w=448&#038;h=318" alt="IMG_1154" width="448" height="318" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Ini contoh PLTA skala kecil. Pergerakan kincir oleh aliran air digunakan untuk memutar generator listrik, bisa juga untuk menumbuk padi (haiyaa &#8230; hari gini numbuk padi? udah pake mesin selep buuuk &#8230; !)</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3078" title="IMG_1158" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1158.jpg?w=448&#038;h=292" alt="IMG_1158" width="448" height="292" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Mesin disel merk Deutz Sultzer 85 KW ini buatan Jerman tahun 1926. Semula dipakai oleh perusahaan kopi milik veteran PD I keturunan Jerman. Pada kurun 1936 &#8211; 1974 disel ini digunakan PLN Sungai Penuh, Sumatera Barat</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3079" title="IMG_1174" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1174.jpg?w=336&#038;h=448" alt="IMG_1174" width="336" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">PWR (Pressurized Water Reactor) ini memiliki ukuran dengan skala 1 : 1, tingginya sekitar 7 meter. Reaktor Air Tekanan ini buat apa ya? </span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3080" title="IMG_1189" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1189.jpg?w=448&#038;h=226" alt="IMG_1189" width="448" height="226" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Panel-panel yang menjelaskan sejarah dan penemuan listrik, serta berbagai peralatan seperti Generator Van de Graff, Hukum Ohm, Magnet, dll &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3081" title="IMG_1193" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1193.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1193" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Di dalam Ruang Cerdas Energi ini terdapat berbagai permainan yang memperagakan prinsip-prinsip energi. Ruangannya bersih berkarpet, jadi kalau masuk harus melepas sepatu (apalagi kalau kita habis nyemplung sawah &#8230; )</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3082" title="IMG_1199" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1199.jpg?w=448&#038;h=289" alt="IMG_1199" width="448" height="289" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Prototype mobil listrik bernama Widya Wahana, karya mahasiswa  ITS Surabaya. Itu desainnya futuristik, aerodinamik, atau niru mouse ya &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Puas bermain listrik, kita main Cinderella-Cinderellaan di Istana Boneka. Nama wahana untuk anak ini sebenarnya Istana Anak Indonesia, tapi lebih dikenal dengan nama Istana Boneka. Sebenarnya agak aneh bangunan ini ada di TMII, karena sama sekali tidak berakar dari budaya Indonesia. Bentuknya yang bergaya Gothic nampaknya ditiru dari kastil-kastil di Eropa pada abad pertengahan. Memang indah, sangat indah, dan mampu membawa kita seolah masuk ke dunia dongeng Hans Christian Andersen (eh &#8230;.  anak-anak jaman sekarang masih kenal HC Andersen nggak sih?). Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah Indonesia tidak memiliki dongeng anak yang melegenda? Tentunya ada, bahkan buanyaak, dari seluruh Nusantara. Entah kenapa penggagas istana anak ini tidak mengambil salah satu legenda anak Indonesia, misalnya Timun Emas, atau yang lain.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Oke, protes sudah terlambat, wong istana sudah terlanjur berdiri dengan megah. Mari kita nikmati saja. Lupakan sejenak bahwa kita ada di Indonesia. Bayangkan bahwa kita adalah putri raja yang tinggal di kastil megah, menunggu seorang pangeran gagah yang akan datang dengan kuda putih dan melamar kita menjadi permaisurinya (weleh, weleh &#8230; cita-cita kok tradisional banget : jadi istri. Kenapa bukan kita saja yang jadi ratu, seperti Cleopatra dari Mesir atau Tribuana Tungga Dewi dari Majapahit?) </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Harus diakui, bangunan istana ini dibuat dengan sangat bagus. Detail arsitekturnya dikerjakan dengan halus dan rapi. Keramik berwarna merah bata yang melapisi seluruh bangunannya menimbulkan kesan kuno, sekaligus anggun dan megah. Hmm &#8230; siapa ya arsitek, kontraktor, dan tukang yang mengerjakannya? Pengin juga nih, punya istana serupa (haiyyaa &#8230; mimpi lo ye!). Saya jadi membayangkan, kalau diambil legenda Timun Emas, yang hidup bersama janda tua di hutan, memang agak susah membuat rumahnya kelihatan indah dan menarik untuk anak-anak &#8230; hehehe<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3084" title="IMG_1328" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1328.jpg?w=336&#038;h=448" alt="IMG_1328" width="336" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Di halaman depan istana, dengan boneka tikus merah dan kelinci oranye. Badan boneka yang empuk karena disumpal busa membuat Iin pengin memeluknya &#8230; </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Di halaman depan istana beberapa boneka yang lucu-lucu menyambut pengunjung, menawarkan diri untuk berfoto bersama. Semula kami agak ragu berdekatan dengan mereka, tapi ketika mereka membuka penutup kepalanya dan tampak bahwa mereka adalah ibu-ibu, kami tak ragu lagi. Iin pun tanpa sungkan-sungkan memeluk salah satu boneka tikus berwarna merah. Gemas sih dengan tubuhnya yang gendut dan empuk karena disumpal busa. Selesai berfoto-foto, mereka minta sekedar uang saku seikhlas hati pengunjung. Dengan senang hati saya memberikan selembar uang Rp. 20.000. Mereka sangat berterimakasih, dan saya pun senang. Seharian berpakaian seperti itu, di Jakarta yang panas, pasti bukan pekerjaan yang nyaman, kan? Dan keberadaan mereka sudah membuat hati pengunjung senang. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3085" title="IMG_1333" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1333.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1333" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Sisi dalam Istana Boneka. Woow &#8230;. siapa tak terpesona melihat keindahan dan kemegahannya?</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3086" title="IMG_1345" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1345.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1345" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Halaman dalam Istana Boneka yang luas memberi keleluasaan kepada anak-anak untuk bermain dan melakukan aktivitas fisik yang menyenangkan</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3088" title="IMG_1338" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1338.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1338" width="448" height="336" /><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Inilah Cinderella, yang menunggu Sang Pangeran datang menjemput dengan menaiki kuda putih &#8230;. </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dari Istana Boneka, kemana lagi? Oh, masih banyaaak. Ada Museum Keprajuritan, Museum Perangko, Museum Minyak, Theater Keong Mas &#8230;. waw, banyak lagi. Tapi posting ini sudah hampir mencapai 1000 kata, dan saya patuh pada komitmen semula untuk tidak menulis terlalu panjang.<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>So, tunggu posting berikutnya, oke?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
Posted in Jalan-jalan Yuuk ...  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/3073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/3073/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/3073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/3073/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/3073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/3073/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/3073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/3073/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/3073/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/3073/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3073&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/06/jadi-cinderella-di-istana-boneka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1138.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1138</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1139.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1139</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1151.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1151</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1154.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1154</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1158.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1158</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1174.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1174</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1189.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1189</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1193.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1193</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1199.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1199</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1328.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1328</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1333.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1333</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1345.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1345</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1338.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1338</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wisata Pintar di TMII</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/03/wisata-pintar-di-tmii/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/03/wisata-pintar-di-tmii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 17:17:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan Yuuk ...]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Transportasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pusat Peragaan IPTEK]]></category>
		<category><![CDATA[TMII]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=3045</guid>
		<description><![CDATA[MAIN GIROSKOP  SAMPAI NAIK SEPUR
Wisata ke TMII? Orang Jakarta, bahkan mungkin juga anda yang tinggal nun jauh dari ibukota, akan spontan berkomentar &#8216;jaduuul&#8230; !&#8217;
Memang, Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Timur ini sudah cukup sepuh. Gagasan pembangunan TMII dimunculkan oleh Ibu Tien Soeharto pada 13 Maret 1970. Meskipun gagasan untuk membuat sebuah miniatur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3045&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>MAIN GIROSKOP  SAMPAI NAIK SEPUR</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Wisata ke TMII? Orang Jakarta, bahkan mungkin juga anda yang tinggal nun jauh dari ibukota, akan spontan berkomentar &#8216;jaduuul&#8230; !&#8217;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Memang, Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Timur ini sudah cukup sepuh. Gagasan pembangunan TMII dimunculkan oleh Ibu Tien Soeharto pada 13 Maret 1970. Meskipun gagasan untuk membuat sebuah miniatur Indonesia yang menghimpun seluruh kekayaan bangsa Indonesia itu sangat visioner, pada waktu itu pembangunan TMII mendapat tentangan keras dari mahasiswa dan masyarakat. Masalahnya, biaya pembangunan TMII luar biasa besar, padahal ketika itu ekonomi Indonesia sedang terpuruk, rakyat sulit memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun demikian gagasan tersebut terus mengkristal dan pembangunan fisik dimulai pada tahun 1972. TMII yang mencakup lahan seluas 150 hektar diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1975.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Kini TMII sudah berusia 34 tahun. Setelah melewati sekian dasa warsa, terbukti TMII menjadi salah satu tujuan wisata yang diunggulkan dan paling banyak dikunjungi, dan menjadi &#8216;etalase&#8217; kekayaan budaya Indonesia terlengkap.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Selain memiliki anjungan dari seluruh provinsi di Indonesia, di TMII juga terdapat berbagai museum serta pusat informasi. Meskipun sudah berusia tua, apa yang terdapat di TMII masih relevan untuk diketahui seluruh anak bangsa, dan menyajikan sangat banyak informasi yang bernilai pendidikan.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Yuk kita lihat dua edutainment yang ada disana : Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Museum Transportasi.<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3047" title="IMG_1245" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_12451.jpg?w=448&#038;h=238" alt="IMG_1245" width="448" height="238" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Halaman depan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan <em>land mark</em> bola dunia (maap, ada yang numpang setor muka &#8230; )</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3048" title="IMG_1247" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1247.jpg?w=336&#038;h=448" alt="IMG_1247" width="336" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Monumen dengan gaya futuristik yang menarik, menyambut pengunjung di depan pintu masuk. Siapakah gerangan seniman pencipta karya indah ini?</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3049" title="IMG_1201" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1201.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1201" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Bagian depan <em>entrance</em>, cerah ceria seperti taman bermain anak-anak.</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini berisi lebih dari 250 alat peraga iptek interaktif. Woow! Tempat rekreasi edutainment yang sangat mengasyikkan. Apa saja sih isinya? Kita intip yuuuks &#8230; !</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-3045"></span><img class="alignnone size-full wp-image-3050" title="IMG_1202" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1202.jpg?w=336&#038;h=448" alt="IMG_1202" width="336" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;"><em>Main landing gear</em> pesawat terbang Airbus A-300 B4</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Menyambut pengunjung di bagian depan, terdapat <em>main landing</em> <em>gear</em> pesawat Airbus A-300 B4, salah satu tipe pesawat angkut komersial yang dipakai oleh Garuda Indonesia, <em>flag carrier </em>penerbangan nasional. Kenapa roda pesawat ini ada di PP Iptek? Habis ditambal karena bocorkah? Hmm &#8230; adakah orang yang bisa menjelaskan?<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Masuk ke dalam, di bagian kiri terdapat beberapa relief filsuf dan ilmuwan besar dunia, seperti Plato, Nicolas Copernicus, Sir Isaac Newton, dan Albert Einstein. Pasti kita semua sudah kenal mereka di sekolah dulu, kan? Kalau ada yang belum, atau lupa siapa orang-orang hebat ini, gampang saja : tanya ke Paman Google.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3052" title="IMG_1215" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1215.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1215" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Interior di bagian dalam, modern dan futuristik (ya iyalaah &#8230; mosok interiornya pakai ukiran Jawa, nggak matching lah!)</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Anda tahu bagaimana helikopter dapat berbelok di angkasa? Di PP Iptek ada alat peraga yang bisa menjelaskan hal itu, namanya giroskop. Cara mengoperasikannya gampang, dan siapa pun bisa mencobanya. Putar roda giroskop hingga berputar cepat, angkat roda, duduklah di kursi, lalu miringkan roda ke kiri atau ke kanan. Peragaan ini menunjukkan adanya gaya yang bekerja pada benda berputar, yang disebut efek giroskopi. Gaya ini yang menyebabkan landasan tempat duduk berputar, dan gaya ini pulalah yang membuat helikopter bisa berputar di angkasa. Ayo kita coba &#8230; !</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3053" title="IMG_1216" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1216.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1216" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Putar, putar, putar rodanya! Yeeeiy &#8230;. malah ketawa &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3054" title="IMG_1223" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1223.jpg?w=336&#038;h=402" alt="IMG_1223" width="336" height="402" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Mesin 6 silinder mobil BMW (eh &#8230; silindernya yang mana sih?)</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Mesin 6 silinder BMW memiliki getaran yang tenang dan halus, ringan, efisien dalam pembakaran, dan menghasilkan gas buang yang bersih sehingga ramah lingkungan. Ya iyalah, harganya muahaal <em>tauu</em> &#8230;. (lah, kenapa juga mesin mobil ini masuk ke sini ya?)</strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#666699;">Salah satu koleksi yang cukup menarik adalah pecahan roket yang jatuh di Gorontalo pada tanggal 26 Maret 1981. Berdasarkan lokasi orbit dan waktu jatuhnya, diduga benda ini adalah bagian dari motor roket Cosmos-3M, Space Launcher 8 (SL-8) 11K65M milik Rusia. Roket ini dipakai untuk meluncurkan satelit Interkosmos 20, sebuah satelit penginderaan jauh untuk penelitian laut dan permukaan bumi yang merupakan </span><span style="color:#666699;">kerjasama antara Uni Sovyet, Cekoslovakia, Jerman, Hungaria, dan Rumania.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#666699;"><br />
</span></strong></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3055" title="IMG_1232" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1232.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1232" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Ini bukan tong sampah rusak, tapi pecahan roket yang jatuh dari antariksa</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3068" title="IMG_1235" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1235.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1235" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Peragaan sistem kerja satelit komunikasi dari berbagai stasiun di bumi</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Untuk melihat dan mencoba semua alat peraga yang ada di PP Iptek ini, waktu satu hari pastilah tidak cukup. Jadi jika ingin menjadi pintar, memang butuh waktu tak sebentar untuk belajar!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Oke, pintar memang harus, tapi jalan-jalan juga penting, jadi mari kita teruskan menjelajah ke Museum Transportasi. Museum ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 april 1991. Isi museum adalah berbagai alat transportasi yang pernah ada di Indonesia, mencakup transportasi darat, laut dan udara. Lucu, tapi mengasyikkan juga melihat berbagai alat transportasi kuno yang ada di sana, serasa dibawa ke masa puluhan tahun silam. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3057" title="IMG_1269" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1269.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1269" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Museum Transportasi, membawa kita mengenang kembali cara orang bepergian di masa lalu </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Begitu masuk, kita akan menemukan sebuah lokomotif yang sangat tua. Menurut tulisan yang terdapat di dinding loko, lokomotif ini buatan Henschel &amp; Sohn, Cassel Lokomotieffabriek tahun 1911, Hoofdagenten Voor N.O.J.  My voor smalspoorwegen Berlyn &#8211; Samarang &#8230; Lhoo??!! Apakah sepur ini doeloe punya trayek antara kota Berlin dan Semarang? Heeelllpppp &#8230; ada yang bisa bahasa Belanda?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3058" title="IMG_1275" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1275.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1275" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Naik kereta api &#8230; tut &#8230; tut &#8230; tut &#8230;  hei, awas jatuh! Kotak merah di samping masinis centil itu bertuliskan keterangan pembuatan loko dalam bahasa Belanda</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Selain lokomotif buatan tahun 1911 di atas, terdapat rangkaian kereta api yang juga sangat jadul, berwarna hitam kelam dengan lokomotif bertenaga uap. Rangkaian kereta api ini diset-up seperti di Museum Kereta Api Ambarawa. Eksotik dan romantis sekali untuk lokasi pemotretan <em>pre wedding </em>(hallo &#8230; yang mau married!). </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3060" title="IMG_1288" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_12881.jpg?w=448&#038;h=247" alt="IMG_1288" width="448" height="247" /><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Ini kereta sudah tua beneran, beberapa bagian sudah keropos dan berbunyi keriut-keriut ketika diinjak, sehingga saya takut naik ke atas &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Nah, bagi para Engkong, Nyak dan Babe zaman doeloe, bisa naik Si Jangkung Merah pastilah menjadi kebanggaan tak terkira. Gimana enggak, bus tingkat buatan Leyland, Inggris yang memiliki rute Blok M &#8211; Salemba &#8211; Senen ini keren banget, dan di jaman itu hanya ada beberapa buah saja. Bus berwarna merah ini adalah bus tingkat pertama milik PPD (Perusahaan Pengangkutan Djakarta). </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3061" title="IMG_1292" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1292.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1292" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Senen, Senen, Senen &#8230;!! (Senen mulu, kapan Selasanya?). Ayo cepat, cepat! Yang di dalam maju sedikit! Kasih tempat, kasih tempat! Tariiiik &#8230;!</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Di halaman depan museum, teronggok dengan megah (haiyah, teronggok kok megah &#8230; ) sebuah pesawat jet Douglas DC 9-32 milik Garuda Indonesia. Pesawat ini memiliki kapasitas 102 penumpang dan diawaki oleh 6 kru. Kecepatan maksimumnya 350 KTS dengan altitude tertinggi 9.144 meter. Ketika membeli tiket masuk, penjaga tiket menanyakan apakah kami akan masuk ke pesawat. Langsung saya jawab &#8216;iya dong&#8217;. Kalau begitu kami harus beli tiket tambahan, harganya seribu rupiah. Okay, no problem. Murah banget, naik pesawat kok cuma seribu. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Setelah meninggalkan loket dan masuk ke dalam, Iin, keponakan saya yang setia ngintil kemana-mana itu, bertanya dengan heran, &#8216;Bulik kan sudah sering naik pesawat beneran, ngapain naik pesawat mogok?&#8217;. Saya tertegun, lalu ketawa geli &#8230;. hehehe &#8230; hiya yaaa? Tapi karena sudah terlanjur beli tiket, ya sudah, naik aja.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong> Ternyata, oh ternyata &#8230;. di dalam pesawat terbang yang tak lagi bisa terbang itu udara sangat pengap (maklum ACnya sudah dicopot). Kursi pun sebagian sudah dilepas, dan pramugari yang ada menyambut kami dengan dingin dan kaku (maklum terbuat dari triplek &#8230;)</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3063" title="IMG_1259" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_12591.jpg?w=448&#038;h=300" alt="IMG_1259" width="448" height="300" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Selamat datang, welcome, sugeng rawuh &#8230; nyamankah diri anda, enjoy your self, dipun sekeca&#8217;aken &#8230;</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Selamat datang di dalam pesawat Garuda Indonesia. Kepada para penumpang kami persilahkan untuk segera menggelar tikar serta membuka bekal makanan masing-masing. Kami menyediakan kartu gaple, halma, ataupun dadu utuk judi koprok bagi penumpang yang menginginkan. Sabung ayam tidak dianjurkan, karena kalau ayamnya lepas ke luar dari pesawat, akan sulit menangkapnya lagi. Kepada para pedagang asongan, kami persilahkan untuk menawarkan jualan dengan jujur dan sopan.  Terbanglah bersama Garuda. Kami bangga melayani anda &#8230; (weleh weleeh &#8230; !) </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3064" title="IMG_1273" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1273.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1273" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Udara dan darat berpacu, siapa yang sampai lebih dulu? </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3065" title="IMG_1252" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1252.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1252" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Warna oranye yang keren, tapi semoga saya tak perlu naik helikopter SAR ini, kecuali sebagai anggota tim penolong &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3066" title="IMG_1302" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1302.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1302" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Lampu mercusuar ini buatan tahun 1879, Onder de Regering Van Z.M. Willem III. Tak disebutkan di pelabuhan mana lampu ini pernah dipasang, yang jelas cahayanya telah menuntun arah pulang bagi jutaaan pelaut ke pelukan keluarga yang menantinya &#8230; </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3067" title="IMG_1304" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1304.jpg?w=448&#038;h=300" alt="IMG_1304" width="448" height="300" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Kereta api Kepresidenan RI ini digunakan oleh Presiden dan Wakil Presiden pada waktu Pemerintah RI hijrah dari Jakarta ke Jogjakarta. Dibuat oleh bengkel kereta Staatspoorwegen di Bandung tahun 1919</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Masih sangat banyak yang ingin saya ceritakan tentang isi TMII, yang bukan saja atraktif, inspiratif, dan rekreatif, tetapi juga edukatif. Tapi &#8230; lagi-lagi saya harus patuh pada batasan panjang tulisan &#8230; huff!! </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Oke, kita sambung di posting berikutnya saja deh &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
Posted in Jalan-jalan Yuuk ...  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/3045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/3045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/3045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/3045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/3045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/3045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/3045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/3045/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/3045/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/3045/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3045&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/11/03/wisata-pintar-di-tmii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_12451.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1245</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1247.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1247</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1201.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1201</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1202.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1202</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1215.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1215</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1216.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1216</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1223.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1223</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1232.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1232</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1235.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1235</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1269.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1269</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1275.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1275</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_12881.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1288</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1292.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1292</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_12591.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1259</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1273.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1273</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1252.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1252</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1302.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1302</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/11/img_1304.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1304</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harkat Perempuan</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/28/harkat-perempuan/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/28/harkat-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 08:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu-isu Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[hymenoplasti]]></category>
		<category><![CDATA[kesucian wanita]]></category>
		<category><![CDATA[selaput dara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=3034</guid>
		<description><![CDATA[HYMENOPLASTY DAN SELAPUT DARA PALSU, SIAPA MAU?
Mungkin banyak di antara kita yang tidak keberatan memakai barang palsu, seperti sepatu atau tas bermerk palsu, rambut palsu, sampai kecantikan palsu hasil polesan kosmetik. Tapi bagaimana dengan selaput dara palsu?
Selaput dara palsu? Ya ampuun &#8230; 
Hymen atau selaput dara adalah bagian yang paling sensitif dari tubuh perempuan. Membran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3034&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>HYMENOPLASTY DAN SELAPUT DARA PALSU, SIAPA MAU?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Mungkin banyak di antara kita yang tidak keberatan memakai barang palsu, seperti sepatu atau tas bermerk palsu, rambut palsu, sampai kecantikan palsu hasil polesan kosmetik. Tapi bagaimana dengan selaput dara palsu?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Selaput dara palsu? Ya ampuun &#8230; </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><em>Hymen</em> atau selaput dara adalah bagian yang paling sensitif dari tubuh perempuan. Membran tipis ini selalu dijadikan simbol moralitas, harkat dan kesucian perempuan. Meskipun demikian, rusaknya selaput dara tidak selalu karena tindak a-susila, bisa juga karena olah raga, kecelakaan, atau sebab yang lain. Rusaknya selaput dara karena tindak seksual pun bisa terjadi akibat perkosaan, dimana perempuan bukan menjadi pelaku, melainkan korban. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Apapun sebab rusaknya selaput dara, sebagian besar pria (di masyarakat Timur) masih menginginkan istri dengan selaput dara utuh. Ini adalah realita. Dan realita ini yang menyebabkan produk selaput dara palsu laris manis. Mungkin pepatah &#8216;laris bak pisang goreng&#8217; akan berubah menjadi &#8216;laris bak selaput dara palsu&#8217; &#8230; </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ini tragedi bagi perempuan.</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3043" title="hymen bunga mawar" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/hymen-bunga-mawar2.jpg?w=211&#038;h=182" alt="hymen bunga mawar" width="211" height="182" /><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Kesucian ibarat bunga, yang indah namun rapuh, sehingga harus dijaga agar tidak rontok kelopaknya sebelum dipetik oleh yang berhak (foto : diedit dari Kompas.com)</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-3034"></span>Rusaknya selaput dara karena olah raga, kecelakaan, atau perkosaan adalah kondisi yang tidak berkaitan dengan moral dan susila, sehingga kita pasti sepakat untuk menerimanya dengan lapang dada, bahkan simpati dan empati kepada perempuan yang mengalaminya. <em>No more discuss for that</em>. Tapi bagaimana dengan selaput dara yang rusak karena tindak a-susila pemiliknya? </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ketika seorang gadis melakukan hubungan tak halal yang mengakibatkan selaput daranya rusak, sudah pasti dia &#8212; pada saat itu &#8212; tak bermoral (juga laki-laki yang menjadi pasangannya!!). Tapi tidak lantas berarti selamanya ia adalah insan tak bermoral. Andaikan seorang perempuan hidup selama 70 tahun, dan ia melakukan kekhilafan selama 2 &#8211; 3 tahun, lalu selebihnya meniti jalan lurus, apakah adil menjadikan kurun 2 &#8211; 3 tahun itu untuk menilai moralitasnya?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tentu masalahnya sangat berbeda jika perempuan tersebut memiliki perilaku pergaulan bebas yang memang sudah menjadi karakternya.<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Masyarakat menilai bahwa kegadisan adalah simbol moralitas yang tak bisa ditawar. Suami yang mendapati istrinya sudah tidak gadis lagi, seringkali merasa berhak menghukum dengan melakukan apapun, termasuk melakukan kekerasan fisik (menyiksa badan) maupun kekerasan mental (menghina, mengintimidasi), hingga menceraikan. Di satu sisi, sikap suami yang seperti itu bisa dipahami (bukan diterima!) karena ia merasa dibohongi, tetapi di sisi lain, memperlakukan istri dengan semena-mena adalah melanggar hak azasi dan kemanusiaan sang istri.<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-3037" title="IMG_2034" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2034.jpg?w=300&#038;h=214" alt="IMG_2034" width="300" height="214" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Keharmonisan suami-istri akan tercipta jika kedua belah pihak jujur dan bisa menerima kondisi pasangan apa adanya (foto : tabloid Nova, diperankan oleh model)</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Yang terbaik memang menceritakan kondisi sebenarnya secara jujur, sebelum seorang gadis (yang sudah tidak gadis lagi) akan menikah dengan seorang pria. Tetapi inipun bukan pilihan yang mudah dan tanpa resiko. Tidak mustahil, sang pria tak bisa menerima kondisi calon istrinya dan membatalkan pernikahan. Itulah sebabnya tidak sedikit perempuan mau melakukan tindakan apapun untuk bisa &#8216;mengembalikan&#8217; kegadisannya, baik dengan operasi selaput dara (<em>hymenoplasty</em>), dan yang sekarang sedang heboh adalah dengan memakai selaput dara palsu &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dr. Boyke Dian Nugroho, Sp.OG, MARS, pakar seksologi dan ginekologi dari Klinik Pasutri, mengaku bahwa ia sangat selektif melakukan <em>hymenoplasty</em> kepada gadis yang selaput daranya rusak akibat hubungan seksual. Pasien harus menandatangani surat perjanjian bahwa ia hanya akan satu kali saja melakukan <em>hymenoplasty</em>, tidak akan melakukan hubungan seksual pranikah lagi, dan operasi itu dilakukan dengan sepengetahuan orang tuanya. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Mengapa Dr. Boyke mau melakukan <em>hymenoplasty</em>? Apakah berarti ia menyetujui adanya &#8216;pembohongan&#8217;? Dokter gaul yang juga selebritis ini mengatakan, &#8220;Kasihan kalau kelak setelah menikah ia diceraikan suaminya. Ada juga pasien yang sudah tiga kali gagal menikah setelah mengatakan dengan jujur kondisinya. Buat saya, bisa membuat seorang wanita tidak diusir atau diceraikan suami, sangat melegakan.&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-3038" title="IMG_2033" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2033.jpg?w=224&#038;h=300" alt="IMG_2033" width="224" height="300" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Dr. Boyke Dian Nugraha, ahli merangkai kembali &#8216;kelopak bunga yang sudah rontok&#8217; &#8230;  (foto : tabloid Nova)</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><em>Hymenoplasty </em>sendiri hanya berlangsung selama 15 &#8211; 20 menit dengan pembiusan lokal hingga pasien tak perlu menginap. Semakin muda usia pasien, dan semakin jauh jarak waktu operasi dengan pernikahan, makin bagus hasilnya. Biaya operasinya pun relatif tak terlalu mahal, antara Rp. 1 juta hingga Rp. 5 juta.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Menurut dokter bersuara merdu yang sudah menelurkan album rekaman lagu ini, berdasarkan penelitian, 70 &#8211; 80 persen pria menginginkan istrinya masih perawan saat menikah, padahal ia sendiri belum tentu masih perjaka. Ini suatu ketidakadilan. Itulah sebabnya untuk beberapa kasus, ia mau membantu.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bagaimana dengan selaput dara palsu yang berasal dari Cina dan Jepang? Seorang penjual yang memasarkan produk dari Jepang mengatakan, harganya berkisar antara Rp. 300 ribu hingga Rp. 1 juta rupiah. Setiap kemasan berisi dua buah, satu untuk percobaan (haiyah, pakai percobaan pula!) dan satu lagi untuk dipakai pada hari-H (malam pengantin). Bahannya seperti membran, tinggal ditempel saja. Jika robek, membran ini akan mengeluarkan &#8216;darah&#8217; (sudah pasti darah palsu, namanya juga selaput dara palsu &#8230; )<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-3039" title="IMG_2035" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2035.jpg?w=300&#038;h=213" alt="IMG_2035" width="300" height="213" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Sumpe, ini bukan bubuk bumbu mie instan, tapi selaput dara palsu. Karena &#8216;palsu&#8217;, ya tidak bisa dibuktikan keasliannya. Percaya aja deh &#8230; (foto : tabloid Nova)</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Harga <em>hymenoplasty </em>ataupun <em>hymen</em> palsu tidak mahal, tetapi harkat perempuan sangatlah mahal. Menjaga kesucian diri harus dilakukan seumur hidup, bukan hanya ketika seorang perempuan masih berstatus gadis dan masih dituntut untuk memiliki selaput dara utuh. Perempuan yang sudah menikah lebih-lebih lagi harus menjaga ketat harkat dan kehormatannya. Ada yang beranggapan, justru karena punya suami, seorang perempuan memiliki &#8216;keleluasaan&#8217; untuk melakukan hubungan tak halal, sebab jika &#8216;berbuah&#8217; pun, toh ada suaminya. Sebuah anggapan yang benar-benar sesat!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Setiap manusia bisa khilaf, baik laki-laki maupun perempuan, dan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kekhilafan tersebut. Tetapi, lebih baik berhati-hati dan selalu mawas diri sebelum kekhilafan terjadi &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">(sumber : Tabloid Nova &amp; Kompas.com)</span></p>
Posted in Isu-isu Perempuan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/3034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/3034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/3034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/3034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/3034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/3034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/3034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/3034/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/3034/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/3034/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3034&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/28/harkat-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/hymen-bunga-mawar2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hymen bunga mawar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2034.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2034</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2033.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2033</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2035.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2035</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kencan</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/24/kencan/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/24/kencan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 22:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Haloo Kawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=3026</guid>
		<description><![CDATA[SORE YANG MENGESANKAN
Seorang perempuan bersuami kencan dengan dua pria beristri di sebuah hotel.
Bagaimana kesan anda jika membaca berita seperti itu? Sereeem &#8230; ! Dan bagaimana kalau perempuan itu adalah saya? Hiyaa!!
Ini serius. Beneran. Saya kencan dengan dua pria, yang satu setengah baya umur 45-an, yang satu lagi lebih muda, baru 35-an. Dua-duanya ganteng (paling nggak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3026&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>SORE YANG MENGESANKAN</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Seorang perempuan bersuami kencan dengan dua pria beristri di sebuah hotel.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bagaimana kesan anda jika membaca berita seperti itu? Sereeem &#8230; ! Dan bagaimana kalau perempuan itu adalah saya? Hiyaa!!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ini serius. Beneran. Saya kencan dengan dua pria, yang satu setengah baya umur 45-an, yang satu lagi lebih muda, baru 35-an. Dua-duanya ganteng (paling nggak mereka merasa dan ngaku begitu &#8230; hihi). Kencannya di sebuah hotel bintang empat di Yogya.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Maka sore itu, Jum&#8217;at 23 Oktober, saya bersiap-siap untuk bertemu dengan kedua kencan saya. Deg-degan, dan juga tak sabar menunggu waktu yang dijanjikan. Sudah pasti saya berdandan dengan sebaik-baiknya. Tapi bagaimanapun saya mencoba mempercantik diri, hidung saya tetap saja duduk bersila tak mau tegak, dan mata saya tetap saja cuma dua (hihi &#8230; emang pengin punya mata berapa?)</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya masuk dengan anggun (bleh &#8230; ) ke lobby hotel sepuluh menit lebih lambat dari waktu yang dijanjikan. Saya tebarkan pandangan ke segenap sudut lobby yang luas dan mewah itu, tapi dua pria kencan saya belum kelihatan wajah gantengnya. Oke, saya akan tunggu saja sambil mencoba mengontak mereka melalui hape. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Baru saja akan duduk di sebuah kursi, ada suara menyapa saya :</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>&#8220;Bu Tuti?&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya menoleh, dan &#8230;. yuhuuu, kencan saya yang satu, pria setengah baya yang hebat bukan main itu, berdiri di sana dengan senyum terkembang yang mempesona. Saya pun tersenyum menyapanya, lalu kami pun duduk di sebuah sudut yang nyaman. Meskipun sudah sangat mengenal beliau, ini adalah pertemuan pertama saya dengan bapak tiga putra itu. Kami pun langsung ngobrol dengan akrab, seperti sudah kenal bertahun-tahun.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pria kencan saya yang kedua muncul beberapa menit kemudian. Woow &#8230; dia datang bersama istrinya yang cantik. Saya menyambut dengan gembira, karena saya kenal dengan sang istri dan sudah beberapa kali bertemu. Ha! Maka obrolan pun berlanjut dengan ramai di antara kami berempat.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pengin tahu, siapa dua pria yang berkencan dengan saya sore kemarin ?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-3026"></span></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3027" title="Copy of IMG_2025" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/copy-of-img_2025.jpg?w=499&#038;h=354" alt="Copy of IMG_2025" width="499" height="354" /><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Om Trainer alias Om NH18, saya, Uni Icha (istri Uda Vizon), dan Uda Vizon. </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ya! Kedua pria itu adalah <a href="http://theordinarytrainer.wordpress.com/">Om Trainer</a>, bloger paling top dengan posting-postingnya yang lucu menyegarkan, dan <a href="http://hardivizon.com/2009/10/24/beauty-of-blogging/#more-1171">Uda Vizon</a>, ustadz yang selalu memberikan pencerahan batin dengan tulisan-tulisannya yang santun, sarat renungan religius serta kemanusiaan. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Benar-benar kejutan bahwa Om Trainer tiba-tiba ada di Yogya, dan menyediakan waktu untuk bertemu dengan Uda Vizon dan saya. Maklum, Om yang satu ini sangat sibuk, dan pada berbagai kesempatan kopdar sebelumnya, tidak pernah bisa hadir. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Obrolan kami pun mengalir kemana-mana. Sudah pasti topiknya adalah seputar teman-teman bloger yang sama-sama kami kenal : Mbak Imelda, Lala, Bro Neo, Afdhal, Daniel Mahendra, Bang Hery Azwan, Nana Harmanto, Donny Verdian, Yessy, Eka, Ria, Bu Dyah Suminar, Marsmallow,  &#8230;.. dan buanyaak lagi. Dari obrolan ini, tanpa sengaja terungkap juga beberapa &#8216;rahasia&#8217; di antara para bloger, misalnya : ternyata si Anu adalah pasangan si Inu, si Ona kayaknya menjalin hubungan khusus dengan si Oni, si Ina ternyata adalah ngngng &#8230;  Weissy, tapi bukan gosip kayak di infotainmen kok. Hanya pembicaraan yang membuat kami jadi lebih mengenal teman-teman bloger yang lain.<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pertemuan yang sangat menyenangkan, yang harus berakhir karena adzan Maghrib tiba, dan Om Trainer akan segera ada acara lain. Semoga bisa bertemu kembali di lain waktu dan lain kesempatan, dengan teman-teman bloger yang lebih banyak lagi!</strong></span></p>
Posted in Haloo Kawan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/3026/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/3026/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/3026/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/3026/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/3026/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/3026/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/3026/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/3026/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/3026/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/3026/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3026&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/24/kencan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/copy-of-img_2025.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Copy of IMG_2025</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nonton Dwiki</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/23/nonton-dwiki/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/23/nonton-dwiki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 17:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik & Lagu]]></category>
		<category><![CDATA[Dwiki Dharmawan]]></category>
		<category><![CDATA[konser musik]]></category>
		<category><![CDATA[World Peace Orchestra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=3002</guid>
		<description><![CDATA[KONSER WORLD PEACE UNTUK KOMODO
Tanggal 17 Oktober kemarin saya dihadapkan pada dua pilihan yang benar-benar sulit, rumit, dan menjepit (lebay buuk &#8230; !). Pilihan pertama adalah nonton Jogja Java Carnival, dalam rangka ulang tahun kota Jogja, yang memang sudah saya tunggu-tunggu. Pilihan kedua adalah nonton konser World Peace Orchestra pimpinan Dwiki Dharmawan yang digelar dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3002&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>KONSER WORLD PEACE UNTUK KOMODO</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tanggal 17 Oktober kemarin saya dihadapkan pada dua pilihan yang benar-benar sulit, rumit, dan menjepit (lebay buuk &#8230; !). Pilihan pertama adalah nonton Jogja Java Carnival, dalam rangka ulang tahun kota Jogja, yang memang sudah saya tunggu-tunggu. Pilihan kedua adalah nonton konser World Peace Orchestra pimpinan Dwiki Dharmawan yang digelar dalam rangka dies natalis UGM yang ke-60. Dua-duanya menarik dan ingin saya tonton.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Coba, bingung kan?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Setelah mempertimbangkan masak-masak (masaknya 7 hari 7 malam, sampai kering kayak rendang), dengan berat hati saya memilih nonton Dwiki. Pertimbangan saya, belum tentu ada kesempatan lain nonton konser Dwiki. Apalagi konser ini didukung bintang-bintang yang cukup menyilaukan seperti Kris Dayanti, Dewa Budjana, Steve Thornton (Amerika), Anggito Abimanyu, Butet Kertaradjasa, Singgih Sanjaya, Paduan Suara UGM, dan bintang-bintang lain yang belum begitu dikenal (tapi setelah saya tonton penampilannya, ternyata tak kalah cemerlang sinarnya).</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3005" title="IMG_2017" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2017.jpg?w=390&#038;h=336" alt="IMG_2017" width="390" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Maka, pada hari Jum&#8217;at siang, sehari sebelum konser digelar, saya pergi ke radio Swaragama, salah satu <em>ticket box</em> konser, untuk mencari (eh, membeli ding &#8230;) tiket.  Yaaah &#8230; karena sudah hari terakhir, tiket yang tersisa tinggal VIP B, seharga Rp. 100.000,-. Dengan memecah celengan saya masih bisa sih bayar tiketnya, tapi posisi duduknya itu lho! VIP B ini ada di belakang dan di samping. Masih lebih nyaman duduk di kelas festival yang tiketnya cuma Rp. 40.000,- karena tempatnya di tribun yang tinggi, sehingga pandangan ke panggung lebih leluasa.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Apa hendak dikata. Itulah risikonya terlalu lambat mengambil keputusan. Cepat dan tepat, harusnya kan begitu &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-3006" title="IMG_2024" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2024.jpg?w=300&#038;h=173" alt="IMG_2024" width="300" height="173" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Tiket yang diperoleh pada saat-saat terakhir &#8230; </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bagaimana jalannya konser yang telah berhasil merebut saya (haiyah!) dari Jogja Java Carnival ini? Yuuuk &#8230;.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-3002"></span></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Konser yang molor 45 menit (selaluuu deh begitu, jam karet!) dibuka dengan tembang oleh pesinden asal Solo, Peni Candrarini. Peni menempuh pendidikan S1 dan S2 dalam bidang Karya Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Ia ikut mendukung pagelaran <span style="color:#0000ff;">I La Galigo</span>, drama epik-klasik dari Sulawesi Selatan di Singapura, Australia, Belanda, Spanyol, dan Amerika Serikat. Dwiki telah beberapa kali mengajaknya mendukung tour Krakatau, antara lain ke China dan Mexico. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3007" title="IMG_2015" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2015.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2015" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Peni Candrarini, solo sinden yang suaranya mengalun dalam iringan musik Dwiki</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3003" title="IMG_2006" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2006.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2006" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">World Peace Orchestra dan Paduan Suara UGM dengan <em>conductor</em> Dwiki Dharmawan, tampil apik &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Konser di-MC-in Ninda Nindiani, MC terbaik di Jogja yang telah memiliki pengalaman luas di dunia per-MC-an, nasional maupun internasional. Ninda juga seorang presenter televisi, dan trainer <em>public speaking</em> serta pengembangan diri. Ia mendapatkan beasiswa British Chevening Awards untuk studi S2 di International Broadcast Journalism, University of Central England, Birmingham. Kebetulan saya mengenalnya secara pribadi, dan percayalah pada saya : Mbak Ninda tidak hanya cantik dan cerdas, tapi juga sangat santun, ramah, dan rendah hati. <em>I am an admirer of her</em> . Dia juga menuliskan pengalamannya yang segudang di dunia MC dan <em>public relation</em> di blognya, <a href="http://nindajogja.com/">nindajogja.com</a> , antara lain ketika ia mewawancarai Presiden SBY.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-3008" title="IMG_2023" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2023.jpg?w=259&#038;h=300" alt="IMG_2023" width="259" height="300" /> <img class="alignnone size-medium wp-image-3009" title="IMG_2004" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2004.jpg?w=193&#038;h=300" alt="IMG_2004" width="193" height="300" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Ninda Nindiani : cantik, cerdas, berbakat, ramah, santun, dan rendah hati. Dan ia adalah teman saya (yee &#8230; ngaku-ngaku!)<br />
</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bintang yang begitu namanya disebut langsung disambut tepuk tangan penonton, siapa lagi kalau bukan Kris Dayanti. Lagu pertama yang dilantunkan KD adalah &#8220;Assalamualaikum&#8221; ciptaan Raihan. Diva yang moncer ini tampil anggun dengan gaun warna merah yang begitu panjang hingga menyapu lantai (aduh, sayang nian, apa nggak kotor ya ujung gaunnya yang indah itu?). </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tentang KD, nampaknya tak perlu dijelaskan lagi &#8216;apa dan siapa&#8217;nya. Yanti memulai kariernya dengan memenangkan Asia Bagus 1992 di Jepang. Tahun 1997 ia terpilih sebagai &#8220;The Best of Asia Bagus&#8221;. MTV juga menganugerahi Yanti dengan penghargaan &#8220;Most Wanted Female Artist&#8221; dan &#8220;Most Wanted Indonesian Video&#8221;. Beberapa waktu yang lalu ia menghebohkan jagad infotainmen dengan masalah pribadinya, tetapi karena blog ini bukan blog gosip, saya tidak akan membahasnya &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3010" title="IMG_1996" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_1996.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_1996" width="448" height="336" /><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Dwiki memimpin konser mengiringi KD melantunkan &#8220;Assalamualaikum&#8221; ciptaan Raihan</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3011" title="KD Baju Putih" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/kd-baju-putih.jpg?w=448&#038;h=336" alt="KD Baju Putih" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">KD pada tampilan kedua dengan gaun putih ketat, membawakan lagu klasik &#8220;Di Bawah Sinar Bulan Purnama&#8221; ciptaan Maladi</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Siapa lagi yang tampil? Oh, Dewa Budjana, gitaris yang namanya cukup kondang di blantika musik Indonesia. Lelaki kelahiran Sumba Barat ini mulai belajar gitar secara otodidak sejak masih kanak-kanak. Ia kemudian mempelajari gitar klasik dan mulai membentuk  band ketika menempuh SMA di Surabaya. Dari grup band Squirrell, ia pindah ke Spirit, Java Jazz, dan akhirnya nemplok di GIGI sampai sekarang. Budjana telah menghasilkan enam album gitar solo. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dari kelompok &#8216;pemusik sambilan&#8217; tampil Anggito Abimanyu, salah satu staf ahli Menkeu yang juga dosen Fakultas Ekonomi UGM. Anggito memainkan solo flute dalam lagu &#8220;Rintak Rebana&#8221;. Dalam lagu ini, ia bermain bersama Steve Thornton dari Amerika yang memainkan perkusi. Saya sudah berkali-kali menyaksikan Anggito meniup flutenya di berbagai konser, dan kelak kalau ia pensiun dari jabatan staf ahli menteri serta dosen UGM, ia pasti akan laris tampil di berbagai pentas &#8230;<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3012" title="Anggito" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/anggito.jpg?w=150&#038;h=112" alt="Anggito" width="150" height="112" /> <img class="alignnone size-medium wp-image-3013" title="anggito &amp; Steve" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/anggito-steve.jpg?w=300&#038;h=224" alt="anggito &amp; Steve" width="300" height="224" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Anggito meniup flute dan Steve memainkan perkusi dalam &#8220;Rintak Rebana&#8221; ciptaan &amp; aransemen Dwiki</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3014" title="IMG_2052" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2052.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2052" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Anggito, Dwiki, dan Budjana bermain bersama dalam lagu &#8220;The Spirit Of Peace&#8221; ciptaan Dwiki</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Sebegitu jauh, saya malah belum membahas tentang Dwiki secara khusus. Soalnya pemusik ini sudah sangat dikenal reputasinya, jadi rasanya tanpa diperkenalkan pun semua orang sudah tahu siapa dia. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Oke. Begitupun, perlu juga rasanya menilik catatan karier Dwiki. Ia adalah pendiri grup musik Krakatau (entah kenapa dia mengambil nama gunung di selat Sunda itu &#8230; mungkin karena letusannya yang demikain hebat). Bersama Krakatau Dwiki sudah tampil di Lincoln Center New York, Chicago Cultural Center, dan begitu banyak senter-senter (bukan lampu lho) seni di seluruh dunia. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dwiki meraih piala Citra sebagai Penata Musik Film Terbaik pada FFI 1991 dalam film &#8220;Cinta Dalam Sepotong Roti&#8221;. Tahun 2005 ia mendapatkan penghargaan sebagai Penata Musik Film Terpuji pada Festival Film Bandung melalui film &#8220;Rindu Kami Padamu&#8221;. Javajazz Festival 2009 menganugerahkan Indonesian Jazz Ambassador Award kepadanya, atas reputasinya melakukan pertunjukan di lebih dari 25 negara. Dan masih banyak lagi prestasi Dwiki, yang terlalu panjang untuk dituliskan semua disini.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-3015" title="IMG_2018" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2018.jpg?w=300&#038;h=215" alt="IMG_2018" width="300" height="215" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Dwiki Dharmawan, semangatnya untuk memperkenalkan Indonesia melalui musik di pentas global membuat ia sering keliling dunia menjadi Duta Budaya Indonesia (foto : Fendy Siregar)</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dwiki juga mengajak Singgih Sanjaya, komposer yang telah menggubah lebih dari 200 aransemen musik. Komposisi musik ciptaan Singgih Sanjaya telah dimainkan oleh hampir semua orkestra yang ada di Indonesia, seperti ISI Jogjakarta Orkestra, Nusantara Symphoni Orkestra, Twilight Orchestra, Orkes Simponi Jakarta, Jakarta Chamber Orchestra, Amadeus Ansambel, dll. Beberapa karyanya bahkan juga dimainkan oleh orkestra manca negara, seperti Symphonie Vienna, The Bluescope Steel Youth Orchestra (Australia), Italian Symphony Orchestra, dan &#8230;. uff &#8230; saya hentikan disini saja karena capek nulis saking banyaknya.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pada konser kali ini, Singgih Sanjaya menampilkan <em>medley</em> lagu-lagu Nusantara yang diberi judul &#8220;Nyanyian Negriku&#8221;, dibawakan oleh Paduan Suara UGM. Komposisi musik Singgih sungguh indah, harmoninya sangat terjaga, dan eksplorasi untuk setiap alat musik digarap dengan cantik. Saya sudah beberapa kali menyaksikan konser musik Singgih Sanjaya, dan selalu saja menemukan keindahan yang sempurna. Komposisi musik Singgih memiliki warna yang berbeda dengan musik Dwiki, dan saya merasa lebih cocok dengan musik Singgih. Menurut saya, komposisi Singgih lebih &#8216;akademik&#8217;, lebih dekat ke orkestra. Sangat wajar, karena Singgih adalah staf pengajar tetap di Jurusan Musik FSP Institut Seni Indonesia Yogyakarta.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Penampilan musik Singgih Sanjaya semakin atraktif dengan dukungan tari oleh Unit Tari Bali UGM, membuat panggung meriah dan semarak oleh gerak para penari.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-3016" title="IMG_2020" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2020.jpg?w=222&#038;h=300" alt="IMG_2020" width="222" height="300" /> </strong><span style="color:#800000;">Singgih Sanjaya</span></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3017" title="IMG_2048" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2048.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2048" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Unit Tari Bali UGM memeriahkan panggung pada lagu &#8220;Nyanyian Negriku&#8221; aransemen Singgih Sanjaya</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Masih ada Rafly penyanyi dari Aceh, Dira J Sugandi yang memiliki suara emas, I Nyoman Windha seorang komposer kontemporer untuk gamelan Bali, Ivan Nestorman musisi dari Flores, Steve Thornton pemain perkusi dari New York, Nano Tirta musisi flute dengan pengalaman panjang di dalam maupun di luar negri yang &#8216;nyambi&#8217; menjadi Direktur Utama BPD DIY, jawara monolog Butet Kertaradjasa dan I Wayan Senen, yang tak sempat saya bahas karena khawatir posting menjadi terlalu panjang.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-3020" title="IMG_2019" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2019.jpg?w=300&#038;h=192" alt="IMG_2019" width="300" height="192" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Ivan Nestorman (kiri) dan Steve Thornton (kanan) </span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3023" title="IMG_2022" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_20221.jpg?w=120&#038;h=150" alt="IMG_2022" width="120" height="150" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3024" title="IMG_2021" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_20211.jpg?w=136&#038;h=150" alt="IMG_2021" width="136" height="150" /> </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Butet Kertaradjasa (kiri) dan Nano Tirta (kanan)</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dan yang tak kalah penting, konser ini juga membawa misi mempromosikan &#8220;Vote Komodo&#8221;, agar binatang purba milik Indonesia ini terpilih menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia untuk kategori Alam. Voting ini dilakukan secara online untuk mendapatkan suara terbanyak. Ayo, ayoo &#8230;! Bagi yang belum memberikan suara, segera klik www.new7wonders.com<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Konser selesai jam 23.00. Yah, tak rugilah saya meninggalkan Jogja Java Carnival demi nonton konser ini &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-3019" title="IMG_2053" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_20531.jpg?w=500&#038;h=341" alt="IMG_2053" width="500" height="341" /><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Eiitts &#8230;!! Dilarang komentar soal jilbab merah ya! Sudah saya bilang, saya punya dua belas lusin &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
Posted in Musik &amp; Lagu  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/3002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/3002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/3002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/3002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/3002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/3002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/3002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/3002/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/3002/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/3002/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=3002&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/23/nonton-dwiki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2017.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2017</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2024.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2024</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2015.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2015</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2006.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2006</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2023.jpg?w=259" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2023</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2004.jpg?w=193" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2004</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_1996.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1996</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/kd-baju-putih.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">KD Baju Putih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/anggito.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Anggito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/anggito-steve.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">anggito &#38; Steve</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2052.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2052</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2018.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2018</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2020.jpg?w=222" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2020</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2048.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2048</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2019.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2019</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_20221.jpg?w=120" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2022</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_20211.jpg?w=136" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2021</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_20531.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2053</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Teletubbies Vs Barrataga</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/18/rumah-teletubbies-vs-barrataga/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/18/rumah-teletubbies-vs-barrataga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 12:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[barrataga]]></category>
		<category><![CDATA[rumah dome]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tahan gempa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=2982</guid>
		<description><![CDATA[RUMAH AMAN DARI GEMPA
Rasanya hampir semua dari kita &#8212; terutama ibu-ibu yang memiliki anak kecil &#8212; mengenal Teletubbies, empat boneka lucu yang beberapa tahun lalu ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Boneka-boneka yang diperankan oleh manusia ini memiliki karakter khas, yaitu warna kostum yang berbeda. Kelucuan tingkah laku Tinky Winky (ungu), Dipsy (hijau), Laa Laa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=2982&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>RUMAH AMAN DARI GEMPA</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Rasanya hampir semua dari kita &#8212; terutama ibu-ibu yang memiliki anak kecil &#8212; mengenal Teletubbies, empat boneka lucu yang beberapa tahun lalu ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Boneka-boneka yang diperankan oleh manusia ini memiliki karakter khas, yaitu warna kostum yang berbeda. Kelucuan tingkah laku Tinky Winky (ungu), Dipsy (hijau), Laa Laa (kuning) dan Po (merah) mampu memikat tidak saja anak-anak, tapi juga remaja bahkan orang tua.&#8221;Berpelukaaan!!&#8221; adalah seruan khas Teletubbies, yang sempat populer di kalangan masyarakat pada waktu itu.<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Film untuk balita ini disiarkan oleh BBC antara tahun 1997 &#8211; 2001, produksi Ragdoll Production. Anne Wood dan Andre Davenport menulis sebanyak 365 episode Teletubbies.  Tinky Winky, Dipsy, Laa Laa dan Po tinggal di sebuah rumah yang dikelilingi hamparan padang rumput hijau dengan aneka bunga. Rumahnya berbentuk bulat, dengan teropong menjulang dari atapnya. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2988" title="rumah teletubbies 2" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/rumah-teletubbies-2.jpg?w=126&#038;h=88" alt="rumah teletubbies 2" width="126" height="88" /> <img class="alignnone size-full wp-image-2986" title="Rumah Teletubbies" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/rumah-teletubbies.jpg?w=130&#038;h=98" alt="Rumah Teletubbies" width="130" height="98" /> <img class="alignnone size-full wp-image-2987" title="Teletubies bagus" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/teletubies-bagus.jpg?w=124&#038;h=113" alt="Teletubies bagus" width="124" height="113" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Teletubbies dan rumahnya yang lucu, membuat siapapun ingin berlari dan berguling-guling di rumputnya yang hijau &#8230; </span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Nah, rumah Teletubbies ini pun bisa dijumpai tidak jauh dari Yogya, tepatnya di dusun Nglepen, Prambanan. Lho, memangnya Teletubbies syuting di Yogya? Oh, bukaaan &#8230;! Rumah Teletubbies yang ada di Yogya ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan boneka-boneka lucu itu, tapi berhubungan dengan gempa.  Rumah-rumah berbentuk bulat ini adalah sumbangan dari World Association of Non-Govermental Organization (WANGO) dan Domes for the World Foundation (DFTW) untuk korban gempa di dusun Sengir, yang rumahnya hancur akibat gempa 27 Mei 2006. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2990" title="Rumah Dome Hawa 2" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/rumah-dome-hawa-2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Rumah Dome Hawa 2" width="300" height="225" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Rumah-rumah &#8216;teletubbies&#8217; di dusun Nglepen, Prambanan, Yogya (foto : diambil dari <a href="http://hawa.blog.uns.ac.id/2009/04/27/dome-rumah-tahan-gempa/">Blog Hawa</a> )</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Meskipun sebenarnya tidak terlalu mirip dengan rumah Teletubbies yang tertutup rumput hijau, bentuknya yang bulat membuat rumah <em>dome</em> ini mengingatkan orang akan rumah boneka-boneka lucu itu. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bagaimana cara membuat rumah bulat itu, mengapa rumah ini tahan gempa, dan nyamankah tinggal di dalamnya?<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-2982"></span>Bentuk bulat dari rumah dome dibuat dengan cetakan berbentuk balon (<em>airform</em>), kemudian diatas cetakan balon ini dicor beton semen. Karena tidak ada sambungan pada rumah dome, yang merupakan titik lemah dari bangunan ketika diguncang gempa, maka rumah dome tahan gempa. Menurut arsiteknya, rumah dome ini juga mampu menahan terpaan angin 450 km/jam dan tahan berabad-abad. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2989" title="Rumah Dome Hawa 1" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/rumah-dome-hawa-1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Rumah Dome Hawa 1" width="300" height="225" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Proses pembuatan rumah dome dengan cetakan berupa <em>airform</em> (Foto diambil dari <a href="http://hawa.blog.uns.ac.id/2009/04/27/dome-rumah-tahan-gempa/">Blog Hawa )</a></span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Rumah dome memiliki diameter 7 meter, terdiri atas dua lantai, dan luasnya sekitar 38 meter persegi. Lantai bawah digunakan untuk ruang tamu, ruang makan, dan dapur, sedangkan lantai atas digunakan untuk ruang tidur. Warga yang menempati rumah ini mengatakan bahwa di dalam rumah tidak panas baik pada siang maupun malam hari, karena adanya lubang ventilasi yang ada di puncak kubah. Sayangnya, pada musim hujan lubang ventilasi ini membuat air hujan tempias masuk ke dalam rumah. <em>Bovenlicht</em> di atas pintu dan jendela juga membutuhkan pelindung berupa konsol, overstek, atau kanopi, agar air hujan tidak tempias.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-2992" title="IMG_3580" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_35801.jpg?w=300&#038;h=154" alt="IMG_3580" width="300" height="154" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Rumah dome yang sudah ditambah dengan kanopi di atas pintudan jendela untuk menahan panas matahari dan tempias air hujan (foto : Metroteve)<br />
</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Selain rumah dome yang dirancang tahan gempa, ada juga Barrataga. Awas, jangan keliru dengan Baratayuda &#8230; (itu mah perang akbar antara Pandawa dan Kurawa dalam kisah klasik Mahabarata &#8230;).<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Apa itu, Barrataga? Kata perancangnya, Prof. Ir. Sarwidi MSCE. Ph.D. IPU, Barrataga adalah akronim dari &#8220;Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa&#8221;. Barrataga ini tahan digoyang gempa, dan kalaupun gempanya sangat besar, Barrataga mungkin akan retak, tapi tidak akan rubuh dan menimpa penghuninya.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Profesor Sarwidi ini adalah pakar kegempaan dari  Universitas Islam Indonesia, rekan saya di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Usianya masih muda, sebaya dengan saya (yeee &#8230; emang saya masih muda?). Bedanya, beliau sudah profesor sejak beberapa tahun yang lalu, sekarang menjabat Wakil Rektor, dan  prestasi ilmiahnya segudang, sementara karier saya berhenti sebagai bloger saja &#8230; hehehe. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Menurut Pak Profesor, di Indonesia saat ini jumlah rumah pribadi yang tahan gempa hanya 10% saja, padahal 60% wilayah Indonesia yang meliputi 250 kabupaten/kota berpotensi mengalami gempa bumi. Penambahan biaya yang diperlukan untuk membuat rumah tahan gempa hanya sekitar 15% dari rumah tidak tahan gempa, sementara risiko yang bisa terjadi pada rumah tidak tahan gempa jauh lebih besar dari 15%. Resiko itu bisa berupa rusaknya rumah maupun hilangnya nyawa penghuni yang tertimpa reruntuhan rumah. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-2983" title="IMG_3600" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_3600.jpg?w=300&#038;h=176" alt="IMG_3600" width="300" height="176" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Fondasi Barrataga, terdiri atas susunan batu kali, rangkaian besi tulangan yang membentuk sloof dan kolom</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Inti dari rumah tahan gempa adalah penguatan besi tulangan bangunan yang saling mengait antara satu bagian dengan bagian yang lain. Banyak bangunan dibuat dengan tulangan baja, tetapi sambungan balok dan kolomnya tidak kuat, sehingga pada saat digoyang gempa, balok dan kolom ini akan saling terlepas dan rumah runtuh. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Menurut Pak Profesor, tulangan besi ini bisa juga diganti dengan bambu petung yang dibilah dengan ukuran 1,5 &#8211; 2 cm. Harga bambu petung tentu jauh lebih murah dari harga besi tulangan, dan kekuatannya cukup tinggi. Hanya saja di setiap sudut sambungan sebaiknya diperkuat dengan tulangan baja dan diikat dengan kawat <em>bendrat</em>.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-2984" title="IMG_3602" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_3602.jpg?w=300&#038;h=202" alt="IMG_3602" width="300" height="202" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Rangkaian besi baja yang saling mengait dan diikat dengan kawat <em>bendrat</em> ini menjadi inti kekuatan Barrataga</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Menurut Zulfikri di <a href="http://zulfikri.wordpress.com/2007/07/08/pedoman-praktis-pembangunan-rumah-tahan-gempa/#comment-313">sini</a> , prinsip bangunan tahan gempa ada 3, yaitu : denah sederhana dan simetris, bahan bangunan ringan, dan memiliki sistem konstruksi penahan beban yang memadai. Jika kita amati, rumah-rumah yang dibangun nenek moyang kita dulu, berupa rumah panggung dari kayu, lebih tahan gempa dibanding rumah tembok yang dibangun secara sembarangan.  Rumah tembok yang dibangun tanpa memakai tulangan baja sangat lemah terhadap goncangan gempa. Rumah seperti inilah yang menyebabkan hampir 6.000 orang meninggal di Bantul pada gempa 27 Mei 2006.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2999" title="Copy of IMG_2225" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/copy-of-img_2225.jpg?w=274&#038;h=448" alt="Copy of IMG_2225" width="274" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Sambungan tulangan dan dinding pada rumah tahan gempa (foto : Kompas)</span><br />
</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pada gempa Yogya 2006, rumah orang tua saya tidak roboh, tapi mengalami keretakan di berbagai tempat. Rumah ini dibangun pada tahun 1960, berdinding tebal satu batu, dengan rangka atap dan kusen dari kayu jati. Rumah kami tidak memiliki tulangan baja, karena pada zaman itu tulangan baja belum dikenal. Cukup mengherankan rumah kami tidak roboh, padahal rumah-rumah yang &#8217;seusia&#8217; dengan rumah kami hampir semua roboh. Sangat banyak rumah para juragan batik yang kelihatan megah dan &#8216;magrong-magrong&#8217;, luluh lantak digoncang gempa.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pada saat rumah kami di renovasi, saya amati bahwa pada dinding setebal satu batu itu dipasang balok-balok kayu pada setiap jarak satu atau dua meter. Rupanya Mbah Singo, tukang yang membangun rumah kami dulu, sudah paham prinsip penguatan rumah untuk menahan beban goyangan karena gempa. Terimakasih Mbah Singo, karena kecermatan dan kepandaiannya membangun rumah kami, rumah tercinta dimana saya dilahirkan dan dibesarkan ini tetap utuh hingga sekarang.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2994" title="IMG_2245" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2245.jpg?w=448&#038;h=276" alt="IMG_2245" width="448" height="276" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Rumah tua tempat saya dilahirkan, melewati masa kanak-kanak yang menyenangkan, dan tumbuh menjadi dewasa &#8230;. </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bagaimana dengan rumah anda? Apakah sudah dibangun dengan prinsip rumah tahan gempa? </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#0000ff;">Referensi : &#8220;Kontroversi Rumah Dome&#8221; (Titien Saraswati), Harian &#8220;Pikiran Rakyat&#8221;, harian &#8220;Kompas&#8221;, Wikipedia, Zulfikri Webblog.</span><strong><br />
</strong></span></p>
Posted in Teropong  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/2982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/2982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/2982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/2982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/2982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/2982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/2982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/2982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/2982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/2982/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=2982&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/18/rumah-teletubbies-vs-barrataga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/rumah-teletubbies-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rumah teletubbies 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/rumah-teletubbies.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rumah Teletubbies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/teletubies-bagus.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Teletubies bagus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/rumah-dome-hawa-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rumah Dome Hawa 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/rumah-dome-hawa-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rumah Dome Hawa 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_35801.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_3580</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_3600.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_3600</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_3602.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_3602</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/copy-of-img_2225.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Copy of IMG_2225</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2245.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2245</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mabuk Kepayang Tiga Malam</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/13/mabuk-kepayang-tiga-malam/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/13/mabuk-kepayang-tiga-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 00:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dance]]></category>
		<category><![CDATA[JIPA Fest 2009]]></category>
		<category><![CDATA[koreografi]]></category>
		<category><![CDATA[tari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=2931</guid>
		<description><![CDATA[INCREDIBLE ARTS PERFORMANCE!
Warning :
Posting ini berisi sangat banyak foto. Saya juga mengkhianati komitmen saya semula untuk membatasi tulisan sekitar 1.000 kata. Posting kali ini cukup panjang, 2.900 kata. Jadi kalau anda berniat serius membacanya (terimakasih jika bersedia menyiksa diri demikian), matikan dulu kompor di dapur, tutup kran air, kandangkan ayam-ayam serta kambing yang berkeliaran di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=2931&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>INCREDIBLE ARTS PERFORMANCE!</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Warning :</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Posting ini berisi sangat banyak foto. Saya juga mengkhianati komitmen saya semula untuk membatasi tulisan sekitar 1.000 kata. Posting kali ini cukup panjang, 2.900 kata. Jadi kalau anda berniat serius membacanya (terimakasih jika bersedia menyiksa diri demikian), matikan dulu kompor di dapur, tutup kran air, kandangkan ayam-ayam serta kambing yang berkeliaran di dalam rumah (hah??!), dan siapkan secangkir kopi di tangan (nggak boleh sama rokok ya &#8230; )<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Rabu, 7 Oktober 2009</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Kegagalan saya yang tragis untuk menonton kirab budaya pada hari Rabu sore (kisah lengkapnya <a href="http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/09/yogya-ulang-tahun-yeey/">di sini</a> ) membuat saya bertekad untuk sukses nonton Jogja International Performing Arts Festival 2009 (JIPA Fest 2009) pada malam harinya. Festival akbar ini sudah dimulai pada malam sebelumnya, yaitu tanggal 6, tapi saya baru membaca liputannya di koran pada tanggal 7 pagi. Lagi-lagi telat informasi &#8230;.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>JIPA Fest 2009 dilaksanakan di gedung Societet Art Hall Taman Budaya Yogya, yang terletak di sebelah timur Taman Pintar. Ini gedung kuno peninggalan Belanda yang sudah direnovasi. Di sebelah selatan gedung Societet terdapat gedung baru yang lebih besar, yaitu Concert Hall.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Malam pertama (yang tidak sempat saya tonton itu) menampilkan pantomimer kawakan Jemek Supardi dari Yogya dan tari Kinanti Sekar Rahina. Dari luar negri, tampil Andrea K. Schlehwein (Austria), Nam Jeong Ho (Korea) dan Kazeo Takemoto (Jepang). Karena nggak nonton, saya nggak punya otoritas untuk cerita.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pada malam kedua, acara dibuka oleh Bimo Dance Theater dari Yogya. Kelompok seni ini mengawali pertunjukannya dengan menampilkan musik perkusi yang dimainkan oleh empat orang. Gebukan gendang menghentak dalam irama yang dinamis, dan mendapat <em>applaus</em> meriah dari penonton.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2933" title="IMG_2279" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2279.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2279" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Dua di antara empat pemain musik perkusi yang mengawali tampilan Bimo Dance, dan terus mengiringi sepanjang tarian</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya benar-benar dibuat terpukau oleh tarian yang menyusul kemudian. Sejumlah penari perempuan dan laki-laki tampil di panggung dalam komposisi gerakan yang luar biasa indah. Enerjik, <em>full power</em>, tapi sangat lentur dan indah. Gerakannya adalah perpaduan dari tari Jawa klasik dan tari modern. Kostum yang simpel, tanpa aksesori apa pun, justru menonjolkan olah tubuh prima para penari. Ada seorang penari kecil yang lucu, aneh, sekaligus menakutkan, karena gerak dan penampilannya seperti <em>wewe</em>, hantu perempuan bermuka tembok yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2934" title="IMG_2285" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2285.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2285" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">&#8216;Wewe&#8217; kecil ini gerakan tubuh dan tarikan wajahnya sangat ekspresif &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-2931"></span>Saya kagum pada penguasaan teknik gerakan, energi, kekuatan serta kelenturan tubuh para penari Bimo Dance ini. Bagian akhir tarian berupa koreo akrobatik yang menawan, di mana tiga penari wanita menari di atas bahu penari pria. Padahal para penari pria ini tubuhnya tidak terlalu besar, tapi mampu memanggul penari wanita di bahunya tanpa sedikitpun terlihat goyang. Dan sambil memanggul itu mereka tetap menari lho!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tarian ditutup dengan formasi bertingkat, membentuk candi dengan tiga susun penari. Pasti dibutuhkan <em>massage</em> khusus untuk melemaskan kembali otot para penari yang ada di posisi paling bawah &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya &#8212; dan juga penonton lain &#8212; bertepuk tangan panjang dengan sepenuh tenaga, sampai telapak tangan saya pedas. Benar-benar tarian yang indah!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2936" title="IMG_2296" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_22961.jpg?w=448&#038;h=267" alt="IMG_2296" width="448" height="267" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Seringan-ringannya penari wanita, berat mereka tidak kurang dari 45 kg. Mungkin para penari pria ini sudah terbiasa memanggul karung beras di bahunya &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2937" title="IMG_2302" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2302.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2302" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Formasi tiga susun yang membutuhkan kestabilan dan kekuatan tubuh &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bimo Dance Theater berdiri pada tahun 1993, lahir dari proses kreatif Bimo Wiwohatmo. Lelaki Yogya ini mengenal tari sejak umur 10 tahun. Dalam perjalanan kariernya, Bimo berhasil membawa kreasinya ke pentas internasional, antara lain Exhibition of Asia Modern Dance Tokyo, Singapore Art Festival, Voice of Java di Korea, dan banyak lagi.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tampil sesudah Bimo Dance adalah Veronique Delarche dari Perancis. Veronique lahir tahun 1964, dan telah memiliki pengalaman internasional yang panjang di dunia <em>dancing</em>. Malam itu, Veronique tampil bersama Thierry Giannarelli, yang sekaligus adalah pasangan hidupnya, dan pencipta koreografi tariannya.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tarian Delarche ini menggambarkan intensitas hubungan antara dua manusia yang telah berlangsung selama 23 tahun, dan sudah tahu satu sama lain dengan sangat baik. Satu kalimat untuk melukiskan kedekatan hubungan itu adalah <span style="color:#0000ff;">&#8216;dimanapun kamu, aku tahu kamu di sini&#8217;.</span></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Koreografi ini ditampilkan dalam tempo lambat. Meskipun variasi gerakannya cukup kaya, tetapi karena ditampilkan dalam durasi yang sangat panjang (sekitar 30 menit) dan banyak terjadi pengulangan gerak, tarian jadi terkesan monoton. Yang cukup menarik adalah moment ketika Thierry memasang properti panggung berupa kain panjang dengan cara menyeteplesnya ke keping-keping kayu yang digantungkan dari plafon. <em>Background</em> panggung yang semula hitam polos lalu terisi oleh tirai putih, menyajikan komposisi yang menarik dengan Veronique menari di latar depan.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2939" title="IMG_2308" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2308.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2308" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Veronique dengan kostum yang sangat casual, mampu menghadirkan gerakan-gerakan yang menarik</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2940" title="IMG_2315" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2315.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2315" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Tirai putih yang dibentangkan Thierry membentuk komposisi yang menarik dengan tarian Veronique</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Penampil ketiga adalah grup tari dari Jepang, Butoh Sha Tenkei. Setelah menyaksikan Veronique Delarche yang berdurasi panjang, penampilan Butoh Sha Tenkei benar-benar membuat saya putus asa. Tarian ini durasinya juga sangat panjang, lebih panjang dari Veronique, dan temponya seperti siput beringsut. Saya benar-benar tersiksa oleh rasa bosan. Diperlukan pemahaman seni tari yang tinggi untuk bisa menikmati koreografi Butoh Sha Tenkei, dan karena saya hanya tahu sedikit tentang tari, maka saya gagal menikmatinya.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya yakin banyak penonton lain yang juga bosan dan ngantuk, tapi hebatnya, sekitar 300 penonton yang memenuhi gedung menunjukkan perilaku yang sangat terhormat. Penonton tetap tenang, tidak terdengar desah kebosanan, suara penonton yang ngobrol sendiri, apalagi suit-suit tak sopan sebagaimana yang sering muncul pada penonton tak terdidik. Saking bosan dan frustasinya, saya sampai tidak mengambil foto kelompok penari Jepang ini.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Suasana kembali hidup ketika penampil ke empat, Broadway Dance Center dari Jepang mengisi panggung. The K-Broadway Dance Company dari Tokyo dikenal secara internasional sebagai <em>leader</em> dalam pendidikan tari jazz. Broadway Dance Center (BDC) didirikan pada tahun 1984, menawarkan teknik tari terkini. Para instruktur kenamaan dari luar negeri menilai kemampuan dan bakat penari BDC sebagai penari <em>first class</em>. Sampai saat ini, lebih dari 10.000 siswa telah dilatih di BDC. Banyak dari mereka sekarang menjadi penari aktif di panggung Broadway.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Malam itu, BDC menampilkan 5 koreografi, yaitu &#8220;Have You Ever&#8221;, &#8220;Think About The Earth&#8221;, &#8220;Funky Telephone&#8221;, &#8220;My All&#8221;, dan &#8220;Tribute to Michael&#8221;. Kemampuan teknik para penarinya memang prima, dan mereka menampilkan suguhan di panggung yang apik.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2941" title="IMG_2328" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2328.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2328" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Komposisi awal dalam koreografi &#8220;Have You Ever?&#8221;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2942" title="IMG_2339" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2339.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2339" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">&#8220;My All&#8221; menampilkan dancer Kuroki Tomoko, Homma Chisa, dan Itabashi Yuki</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Malam kedua itu pertunjukan berlangsung cukup lama, baru usai jam 23.00. Meskipun sempat bosan dan merasa frustasi ketika menonton Veronique Delarche dan Butoh Sha Tenkei, penampilan Bimo Dance Theater dan Broadway Dance Center membuat saya merasa beruntung telah menyaksikan tarian-tarian terbaik. Apalagi, harga tiket masuk sangat murah, hanya Rp. 20.000,-! Ya ampun, dengan tiket semurah itu, penonton disuguhi tarian bertaraf internasional selama 3 jam! Panitia benar-benar murah hati &#8230;.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Kamis, 8 Oktober 2009</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Setelah JIPA Festival 2009 digelar dua malam di Gedung Societet, para penari tampil dalam <em>sequence</em> &#8220;Asia Tri Jogja 2009&#8243; di Rumah Budaya Tembi dan Museum Ullen Sentalu. Rumah Budaya Tembi terletak di Bantul, dimiliki oleh salah seorang petinggi harian Kompas. Hari Kamis siang saya menyempatkan &#8217;survei lokasi&#8217; agar malamnya tidak perlu mencari-cari lagi dimana letak tempat itu.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ternyata lokasi Rumah Budaya Tembi tidak jauh dari rumah saya, hanya butuh 15 menit dengan mobil. Meskipun masih di dalam kota, rumah saya memang terletak dekat dengan perbatasan kabupaten Bantul.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2943" title="IMG_2346" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2346.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2346" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Pendopo Rumah Budaya Tembi yang indah dan anggun dengan ukiran Jawa</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pertunjukan tari dilaksanakan di panggung terbuka yang terletak di bagian belakang komplek Rumah Budaya Tembi. Panggung terbuka ini masih baru, bahkan ketika siang itu saya melakukan inspeksi (halah!), lantai panggungnya masih dalam proses pelapisan karpet. Panggung terbuka ini dikelilingi oleh sawah yang asri menghijau, sangat alami. Saya menyayangkan, pagar teralis besi yang dibangun di sekeliling arena pertunjukan ini terlalu kaku, dalam warna krom putih pula, sehingga &#8216;merusak&#8217; kesan menyatu panggung dengan alam. Akan lebih baik kalau desain pagar pengaman dibuat lebih natural, atau setidaknya dicat warna hitam, agar pada pertunjukan malam hari pagar ini tidak memantulkan <em>lighting</em> dari lampu-lampu panggung.<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya sempat menonton sejenak latihan beberapa penari Nam Jeong Ho dari Korea yang akan tampil pada malam harinya, juga Veronique Delarche dan para penari Butoh Sha Tenkei.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2944" title="IMG_2351" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2351.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2351" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Nam Jeong Ho, sang koreografer, telentang mengawasi penarinya berlatih</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2945" title="IMG_2355" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2355.jpg?w=448&#038;h=299" alt="IMG_2355" width="448" height="299" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Gerakan &#8216;merangkak&#8217; dan menumpukan pungung ke lantai cukup dominan pada koreografi Nam Jeong Ho</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Nam Jeong Ho mulai menari ballet dan tarian tradisional Korea pada usia 10 tahun. Ia belajar tari modern di Universitas Ewha Womans di Korea, kemudian melanjutkan di Sorbonne dan Universitas de Rennes II di Perancis. Sejak kembali ke Korea pada 1982, dia terus mengeksplorasi tarinya sendiri, yang memiliki karakter tari Korea yaitu bermain-main, lucu, penuh kecerdasan dan sindiran.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pertunjukan di Rumah Budaya Tembi malam itu dibuka oleh Tembi Dance Co, menampilkan tiga penari perempuan dengan kostum putih lebar. Pemilihan kostum ini sungguh brilian, karena selain menampilkan keindahan gerak tubuh para penari, kostum berupa kain putih lebar itu sekaligus menjadi bagian dari tarian. Koreografi ini mengisahkan perjalanan hidup manusia, mulai dari dalam kandungan, melewati berbagai tahapan kehidupan, sampai akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ketiga penari memulai tarian dengan perut buncit, menggambarkan perempuan yang sedang hamil besar. Proses kelahiran ditampilkan dengan sangat menyentuh, sekaligus mencekam. Dibalik kain putih lebar, terlihat tonjolan kepala, kaki dan tangan &#8216;jabang bayi&#8217; yang berjuang untuk lahir, dan wajah sang ibu yang hanya tampak dari leher ke atas, menyeringai dan menangis menahan sakit &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Selanjutnya, kisah perjalanan kehidupan kedua anak yang lahir ditampilkan dalam gerak-gerak indah yang dinamis dan ekspresif. Tarian ini bukan hanya menampilkan olah tubuh, tapi juga emosi yang sangat kuat. Penonton yang memadati arena (sampai akhirnya digelarkan karpet di sekeliling panggung karena tempat duduk penuh), hening, terpukau, tak bisa mengalihkan pandangan dari panggung.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2946" title="IMG_2369" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2369.jpg?w=448&#038;h=293" alt="IMG_2369" width="448" height="293" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Tiga penari dengan perut buncit karena &#8216;hamil 9 bulan&#8217; &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2947" title="IMG_2370" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2370.jpg?w=448&#038;h=306" alt="IMG_2370" width="448" height="306" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2948" title="IMG_2371" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2371.jpg?w=448&#038;h=307" alt="IMG_2371" width="448" height="307" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2949" title="IMG_2372" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2372.jpg?w=448&#038;h=294" alt="IMG_2372" width="448" height="294" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Penampilan Tembi Dance Co diikuti oleh Nam Jeong Ho dari Korea. Enam penari tampil ke panggung, diawali oleh Nam Jeong Ho sendiri. Mereka menampilkan tari modern dengan gerakan sangat lentur dan &#8216;bebas&#8217;. Tarian ini juga menampilkan gerakan-gerakan yang lucu, sehingga penonton dibuat tertawa. Penari berinteraksi langsung dengan penonton (yang jaraknya memang sangat dekat dengan panggung). Iin, keponakan saya sempat kaget ketika salah seorang gadis penari tiba-tiba duduk di pangkuannya &#8230; ! Penari lain menarik seorang penonton cowok ke panggung. Meskipun tak menyangka bakal diseret ke panggung, penonton itu cepat sekali merespon, langsung menari dan cukup bagus juga. Mungkin dia memang mahasiswa Institut Seni Indonesia Jurusan Tari, yang memang banyak hadir. Penonton lain bertepuk tangan riuh sambil bersuit-suit.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2950" title="IMG_2381" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2381.jpg?w=448&#038;h=326" alt="IMG_2381" width="448" height="326" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Dancer Nam Jeong Ho tampil dengan kostum pakaian sehari-hari</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2951" title="IMG_2382" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2382.jpg?w=448&#038;h=309" alt="IMG_2382" width="448" height="309" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Seorang penonton (paling kiri) yang ditarik ke panggung ternyata juga bisa menari dengan baik</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2952" title="IMG_2383" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2383.jpg?w=448&#038;h=327" alt="IMG_2383" width="448" height="327" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2953" title="IMG_2394" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2394.jpg?w=448&#038;h=318" alt="IMG_2394" width="448" height="318" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Nam Jeong Ho mempertunjukkan kepiawaiannya dalam tari modern dan balet klasik</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Penampil ketiga setelah Nam Jeong Ho adalah Butoh Sha Tenkei. Berdasarkan &#8216;pengalaman derita&#8217; saya menyaksikan tarian Butoh pada malam sebelumnya di Gedung Societet, saya berniat untuk pulang. Tapi Iin, yang juga ikut nonton di Societet, menyarankan untuk menunggu sebentar, siapa tahu tariannya beda. <em>And she</em> <em>was right!</em> Meskipun masih memakai <em>basic</em> koreografi malam sebelumnya, Butoh meringkas banyak bagian, sehingga tarian malam itu tampil padat dan memikat.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Wow &#8230; ! Rupanya mereka tanggap, bahwa pada malam sebelumnya penampilan mereka sulit dinikmati penonton, sehingga mereka melakukan perombakan yang signifikan. Jika pada malam sebelumnya durasi tarian mereka memakan waktu 30 menit lebih, malam itu hanya sekitar 15 menit, dan lebih atraktif.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2955" title="IMG_2398" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2398.jpg?w=448&#038;h=326" alt="IMG_2398" width="448" height="326" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Butoh Sha Tenkei dibentuk oleh Ebis Torii dan Mutsuko Tanaka pada tahun 1981. Ebis yang membuat koreografi, menciptakan seni panggung, dan mendesain kostum, memiliki reputasi sebagai penari dengan kesedihan, penuh dengan orisinalitas rasa. Adapun Mutsuko sangat dihargai dalam ciptaan karya-karya solo. Kombinasi kedua karakter ini menghasilkan koreografi yang puitis, teatrikal, mengoyak rasa dan sedikit magis.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Koreografi yang mereka tampilkan berjudul &#8220;Alicelike&#8221;, yang diilhami oleh karya sastra anak &#8220;Alice in Wonderland&#8221;. Dipimpin ke dalam hutan bambu oleh kelinci putih, terbentang sebuah dunia omong kosong. Mencari Alice Asia, shock dan keanehan memegang, dalam kegelapan putih (ini bukan kalimat saya, tapi saya kutip dari <em>booklet </em>JIPA Fest)</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2956" title="IMG_2402" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2402.jpg?w=448&#038;h=302" alt="IMG_2402" width="448" height="302" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2957" title="IMG_2408" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2408.jpg?w=448&#038;h=311" alt="IMG_2408" width="448" height="311" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Jam 21.15 pertunjukan sudah selesai. Kami pulang dengan rasa puas bukan kepalang. Tiga tarian yang ditampilkan malam itu semuanya bagus luar biasa. Yang membanggakan, Tembi Dance Co tak kalah berkualitas dari penari-penari Korea dan Jepang yang sudah memiliki pengalaman internasional panjang.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dan, pertunjukan di Rumah Budaya Tembi ini <em>free of charge</em> alias gratis &#8230; tis! Dimana lagi bisa nonton performance kelas wahid dengan gratis kalau tidak di sini?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Jum&#8217;at, 9 Oktober 2009</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ketagihan nonton pada malam sebelumnya, hari Jum&#8217;at malam saya nonton pertunjukan hari ke dua di Rumah Budaya Tembi. Tidak ada keponakan yang bisa menemani, suami saya punya acara sendiri, dan tidak menemukan teman yang memiliki minat sama, akhirnya saya memutuskan untuk pergi sendirian.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya tiba di Tembi jam 19.25 dan tempat duduk yang berupa bangku semen panjang nyaris penuh. Beruntung sekali saya melihat tempat kosong cukup untuk tubuh saya, yang beratnya lebih dari 55 kg (lebih berapa nggak usah disebutkan &#8230;.), terletak di baris kedua dari depan, di bagian tengah. Benar-benar nasib baik : datang akhir tapi mendapat tempat strategis. Setelah saya amati, di sekeliling saya rupanya duduk para penari Nam Jeong Ho dan Butoh Sha Tenkei, yang malam itu tidak tampil. Mereka bercanda dalam bahasa Korea dan Jepang yang sepatahpun tidak saya mengerti, tapi tawa mereka yang lepas membuat saya ikut tertawa (hahah!)</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tidak lama setelah saya duduk nyaman, penonton lain datang mengalir. Tempat duduk penonton benar-benar penuh sesak, sampai karpet dan tikar digelar di atas tanah, mengelilingi panggung. Sebagian besar penonton adalah anak muda, dan cukup banyak juga penonton asing. Sungguh membanggakan melihat tingkat apresiasi anak muda yang begitu tinggi pada pertunjukan tari (saya berani bertaruh, mereka nonton pasti bukan hanya karena pertunjukan ini gratis &#8230;).</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tampil pertama pada malam kedua ini adalah Tevita Amanaki dan Christine dari Samoa. Muncul di panggung lebih dulu Tevita, yang berbadan subur makmur (entah dipupuk pakai apa), dengan secarik kain putih menutupi bagian bawah perut gendutnya (yang saya sungguh khawatir sewaktu-waktu akan melorot &#8230;), dan hiasan daun pisang &#8217;slawir-slawir&#8217;. Wajahnya begitu jenaka, dan ia berteriak seperti tarzan sambil menebar senyum ke segala penjuru, sehingga penonton langsung bertepuk tangan dan bersorak-sorai.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Sorak-sorai tambah seru ketika Christine muncul ke panggung. Penari wanita bertubuh tak kalah subur ini dengan &#8216;pe-de&#8217;nya tampil mengenakan kostum rok rumput, tak peduli lemak di perutnya melimpah keluar &#8230; hihihi. Seorang penonton nyeletuk, &#8220;Wah, kalau ini mah <em>samoa berisi</em>&#8221; disambut tawa geli penonton lain.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tak terhalang oleh tubuh subur mereka, kedua penari Samoa ini melenggok dengan lemah gemulai. Tarian mereka ada kemiripan dengan tarian Hawaii. Wajah keduanya yang selalu dihiasi senyum jenaka, kemolekan tubuh subur mereka, menularkan kebahagiaan dan membuat penonton tertawa gembira serta bertepuk tanpa henti. Oh, Samoa &#8230; exotic and wonderful!<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2958" title="IMG_2418" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2418.jpg?w=448&#038;h=317" alt="IMG_2418" width="448" height="317" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2959" title="IMG_2421" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2421.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2421" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Samoa disusul oleh Myanmar, yang menampilkan penari tunggal Waing Chit Chit Aung. Kecantikan penari Myanmar ini sungguh eksotik, dalam kostum indah berwarna putih dengan aksen hiasan warna merah. Ia menari dengan lincah sambil menyanyi, dan wajahnya yang selalu tersenyum cerah membuat tariannya sangat sedap dipandang mata.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2960" title="IMG_2425" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2425.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2425" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2961" title="IMG_2427" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2427.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2427" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya pernah satu kali nonton tarian India pada acara lomba dansa di sebuah teve, dan terpesona pada keindahannya. Malam itu, saya kembali terpesona pada gerak lincah Sangeeta, penari India berbadan <em>teji</em> dengan kulit berwarna gelap. Ia membawakan tiga tarian dengan karakter berbeda. Tarian pertama menggambarkan Dewi Kali, sehingga gerakannya pun cepat, kuat, mata mendelik, dan ekspresi wajahnya tajam. Pada tari berikutnya, ia memerankan gadis yang sedang jatuh cinta, sehingga gerakannya pun lemah gemulai dan memancarkan ekspresi kekenesan. Gemerincing genta-genta kecil yang memenuhi gelang kaki Sangeeta menciptakan nuansa khas tari India.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Nice dance, Sangeeta!<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2962" title="IMG_2428" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2428.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2428" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2963" title="IMG_2435" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2435.jpg?w=448&#038;h=329" alt="IMG_2435" width="448" height="329" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Lagi-lagi, saya dibuat kagum dan bangga terhadap para penari Indonesia yang tampil pada pertunjukan internasional ini. Malam kedua di Tembi tampil kelompok Wisnu Aji. Dua penari laki-laki dan dua penari perempuan, keempatnya masih remaja, menampilkan koreografi yang sangat kreatif. Tak disebutkan apa judul koreografi ini, tapi saya kira sangat cocok diberi judul &#8220;Di Antara, Dalam, dan Dengan Koran&#8221;, sesuai dengan properti utamanya yang berupa koran.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2967" title="IMG_2442" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_24421.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2442" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2968" title="IMG_2447" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_24471.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2447" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2969" title="IMG_2455" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2455.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2455" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Wisnu Aji menggambarkan absurditas kehidupan manusia modern, yang setiap detik bergelut, hanyut, dan terbelenggu oleh serbuan arus informasi (ini interpretasi saya saja &#8230; hehehe). Pada akhir tarian, keempat penari disibukkan oleh dering telepon genggam masing-masing. Dalam kebersamaan wadag, pikiran mereka berada bersama orang-orang yang entah berada dimana. Apakah ini sindiran terhadap kehidupan manusia zaman sekarang, yang hidup bersama dalam satu rumah tapi masing-masing sibuk dengan kehidupan dunia maya mereka, dan justru tidak menjalin komunikasi dengan orang yang secara fisik ada di dekatnya?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Veronique Delarche kembali tampil di Tembi, sebagai penampil terakhir malam kedua. Setelah Butoh Sha Tenkei menampilkan koreografi yang berbeda dengan penampilan mereka di Gedung Societet, saya berharap Veronique Delarche pun mengubah koreografi mereka menjadi lebih &#8216;bersahabat&#8217;. Dan harapan saya terkabul.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Sepasang <em>dancer </em>Perancis ini naik ke panggung (sebenarnya turun, karena panggung lebih rendah dari pintu masuk dan tempat duduk penonton yang tinggi) dengan menuntun sepeda. Mereka bercengkerama berdua, juga dengan sepeda masing-masing, menggambarkan perjalanan hidup yang mereka lewati bersama. Veronique juga melakukan &#8216;atraksi&#8217; menarik dengan memanjat gapura yang menjadi properti permanen panggung, dan nangkring di atas sementara Thierry menampilkan tarian solo. Gerakan mereka juga lebih dinamis, tak tagi lambat dan monoton seperti pertunjukan di Gedung Societet. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2970" title="IMG_2461" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2461.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2461" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Veronique nangkring di atas gapura. Weleh &#8230; ide yang sangat kreatif</span><br />
</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2971" title="IMG_2466" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2466.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2466" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Thierry bercanda dengan sepeda, juga ide yang orisinil &#8230; </span><br />
</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2972" title="IMG_2471" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2471.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2471" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Di Tembi ini Veronique menunjukkan kelasnya sebagai penari profesional, dengan penguasaan teknik tari modern yang sempurna. Yang menarik, kedua penari ini masih mengenakan kostum yang sama, pakaian kasual berupa rok selutut dan kaos bergaris untuk Veronique dan pantalon gelap dengan kaos bergaris untuk Thierry. Saya tidak tahu, apakah baju-baju itu sudah sempat dicuci sesudah mereka pakai tampil di Gedung Societet dua malam sebelumnya &#8230; hehe!<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Hmmm &#8230;&#8230;&#8230;.  tiga malam berturut-turut saya menikmati pertunjukan tari yang berkelas, dan sangat puas dengan penampilan seluruh penari. Ketidakpuasan terhadap Butoh Sha Tenkei dan Veronique Delarche di Gedung Societet sudah terhapus dengan penampilan prima mereka di Tembi. Pertunjukan selama tiga malam ini menyajikan segala jenis tarian, mulai dari yang tradisional dan klasik sampai tari modern. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Satu hal yang saya catat, pada tari klasik kostum yang gemerlap dan berwarna-warni masih menjadi bagian penting daya tarik tarian, sementara pada tari modern keindahan lebih ditonjolkan dari olah tubuh para penarinya sendiri. Tari modern juga lebih mengeksplorasi &#8216;dunia batin&#8217;, alam ide dan olah pikir, dan banyak bersentuhan dengan &#8216;gaya&#8217; teatrikal. Hmmm &#8230;. tapi ini analisis dangkal saya saja, yang tak pernah belajar tentang teori tari. Jadi kalau lebih banyak ngawur dan sok teu, ya mohon dimaafkan &#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tanggal 10 Oktober masih ada pertunjukan terakhir di Museum Ullen Sentalu, Kaliurang, tapi sungguh sayang saya tidak bisa nonton. Nyesel sekali &#8230;.  tapi, yaaah &#8230; tiga malam dimabuk kepayang dengan tarian berbagai negara rasanya sudah anugerah terindah bagi saya.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Ketika menulis artikel ini saya baru tersadar, dan menyesal, kenapa ya kemarin tidak berfoto bersama para penari itu? Setidaknya untuk bukti, bahwa saya nonton beneran &#8230; bukan cuma menulis dengan modal <em>booklet</em> pertunjukan dan liputan koran &#8230;. hehe!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Kepada para empu fotografi, saya minta maaf jika beberapa foto (jangan dibilang semua ya!) <em>blur </em>alias <em>out of focus</em>. Tempat duduk saya berjarak sekitar 20 meter dari panggung, tanpa lensa tele, dengan kamera saku sederhana, dan kemampuan pas-pasan, maka hasil jepretan saya ya cuma sebegitu &#8230;<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya tak sabar menunggu JIPA Fest 2010, menunggu dimabuk kepayang lagi &#8230;<br />
</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">(data dan biografi penari diambil dari booklet JIPA Fest 2009)</span><strong><br />
</strong></span></p>
Posted in Dance  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/2931/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/2931/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/2931/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/2931/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/2931/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/2931/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/2931/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/2931/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/2931/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/2931/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=2931&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/13/mabuk-kepayang-tiga-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2279.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2279</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2285.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2285</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_22961.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2296</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2302.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2302</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2308.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2308</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2315.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2315</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2328.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2328</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2339.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2339</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2346.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2346</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2351.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2351</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2355.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2355</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2369.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2369</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2370.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2370</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2371.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2371</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2372.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2372</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2381.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2381</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2382.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2382</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2383.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2383</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2394.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2394</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2398.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2398</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2402.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2402</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2408.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2408</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2418.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2418</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2421.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2421</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2425.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2425</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2427.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2427</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2428.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2428</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2435.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2435</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_24421.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2442</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_24471.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2447</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2455.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2455</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2461.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2461</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2466.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2466</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2471.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2471</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yogya Ulang Tahun &#8230; Yeey!</title>
		<link>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/09/yogya-ulang-tahun-yeey/</link>
		<comments>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/09/yogya-ulang-tahun-yeey/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 04:51:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rerasan Hari Ini]]></category>
		<category><![CDATA[HUT Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Keraton Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tutinonka.wordpress.com/?p=2905</guid>
		<description><![CDATA[HADEGING NAGARI DALEM KASULTANAN
Tanggal 7 Oktober kemarin kota Yogyakarta berulangtahun yang ke 253. Yeey! Sudah cukup tua juga rupanya kota saya yang tercinta ini.
Kota Yogya tak bisa dipisahkan dari Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, karena keberadaan kota ini bermula dari didirikannya kasultanan Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keraton Yogyakarta mulai dibangun pada tanggal 13 Februari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=2905&subd=tutinonka&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#800000;"><strong>HADEGING NAGARI DALEM KASULTANAN</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Tanggal 7 Oktober kemarin kota Yogyakarta berulangtahun yang ke 253. Yeey! Sudah cukup tua juga rupanya kota saya yang tercinta ini.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Kota Yogya tak bisa dipisahkan dari Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, karena keberadaan kota ini bermula dari didirikannya kasultanan Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keraton Yogyakarta mulai dibangun pada tanggal 13 Februari 1755, yang dalam penanggalan Jawa bertepatan dengan hari Kamis Kliwon, 29 Rabiulakir, wuku Lakir, Be 1680 (hebat kan orang Jawa, punya sistem kalender sendiri!). Pada 7 Oktober 1756, keraton selesai dibangun dan keluarga Sri Sultan HB I pindah ke keraton ini. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Yogyakarta.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Pada waktu itu, lokasi yang dipilih untuk mendirikan keraton masih berupa hutan belantara, bernama hutan Beringan. Konon, nama Beringan diberikan karena banyak terdapat pohon beringin besar. Sampai sekarang, pohon beringin masih menjadi pohon keramat yang terdapat di alun-alun keraton (mungkin itulah sebabnya pohon ini dijadikan lambang oleh sebuah parpol &#8230; ehehe!). Nama hutan ini diabadikan sebagai nama pasar terbesar di Yogya yang terletak di depan keraton, yaitu Pasar Beringharjo. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Nama Ngayogyakarta dalam bahasa Sansekerta berarti &#8216;telah selesai dibangun/dikerjakan dengan baik&#8217;. Arti lain, &#8216;Yogya&#8217; berarti &#8216;baik&#8217;, sedangkan &#8216;karta&#8217; berarti &#8216;rahayu&#8217; atau &#8217;selamat&#8217;, maka Yogyakarta berarti &#8216;baik dan selamat&#8217;, atau &#8216;baik dan indah&#8217;. Yes &#8230;. indeed!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Sri Sultan HB I menciptakan poros filosofis Gunung Merapi &#8211; Tugu Pal Putih &#8211; Keraton &#8211; Panggung Krapyak &#8211; Laut Selatan. Penciptaan garis imajiner ini selaras dengan konsep Tri Hita Karana dan Tri Angga. Secara simbolis-filosofis, poros ini melambangkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Cukup sekian kuliah dari saya. Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi keraton Yogyakarta selengkapnya silahkan diikuti selama 6 semester di jurusan sejarah, antropologi, arkeologi, dan javanologi &#8230;.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Inilah poros Merapi &#8211; Tugu &#8211; Keraton &#8211; Panggung Krapyak &#8211; Laut Selatan</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-2906" title="IMG_2364" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2364.jpg?w=112&#038;h=150" alt="IMG_2364" width="112" height="150" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-2907" title="IMG_0028" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_0028.jpg?w=113&#038;h=150" alt="IMG_0028" width="113" height="150" /> </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong> </strong><span style="color:#800000;">Gunung Merapi               Tugu Pal Putih</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-medium wp-image-2912" title="IMG_0150" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_01502.jpg?w=300&#038;h=207" alt="IMG_0150" width="300" height="207" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong> </strong><span style="color:#800000;">Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-2910" title="IMG_2345" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2345.jpg?w=150&#038;h=113" alt="IMG_2345" width="150" height="113" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-2911" title="IMG_2007" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2007.jpg?w=150&#038;h=112" alt="IMG_2007" width="150" height="112" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong> </strong><span style="color:#800000;">Panggung Krapyak                        Laut Selatan</span></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Bagaimanakah kota Yogya sekarang, pada usianya yang ke 253?</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><span id="more-2905"></span>Yogya yang dibangun di tengah hutan Beringan tumbuh menjadi kota budaya dan kota pelajar. Sebagai kota budaya, sudah pasti pusat kebudayaan Jawa terdapat di keraton. Namun demikian di Yogya seni dan budaya tumbuh dengan mengapresiasi berbagai budaya yang berasal dari luar. Sebagai kota pelajar dan kota pendidikan, Yogya sarat dengan perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian, dan kaum intelektual. Maka, kalau mau cari seniman, budayawan, dan cendekiawan, pergilah ke Yogya &#8230;. ahahay!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Yogya gelisah menunggu-nunggu kepastian status provinsi DIY, berkaitan dengan status keistimewaannya. RUUK DIY yang sudah diajukan sejak bertahun-tahun lalu, hingga saat ini masih nyangkut di DPR. Tapi saya tidak bermaksud membahas tentang RUUK ini. Bagi saya, yang harus diutamakan adalah kepentingan rakyat. Bahwa menurut sejarah Yogyakarta didirikan oleh keraton, itu adalah fakta yang harus dihormati. Tetapi jika raja otomatis menjadi gubernur seumur hidup, rasanya tidak sesuai lagi dengan zaman. Semestinya dicari formula yang lebih &#8216;masuk akal&#8217;, bagaimana menempatkan Sultan Yogya dalam konstelasi politik dan pemerintahan di DIY.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Walikota Yogyakarta sekarang adalah Pak Herry Zudianto, yang sudah menjabat selama 2 periode (bagi yang belum tahu, Pak Herry adalah suami Ibu Dyah Suminar, yang aktif menulis di blog <a href="http://dyahsuminar.com/">Halaman Ibu Dyah</a> ). Selama kepemimpinan Pak Herry, Yogya mengalami banyak kemajuan yang signifikan. Kota tertata lebih rapi dan hijau dengan taman-taman, sampai-sampai orang berseloroh menjuluki Pak Herry dengan Wagiman (Walikota Gila Taman) &#8230; hahaha! Yogya juga meraih berbagai prestasi dan penghargaan, baik tingkat nasional maupun internasional. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2927" title="IMG_1713" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_17132.jpg?w=336&#038;h=423" alt="IMG_1713" width="336" height="423" /><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Baliho &#8217;selamat datang&#8217; di depan Bank Indonesia, dengan foto Pak Wali dan Pak Wawali tersenyum ramah. Weleeeh &#8230; kok mboten wonten ukoro mawi boso Jawi, Pak?</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2915" title="IMG_0336" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_0336.jpg?w=310&#038;h=448" alt="IMG_0336" width="310" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Kantor Pos Besar dan Bank Indonesia, lampu-lampu dan bangku-bangku. Nyaman sekali sore atau malam hari duduk-duduk di kawasan Nol Kilometer ini, menyaksikan geliat kehidupan kota Yogya.</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2916" title="IMG_2246" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2246.jpg?w=331&#038;h=448" alt="IMG_2246" width="331" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Ini jam bukan sembarang jam, ini jam legendaris yang sudah ada sejak zaman baheula. Dulu, kawasan disekitar jam ini disebut Ngejaman, letaknya di antara Gedung Agung dan Pasar Beringharjo. </span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2917" title="IMG_0145" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_0145.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_0145" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Pasar Beringharjo ini usianya sama dengan usia kota Yogya. Selain pusat perdagangan batik, apapun bisa diperoleh di sini, termasuk &#8230; copet! Waspadalah, waspadalah &#8230;..</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2918" title="IMG_0519" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_0519.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_0519" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Pojok Beteng ini berfungsi sebagai menara pengawas kota. Melalui lubang-lubang kecil yang terdapat di dinding bulat, perajurit keraton dapat mengintip jika ada musuh akan menyerang. Itu duluu &#8230;<br />
</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2923" title="IMG_2362" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2362.jpg?w=336&#038;h=448" alt="IMG_2362" width="336" height="448" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><span style="color:#800000;">Umbul-umbul HUT Yogya yang dipasang di depan Balai Kota. Jangan lupa, akan ada Jogja Java Carnival besok tanggal 17 Oktober, yang pasti seru banget!</span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dalam rangka mangayubagyo HUT Kota Yogya ini, Pemkot mengadakan berbagai acara. Pada tanggal 7 Oktober, untuk membuka rangkaian acara ultah, diadakan kirab budaya yang diikuti oleh 1.500 peserta dari 27 kelompok komunitas di Yogya. Kirab dimulai dari Balai Kota Timoho dan berakhir di Alun-alun Utara.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Dengan penuh semangat (karena membaca di koran bahwa peserta kirab sangat beragam dan semuanya top markotop), saya berangkat dari rumah jam 15.30, langsung menuju ke depan Gedung Agung. Suasana ramai penuh orang, Jalan Malioboro dan Jalan Pangeran Senopati padat dengan kendaraan yang melaju, tidak ditutup. Saya siapkan kamera, karena tujuan utama nonton kirab ini adalah untuk membuat foto-foto yang akan saya persembahkan kepada pembaca blog (yeeiy &#8230; semangat banget! kayak fotografer beneran aja!). </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Melihat masih ada beberapa bangku semen kosong di depan Kantor Pos, saya langsung duduk, tapi &#8230; wow! Saya langsung terloncat, karena ternyata bangku semen itu panas banget! Saya lupa, bangku itu habis tersengat sinar matahari seharian. Ya sudah, daripada p****t saya jadi barbekyu, saya melanjutkan langkah ke Taman Pintar, yang terletak sekitar 200 meter di sebelah timur perempatan Malioboro &#8211; Kantor Pos.</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Taman Pintar ini adalah salah satu proyek sukses yang dibangun Pak Herry. Sebelumnya kawasan ini disebut &#8216;Shopping Centre&#8217; yang merupakan pusat perdagangan buku murah (termasuk buku bekas dan buku bajakan). Sekarang Taman Pintar menjadi wahana rekreasi yang sangat bagus bagi anak-anak, dilengkapi dengan aneka permainan yang edukatif serta arena aktivitas fisik yang menyenangkan. Setiap sore, tempat ini menjadi sasaran para orang tua &#8216;angon&#8217; anak-anak mereka. </strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya berkeliling ke taman dan arena permainan, lalu duduk di salah satu bangku. Senang sekali mengamati anak-anak berlarian, memanjat, main perosotan dan enjot-enjotan. Saya juga membawa seorang keponakan saya, tapi keponakan saya ini emoh ikut main, meskipun saya paksa. Ya iyalah, wong umurnya sudah 22 tahun &#8230; hihihi!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2919" title="IMG_2272" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2272.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2272" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Sebenarnya saya pengin memanjat ke rumah pohon ini, tapi takut rumahnya abruk karena nggak kuat menahan berat tubuh saya &#8230;</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2920" title="IMG_2262" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2262.jpg?w=448&#038;h=336" alt="IMG_2262" width="448" height="336" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Keponakan segede ini memang nggak pantas lagi main perosotan. Yang ada malah narsis bikin foto untuk diupload di FB &#8230;. yeeiy!</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Saya termasuk orang yang sabar (percayalah!), tapi setelah menunggu sampai jam 17.00, dan tidak ada gejala-gejala kirab akan muncul, saya jadi gelisah dan curiga. Iin, keponakan saya yang manis itu, lalu sms kepada sepupu yang juga mau nonton. Dan datanglah berita buruk itu : <span style="color:#800000;">kirab ternyata sudah berlangsung jam 14.00 !!</span></strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Yeeeeeiy &#8230;.. !!</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong>Gimana sih? Ini namanya miss-understanding, miss-communication, dan miss-ionimpossible! Jadi teman-teman, mohon maaf kalau saya gagal total membuat foto kirab budaya. Untuk pengobat kuciwa, berikut saya kopikan foto kirab dari harian &#8220;Kompas&#8221; dan &#8220;Kedaulatan Rakyat&#8221; yang terbit tanggal 8 Oktober. Ma&#8217;aaaaf &#8230;.   jika tak sebagus foto saya (astaghfirullah, nyebut &#8230; ! )</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2921" title="IMG_2342" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2342.jpg?w=448&#038;h=275" alt="IMG_2342" width="448" height="275" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Salah satu tarian dari peserta kirab. Apa ya namanya? Waduh, maaf saya juga nggak tahu, wong di koran nggak ada penjelasannya (foto : harian &#8220;Kedaulatan Rakyat&#8221;)</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><img class="alignnone size-full wp-image-2922" title="IMG_2343" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2343.jpg?w=448&#038;h=294" alt="IMG_2343" width="448" height="294" /></strong></span></p>
<p><span style="color:#800000;">Barisan putri-putri Yogya. Meskipun capek dan haus, senyum teuteuup &#8230; (foto : harian &#8220;Kompas&#8221;)</span></p>
<p><span style="color:#666699;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Dirgahayu Yogya!</strong></span></p>
Posted in Rerasan Hari Ini  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tutinonka.wordpress.com/2905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tutinonka.wordpress.com/2905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tutinonka.wordpress.com/2905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tutinonka.wordpress.com/2905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tutinonka.wordpress.com/2905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tutinonka.wordpress.com/2905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tutinonka.wordpress.com/2905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tutinonka.wordpress.com/2905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tutinonka.wordpress.com/2905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tutinonka.wordpress.com/2905/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tutinonka.wordpress.com&blog=2666123&post=2905&subd=tutinonka&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tutinonka.wordpress.com/2009/10/09/yogya-ulang-tahun-yeey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c7f73622eaac156f3fd77fcd4e65d97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tutinonka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2364.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2364</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_0028.jpg?w=113" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0028</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_01502.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0150</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2345.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2345</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2007.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_17132.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1713</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_0336.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0336</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2246.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2246</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_0145.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0145</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_0519.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0519</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2362.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2362</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2272.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2272</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2262.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2262</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2342.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2342</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tutinonka.files.wordpress.com/2009/10/img_2343.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2343</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>