Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari 11th, 2008

TREM, BIS, DAN SEPEDA DI AMSTERDAM

Sebagaimana kota-kota besar lainnya di dunia, Amsterdam memiliki mass-transportation yang baik. Untuk pergi ke berbagai tujuan, kita bisa memilih naik trem atau bis (selain mobil pribadi, tentu saja). Rute trem menjelajah segala sudut kota, jumlahnya juga banyak sehingga kita tidak harus menunggu lama. Naik trem cukup nyaman karena murah, bersih, dan tidak bising. Tiket trem bisa dibeli di banyak toko, satu kartu berisi beberapa strip (kalau tidak salah sekitar 12 – 16 strip). Untuk setiap satu stasiun perhentian, kartu dilipat sebanyak 2-3 strip, dan dimasukkan ke mesin kartu untuk di’jeglog’. Tidak ada petugas yang mengawasi, tapi setiap orang membayar. Rasanya malu sendiri kalau kita naik dan ‘ngeblong’ alias jadi penumpang bodong

Nunggu trem …. jess … jess …

Selain trem, bis adalah pilihan moda transportasi yang juga nyaman. Di setiap halte perhentian trem maupun bis selalu tersedia petunjuk rute yang cukup jelas, sehingga orang yang belum pernah naik trem atau bis pun dapat mengetahui nomor trem/bis yang harus mereka naiki, serta stasiun-stasiun perhentian yang akan mereka lewati. Kalaupun malas membaca (atau kurang cerdas memahami informasi tulis .. he he), kita bisa bertanya kepada orang yang kita jumpai. Di Belanda, rata-rata penduduknya ramah dan helpfull. Jangan khawatir kalau tidak bisa berbahasa Belanda, sebab mereka pada umumnya bisa berbahasa Inggris. Lha kalau nggak bisa bahasa Inggris? Ya kursus dulu ke Inggris … he he

Suatu ketika, kami akan pergi dari Tropen Museum ke Madame Tussaud naik bis. Itu adalah kali pertama kami naik bis (sebelumnya kemana-mana selalu naik trem). Karena tidak mengenali tempat perhentian, akhirnya kami terbawa sampai terminal terakhir, dan tinggal kami berdua yang masih duduk manis di dalam bis. Sang sopir menghentikan bisnya, menoleh kepada kami, dan menanyakan tujuan kami. Ternyata kami sudah jauh melewati terminal tempat seharusnya kami turun. “Oh my God, what should we do?” saya kebingungan. “Don’t worry, I’ll take you there” sopir itu berkata dengan ramah. Akhirnya kami pun ngobrol. Dia langsung menebak bahwa kami dari Indonesia (tampang ndeso kami rupanya tidak bisa disembunyikan, meskipun kami sudah pakai coat kulit domba yang bagus pinjaman teman … ). Ternyata sopir itu berasal dari Suriname, keturunan Jawa, namanya Sastro Wigeno. Nenek moyangnya dari Semarang. Dia masih bisa sedikit-sedikit bahasa Jawa ngoko. We lha, jebul ketemu dulur dewe to mas …

Sepeda-sepeda dirantai ke pagar di pinggir kanal ……

Sepeda mungkin dianggap sudah jadul, udik, dan ‘nggak gengsi’ di Indonesia. Tapi di Amsterdam, sepeda sangat digemari dan harganya cukup mahal. Di jalan, sepeda memperoleh tempat istimewa. Pengendara sepeda didahulukan, dan diberi jalur khusus untuk sepeda. Sepeda juga sangat rawan dicuri (karena mahal dan banyak penggemarnya), sehingga jangan heran kalau melihat sepeda yang digeletakkan di pinggir jalan atau jembatan dibelenggu ke tiang dengan rantai segede rantai kapal …

Di Belanda, mobil dan sepeda sama tinggi derajadnya …

Read Full Post »

The Sunshine

THE SUNSHINE

Far away there in sunshine are my highest aspiration.
I may not reach them, but I can look up and see their beauty,
believe in them and try to follow where they lead.

(Louisa May Alcott)

Read Full Post »